Senin, 19 November 2012

Keris

Satu yang sampai saat ini aku tak mengerti ialah mengapa sebuah cerita horor hanya pantas diceritakan pada malam hari? Bukankah yang terpenting adalah ceritanya? Bukan persoalan kapan waktunya. Jadi, siang atau malam hari bagiku sama menakutkannya kalau diceritakan dengan penuh ekspresi.

Aku ingat benar sewaktu kecil aku sering minta diceritakan tentang makhluk - makhluk menakutkan. Sebut saja drakula, yeti si manusia salju, raksasa pemakan anak - anak, atau wanita berambut panjang yang akrab dipanggil kuntilanak. Semuanya mengesankanku dan walaupun membuat bulu kudukku susah turun kembali setelah selesai mendengar cerita tersebut, aku lantas tak juga mau berhenti bahkan selalu minta diceritakan ulang.

Eyang-kung atau Eyang Kakung adalah orang Jawa. Namun, bagiku ia termasuk tipikal orang Jawa kolot yang suka akan cerita kuno. Ia sangat mencintai budayanya sehingga cerita mengenai kejadian turun temurun masa lalu tetap ia jaga dengan cara diceritakan kembali kepada cucu-cucunya. Akan tetapi, dari delapan cucu yang ia miliki hanya aku yang paling antusias dengan cerita-cerita mistiknya. Dengan mata berbinar aku selalu siap mendengarkan walau hari sudah malam. Secara seksama aku mendengarkan penuturannya yang sudah tidak jelas lagi.

"Jadi keris ini adalah peninggalan Eyang Bondan Kajawan. Setiap orang Jowo jaman dahulu pasti punya aji - aji," kata Eyang-kung agak susah menggunakan bicara tanpa bahasa Jawa.

Aku menatapnya dan mengangguk - angguk seolah mengerti apa itu aji - aji. Saat itu usiaku baru tujuh tahun, kosakata yang aku miliki tidaklah banyak. Namun, pada saat itu aku layaknya anak kecil sok dewasa yang mengerti semua kata - kata kakek walaupun alisku sering mengernyit.

Aji - aji adalah semacam keahlian ilmu gaib yang diturunkan secara turun temurun atau dimiliki oleh seseorang setelah melewati beberapa tahap seperti semedi, puasa, atau semacamnya yang berguna untuk melatih kesabaran. Artinya baru aku tahu setelah aku bertanya pada Ibu.

"Karena Eyang-kung ini keturunan Eyang Bondan Kajawan lalu ke Eyang Panembahan Senopati, kemudian ke anak tertua yaitu Putri Sekar Pembayun, jadine kakekmu ini masih turunan ningrat. Masih darah biru! Sedulur sama Sri Sultan," kata Eyang-kung keras. Dari cara bicaranya jelas ia sangat bangga dengan silsilah turun temurun yang tidak aku mengerti ini. Bagiku tidak penting kakek keturunan siapapun juga, cuma cerita horor yang ingin aku dengarkan.

"Terus dimana seremnya?"tanyaku tak sabar.

Mata besarku mengerjap penuh harap. Eyang-kung menatapku penuh antusias.

"Sabar, Asmoro. Sebentar lagi ada yang seram," sahut Eyang-kung.

Saat itu waktu menunjukkan pukul dua siang. Aku memang sedang menginap dirumah Eyang karena Ibu sedang bertengkar dengan Ayah. Siang ini, Ibuku sedang berjalan - jalan ke pusat kota dengan Eyang Putri yang memang suka belanja. Lantas dengan gembira aku dirumah berdua saja bersama Eyang-kung.

Ibu sangat sebal kalau Eyang-kung menceritakan cerita horor padaku. Ia yang akan repot setelahnya. Aku pasti akan terjaga semalaman dan sebentar - bentar menjerit kalau ada sesuatu yang bergerak. Padahal ternyata cuma suara cicak atau suara ketukan tetangga sebelah. Ibu sudah punya firasat jelek kalau Eyang-kung akan menceritakan cerita horor lagi padaku, maka dari itu ia bersikeras ingin aku ikut pergi bersamanya. Tapi, aku merengek pada Ibu bahwa aku benci pergi menemani dua ibu - ibu yang asik belanja. Bisa - bisa aku malah diculik kolong wewe karena berjalan sendirian kehilangan dua wanita itu. Dengan berat hati, Ibu mengizinkan aku berdua saja dengan Eyang-kung dirumah dan berpesan tegas pada Eyang-kung agar tidak menceritakan cerita horor padaku. Tapi aku malah merengut kesal dan yakin bahwa siang hari tidak akan membuatku takut sama sekali.

Dan benar kan! Aku berani. Aku memang anak pemberani sebenarnya. Mana ada bocah lelaki yang penakut? Tidak ada. Ya, kalau memang ada bocah lelaki penakut, ya pastinya itu aku. Tapi tidak juga ah. Aku hanya takut sama kegelapan, setan - setan yang diceritakan Eyang-kung, selebihnya aku berani sama semua hal. Kecuali juga pada api, kolam renang, ketinggian, dan kalau dihitung - hitung banyak juga yang aku takuti. Begitulah nyatanya, aku mungkin memang bocah lelaki pengecut. Huft.

Eyang-kung melanjutkan ceritanya sambil duduk dikursi malas,"jadi karena Eyang ini keturunan dari Eyang Putri Sekar Pembayun, makanya Eyang dapet warisan keramat. Warisan yang diberikan pada anak lelaki pertama dikeluarga kita. Karena Eyang hanya punya tiga orang anak perempuan, maka warisan ini masih Eyang jaga sampai sekarang."

"Warisannya apa yang?"tanyaku penasaran.

"Keris, le. Keris. Keris peninggalan dari Eyang Putri Sekar Pembayun. Karena Eyang Putri ini perempuan jadine harus dijaga sama pengawal - pengawal laki - laki. Salah satunya itu dijadikan keris ini. Pengawal Eyang Putri yang paling setia," kata Eyang-kung bangga lalu melanjutkan sambil berbisik, "kamu bisa bayangken kalau roh manusia dimasuken ke dalem keris, le?"

Aku bergidik ngeri membayangkan bagaimana roh yang dimaksud Eyang-kung masuk ke dalam keris ini. Itu sama artinya dengan....????????

"Iya, le. Keris ini hidup! Jadi jangan macam-macam kamu kalau nda'k mau kena sial!" sahut Eyang-kung seraya menjawab pertanyaan yang kulontarkan lewat ekspresi wajah.

Aku menatap keris itu lekat-lekat. Tidak ada yang tampak berbeda dengan senjata keris pada umumnya. Berbentuk runcing dan bergelombang di kanan-kirinya. Benda itu dilapisi emas sehingga tampak berkilauan tertimpa sinar matahari. Dibagian pegangannya terdapat sebuah lapisan yang lebih tebal dan tampak ukiran indah.

Sejak dahulu kala, orang Jawa memang sudah dikenal memiliki kebudayaan yang tinggi. Hal itu terbukti jelas dari peninggalan candi yang tersebar di kepulauan Jawa beserta daerah luar Jawa yang pada dahulu kala juga merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Jawa. Kebudayaan itu juga menular hingga ke Kamboja, Thailand, Philipina, hingga China. Bisa disimpulkan kebudayaan Jawa juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan budaya lainnya. Wajar saja kalau begitu Eyang-kung bangga terhadap tanah leluhurnya. Ia bahkan sering marah-marah jikalau saat ini banyak orang Jawa yang tidak tahu sama sekali mengenai makna dari ritual yang dilakukan secara turun-temurun.

"Jadi yang-kung, keris ini betulan hidup?" tanyaku memecah keheningan yang mengganjal diantara kami. Eyang-kung yang sedang asik menggenggam keris sambil mengagumi warisan keluarganya itu kemudian menatapku.

"Iya, le. Pastinya!"

"Kalau begitu Eyang-kung tahu dan percaya darimana keris ini hidup? Eyang-kung pernah buktikan tidak?" tanyaku datar.

Namun ternyata pertanyaan 'datar' ku tadi bukanlah hal yang 'datar' pula bagi Eyang Kakung. Ia menatapku tajam seakan pertanyaanku ini konyol.

"Le, terkadang kita tidak harus melihat langsung terhadap sebuah kebenaran. Kita cukup percaya saja dan mengikuti pesan orang tua untuk menjaga benda pusaka. Nurut, le yang penting. Orang tua bilang jaga ya jaga. Bilang hancurken yah mau tidak mau hancurken. Kalau sudah jadi anak penurut, pastinya hidupnya nanti lancar dan murah rezeki," kata Eyang-kung tajam. Keliatan dari wajahnya ia tampak tersinggung.

Aku yakin 1000% sekarang. Segala keunggulan keris sakti yang ia sebut aji-aji belum terbukti. Walaupun aku anak kecil dan penakut bukan berarti semua orang bisa menjejaliku dengan cerita seram. Aku ini anak kecil kritis dan aku akan selalu bertanya jikalau ada hal-hal yang tidak masuk akal.

"Tapi, yang. Masa Eyang-kung masih percaya saja cerita orang tua kalau Eyang-kung sendiri enggak pernah melihat bukti keris ini sakti! Eyang-kung kan sekarang sudah tua. Berarti seharusnya kata-kata Eyang-kung yang didengarkan oleh aku dan cucu-cucu lainnya. Eyang-kung sendiri saja tidak bisa membuktikan kebenaran kesaktian keris itu! Bagaimana aku bisa percaya cerita Eyang-kung ini benar?" kataku setengah ngotot dan entah darimana aku dapatkan keberanian menentang Eyang sampe sejauh ini. Menyanggah pernyataan Eyang sama artinya kau akan mendapatkan musibah lebih jauh. Ia akan mengoceh hingga esok pagi atau bahkan berminggu-minggu kemudian mengungkit susahnya kau jadi cucu.

Anehnya Eyang-kung tidak berdebat lagi! Ia memilih menghela nafas panjang sambil melamun. Lama kutunggu jawaban darinya. Hingga akhirnya ia mengeluarkan suara, "yah, le. Kamu lihat saja nanti soal kebenarannya. Kamu memang bukan cucu laki-laki pertama Eyang-kung. Tapi kamu cucu Eyang yang paling pintar dan mencintai warisan leluhur. Suatu hari nanti kamu akan tahu. Keris ini pilih kamu buat jadi penjaga," katanya kemudian diakhiri senyum misterius.

Aku memutuskan diam kali ini. Ada baiknya aku tidak menjadi anak kecil sok tahu. Lagipula, mungkin ceritanya Eyang-kung simpan karena terlampau menakutkan. Tapi, apa maksudnya pilih aku jadi penjaga? Aku penasaran dan ingin kutanyakan lebih lanjut padanya. Namun tiba-tiba suara klakson mobil berbunyi. Ibu dan Eyang Putri telah kembali. Ia meminta aku membukakan pintu pagar pastinya. Aku pamit pada Eyang-kung dan kemudian berlari keluar. Rasa penasaranku belum terpecahkan.


                                                                                *

Malam harinya aku menginap dirumah Eyang. Ibu masih bertengkar dengan Ayah dan bersikeras tidak ingin kembali kerumah. Maka sudah dipastikan aku menjadi korban mengawal Ibu dan bertugas melaporkan keadaan Ibu secara diam-diam kepada Ayah. Sungguh menyulitkan menjadi seorang anak.

Aku tidak bisa tidur nyenyak. Bukan karena Ibu mendengkur dalam desisan seperti ular disebelahku. Tapi, seperti biasanya ketika cerita horror usai diceritakan. Aku takut! Aku mati kutu dan tidak berani membuka mataku sebentar saja walaupun aku sama sekali tidak mengantuk. Rumah Eyang adalah rumah orang Jawa yang penuh dengan ornamen-ornamen ke-Jawa-an. Sungguh menambah horror keadaan dalam benakku. Ingin rasanya aku membuka mata tapi aku terlalu takut.

Suara-suara tampak beradu pelan ditelingaku. Antara suara dengkur Ibuku dan juga suara angin yang mengenai dedauan diluar. Jendela dikamar ini sungguh besar dan menakutkan kalau malam hari. Gorden putihnya seakan bayangan seram bisa terpantul disana.

Suara bising itu makin keras dan aku tidak tahan. Kuputuskan aku untuk membuka mata. Kosong. Gelap. Ya, karena ini malam hari. Aku lega dan kuseka peluh keringat dari dahiku. Namun, tiba-tiba suara itu terdengar makin keras. Sungguh mengganggu telingaku! Kuputuskan untuk bangkit dari tempat tidur dan mencari tahu suara apa itu. Rasa takutku tergantikan oleh rasa kesalku.

Aku berjalan dalam kegelapan. Entah keberanian darimana aku bisa menaklukan rasa takutku. Tiba-tiba 'PRAAANNGGG" suara benda terjatuh begitu keras. Aku mencari-cari sakelar untuk menyalakan lampu namun tidak ketemu. Sebuah cahaya putih kebiruan tampak didepanku dan membuatku dapat melihat keris sakti Kakek jatuh dari tempatnya. Aku mengambilnya dari lantai dan mengelusnya seakan kucing peliharaan. Tapi, tunggu. Cahaya putih apa itu? Mataku mengikuti cahaya itu dan Ya, Tuhan.

Aku berteriak tapi suaraku tidak keluar. Cahaya itu, cahaya makhluk yang aku tidak tahu. Bentuknya serupa manusia dan ia mengenakan pakaian tradisional Jawa. Ia pria bertubuh besar dan menggunakan Blankon di kepalanya. Tubuhnya tembus pandang dan aku tahu benar kalau dia makhluk halus. Aku memandangnya tajam tapi makhluk itu tidak bersuara apa-apa. Ia tidak mengganggu sama sekali bahkan hanya memandangiku dalam tatapan sendu.

Terima kasih telah membebaskanku, le. Terima kasih telah menggantikan posisiku.

Sebuah suara nyaring terdengar. Bersamaan dengan itu tubuh makhluk halus itu berpendar terang lalu lenyap seperti asap yang terbang melayang. Aku masih menatap ruang kosong tempatnya makhluk tadi berdiri. Aku bangkit sambil mengangkat keris tersebut dan mengembalikannya ke tempat semula. Namun, sebuah sinar kini kembali muncul. Bukan dari arah depanku melainkan dari tubuhku! Kurasakan tubuhku seringan kapas dan aku tidak melangkah dengan kakiku melainkan lewat pikiranku.

Konon setelah kejadian itu, aku bisa mengawasi seluruh keluargaku. Aku bisa melihat Ibu dan Ayahku meninggal dunia dan saudara-saudaraku menikah dan memiliki keturunan. Aku tetap ditempat yang sama. Menggenggam keris warisan keluarga sambil terus berdoa kalau saja ada sanak keluargaku yang layak menggantikan posisiku.


                                                                              ***

Tidak ada komentar: