Kamis, 29 November 2012

Langit Runtuh

Pada dasarnya, aku tahu. Langit itu hanyalah bagian fatamorgana hasil persepsi pikiran kita. Pernahkah ada manusia yang pernah menyentuh langit secara nyata? Langit yang sering disebut-sebutkan itu hanyalah sebuah perumpamaan cerdas mengenai apa arti sebuah kekosongan dan keheningan.

Langit bukanlah sesuatu yang nyata. Langit merupakan sesuatu yang abstrak yang sulit dijelaskan dalam bahasa manusia. Memahami eksistensi Langit seperti halnya mencoba menyelami Cinta yang sulit dijelaskan menggunakan beribu kata.

Cinta itu menyangkut rasa. Terdiri dari jutaan makna bahkan tak terhingga maknanya. Semua bisa dirasakan tanpa bisa disentuh atau digenggam nyata. Meski begitu semua orang menyukainya dan semua orang ingin merasakan jatuh cinta. Yang walaupun sakit dan perih, jika mengatas-namakan Cinta segalanya nampak baik-baik saja.

Dan mungkinkah itu yang terjadi saat aku menatap kedua bola matamu yang bulat itu? Mata bayi yang hingga kini membuat aku merindu. Mata yang tidak selalu menatap mataku, hanya saja aku sering kali mencuri pandang kearahmu. Mata yang dikelopak ujungnya mengerut jika kau tertawa. Tawa renyah yang kau suguhkan bersama sederet gigi rapi itu. Tawa yang benar-benar indah hingga aku rasanya ingin mati rasa.

Segala pesonamu tak ubahnya dapat menarik perhatianku, dulu. Kau hanyalah satu dari sekian banyak manusia yang telah kukenal dan tak ingin kukenal. Hanyalah bagian dari cerita pendek yang disuguhkan bersama kopi panas sambil duduk santai dihalaman belakang rumah. Bukan bagian cerita panjang yang akan aku ceritakan dikala malam telah tiba dan aku akan mendongeng pada anak cucuku. Kau hanyalah manusia biasa yang seperti biasanya aku temui. Tak ada yang spesial.

Banyak yang memujamu. Entah apa yang membuat mereka tergila-gila pada manusia biasa sepertimu. Kata mereka kau sempurna. Kata mereka pula kau cukup dikenal. Tapi siapa engkau? Tak pernah sekalipun aku tahu tentang kamu. Mungkin kamu yang terlalu sibuk berkelana atau mungkin aku yang terlalu tak punya rencana untuk mencari tahu sedikit saja tentang kamu.

Ocehan mereka soal nama besarmu itu tak pernah aku pikirkan. Aku hanya tahu kita punya sebuah hubungan. Ikatan yang cukup baik namun aku tahu tak akan terlalu jauh. Kau ibarat Raja sedangkan aku ibarat Dayang-Dayang dikala senja yang datang menyambut malam. Tugasku adalah 'melayanimu' dan tugasmu adalah mendapatkan 'pelayanan' terbaik yang dimiliki olehku. Ini bukan hal vulgar sebenarnya, hanya saja hubungan kita memang soal melayani dan dilayani.

Sampai tiba saatnya ikatan sederhana yang tanpa ekspektasi ini berlanjut. Entah apa yang merasuki alam pikirmu, semudah angin mencintai dedaunan, semudah itu pula kau mengetuk pintu hati yang telah kukunci karena trauma diri. Kau sentuh walau tak perlu kulit kita bersentuhan. Aku tahu aku menyambut hangat segala yang kau berikan. Berikan? Apa yang sejatinya berupa pemberian? Jika yang kau berikan hanyalah berupa kata-kata manis yang tak bisa kubuktikan?

Waktu memang misterius. Tanpa sekat tanpa dimensi, waktu bukanlah 'sesuatu' melainkan hanyalah berupa jeda diantara kehidupan yang berjalan. Meski bukan ruang hampa tapi waktu hanyalah waktu. Tak peduli seberapa rumit manusia membuatnya menjadi lebih mudah diingat melalui arloji atau jam dinding yang seolah dapat memasung waktu, waktu tetaplah waktu. Perkenalan singkat toh nyatanya bisa membuat siapa saja seolah De Javu. Perjumpaan dengan sekat dan kodrat pun harus lebur saat waktu tak bisa menjelaskan mengapa kedua manusia yang tak pernah saling jumpa itu seolah telah mengenal lama.

Melalui caramu yang mungkin terbiasa menyenangkan banyak orang, aku ikut terhanyut dalam lamunan. Emosi akan kesenangan menghantui aku disetiap malam ketika kau memuja disela-sela suara yang terkekang oleh jarak. Membuat kita seakan dekat, bukan hanya persoalan jarak tapi juga sepakat dekat dalam terikat.

Janji manis itu keluar dari tenggorokanmu yang bicara tanpa tercekat. Aku ingat. Mungkin kau sudah tak ingat. Kau pinang aku meski tak berjanji. Kau hanya ingin pinang aku. Hanya ingin sebenarnya. Tapi kata-kata yang keluar itu seolah aku memang sudah jadi kekasih hatimu. Tanpa Bismillah atau tanpa izin semesta, kata-kata itu keluar saja dari suara jauhmu ditelepon. Apa ini? Aku sungguh ingin tertawa. Tak pernah sekalipun kutemui orang gila macam kau yang mengatakan menikah dengan cara tak sakral.

Aku ingin menangis. Disela kegembiraanku pada sesuatu yang tak bisa kupahami, aku sedih. Gombalan macam apa yang mampu membuat aku begitu senang, hah?! Aku rasa otakku juga tak waras dan aku menikmati segala kegilaan fana dan kujawab iya! Tiga tahun aku diminta menunggu manusia yang sebenarnya hanya bicara saja soal keinginannya. Ia tidak sedang berjanji tapi mengapa aku merasa itu sebuah janji?!

Ingin tertawa terbahak hingga nyaris mati rasa. Karma apa yang harus mempertemukan pada manusia seperti dia? Segala yang kurasa, segala yang kuingin rasa, hanya ingin desir otot jantung yang berdetak dikala kita berjumpa. Tapi mungkinkah jumpa masih ada jikalau saja kau hanya berkata bukan sedang melaksana.

Hari terus berganti dan aku tetap masih merasa bodoh ditelanjangi. Semudah itu kau mencuri, aku meringis ngeri saat mengingat lagi. Berbagai alasan kau sepakati bahwa kesibukan tak memungkinkan bagi kita untuk saling menemui. Dan akupun hanya bisa  mengikuti. Yah, bodoh mungkin. Tapi itulah aku yang sejati.

Sampai tiba saatnya aku tak mampu menahan diri. Antara rasa percaya dan penasaran membaur menjadi satu. Aku merasa aku harus menemuimu. Kita harus berjumpa kalau memang kau telah meminang hatiku tanpa cincin nyata. Setidaknya aku bisa melihat elemen dirimu lebih jelas. Selama ini hanya sekilas, jika itu yang mesti kupertegas.

Malam itu kita bertemu. Disebuah pusat keramaian manusia ketika hari sudah malam. Ini kali pertamanya aku pergi tanpa kepastian. Tak pasti akan melakukan apa, tak pasti harus apa, semuanya tanpa rencana yang biasa kususun rapi sebelum jumpa dengan mereka. Kau hal baru dalam hidupku terutama dalam soal kepastian akhir dari cerita kita yang nampak seolah sudah direncanakan menjadi.

Bintang-bintang, tak satupun tampak menggantung di langit luas. Mereka seolah jemu akan kenyataan aku telah menikmati suasana. Mereka lebih memilih datang disaat aku sedang berduka saja. Yah, apa mau dikata. Sinar bintang disebelahku lebih nyata dibanding bintang-bintang yang ada di jagad raya. Aku hanya sedang terhibur akan pelipur yang kutunggu sejak aku hancur lebur.

Ia si manusia gila. Mewujud sempurna dalam setiap kata yang telah ia dendangkan bersama asmara. Apakah aku yang kini gila hingga aku merasa telah tergila-gila pada kenaifan dunia? Harus kuakui kau memang pandai. Sekejap rasa telah kau buat aku jatuh lagi kelubang yang kutakuti. Tapi tak mengapa jika aku si manusia yang mampu mencinta tanpa harus meminta seperti yang sedia kala telah berhasil aku lakukan dengan sempurna.

Sederet gigi yang menghiasi senyum sempurna itu menemaniku hingga aku kembali kerumah. Aku tak tahu harus berkata apa, aku hanya ingin duduk diam bersamamu menatap langit hitam kelam yang mungkin bisa dihias dengan cahaya kita berdua. Tapi aku sejujurnya takut membosankanmu. Aku si pujangga sensitif hanya akan melukai ekspektasimu, pastinya. Aku tak punya apa-apa yang bisa kutukar dengan keinginanku untuk menjalani waktu yang tak terbatas ini. Aku hanya punya ruang dan itu sudah untuk kamu.

Kututup jumpa dengan pamit formal seperti biasa. Cium tangan. Dan aku seringkali melakukannya jika memang bersama mereka yang lebih tua. Kugenggam tanganmu dan kucium tanganmu seolah kau ini benar calon suamiku. Namun, entah itu doa atau hanyalah nafsu manusia, kau daratkan kecupan itu dipipi kananku yang dingin akan udara malam. Sekejap saja kau hangatkan hatiku yang telah beku akan kebencian masa lalu. Dengan hitungan detik kau sudah mencuci persepsiku dan membuatku yakin akan diriku bahwa kau memang mencintaiku.

Kini, dimalam-malam setelah kejadian saat itu. Aku sering duduk terdiam melamun menatap langit fatamorgana. Benarkah ini cinta atau hanya rekayasa sentuhan indera? Aku tak tahu pasti tapi yang jelas kali ini kau telah berhasil lagi. Kau pergi tanpa komunikasi meninggalkan aku yang sunyi.

Saat pertemuan itu, kita menyaksikan film yang bercerita soal Langit Runtuh. Saat ini, ketika aku duduk termangu akan kenangan bersamamu, aku menyadari. Langit 'kesendirianku' telah Runtuh. Dan aku tahu, kamu manusia gila yang berani meruntuhkannya tanpa usaha keras.



-saat langit runtuh-
261112

Rabu, 21 November 2012

Kenangan Malam

Terkadang malam menyembunyikan artinya. Beranalogi mengenai suasana namun sesungguhnya berpura-pura. Memasang topeng kelabu agar malam terasa sunyi. Tapi, malam tetaplah malam. Fatamorgana alam yang mereka pikir segalanya.

Malam selalu bisa menjadi eksis saat engkau sedang duka. Disudut ruangan atau dihiruk-pikuk keramaian, malam menjadi alasan terkuat mengapa engkau sembab oleh air mata. Tawa yang tadi menghiasi wajah sendu mu lenyap begitu saja sekarang. Awan mendung menggantung dalam benakmu. Kamu ingin menangis meskipun sudah terlalu sering alasan yang serupa terjadi. Kamu butuh dekapan hangat yang akan mengatakan padamu, "tenang sayang, segalanya akan baik-baik saja dan aku selalu disini karena kamu."

Kau usap jendela dunia mu tanpa berkasih sayang. Mata besarmu terkena luntur garis hitam yang kau ukir tadi pagi. Hatimu yang pilu. Malam telah melengkapkan gundahmu sekarang. Pantulan wajahmu didepan sudah jelas terlihat tak elok lagi. Kau benar-benar sudah putus asa. Kau hanya ingin hilang dan tenggelam akan kenangan pahit yang selama ini telah kau jejali ke mulutmu sendiri.

Itulah sebabnya kau belajar Hukum Karma. Agar kau menyadari bahwa segalanya saling berkesinambungan. Hukum tabur-tuai atau dalam hukum ekonomi disebut utang-piutang. Kau hanya ingin selalu menyadari bahwa dukamu itu tidak untuk saling menyalahkan lagi. Duka ya duka sebagaimana adanya segala perbuatan lampau telah terjadi tak bisa diulang kembali. Sehebat apapun kau mengingatnya kembali, masa lalu tetaplah sudah berlalu dan tidak bijaksana jikalau kau mengungkit lagi.

Tapi itu yang kau lakukan lagi dan lagi. Dikesempatan malam yang terlahir kembali, kau mengulang lagi luka yang harusnya cepat kau obati. Kejadian yang telah berlalu saat manusia yang kau pikir belahan jiwamu, pergi meninggalkan kau dan kembali merajut kasih kepada mantan kekasih yang ia tinggalkan demi kau sang Dewi, kau ungkit luka lagi. Kau ungkapkan kemarahanmu tanpa basa basi setiap kali malam menyatukan kalian dalam jumpa yang sudah dapat dihitung dengan jari.

Barangkali kau yang menikmati proses sakit hati itu maka masih kau simpan tak pernah kau kau lepas pergi. Ia yang kau puja di setiap kesempatan berbagi cerita, nyatanya sumber utama kau terjatuh ke dalam lubang duka. Walau kau yakin kau tak mampu memaafkan cintanya yang mendua, tetap saja kau ikuti hatimu untuk menjaganya selalu agar ia tetap nyaman bersamamu.

Sejatinya, ia yang telah meninggalkan kamu telah lama juga meninggalkan hatimu yang kini sunyi. Ia tak pernah mau kembali, hanya saja kau mengundangnya datang lagi. Kau buka lebar-lebar hatimu untuk ia yang tak pernah ingin merajut benang-benang untuk menutup lara. Ia sudah yakin akan keputusannya bersama masa lalu yang pernah ia bangun bersama yang lain. Kau iri. Iri pada ia yang beruntung telah dicintai pujaan hatimu. Kau marah pada dunia tempatmu menyadari diri.

Kedua pelupukmu sudah menghitam. Air mata telah mengubah segalanya. Kau tersedu sedan dihadapan orang yang kau caci. Berharap ia mengerti hatimu yang tak kuasa menahan rindu. Rindu akan masa lalu saat kebersamaan menghasilkan kebahagiaan. Saat ia tak ubahnya makhluk Dewata yang rupawan sekaligus pengawal pribadimu yang bisa kau minta ini dan itu. Ada saat kau ingin memelukknya erat dan tak ingin kehilangannya. Namun, secepat kilat kau justru ingin membencinya selayak ia pantas mendapatkannya. Kau bimbang dan salah satu hal yang membuatmu tak berhenti menangis karena kau sudah bosan tidak bahagia. Kau hanya ingin utuh, kembali seperti dahulu ketika belum mengenalnya. Disaat kau tak perlu menghabiskan waktu untuk menggila akan kerinduan yang tak mungkin bersama.

Malam memang misterius. Senantiasa mengubah dunia lewat temaramnya. Tanpa banyak kata, kau meninggalkan segala. Melangkah walau kau tak tahu apakah kau bijaksana. Kau hanya ingin pergi dari situ. Dari tempat dimana kau bisa melihat pantulan wajahmu yang tersiksa akan luka lama. Kau hanya ingin jiwamu dihibur oleh dirimu sendiri.

Dibelakangmu telah kau tinggalkan semua. Ia dan kenangan kalian yang selalu kau agungkan dalam epik sastra. Kau kini pilih hidupmu sendiri. Meskipun kau melangkah dalam tangis, kau hanya tak ingin kembali mengemis.





kepada kenangan malam 20.11.2012
disudut kota

Selasa, 20 November 2012

Disudut Halte

Disudut halte aku berdiri diam. Mematung sekaligus merenung. Gurat-gurat ingatan itu hadir kembali. Datang bersama air hujan yang basah menyelimuti tanah. Hujan sudah mengamuk sejak tadi dan sempat terhenti sekejap saja hanya untuk memberi aku kesempatan berjalan kaki menuju halte. Namun, mungkin seharusnya hujan tak usah berhenti saja sekalian. Agar aku tetap berlindung dalam gedung biru tempatku bekerja. Agar aku bisa tetap utuh tak lagi harus menggila. Agar aku tak perlu berjalan menuju halte. Tempat ajal menyambutku hangat.

Ia menggunakan baju hangat berwarna cokelat kotak-kotak, celana hitam yang agak kendur dibagian pahanya. Syal rajut melingkar dilehernya dan kacamata bingkai persegi panjangnya basah terkena rintikan air hujan. Ia tahu sedang hujan tapi bahasa tubuhnya mengisyarakat bahwa hujanpun tak mampu menaklukannya -begitu mungkin kira-kira yang aku coba pahami. Dikedua tangannya tergenggam sekumpulan kartu remi dan ia asik mengotak atik kartu-kartunya sambil menyandar pada salah satu tiang di halte yang tak basah oleh air hujan.

Sepertinya ia tak berniat menaiki salah satu bus yang lewat didepan halte. Ia tetap cuek menatap benda yang ia pegang sejak tadi. Ia tak peduli sekitar bahkan tak juga peduli pada orang yang sejak tadi memperhatikannya, aku. Sudah beberapa bus lewat begitu saja didepan halte tapi aku juga tak berniat naik salah satunya. Tujuanku sudah jelas akan pulang kerumah, lantas tetap saja aku diam sambil mencuri pandang memandangi orang yang tujuannya di halte tak kuketahui. Ia semacam magnet yang mampu menghisap duniaku dengan cepat. Walau aku tak tahu siapa dirinya tetap saja kupandangi dia tanpa henti.

Tiba-tiba matanya beradu dengan mataku. Mataku yang sejak tadi memandanginya kini ditatap balik oleh mata tajam dibalik kacamata persegi panjang. Aku langsung panik dan menunduk. Jantungku berdegup cepat. Tak kusangka akan jadi begini. Aku sudah merasa cukup menatapnya saja tapi kenapa ia justru mengangkat kepalanya lalu mata kita bertemu?

Kualihkan pandanganku pada jalan raya disebrang sana. Berpura-pura menahan rasa yang berdesir sejak tadi. Tapi tak kusangka ia menghampiriku dan menyapaku! Sekejap saja hujan seakan berhenti digantikan sinar mentari hangat yang menyelesap ke sela-sela pembuluh darahku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Permintaanku hanya untuk menatapnya dalam kotak ingatan yang kurekam hingga aku tahu bahwa aku memang sedang jatuh cinta.

Key. Nama itu akan selalu kuingat. Key - kunci atau apapun ia, telah membuka ruang dalam hatiku yang tak pernah sekalipun aku izinkan ada orang lain disana. Key seperti pekerjaannya, telah memanipulasi perasaanku hingga aku tak mampu berkelakar akan cinta rasa tahi ayam. Ia pesulap yang telah membuat aku menyukai rasa tahi ayam. Key, dialah orangnya.

Hari-hariku telah bertransformasi menjadi tak biasa. Si kutu buku, si monoton, si pendiam, dan berjuta-juta sebutan 'si' yang dilabelkan mereka untuk satu sosok manusia ini telah disatukan menjadi sebuah panggilan baru yang walaupun janggal mampu membuat aku senyum-senyum sendiri. Si manusia tahi ayam.

Pria ini mampu menyenangkanku begitu saja. Segala tingkahnya dan kata-katanya membuat aku berpendar akan keindahan dunia. Ia adalah pangeran tampan yang selalu muncul dalam cerita di negeri dongeng. Hanya saja ia adalah bentuk nyata dari cerita manis yang disuguhkan oleh mereka pendongeng sejati. Ia adalah bentuk nyata dari itu semua. Dan beruntungnya aku yang berperan menjadi Cinderella.

Kami saling memiliki tak perlu diragukan lagi. Semua orang tahu dan semua orang yakin bahwa kita adalah abadi. Waktu memang bukanlah jaminan kualitas hubungan dan itu terbukti pada hubungan kami yang semakin kuat. Key dan ia memang kunci yang membuka hatiku. Kunci selalu berfungsi untuk mengamankan benda yang dijaganya. Ia adalah kunci milikku lantas apalagi yang harus dijaga jikalau Key-lah yang sudah menjagaku dengan baik. Aku aman bersamanya dan kuserahkan segala hal yang ku kunci sejak dulu. Ia, Key, yang dikirim Tuhan untuk menjagaku. Selalu.

Namun, ada sifat dunia yang tak kupahami sepenuhnya. Dunia selalu berlaku adil dan mengarah kepada hal yang bersifat seimbang. Tak akan ada manusia yang selalu menderita begitupula tak akan mungkin ada yang selalu bahagia. Inilah dunia manusia. Dimana kedua rasa yang bertolak belakang antara kesenangan dan kesedihan menyatu dan bercampur utuh. Manusia bukan makhluk neraka yang terus menderita, lantas juga bukan Dewata yang mampu bahagia selamanya. Kebahagiaan saling memiliki nyatanya akan pergi cepat atau lambat. Entah ditinggal mati atau rasa cintanya yang sudah mati.

Tanpa basa basi. Tanpa rasa tidak enak hati terlebih tanpa mengingat pujaan hati, Key pergi. Meninggalkan segalanya yang sudah tak sama. Melepas tanggung jawab akan bekas-bekas saling mencinta. Keberadaannya raib, hilang tak bersisa. Tak satupun eksistensinya mampu kejelajahi. Ia sudah tak mungkin kutemui. Ia meninggalkanku tanpa jeda air mata. Kekasih hatinya telah kembali. Menuju hatinya yang kala itu sedang sendiri. Ternyata tak pernah ada aku disisi. Key -kunci yang aku pikir adalah kunci yang Tuhan berikan untuk menjagaku, hanyalah sebuah kunci biasa yang teronggok diatas meja begitu saja. Ia tak lebih dari kunci lainnya yang selalu datang dan pergi mencoba mencari lubang yang pas.

Disudut halte yang sedang hujan, akupun akhirnya hujan pula. Mataku tak dapat dibendung lagi dan semoga ini hujan terakhir yang aku izinkan untuk kepergian Key.




untuk 'Key' yang selalu..
disudut kota 191112

Senin, 19 November 2012

Cara Menggunakan Payung yang Baik dan Benar

Musim penghujan telah tiba. Sudah dipastikan jalanan akan selalu basah baik pada pagi hari hingga malam hari. Apa lagi yang dibutuhkan oleh pengguna jalan kalau bukan : payung. Secara tidak mungkin juga jikalau kau menggunakan kendaraan umum tapi menggunakan jas hujan. Selain tidak efisien setelah penggunaanya harus dilipat kembali, jas hujan tidak terlalu mengalami perubahan yang besar dalam design jika meninjau kekerenan di jaman seperti sekarang ini. Meskipun tersedia jas hujan yang sekali pakai, tetap saja jas hujan tidak tampak bagus dipakai dalam kondisi berjalan kaki sambil mencari bus kota.

Lain halnya dengan payung. Meskipun tidak menutup seluruh anggota tubuh saat digunakan dan seringkali kita tetap basah kuyub saat menggunakannya, payung tetaplah jadi favorite kebanyakan masyarakat. Ditunjang dengan design yang semakin variatif, payung punya andil yang besar saat musim hujan.

Ya, walaupun kita tahu berdasarkan fungsinya, payung itu terbagi dua untuk musim panas dan musim hujan, akan tetapi kebanyakan masyarakat menggunakan satu jenis payung tertentu untuk berbagai musim yang sedang berlangsung. Sebenarnya kedua jenis payung tersebut memiliki beda untuk beberapa hal seperti bahan dasarnya dan designnya (payung untuk musim panas lebih ceria dan memiliki banyak hiasan biasanya dan lebih ke arah fashion), banyak orang yang menggunakan payung untuk cuaca panas digunakan saat musim hujan. Alhasil, payung yang memang di design untuk tidak menahan badai dan derasnya air hujan, bisa langsung porak poranda setelah digunakan beberapa jam.

Namun, terlepas dari kedua fungsinya sebagai payung panas atau payung hujan, sebagai manusia yang berakal dan berotak manusia hendaknya kita tahu bagaimana cara menggunakannya. Semua orang pasti akan mengatakan betapa mudahnya menggunakan payung hingga tidak perlu repot-repot orang harus mengentri didalam blog mereka. Tapi ini penting! Setidaknya untuk kalian yang ingin kepalanya tetap utuh dan selamat!

Tentu kita semua sudah tahu bagaimana cara membuka payung dengan Benar bukan? Cukup tekan bagian kecil digagangnya, wuush. Payung akan otomatis terbuka atau bisa saja jika payung kalian cukup klasik, tombol digagangnya tidak otomatis tapi diseret keatas agar payung bisa mekar. Bisakah kalian menggunakannya? Tentu saya yakin semua sudah pintar menggunakan payung dengan Benar. Tapi tunggu. Jika kalian Benar menggunakan payung, apakah kalian sudah menggunakannya dengan Baik?

Coba saja dilakukan survei dan kita pasti akan terkejut karena bukti lapangan yang sudah saya amati, rata-rata manusia tidak tahu bagaimana menggunakan payung dengan BAIK! Lihat saja mereka yang lalu lalang di trotoar saat berdesakan mencari bus yang menuju ke arah rumah mereka. Apakah mereka menggunakan payung mereka dengan BAIK? TIDAK! Mungkin hanya segelintir tapi kebanyakan dari mereka : p-a-y-a-h.

Yah, BAIK adalah sesuatu yang keliatan mudah tapi sebenarnya sulit. Baik itu merujuk kepada karakter positif. Lantas apa kaitannya payung dengan Baik? Tentu sangat erat kaitannya. Sebab banyak sekali mereka yang menggunakan payung tidak menggunakan payung mereka secara Baik. Mereka membiarkan saja kembang payung yang lebar itu mengenai kepala orang-orang yang berada didekat mereka! Tanpa permisi atau meminta maaf, mereka tabrak saja kepala-kepala tak bersalah itu dengan payung mereka yang lebar.

Oke, sudah pahamkan maksud Baik yang saya tulis di Blog ini? Sebagai manusia yang beradab ada baiknya kalau semua orang mengerti bahwa menggunakan payung juga memiliki Seni tersendiri seperti saat anda meminum teh di Jepang. Memakai payung secara Baik dan Benar adalah ketika anda menggunakannya demi kepentingan anda tanpa pernah merugikan kepala siapapun yang berada didekat anda. Hukum karma pasti berlaku, begitulah dunia berbicara. Siapa yang menanam itulah yang menuai. Jika anda tidak ingin kepala anda hilang, jangan hilangkan kepala orang lain. Mungkin begitulah peribahasa yang cocok untuk renungan ini.

note: habis jadi korban payung makanya langsung tulis disini :D ingat menggunakan payung dengan BAIK dan BENAR yah! Semoga bermanfaat!

Keris

Satu yang sampai saat ini aku tak mengerti ialah mengapa sebuah cerita horor hanya pantas diceritakan pada malam hari? Bukankah yang terpenting adalah ceritanya? Bukan persoalan kapan waktunya. Jadi, siang atau malam hari bagiku sama menakutkannya kalau diceritakan dengan penuh ekspresi.

Aku ingat benar sewaktu kecil aku sering minta diceritakan tentang makhluk - makhluk menakutkan. Sebut saja drakula, yeti si manusia salju, raksasa pemakan anak - anak, atau wanita berambut panjang yang akrab dipanggil kuntilanak. Semuanya mengesankanku dan walaupun membuat bulu kudukku susah turun kembali setelah selesai mendengar cerita tersebut, aku lantas tak juga mau berhenti bahkan selalu minta diceritakan ulang.

Eyang-kung atau Eyang Kakung adalah orang Jawa. Namun, bagiku ia termasuk tipikal orang Jawa kolot yang suka akan cerita kuno. Ia sangat mencintai budayanya sehingga cerita mengenai kejadian turun temurun masa lalu tetap ia jaga dengan cara diceritakan kembali kepada cucu-cucunya. Akan tetapi, dari delapan cucu yang ia miliki hanya aku yang paling antusias dengan cerita-cerita mistiknya. Dengan mata berbinar aku selalu siap mendengarkan walau hari sudah malam. Secara seksama aku mendengarkan penuturannya yang sudah tidak jelas lagi.

"Jadi keris ini adalah peninggalan Eyang Bondan Kajawan. Setiap orang Jowo jaman dahulu pasti punya aji - aji," kata Eyang-kung agak susah menggunakan bicara tanpa bahasa Jawa.

Aku menatapnya dan mengangguk - angguk seolah mengerti apa itu aji - aji. Saat itu usiaku baru tujuh tahun, kosakata yang aku miliki tidaklah banyak. Namun, pada saat itu aku layaknya anak kecil sok dewasa yang mengerti semua kata - kata kakek walaupun alisku sering mengernyit.

Aji - aji adalah semacam keahlian ilmu gaib yang diturunkan secara turun temurun atau dimiliki oleh seseorang setelah melewati beberapa tahap seperti semedi, puasa, atau semacamnya yang berguna untuk melatih kesabaran. Artinya baru aku tahu setelah aku bertanya pada Ibu.

"Karena Eyang-kung ini keturunan Eyang Bondan Kajawan lalu ke Eyang Panembahan Senopati, kemudian ke anak tertua yaitu Putri Sekar Pembayun, jadine kakekmu ini masih turunan ningrat. Masih darah biru! Sedulur sama Sri Sultan," kata Eyang-kung keras. Dari cara bicaranya jelas ia sangat bangga dengan silsilah turun temurun yang tidak aku mengerti ini. Bagiku tidak penting kakek keturunan siapapun juga, cuma cerita horor yang ingin aku dengarkan.

"Terus dimana seremnya?"tanyaku tak sabar.

Mata besarku mengerjap penuh harap. Eyang-kung menatapku penuh antusias.

"Sabar, Asmoro. Sebentar lagi ada yang seram," sahut Eyang-kung.

Saat itu waktu menunjukkan pukul dua siang. Aku memang sedang menginap dirumah Eyang karena Ibu sedang bertengkar dengan Ayah. Siang ini, Ibuku sedang berjalan - jalan ke pusat kota dengan Eyang Putri yang memang suka belanja. Lantas dengan gembira aku dirumah berdua saja bersama Eyang-kung.

Ibu sangat sebal kalau Eyang-kung menceritakan cerita horor padaku. Ia yang akan repot setelahnya. Aku pasti akan terjaga semalaman dan sebentar - bentar menjerit kalau ada sesuatu yang bergerak. Padahal ternyata cuma suara cicak atau suara ketukan tetangga sebelah. Ibu sudah punya firasat jelek kalau Eyang-kung akan menceritakan cerita horor lagi padaku, maka dari itu ia bersikeras ingin aku ikut pergi bersamanya. Tapi, aku merengek pada Ibu bahwa aku benci pergi menemani dua ibu - ibu yang asik belanja. Bisa - bisa aku malah diculik kolong wewe karena berjalan sendirian kehilangan dua wanita itu. Dengan berat hati, Ibu mengizinkan aku berdua saja dengan Eyang-kung dirumah dan berpesan tegas pada Eyang-kung agar tidak menceritakan cerita horor padaku. Tapi aku malah merengut kesal dan yakin bahwa siang hari tidak akan membuatku takut sama sekali.

Dan benar kan! Aku berani. Aku memang anak pemberani sebenarnya. Mana ada bocah lelaki yang penakut? Tidak ada. Ya, kalau memang ada bocah lelaki penakut, ya pastinya itu aku. Tapi tidak juga ah. Aku hanya takut sama kegelapan, setan - setan yang diceritakan Eyang-kung, selebihnya aku berani sama semua hal. Kecuali juga pada api, kolam renang, ketinggian, dan kalau dihitung - hitung banyak juga yang aku takuti. Begitulah nyatanya, aku mungkin memang bocah lelaki pengecut. Huft.

Eyang-kung melanjutkan ceritanya sambil duduk dikursi malas,"jadi karena Eyang ini keturunan dari Eyang Putri Sekar Pembayun, makanya Eyang dapet warisan keramat. Warisan yang diberikan pada anak lelaki pertama dikeluarga kita. Karena Eyang hanya punya tiga orang anak perempuan, maka warisan ini masih Eyang jaga sampai sekarang."

"Warisannya apa yang?"tanyaku penasaran.

"Keris, le. Keris. Keris peninggalan dari Eyang Putri Sekar Pembayun. Karena Eyang Putri ini perempuan jadine harus dijaga sama pengawal - pengawal laki - laki. Salah satunya itu dijadikan keris ini. Pengawal Eyang Putri yang paling setia," kata Eyang-kung bangga lalu melanjutkan sambil berbisik, "kamu bisa bayangken kalau roh manusia dimasuken ke dalem keris, le?"

Aku bergidik ngeri membayangkan bagaimana roh yang dimaksud Eyang-kung masuk ke dalam keris ini. Itu sama artinya dengan....????????

"Iya, le. Keris ini hidup! Jadi jangan macam-macam kamu kalau nda'k mau kena sial!" sahut Eyang-kung seraya menjawab pertanyaan yang kulontarkan lewat ekspresi wajah.

Aku menatap keris itu lekat-lekat. Tidak ada yang tampak berbeda dengan senjata keris pada umumnya. Berbentuk runcing dan bergelombang di kanan-kirinya. Benda itu dilapisi emas sehingga tampak berkilauan tertimpa sinar matahari. Dibagian pegangannya terdapat sebuah lapisan yang lebih tebal dan tampak ukiran indah.

Sejak dahulu kala, orang Jawa memang sudah dikenal memiliki kebudayaan yang tinggi. Hal itu terbukti jelas dari peninggalan candi yang tersebar di kepulauan Jawa beserta daerah luar Jawa yang pada dahulu kala juga merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Jawa. Kebudayaan itu juga menular hingga ke Kamboja, Thailand, Philipina, hingga China. Bisa disimpulkan kebudayaan Jawa juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan budaya lainnya. Wajar saja kalau begitu Eyang-kung bangga terhadap tanah leluhurnya. Ia bahkan sering marah-marah jikalau saat ini banyak orang Jawa yang tidak tahu sama sekali mengenai makna dari ritual yang dilakukan secara turun-temurun.

"Jadi yang-kung, keris ini betulan hidup?" tanyaku memecah keheningan yang mengganjal diantara kami. Eyang-kung yang sedang asik menggenggam keris sambil mengagumi warisan keluarganya itu kemudian menatapku.

"Iya, le. Pastinya!"

"Kalau begitu Eyang-kung tahu dan percaya darimana keris ini hidup? Eyang-kung pernah buktikan tidak?" tanyaku datar.

Namun ternyata pertanyaan 'datar' ku tadi bukanlah hal yang 'datar' pula bagi Eyang Kakung. Ia menatapku tajam seakan pertanyaanku ini konyol.

"Le, terkadang kita tidak harus melihat langsung terhadap sebuah kebenaran. Kita cukup percaya saja dan mengikuti pesan orang tua untuk menjaga benda pusaka. Nurut, le yang penting. Orang tua bilang jaga ya jaga. Bilang hancurken yah mau tidak mau hancurken. Kalau sudah jadi anak penurut, pastinya hidupnya nanti lancar dan murah rezeki," kata Eyang-kung tajam. Keliatan dari wajahnya ia tampak tersinggung.

Aku yakin 1000% sekarang. Segala keunggulan keris sakti yang ia sebut aji-aji belum terbukti. Walaupun aku anak kecil dan penakut bukan berarti semua orang bisa menjejaliku dengan cerita seram. Aku ini anak kecil kritis dan aku akan selalu bertanya jikalau ada hal-hal yang tidak masuk akal.

"Tapi, yang. Masa Eyang-kung masih percaya saja cerita orang tua kalau Eyang-kung sendiri enggak pernah melihat bukti keris ini sakti! Eyang-kung kan sekarang sudah tua. Berarti seharusnya kata-kata Eyang-kung yang didengarkan oleh aku dan cucu-cucu lainnya. Eyang-kung sendiri saja tidak bisa membuktikan kebenaran kesaktian keris itu! Bagaimana aku bisa percaya cerita Eyang-kung ini benar?" kataku setengah ngotot dan entah darimana aku dapatkan keberanian menentang Eyang sampe sejauh ini. Menyanggah pernyataan Eyang sama artinya kau akan mendapatkan musibah lebih jauh. Ia akan mengoceh hingga esok pagi atau bahkan berminggu-minggu kemudian mengungkit susahnya kau jadi cucu.

Anehnya Eyang-kung tidak berdebat lagi! Ia memilih menghela nafas panjang sambil melamun. Lama kutunggu jawaban darinya. Hingga akhirnya ia mengeluarkan suara, "yah, le. Kamu lihat saja nanti soal kebenarannya. Kamu memang bukan cucu laki-laki pertama Eyang-kung. Tapi kamu cucu Eyang yang paling pintar dan mencintai warisan leluhur. Suatu hari nanti kamu akan tahu. Keris ini pilih kamu buat jadi penjaga," katanya kemudian diakhiri senyum misterius.

Aku memutuskan diam kali ini. Ada baiknya aku tidak menjadi anak kecil sok tahu. Lagipula, mungkin ceritanya Eyang-kung simpan karena terlampau menakutkan. Tapi, apa maksudnya pilih aku jadi penjaga? Aku penasaran dan ingin kutanyakan lebih lanjut padanya. Namun tiba-tiba suara klakson mobil berbunyi. Ibu dan Eyang Putri telah kembali. Ia meminta aku membukakan pintu pagar pastinya. Aku pamit pada Eyang-kung dan kemudian berlari keluar. Rasa penasaranku belum terpecahkan.


                                                                                *

Malam harinya aku menginap dirumah Eyang. Ibu masih bertengkar dengan Ayah dan bersikeras tidak ingin kembali kerumah. Maka sudah dipastikan aku menjadi korban mengawal Ibu dan bertugas melaporkan keadaan Ibu secara diam-diam kepada Ayah. Sungguh menyulitkan menjadi seorang anak.

Aku tidak bisa tidur nyenyak. Bukan karena Ibu mendengkur dalam desisan seperti ular disebelahku. Tapi, seperti biasanya ketika cerita horror usai diceritakan. Aku takut! Aku mati kutu dan tidak berani membuka mataku sebentar saja walaupun aku sama sekali tidak mengantuk. Rumah Eyang adalah rumah orang Jawa yang penuh dengan ornamen-ornamen ke-Jawa-an. Sungguh menambah horror keadaan dalam benakku. Ingin rasanya aku membuka mata tapi aku terlalu takut.

Suara-suara tampak beradu pelan ditelingaku. Antara suara dengkur Ibuku dan juga suara angin yang mengenai dedauan diluar. Jendela dikamar ini sungguh besar dan menakutkan kalau malam hari. Gorden putihnya seakan bayangan seram bisa terpantul disana.

Suara bising itu makin keras dan aku tidak tahan. Kuputuskan aku untuk membuka mata. Kosong. Gelap. Ya, karena ini malam hari. Aku lega dan kuseka peluh keringat dari dahiku. Namun, tiba-tiba suara itu terdengar makin keras. Sungguh mengganggu telingaku! Kuputuskan untuk bangkit dari tempat tidur dan mencari tahu suara apa itu. Rasa takutku tergantikan oleh rasa kesalku.

Aku berjalan dalam kegelapan. Entah keberanian darimana aku bisa menaklukan rasa takutku. Tiba-tiba 'PRAAANNGGG" suara benda terjatuh begitu keras. Aku mencari-cari sakelar untuk menyalakan lampu namun tidak ketemu. Sebuah cahaya putih kebiruan tampak didepanku dan membuatku dapat melihat keris sakti Kakek jatuh dari tempatnya. Aku mengambilnya dari lantai dan mengelusnya seakan kucing peliharaan. Tapi, tunggu. Cahaya putih apa itu? Mataku mengikuti cahaya itu dan Ya, Tuhan.

Aku berteriak tapi suaraku tidak keluar. Cahaya itu, cahaya makhluk yang aku tidak tahu. Bentuknya serupa manusia dan ia mengenakan pakaian tradisional Jawa. Ia pria bertubuh besar dan menggunakan Blankon di kepalanya. Tubuhnya tembus pandang dan aku tahu benar kalau dia makhluk halus. Aku memandangnya tajam tapi makhluk itu tidak bersuara apa-apa. Ia tidak mengganggu sama sekali bahkan hanya memandangiku dalam tatapan sendu.

Terima kasih telah membebaskanku, le. Terima kasih telah menggantikan posisiku.

Sebuah suara nyaring terdengar. Bersamaan dengan itu tubuh makhluk halus itu berpendar terang lalu lenyap seperti asap yang terbang melayang. Aku masih menatap ruang kosong tempatnya makhluk tadi berdiri. Aku bangkit sambil mengangkat keris tersebut dan mengembalikannya ke tempat semula. Namun, sebuah sinar kini kembali muncul. Bukan dari arah depanku melainkan dari tubuhku! Kurasakan tubuhku seringan kapas dan aku tidak melangkah dengan kakiku melainkan lewat pikiranku.

Konon setelah kejadian itu, aku bisa mengawasi seluruh keluargaku. Aku bisa melihat Ibu dan Ayahku meninggal dunia dan saudara-saudaraku menikah dan memiliki keturunan. Aku tetap ditempat yang sama. Menggenggam keris warisan keluarga sambil terus berdoa kalau saja ada sanak keluargaku yang layak menggantikan posisiku.


                                                                              ***

Selasa, 13 November 2012

Kembalinya Sang Pemilik Blog

Wow...

Sepertinya sudah lama sekali gue ga nulis blog. Awalnya gue pikir, gue memiliki bakat terpendam menjadi seorang penulis sejati yang bisa berdiam diri dan merenungkan kata-kata indah tanpa perlu berlama-lama. Tapi ternyata, bakat nulis gue itu musiman -_______- dan gue akuin gue akan ngerasa lebih hidup dan hidup ketika ada orang yang menginsprasi gue.

Contohnya ketika Dewi Lestari lagi nerbitin buku kumpulan cerpennya yang berjudul Filosofi Kopi ataupun Madre. Saat itu pula gue ngerasa bahwa jiwa gue dan Dee sejalan dan kita bener-bener sama. Me and Dee againts the world, kalau mbak Keti Peri bilang sih begitu. Tapi olala tunggu aja bukunya abis gue baca, saat itu pula gue akan kembali ke habitat gue sebagai anak domba yang tersesat dan gak tahu tujuan gue hidup ngapain. Miris -_____-

Bahkan saat gue ulang tahun gue aja yang ke 22, gue ga update apa-apa tuh di Blog gue. Padahal kan seharusnya angka 22 itu angka keramat. Secara gue mesti nunggu sebelas tahun lagi biar dapet angka kembar di usia gue, tapi ternyata tingkat kemalasan gue lebih besar dari apapun impian gue dan gue cuma bisa bengong-bengong ternyata gue punya Blog dan gue belum nulis apapun lagi di Blog gue.

Udah banyaklah sumpah serapah yang gue buat baik dalam hati maupun dalam mimpi, bahwa gue akan memulai hidup dan karir gue dalam menulis. Tapi kenyataannya -____- (lagi-lagi) mau nulis aja rasanya malas gimana mau nulis Blog??????? Oh Goshhhhh! Apa jadinya nasib gue yang udah makin tua tapi makin malas juga... zzzzzz..

Okelah kalau begitu, tanpa perlu sumpah serapah kali ini, gue BERTEKAD (sumpah diganti tekad kayaknya lebih manusiawi dan kalau gue ga jalanin kayaknya ga dosa), gue akan NYUMBANG TULISAN SATU TULISAN SETIAP HARI! Ini keliatannya kayak sumpah juga sih. Tapi sebenernya ini bukan sumpah tapi lebih kepada tekad yang menggebu-gebu dari hati gue...

Semoga aja tekad gue ini kesampaian dan gue bisa nulis dan nulis terus hingga orang-orang terinspirasi sama gue *aiiis gaya* dan jangan gue mulu yang jadi follower orang-orang hebat diluar sana. Amiiiinnn...



Salam Cemungud