Minggu, 27 November 2011

Ibu, Musuh Tersayangku



“IBU”.

3 huruf, tak terhingga maknanya.

Apa yang terlintas dari benakmu jika kata “IBU” disuguhkan didepan mata? Tentu beribu alasan ingin kau ungkapkan untuk memuja Ibumu. Bisa juga kau utarakan dengan segenap jiwa raga melalui rangkaian kata – kata indah agar tercipta tulisan berirama. Atau mungkin kau akan berjuang merenung siang malam suntuk berusaha mendeskripsikan “IBU” dan saat pagi hari tiba akhirnya kau menemukan sebuah arti yang paling mendekati. Serumit itukah benakmu?

Sejak kecil kita selalu diajarkan bahwa kehidupan ideal seorang anak ialah memiliki sepasang orang tua lengkap yang disebut Ibu dan Ayah. Kedua orang tua yang masing – masing memiliki kewajiban yang berlainan, Ayah bertugas mencari nafkah dan Ibu bertanggung jawab urusan rumah tangga. Namun, kenyataannya standar ideal yang diajarkan orang – orang dewasa di kala kita masih kanak – kanak, bisa berbeda 180 derajat saat kita sudah beranjak memahami dunia nyata.

Sudah hal wajar jika Ayah bertugas mencari nafkah, akan tetapi berapa banyak jumlah Ayah yang mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Di jaman sekarang, banyak sosok Ibu yang selain mengurus rumah tangga juga berperan menghidupi keluarga dengan bekerja keras. Memenuhi kebutuhan keluarga serta harus bertanggung jawab memastikan semua terkendali. Itukah Ibumu? Atau Ibu orang lain yang pernah kau perhatikan?

Banyak orang mengatakan bahwa menjadi “IBU” adalah sebuah pekerjaan mulia. Yang menjadi pertanyaan, sejak kapan tugas mulia itu dikategorikan menjadi ‘pekerjaan’? Jika hal tersebut benar adanya maka menjadi “IBU” tak bedanya dengan seorang Guru. Dimana seorang Guru yang berarti di “GUgu dan ditiRU” oleh banyak orang disebut – sebut sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Walau disebut demikian, seorang pahlawan seperti Guru tetap di gaji sesuai standar masing – masing masa pengabdiannya, yang artinya Pahlawan Tanpa Tanda Jasa pun tetap diberi penghargaan atas jasanya mengajar, mendidik, dan menuntun. Lantas bagaimana dengan seorang “IBU”?

Ketika masih anak – anak, seorang Ibu bagiku adalah sosok malaikat. Apapun yang aku butuhkan bisa dipenuhi. Meski, Ibu bukanlah Ibu Peri dalam dongeng Cinderela toh nyatanya hampir sebagian besar keinginanku berusaha diwujudkannya. Saat aku ingin sepeda bermerek Piyo – Piyo, sepatu roda, dan beberapa hal lainnya yang pada akhirnya terbengkalai begitu saja hanya aku sentuh sekali dua kali sehabis dibeli, Ibu selalu berusaha menyanggupi keinginanku. Jika aku ingat – ingat kembali masa itu, aku yakin aku bukanlah anak manis seperti yang selalu Ibu ceritakan dikala kita sedang bercengkrama. Ibu selalu mengatakan bahwa aku adalah anak baik yang selalu bersikap manis. Mungkinkah aku demikian? Atau apakah itu sebenarnya sejenis doa yang Ibu panjatkan setiap harinya tanpa mesti melakukan ritual siang malam?

Aku sama seperti kalian yang menyenangi kesunyian ketika ditanya ‘Apa itu Ibu?’, ‘Siapa itu Ibu?’. Sel – sel otakku saling sambung menyambung jika aku berusaha mengingat tentangnya, membentuk ingatan akan Ibuku dimasa aku kecil hingga aku sebesar ini. Sedihnya, sedikit yang kuingat dalam memori kepalaku mengenai segala kejadiannya yang aku alami dengannya. Seakan sirna begitu saja seperti ditiup angin, Wuuussshhh, hilang tanpa bekas. Kurebahkan tubuhku dan menutup mata.

Baru saja Ibu mengupas buah mangga untukku. Bagiku perbuatan Ibu tadi tidaklah istimewa. Dimataku itu hanyalah sebuah kewajiban yang tak perlu dijunjung tinggi lagi nilainya. Namun, benarkah asumsiku ini realita yang sesungguhnya? Mungkinkah ini bentuk ketidak-pedulianku pada sosok Ibu yang oleh banyak orang selalu ditinggikan? Aku tidak yakin betul yang mana yang benar. Seringnya aku tidak memutuskan agar aku tak salah mendefinisikan.

Aku memang tidak begitu ingat semua kejadian bersama Ibu secara mendetail. Ingatanku hanya sepotong – sepotong bagian yang kemudian aku rangkai hati – hati, lalu aku menyimpulkan bahwa Ibuku sangat luar biasa dan merupakan teman terbaikku yang aku punyai satu – satunya sejak dulu. Ia selalu memahami aku seperti aku sangat memahami dirinya. Kita berdua bagaikan dua jiwa yang saling melengkapi bukannya jiwa – jiwa yang telah dibelah lalu bertemu padu. Aku sulit mencari teman sejiwa dan baru kutemukan satu orang saja yaitu dalam sosok Ibuku. Ia begitu sempurna dimataku. Setidaknya itu penilaianku tentang Ibu sampai beberapa waktu lalu.

Semakin banyak hal yang kau lihat, maka akan semakin luas pengalaman yang ada dalam hidupmu. Semakin kau tumbuh dewasa, maka akan semakin banyak hal yang kau pikir tidak sesuai dengan standar penilaianmu. Ibu yang tadinya kau puja sebagai manusia dewa bisa mudah kau putuskan sebagai manusia biasa. Seakan tidak pernah ingat bahwa aku sangat mencintai Ibuku, kebencian bisa menggerogotiku kala sosok Ibu tak sesuai lagi dengan ekspektasiku.

Ibu tak ubahnya manusia biasa yang sering kali melakukan kesalahan. Ia semakin tua dan aku semakin bertambah usia. Keduanya seharusnya bisa saling bertoleransi jika tak sepaham tapi aku seakan tidak bisa terima kekurangannya akan ingatan memorinya yang telah banyak berkurang. Ibu tak bisa lagi aku harapkan menjadi sosok sempurna seperti dahulu. Ibu terlalu mengesalkanku. Ia selalu merasa dirinya paling benar disetiap keputusannya. Ia merasa bahwa tak sekalipun pernah tidak mendengarkan aku dikala kita bertengkar, padahal jelas – jelas kata maaf tak pernah keluar dari mulutnya jika ia berbuat salah. Ibu terlalu banyak berubah atau memang sejak dulu sudah begitu namun aku seperti buta akan kenyataan?

Tidak ada lagi teman sejalan yang aku punya. Aku sendiri, sebatang kara. Bukan aku tidak punya keluarga, namun ketika kau hidup ditengah – tengah orang yang tak bisa memahamimu, itu sama saja artinya kau hidup sebatang kara. Terombang – ambing berharap aku ditemukan orang yang tepat. Orang yang mengerti aku seutuhnya. Tak perlu ada seratus jika satu saja sudah mampu memahamiku. Aku sendirian dan tak berarti.

Dalam ketidak-berartian diriku ini, aku merenung. Aku sungguh tahu bahwa benar dan salah adalah dua hal yang relatif. Kau tidak mungkin 100% benar dan juga tidak mungkin 100% salah sebab benar salah merupakan hasil persepsi seseorang terhadap sesuatu hal. Itu artinya kesalahan Ibu bagiku bisa jadi bukan kesalahannya bagi Ibuku. Sangat jarang ada orang salah yang mau mengakui kesalahannya apalagi orang benar yang mau mengaku salah, kalaupun ada berarti orang tersebut memiliki sifat rendah hati yang sangat besar. Namun, inilah realita dunia manusia. Sesalah apapun manusia, terlebih lagi orang tua, pastinya tidak akan merasa bersalah. Tidak akan mungkin ada perdamaian jika mengalah tidak dijadikan solusi. Kebencian hendaknya dibalas dengan cinta kasih. Memaafkan itu perbuatan yang mulia, setidaknya begitu teorinya walau sangat sulit dipraktekkan.

Lahir menjadi seorang anak pastinya memiliki sebuah makna tersendiri. Dilahirkan dengan susah payah oleh Ibu, dirawat, dibesarkan hingga sebesar ini merupakan sebuah perjalanan panjang membesarkan anak. Belum lagi pemahaman dan pengertian tentang hal baik dan hal buruk yang diberikan oleh Ibu sejak anaknya belum bisa bicara hingga sekarang, terima kasih saja aku rasa tidak akan cukup untuk melunasi ‘hutang’ seorang anak kepada Ibunya.

Lantas, mengapa aku masih bersikeras kesal terhadap kesalahannya jika Ibu sendiri tidak menyadari kesalahannya? Megapa aku harus menyimpan benci kepada wanita yang dengan rela mengorbankan nyawanya untuk melahirkan ku (walau aku juga tahu Ibu tidak punya pilihan selain harus mengeluarkan bayi didalam perutnya setelah sembilan bulan)? Tidak bisakah aku sedikit belajar tentang kerendahan hati? Tidak bisakah aku sedikit mengalah? Aku yang katanya telah dewasa ini mengapa tak bisa bersikap dewasa?

Ibu

Keheninganku ini melahirkan sebuah keyakinan tentang dirimu. Kita mungkin seringkali tak sejalan saat ini, tapi bukan berarti aku menghilangkan sepenuhnya ingatan akan Ibu yang senantiasa mendampingiku di kala sedih dan susah. Ibu masih satu – satunya sahabat yang paling mengerti aku. Siapa lagi yang akan menampung beban yang sulit kau topang sendiri selain keluarga, terutama Ibumu? Ya, Ibuku. Dialah orang yang dengan rela menemani hari – hariku. Kepada dialah aku mampu kesal sekaligus sayang. Kepada dialah aku mau membagi suka bersama.

Ibu

“3 huruf, tak terhingga maknanya”
Selain mengartikanmu sebagai orang tuaku, sebagai sahabat setiaku, sebagai tukang masak favoriteku, sebagai teman hang-out, sebagai teman berbagi, kau kini juga sebagai musuh tersayangku.
Terima kasih Ibu karena telah mewarnai hidupku.


Untuk Ibuku, Mama Tersayang

Selasa, 22 November 2011

Kau vs Dia

Hatimu dingin seolah beku
Memandang tajam menganggap mereka kutu
Berkata merasa benar
Menutup telinga tak mau mendengar
Bagai perkasa menyerukan kejayaan
Percaya diri menganggap dihadapan hanya lawan
Tidak berkasih sayang
Satu ingin diganyang
Gadis berambut cokelat pantas ditendang
Merasa diri bahwa mereka bersaing

Kau berkata keras menyerukan contoh soal
Yang sebenarnya menyudutkan dia tak masuk akal
Awalnya kau bicara keras, ia menyumbat telinga lekas
Namun, makin lama ego itu terlihat jelas
Tak kuat dicaci, ia bangkit melindungi diri
Agar jiwanya tak pecah, tak ingin hancur si harga diri
Ia berkobar menunjukkan gigi
Sangat berharap kau cepat pergi

Mula - mula hanya sedikit
semakin lama menggerogoti jiwa hingga kandas tak bersisa.
Kemarahan oh kemarahan
entah sesuatu macam apa
Tak bisa diraba tapi bisa membuat gila.

Merenung

"Seseorang yang mencurahkan diri untuk merenung, dapat mengetahui segalanya sebagaimana adanya."



Merenung adalah sebuah kegiatan manusia. Walau kegiatan tersebut terlihat tidak penting dan memang tidak dijadikan sebagai hobi oleh sebagian besar manusia di muka bumi ini, toh nyatanya merenung adalah kegiatan manusia yang sangat manusiawi.

Sepintas Merenung memang seperti Melamun. Seseorang yang melakukannya tampak secara kasat mata, hanya seperti diam dan seolah tak peduli dengan kegiatan sekitar. Tapi tidak akan sama ketika kita 'melihat' jauh ke dalam alam pikir kegiatan tersebut. Keduanya sangat bertolak belakang.

Melamun adalah kegiatan yang membuang - buang waktu. Diam secara inderawi namun pikiran kita tetap berkelana mencari - cari kesenangan. Seringnya dalam lamunan yang terlintas dibenak adalah sesuatu yang kita sukai saja hingga seolah kenyataan dan khayalan merupakan dua momen yang sama sulit dibedakan. Berapa banyak dari manusia di bumi yang hidupnya terus berkhayal hingga usia mereka mencapai dewasa. Sudah bertambahnya usia seharusnya semakin menambah kedewasaan tapi ini justru malah seringkali orang 'dewasa' bertingkah kekanak-kanakan. Orang - orang yang punya hobi melamun inilah yang pada akhirnya akan selalu terkaget - kaget dengan kenyataan dunia. Mereka seakan tidak peduli mengenai hidup nyata sebab khayalan memberikan kenikmatan yang lebih menyenangkan daripada kehidupan yang sering kali tidak adil.

Lain hal dengan Merenung. Secara raga memang sama - sama diam seperti Melamun, tapi coba pahami apa yang ada di alam pikir para perenung ini. Mereka bukan hanya diam semata - mata sedang mengingat momen yang menyenangkan itu. Mereka juga bukan sedang membuat fenomena di dalam alam pikir mereka. Mereka sudah jelas bukan sedang tenggelam akan kejadian yang mereka inginkan. Para perenung ini merenung tentang sesuatu hal yang mereka pikir mereka harus pahami. Mereka tidak pernah meninggalkan fenomena begitu saja tanpa perlu dimasukan ke alam pikir mereka yang peka akan sekitar. Sensitifitas mereka terhadap suatu hal begitu tinggi sehingga bagi sebagian besar manusia mungkin kepekaan para perenung adalah sesuatu hal yang lucu. Lucu bagi mereka yang tidak memahami pola pikir sang perenung, tapi bagi yang dianggap lucu itu justru merupakan sesuatu hal yang harus dilakukan.

Fungsi otak ialah untuk berpikir. Ada begitu banyak juta dendrit yang siap mengantarkan informasi untuk sang peminjam raga. Peminjam raga bukan pemilik raga. Begitulah kenyataannya. Sebab tubuh ini yang bervariasi bentuknya mulai dari cantik jelita hingga buruk rupa, besar sedang kecil, berkulit putih kuning cokelat kehitaman, berkelebihan hingga berkekurangan, segalanya hanyalah 'pinjaman' cuma - cuma yang diberikan oleh alam semesta. Raga ini tidak seperti kita meminjam buku diperpustakan, yang kalau cacat sedikit bisa kita tukar, maka jangan dipikir bisa menggantikan raga dengan cara terdaftar banyak asuransi jiwa. Raga ini tidak seperti kita membeli baju, yang bisa kita pilih - pilih sesuka kita, lalu kita miliki untuk beberapa lama dan akan kita sumbangkan kepada orang lain yang membutuhkan. Kalau begitu jadinya maka benar jika raga ini telah usang di makan waktu kita bisa membuangnya dan menggantinya yang baru.

Tubuh hadir sebagaimana adanya. Sampai kapanpun kita tidak akan bisa meminta yang kita inginkan sebab sudah menjadi sifatnya tubuh lahir, sakit, tua, kemudian mati. Kalau tubuh bisa menuruti kemauan kita maka kita akan bisa menyuruh tubuh ini melakukan hal yang kita sukai. Ketika lapar kita akan meminta tubuh ini berhenti lapar tanpa harus makan. Jika sedang sakit kita akan meminta tubuh kembali sehat tanpa perlu diagnosa penyakit. Dan lebih menyenangkannya lagi, jika kita sudah tua dan digerogoti ketakutan akan kematian, kita bisa meminta tubuh kembali muda sedia kala lalu kita bisa mengulang hidup ini lagi. Bagaikan seorang pemilik sejati terhadap benda kesayangannya, pasti akan mengharapkan bendanya itu tetap mengikuti kemauannya. Tapi bisakah demikan kita memperlakukan hal itu pada ragawi ini? Lantas kalau begitu percuma saja suntik botox guna mengelabui usia yang telah senja. Tidak ada gunanya sama sekali. Tubuh tetap hanya patuh pada pemilik sejatinya yaitu semesta.

Antara Logika dan Perasaan sering kali diartikan tidak sejalan. Banyak orang yang berkata demikian. Contoh nyatanya ketika kita jatuh cinta. Tanpa memandang status sosial dan mengingat sederet syarat mencari pasangan hidup, kita bisa saja terpleset jatuh ke dalam gelora asmara dengan siapa saja. Motivator selevel Mario Teguh pun selalu mengatakan bahwa "Cinta itu tidak buta, hanya saja Cinta MAMPU MELUMPUHKAN Logika." Ya, meskipun Logika dan Perasaan tidak sejalan, dalam urusan cinta keduanya seperti tampak satu harmoni. Begitu pula manusia atau makhluk - makhluk lainnya. Pada saat lahir ke dunia, bukan hanya tubuh yang hadir. Di kedalaman diri terdapat sesuatu yang abstrak dan sulit dijelaskan disebut pikiran. Pikiran ini tak kasat mata namun bisa dilihat jelas melalui ucapan dan tindakan individu. Pikiran ini menyangkut banyak aspek seperti sifat - sifat dasar makhluk berupa keinginan, keserakahan, emosi, dsb. Selain itu, Logika dan Perasaan sendiri merupakan bagian dari Pikiran.

Secara umum, Pikiran dimaksudkan adalah jiwa. Namun, jiwa sendiri seperti sebuah bagian abstrak dari diri yang tak bisa dibagi. Jiwa hanya Jiwa. Pikiran bukan begitu. Pikiran jauh lebih luas dan menyangkut individu itu sendiri yang sulit dijelaskan secara kasat mata sehingga seolah - olah yang saya bicarakan ini lebih menyerupai omongan kosong. Sayangnya saya bukan sedang beromong kosong ria karena sejatinya manusia hanya mampu melihat apa yang ingin dilihat bukan melihat apa yang sebenarnya ada, sehingga sering kali yang dikatakan omong kosong itu adalah kenyataan yang sesungguhnya ada. Tapi, karena kita belum sampai ke tahap 'melihat' kita jadi menyimpulkan bahwa segalanya itu adalah omong kosong.

Tubuh dan Pikiran adalah dua hal yang berbeda namun hadir utuh di dalam diri individu. Hukum pasti Tubuh ialah Lahir, Sakit, Tua, Mati. Pernyataan itu sudah pasti disetujui semua orang dan bagaimana dengan Pikiran? Sudah adakah kajian yang membahas hakikat Pikiran? Sudah pasti banyak yang merenungi mengenai hakikat pikiran, hanya saja terlampau rumit jika dijelaskan ke dalam bahasa manusia. Kebanyakan kosakata manusia ditujukan untuk hal yang kelihatan di mata dan hal yang tidak terlihat mata dianggap tidak masuk akal atau sulit untuk dibicarakan sehingga lebih asik jika direnungi dalam diam. Namun satu hal yang mampu dijelaskan oleh bahasa umum, Pikiran tidak mengenal hukum ketidak-abadian seperti Tubuh. Pikiran tidak Lahir, Sakit, Tua, ataupun Mati. Pikiran hanya bisa dua hal, berkembang atau menyusut. Semakin banyaknya informasi yang ditangkap oleh inderawi, semakin berkembang pula alam pikiran kita. Fenomena - fenoma tersebut kita artikan sebagai pengalaman dan pemahaman. Berkembangnya pikiran tidak akan membuat pikiran menjadi sakit ataupun mereka bilang overload. Pikiran demikian elastis sehingga dengan mudah pikiran dapat kita bentuk sesuai kemauan kita. Sesuai kemauan kita. Artinya kitalah yang membentuk Pikiran diri kita sendiri. Kitalah yang mengembangkan atau menyusutkan sesuai kehendak kita. Atau bahkan hingga ke tahap kitalah yang menciptakan Pikiran kita sendiri.

Kalau mengkaji Tubuh dalam ilmu anatomi saja sudah sangat rumit, Pikiran jauh lebih rumit lagi. Karena tidak bisa kita lihat lewat mata inderawi, maka pikiran hanya bisa kita amati melalui metode merenung. Lagi - lagi merenung yang dibicarakan. Ya bukan mengada - ada, merenung memang cara yang menurut saya sampai saat ini paling pas dilakukan ketika kita berusaha mendefinisikan Pikiran. Saat kita melakukan kajian tak kasat mata, mungkinkah kita bisa melakukan diskusi panjang lebar dengan orang disebelah kita? Tentu tidak. Kita tidak akan mungkin bisa berbincang panjang mengenai hal yang sulit kita cerna pakai inderawi. Kita hanya bisa merenung, merenung, dan terus merenung mengenai eksistensi pikiran.

Terakhir, tanpa bermaksud membuat bingung, semoga merenung bisa disepakati menjadi sebuah kegiatan manusiawi. Sebab tanpa merenung, kita akan terus mencari jawaban yang tidak akan bisa dijelaskan secara kasat mata.





Untuk semua para perenung,
baik pemula, pelaku lama, ataupun yang sudah ke tahap lebih dalam.

Jumat, 18 November 2011

The Adventures of Tintin







Siapa yang tak kenal Tintin?


Well, kalau tidak tahu berarti kalian harus lebih banyak baca, memperluas networking dan juga bertanya kepada para orang tua mengenai tokoh yang mendunia tersebut.

Tintin adalah tokoh karya seorang seniman dan penulis komik bernama Georges Prosper Remi atau yang lebih dikenal dengan pseudonim Hergé. Ia lahir di Etterbeek, 22 Mei 1907 dan meninggal di Woluwe-Saint-Lambert, Belgia, 3 Maret 1983 pada umur 75 tahun. Hergé merupakan seorang berkebangsaan Belgia yang kemudian mengambil nama samarannya menjadi R.G yang merupakan kebalikan nama aslinya (Georges Remi) yang jika dilafalkan menjadi Hergé. Karyanya yang paling terkenal dan penting adalah Petualangan Tintin, yang ia tulis dan lukis dari tahun 1929 hingga kematiannya pada 1983, yang menyisakan album ke-24. Menurut beberapa sumber, Hergé membuat tokoh Tintin karena terinspirasi oleh tokoh komik Tintin Lutin yang dibuat oleh Benjamien Rabier (1897).

Dalam kacamata persepsi saya, Tintin merupakan tokoh inspiratif. Ia memiliki wajah bundar dengan rona pipi kemerahan. Air mukanya seperti anak - anak walaupun dari berbagai sumber yang saya baca, tidak menjelaskan usia pasti Tintin, namun tampaknya Tintin adalah seorang remaja yang baru menginjak dewasa. Postur tubuhnya tidak terlalu tinggi dan walaupun kurus ia tidak tampak kurang gizi. Ia kelihatan sehat terlebih lagi ia tampak cukup kuat. Otaknya sudah tidak diragukan lagi bahwa ia cerdas sehingga dengan cepat ia dapat menyelesaikan berbagai masalah dalam waktu singkat. Masalah yang ia hadapi bukanlah masalah sepele namun sering kali membahayakan nyawanya. Ia selalu terlibat dalam intrik-intrik internasional yang membahayakan dirinya, namun dengan kecepatannya dalam berpikir dan bertindak, keberaniannya dan tak lupa keberuntungannya, dia selalu dapat menyelematkannya dari situasi tersebut.

Tintin selalu ditemani oleh seekor anjing putih (benar - benar putih tanpa ada warna lain di bulunya) bernama Milo atau Milou sesuai ejaan perancis. Namun, pada saat komiknya di terjemahkan kedalam bahasa inggris, nama Milo berubah menjadi Snowy. Anjing putih ini berjenis Fox Terrier. Nama Milou sendiri diambil dari nama panggilan pacar Hergé di masa muda bernama Marie-Louise Van Custem. Snowy tidak bisa berbicara bahasa manusia karena memang dia seekor anjing, akan tetapi Tintin dan dia bersahabat baik hingga seakan Snowy mengerti semua kata - kata dan pikiran Tintin. Tidak heran jika mereka berdua selalu saling menyelamatkan satu sama lain.

Karakter Tintin sangatlah kuat. Ia tidak hanya cerdas namun ia juga imajinatif dan serba bisa. Ia pandai berbicara dalam banyak bahasa, ia mampu mengendari alat - alat transportasi sulit seperti tank, pesawat, helikopter dan juga naik kuda. Perawakannya yang kecil tidak menghalanginya untuk berkelahi jika ia bertemu lawan yang jauh lebih besar. Tintin juga perenang handal dan mempelajari yoga. Bisa disimpulkan Tintin adalah sosok yang mengagumkan. Cerdas, selalu ingin belajar, dan ia selalu selamat dalam insiden berbahaya.

Sejujurnya, saya bukanlah penggemar atau bahkan penggemar fanatik Tintin. Akan tetapi, setelah saya menonton film : The Adventures of Tintin : The Secrets of The Unicorn, saya justru merasa 'Ketagihan' dengan komik karya Hergé ini. Bagi saya, Hergé tidak hanya pandai membuat ide cerita, tapi ia juga mampu menyemangati stimulus saya didalam berpetualang. Walau sempat saya merenung, mungkinkah saya hanyalah korban film amerika yang selalu diracik secara brilian terlebih lagi film ini disutradarai oleh Peter Jackson berkolaborasi dengan master kawakan Steven Spielberg. Tapi, untunglah saya bukanlah tipe orang yang benar - benar bisa menjadi 'korban film', setelah menonton film tersebut di Blitz Megaplex saya langsung 'googling' mengenai semua tentang Tintin. Saya langsung jatuh cinta padanya.

Hergé seolah memberikan inspirasi bagi saya. Ia tidak menekankan keindahan fisik pada tokoh Tintin, tetapi lebih menekan nilai keindahan karakter dan kepribadian seorang remaja dewasa yang matang di usia muda. Tintin menuntun orang - orang yang haus petualangan untuk tetap selalu 'penasaran' terhadap segala hal sebab rasa ingin tahu yang besar akan menuntun kearah 'petualangan' yang mungkin sudah didepan mata. Tintin juga menekankan pentingnya keberanian didalam setiap tindakan yang dilakukannya disertai dengan kepekaannya didalam memahami berbagai hal.

Meskipun tokoh Tintin bisa hidup sepanjang masa karena sudah menjadi bagian sejarah mendunia, ia tidak mungkin bisa selalu bekerja sendirian. Hergé juga menciptakan tokoh - tokoh lainnya yang tidak kalah unik. Berikut beberapa tokoh dalam Petualangan Tintin :

Tintin
adalah seorang Wartawan asal Belgia (seperti Hergé) yang walau demikian jarang disebut - sebut di beberapa komiknya. Sekjen Yayasan Hergé menjelaskan bahwa sangat memungkinkan jika Hergé terinspirasi Robert Sexé (yang dikenali memiliki perawakan sebagaimana layaknya tokoh Tintin, dan Yayasan Hergé yang berpusat di Belgia pun mengakui bahwa tidak sulit dibayangkan bagaimana seorang Hergé mendapatkan pengaruh yang cukup kuat dari seorang Sexé. Pada masa itu, Sexé telah
berkelana ke seluruh penjuru dunia dengan mengendarai sebuah sepeda motor yang dibuat oleh Gillet of Herstal. René Milhoux adalah juara dunia dan pemegang rekor untuk kejuaraan sepeda motor pada masa itu, dan pada tahun 1928, sedangkan pada saat yang bersamaan, Sexé sedang berada di Herstal dan sedang berdiskusi dengan Léon Gillet tentang rencana besarnya. Gillet pun mempertemukannya dengan sang juara dunia, Milhoux. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kedua orang ini menjadi teman baik, dan bisa menghabiskan waktu berjam - jam membicarakan tentang sepeda motor, dimana Sexé menjelaskan tentang kebutuhan - kebutuhannya dan Milhoux membagi pengetahuannya atas dunia mekanik serta bagaimana membuat sepeda motor - sepeda motor tersebut memberikan kemampuan maksimalnya dalam suatu lomba. Dengan menyatunya dua manusia ini, maka Robert Sexé dapat pergi berkelana ke seluruh penjuru dunia, dan menuliskannya sebagai suatu karya yang tidak ternilai harganya untuk dunia kewartawanan. Sekjen dari Yayasan Hergé di Belgia mengakui bahwasanya seorang Hergé, sangat terpengaruh oleh kedua manusia yang luar biasa ini sehingga terciptalah tokoh Tintin seorang wartawan muda yang suka berpetualang dan temannya yang setia Milo (Snowy). Hergé sendiripun mengakui bahwa sedikit banyak Tintin hidup dalam dirinya, dan walaupun dalam suatu rekaman wawancara yang dilakukan pada tahun 1947 bahwa "Tintin itu bukan aku, dan jika dia harus hidup dalam dunia ini, maka ia adalah suatu mahakarya sempurna dari-Nya dan membuatku tak habis-habisnya menggali karaternya", namun di lain waktu dia menyatakan bahwa"Tintin, c'est moi!" ("Tintin itu ya aku!").

Milo (Snowy)
Hergé memilih jenis ras fox terrier putih total sebagai representasi Milo, teman setia Tintin. Anjing jenis ini dipilih karena pada tahun 1929 hingga tahun 1930an, adalah jenis yang sedang naik daun, bersaing dengan Bedlington untuk status anjing kelas atas. Jenis ini dipilih karena populer akan keberanian, karakter, dan kepandaiannya yang jelas terlihat pada Milo. Walaupun terinspirasi dari jenis ini, warna putih total merupakan warna yang tidak biasa pada jenis itu. Dalam keluarga Hergé, tak ada yang mempunyai anjing jenis ini , namun pemilik restoran-kafe yang sering didatangi wartawan Le Petit Vingtième Siècle memilikinya. Dan anjing itulah yang dipinjam dalam acara pesta penyambutan besar-besaran yang diadakan di stasiun Gare du Nord, Brussel, sekembalinya si tokoh baru dari Uni Sovyet. Dengan beberapa perkecualian, Milo tidak pernah berbicara (walaupun ia secara tetap diperlihatkan sedang berpikir dengan memakai bahasa manusia), semenjak ia hanyalah "seekor anjing". Namun demikian, ia selalu dapat berkomunikasi dengan tuannya secara baik. Ia juga seringkali menambah hal-hal yang menarik dalam alur cerita Petualangan Tintin. Contohnya, ia adalah satu-satunya tokoh dalam "Penerbangan 714 ke Sydney" yang ingat mengenai peristiwa penculikan oleh makhluk luar angkasa. Seperti juga Kapten Haddock, Milo sangat suka minum, minuman keras Whisky bermerk Loch Lomond. Beberapa kali ia minum minuman beralkohol tinggi tersebut dan seringkali membuatnya terlibat dalam masalah, sama seperti rasa takutnya yang sangat besar terhadap laba-laba atau yang lebih dikenal dengan arachnophobia. Karakter Milo tumbuh dan berkembang sepanjang serial Petualangan Tintin, dan paling terpengaruh perkembangan karakternya oleh kehadiran Kapten Haddock dalam "Kepiting Bercapit Emas". Sebelum Haddock hadir, Milo adalah sumber dari komentar sampingan yang sinis dan pesimis untuk mengimbangi cara pandang tuannya yang selalu positif dan optimis. Ketika Haddock mulai muncul dalam serial ini, Sang Kapten mengambil alih peran sebagai suara yang sinis dan Milo secara bertahap memperoleh peran yang lucu-lucu saja, seperti mengejar-kejar kucing Marlinspike Hall dan meminum whisky-nya Kapten Haddock. Dalam edisi aslinya, Milo diberi nama Milou. Nama ini diambil dari nama pacar pertama Hergé (sang penulis), Marie-Louise yang disingkat menjadi "Malou", walaupun Milo selalu dianggap sebagai seekor anjing jantan di seluruh seri. Dalam edisi yang berbahasa Portugis dari episode Tintin di Congo, yang diterjemahkan menjadi judul Tintin em Angola, dapat ditemukan bahwa Milo berbulu kuning. Dalam terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia, pertama kali dia diberi nama "Snowy" sebagaimana yang terlihat pada komik terbitan dari Tiga Lima dan Indira. Hal ini dikarenakan pada penerbitan awalnya, mereka mengacu pada karya ini yang sudah dialih bahasakan ke Bahasa Inggris, dimana dalam edisi itu dia bernama Snowy. Namun ketika diterbitkan ulang oleh Gramedia di tahun 2008, maka namanya diubah menjadi lebih mirip ke nama aslinya dalam Bahasa Perancis yaitu, Milou, yaitu Milo. Hal ini dilakukan sesuai dengan arahan dari penerbit dimana dia pertama kali diterbitkan, yaitu di Belgia oleh penerbit Casterman. Perubahan nama ini tidak cukup mengganggu bagi para pencinta komik ini yang baru saja mengenalnya, namun akan sedikit diperlukan penyesuaian bagi para penggemar lama komik ini.

Kapten Haddock
Kapten Archibald Haddock atau yang lebih dikenal sebagai Kapten Haddock dalam serial Tintin berbahasa Indonesia, adalah seorang pelaut kawakan yang memiliki garis keturunan tidak begitu jelas (Ia bisa memiliki darah orang Inggris, Perancis ataupun Belgia), adalah teman baik dari Tintin, dan karakter ini baru diperkenalkan dalam episode Kepiting Bercapit Emas. Pada awalnya ia memiliki jiwa yang sangat lemah dan memiliki ketergantungan yang teramat tinggi akan minuman keras beralkohol, namun lambat laun dia menjadi pribadi yang cukup disegani. Perubahan yang terjadi pada dirinya menjadi seorang yang berjiwa pahlawan dan setia kawan, dipicu oleh penemuannya atas harta karun dari leluhurnya, Sir Francis Haddock (François de Hadoque dalam bahasa Perancis) yang bisa dibaca dalam episode Harta Karun Rackham Merah. Rasa kemanusian si Kapten dan kata-katanya yang cenderung kasar merupakan pelengkap dari karakter Tintin yang terlalu sempurna untuk seorang manusia biasa, dimana si Kapten lebih terasa "manusiawi" dibandingkan Tintin. Kapten Haddock tinggal di suatu rumah yang sangat besar dan indah yang dikenal dengan nama "Marlinspike Hall" ("Moulinsart" dalam bahasa Perancisnya). Kapten Haddock mempergunakan berbagai bentuk rangkaian kata-kata umpatan untuk menyampaikan perasaannya yang sedang gundah ataupun marah, seperti "Kepiting Busuk!" (dalam bahasa Inggris: "Billions of bilious blue blistering barnacles!"), "Sejuta Topan Badai!" (dalam bahasa Inggris: "Ten thousand thundering typhoons"), "Buaya Darat!" ("troglodytes"), "bashi-bazouk", "kleptomaniak", "Cacing Kremi!" ("ectoplasm"), "sea gherkin", "anacoluthon", dan "Cacar Air!" ("pockmark"). Tidak semua ungkapan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, dikarenakan perlu dicari padanan kata yang dapat mewakili ungkapan yang sama namun dengan tidak membuatnya menjadi kata makian yang kasar. Dalam artian ungkapan tersebut masih harus memiliki unsur artistik sehingga menjadikan tantangan tersendiri untuk menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kapten Haddock adalah golongan peminum berat, dimana seringkali dia amat menyukai minuman keras beralkohol dengan merek Loch Lomond whisky, dan kondisinya ketika mabuk seringkali dijadikan sebagai bumbu pelengkap dari serial ini. Hergé menyatakan bahwa nama depan dari Haddock diambil dari ungkapan dalam bahasa Inggris "a sad English fish that drinks a lot" yang secara harfiah dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi "Orang Inggris yang seringkali terlalu banyak minum minuman yang memabukkan". Haddock baru memiliki nama depan pada serial ini yang berhasil diselesaikan oleh Hergé berjudul Tintin dan Picaros (1976), dinama dalam cerita tersebut nama depannya adalah Archibald.

Thomson and Thompson
atau Dupont dan Dupond atau dalam bahasa Perancisnya bernama Dupont et Dupond, adalah dua orang detektif kembar yang seringkali berbicara tidak jelas satu sama lainnya dan suka memakai topi bundar yang dikenal dengan sebutan bowlers, serta yang sebenarnya tidak memiliki hubungan kekerabatan, namun seringkali kelihatan seperti orang kembar dimana perbedaan antara keduanya hanya terletak pada kumisnya. Detektif yang bernama Dupont, memiliki kumis berbentuk menyebar/membuka atau dalam bahasa Perancisnya adalah troussée. Sedangkan lainnya yang memiliki kumis berbentuk lurus atau dalam bahasa Perancisnya droite, adalah Dupond. Dalam edisi terbitan Indira nama mereka ialah Thomson dan Thompson. Mereka menghasilkan suatu "comic relief" sepanjang serial ini dan memiliki kebiasaan "spoonerism" dan secara keseluruhan menunjukkan ketidak mampuan mereka sebagai detektif. Karakter mereka didasarkan pada karakter dari ayah dan paman dari Hergé, dua kembar identik. Mereka diperkenalkan untuk pertama kalinya dalam seri Cerutu Sang Firaun, dimana dalam pertemuan awal dengan tokoh utamanya, Tintin, mereka mendapatkan tugas untuk menangkapnya untuk suatu tuduhan yang tidak benar.

Profesor Lakmus
atau aslinya dalam bahasa Perancis bernama Professeur Tryphon Tournesol (yang bisa diartikan secara bebas dalam bahasa Indonesia sebagai Profesor Bunga Matahari), adalah seorang absent-minded dan ahli fisika yang memiliki kekurangan pada pendengarannya, adalah karakter minor namun hampir selalu muncul bersama dengan Tintin, Milo dan Kapten Haddock. Dia pertama kali diperkenalkan pada seri Harta Karun Rackham Merah, dan karakternya sebagian didasarkan pada seseorang di dunia nyata dengan nama Auguste Piccard,[22] di mana keberadaannya kurang disukai oleh para karakter utama, namun karena keluruhan budi dan penguasaannya atas ilmu dan teknologi menciptakan hubungan yang langgeng dengan mereka. Dalam edisi bahasa Indonesia terbitan penerbit Indira, tokoh ini diberi nama Profesor Cuthbert Calculus. Nama Profesor Lionel Lakmus baru dilekatkan padanya pada penerbitan ulang serial ini oleh penerbit Gramedia. Penamaan dirinya dalam bahasa Indonesia ini selalu mengacu pada format aslinya yang berbahasa Perancis yaitu: jika namanya disingkat merupakan dua huruf yang sama. Sebagai contoh, dalam edisi bahasa Perancis namanya bisa disingkat menjadi Profesor TT (Professeur Tryphon Tournesol), dalam edisi bahasa Indonesia, Profesor CC (Cuthbert Calculus) (edisi terbitan Indira) ataupun Profesor LL (Lionel Lakmus). Dalam kisah ini, digambarkan bahwa ia tidak memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis, terkecuali pada Bianca Castafiore, sampai-sampai ia menciptakan bunga mawar khusus untuk sang diva yang terlihat dalam kisah Permata Castafiore. Beberapa penemuannya yang cukup spektakuler adalah:
* Membuat roket nuklir untuk pendaratan di bulan, 16 tahun sebelum pendaratan sebenarnya oleh Neil Amstrong.
* Menciptakan pesawat televisi berwarna
* Menciptakan kapal selam berbentuk ikan hiu yang akhirnya menjadi inspirasi dari kapal sejenis yang dibuat oleh Jacques Custeau, peneliti ikan hiu.

Bianca Castafiore
Dia adalah seorang penyanyi opera yang selalu dipandang rendah oleh Kapten Haddock. Walaupun begitu, dia hampir selalu muncul kemanapun para karakter utama pergi, dimana dia selalu ditemani oleh pembantunya yang setia Irma, seorang pianis, Igor Wagner. Pada dasarnya arti daripada namanya adalah "bunga putih yang suci, murni", sebagaimana yang dipahami oleh Profesor Lakmus ketika dia memberikan mawar putih kepadanya sebagai tanda ungkapan cinta rahasianya pada sang penyanyi dalam episode Permata Castafiore. Karakternya didasarkan pada diva dari pertunjukan opera secara umum (berdasarkan pada catatan Hergé), Bibi Hergé Ninie, dan juga post-war komik Maria Callas.

Tokoh - Tokoh Lainnya
Beberapa tokoh lainnya yang sering muncul adalah Nestor si kepala pelayan di Marlinspike Hall, Jendral Alcazar si Diktator dari Amerika Selatan, Jolyon Wagg seorang agen asuransi, Ben Kalish Ezab si Emir, Abdullah putra si Emir, Chang si bocah Cina, Müller si dokter berkebangsaan Jerman yang maniak dan Rastapopoulos si dalang kejahatan. Tidak ada pemain wanita yang muncul baik sebagai pemain utama maupun pemain pendamping, namun mereka muncul sebagai pemain pada latar belakang dari cerita.

Karakter kuat para tokoh tersebut diimbangi dengan lokasi yang membuat komik Tintin semakin seru karena seakan kita diajak untuk berkeliling dunia oleh Hergé. Dia berhasil menggabungkan dengan apik dunia nyata dan dunia khayal kedalam serial ini, dimana Belgia dijadikan sebagai negara dimana tokoh utama kita, Tintin, tinggal.

Dia tinggal di 26 Labrador Road, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Puri Moulinsart. Kemampuan Hergé dalam menggabungkan kedua dunia ini dapat diliat secara detail pada episode Tongkat Ottokar, dimana dia berhasil membuat dua negara khayalan(Syldavia dan Borduria) dan mengundang pembaca untuk mengikuti tour atas kedua negara tersebut melalui bacaan dalam bentuk brosur perjalanan yang dimasukkan dalam kisah ini. Beberapa negara khayal lainnya adalah San Theodoros, San Paolo dan Nuevo Rico di Amerika Selatan, Kerajaan atau daerah administratif Gaipajama di India dan Khemed di Timur Tengah. Selain itu dia juga menampilkan beberapa negara nyata seperti Belgia, Jerman, Swiss, Skotlandia, Inggris, Uni Sovyet (Rusia, sekarang), Amerika Serikat, Kongo, Peru, Mesir, Gurun Sahara, Indonesia, Tibet, Cina dan Jepang. Adapun lokasi lainnya yang diciptakannya adalah Bulan, dan dalam edisi awal dari episode Negeri Emas Hitam dia menampilkan negara Palestina, namun dalam edisi selanjutnya digantikan dengan negara khayalan dengan nama Khemed.

Nah, sampai sini masih ingin tahu lebih lanjut tentang Tintin dan Petualangannya yang seru? Kalau tidak, berarti memang cukup sampai sini tulisan ini saya tulis. Kalau iya, hehe tentu kalian sama seperti saya. Dibawah ini adalah ke-24 judul karya Hergé yang bisa kalian dapatkan hasil kerja sama Gramedia dengan Casterman ,induk penerbit di Belgia :

1. Tintin di Tanah Sovyet (April 2008 - hitam putih)
2. Tintin di Congo (April 2008 - Berwarna)
3. Tintin di Amerika (April 2008 - Berwarna)
4. Cerutu Sang Firaun (April 2008 - Berwarna)
5. Lotus Biru (April 2008 - Berwarna)
6. Si Kuping Belah (April 2008 - Berwarna)
7. Pulau Hitam (Mei 2008 - Berwarna)
8. Tongkat Ottokar (Mei 2008 - Berwarna)
9. Kepiting Bercapit Emas (Juni 2008 - Berwarna)
10. Bintang Misterius (Juni 2008 - Berwarna)
11. Rahasia Unicorn (Juli 2008 - Berwarna)
12. Harta Karun Rackham Merah (Juli 2008 - Berwarna)
13. 7 Bola Kristal (Agustus 2008 - Berwarna)
14. Di Kuil Matahari (Agustus 2008 - Berwarna)
15. Di Negeri Emas Hitam (September 2008 - Berwarna)
16. Perjalanan ke Bulan (September 2008 - Berwarna)
17. Petualangan di Bulan (Oktober 2008 - Berwarna)
18. Penculikan Lakmus (Oktober 2008 - Berwarna)
19. Laut Merah (November 2008 - Berwarna)
20. Tintin di Tibet (November 2008 - Berwarna)
21. Permata Castafiore (Desember 2008 - Berwarna)
22. Penerbangan 714 ke Sydney (Desember 2008 - Berwarna)
23. Tintin dan Picaros (Januari 2009 - Berwarna)
24. Tintin dan Alpha-Art (Januari 2009 - Berwarna)



Oke demikian review ini saya postingkan. Semoga bisa bermanfaat bagi kalian yang baru menjadi penggemar Tintin seperti halnya saya hhehehe.


*Mohon maaf jika ada kesalahan.