Selasa, 20 November 2012

Disudut Halte

Disudut halte aku berdiri diam. Mematung sekaligus merenung. Gurat-gurat ingatan itu hadir kembali. Datang bersama air hujan yang basah menyelimuti tanah. Hujan sudah mengamuk sejak tadi dan sempat terhenti sekejap saja hanya untuk memberi aku kesempatan berjalan kaki menuju halte. Namun, mungkin seharusnya hujan tak usah berhenti saja sekalian. Agar aku tetap berlindung dalam gedung biru tempatku bekerja. Agar aku bisa tetap utuh tak lagi harus menggila. Agar aku tak perlu berjalan menuju halte. Tempat ajal menyambutku hangat.

Ia menggunakan baju hangat berwarna cokelat kotak-kotak, celana hitam yang agak kendur dibagian pahanya. Syal rajut melingkar dilehernya dan kacamata bingkai persegi panjangnya basah terkena rintikan air hujan. Ia tahu sedang hujan tapi bahasa tubuhnya mengisyarakat bahwa hujanpun tak mampu menaklukannya -begitu mungkin kira-kira yang aku coba pahami. Dikedua tangannya tergenggam sekumpulan kartu remi dan ia asik mengotak atik kartu-kartunya sambil menyandar pada salah satu tiang di halte yang tak basah oleh air hujan.

Sepertinya ia tak berniat menaiki salah satu bus yang lewat didepan halte. Ia tetap cuek menatap benda yang ia pegang sejak tadi. Ia tak peduli sekitar bahkan tak juga peduli pada orang yang sejak tadi memperhatikannya, aku. Sudah beberapa bus lewat begitu saja didepan halte tapi aku juga tak berniat naik salah satunya. Tujuanku sudah jelas akan pulang kerumah, lantas tetap saja aku diam sambil mencuri pandang memandangi orang yang tujuannya di halte tak kuketahui. Ia semacam magnet yang mampu menghisap duniaku dengan cepat. Walau aku tak tahu siapa dirinya tetap saja kupandangi dia tanpa henti.

Tiba-tiba matanya beradu dengan mataku. Mataku yang sejak tadi memandanginya kini ditatap balik oleh mata tajam dibalik kacamata persegi panjang. Aku langsung panik dan menunduk. Jantungku berdegup cepat. Tak kusangka akan jadi begini. Aku sudah merasa cukup menatapnya saja tapi kenapa ia justru mengangkat kepalanya lalu mata kita bertemu?

Kualihkan pandanganku pada jalan raya disebrang sana. Berpura-pura menahan rasa yang berdesir sejak tadi. Tapi tak kusangka ia menghampiriku dan menyapaku! Sekejap saja hujan seakan berhenti digantikan sinar mentari hangat yang menyelesap ke sela-sela pembuluh darahku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Permintaanku hanya untuk menatapnya dalam kotak ingatan yang kurekam hingga aku tahu bahwa aku memang sedang jatuh cinta.

Key. Nama itu akan selalu kuingat. Key - kunci atau apapun ia, telah membuka ruang dalam hatiku yang tak pernah sekalipun aku izinkan ada orang lain disana. Key seperti pekerjaannya, telah memanipulasi perasaanku hingga aku tak mampu berkelakar akan cinta rasa tahi ayam. Ia pesulap yang telah membuat aku menyukai rasa tahi ayam. Key, dialah orangnya.

Hari-hariku telah bertransformasi menjadi tak biasa. Si kutu buku, si monoton, si pendiam, dan berjuta-juta sebutan 'si' yang dilabelkan mereka untuk satu sosok manusia ini telah disatukan menjadi sebuah panggilan baru yang walaupun janggal mampu membuat aku senyum-senyum sendiri. Si manusia tahi ayam.

Pria ini mampu menyenangkanku begitu saja. Segala tingkahnya dan kata-katanya membuat aku berpendar akan keindahan dunia. Ia adalah pangeran tampan yang selalu muncul dalam cerita di negeri dongeng. Hanya saja ia adalah bentuk nyata dari cerita manis yang disuguhkan oleh mereka pendongeng sejati. Ia adalah bentuk nyata dari itu semua. Dan beruntungnya aku yang berperan menjadi Cinderella.

Kami saling memiliki tak perlu diragukan lagi. Semua orang tahu dan semua orang yakin bahwa kita adalah abadi. Waktu memang bukanlah jaminan kualitas hubungan dan itu terbukti pada hubungan kami yang semakin kuat. Key dan ia memang kunci yang membuka hatiku. Kunci selalu berfungsi untuk mengamankan benda yang dijaganya. Ia adalah kunci milikku lantas apalagi yang harus dijaga jikalau Key-lah yang sudah menjagaku dengan baik. Aku aman bersamanya dan kuserahkan segala hal yang ku kunci sejak dulu. Ia, Key, yang dikirim Tuhan untuk menjagaku. Selalu.

Namun, ada sifat dunia yang tak kupahami sepenuhnya. Dunia selalu berlaku adil dan mengarah kepada hal yang bersifat seimbang. Tak akan ada manusia yang selalu menderita begitupula tak akan mungkin ada yang selalu bahagia. Inilah dunia manusia. Dimana kedua rasa yang bertolak belakang antara kesenangan dan kesedihan menyatu dan bercampur utuh. Manusia bukan makhluk neraka yang terus menderita, lantas juga bukan Dewata yang mampu bahagia selamanya. Kebahagiaan saling memiliki nyatanya akan pergi cepat atau lambat. Entah ditinggal mati atau rasa cintanya yang sudah mati.

Tanpa basa basi. Tanpa rasa tidak enak hati terlebih tanpa mengingat pujaan hati, Key pergi. Meninggalkan segalanya yang sudah tak sama. Melepas tanggung jawab akan bekas-bekas saling mencinta. Keberadaannya raib, hilang tak bersisa. Tak satupun eksistensinya mampu kejelajahi. Ia sudah tak mungkin kutemui. Ia meninggalkanku tanpa jeda air mata. Kekasih hatinya telah kembali. Menuju hatinya yang kala itu sedang sendiri. Ternyata tak pernah ada aku disisi. Key -kunci yang aku pikir adalah kunci yang Tuhan berikan untuk menjagaku, hanyalah sebuah kunci biasa yang teronggok diatas meja begitu saja. Ia tak lebih dari kunci lainnya yang selalu datang dan pergi mencoba mencari lubang yang pas.

Disudut halte yang sedang hujan, akupun akhirnya hujan pula. Mataku tak dapat dibendung lagi dan semoga ini hujan terakhir yang aku izinkan untuk kepergian Key.




untuk 'Key' yang selalu..
disudut kota 191112

Tidak ada komentar: