Minggu, 27 November 2011

Ibu, Musuh Tersayangku



“IBU”.

3 huruf, tak terhingga maknanya.

Apa yang terlintas dari benakmu jika kata “IBU” disuguhkan didepan mata? Tentu beribu alasan ingin kau ungkapkan untuk memuja Ibumu. Bisa juga kau utarakan dengan segenap jiwa raga melalui rangkaian kata – kata indah agar tercipta tulisan berirama. Atau mungkin kau akan berjuang merenung siang malam suntuk berusaha mendeskripsikan “IBU” dan saat pagi hari tiba akhirnya kau menemukan sebuah arti yang paling mendekati. Serumit itukah benakmu?

Sejak kecil kita selalu diajarkan bahwa kehidupan ideal seorang anak ialah memiliki sepasang orang tua lengkap yang disebut Ibu dan Ayah. Kedua orang tua yang masing – masing memiliki kewajiban yang berlainan, Ayah bertugas mencari nafkah dan Ibu bertanggung jawab urusan rumah tangga. Namun, kenyataannya standar ideal yang diajarkan orang – orang dewasa di kala kita masih kanak – kanak, bisa berbeda 180 derajat saat kita sudah beranjak memahami dunia nyata.

Sudah hal wajar jika Ayah bertugas mencari nafkah, akan tetapi berapa banyak jumlah Ayah yang mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Di jaman sekarang, banyak sosok Ibu yang selain mengurus rumah tangga juga berperan menghidupi keluarga dengan bekerja keras. Memenuhi kebutuhan keluarga serta harus bertanggung jawab memastikan semua terkendali. Itukah Ibumu? Atau Ibu orang lain yang pernah kau perhatikan?

Banyak orang mengatakan bahwa menjadi “IBU” adalah sebuah pekerjaan mulia. Yang menjadi pertanyaan, sejak kapan tugas mulia itu dikategorikan menjadi ‘pekerjaan’? Jika hal tersebut benar adanya maka menjadi “IBU” tak bedanya dengan seorang Guru. Dimana seorang Guru yang berarti di “GUgu dan ditiRU” oleh banyak orang disebut – sebut sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Walau disebut demikian, seorang pahlawan seperti Guru tetap di gaji sesuai standar masing – masing masa pengabdiannya, yang artinya Pahlawan Tanpa Tanda Jasa pun tetap diberi penghargaan atas jasanya mengajar, mendidik, dan menuntun. Lantas bagaimana dengan seorang “IBU”?

Ketika masih anak – anak, seorang Ibu bagiku adalah sosok malaikat. Apapun yang aku butuhkan bisa dipenuhi. Meski, Ibu bukanlah Ibu Peri dalam dongeng Cinderela toh nyatanya hampir sebagian besar keinginanku berusaha diwujudkannya. Saat aku ingin sepeda bermerek Piyo – Piyo, sepatu roda, dan beberapa hal lainnya yang pada akhirnya terbengkalai begitu saja hanya aku sentuh sekali dua kali sehabis dibeli, Ibu selalu berusaha menyanggupi keinginanku. Jika aku ingat – ingat kembali masa itu, aku yakin aku bukanlah anak manis seperti yang selalu Ibu ceritakan dikala kita sedang bercengkrama. Ibu selalu mengatakan bahwa aku adalah anak baik yang selalu bersikap manis. Mungkinkah aku demikian? Atau apakah itu sebenarnya sejenis doa yang Ibu panjatkan setiap harinya tanpa mesti melakukan ritual siang malam?

Aku sama seperti kalian yang menyenangi kesunyian ketika ditanya ‘Apa itu Ibu?’, ‘Siapa itu Ibu?’. Sel – sel otakku saling sambung menyambung jika aku berusaha mengingat tentangnya, membentuk ingatan akan Ibuku dimasa aku kecil hingga aku sebesar ini. Sedihnya, sedikit yang kuingat dalam memori kepalaku mengenai segala kejadiannya yang aku alami dengannya. Seakan sirna begitu saja seperti ditiup angin, Wuuussshhh, hilang tanpa bekas. Kurebahkan tubuhku dan menutup mata.

Baru saja Ibu mengupas buah mangga untukku. Bagiku perbuatan Ibu tadi tidaklah istimewa. Dimataku itu hanyalah sebuah kewajiban yang tak perlu dijunjung tinggi lagi nilainya. Namun, benarkah asumsiku ini realita yang sesungguhnya? Mungkinkah ini bentuk ketidak-pedulianku pada sosok Ibu yang oleh banyak orang selalu ditinggikan? Aku tidak yakin betul yang mana yang benar. Seringnya aku tidak memutuskan agar aku tak salah mendefinisikan.

Aku memang tidak begitu ingat semua kejadian bersama Ibu secara mendetail. Ingatanku hanya sepotong – sepotong bagian yang kemudian aku rangkai hati – hati, lalu aku menyimpulkan bahwa Ibuku sangat luar biasa dan merupakan teman terbaikku yang aku punyai satu – satunya sejak dulu. Ia selalu memahami aku seperti aku sangat memahami dirinya. Kita berdua bagaikan dua jiwa yang saling melengkapi bukannya jiwa – jiwa yang telah dibelah lalu bertemu padu. Aku sulit mencari teman sejiwa dan baru kutemukan satu orang saja yaitu dalam sosok Ibuku. Ia begitu sempurna dimataku. Setidaknya itu penilaianku tentang Ibu sampai beberapa waktu lalu.

Semakin banyak hal yang kau lihat, maka akan semakin luas pengalaman yang ada dalam hidupmu. Semakin kau tumbuh dewasa, maka akan semakin banyak hal yang kau pikir tidak sesuai dengan standar penilaianmu. Ibu yang tadinya kau puja sebagai manusia dewa bisa mudah kau putuskan sebagai manusia biasa. Seakan tidak pernah ingat bahwa aku sangat mencintai Ibuku, kebencian bisa menggerogotiku kala sosok Ibu tak sesuai lagi dengan ekspektasiku.

Ibu tak ubahnya manusia biasa yang sering kali melakukan kesalahan. Ia semakin tua dan aku semakin bertambah usia. Keduanya seharusnya bisa saling bertoleransi jika tak sepaham tapi aku seakan tidak bisa terima kekurangannya akan ingatan memorinya yang telah banyak berkurang. Ibu tak bisa lagi aku harapkan menjadi sosok sempurna seperti dahulu. Ibu terlalu mengesalkanku. Ia selalu merasa dirinya paling benar disetiap keputusannya. Ia merasa bahwa tak sekalipun pernah tidak mendengarkan aku dikala kita bertengkar, padahal jelas – jelas kata maaf tak pernah keluar dari mulutnya jika ia berbuat salah. Ibu terlalu banyak berubah atau memang sejak dulu sudah begitu namun aku seperti buta akan kenyataan?

Tidak ada lagi teman sejalan yang aku punya. Aku sendiri, sebatang kara. Bukan aku tidak punya keluarga, namun ketika kau hidup ditengah – tengah orang yang tak bisa memahamimu, itu sama saja artinya kau hidup sebatang kara. Terombang – ambing berharap aku ditemukan orang yang tepat. Orang yang mengerti aku seutuhnya. Tak perlu ada seratus jika satu saja sudah mampu memahamiku. Aku sendirian dan tak berarti.

Dalam ketidak-berartian diriku ini, aku merenung. Aku sungguh tahu bahwa benar dan salah adalah dua hal yang relatif. Kau tidak mungkin 100% benar dan juga tidak mungkin 100% salah sebab benar salah merupakan hasil persepsi seseorang terhadap sesuatu hal. Itu artinya kesalahan Ibu bagiku bisa jadi bukan kesalahannya bagi Ibuku. Sangat jarang ada orang salah yang mau mengakui kesalahannya apalagi orang benar yang mau mengaku salah, kalaupun ada berarti orang tersebut memiliki sifat rendah hati yang sangat besar. Namun, inilah realita dunia manusia. Sesalah apapun manusia, terlebih lagi orang tua, pastinya tidak akan merasa bersalah. Tidak akan mungkin ada perdamaian jika mengalah tidak dijadikan solusi. Kebencian hendaknya dibalas dengan cinta kasih. Memaafkan itu perbuatan yang mulia, setidaknya begitu teorinya walau sangat sulit dipraktekkan.

Lahir menjadi seorang anak pastinya memiliki sebuah makna tersendiri. Dilahirkan dengan susah payah oleh Ibu, dirawat, dibesarkan hingga sebesar ini merupakan sebuah perjalanan panjang membesarkan anak. Belum lagi pemahaman dan pengertian tentang hal baik dan hal buruk yang diberikan oleh Ibu sejak anaknya belum bisa bicara hingga sekarang, terima kasih saja aku rasa tidak akan cukup untuk melunasi ‘hutang’ seorang anak kepada Ibunya.

Lantas, mengapa aku masih bersikeras kesal terhadap kesalahannya jika Ibu sendiri tidak menyadari kesalahannya? Megapa aku harus menyimpan benci kepada wanita yang dengan rela mengorbankan nyawanya untuk melahirkan ku (walau aku juga tahu Ibu tidak punya pilihan selain harus mengeluarkan bayi didalam perutnya setelah sembilan bulan)? Tidak bisakah aku sedikit belajar tentang kerendahan hati? Tidak bisakah aku sedikit mengalah? Aku yang katanya telah dewasa ini mengapa tak bisa bersikap dewasa?

Ibu

Keheninganku ini melahirkan sebuah keyakinan tentang dirimu. Kita mungkin seringkali tak sejalan saat ini, tapi bukan berarti aku menghilangkan sepenuhnya ingatan akan Ibu yang senantiasa mendampingiku di kala sedih dan susah. Ibu masih satu – satunya sahabat yang paling mengerti aku. Siapa lagi yang akan menampung beban yang sulit kau topang sendiri selain keluarga, terutama Ibumu? Ya, Ibuku. Dialah orang yang dengan rela menemani hari – hariku. Kepada dialah aku mampu kesal sekaligus sayang. Kepada dialah aku mau membagi suka bersama.

Ibu

“3 huruf, tak terhingga maknanya”
Selain mengartikanmu sebagai orang tuaku, sebagai sahabat setiaku, sebagai tukang masak favoriteku, sebagai teman hang-out, sebagai teman berbagi, kau kini juga sebagai musuh tersayangku.
Terima kasih Ibu karena telah mewarnai hidupku.


Untuk Ibuku, Mama Tersayang

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Remember ME??
387