Selasa, 28 Juni 2011

Dalam Tidurmu

Kau terlelap di kegelapan malam. Separuh bagian dari rambut indahmu itu berpindah ke satu sisi saat kau tidur miring. Tanganmu ingin menggenggam sesuatu namun tak dapat mencapainya. Nafasmu berat seperti habis terisak. Aku tahu, kau sama sekali tidak terlelap sejak daritadi. Kau terjaga, selalu terjaga disetiap waktu istirahatmu. Ragamu memang dalam posisi terbaik untuk tidur, tetapi pikiranmu berlari, terus menjauh dari kenyataan yang kau jalani.

Atau sebenarnya inilah hidup nyatamu? Waktu 8 jam untuk tidurmu kau habiskan untuk dunia yang kau anggap mencintaimu seutuhnya. Dunia yang kau pikir hidupmu yang sejati. Hapus air matamu. Aku ingin memeluk batinmu yang sunyi itu. Aku ingin kau tahu aku selalu memperhatikanmu. Kemarilah, mari kita telaah sejauh apa kau berlari masuk ke mimpimu.

Pundakmu indah tak pantas menopang berat beban batinmu. Aku tidak menyalahkanmu yang terlalu menginginkannya. Namun, kau harus ingat. Kamulah keindahan nyata yang tak pantas dibagi. Kau adalah hidup bagi yang lain. Bukankah pikiran akan bahagia jikalau mampu melepas? Aku yakin kamu sedang merana.

Kamu bergerak sedikit. Hatimu miris seperti diiris pisau yang sangat kecil dan sangat tajam. Harus kepada siapa kamu membagi gundahmu. Kau sembunyikan semua dengan sangat rapi sehingga mungkin rayap akan berhenti makan kayu saking terkejutnya tahu isi hatimu. Dia yang tak layak untuk dicintai telah menjadi bagian dari hidupmu.

Kamu berusaha mengingat segalanya. Kamu berjumpa dengannya pertama kali saat kalian masih duduk dibangku sekolah. Saat itu kalian dipertemukan dalam satu kegiatan diluar jam sekolah. Kalian tidak saling kenal bahkan tahu nama saja tidak. Waktu terus berjalan tanpa ekspektasi dalam dirimu untuk mencoba mencari jiwa yang searah. Sebab kau angkuh. Kau terlalu tidak butuh siapapun. Kau mampu berdiri sendiri walau seandainya kakimu hanya satu. Sampai akhirnya D-I-A menitipkan salam padamu.

Teman-temanmu bilang dia terus memperhatikanmu dan bahkan ingin menjadi bagian dari hidupmu. Kau tertawa. Tawa geli dan lebar seperti biasanya yang kau lakukan jikalau ada yang menyukaimu. Kau tak percaya dengan hal-hal yang berhubungan dengan diluar pemahaman logika. Bagimu, jiwamu utuh, bebas, tak akan mungkin terikat oleh hal cengeng soal ingin memiliki. Namun, dia terus memperhatikanmu. Segala gerak gerik diawasi, hingga siap untuk mengetuk hati kecilmu dengan usahanya yang terakhir. Dia berhasil, kau kalah. Kau membuka pintu itu. Pintu yang kau tutup rapat sejak kau lahir ke dunia. Pintu yang kau persiapkan hanya untuk tamu istimewamu suatu hari nanti. Dia yang kau pikir hanya manusia biasa tanpa sedikitpun keistimewaan telah berubah jadi tamu yang kau nanti.

Itu adalah hari-hari terindahmu. Hari yang sangat baru untukmu. Tidak pernah kau merasakan gejolak seperti saat itu. Kau muda, pintar, sangat disayang oleh kekasihmu, disayang oleh teman-temannya, dan kau merasa hidupmu lebih berwarna. Kau menjadi bagian dari hidup nyatanya. Kau dibutuhkan dan selalu dirindukan. Kau seperti seorang yang haus akan kenikmatan kasih sayang yang sebenarnya telah kau dapat dari keluargamu yang tulus tanpa minta balasan. Tapi, kamu buta akan cinta yang kau definisikan menjadi sempit dan dangkal. Kamu hanya tahu, Kamu ingin dia selalu didekatmu begitu pula sebaliknya. Tak ada lagi keindahan dimatamu selain didalam dirinya.

Begitu kuatnya rasa gejolakmu hingga membutakan batinmu. Kau telah banyak berubah. Kau telah menjadi monster bagi hidupmu sendiri. Berubah menjadi makhluk arogan penguasa yang terus haus akan keterikatan. Kau merasa Superior, dipuja, sangat disayangi oleh dia. Kau tidak menyadari kau salah langkah. Sering kali kau berucap kasar padanya, sering kali kau meninggalkan dirinya dengan caramu yang paling tidak elegan. Kesombonganmu telah berlipat ganda. Kau bukan lagi dirimu yang berbelas kasih.

Malam semakin larut. Kau masih belum mengantuk. Kau masih melihat dengan jelas ingatan-ingatanmu itu. Begitu sunyi sampai kamu bisa mendengar hati kecilmu menjerit. Kamu tetap tidak mau kembali ke alam nyata tempat kamu melanjutkan hidupmu. Kamu terlalu berat melepas semua.

Ketika kamu diliputi oleh perasaan bersalah, sudah tahu kamu tidak berada dijalan yang diajarkan oleh keyakinanmu, dia telah menyusun rencana. Dia yang kau pikir selalu menerima tulus sikap burukmu, mampu menyakitimu. Sakit hati dan kenangan buruknya tentangmu membuatnya jadi manusia paling keji yang kau kenal. Dia berusaha membunuh batinmu pelan-pelan. Berkali-kali dia khianati dirimu. Dia mencari kekasih yang mampu memuaskannya. Berganti pasangan layaknya mengganti pakaian.

Kau menangis dan berkali-kali memaafkannya. Bagimu, cinta adalah memaafkan walaupun banyak yang bilang kau buta, dalam sanubarimu kau merasa sangat bersalah dan ingin berubah. Kau menghukum dirimu sendiri. Kau terima segala kejahatannya untukmu. Kau terima segala perubahan drastisnya. Dia sudah tidak ada untukmu. Dia sudah jauh meninggalkanmu. Dia pergi begitu saja dan lebih memilih hidup yang lebih kelam. Dia memilih dunia yang berbeda dengan kamu. Dia menjadi sosok yang pantas menjadi hinaanmu dulu ketika kalian masih bersama. Dia bukannya merubah diri menjadi lebih baik, tapi justru seperti mengabulkan segala kata-kata kasarmu layaknya perwujudan dari sebuah doa.

Kamu terhenyak dalam lamunanmu. Semua telah terlanjur dan hidup harus dilanjutkan. Air mata terus menemani hari-harimu meski tak terlihat. Hanya kamu yang tahu rasa perihnya. Kamu ingin lepas tapi disisi lain kamu menikmatinya. Ini satu-satunya cara kamu berjumpa dengannya. Bagian jiwamu yang liar dan tak mau diatur sering kali menguasaimu. Kau terus menerus menghubunginya dan bagi dia kau layaknya gumpalan hama yang tak bisa diam selalu menganggu. Kau selalu ingin tahu kekasih-kekasihnya dan selalu berhasil membuat dia kehilangan kekasih-kekasihnya. Sedikit rasa puas menggerogoti alam pikiranmu. Kau jadi pecandu untuk menghancurkan hubungan yang tak kau restui.

Dia kehilangan akal sehatnya. Kata-kata cintanya yang dulu sudah tidak berlaku lagi. Dia masih jelas mengingat kata-kata kasarmu dulu dan menjadikan alasan bagi tindakan kejinya sekarang. Dia benci kau selalu mencampuri hidupnya yang dia banggakan itu. Dia mengatakan kepada separuh dunianya bahwa perpisahan kalian dikarenakan perbedaan keyakinan yang kalian pilih. Yah keyakinan. Dia mengatakan kepada dunianya, bahwa dia telah kau bohongi. Kau jujur soal perbedaan keyakinan kalian ketika dia terlalu jauh bersamamu. Lucu. Sungguh ironis.

Kamu berusaha mengingat kata-katanya. Tak pernah sekalipun ia keberatan dengan perbedaan keyakinan kalian. Dia selalu memastikan dia mencintaimu apa adanya tanpa melihat perbedaan itu. Baginya, berbeda membuat kamu dan dia solid, tercampur utuh dalam perbedaan. Dia bohong. Ternyata selama ini dia berbohong. Keyakinan yang tak sama ini terlalu berat untuknya. Kamu baru sadar dia tidaklah berbeda dari kebanyakan orang di dunia ini. Hatimu mencelos.

Apalagi yang kau harapkan dari duka dan perih lukamu? Kamu terlalu naïf. Dunia nyatamu sudah didepan mata! Kau malah menutup mata dan menyumbat telingamu dengan angan-angan yang kau lukiskan sendiri. Kau merasa dia juga merasakan rasa yang sama sepertimu. Aku iba padamu. Aku ingin menolongmu jikalau aku mampu. Tidakkah kau sadar bahwa sudah jelas tak ada konsepsi mencintai dalam dirinya?! Jika dia mencintaimu, C-I-N-T-A padamu, dia tak mungkin membalas tindakan salahmu yang dulu, dengan caranya yang terus menyakitimu! Dia tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja demi dunia kelam yang dia pilih sekarang! Dia akan menerimamu meski kalian berbeda! Dia pasti hari ini akan ada disampingmu. Menemani hari-harimu, tertawa bersamamu, dan memaafkanmu sepenuh hatinya.

Tidakkah kau juga sadar bahwa kau telah masuk kedalam permainannya? Dia telah berhasil membuatmu merasa sangat berdosa dan menikmati kau menghukum dirimu sendiri! Dia jelas tidak pernah mencintaimu. Dia hanya terobsesi padamu. Obsesi yang tak sesuai harapannya. Dia kecewa kau terus menyakitinya. Dia tidak belajar mencintaimu maka dari itu dia pergi dan tidak berusaha kembali. Terlalu banyak alasan untuknya ketika kau memintanya kembali. Jangan kau sakiti hatimu dua kali. Terima saja kenyataannya.

Mentari mulai merayap masuk. Mengganti kegelapan dengan cahayanya. Kamu masih belum juga tertidur. Kamu masih menikmati hidup dalam alam pikirmu sendiri. Aku sudah lelah meyakinkanmu. Mungkin ini pilihan yang kau ingin jalani. Tak pernahkah sedikitpun kau beri kesempatan pada yang lain yang ingin mengetuk hatimu? Aku tahu. Kunci mungil itu tidak kau berikan padanya. Hanya saja kau belum sadar kalau kau yang masih menggenggamnya. Aku akan menunggumu sampai kau menyadarinya.

Tiba-tiba kau tersenyum. Secerah cahaya pagi yang menerobos masuk lewat jendela kamarmu. Senyum indahmu jangan kau ganti lagi dengan air mata. Sudah cukup, aku tak sanggup melihatmu hidup dalam genangan penyesalan. Kau terus tersenyum dan akhirnya tawamu meledak dan tak berhenti hingga air mata mengalir dari bola mata yang ku puja itu. Aku penasaran dengan pikiranmu. Kucoba masuki lagi dimensi dalam jiwamu.

Aku lega. Nampaknya, kamu sudah mulai mengerti. Aku tahu jiwamu besar dan kuat. Aku tahu kamu sanggup hadapi ini semua. Walaupun aku masih cemburu kamu tetap mencintai dia. Mungkin akan selalu menyimpan dia dalam bilik kamar hatimu yang tak dapat dibagi untuk siapapun lagi. Setidaknya kamu mulai paham bahwa kamu orang yang beruntung bahwa sosok yang tidak setia kepadamu telah meninggalkanmu. Bahwa sebenarnya dia akan merana karena sosok melankolis yang mencintainya tanpa kenal lelah, telah ditinggalkannya demi mencari keserakahan dari keinginan batin yang tak pernah terpuaskan.

Mata besarmu semakin melebar dan aku yakin tidak sedang menatap aku. Kamu tertawa penuh kemenangan karena telah berhasil mencinta tanpa pernah lagi minta dibalas. Kamu telah lulus menjadi manusia yang mengasihi dengan hati yang tulus meski dilukai. Aku semakin mencintaimu dalam keterbatasanku. Aku, makhluk yang sedari dulu mengawasimu, telah lama mencintaimu walau kau tak akan pernah tahu. Sebab aku makhluk yang tak akan bisa kau lihat dan hanya bisa kau rasakan.

Selasa, 21 Juni 2011

IBEL

Ibel namanya. Dia tidak langsing seperti gadis – gadis lainnya tapi dia juga tidak gemuk. Tubuhnya berisi dan energic dengan kulit sewarna madu yang sangat manis dipadukan dengan gaya luwesnya. Dia tidak tinggi semampai ataupun terlalu pendek. Rambutnya ikal sepunggung dan berwarna cokelat tua. Bola matanya hitam pekat dan akan membulat besar jika ia sedang bicara. Bibirnya tipis dan dia gadis ceria yang sedikit cerewet. Dialah kakak kelasku di Sekolah. Dialah pujaan hatiku.

Dia salah satu gadis terpopuler di Sekolahku. Meski para lelaki tak memasukan namanya kedalam jajaran ‘perempuan cantik’, tapi toh nyatanya ia begitu memikat hati bagi teman – temanku dan juga aku tentunya. Dari kakak kelas hingga adik kelasnya menyukainya. Senyum lebar selalu menghiasi wajah manis bak bidadari itu. Ia bersikap ramah kepada siapapun juga tanpa memandang status sosial mereka. Dari mulai satpam hingga tukang becak yang mangkal di Sekolah kami, ia tegur sapa. Namun, terlepas dari sikap ramahnya itu ia bisa juga menjadi jutek dan tegas ketika sedang rapat OSIS. Ya, pujaan hatiku adalah Ketua OSIS di Sekolah kami.

Awal aku mengenal Ibel adalah saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Sekolah kami adalah sekolah swasta, fasilitas pendidikan di sekolah ini dari TK hingga Akademi, tidak heran kalau jumlah siswa – siswi disini mencapai ribuan. Namun, diantara ribuan di Sekolah kami, Ibel seperti punya daya tarik tersendiri. Ia selalu tampil beda dari kebanyakan gadis – gadis lainnya. Saat para gadis lainnya berlomba – lomba meluruskan rambut mereka dengan re-bonding ataupun smoothing, Ibel tampil apa adanya dengan rambut ikalnya yang mengembang seperti singa. Saat para gadis diusianya mulai memakai rok diatas lutut dan baju seragam yang ketat, Ibel tampil mempesona dengan baju seragam biasa saja. Singkat kata, Ibel beda dari gadis lainnya.

Saat itu Ibel sedang ditugaskan sebagai MC di acara ulang tahun disekolah kami. Dengan gaya luwesnya, aku benar- benar kepincut oleh dirinya. Suaranya, lambaian tangannya, ah segala – galanya tentang Ibel. Perasaan ini terbawa sampai aku pulang kerumah dan membuat aku berpikir untuk membatalkan niatku mengikuti test di SMA Negeri favorit di kota kami. Semua karena Ibel dan aku sangat ingin mengenalnya lebih jauh.

Resmilah sudah aku menjadi bagian Sekolah ini sampai tamat SMA. Sebelum melihat Ibel, aku muak kalau harus melanjutkan SMA disini. Sejak Tk sampai SMP aku harus mengikuti kemauan orang tuaku menyekolahkanku disini. Sampai aku harus merengek pada orang tuaku untuk mengizinkan aku daftar di Sekolah Negeri, tapi begitu melihat Ibel di acara ulang tahun Sekolah kami, bayangan Sekolah Negeri pupuslah sudah. Hanya ada Ibel di setiap sel – sel otakku.

Saat aku masuk SMA, Ibel hanya menjabat anggota OSIS bidang Humas di Sekolah kami. Ia terlihat garang dan menakutkan. Sebentar- bentar marah lalu melototi kami satu persatu saat Masa Orientasi Siswa berlangsung. Entah karena aku kebal dengan hal – hal menakutkan atau karena terlalu menyukai Ibel, aku sama sekali tidak takut dengannya. Bahkan sesering mungkin aku berbuat salah dihadapannya, agar Ibel sedikit memperhatikanku.

Namun, itulah Ibel. Dia memang lebih menyukai berteman dengan laki – laki, tapi tak satupun pria bisa membuka hatinya. Banyak lelaki harus mampu menahan sakit hati karena penolakan tegas dari Ibel, termasuk aku pastinya. Aku tahu sangat kecil kemungkinan aku untuk memenangkan hati Ibel. Aku bukan siapa – siapa di mata Ibel yang sudah melihat dunia lebih luas daripada aku. Tapi aku tetap tak mau kalah. Biar saja Ibel tahu betapa aku menginginkan dia.

Kami mulai akrab saat Ibel dan aku sekelas sewaktu ujian kenaikan kelas. Saat itu aku yang kesulitan mengerjakan soal kimia, dibantu Ibel yang memang siswi kelas IPA. Saat itu kami tidak duduk bersebelahan namun sebisa mungkin aku mengajaknya bicara saat baru masuk kelas dan disela – sela istirahat. Bahkan Ibel berbaik hati membantuku menuliskan rumus – rumus menyebalkan di secarik kertas bekas coret – coretan miliknya. Kertas itu aku simpan hingga sekarang.

Hubungan aku dan Ibel berjalan baik. Hanya saja tidak sepenuhnya hubungan yang aku inginkan. Ibel masih terus saja menganggapku anak kecil dan tak henti – hentinya meledekku dengan sebutan ’de’ setiap kali kami berbincang. Ingin rasanya aku berteriak dihadapannya kalau aku sangat menyukainya, menginginkan dia jadi pacarku. Tapi tak berani aku ungkapkan. Bibirku kelu kalau harus melancarkan kata – kata puitis untuknya. Ia terlalu realistis, tak menyukai jenis kegombalan apapun. Tidak tersentuh oleh kegilaan anganku untuk memilikinya, merengkuhnya hingga aku mampu meledak karena gembira. Ibel tak percaya pada cinta bahkan dengan jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia tak suka bermanja – manja dengan apapun, mungkin kisah hidupnya yang membentuk kemandirian yang tak akan tersentuh oleh siapapun. Aku hanya bisa terus memandangnya dari jauh. Jauh dalam lubuk hatiku berharap padanya.

Ibel menjabat sebagai Ketua OSIS dengan menang telak. Hampir 80% siswa –siswi di SMA memilih Ibel. Ia berpidato di mimbar upacara dengan suara riang dan tawa lebar. Pidato santai namun berbobot. Ia mendukung segala bentuk diskusi santai. Tak perlu kaku dan monoton untuk program apapun dalam Organisasi Siswa di Sekolah kami. Guru – guru lega ia menjadi Ketua OSIS terpilih, para Ketua Ekskul (Ekstra Kurikuler) gembira dengan program – program Ibel yang nampak luar biasa, teman – teman senang Ibel menghilangkan budaya senioritas di lingkungan Sekolah kami, semua bahagia semua merayakan kemenangan Ibel, hanya aku seorang yang masih merana.

Kesuksesan Ibel merebut hati penghuni Sekolah kami membuat aku semakin terpojokkan. Aku semakin tahu ketidak-berartiaan diriku dalam hidup Ibel. Kehidupan Ibel akan lebih sibuk dan ia akan lebih famous dari sebelum menjadi Ketua OSIS. Sedangkan aku tetap menjadi siswa Sekolah biasa dengan nilai pas – pasan. Akan semakin sulit aku menginginkan Ibel jadi pacarku. Aku bukanlah siapa – siapa dibanding Ibel.

Basket satu – satunya jalan membuat Ibel terpesona padaku. Kalau teman – teman satu club Basket berlatih dua kali seminggu, aku berlatih setiap hari. Berlatih bergaya sekeren mungkin sambil nge-shoot, tujuanku agar Ibel menyadari kehadiranku. Dan sebentar lagi Turnamen antar SMA di kotaku tiba, Ibel berhasil meloloskan sekolah kami sebagai tuan rumah. Ibel oh ibel, aku buktikan kehebatanku.

Sekolah kami mencapai masa kejayaannya ditangan Ibel. Ia berhasil mengembangkan Ekskul Sains, Taekwondo, Street Art & Design, Instrumen, dan Filsafat yang sempat ’mati suri’ sampai tahun kemarin. Termasuk memajukan Ekskul Basket di Sekolah ini dan menjadi Ekskul favorit tahun ini. Banyak sekali siswa yang bergabung dengan club Basket tahun ini dan artinya peluangku untuk membuktikan diri di arena lapangan basket semakin kecil. Permainan mereka luar biasa dan aku akui mereka jauh lebih hebat daripada aku.

Dan jadilah aku sebagai si pungguk yang merindukan sang rembulan. Aku terlalu biasa dan akan tetap begitu ,mungkin, jika aku terus berharap pada Ibel. Aku anak semata wayang jadi dengan mudah aku meminta apapun pada orang tuaku. Tapi, bagaimana jadinya jika aku meminta Ibel menyukaiku pada orang tuaku? Apakah mereka bisa mewujudkannya? Sebelum mengenal Ibel, aku merasa orang tuaku layaknya Tuhan yang senantiasa mengabulkan permohonan umatnya. Apapun yang aku mau selalu tersedia dengan mudah tapi kini aku sadar, cinta memang tidak bisa dibeli. Ayahku tertawa begitu aku mengungkapkan isi hatiku betapa aku menginginkan Ibel.

”Nak, kamu harus belajar. Cinta itu datangnya dari hati. Kalau kamu memang begitu menginginkan Ibel, kamu harus tahu apa yang menjadi kesukaannya dan buat ia terpesona padamu,”kata ayah di suatu sore.

Justru itulah yang membingungkanku. Ibel punya banyak kegemaran. Aku sulit menentukan kegemaran apa yang akan membuat ia terpesona padaku jika aku melakukan kegemarannya. Aku tidak mungkin beralih profesi menjadi seorang ahli kimia sedangkan aku benci sekali pelajaran kimia. Aku tidak mungkin menjadi pemain biola sedangkan aku tak tahu bagaimana menggunakan biola. Aku tidak mungkin bisa menyukai menulis novel sedangkan untuk merangkai kata menyatakan cinta pada Ibel saja aku tak mampu. Aku tidak punya kegemaran apapun kecuali bermain Basket. Dan Turnamen adalah saatnya! Walaupun aku tidak sehebat Yao-Ming tapi aku akan berusaha tampil membanggakan untuk Sekolah dan untuk Ibel.

Tibalah saat yang ditunggu. Turnamen Basket antar SMA se-kota ku. Acara pembukaan Turnamen diisi oleh gadis – gadis cantik yang menari – nari di lapangan basket. Mereka mampu memikat ratusan pasang mata lelaki tapi tidak memikat hatiku sedikitpun. Aku hanya memperhatikan seorang gadis dikuncir kuda berdiri disebrangku. Ia berjalan hilir mudik dan sesekali menyapa para wakil dari SMA – SMA lainnya. Ia tidak seperti gadis – gadis di lapangan yang bergerak centil menggoda kaum Adam. Ibel bergerak gesit dan tampak cerdas. Ingin aku berteriak dari sebrang dan mengatakan ”HEI IBEL I LOVE YOU!!!”. Namun, jangankan untuk berteriak mengungkapkan cinta, untuk menatap matanya saja aku tak sanggup.

Aku dan tim basket Sekolahku sedang duduk dipinggir lapangan basket. Menunggu tim – tim dancer dari berbagai sekolah menyelesaikan tugas mereka menghibur kami. Tiba – tiba Reno, teman tim basketku dan juga teman sekelasku menepuk pahaku. Ia tahu betul soal perasaanku pada Ibel.

”Dan, mungkin sebaiknya elo ungkapin semuanya. Semua yang ada disini,”kata Reno mengelus jantungnya lalu melanjutkan,”mau sampai kapan elo simpan dalam hati saja? Gak ada gunanya jadi pengecut. Diterima atau ditolak cinta elo itu bukan tujuannya tapi yang terpenting Ibel tahu elo benar – benar menginginkan dia.”

Aku memandang Ibel dalam lamunanku, berharap Ibel mendampingi aku disini. Menyemangatiku bertanding di hari Pembukaan Turnamen. Mengatakan padaku bahwa aku mampu mengalahkan tim lawan. Memberitahukanku bahwa aku penting untuk hidupnya. Bukan hanya bersemangat melihat kesukesan jalannya Turnamen ini tapi bersemangat melihatku bergerak gesit di lapangan.

”Ibel gak mungkin mau jadi cewek gue, no. Dia famous dan cerdas, sedangkan gue bukan siapa – siapa, gak bisa apa – apa, gak pinter apa – apa. Gue dan Ibel gak serasi, no.” kataku lirih.

Reno meremas bahuku,”HEI BRO! Sejak kapan elo berubah mellow gini? Bahasa elo kayak anak perempuan! Mungkin lebih manja dari perempuan! Lo liat Ibel. Dia perempuan dan dia tegas! Masa elo yang seorang pria tulen harus kalah soal perasaan? Masalah diterima atau ditolak itu bukan masalah, ya walaupun gue ngerti banget elo berharap diterima sama dia. Tapi setidaknya elo harus berani ungkapin tentang perasaan elo itu. Hari ini hari spesial buat elo. Elo bisa buktiin ke dia kalau elo juga jago main basket! Ya walaupun masih lebih jago gue sih tapi setidaknya elo buktiin kalau elo ada di sekolah ini, di dunia ini, di hidup Ibel,”kata Reno panjang lebar.

Aku diam saja. Memikirkan kata – kata Reno dan berusaha mencari cara biar segalanya bisa berjalan baik. Lalu Reno melanjutkan ceramahnya, ”gue punya ide nih, gimana kalau elo kasih three point buat sekolah kita sebanyak lima kali setelah itu elo samperin Ibel dan bilang kalau point itu buat doi. Nanti gue yang bilang sama MC-nya kalau elo sumbangin three point buat seseorang yang elo suka, gimana?”

Aku memandang Reno takjub. Antara kagum dengan ide briliantnya dan tak percaya kalau temanku ini cukup sinting. “Elo gila no? Mending gue diterima. Kalau Ibel nolak gue? Kalau dia marah sama gue gara – gara bikin malu dihadapan orang banyak? Elo gak tahu apa Ibel banyak nolak cowok? Gue gak berani no. Gue ngeri.”

“Kalau gitu biar gue aja yang nembak Ibel yah,”jawab Reno santai.

Aku memandang Reno tajam,”elo suka sama Ibel? Dari kapan?”

“Dari semenjak elo berubah jadi pecundang,”jawab Reno santai lalu berlari kearah MC di meja sebrang.

Aku memandang punggung lebar Reno dan tak percaya dengan kenyataan ini. Matilah aku.

Pertandingan berlangsung lima belas menit yang lalu dan aku belum menyumbangkan satu point-pun. Lawan kami dari SMA Negeri yang cukup tangguh. Badan mereka besar dan berotot. Pertahanan mereka maksimal. Aku tak bisa melihat celah apapun untuk bisa mencetak angka. Tapi Reno memang temanku yang baik hati. Ia tidak egois dan tidak mau show-off kali ini. Bola – bola yang seharusnya bisa ia lakukan langsung three-point, ia berikan kepadaku. Alhasil pelatih kami, coach Lessy mengumpat – umpat. Pasalnya, coach Lessy adalah orang yang temperamental dan ia juga perfeksionis. Ia tidak mau kalah dimanapun timnya bertanding. Melihat anak didiknya, Reno, yang melepas kesempatan begitu saja, membuatnya naik pitam. Reno hanya mengeluarkan cengiran khasnya dan terus menyemangatiku. Kulirik Ibel tampak khawatir menonton pertandingan ini, lalu ku ingat kalau pengorbanan Reno hari ini demi agar aku memenangkan hati Ibel. Dengan sekuat tenaga aku shoot bola dan tak tahu hasilnya.

Dalam sekejap pendukung Sekolahku bersorak ramai. Ternyata aku berhasil memasukan bola dan benar saja itu three-point. Aku mencari – cari Ibel dalam keramaian siswa – siswi, Ibel tersenyum padaku. Semangatku seolah terbakar lagi dan kali ini aku seperti kesetanan. Aku tak peduli badan – badan besar lawan, aku juga tak mendengarkan teriakan coach Lessy memperingatkanku agar tak egois mempertahankan bola tak membagi pada rekanku, yang kuinginkan hanya three-point terus dan terus.

Peluit wasit berkumandang, permainan usai. Hasilnya tak disangka, tim kami menang telak dengan aku menyumbang three-point sebanyak tujuh kali. Semua temanku menepuk bahuku. Mereka tak menyangka aku bisa melakukan itu. Aku mencari Ibel diantara teman – temanku dan kulihat ia tersenyum sambil menepuk tangan dikejauhan. Aku tersenyum padanya juga. Lalu Reno membisikkanku dan aku tahu inilah saatnya.

MC yang bertugas adalah si bawel Hans. Ia termasuk pria doyan gosip dan ketika Reno memberitahukannya soal akan ada pernyataan cinta dariku kepada seorang gadis, Hans langsung riang gembira. Dan kini suara Hans sudah berkumandang di speaker – speaker sekolah.

”Hai guys!!! Ternyata si jagoan lapangan ini akan menyatakan cinta kepada seorang wanita disini. Kira – kira siapa yang beruntung mendapatkan hatinya, uuuhhhhh Hans gak sabar deh. Ayo Dance eh sorry Dany ayo cari wanitamu dan nyatakan perasaanmu di hari yang spesial ini,”seru Hans riang.

Berbagai ekspresi muncul di wajah – wajah ratusan orang itu. Ada yang celingak – celinguk, ada yang senyum – senyum, ada yang bersorak ’ciiiieee ciiieeee’, bahkan ada yang tanpa ekspresi. Ku mantapkan langkahku berjalan menuju Ibel. Ibel yang sedang berbincang dengan coach Lessy langsung kaget ketika aku berdiri dihadapannya dengan muka konyol dan peluh keringat.

Semua mata tertuju pada kami berdua dan seketika saja dunia tampak berhenti berputar dan jarum jam tak lagi bergerak, aku menggenggam jemarinya dan menggiringnya menuju tengah lapangan. Ibel masih menatapku tak menyangka. Ia seakan tak bisa menolak genggaman tanganku. Semua yang menonton bersorak ramai. Mereka tahu betul Ibel tak bisa ditaklukan oleh lelaki manapun dan mungkinkah aku yang akan bisa membuka hatinya.

Kubuka mulut tapi yang keluar hanya suara parau, Hans menghampiri kami dan memberikan microphone-nya padaku. Kubuka mulut lagi dan suaraku membahana, semua terdiam mendengarkan.

”Ibel, gue minta maaf sebelumnya kalau cara gue gak sopan. Tapi, gue gak tahu harus bagaimana menghadapi perasaan gue ini. Sejak gue kenal elo sewaktu elo jadi MC di acara ulang tahun sekolah kita, gue udah suka sama elo. Gue pengen kenal elo lebih jauh dan akhirnya SMA negeri yang gue cita – citakan pun harus gue lupain karena gue yakin gue akan bisa deket sama elo kalau kita satu sekolah. Dan akhirnya gue resmi jadi ade kelas elo. Walaupun elo anggap gue hanya ade kelas elo dan selalu elo gak pernah anggap gue dihidup elo, gue hanya mau elo tahu betapa pentingnya elo dihidup gue. Gue mau elo sadar gue ingin elo jadi pacar gue. Sekarang keputusan ditangan elo. Gue tahu sulit membuat elo terkesan sama gue tapi gue harap three-point yang gue kasih untuk elo mampu membuka hati elo buat gue.”

Aku menahan nafas. Menanti Ibel menamparku dihadapan banyak orang yang menanti jawaban Ibel. Aku memandang matanya dalam – dalam. Ibel balas memandangku dengan mata bundar hitamnya. Ia tak berekspresi dan genggaman tangannya lepas dari tanganku. Lalu kedua tangannya menepuk – nepuk pipiku dan Ibel tersenyum tanpa berkata satu patah katapun! Ia justru pergi berlalu meninggalkan ratusan pasang mata yang menanti sebuah jawaban meninggalkan aku dan bayanganku yang ingin lenyap dari muka bumi.

Itulah saat terakhir aku berbicara dengan Ibel. Semenjak insiden memalukan hidupku, Ibel selalu menghindariku dan teman – temanku. Sikap Ibel kuartikan sebagai penolakan tegasnya, sedangkan bagi teman – temanku Ibel tidak sosok yang payah. Ia tidak menjawab iya atau tidak dan sikapnya sungguh tidak elegan bagi mereka. Aku diam saja tak mampu berkata apa – apa lagi. Bahkan ketika Ibel lulus sekolah, aku tak bisa lagi memberinya selamat atas prestasinya masuk lima besar di sekolah.

Tinggalah aku melanjutkan setahun terakhir disekolahku tanpa harapan hidup. Bayang – bayang Ibel selalu masuk dalam setiap kehidupanku. Rasa sukaku mungkin telah berubah menjadi sebuah obsesi tak tertahankan. Aku ingin memilikinya dan sungguh bukan wanita lain yang kuinginkan. Teman – temanku berbaik hati mengenalkanku pada gadis – gadis cantik dan meskipun aku akhirnya berpacaran dengan salah satu dari yang dikenalkan Reno, aku tetap saja memikirkan Ibel. Aku ingin tahu dimana ia sekarang, karena setelah lulus Ibel putus komunikasi dengan teman – teman seangkatannya, maka aku tak bisa mengorek informasi apapun tentang dia. Ibel pujaan hatiku, ia lenyap ditelan waktu.

Sudah lima tahun sejak aku kehilangan Ibel. Kini sedikit demi sedikit aku mampu melepaskan kenyataan pahit ini. Aku kini berpacaran dengan gadis yang empat tahun lebih muda dariku, namun aku seringkali membandingkan dia dengan Ibel. Jelas tak akan mungkin sama. Bagiku, Ibel tak akan mungkin bisa disandingkan dengan siapapun yang ada didunia ini.

Tugas kuliahku menjelang skripsi menumpuk. Aku tidak punya banyak waktu untuk Azla, pacarku sekarang dan ia merengek seperti balita kalau ingin bertemu denganku. Aku benci jika Azla harus begini. Sikapnya membuat aku semakin merindukan Ibel yang dewasa dan berpendirian teguh. Ketika Azla semakin menjadi maka kuputuskan memberikannya pelajaran. Aku memutuskannya agar ia belajar dewasa. Azla menangis dan menghubungiku tapi tak aku hiraukan. Aku harus fokus dengan kuliah akhir ini. Sebagai anak tunggal aku harus membahagiakan orang tuaku dengan nilai memuaskan.

Disuatu sore yang cerah, ketika aku sedang mengerjakan makalah untuk kuliah di Kedai Kopi langgananku. Tiba – tiba handphoneku berbunyi, sms masuk. Ku lihat dengan malas karena paling – paling Azla yang masih memohon minta belas kasihan, tapi ternyata itu nomor yang tidak ku kenal dan isi pesannya membuatku nyaris pingsan.

Hai Dany, apa kabar? Ini Ibel.

Aku terperangah menatap layar handphone tak tahu harus menjawab apa. Ingin menangis tapi ingin berteriak di mukanya sekarang juga. Ibel yang kucinta kini menghubungiku. Tanpa melewatkan kesempatan ini, aku segera menghubunginya. Dan berakhirlah sore ini dengan sangat indah.

Kami jadi semakin sering berkomunikasi. Aku sering menelponnya dan telepon dari Azla tak pernah aku angkat lagi. Ibel banyak bercerita tentang hidupnya. Ia bekerja disebuah Bank swasta terkenal sambil menyelesaikan S1-nya. Ia juga begitu terbuka dengan kisah hidupnya yang selama ini ditutupinya rapat – rapat. Orang tuanya bercerai, ayahnya tak mampu memberi nafkah kepada keluarganya sehingga Ibunya harus berhutang menutupi kehidupan keluarganya dan pada saat Ibel lulus SMA orang tuanya bercerai, Ibel harus mencari nafkah membantu Ibunya yang berjualan makanan dirumah. Ibel harus membagi waktunya antara membantu Ibunya dan bekerja di kantornya. Uangnya selalu kekurangan karena ia punya adik yang belum tamat SMA. Ibel menumpahkan keluh kesahnya dan beban hidupnya. Aku mendengarkan dan ia bercerita. Aku sangat iba padanya. Malangnya pujaan hatiku.

Hari minggu yang cerah menyambut hariku hari ini. Entah kenapa aku begitu merasa bersemangat. Aku cek handphoneku dan benar saja ada sms dari Ibel, ia bilang ia mau berjumpa denganku hari ini! Segera aku bangkit dari kemalasanku dan lari menuju kamar mandi lalu bersiap – siap berjumpa Ibelku. Kami janjian di Kedai Kopi langgananku di jam makan siang. Tapi aku tidak akan membiarkan Ibel menungguku maka aku harus lebih dahulu sampai tempat janjian.

Aku sampai di Kedai Kopi dan memesan secangkir cokelat dingin. Udara terasa panas padahal diruang ber-AC. Mungkin gejolak hormon adrenalinku tak tertahankan, jantung juga rasanya ingin loncat keluar. Aku memikirkan harus berkata apa dan berdoa semoga saja aku tidak kelepasan memeluknya. Satu jam kemudian ku lihat dikejauhan ada seorang gadis cantik bertubuh langsing. Ia menggunakan hak tinggi dan membuatnya tidak terlalu mungil. Rambutnya terurai cokelat dan kulitnya kuning langsat. Senyum merekah dari bibirnya dan ia melambaikan tangan padaku. Itu Ibel.

Jantungku rasanya sudah loncat keluar dan kini entah kemana, sekujur tubuhku berubah dingin dan gemetar hebat. Ibel mendekat, bisa kuhirup aroma harum dari tubuhnya. Aroma parfum yang begitu memikat hati. Ibel menjabat tanganku.

“Hai apa kabar adik kecil?” seru Ibel riang.

Aku mencibir. Ternyata sikapnya tak jauh berbeda. “Lihat Ibel, aku sudah dewasa,”kataku meledek.

Ibel tertawa lalu duduk dihadapanku. Ia mengenakan celana selutut dan kaos berkerah berwarna putih. Hanya memakai itu dan ia tampak keren. Kami berbincang seru dan aku tidak ingin hari ini berakhir begitu saja, maka aku coba tanyakan pertanyaan masa lalu yang selalu membayangiku, pertanyaan yang ingin kutanyakan sejak dia meninggalkanku, mengapa dia pergi begitu saja tanpa menjawab pernyataan cintaku?

Ibel berdeham dan matanya membulat besar, “Dan, harus kamu tahu, tidak semua orang beruntung dilahirkan dalam keluarga sepertimu. Kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu inginkan, sedangkan ada sebagian orang yang harus berjuang mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Aku salah satunya. Aku bukan gadis yang beruntung dan hidupku terlalu berat jika aku memutuskan untuk berpacaran saat itu.”

“Tapi bukan berarti kau pergi tak sopan meninggalkan aku sendirian di tengah ratusan mata yang memandang kita,bel. Setidaknya kamu bilang ‘enggak’ kalau memang kamu tolak aku. Kamu tega ninggalin aku begitu aja,”kataku ketus.

Ibel tertawa,”kita lihat anak manja ini. Lihat dia selalu mendapatkan apa yang diinginkan dan tak pernah mau berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan. Sekarang pertanyaanku, apa pernah kamu mencoba memperjuangkan keinginanmu? Pernah kamu berusaha mendapatkan keinginanmu?”

”Jelas Ibel! Semua three-point hanya untuk kamu! Aku berjuang mendapatkan itu agar kamu tahu aku punya kemampuan dibandingkan kamu yang luar biasa!”seru aku.

Ibel menggeleng,”aha, tidak adik kecilku. Kamu melakukan itu untuk dirimu sendiri. Lihat kamu mendapat medali pemain terbaik usai Turnamen, kamu makin famous dan banyak gadis cantik yang menyukaimu. Mana yang untuk aku? Tidak ada adik kecilku. Yang kau lakukan itu untuk dirimu sendiri. Kamu bilang menginginkan aku tapi kamu tak berjuang mendapatkanku. Itu sifat manjamu, kamu mau segalanya cepat dan langsung. Kamu mau segala yang kamu inginkan tersedia begitu saja. Hidup tidak begitu adikku. Kamu harus paham, diluar hidupmu itu, banyak orang harus mengorbankan kehidupannya demi mendapatkan apa yang diinginkannya.”

Jawaban Ibel membuatku terperangah. Benar sekali dia. Selama ini aku bilang aku menginginkan dan mencintainya tapi tak ada sikapku yang benar – benar menunjukkan ’pengorbananku’ untuk dirinya. Aku merasa muka ku memerah karena malu. Kini mataku terbuka lebar dan aku justru menyesali mengapa aku tak berusaha mencari tahu kemana Ibel pergi.

Ibel memainkan cangkir kopinya lalu meminum isinya. Ia menatapku,”tapi Dany, aku ingin meminta maaf padamu karena telah mempermalukanmu dihadapan orang banyak. Aku pikir kamu akan paham soal perasaanku dan aku pikir kamu akan mencari aku ketika aku lulus sekolah.”

”Maksudmu? Perasaanmu yang bagaimana?”seketika aku merasa hatiku merekah dan aku tahu dia juga menyukaiku.

Ibel memandangku,”tidakkah kamu sadar Dany, kalau aku juga menyukaimu. Aku tidak menjawab pernyataan cintamu karena aku tahu kamu masih terlalu childish memandang persoalan hati. Aku yakin kamu tidak sepenuhnya menyukaiku dan benar kan aku, kamu tidak mencariku kemana aku pergi. Kamu ikut pergi dan tidak berusaha mencari tahu tentangku. Bukannya aku perhitungan tapi sadarkah kamu siapa yang menjalin komunikasi lebih dahulu sekarang? Aku sms kamu duluan, Dan. Aku menunggu kamu lima tahun lamanya dan kamu tidak berusaha mencariku. Sungguh menyedihkan mengharapkan hal itu. Sampai akhirnya aku yang mencari tahu dan aku tahu nomor handphone mu dari Reno. Aku tanya tentang kamu ke Reno.”

Bibirku kelu. Aku tidak sanggup menahan kebodohan aku ini. Ingin aku memeluk Ibel dan meminta maaf padanya. ”Kenapa Reno tak bicara padaku soal kamu?” hanya itu yang mampu aku tanyakan.

Ibel menggeleng,”aku yang melarangnya. Aku hanya ingin kamu mendatangiku karena kamu mengikuti hatimu bukan suruhan orang lain.”

Air mataku mengambang dan tangiskupun akhirnya pecah. Aku memeluk Ibel seerat mungkin. Aku tidak ingin kehilangan dia lagi. Siapakah aku? Hanya seorang Looser. Aku pecundang dalam banyak hal. Ibel bisa segalanya sedangkan aku tak mampu melakukan apapun, bahkan untuk merangkai kata dan mendapatkan wanita yang aku suka saja aku tak mampu. Aku benci diriku sendiri. Aku malu padanya. Selama ini aku berceloteh ke semua orang untuk mendengar kisah sedihku dicampakkan Ibel begitu saja diwaktu lalu tanpa mengerti arti dari setiap sikapnya. Ibel lah yang paling merana pastinya. Ia hanya ingin dicintai sepenuh hati tapi aku yang dengan bangga bilang pada dunia bahwa aku mencintainya aku tak mampu merealisasikannya. Aku malu, sungguh malu.

Ibel mengelus kepalaku, usapan lembut yang menenangkan hatiku. ”Sudah jangan menangis lagi yah. Semua sudah berlalu, jangan kamu sesali yah. Lagipula aku tidak bisa menjadi pacarmu saat itu, Dany. Aku hanya memikirkan nasib Ibuku dan adikku. Maafkan aku, Dan.”

Aku memeluknya makin erat. Wanita ini sungguh baik hatinya dan aku tidak pernah berusaha memahami hatinya. Aku hanya memikirkan keegoisanku sendiri. Justru akulah sang pendosa. Lelaki pembual yang bicara soal hati dan selalu menuntut. Ibel melepaskan pelukannya, mata hitamnya memandangku.

”Hapus air matamu, Dan. Main yuk kerumahku. Aku kenalkan kamu dengan Ibu dan adikku.”

Aku menatapnya bingung. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Tentu aku sangat ingin tapi aku begitu malu dan aku tidak sanggup kalau aku harus berkenalan dengan Ibunya. Ibunya akan bertanya siapa ini? Ibel mungkin akan menjawab, oh hanya lelaki pengecut bu.

Namun aku tidak ingin mengecewakan Ibel lagi, maka aku segera mengangguk dan Ibel tertawa girang. Ia memelukku dan kami lewatkan hari itu dengan perasaan penuh kasih. Diantara masa kehidupanku, aku pikir inilah momen yang paling membahagiakanku. Kami layaknya sepasang kekasih tanpa harus ada pernyataan cinta seperti anak SMA atau ada jawaban iya ketika membuka hati. Segalanya mengalir begitu saja. Coba sejak dulu aku bisa begini mungkin sekarang aku akan langsung melamar Ibel setelah aku lulus kuliah.

Malam pukul 19.00, Ibel memintaku untuk ikut pulang kerumahnya. Dia tidak sabar untuk mengenalkan aku dengan keluarganya. Aku tidak tahu harus berbincang apa dengan Ibunya dan adiknya. Ibel berjalan riang sambil tertawa – tawa dan sesekali mencubitku.

”Ibel, kita ini sudah resmi pacaran yah?”tanyaku malu.

Ibel menatapku,”heh emangnya kamu pikir lagi peresmian gedung yah? Hehehe.. Bagiku, kamu itu sudah jadi pacarku sejak dulu meski kamu tidak pernah menghubungiku.”

”Sudah donk. Aku tahu aku salah. Aku minta maaf dan aku akan menebus semua kesalahanku. Aku akan selalu bersamamu mulai saat ini. Aku janji,” kataku seraya menggengam tangannya.

Ibel tersenyum cantik,”kamu perlu tahu satu hal lagi,Dany. Aku tidak pernah pacaran sejak dulu hingga tadi sebelum kita jumpa. Dan kini dihadapanku berdiri pria yang aku inginkan selama ini. Aku hanya menyukaimu dan itu cukup bagiku. Aku tidak ingin lagi mencari pria lain lagi, Dany.”

Senyum merekah di wajahku, Ibelku sayang memang pandai menggombal. Kini aku hanyut kedalam hidupnya. Kubukakan pintu mobil agar Ibel masuk lebih dahulu. Mobil Mazda6 hadiah ulang tahun dari orang tuaku.

”Pasti ini pemberian orang tuamu yah,” tanya Ibel. Aku mengangguk bangga.

”Dasar anak manja. Jangan bangga begitu. Ini bukan milikmu. Ini milik orang tuamu. Ingat itu. Dan kamu harus membalas budi kebaikan orang tuamu kalau begitu. Andai aku punya kehidupan sepertimu,” kata Ibel tak sanggup melanjutkan.

Aku menggengam tangannya menenangkan. Sepanjang jalan menuju rumah Ibel, aku dan dia tidak banyak bicara. Kami mendengarkan musik – musik sendu dan beberapa musik hip – hop. Sebab Ibel ternyata suka sekali dengan Pitbull. Kami tak banyak berbincang soal kehidupan kami lagi. Kami tampak sepakat akan menjalin hubungan yang benar – benar baru.

Jalan menuju rumah Ibel cukup lumayan menyulitkan. Jarang kendaraan umum melewatinya. Sepanjang jalan cukup gelap dan banyak ilalang disebelah kirinya. Akhirnya sampai juga rumah Ibel. Letaknya di sebelah kananku. Rumahnya nampak sepi dan juga gelap seperti tidak berpenghuni. Halamannya kotor seperti tidak diurus dengan baik. Aku memarkirkannya didepan rumahnya. Ibel langsung membuka pintu dan menghambur keluar. Ia seperti tidak sabar akan pertemuan keluarga ini.

Lepas dari perasaan cintaku pada Ibel, harus kuakui, rumah Ibel sangat menakutkan. Aku tidak menyangka anak selincah dan penuh tawa seperti dia tinggal dirumah seperti itu. Penuh misteri dan seperti rumah hantu dalam tayangan televisi. Ia tidak memiliki tetangga di kanan – kirinya, sebab rumahnya berdiri rapuh di lapangan luas.

Ibel membuka pintu pagar rumahnya yang dihiasi tanaman liar merambat. Rumahnya benar – benar tidak terawat dan menakutkan. Pintu rumahnya berderit menakutkan ketika dibuka dan bulu kudukku berdiri semua. Ibel memang penuh kejutan, tadi soal perasaannya padaku kini soal rumah horor tempat tinggalnya. Bau busuk menyambut kami ketika pintu dibuka. Aku segera menutup hidungku tanpa bermaksud menyinggung Ibel. Ia menatapku dan tersenyum malu,”sorry tapi banyak bangkai tikus disini. Belum sempat aku bereskan.”

”Kamu mau minum apa?”tanya Ibel. Melihat kondisi rumahnya yang berantakan tak terurus, rasa haus tiba – tiba hilang begitu saja, maka aku menggeleng.

Ibel menatapku dan mengenggam tanganku,”Dany kamu siap ketemu Ibu dan adikku?”

Aku mengangguk.

”Kamu gak akan meninggalkanku kalau kamu tahu tentang mereka?”

Aku menatapnya, ”memangnya ada apa dengan mereka?”. Ibel jadi tampak misterius.

Ibel menggeleng. Ia menggandengku dan membawaku lebih masuk kedalam rumahnya. Rumahnya cukup besar dan tidak terlalu banyak barang. Hanya ada sofa merah dan meja bundar. Lalu ada meja makan disudut ruangan, ada ruang televisi di ruangan yang lain. Ibel membawaku melewati ruangan – ruangan tak berpenghuni itu menuju sebuah ruangan yang tampaknya sebuah kamar. Bau busuk disini makin terasa. Aku tidak sanggup lagi, aku ingin keluar dari situ dengan segera. Entah mengapa perasaanku tidak enak, ada sesuatu yang tidak beres. Tapi Ibel menggenggam tanganku sangat erat. Ia membuka pintu kamarnya.

Bau busuk menyerebak keluar. Aku tidak sanggup lagi, saat itu juga aku muntah dilantai. Ibel tidak mempedulikan aku. Ia mengajakku kedalam ruangan menakutkan itu sambil menarikku kuat. Aku berusaha melepas genggaman Ibel tapi ia tetap mempertahankan genggaman itu.

Ruangan itu kira – kira seluas kamarku. Cahayanya temaram dan ada tempat tidur berkelambu didalamnya. Bau busuk itu seperti bersumber dari dalam tempat tidur itu. Aku tidak ingin mencari apa penyebab baunya, aku hanya ingin keluar.

”Ibu, kenalkan ini Dany, yang sering aku ceritakan sejak dulu,”Ibel berbicara gugup pada seseorang yang tampaknya sedang berbaring didalam tempat tidur kelambu bau busuk itu.

Aku mencoba mengintip kedalam selimut kumal itu dan betapa terkejutnya aku. Alih – alih tubuh manusia normal pada umumnya yang walaupun dalam keadaan sakit masih tampak akan normal, makhluk didalam selimut itu sangat mengerikan. Tubuhnya tak lagi padat seperti manusia normal. Ia tampak seperti kerangka dan disebelahnya juga ada kerangka seusia anak remaja. Aku menatap Ibel.

”Ibel kamu gila?!!! Itu Ibumu telah meninggal dunia!! Bagaimana bisa kamu menyimpannya dirumah!!! Ibel aku tidak mengerti kenapa kamu begini Ibel,”kataku panik. Peluh keringat membasahi tubuhku.

Mata Ibel berkilat menatapku, ”Ibu tidak meninggal dan adikku pun tidak. Mereka hanya sedang pergi ke tempat yang aman. Tempat yang pantas untuk mereka daripada harus tinggal di dunia yang kejam ini. Aku rasa mereka bahagia sekarang.”

Aku menatapnya tak percaya, ”Ibel kamu psycho!!! Aku gak nyangka kamu segila ini. Apa yang kau lakukan pada mereka??” kataku tajam. Aku berusaha melepaskan genggaman tangan Ibel tapi Ibel terlalu kuat.

Ibel tersenyum tipis, ”ayahku suka menyiksa kami. Suatu hari aku berencana kabur dari rumah biadab itu. Ibu dan adikku terlalu lemah. Mereka tidak mau keluar dari rumah si bangsat itu. Mereka tidak tahu bagaimana caranya mencari uang dan hidup tanpa ayah. Aku sudah bilang aku yang akan menanggung nafkah keluarga, tapi Ibuku orang lemah, ia hanya bisa menangis dan lebih memilih disiksa setiap hari. Akhirnya kuputuskan memberinya obat penenang. Obat yang membuatnya pergi ketempat yang lebih baik sambil aku membawanya pergi dari rumah. Adikku tidak mau ikut dengan kami dan mengatakan aku gila. Aku jelas tidak gila, aku tahu mana yang terbaik untuk mereka, jadi kuputuskan saja memberi obat penenang untuk adikku agar ia ketempat yang aman. Biar aku bisa membawa mereka dengan tenang,” kata Ibel tenang.

Aku menatapnya tajam. Aku tidak bisa berkata apa – apa lagi. Gadis dihadapanku bukanlah gadis yang aku pikir aku kenal selama ini. Dia tidak lebih dari seorang monster berdarah dingin. Ibel seorang psikopat. Ia tidak menyesalinya sedikitpun. Ia berkata seolah – olah dia itu benar. Aku tahu kini aku dalam bahaya. Ku putar otakku untuk melarikan diri sedangkan tangan Ibel mencengkram pergelangan tanganku sekarang.

”Ayahku masih mencariku, Dany. Ayahku mengatakan aku gila. Ayahku merasa dirinya benar dan aku yang salah. Lima tahun sejak aku lulus SMA, aku tinggal disini, Dany. Aku mencarimu Dan. Aku mencarimu agar kita berdua bisa menyusul Ibu dan adikku ketempat mereka. Mereka sudah aman dan kita pasti akan tentram juga hidup disana. Ayahku tidak akan datang lagi mencariku dan mencari kita,Dan”

Aku meronta sekuat tenaga dan berusaha melepaskan diri dari tangannya. Tapi Ibel tampak bengis dan ia tidak mau melepaskanku. Ia terus menatapku liar. Tidak ada keceriaan lagi dalam sorot matanya.

”Kamu udah berjanji Dan mau menebus semua kesalahanmu di masa lalu kan? Kamu mau kita selalu bersama kan? Aku akan membawa kamu bersamaku, Dan. Ini tidak menyakitkan. Kamu cukup menegak sedikit saja,”kata Ibel sembari mencari – cari sesuatu di dalam tas selempangnya.

Sebotol kecil berisi cairan berwarna biru mengisi pupil mataku. Itu racun. Mungkin racun yang sama yang akhirnya menewaskan Ibu dan adiknya. Aku mulai berteriak minta tolong. Percuma saja, gubuk ini jauh dari hiruk pikuk keramaian penduduk. Tamatlah riwayatku. Dengan sekuat tenaga aku melepaskan diri dari Ibel. Ibel sudah menggila dan ia menjerit histeris. Aku kabur dan mendobrak pintu kamar menakutkan itu. Dibelakangku Ibel ikut berlari. Entah apa yang terjadi dibelakang, aku hanya ingin pergi dari rumah biadab itu.

Tiba – tiba cairan merah keluar dari betis kiriku. Seketika itu pula aku mati rasa. Ibel telah melempar pisau lipat kearah kakiku. Aku terhuyung dan mencari pegangan untuk berdiri. Ibel berjalan santai kearahku. Ia memandangku lemah seakan tak berdaya.

”Kamu kenapa mau meninggalkan aku Dany? Kamu berjanji akan selalu bersamaku kan? Kenapa kamu ingkar janji? Lihat sekarang kamu berdarah. Padahal aku ingin mengajakmu tanpa luka rasa sakit seperti itu. Aku cukup memberimu seteguk dan untukku juga seteguk. Kamu nakal, Dany. Kamu mau mengkhianati aku setelah kamu tahu tentang hidupku. Kamu jahat Dany! Aku tidak menyangka kamu setega ini Dany!”

”KAMU GILA IBEL!!!! TIDAKKAH KAMU SADAR KAMU TELAH MEMBUNUH IBU DAN ADIKMU!!! PANTAS AYAHMU MENCARIMU! KAMU GILA IBEL! KAMU GILA!”raungku. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa dan berbuat apa. Aku pasrah tapi aku tidak mau mati sia – sia seperti ini didalam gubuk tak bermatabat. Aku ingat akan orang tuaku. Aku tidak mungkin tega meninggalkan mereka, aku anak tunggal. Mereka tidak punya siapa – siapa lagi jika aku harus mati tak berguna seperti ini. Dengan tekadku aku terus menyeret kaki kiriku yang berdarah makin parah. Tubuhku dingin dan gemetar. Tinggal selangkah lagi aku membuka pintu, Ibel mengancamku.

”Dany, aku ingin kamu menemaniku menemui Ibu dan adikku. Aku ingin kamu ikut. Kalau sampai kamu membuka pintu, aku tidak jamin keselamatan kaki kirimu.”

Aku tidak mendengarkan ocehan gadis monster dibelakangku. Ia menggenggam sebuah parang panjang yang entah didapatkan darimana. Aku mengusap keringat dikeningku,”Ibel kamu sayang pada Ibumu?”

Ibel mengangguk mantap.

”Akupun demikian Ibel. Aku sayang pada Ibuku dan tidak mungkin meninggalkan Ibuku sekarang juga. Aku tidak mungkin tega melihatnya menangis Ibel,”kataku lirih.

”Tapi, Dany. Ibumu juga punya ayahmu. Aku rasa Ibumu tidak keberatan jika kamu ikut bersamaku. Kamu lihat betapa malang Ibuku disiksa setiap hari oleh ayahku, Dany. Kamu tega? Sekarang mana yang lebih kamu cintai, aku atau Ibumu?”

Aku bimbang. Dalam sekejap perasaan cintaku pada Ibel kini sirna sudah. Perasaanku berubah menjadi takut luar biasa. Melihat betisku berdarah hebat karena pisau lipat menancap disana, dan kini Ibel berjalan mendekatiku membawa parang ditangannya. Aku seakan tidak punya pilihan. Aku berdoa tapi aku tak tahu apakah Tuhan akan menyelamatkanku.

Kuingat awal aku jumpa dengannya, tak ada tanda – tanda ia seorang psikopat. Ibel yang kukagumi menyimpan sejuta misteri, kini tabir kebenaran terbuka dihadapanku. Tak mungkin aku harus mengakui aku masih mencintainya. Kuingat wajah orang tuaku yang pasti akan sangat bahagia melihat kelulusanku, kuingat wajah Azla yang menuntut aku untuk menghubunginya, kuingat wajah Ibel tadi sore di Kedai Kopi, dan kini aku berdiri dihadapannya. Entah kekasihnya atau binatang buruannya. Aku berteriak.

Ibel tepat dihadapanku. Aku melorot bersandar pada pintu. Kakiku tak mampu lagi untuk berdiri. Darahku mungkin sudah habis. Kulihat kuku – kuku ku sudah membiru. Ibel menatapku, diletakannya parang besar itu. Ia mengelus pipiku dan mengecup keningku dan memelukku. Lalu ia membuka tutup botol berisi cairan biru itu.

”Tenang Danyku sayang. Rasanya tidak akan sakit. Kamu cukup sedikit saja dan aku juga akan meminumnya,”kata Ibel sambil memaksa aku membuka mulutku.

Aku meronta tak berdaya. Aku mati rasa dan pasrah pada nasibku pada simpanan kebaikan yang pernah aku buat selama hidupku. Ibel mencengkram rahangku memasukan cairan pahit itu kedalam mulutku. Lidahku menahan cairan itu agar tak masuk kedalam kerongkonganku. Ibel mengamatiku dengan puas. Kujatuhkan diriku ke lantai. Menahan rasa pahit didalam mulutku. Aku menahan napas dan aku tidak mau meludahkan dihadapan Ibel.

”Nah, sayangku. Tidak sakitkan? Aku mau membereskan darahmu itu dulu lalu aku akan meneguk setengah ini lagi,”kata Ibel riang sambil pergi berlari.

Aku menatapnya berlalu. Pengelihatanku kabur, nafasku cepat, racun itu aku muntahkan tapi mungkin sebagian telah aku telan bersama air liur. Berbagai fenomena masa – masa kehidupanku kembali hadir dalam ingatanku. Sejak aku kecil, berkumpul bersama keluargaku, masa – masa sekolah bersama Ibel, hingga ditempatku yang terakhir ini. Aku mendesah pelan. Ibel pujaan hatiku sekaligus pembunuh diriku dan kini nyawaku di ujung tanduk.


Bekasi, 21 Juni 2011

Senin, 20 Juni 2011

OMG

Haloooo
Haluuuu
Holaaaa...........

Selamat datang tanggal 20 Juni 2011.. Gak terasa sebentar lagi akhir Juni tiba dan itu artinya genap setengah tahun 2011 datang... OMG!! Apa yang akan gw lakukan dengan kehidupan gw menjelang setengah tahun 2011??? Nothing..

Banyak hal yang harusnya gue laksanain di tahun ini.. Diantaranya target dapet kerjaan dengan kenaikan gaji yang signifikan (bahasanya sok politik naj*s cuuiih), kerja di tempat yang sesuai kualifikasi gw dan minat gw sih sebenarnya yang paling utama tapi sayangnya mungkin Tuhan berkehendak lain. Apa daya gw terdampar di karir yang gue rasa bukan gw bangeeetttt... Belum lagi penyaluran hobi gw yang belom tersalurkan. Wkwkkwwk apaan deh bahasanya ya!

Memangnya apa hobi gw??? Kalau ditanya hobi, jawabannya banyak!!! Gue seneng mengamati keadaan sekitar gw.. Menelaah karakter orang - orang bahkan hewan - hewan aja suka gw pelajari dan teliti perilakunya.. Selain itu gw juga hobi baca terutama buku - buku yang berbau (bukan bau sampah yeh) mitologi dan sejarah kerajaan. Tapi belakangan gw jadi hobi baca buku tentang kehidupan dan realitas kehidupan dunia serta alam semesta dan isinya. Kalau udah baca buku tentang itu, jiwa gw jadi tenang dan 'keliaran' dan kelakuan gw yang gak bisa diem jadi sementara waktu teratasi. Mungkin itu sebabnya nyokap gw koleksi buku - buku untuk ketenangan batin, mungkin biar anaknya gak terlalu bar - bar kayak manusia zaman purba..

Hobi gue yang lain adalah makan! Gak tau kenapa yah tapi buat gw makan itu kegiatan yang menyenangkan. Kunyah kunyah kunyah telen kunyah telen kunyah telen. Walaupun kenikmatannya hanya sampai sebatas lidah aja tapi gw selalu nafsu kalau makan. Sungguh memalukan kata kakak gw klo doi lagi ngebayangin gw first date sama prince charming tapi begitu candle light dinner n cowok itu liat gw makan, menurut kakak gw yang baik hati itu, tuh cowok bakalan kabur liat cara gw makan.. OH NO! Sehina itukah gue??? Tapi nyatanya gw sampe sekarang belum laku jadi masih ada waktu buat memperbaiki table manner gw.. Uhuyy.. Oh ya bicara soal makan, udah sejak 20 Mei 2011 gw belajar jadi Vegetarian! Wah berarti sudah sebulan tepatnya gw menganut paham vegetarisme. Gue bukan Vegan yang total gak makan daging atau makanan yang mengandung nyawa. Tapi gw Vegatarian Ovo dan Lactosa jadi artinya gw masih konsumsi telur dan susu tapi non daging sama sekali. Itulah niat gw tapi nyatanya gw masih ngelanggar makan seafood gara - gara pesan I-fu Mie dan makan ayam gara - gara training menu lunch mie ayam.. Walaupun begitu gw akan terus berusaha! Berusaha menjadi Vegetarian! Karena dengan menjadi Vegetarian berarti gw berusaha mengurangi Global Warming di Semesta ini.

Oke balik lagi ke seputar hobi. Hobi gw yang lain adalah Dance alias Menari. Gw suka banget yang namanya nari. Tapi sayangnya kesempatan belum berpihak buat gw membuktikan keahliaan gw dalam bidang ini. Gw gak pernah ikut les dan semua gerakan yang gw bisa adalah hasil otodidak. Jadi gw selalu berdoa semoga saja dunia akan mengetahui siapa sejatinya gw... hhehehehe..

Hobi gw yang lain adalah, Menulis!!!!! Gue suka banget nulis sesuatu. Mulai tulisan yang gak penting sampe hal yang gue anggap penting.. Gue suka ngebayangin klo suatu hari nanti gw jadi orang terkenal karena novel hasil karya gw. Tapi sayangnya, sampe detik ini pun novel yang gue susun sejak gw SMP sampe gw kerja belum kelar juga. Huftt.. Menyulitkan membuat sebuah klimaks cerita yang menegangkan. Tapi gw harus bisa! Sebab ini kan impian gw.. Impian kalau tidak direalisasikan sama saja seoerti seorang pengecut dan gw gak mau jadi seorang LOSER jadi gw akan berusaha mewujudkan novel gue ini.. So just wait guys!

Oke sekian dulu blog hari ini yang ekspektasi awal gw cuma singkat gak taunya jadi panjang begini..
Met Makan semuanya

nb:: Pas banget jam makan siang.. Menu hari ini Sambel Terong dan Bakwan Jagung buatan Nyokap! Yummy!!!