Sabtu, 01 Desember 2012

Pena dan Kertas

Itulah alasannya mengapa aku senang menyendiri. Baik di siang hari yang dimandikan cahaya mentari, maupun malam hari saat bulan mengintip dibalik awan kelabu. Aku tak butuh semua kata rayu yang disisipkan dalam lapisan merindu. Aku hanya perlu kepastian yang selalu didamba dedaunan saat hujan mulai turun. Aku tak perlu segala yang kau bisikan lewat sayatan rindu. Aku hanya butuh hadirmu yang sering kau satukan dalam gumpalan manis kata-kata cemburu.

Maka dari itu, kutuliskan sebuah surat untukmu. Surat yang terdiri dari huruf-huruf yang membentuk sebuah aksara nan jemu yang kupaksakan agar saling menyatu hanya untukmu. Mereka juga tak mau sebenarnya jika hadir hanya untuk mencacimu. Mereka hanya suka jika dituliskan untuk memujamu. Tapi pantaskah aku memujamu jika saja rindu yang kau picu ini harus mati sebelum jumpa?

Jemariku sudah tak sabar ingin mengartikan kamu, sebab sesak rasanya jika gemetar di dada sulit diungkap. Sakit rasanya kepala ini jika aku tak mampu memeluk raga. Jadi yang kubutuhkan saat ini hanya pena dan secarik kertas kosong yang nantinya akan penuh akan sumpah serapah.

Ku mulai menulis satu kata untuk mu. C-I-N-T-A. Lagi-lagi cinta dan lagi-lagi lantas kecewa. Aku seringkali tak memahami bagaimana perasaan berlawanan itu dapat hadir bersamaan, setiap kali. Inikah garis karma yang harus dijalani? Aku diam saat mencoba merenungi. Namun, semakin ku coba selami aku semakin ingin mati. Baiklah, kalau begitu. Mari lanjutkan menulis tanpa perlu harus memiliki asa.

Aku gemetar. Entah karena aku kecewa atau karena aku bahagia. Yang jelas aku ingin binasa. Dari segala yang ku cipta saat aku mulai percaya pada janji-janji yang tampak tulus saat kita baru jumpa. Kau yakin akan yang kau rasa. aku hanya diam tak percaya. Kau salami sepi yang menyatu dalam jiwaku, aku hanya diam membatu. Kau ulangi segalanya berkali-kali, aku akhirnya tak kuat lagi. Kujelajahi penasaran hingga sampailah aku terjebak diruang rasa.

Aku benci harus mengingat semua tapi apa daya kepalaku sudah penuh akan duka. Aku hanya ingin melepas cara aku menderita, perlahan. Lewat cerita yang kuhasilkan dari pena dan kertas yang bercengkrama. Tak perlu teh hangat atau cemilan sore santai, mereka berdua saja sudah cukup mengantarku kembali kepada nyata. Aku ingin menghasilkan sebuah cerita hingga akhirnya nanti banyak yang jengah. Akan sebuah rasa yang senantiasa mereka pasung dalam sastra.

C-I-N-T-A. Lagi-lagi hanya kata itu yang kutulis di kertas. Mungkin pena yang kupakai nyaris habis tintanya hingga aku tak mampu lagi menulis kata. Bukan. Bukan seperti itu. Otakmu yang telah buntu hingga kamu tak bisa menghasilkan lagi kata yang mampu kau analogikan untuk dia -kata diriku kepada aku. Lantas akhirnya aku diam membisu. Hanya inikah yang mampu aku hasilkan sedangkan seringkali aku mengamati dunia? C-I-N-T-A. Lagi-lagi kata itu yang kutulis hingga mungkin saja aku nyaris gila?

Inilah alasan aku senang menyendiri. Dari hingar bingar manusia yang senantiasa mencari. Aku tak mampu membagi. Sebab aku selalu meninggalkan diriku saat mulai mencintai.



-dikota hujan-
011212

Tidak ada komentar: