Rabu, 27 Juli 2011

24 Jam


Banyak manusia telah menyakinkan bahwa 24 Jam dalam sehari tak lagi cukup menemani hidup.
Dulu aku sempat geli dengan pernyataan tersebut dan mulai berteori bahwa hanya orang - orang bodoh saja yang hidupnya bisa disetir oleh waktu.
Namun, kini aku sama bodohnya dengan orang - orang yang kuanggap bodoh dikala itu.
24 Jam ternyata tak cukup untuk dilalui.

Bangun tidur dipagi hari, pergi bekerja hingga petang hari lalu kembali pulang kerumah. Di malam hari hanya bersantai atau mungkin bercengkrama dengan orang tua kemudian tidur kembali untuk istirahat memulai aktifitas yang sama lagi dihari esok.

Aku sudah terkukung dan terpasung oleh persepsi masyarakat mengenai 'keharusan' menjadi orang dewasa. Siapa yang mengharuskan? Tak ada yang tahu namun ironisnya semua orang menjalani rutinitas yang bahkan pencetusnya saja tidak ada yang ingat.

Apa yang sebenarnya dicari oleh orang - orang super sibuk itu? Apa pula yang dicari oleh gembala - gembala dan pedagang itu? Apa yang dicari oleh para pejabat itu? Apa yang dicari oleh para karyawan swasta itu? Apa yang dicari oleh semua orang? Apa? Apa yang dicari oleh ku dari 24 Jam itu?

Waktu seakan sesuatu yang ditakuti oleh banyak orang. Mereka tak menyembah sang waktu akan tetapi sudah jelas hidup mereka penuh dengan 'deadline'. Artinya semua sudah ada jadwalnya. Waktu yang telah menjadi penentu kehidupan mereka.

24 Jam telah membius aku, kamu, kita, mereka, kalian pula. Menganggap bahwa dunia hanya bisa dijelajahi oleh waktu. Memakai batasan waktu sebagai tolak ukur ternyata hal paling naif yang pernah terlintas dalam alam pikiran ku ini.

Lantas apa itu waktu? Mengapa 24 Jam dalam sehari terasa begitu mengikat alam pikiran hingga nyaris membuat gila? Bagaimana bisa segala hal menjadi tampak tergesa - gesa dan tak biasa? Waktu itu apa? Waktu itu siapa? Efeknya mampu membuat sengsara.

Disini aku duduk termenung. Ditemani setumpuk pekerjaan yang menggangap bahuku tempat yang pantas untuk menopang beban. Hidupku tak lagi sama dengan kemarin kemarinnya lagi dan kemarin kemarin. Ahh semua masih saja terhubung 'waktu' dan akan selalu dihubungkan dengan 'waktu'. Sampai kapan aku bisa terdiam hanya mengamati tanpa mencari tahu apa itu waktu? siapa itu waktu?

Tidak ada komentar: