Selasa, 28 Juni 2011

Dalam Tidurmu

Kau terlelap di kegelapan malam. Separuh bagian dari rambut indahmu itu berpindah ke satu sisi saat kau tidur miring. Tanganmu ingin menggenggam sesuatu namun tak dapat mencapainya. Nafasmu berat seperti habis terisak. Aku tahu, kau sama sekali tidak terlelap sejak daritadi. Kau terjaga, selalu terjaga disetiap waktu istirahatmu. Ragamu memang dalam posisi terbaik untuk tidur, tetapi pikiranmu berlari, terus menjauh dari kenyataan yang kau jalani.

Atau sebenarnya inilah hidup nyatamu? Waktu 8 jam untuk tidurmu kau habiskan untuk dunia yang kau anggap mencintaimu seutuhnya. Dunia yang kau pikir hidupmu yang sejati. Hapus air matamu. Aku ingin memeluk batinmu yang sunyi itu. Aku ingin kau tahu aku selalu memperhatikanmu. Kemarilah, mari kita telaah sejauh apa kau berlari masuk ke mimpimu.

Pundakmu indah tak pantas menopang berat beban batinmu. Aku tidak menyalahkanmu yang terlalu menginginkannya. Namun, kau harus ingat. Kamulah keindahan nyata yang tak pantas dibagi. Kau adalah hidup bagi yang lain. Bukankah pikiran akan bahagia jikalau mampu melepas? Aku yakin kamu sedang merana.

Kamu bergerak sedikit. Hatimu miris seperti diiris pisau yang sangat kecil dan sangat tajam. Harus kepada siapa kamu membagi gundahmu. Kau sembunyikan semua dengan sangat rapi sehingga mungkin rayap akan berhenti makan kayu saking terkejutnya tahu isi hatimu. Dia yang tak layak untuk dicintai telah menjadi bagian dari hidupmu.

Kamu berusaha mengingat segalanya. Kamu berjumpa dengannya pertama kali saat kalian masih duduk dibangku sekolah. Saat itu kalian dipertemukan dalam satu kegiatan diluar jam sekolah. Kalian tidak saling kenal bahkan tahu nama saja tidak. Waktu terus berjalan tanpa ekspektasi dalam dirimu untuk mencoba mencari jiwa yang searah. Sebab kau angkuh. Kau terlalu tidak butuh siapapun. Kau mampu berdiri sendiri walau seandainya kakimu hanya satu. Sampai akhirnya D-I-A menitipkan salam padamu.

Teman-temanmu bilang dia terus memperhatikanmu dan bahkan ingin menjadi bagian dari hidupmu. Kau tertawa. Tawa geli dan lebar seperti biasanya yang kau lakukan jikalau ada yang menyukaimu. Kau tak percaya dengan hal-hal yang berhubungan dengan diluar pemahaman logika. Bagimu, jiwamu utuh, bebas, tak akan mungkin terikat oleh hal cengeng soal ingin memiliki. Namun, dia terus memperhatikanmu. Segala gerak gerik diawasi, hingga siap untuk mengetuk hati kecilmu dengan usahanya yang terakhir. Dia berhasil, kau kalah. Kau membuka pintu itu. Pintu yang kau tutup rapat sejak kau lahir ke dunia. Pintu yang kau persiapkan hanya untuk tamu istimewamu suatu hari nanti. Dia yang kau pikir hanya manusia biasa tanpa sedikitpun keistimewaan telah berubah jadi tamu yang kau nanti.

Itu adalah hari-hari terindahmu. Hari yang sangat baru untukmu. Tidak pernah kau merasakan gejolak seperti saat itu. Kau muda, pintar, sangat disayang oleh kekasihmu, disayang oleh teman-temannya, dan kau merasa hidupmu lebih berwarna. Kau menjadi bagian dari hidup nyatanya. Kau dibutuhkan dan selalu dirindukan. Kau seperti seorang yang haus akan kenikmatan kasih sayang yang sebenarnya telah kau dapat dari keluargamu yang tulus tanpa minta balasan. Tapi, kamu buta akan cinta yang kau definisikan menjadi sempit dan dangkal. Kamu hanya tahu, Kamu ingin dia selalu didekatmu begitu pula sebaliknya. Tak ada lagi keindahan dimatamu selain didalam dirinya.

Begitu kuatnya rasa gejolakmu hingga membutakan batinmu. Kau telah banyak berubah. Kau telah menjadi monster bagi hidupmu sendiri. Berubah menjadi makhluk arogan penguasa yang terus haus akan keterikatan. Kau merasa Superior, dipuja, sangat disayangi oleh dia. Kau tidak menyadari kau salah langkah. Sering kali kau berucap kasar padanya, sering kali kau meninggalkan dirinya dengan caramu yang paling tidak elegan. Kesombonganmu telah berlipat ganda. Kau bukan lagi dirimu yang berbelas kasih.

Malam semakin larut. Kau masih belum mengantuk. Kau masih melihat dengan jelas ingatan-ingatanmu itu. Begitu sunyi sampai kamu bisa mendengar hati kecilmu menjerit. Kamu tetap tidak mau kembali ke alam nyata tempat kamu melanjutkan hidupmu. Kamu terlalu berat melepas semua.

Ketika kamu diliputi oleh perasaan bersalah, sudah tahu kamu tidak berada dijalan yang diajarkan oleh keyakinanmu, dia telah menyusun rencana. Dia yang kau pikir selalu menerima tulus sikap burukmu, mampu menyakitimu. Sakit hati dan kenangan buruknya tentangmu membuatnya jadi manusia paling keji yang kau kenal. Dia berusaha membunuh batinmu pelan-pelan. Berkali-kali dia khianati dirimu. Dia mencari kekasih yang mampu memuaskannya. Berganti pasangan layaknya mengganti pakaian.

Kau menangis dan berkali-kali memaafkannya. Bagimu, cinta adalah memaafkan walaupun banyak yang bilang kau buta, dalam sanubarimu kau merasa sangat bersalah dan ingin berubah. Kau menghukum dirimu sendiri. Kau terima segala kejahatannya untukmu. Kau terima segala perubahan drastisnya. Dia sudah tidak ada untukmu. Dia sudah jauh meninggalkanmu. Dia pergi begitu saja dan lebih memilih hidup yang lebih kelam. Dia memilih dunia yang berbeda dengan kamu. Dia menjadi sosok yang pantas menjadi hinaanmu dulu ketika kalian masih bersama. Dia bukannya merubah diri menjadi lebih baik, tapi justru seperti mengabulkan segala kata-kata kasarmu layaknya perwujudan dari sebuah doa.

Kamu terhenyak dalam lamunanmu. Semua telah terlanjur dan hidup harus dilanjutkan. Air mata terus menemani hari-harimu meski tak terlihat. Hanya kamu yang tahu rasa perihnya. Kamu ingin lepas tapi disisi lain kamu menikmatinya. Ini satu-satunya cara kamu berjumpa dengannya. Bagian jiwamu yang liar dan tak mau diatur sering kali menguasaimu. Kau terus menerus menghubunginya dan bagi dia kau layaknya gumpalan hama yang tak bisa diam selalu menganggu. Kau selalu ingin tahu kekasih-kekasihnya dan selalu berhasil membuat dia kehilangan kekasih-kekasihnya. Sedikit rasa puas menggerogoti alam pikiranmu. Kau jadi pecandu untuk menghancurkan hubungan yang tak kau restui.

Dia kehilangan akal sehatnya. Kata-kata cintanya yang dulu sudah tidak berlaku lagi. Dia masih jelas mengingat kata-kata kasarmu dulu dan menjadikan alasan bagi tindakan kejinya sekarang. Dia benci kau selalu mencampuri hidupnya yang dia banggakan itu. Dia mengatakan kepada separuh dunianya bahwa perpisahan kalian dikarenakan perbedaan keyakinan yang kalian pilih. Yah keyakinan. Dia mengatakan kepada dunianya, bahwa dia telah kau bohongi. Kau jujur soal perbedaan keyakinan kalian ketika dia terlalu jauh bersamamu. Lucu. Sungguh ironis.

Kamu berusaha mengingat kata-katanya. Tak pernah sekalipun ia keberatan dengan perbedaan keyakinan kalian. Dia selalu memastikan dia mencintaimu apa adanya tanpa melihat perbedaan itu. Baginya, berbeda membuat kamu dan dia solid, tercampur utuh dalam perbedaan. Dia bohong. Ternyata selama ini dia berbohong. Keyakinan yang tak sama ini terlalu berat untuknya. Kamu baru sadar dia tidaklah berbeda dari kebanyakan orang di dunia ini. Hatimu mencelos.

Apalagi yang kau harapkan dari duka dan perih lukamu? Kamu terlalu naïf. Dunia nyatamu sudah didepan mata! Kau malah menutup mata dan menyumbat telingamu dengan angan-angan yang kau lukiskan sendiri. Kau merasa dia juga merasakan rasa yang sama sepertimu. Aku iba padamu. Aku ingin menolongmu jikalau aku mampu. Tidakkah kau sadar bahwa sudah jelas tak ada konsepsi mencintai dalam dirinya?! Jika dia mencintaimu, C-I-N-T-A padamu, dia tak mungkin membalas tindakan salahmu yang dulu, dengan caranya yang terus menyakitimu! Dia tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja demi dunia kelam yang dia pilih sekarang! Dia akan menerimamu meski kalian berbeda! Dia pasti hari ini akan ada disampingmu. Menemani hari-harimu, tertawa bersamamu, dan memaafkanmu sepenuh hatinya.

Tidakkah kau juga sadar bahwa kau telah masuk kedalam permainannya? Dia telah berhasil membuatmu merasa sangat berdosa dan menikmati kau menghukum dirimu sendiri! Dia jelas tidak pernah mencintaimu. Dia hanya terobsesi padamu. Obsesi yang tak sesuai harapannya. Dia kecewa kau terus menyakitinya. Dia tidak belajar mencintaimu maka dari itu dia pergi dan tidak berusaha kembali. Terlalu banyak alasan untuknya ketika kau memintanya kembali. Jangan kau sakiti hatimu dua kali. Terima saja kenyataannya.

Mentari mulai merayap masuk. Mengganti kegelapan dengan cahayanya. Kamu masih belum juga tertidur. Kamu masih menikmati hidup dalam alam pikirmu sendiri. Aku sudah lelah meyakinkanmu. Mungkin ini pilihan yang kau ingin jalani. Tak pernahkah sedikitpun kau beri kesempatan pada yang lain yang ingin mengetuk hatimu? Aku tahu. Kunci mungil itu tidak kau berikan padanya. Hanya saja kau belum sadar kalau kau yang masih menggenggamnya. Aku akan menunggumu sampai kau menyadarinya.

Tiba-tiba kau tersenyum. Secerah cahaya pagi yang menerobos masuk lewat jendela kamarmu. Senyum indahmu jangan kau ganti lagi dengan air mata. Sudah cukup, aku tak sanggup melihatmu hidup dalam genangan penyesalan. Kau terus tersenyum dan akhirnya tawamu meledak dan tak berhenti hingga air mata mengalir dari bola mata yang ku puja itu. Aku penasaran dengan pikiranmu. Kucoba masuki lagi dimensi dalam jiwamu.

Aku lega. Nampaknya, kamu sudah mulai mengerti. Aku tahu jiwamu besar dan kuat. Aku tahu kamu sanggup hadapi ini semua. Walaupun aku masih cemburu kamu tetap mencintai dia. Mungkin akan selalu menyimpan dia dalam bilik kamar hatimu yang tak dapat dibagi untuk siapapun lagi. Setidaknya kamu mulai paham bahwa kamu orang yang beruntung bahwa sosok yang tidak setia kepadamu telah meninggalkanmu. Bahwa sebenarnya dia akan merana karena sosok melankolis yang mencintainya tanpa kenal lelah, telah ditinggalkannya demi mencari keserakahan dari keinginan batin yang tak pernah terpuaskan.

Mata besarmu semakin melebar dan aku yakin tidak sedang menatap aku. Kamu tertawa penuh kemenangan karena telah berhasil mencinta tanpa pernah lagi minta dibalas. Kamu telah lulus menjadi manusia yang mengasihi dengan hati yang tulus meski dilukai. Aku semakin mencintaimu dalam keterbatasanku. Aku, makhluk yang sedari dulu mengawasimu, telah lama mencintaimu walau kau tak akan pernah tahu. Sebab aku makhluk yang tak akan bisa kau lihat dan hanya bisa kau rasakan.

1 komentar:

iqbal mengatakan...

hahaha ...edann