Minggu, 02 Desember 2012

Eksistensi Tuhan

Aku sering merenungi tentang eksistensi Tuhan. Bagi sebagian besar agama, mempertanyakan Tuhan adalah tabu. Tapi aku tak peduli kata mereka soal larangan. Jika Tuhan memang ada dan ia menganugerahkan manusia sebagai makhluk berakal maka artinya aku diizinkan menggunakan akal ku untuk berpikir tentang dia. Itu pemikiranku yang pertama tentang Tuhan dan aku rasa Tuhan tidak akan membenciku mempertanyakan keberadaannya. Sebab jika orang tua yang penuh kasih saja tidak akan tega berlama-lama pergi dari anak yang dikasihinya, aku rasa Tuhan akan lebih mengasihi dengan caranya yang luar biasa.

Setiap waktu dalam nafas aku habiskan untuk mempertanyakan tentang jati diri. Hingga akhirnya suatu hari aku kemudian sadar bahwa aku salah. Selama ini aku tidak bertanya kepada Tuhan. Aku hanya bertanya kepada diriku sendiri Yah, memang begitulah aku yang senantiasa asik sendiri. Akhirnya aku mulai mencoba berdiam diri lalu mencari sesuatu yang membuat aku puas dan tergenapi. Aku harus memilih agama, setidaknya itu yang mereka bilang jika ingin bertemu Tuhan.

Dalam blog ini aku tidak akan menyinggung satu dua agama tertentu. Baik dari cara mereka beribadah maupun cara pandang mereka ketika mendefinisikan ajaran agama. Aku hanya sedang ingin berbagi kepada siapa saja yang sebenarnya jati dirinya tak kunjung ketemu saat usia menjelang senja. Aku bukan orang yang menyukai peperangan atau mudah dihasut untuk perang agama. Aku cinta kalian semua, duhai sahabat dunia maya. Maka ku tulis blog ini dengan maksud aku sedang bercerita kepada dunia, kepada siapapun yang mau membaca.

Aku pernah mengembara. Mencicipi berbagai agama. Bukan dari sisi dogma yang membuat buta namun dari keaslian ajaran agamanya. Satu yang ku percaya bahwa mereka para pembawa agama hanya ingin murid-muridnya dapat menjalankan aturan agama dengan baik dan benar. Meneruskan hingga ke anak cucu dan turunan mereka tanpa ada jeda atau binasa. Semua benar hanya saja banyak juga yang merasa paling benar hingga akhirnya harus melalui penyebaran agama yang penuh derai air mata dan tumpah darah. Miris! Saat kau terlahir ke dunia dengan bakat dan anugerah dari Tuhan lalu kemudian dipercaya oleh Tuhan untuk menyebarkan wahyu Tuhan, itu sama artinya kau dipercaya pula untuk menyebarkan cinta kasih universal bukan dengan pedang atau kuasa. Ada cara yang lebih bijaksana dan baik hati bukan? Yang bisa kau pakai untuk 'meluruskan' jalan orang lain jika yang kau pikir jalan yang mereka lalui adalah salah.

Tapi benarkah ada jalan Tuhan yang salah atau belum sempurna? Tuhan sendiri saja sudah sempurna. Tentu ajaran Tuhan pun sempurna juga pastinya. Dan apakah mungkin Tuhan akan memberikan jalan yang salah sehingga mereka yang menghakimi yang lain berhak untuk menyalahkan jalan Tuhan? Tidak tentu tidak sahabat ku yang baik. Kalian semua adalah makhluk Tuhan. Percikan Tuhan yang Maha Sempurna. Disisi yang kau anggap salah itu pastinya ada sisi baik yang seperti Tuhan. Bukan aku sedang menyamakan diri dengan Tuhan. Bukan, bukan begitu. Tapi coba sadari, jika kau makhluk Tuhan, kau pasti di ciptakan mengikuti beberapa sifat Tuhan. Seperti halnya manusia jaman sekarang yang tiada habisnya mengembangkan teknologi untuk menyamai pintarnya dengan manusia! Mengapa manusia? Sebab para ilmuan cerdas itu tahu betul potensi manusia yang merupakan makhluk Tuhan! Mereka tahu manusia mampu menampung berbagai informasi, maka kemudian ditemukanlah alat yang mampu menandingi kecerdasan manusia. Kalian makhluk Tuhan yang pastinya tidak jauh sifat baiknya dengan Tuhan.

Lantas mengapa begitu banyak tindak kejahatan di dunia? Itukah cara Tuhan menghakimi kita? Itu juga salah satu pertanyaan yang senantiasa menggelitik nalar. Mereka manusia yang katanya adalah ciptaan Tuhan, bertindak sesuka hati mereka seolah-olah mereka mencerminkan Tuhan. Mereka merencanakan perang, membunuh jenis mereka sendiri, mereka tidak berbagi, mereka memfitnah, mencaci, dan melakukan apapun perbuatan yang merugikan makhluk-makhluk Tuhan yang lainnya. Benarkah kalau begitu manusia ciptaan Tuhan? Atau benarkan Tuhan itu memiliki sifat baik jika saja manusia yang ia ciptakan mampu mencerminkan kejahatan terhadap dunia?

Melalui berbagai isu politik, SARA, atau isu-isu lainnya mereka merasa paling benar. Mereka menghakimi dan seolah palu hakim yang tak kasat mata itu mampu menyudutkan yang ini salah dan yang itu benar. Mereka menghilangkan kemanusiaan sehingga memperlakukan manusia lain dengan cara tak manusiawi. Bahkan bukan melalui cara hewan juga sebab banyak hewan diluar sana yang mendapatkan perlakukan lebih baik ketimbang manusia. Bukan sedang tidak adil dengan hewan-hewan. Mereka juga makhluk yang memiliki kepantasan untuk diberikan cinta kasih. Tapi yang dibicarakan saat ini adalah manusia yang berperilaku lebih rendah dari hewan ganas sekalipun. Dan blog ini tidak akan melebar kepada persoalan hewan, jadi kembali ke duduk perkara.

Dimanakah Tuhan saat manusia hidup dalam pertengkaran? Tidakkah Tuhan coba hentikan segala yang telah mereka mulai? Apakah ini bagian dari rencanamu untuk meniadakan manusia yang lainnya demi mempertahankan manusia yang lainnya? Mungkinkah Tuhan berencana digantikan oleh mereka manusia yang bertindak selayaknya Tuhan hingga tega memutuskan yang ini pantas hidup yang lainnya mati?

Aku sudah bosan merenung dan bosan pula mengembara. Jawaban lantas tak ditemukan seiring jaman manusia makin gila akan kuasa hingga mereka mampu menghilangkan nyawa. Aku bukan lagi merasa bijaksana tapi masih adakah manusia yang peka akan derita sesama? Manusia yang mampu mengilhami siapa saja hingga akhirnya kemudian semua menyadari. Oh ini yah sifat murni manusia. Sifat mengasihi yang sudah mengalir dalam diri manusia. Contoh kecilnya nafas manusia. Makhluk manusia tidak semata-mata menghirup oksigen dalam udara. Mereka juga harus mengeluarkannya bersama karbon dioksida yang dihasilkan oleh metabolisme tubuh. Kemudian karbon dioksida itu bercampur baur sebagai bahan bakar fotosintesis tumbuh-tumbuhan. Itulah manusia yang memiliki bakat mengasihi dan berbagi.

Seiring waktu aku menjamah cerita, pada akhirnya aku putus asa. Pada eksistensi Tuhan yang kucari. Pada sosok yang ingin kutanyai. Sosok? Jikalau Tuhan sosok, samakah artinya Tuhan hanyalah makhluk seperti halnya manusia. Kucermati bahasa Indonesia, lalu aku tersenyum simpul. Pantas saja Ir. Soekarno Bapak Presiden kita yang pertama merumuskan kata-kata dengan cara yang bijaksana luar biasa. Ia tidak hanya memikirkan tapi juga memahami sebuah kalimat yang dicantumkan dalam Pancasila.

Sila ke satu : "Ketuhanan yang Maha Esa"

Sudahkah kalian sadar akan maknanya? Ir. Soekarno tidak merumuskan menjadi "Tuhan yang Maha Esa". Aku tidak merasa paling benar mengartikan kalimatnya tapi 'Tuhan' berarti kata benda dan 'Ketuhanan' seperti halnya 'Kebijaksanaan' atau 'Kejahatan' adalah kata sifat. Yah, kata sifat! Pancasila kunci segalanya. Dan tak perlu aku mencari lagi aku tahu bahwa segalanya adalah menyangkut soal sifat. Sifat 'Ketuhanan' yang mendiami siapa saja. Bukan soal siapa Tuhan atau dimana Tuhan, kini aku mengerti. Tapi bagaimana menjadi manusia yang memiliki sifat Ketuhanan yaitu saat kau mampu mengasihi tanpa batas melalui cara baik dan benar.




-disudutkota-
kepada mereka yang mencari Tuhan
011212

Tidak ada komentar: