Kamis, 29 November 2012

Langit Runtuh

Pada dasarnya, aku tahu. Langit itu hanyalah bagian fatamorgana hasil persepsi pikiran kita. Pernahkah ada manusia yang pernah menyentuh langit secara nyata? Langit yang sering disebut-sebutkan itu hanyalah sebuah perumpamaan cerdas mengenai apa arti sebuah kekosongan dan keheningan.

Langit bukanlah sesuatu yang nyata. Langit merupakan sesuatu yang abstrak yang sulit dijelaskan dalam bahasa manusia. Memahami eksistensi Langit seperti halnya mencoba menyelami Cinta yang sulit dijelaskan menggunakan beribu kata.

Cinta itu menyangkut rasa. Terdiri dari jutaan makna bahkan tak terhingga maknanya. Semua bisa dirasakan tanpa bisa disentuh atau digenggam nyata. Meski begitu semua orang menyukainya dan semua orang ingin merasakan jatuh cinta. Yang walaupun sakit dan perih, jika mengatas-namakan Cinta segalanya nampak baik-baik saja.

Dan mungkinkah itu yang terjadi saat aku menatap kedua bola matamu yang bulat itu? Mata bayi yang hingga kini membuat aku merindu. Mata yang tidak selalu menatap mataku, hanya saja aku sering kali mencuri pandang kearahmu. Mata yang dikelopak ujungnya mengerut jika kau tertawa. Tawa renyah yang kau suguhkan bersama sederet gigi rapi itu. Tawa yang benar-benar indah hingga aku rasanya ingin mati rasa.

Segala pesonamu tak ubahnya dapat menarik perhatianku, dulu. Kau hanyalah satu dari sekian banyak manusia yang telah kukenal dan tak ingin kukenal. Hanyalah bagian dari cerita pendek yang disuguhkan bersama kopi panas sambil duduk santai dihalaman belakang rumah. Bukan bagian cerita panjang yang akan aku ceritakan dikala malam telah tiba dan aku akan mendongeng pada anak cucuku. Kau hanyalah manusia biasa yang seperti biasanya aku temui. Tak ada yang spesial.

Banyak yang memujamu. Entah apa yang membuat mereka tergila-gila pada manusia biasa sepertimu. Kata mereka kau sempurna. Kata mereka pula kau cukup dikenal. Tapi siapa engkau? Tak pernah sekalipun aku tahu tentang kamu. Mungkin kamu yang terlalu sibuk berkelana atau mungkin aku yang terlalu tak punya rencana untuk mencari tahu sedikit saja tentang kamu.

Ocehan mereka soal nama besarmu itu tak pernah aku pikirkan. Aku hanya tahu kita punya sebuah hubungan. Ikatan yang cukup baik namun aku tahu tak akan terlalu jauh. Kau ibarat Raja sedangkan aku ibarat Dayang-Dayang dikala senja yang datang menyambut malam. Tugasku adalah 'melayanimu' dan tugasmu adalah mendapatkan 'pelayanan' terbaik yang dimiliki olehku. Ini bukan hal vulgar sebenarnya, hanya saja hubungan kita memang soal melayani dan dilayani.

Sampai tiba saatnya ikatan sederhana yang tanpa ekspektasi ini berlanjut. Entah apa yang merasuki alam pikirmu, semudah angin mencintai dedaunan, semudah itu pula kau mengetuk pintu hati yang telah kukunci karena trauma diri. Kau sentuh walau tak perlu kulit kita bersentuhan. Aku tahu aku menyambut hangat segala yang kau berikan. Berikan? Apa yang sejatinya berupa pemberian? Jika yang kau berikan hanyalah berupa kata-kata manis yang tak bisa kubuktikan?

Waktu memang misterius. Tanpa sekat tanpa dimensi, waktu bukanlah 'sesuatu' melainkan hanyalah berupa jeda diantara kehidupan yang berjalan. Meski bukan ruang hampa tapi waktu hanyalah waktu. Tak peduli seberapa rumit manusia membuatnya menjadi lebih mudah diingat melalui arloji atau jam dinding yang seolah dapat memasung waktu, waktu tetaplah waktu. Perkenalan singkat toh nyatanya bisa membuat siapa saja seolah De Javu. Perjumpaan dengan sekat dan kodrat pun harus lebur saat waktu tak bisa menjelaskan mengapa kedua manusia yang tak pernah saling jumpa itu seolah telah mengenal lama.

Melalui caramu yang mungkin terbiasa menyenangkan banyak orang, aku ikut terhanyut dalam lamunan. Emosi akan kesenangan menghantui aku disetiap malam ketika kau memuja disela-sela suara yang terkekang oleh jarak. Membuat kita seakan dekat, bukan hanya persoalan jarak tapi juga sepakat dekat dalam terikat.

Janji manis itu keluar dari tenggorokanmu yang bicara tanpa tercekat. Aku ingat. Mungkin kau sudah tak ingat. Kau pinang aku meski tak berjanji. Kau hanya ingin pinang aku. Hanya ingin sebenarnya. Tapi kata-kata yang keluar itu seolah aku memang sudah jadi kekasih hatimu. Tanpa Bismillah atau tanpa izin semesta, kata-kata itu keluar saja dari suara jauhmu ditelepon. Apa ini? Aku sungguh ingin tertawa. Tak pernah sekalipun kutemui orang gila macam kau yang mengatakan menikah dengan cara tak sakral.

Aku ingin menangis. Disela kegembiraanku pada sesuatu yang tak bisa kupahami, aku sedih. Gombalan macam apa yang mampu membuat aku begitu senang, hah?! Aku rasa otakku juga tak waras dan aku menikmati segala kegilaan fana dan kujawab iya! Tiga tahun aku diminta menunggu manusia yang sebenarnya hanya bicara saja soal keinginannya. Ia tidak sedang berjanji tapi mengapa aku merasa itu sebuah janji?!

Ingin tertawa terbahak hingga nyaris mati rasa. Karma apa yang harus mempertemukan pada manusia seperti dia? Segala yang kurasa, segala yang kuingin rasa, hanya ingin desir otot jantung yang berdetak dikala kita berjumpa. Tapi mungkinkah jumpa masih ada jikalau saja kau hanya berkata bukan sedang melaksana.

Hari terus berganti dan aku tetap masih merasa bodoh ditelanjangi. Semudah itu kau mencuri, aku meringis ngeri saat mengingat lagi. Berbagai alasan kau sepakati bahwa kesibukan tak memungkinkan bagi kita untuk saling menemui. Dan akupun hanya bisa  mengikuti. Yah, bodoh mungkin. Tapi itulah aku yang sejati.

Sampai tiba saatnya aku tak mampu menahan diri. Antara rasa percaya dan penasaran membaur menjadi satu. Aku merasa aku harus menemuimu. Kita harus berjumpa kalau memang kau telah meminang hatiku tanpa cincin nyata. Setidaknya aku bisa melihat elemen dirimu lebih jelas. Selama ini hanya sekilas, jika itu yang mesti kupertegas.

Malam itu kita bertemu. Disebuah pusat keramaian manusia ketika hari sudah malam. Ini kali pertamanya aku pergi tanpa kepastian. Tak pasti akan melakukan apa, tak pasti harus apa, semuanya tanpa rencana yang biasa kususun rapi sebelum jumpa dengan mereka. Kau hal baru dalam hidupku terutama dalam soal kepastian akhir dari cerita kita yang nampak seolah sudah direncanakan menjadi.

Bintang-bintang, tak satupun tampak menggantung di langit luas. Mereka seolah jemu akan kenyataan aku telah menikmati suasana. Mereka lebih memilih datang disaat aku sedang berduka saja. Yah, apa mau dikata. Sinar bintang disebelahku lebih nyata dibanding bintang-bintang yang ada di jagad raya. Aku hanya sedang terhibur akan pelipur yang kutunggu sejak aku hancur lebur.

Ia si manusia gila. Mewujud sempurna dalam setiap kata yang telah ia dendangkan bersama asmara. Apakah aku yang kini gila hingga aku merasa telah tergila-gila pada kenaifan dunia? Harus kuakui kau memang pandai. Sekejap rasa telah kau buat aku jatuh lagi kelubang yang kutakuti. Tapi tak mengapa jika aku si manusia yang mampu mencinta tanpa harus meminta seperti yang sedia kala telah berhasil aku lakukan dengan sempurna.

Sederet gigi yang menghiasi senyum sempurna itu menemaniku hingga aku kembali kerumah. Aku tak tahu harus berkata apa, aku hanya ingin duduk diam bersamamu menatap langit hitam kelam yang mungkin bisa dihias dengan cahaya kita berdua. Tapi aku sejujurnya takut membosankanmu. Aku si pujangga sensitif hanya akan melukai ekspektasimu, pastinya. Aku tak punya apa-apa yang bisa kutukar dengan keinginanku untuk menjalani waktu yang tak terbatas ini. Aku hanya punya ruang dan itu sudah untuk kamu.

Kututup jumpa dengan pamit formal seperti biasa. Cium tangan. Dan aku seringkali melakukannya jika memang bersama mereka yang lebih tua. Kugenggam tanganmu dan kucium tanganmu seolah kau ini benar calon suamiku. Namun, entah itu doa atau hanyalah nafsu manusia, kau daratkan kecupan itu dipipi kananku yang dingin akan udara malam. Sekejap saja kau hangatkan hatiku yang telah beku akan kebencian masa lalu. Dengan hitungan detik kau sudah mencuci persepsiku dan membuatku yakin akan diriku bahwa kau memang mencintaiku.

Kini, dimalam-malam setelah kejadian saat itu. Aku sering duduk terdiam melamun menatap langit fatamorgana. Benarkah ini cinta atau hanya rekayasa sentuhan indera? Aku tak tahu pasti tapi yang jelas kali ini kau telah berhasil lagi. Kau pergi tanpa komunikasi meninggalkan aku yang sunyi.

Saat pertemuan itu, kita menyaksikan film yang bercerita soal Langit Runtuh. Saat ini, ketika aku duduk termangu akan kenangan bersamamu, aku menyadari. Langit 'kesendirianku' telah Runtuh. Dan aku tahu, kamu manusia gila yang berani meruntuhkannya tanpa usaha keras.



-saat langit runtuh-
261112

Tidak ada komentar: