Senin, 03 Desember 2012

Pasal 156

Pasal 156
Pernyataan Perasaan Permusuhan, Kebencian dan Penghinaan Golongan
'Barangsiapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.'

Lantas mengapa masih banyak kasus kejahatan mengenai diskriminasi antar golongan masih terjadi di negeri ini, di tempat di mana aku dilahirkan. Indonesia yang lahir berdasarkan azas Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Jika diartikan maka kita bisa ketahui artinya dalam bahasa Indonesia ialah "Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran".

Bukan hanya moto bangsa ini yang seharusnya mampu menaklukan kebencian antar golongan. Tapi hukum yang ditegakan dilapisan masyarakat seharusnya mengilhami siapa saja untuk taat akan peraturan. Kebencian hati tidak dapat digurui oleh sistem apapun, tapi kita hidup bukan hanya sendiri. Kita dikelilingi oleh orang-orang dari berbagai persepsi. Sehingga bukankah lebih indah jika kita saling mengasihi dalam segala perbedaan duniawi?

Atau mungkin hukum yang terlalu mudah dibeli? Yang pada akhirnya siapa saja bisa menjual diri tak berpikir dua kali. Demi keuntungan semata dan masing-masing pribadi, mereka yang berkuasa mampu mengadili. Miris benar bangsa ini! Bung Karno pasti akan menangis saat mereka yang katanya mengusung Demokrasi malah kembali memasung kemerdekaan berpikir atas nama kebenaran prinsip bagi mereka sendiri.  Pastilah sedih semua orang tua yang telah mati. Anak cucu harus bertengkar disana-sini, menganggap paling benar sendiri.

Dimanakah hati nurani? Saat sesama manusia saling membantai terlebih yang dibantai adalah sesama bangsa kita, bangsa Indonesia.

kenangan'98 - JL


Kupandangi sekali lagi hasil tulisanku. Berkali-kali. Walaupun sejujurnya aku hanya membacanya sekali. Kepala redaksi majalah "Waktu" memintaku menulis lagi sejak tulisanku yang pertama berjudul 'Mahasiswa dan Mabuk-mabukan' dimuat minggu lalu. Hanya dikolom kecil sebenarnya. Kolom yang disisakan untuk penulis pemula yang haus akan pengalaman jurnalistik. Boleh berupa memoar atau deskripsi mengenai suatu hal. Tulisanku kemarin panjang lebar dan penuh celoteh soal mahasiswa dan partisipasi mereka didalam perkembangan negara yang nyatanya mereka terlalu sibuk 'mabuk-mabukan' akan segala kemajuan dunia. Dan entah mengapa, aku agak kurang puas melihat tulisanku saat ini.

Mungkin karena faktor terlalu singkat dan terbawa perasaan sensitif mengenai hati nurani, aku jadi merasa geli sendiri. Jude Liam, pria tangguh yang bisa Taekwondo menulis di artikel sisa yang hanya menekankan pada persoalan hati nurani. Tanpa bukti otentik atau membahas mengenai kejadiannya secara mendetail, aku hanya mampu menulis sampai itu saja. Bagian yang akhirnya menunjukkan bahwa aku adalah manusia sensitif. Sungguh sangat tidak jurnalistik sekali, pikirku.

Sebenarnya aku ingin menulis detail kejadian tahun 1998. Saat Reformasi terjadi menggantikan panggung Orde Baru. Saat mahasiswa mampu mengkudeta pemerintah walau aku tahu ada 'mereka' dibalik kerusuhan tersebut. Dan meskipun mahasiswa jadi boneka, tetap saja membuat kita merdeka. Lepas dari sebuah pemerintahan diktator dan mampu beraspirasi disetiap forum umum. Kita merasakan aura yang lebih manusia.

Sepuluh tahun kemudian dari gebrakan Reformasi itu, aku terlahir ke dunia. Menjalani kehidupan hingga akhirnya kini usiaku menginjak 25 tahun. Informasi mengenai kenangan 1998, hanya kudapatkan dari tempatku mengeyam pendidikan kuliah. Tak ada lagi yang membicarakan. Padahal kejadian itu merupakan sejarah berdarah. Dimana, fokus yang membuat aku tertarik, bukanlah saat mahasiswa ditembaki. Tapi lebih kepada penganiayaan terhadap golongan tertentu. Etnis tionghoa menjadi korban dan seolah-olah pribumi yang menjatuhkan.

Direntang waktu yang belum mencapai 100 tahun, sudah banyak yang berubah dari dunia. Pelajaran sejarah yang jadi favorite sejak aku bisa baca, nyatanya tidak pernah menjadi pelajaran favorite dibandingkan dengan pelajaran Teknologi dan aku harus mengais-ngais informasi demi idealismeku sebagai jurnalis sejarah dan humanis dibandingkan jurnalis yang melulu menggembar-gemborkan berita teknologi dan politik. Mereka para pembuat kurikulum itu menekankan pentingnya kemajuan berpikir dan perkembangan teknologi, namun berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa jiwa mereka tak bernurani, ibarat robot.

Di jaman aku hidup sekarang, berbagai percobaan biologi diterapkan kepada manusia secara langsung. Bukan lagi kepada hewan dan itu dilakukan secara terang-terangan tanpa ditutupi sama sekali! Lebih gilanya lagi, mungkin hanya aku dan segelintir orang yang menganggap percobaan terhadap manusia itu hal yang kejam. Sisanya yang lebih banyak merasa apa yang mereka lakukan adalah benar dan sudah selayaknya terjadi. Mereka menggunakan para gembel jalanan yang tidak punya perlindungan itu sebagai bahan percobaan obat-obatan. Ada yang bilang organ tubuh merekapun dicuri tanpa dibeli. Seolah gembel saja tidak punya hak untuk hidup! Kembali ke pasal 156, dimanakah keadilan terjadi?

Maka dari itulah, aku mengangkat pasal 156 sebagai tema tulisanku. Pasal Pidana 156 yang belum di amandemen hingga aku seusia sekarang. Kemajuan Teknologi tidak menarik minatku, aku lebih bahagia jika aku menulis tentang manusia dari sisi analisis. Tapi aku tidak tahu kenapa tulisanku yang ini lebih terkesan sensitif, yah aku mengingatkan diriku lagi. Semua ini karena minimnya informasi yang kudapatkan.

Kupandangi arlojiku. Sudah pukul dua malam tapi diluar masih terang benderang. Jakarta telah berubah drastis seperti yang ada digambar tiga puluh tahun lalu. Kota ini tak pernah tidur dan disetiap sudut kota dipasangi lampu-lampu warna-warni yang terang benderang. Manusia pun lebih sibuk. Mereka bekerja mulai pukul delapan pagi hingga delapan malam, lalu berjalan-jalan dan menikmati midnight sale dimana-mana yang terjadi setiap hari. Entah apa yang mereka cari tapi manusia seolah tak pernah lelah akan dunia.

Ibuku pernah bilang, bahwa suatu hari bangsa manusia akan lenyap dari dunia. Suatu hari nanti yang entah kapan. Tapi melihat kenyataan betapa eksisnya manusia saat ini aku jadi ragu apakah kata-kata ibuku bisa dipercaya. Ibuku asli orang Jawa. Entah benar-benar asli atau tidak tapi setidaknya ia diberitahu begitu. Sebab imigrasi manusia mampu menciptakan percampuran suku dan bangsa yang baru, itu yang kutahu. Namun, karena ibuku sejak lahir sudah di Jawa, maka ia mengaku orang Jawa. Ayahku percampuran orang Tionghoa dan Jerman. Ibunya adalah keturunan orang Tionghoa yang sudah sejak lama di Indonesia, sedangkan Ayahnya ayahku adalah seorang militer Jerman yang kala itu datang ke Indonesia karena pelarian. Ia bercampur baur dengan keluarga nenekku hingga akhirnya lahirlah ayahku. Ayahku sendiri juga masuk militer waktu muda dulu. Kakek bangga sekali padanya. Aku aneh jika mendengar ceritanya. Bagaimana kakek bisa bangga akan ayah jikalau ia saja lari dari militer?

Tapi, tak pernah sekalipun kakek menjawab jika aku bertanya demikian. Ia hanya akan menyunggingkan senyum misterius dan berkata  Homo Homini Lupus, sebuah ungkapan Latin yang berarti 'Manusia adalah Serigala bagi sesama Manusia'. Hingga kini aku tak benar-benar mengerti kenapa kakek menjawab demikian dan apa kaitannya dengan ayah yang masuk militer?

Tiba-tiba alarm kota berbunyi. Alarm yang sudah ada sejak sepuluh tahun lalu. Tanda yang dibuat atas perintah pemerintah pusat disetiap daerah ibukota untuk memperingatkan masyarakat dan tak pernah sekalipun alarm kota berbunyi sejak berdiri. Hanya beberapa kali saat kita melakukan latihan evakuasi. Entah evakuasi untuk apa, aku sering bertanya tapi tak ada yang menjawab.

"PERSIAPAN KEPADA WARGA IBUKOTA. SEKALI LAGI PERSIAPAN KEPADA WARGA IBUKOTA. KOTA INI AKAN DIJADIKAN SEBAGAI PERCOBAAN SENJATA. DIHARAPKAN WARGA MENJERIT KERAS JIKA MEMANG KALIAN TERLUKA. PINTU KOTA TELAH DITUTUP. TAK ADA SATUPUN YANG BERHAK KELUAR", raung sebuah suara membelah malam sambil setengah tertawa.

Aku terdiam mengingat kata-kata kakek. Homo Homini Lupus. Baiklah kalau begitu, ucapku dalam hati sambil menangis.



tahun 2033 -di suatu zaman- 

Tidak ada komentar: