Kamis, 31 Januari 2013

Sekilas Info BB Cream

Eh elo pake BB Cream, yah?
Hah, apa? Blackberry Cream? Keluaran terbaru yah dari RIM? Yang gue tahu itu BB Onyx, Dakota, Torch,...
BUKAN!!!!!

Mungkin teman-teman pernah dengar sekilas tentang sebutan BB Cream. Kayaknya kalau jaman sekarang enggak pernah denger tentang BB Cream, kalian mesti banyak-banyak baca buku atau browsing di internet. Jangan sampai disangka Blackberry betulan.

BB Cream yang saya maksud adalah Blemish Balm Cream atau Beauty Balm Cream adalah sejenis cream wajah yang digunakan oleh para artis korea atau wanita-wanita sebagai krim sehari-hari bahkan para pria juga menggunakan BB Cream sebagai krim penghalus wajah. Untuk info lebih jauh bisa klik di sini SEJARAH BB CREAM.

Di Indonesia, BB Cream juga lagi nge-trend. Entah karena pengaruh Korean Wave atau memang BB Cream sudah in duluan, saya sendiri kurang tahu. Sebab awalnya saya kurang peduli sama make-up yang satu ini. Tapi, karena kebetulan saya bekerja di sebuah Bank Korea dan salah satu teman saya ini di kirim ke Korea Selatan untuk mengikuti sebuah training, doi heboh sama BB Cream dan tanya-tanya siapa aja yang mau nitip BB Cream di sana.

Saya awalnya tidak berani mencoba produk tersebut. Meski melihat kenyataan artis-artis korea mulus habis bahkan laler pun bisa kepleset, saya tetep kekeuh dengan pendirian untuk pakai bedak three-way-cake untuk make-up ke kantor. Namun, berhubung saya pernah kena cacar air pada 2010 silam dan karena cacar saya harus menggunakan obat dokter untuk menghilangkan bekasnya. Otomatis setelah saya berhenti menggunakan obat dokter, muka saja jadi ada jerawat-jerawat kecil-kecil. Saya sering garuk-garuk atau kopek-kopek bahasa slang-nya, alhasil ada banyak bekas jerawat di sana-sini. Dan untuk menyelesaikan problem menutupi bekas jerawat itu tidak cukup pakai bedak.

Saya pikir BB Cream import dari Korea langsung itu pasti harganya selangit. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli BB Cream di Indonesia tapi made in Korea juga -_____- dan ternyata harganya jauhhhhh lebih mahal!!

Saya ini orang suka coba-coba. Tidak begitu saja percaya sama kabar burung yang beredar soal BB Cream, maka saya putuskan untuk membeli beberapa produk BB Cream. Untuk mengetahui mana yang lebih cocok untuk kulit saya. Berikut beberapa hasil observasi saya terhadap BB Cream.




Ini adalah BB Cream pertama saya yang saya beli karena harganya lumayan terjangkau diantara BB Cream yang lain. Ditambah saya punya member card The FaceShop jadi lebih murah lagi. Awalnya saya ragu pakai produk Faceshop lagi. Pasalnya, dulu untuk mengobati bekas cacar saya pakai produk keluaran Faceshop yang memiliki kandungan Hydra. Kata mbak-mbaknya sih bagus dan kandungan airnya tinggi jadi bisa bikin muka kenyal. Tapi, nyatanya? Toeeeng.. Muka saya jadi hitam dan bekas cacarnya cuek aja nempel di muka saya. Maka dari itu Faceshop sudah blacklist dari daftar saya. Namun, berhubung saya penasaran sama BB Cream jadi saya coba produk yang paling murah meriah saja.
Ternyata harga memang enggak pernah bohong dan sejak awal juga mbak-mbaknya bilang kalau BB Cream ini enggak meng-cover bekas jerawat jadi artinya bekas-bekas jerawat saya enggak akan ketutup sempurna. Berhubung saya masih lugu dan mungkin telmi, jadi saya pikir yah namanya juga BB Cream. Walaupun enggak bisa meng-cover tapi pasti bisa bikin kinclong juga.



Hasilnya?
Wah enggak lagi-lagi deh. Meskipun tertera disitu ada kandungan SPF 20 PA++, BB Cream Lovely ME:EX memang enggak cocok di muka saya! Entah kulit saya itu kayak kulit badak yang enggak pernah mempan pakai produk Faceshop atau memang Faceshop-nya yang memang enggak cocok di muka saya. Pakai BB Cream ini hanya seperti pakai bedak yang ada kandungan foundation-nya tapi dibasahin. Bisa dibayangin? Wajah saya jadi klimis-klimis enggak jelas dan menggumpal. Belum lagi warnanya yang enggak cocok sama skin tone saya, jadi makin aneh aja. Untuk saya pribadi sih enggak cocok pakai BB Cream ini dan sempat teman saya juga coba, siapa tahu di muka dia bagus. Tapi, toooeengg... Ternyata enggak juga. Malah jadi cokelat kayak habis tanning. Pokoknya saya enggak saranin untuk pakai BB Cream Lovely ME:EX, tapi kalau kalian memang penasaran sih enggak apa-apa, coba saja, biar bisa membuktikan langsung. Bagus syukur, kalau ancur ya syukurin. Hahaha.
Info Lainnya
Nama Produk   Lovely ME:EX Faceshop
SPF    20 PA++
Meng-Cover Bekas Jerawat/Tidak    Absolutely NO!
Ukuran  40 ml
Harga   Setelah discount member 20% jadi Rp. 103,000.-
Warna   Hanya satu warna Natural


Setelah gagal mencoba BB Cream yang pertama, saya tidak patah semangat dalam menjelajahi rasa penasaran saya. Dua hari kemudian, saya beli produk Korea lainnya keluaran ETUDE HOUSE yang pangsa pasarnya di Indonesia cukup happening. Bisa di lihat tokonya pasti nangkring di mall-mall. Seandainya enggak ada toko khusus, pasti masuk di matahari, dll.
Denger-denger dari banyak orang sih, Etude House bagus dan produknya cukup oke. Mengambil konsep princess yang lucu-lucu dan bikin gemes, memang cara marketing yang pas banget untuk menggaet pembeli macam saya yang suka latah untuk ngeborong karena alasan barang yang lucu-lucu. Alhasil saya akhirnya kena bujuk rayu mbak-mbaknya yang manis banget kayak gula Jawa untuk jadi member di sini  setelah pembelian 500 ribu rupiah berupa BB Cream dan Bedak Muka.





Hasilnya?
BB Cream ini better ketimbang yang sebelumnya! Daya cover-nya bisa diacungi jempol. Bekas-bekas jerawat saya tertutup dengan sempurna dan dikulit saya terlihat sempurna seperti asli. Cuma sebagus-bagusnya produk, masih ada kekurangannya. Kulit saya jadi tampak berminyak padahal jenis kulit saya tidak berminyak. Meskipun begitu saya bisa mengakali dengan bedak padat Etude House yang saya beli juga. Secara keseluruhan, BB Cream ini okelah untuk saya pribadi.
Info Lainnya
Nama Produk        Precious Mineral
SPF                        30/PA++
Meng-Cover Bekas Jerawat/Tidak     Cukup Mengesankan!
Ukuran                   60 ml
Harga                     Rp. 378,000
Warna                    Beberapa Pilihan Warna

Selain BB Cream-nya, saya juga ingin mengulas yang berkaitan dengan BB Cream dari Etude House.






Dari namanya, saya pikir ini adalah bahan untuk memasak, Baking Powder, tapi ternyata ini adalah sabun muka khusus BB Cream. Sabun ini saya beli sebagai hadiah dari cash back menjadi member di Etude House. Jadi seolah-olah saya tidak mengeluarkan uang tunai untuk sabun muka ini dan saya bisa menikmati produknya. Baking Powder BB Deep Cleansing Foam ini memiliki scrub yang relaif kecil namun mampu membersihkan BB Cream dengan cepat. Bau lemonnya membuat wajah jadi harum tapi sayangnya sabun muka ini tidak ada kandungan whitening jadi tidak bisa dipakai kapanpun. Lagipula saya pernah beberapa kali mencoba pakai sabun ini saat sedang tidak menggunakan BB Cream, hasilnya kulit saya malah jadi kering. Saya sarankan sih sabun ini, seperti namanya BB Deep Cleansing Foam, dipakai kalau kita lagi pakai BB Cream saja. Sebab scrub-nya mampu membersihkan BB Cream di wajah secara maksimal.
Info Lainnya
Nama Produk         Baking Powder BB Deep Cleansing Foam
Ukuran                   ± 150 ml
Harga                     Rp. 208,000


SHINI STAR CLEAR PACT




Bersama Precious Mineral BB Cream, saya membeli bedak padat ini agar menjadi member Etude House. Ukurannya mini dan lucu jadi saya tertarik selain karena harganya yang terjangkau dan juga bedak saya habis waktu itu. Kata mbak-mbaknya sih bedak ini termasuk ke dalam keluarga BB Cream Shini Star. Karena daya cover BB Cream Shini Star yang kurang kuat di banding Precious Mineral, jadi harus menggunakan bedak. Berhubung saya mau BB Cream yang meng-cover dan kalau tidak pakai bedak juga tidak masalah, jadi saya beli bedak ini hanya karena ingin jadi member Etude House. Bedak hanya berfungsi mengurangi minyaknya saja dan kalau BB Cream-nya warna light pakai bedaknya yang agak gelap biar balance.
Jujur saja, bedak ini sama sekali tidak berguna sebagai bedak betulan. Fungsinya seperti 'penggembira' saja. Ada yah boleh, tidak ada juga tidak masalah. Bedak ini hanya bisa menutupi minyak karena BB Cream tapi itu juga hanya bertahan beberapa saat saja.
Info Lebih Jauh
Nama Produk                    Shini Star Clear Pact
Ukuran                               ± 10 gr
Harga                                 Rp. 188,000


SILKY GIRL MAGIC BB CREAM
Ini adalah BB Cream ketiga yang saya beli. Berhubung Precious Mineral sedang dipinjam oleh tante saya, jadi saya beli BB Cream ini hanya karena mendesak. Saya sengaja membeli BB Cream buatan lokal karena selain mengingat harga yang bersahabat juga karena saya ingin mencoba produk dalam negeri. Katanya, BB Cream dari SilkyGirl ini cukup bagus diaplikasikan di wajah.




Hasilnya?
Kalau dilihat fungsinya yang All-In-One, tampaknya BB Cream ini sangat memuaskan. Tapi, kenyataannya di kulit saya nampak tidak sehebat itu. Meskipun meng-cover tetap saja bekas hitam pada jerawat kurang mampu ditutupi. Dan ketika digunakan, wajah saya tampak kegerahan akut, entah karena apa. BB Cream ini bagusnya digunakan di ruangan ber-AC karena kalau dipakai untuk outdoor malah tampak menggumpal. Namun, untuk yang baru mau coba-coba BB Cream sih, SilkyGirl lumayan oke.
Info Lainnya
Nama Produk       Magic BB Cream
SPF                       30/PA++
Meng-Cover Bekas Jerawat/Tidak     Lumayan Oke!
Ukuran                  40 ml
Harga                    Rp. 59,000
Warna                   2 pilihan warna (Natural dan Light)


Ini adalah BB Cream gratisan pertama saya. Waktu teman kantor saya ke Korea, saya merengek minta dibawakan oleh-oleh berupa BB Cream. Dia membawakan BB Cream ini, keluaran Nature Republic. Saya tidak tahu harganya kalau di Indonesia, cuma kalau cek disini Korea Depart bisa kelihatan harganya berapa.
Untuk tampilan BB Cream-nya cukup oke. Simple dan classy design tempatnya. BB Cream ini terbuat dari bunga-bunga jadi harum dan teksturnya juga lembut.



Hasilnya?
Saya tidak tahu apakah produk dari Korea yang dijual di Indonesia terdapat perbedaan jika kita beli di Korea langsung. Saya juga tahu kalau mungkin merek Nature Republic ini memang bagus. Yang jelas, BB Cream ini yang paling cocok untuk saya  diantara BB Cream lain yang saya pernah coba. Padahal Etude House Indonesia produknya import dari Korea, tapi Nature Republic yang dibeli langsung di Korea ini better! Kulit wajah saya jadi tampak dewy tapi tidak glossy. Bekas jerawatpun tertutup sempurna serta tidak terdapat penumpukan minyak kalau sudah dipakai lama. Dibawah terik mataharipun tidak jadi menggumpal dan justru semakin menyatu. Hanya saja jangan mengaplikasikannya bersamaan dengan bedak yang mengandung foundation sebab jika dibawah terik matahari malah akan terlihat sangat putih dan tidak alami.
Info Lainnya
Nama Produk                        By Flower BB Cream
SPF                                        35/PA++
Meng-Cover Bekas Jerawat/Tidak     Recommended!
Ukuran                                  35 ml
Harga                                      -
Warna                                      -



Well,
Setelah membaca beberapa review diatas, teman-teman mungkin bisa pikir-pikir dahulu sebelum membeli. Sebab bukan bermaksud menjelek-jelekkan suatu produk, cuma kita sebagai konsumen harus pintar-pintar dalam memilih produk yang kita gunakan. Iklan dan taktik marketing itu luar biasa mendoktrin kita untuk konsumtif tapi kembali lagi pada kecocokan. Tidak semua produk yang kelihatannya bagus dan mahal itu cocok di semua kulit penggunanya. Mencoba boleh-boleh saja tapi alangkah lebih baik jika kita bertanya-tanya dahulu sebelum mencoba langsung.

Saran saya sih, lebih bagus itu tidak menggunakan BB Cream sebab tampil alami itu lebih menyehatkan buat kulit kita. Tetapi, jika kalian memang memiliki masalah kulit seperti bekas jerawat yang tidak kunjung hilang (seperti saya) dan memiliki pekerjaan yang mengharuskan bertemu orang banyak (seperti saya juga) ada baiknya memang meng-cover kulit kalau sedang bermasalah. Namun, hanya untuk sementara bukan seterusnya. Sebab BB Cream nyatanya tidak bisa membuat berbagai masalah seperti jerawat, bintik hitam, pori-pori membesar, hilang. BB Cream hanya bertugas meng-cover sementara, setelah kita cuci muka maka kulit asli kita pun akan terlihat. Jadi semua iklan tentang BB Cream yang KATANYA bisa bikin wajah mulus kayak bintang Korea adalah BOHONG.

Ketimbang kita jadi ketergantungan terhadap produk kimiawi, lebih baik jika kita kembali ke alam untuk menjaga kulit. Seperti : banyak konsumsi sayuran, buah, minum air putih, serta cukup tidur dan olahraga atau meditasi, sejatinya dapat membuat kita rileks sehingga metabolisme tubuh akan bekerja dengan baik. Jika tubuh bekerja dengan baik maka akan menghasilkan perasaan tenang dan bahagia sehingga kulit pun akan terlihat cerah.

Sekali lagi, menggunakan produk komestik sah-sah saja. Asalkan tidak ketergantungan seperti banyak perempuan-perempuan jaman sekarang. Kalau memang perlu masker wajah, kita bisa saja menggunakan lidah buaya, madu, yogurt asli, atau alpukat dll ketimbang pakai masker-masker bungkusan yang kita beli di supermarket dengan brand-brand mahal. Selain hemat, kita juga tidak tergantung pada bahan-bahan kimia. Lagipula, Cherrybelle bilang, cantik itu dari hati. Ya, kan?

Jumat, 25 Januari 2013

Setahun Lalu Saat Aku Masih Kekasihmu

Seharusnya aku menulis ini beberapa hari yang lalu. Saat tepat tanggal 23 Januari, saat dimana pada hari itu kita tepat satu tahun merayakan yang mereka sebut Anniversary atau Hari Jadi. Tapi sudahlah. Waktu sudah berlalu dan kisah kasih kita yang awalnya aku pikir sebuah anugerah dunia, nyatanya sudah berlalu pula.

Aku menulis ini bukan karena aku masih mencintai kamu. Bukan pula karena kamu begitu baik sehingga kamu layak diceritakan kepada semua. Aku juga bukan sedang terjebak dalam masa lalu dan terkenang semua ingatan yang melumpuhkan segala nalar. Aku menulis ini karena fakta bahwa aku masih tetap hidup. Kenyataan bahwa aku tetap bertahan terhadap segala kepahitan yang pernah aku telan bulat-bulat saat kamu menjadi realita cerita. Sekaligus, aku menulis ini karena aku harus membagimu kepada semua, agar aku akhirnya lega kamu sudah masa lalu.

Awal kita bertemu, tentu kamu ingat, atau mungkin kamu telah lupa, jelas aku tidak peduli sebenarnya, namun aku masih ingat. Kita itu teman kerja, singkat. Kamu hanya bertahan mungkin dua bulan di kantor itu. Entahlah. Aku tidak terlalu tahu dan tidak ingin tahu. Sebab aku juga tidak terlalu mencari tahu tentang kamu. Kamu siapa sih? Aku anggap kamu cuma manusia biasa. Seperti halnya kebanyakan manusia yang aku kenal sepintas saja. Tanpa rasa dan semua berjalan biasa saja.

Namun, entah bagaimana cerita kita akhirnya terjalin. Seperti jalinan benang-benang yang menutup lubang-lubang di baju yang berlubang, kamu telah sukses menutup lubang sepi dalam ruang hatiku. Mungkin terdengar berlebihan dan menggelikan jika dibaca sekali lagi, tapi itulah nyatanya, setidaknya sampai kemudian mataku terbuka lebar.

Jika dipikirkan lagi, lebih mendalam. Hidup yang aku jalani sebelum dekat dengan kamu itu tidaklah menyedihkan. Aku punya orang yang aku percaya dan mencintaiku sepenuh hidupnya, ia Ibuku. Cinta yang diberikan beliau jauh melampaui definisi cinta yang kamu jabarkan itu. Namun, bukan manusia namanya kalau tidak pernah terjebak dalam kesalahan. Dan aku anggap segala kebersamaan kita adalah perjalanan hidup yang harus dicermati mendalam agar aku tidak merasa rugi menghabiskan waktu bersama kamu.

Kamu itu hebat, bagiku, dalam hal bermain peran. Tanpa topeng dan tanpa skrip yang mesti dihafalkan, kau mampu memainkan peran. Seolah-olah aku ini malaikat yang turun bersama Freya dari Tanah Rawa menuju tempatmu yang, katamu, menyengsarakan. Kau buat seolah aku ini tokoh protagonis yang pantas dipuja. Karena rasa inginmu yang hebat itu, kau sudahi saja hubungan cintamu bersama wanita lain yang sudah sembilan tahun menjadi kekasihmu.

Yah, aku tahu memang. Sejak mengenalmu memang aku tahu kalau kamu sudah menjadi pacar wanita lain. Namun, kita dekat, entah karena apa aku tidak tahu. Katamu sih karena aku itu lucu dan suka heboh kalau update status di BBM. Katamu sih aku itu beda dari wanita lain karena kita suka chatting karena berdebat. Katamu sih aku itu menyenangkan karena suka berteman dengan siapa saja. Katamu ini dan katamu itu dan banyak lagi katamu tentang aku yang secara garis besar mengartikan satu hal. Bahwa kamu sebenarnya menyukaiku. Itu yang kamu akui setelah kita pergi menonton dua kali. Kamu sudah berani menganggap bahwa kamu jatuh cinta denganku. Bodohnya aku malah merasa berbunga dan dengan lantang memasuki jurang kesalahan yang dimulai hari itu.

Kamu itu hebat, seperti yang aku bilang tadi. Kamu sebenarnya pejuang yang berani mati sahid. Hubungan sembilan tahun bersama wanitamu kau anggap sia-sia. Dari ceritamu terdengar seakan wanitamu itu menyebalkan, hobi meminta-minta dan tanggungan, tidak pernah nyambung diajak bicara soal pemikiran dan hal-hal mendalam, selalu manja dan sebagainya. Sehingga pada akhirnya aku mulai menyadari bahwa sedang ada malaikat didepan mata yang aku butuhkan cintanya dan aku ingin mendapatkannya, yaitu kamu.

Pada akhirnya akulah pioneer di cerita kita ini. Aku yang rela mati dan kehilangan harga diri. Aku yang rela di caci maki. Oleh Ibumu, wanita yang usianya sudah tua namun mulut dan kelakuannya tak pantas ditiru. Entah kesombongan atau melindungi anaknya, Ibumu itu benar seperti bencana. Tak ada belas kasih atau memaklumi sebuah percintaan anak muda, Ibumu itu menghina aku. Segala jenis perkataan yang tak pantas diucapkan seorang Ibu dilontarkan begitu saja olehnya.

Aku memang salah. Salah telah menutup mata dan terjebak oleh gombalan seorang pria hingga akhirnya aku tidak menyadari aku sedang melakukan kesalahan. Ibuku sudah mengingatkanku tapi lagi-lagi aku membela diri sekarang, aku sedang mabuk. Namanya orang mabuk tentu tidak sadarkan diri. Aku berani menentang segala prinsip dan aturan Ibuku. Tapi, semua sudah berlalu dan aku saat ini hanya sedang bercerita bukan berkubangan air mata akan masa lalu.

Dibawah sinar lampion dan juga kembang api yang tidak henti mewarnai langit malam, aku anggap kita ini resmi jadian. Itu pula yang kamu pikirkan setelah kita bahas belakangan. Tanggal 23 Januari tepatnya saat malam Imlek tiba. Kamu itu luar biasa, padahal tidak pernah di tradisi mu ikut sembahyang, aku juga tidak pernah demikian. Sebab aku tidak ikut tradisi turun-temurun Tionghoa. Tapi, komunitasku yang membuat aku bertoleransi dan aku ikut saja demi menghormati sesama manusia. Kamu juga berpendapat demikian, itu yang membuat aku merasa cocok lagi denganmu :)

Selesailah sudah hubungan kamu dan wanitamu itu. Lalu kita mengambil peran Romeo dan Juliet. Semua orang-orang mungkin iri padamu, mungkin. Sebab tiba-tiba aku punya pacar, entah dimana pendekatannya tapi kamu hadir begitu saja membuat orang bertanya-tanya. Seakan kita pernah jumpa di masa lalu dan kembali bertemu lewat cerita yang sempat buntu. Kita berdua tidak peduli akan apapun juga. Sebab saling memiliki satu sama lain itu sudah lebih dari cukup.

Singkat cerita kisah romantis kita, aku tidak mau berlama-lama mengenang sebab aku sendiri sudah tidak lagi terkenang, kita putus. Yap, putus. Begitu saja, tanpa sebab, tanpa aba-aba, menyebabkan air mata, aku yang berurai air mata, kamu tidak. Alasannya sederhana. Kamu tidak lagi nyaman dengan aku. Segala hal kecil seperti aku minta tolong kamu pegang buku kuliahku yang berat di tas selempangku, membuat masalah bagimu. Segala pemikiranku soal bagaimana kesuksesan harus terwujud dari anak manusia yang memang masih muda, memusingkan buat kamu. Segala sikap aku yang memang sudah dari dulu berpegangan pada prinsip keteraturan pengeluaran dan pemasukan pundi-pundi penghasilan, itu sungguh menyebalkan. Dan segala tetek bengek kecil yang tidak penting menjadi masalah buat kamu. Semudah itu kamu memutuskan hubungan dengan wanita yang bersama kamu sembilan tahun, pasti hanyalah persoalan sepele jika kamu meninggalkan aku, kita yang baru berjalan lima bulan, tanpa mempertimbangkan dua kali.

Kamu pergi dan aku menangis-nangis. Menjijikan jika aku pikirkan sekarang. Tapi, saat itu aku gelap mata dan hanya ingin bersandar pada bahu lebar yang mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Bahu Ibuku kurang bidang hingga aku merasa kurang. Sampai kemudian seorang pria datang. Ia sudah sering menghubungiku. Atas dasar cinta dan penghormatan kepadamu, aku menutup segala kemungkinan pria-pria yang menyapaku hangat. Namun, akhirnya aku pergi jalan bersamanya. Hanya menonton untuk menyegarkan penat yang mecekat pikiranku sudah lama. Untuk menghilangkan kekesalan dan kesedihan. Kasihan dia, hanya untuk pelipur lara.

Dan kamu memang hebat, aku memang memujimu untuk urusan berlaga dalam sandiwara. Justru ketika aku menceritakan padamu betapa merananya aku dan memilih menghibur diri, bukannya kamu iba dan menatap penuh kasih sayang, kamu putar balikan fakta segalanya. Kamu buat menjadi bahwa keputusanmu telah benar meninggalkanku karena alasan aku tidak layak dicintai. Aku telah bermain api dan aku telah mengkhianati kamu sehingga aku pantas ditinggal pergi. Aku diam terpaku dan keras kepala.

Seminggu kemudian, aku melihat kamu dan wanita sembilan tahun kamu itu jalan berdua. Mengantri untuk nonton bioskop. Bukannya aku pergi dengan gagah, aku malah ingin menamparmu lewat kenyataan siapa yang pengkhianat. Aku menghampiri kalian yang seakan tidak pernah punya masalah.

Bodoh memang aku tidak langsung belajar. Bodoh memang aku masih bertahan kepada manusia seperti kamu yang omongan tak bisa dipercaya. Bodoh memang aku harus butuh lima bulan untuk benar-benar melepaskan kamu dari pikiranku. Perasaan yang aku artikan sebagai cinta dan kuberikan cuma-cuma untuk sahabat jiwa yang sudah lama berkelana, yaitu kamu anak manusia.

Setidaknya aku mengartikan itu benar cinta sampai kemudian waktu menyembuhkanku akan luka. Semua luka yang menganga dan kubiarkan begitu saja terbuka karena aku tidak tahan sakitnya. Semua luka yang aku pikir tidak akan pernah kembali seperti semula. Akhirnya waktu yang jadi peran utama. Memberikan aku ruang dimana aku dapat menjernihkan pikiranku. Memberikan aku jeda untuk menyadarkan aku bahwa kamu tidak lebih dari seonggok daging dilapisi oleh kulit yang rupawan. Waktu itu memang bijaksana.

Kuselesaikan tulisan ini tanpa berkasih sayang padamu, sebab aku dan kamu sama-sama tidak butuh itu lagi. Meskipun beberapa bulan, setelah aku mampu berkuasa atas perasaan benciku padamu, kamu menghubungi aku lagi. Dengan segenap kata-kata walau tanpa usaha, kamu ajak aku ini dan itu agar kita bersama, aku sudahi semuanya. Aku terlalu muak denganmu. Aku terlalu ingin menjauh darimu. Aku sekarang menyesal pernah menjalin kasih denganmu.

Ketika melupakan kesalahan itu namanya baik, tapi alangkah lebih baiknya jika tidak melupakan kesalahan-kesalahan itu namun menjadikan kesalahan tersebut sebagai objek terbaik untuk mengembalikan pada perenungan tentang kehidupan. Dan memang tidak baik apalagi bijaksana, jika aku bertengger tak bergerak akan penyesalan. Sebab, semua sudah terjadi dan berlalu. Hanya tinggal kenangan, tinggal bagaimana mendayagunakan ingatan tersebut untuk melakukan kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan.

Baiklah aku akhir tulisan ini. Semua curhatan yang tak sanggup lisan katakan. Bukan untuk mengenang seorang pria karena kasih sayang. Melainkan karena alasan pelajaran hidup yang tidak bisa dihargai berapapun nominalnya.



pembelajar luka hati

Jumat, 18 Januari 2013

Jeruji Semu


Aku tak mungkin meninggalkannya. Tidak akan pernah sampai kapanpun. Aku teramat mencintainya hingga aku yakin aku lebih mencintainya ketimbang mencintai diriku sendiri. Ia adalah orang pertama yang mengenalkanku pada makna sebuah memberi setulus hati. Ia juga yang mengenalkanku pada rasa sakit hati yang sulit kujabarkan lewat kata – kata. Ia pria menawan yang aku cintai. Aku tertawan dalam hatinya, tak bisa pergi lagi.

Pertama kali jumpa saat kami sedang makan siang disebuah café tidak jauh dari kantor tempat aku bekerja. Ia memesan nasi goreng dan milkshake strawberry, makanan dan minuman yang sangat standar. Sedangkan aku memesan coffee latte dan salad buah dengan banyak mayonesse. Kami duduk saling bersebrangan. Ia sendirian sedangkan aku bersama teman – teman kantorku yang semuanya laki – laki. Ia seakan tidak memperhatikan sekitar dan hanya berfokus pada benda kotak yang ia genggam dan terus menerus ia tekan tombolnya.
Bibirnya merah seperti dioles lipstick, hidungnya mancung, kulitnya kuning langsat, dan rambutnya ditata rapi seakan menempel di kulit kepala. Ia sungguh tampan dan aku langsung jatuh hati padanya. Aku tidak lagi berfokus pada makanan yang dihidangkan. Aku hanya terus menatapnya tak aku lewati kesempatan untuk menikmati keindahan didepanku. Ia begitu telah merebut kunci hatiku dan membukanya dengan mudah.
Kuberanikan diri untuk menyapanya, ia menganggukan dagunya dan tersenyum. Senyumnya yang telah membuatku benar – benar terjatuh dalam ikatan tak kasat mata. Aku langsung tahu dia pilihan hatiku. Semua teman – temanku tertawa. Tawa mengejek seperti biasa. Mereka tahu betul aku sulit menyukai seseorang tapi kini melihat binar – binar dalam mataku, mereka tahu aku sedang tergila – gila padanya.
Seminggu kemudian setelah pertemuan singkat dengan pujaan hatiku, aku kembali ke café yang sama namun kali ini aku datang sendirian tanpa teman – temanku. Aku sungguh berharap bisa bertemu dengannya lagi dan berharap bisa berkenalan dengannya. Pertemuan berdua akan lebih intim ketimbang harus mendengar cemooh dari teman – temanku. Aku duduk ditempat yang sama dengan seminggu lalu dan ternyata tak ada pria itu ditempatnya. Aku diam. Pelayan menyodorkan menu makanan padaku tapi aku hanya melamun dan tak berkata apa – apa. Sampai kemudian pintu café dibuka, seseorang melangkah masuk. Tubuh tinggi tegap dan bibir merah mengkilap terkena sinar mentari. Lelaki yang kupuja itu akhirnya tiba. Aku tersenyum.
“Hai,” sapaku ramah padanya.
Ia menoleh menatapku lalu tersenyum. Ia duduk dimeja seberang lalu membuka buku menu dan memesan pada pelayan. Sikap acuh tak acuhnya membuatku semakin penasaran. Kuberanikan diri untuk bangkit dan duduk disebelahnya. Ia memandangku.
“Ada apa yah?” tanyanya singkat.
Aku tersenyum lebar memamerkan gigiku, “tidak ada apa – apa. Hanya mau duduk disebelahmu. Boleh tidak?”
Dia tertawa. Suara tawanya masuk ke telingaku dan sel – sel dalam otakku memutuskan bahwa itu suara yang bisa membiusku kapanpun juga.
“Iya tidak masalah, silahkan saja,” sahutnya lalu membuka gadget­-nya.
Aku menatapnya bingung. Sikap cueknya membuatku mati kutu sekaligus penasaran. Kuberanikan lagi membuka mulut untuk sekedar tahu namanya saja.
“Maaf kalau memang keberatan aku duduk bersamamu,” kataku pelan.
Dia menatapku, “ah tidak kok. Siapapun boleh duduk dimeja yang sama denganku.”
Aku diam sesaat lalu melanjutkan sedikit nekat, “sebenarnya aku ingin berkenalan denganmu. Bolehkah aku tahu namamu?”
Pria itu menatapku sesaat lalu tersenyum, “namaku? Panggil saja aku Bi. Orang – orang biasa memanggilku itu dan siapa namamu?”
Tak kusangka Bi bertanya balik namaku. Kegirangan yang luar biasa menjalar dalam setiap rongga dadaku. Aku tersenyum lebar sambil berkata, “panggil aku Ann.”
“Oh”, sahutnya lalu melanjutkan, “kenapa kau mau tahu namaku?”
Aku masih tersenyum lebar, tak kusangka Bi menanyakan hal itu padaku. Mungkinkah dia ‘tertarik’ juga padaku? Merasakan hal serupa yang aku rasakan. Apakah ia juga merasakan desir dalam jantung ketika mata kita saling tatap? Haruskah aku beranikan diri mengatakan bahwa aku menyukainya?
“Hmm sebenarnya. Aku tertarik padamu, Bi. Sejak kita bertemu seminggu yang lalu di café ini, aku langsung jatuh hati padamu. Perasaan yang sulit aku dapatkan tapi tidak ketika melihat kau. Bisakah kita berteman, Bi? Mungkin dengan begitu kita bisa saling mengenal lebih jauh,”kataku. Kuberanikan diri untuk mengatakan semua itu. Tak peduli Bi menolakku atau tidak yang terpenting aku ungkapkan perasaanku ini.
Bi menatapku takjub. Ia tidak membuka suara tapi gerak tubuhnya jelas tidak nyaman. Beberapa kali ia merubah posisi duduknya sambil terus bergumam, “well.”
Aku menunggunya menjawab pernyataanku yang sebenarnya ragu akan ia jawab. Sampai akhirnya pelayan datang ke meja kami dan memberikan pesanan yang dipesan oleh Bi. Ia meminta bill pada pelayan saat itu juga. Setelah membayar dan pelayan itu pergi, Bi menatapku.
“Dengar, bapak Ann. Aku harap kau mengerti. Aku memang single tapi aku normal. Aku bukan penyuka sesama jenis. Kalau menurutmu aku orang yang tepat untukmu, maaf kau salah orang. Aku masih suka wanita,” kata Bi ketus lalu bangkit berdiri. Meninggalkan makanan yang belum ia sentuh, meninggalkan aku dan hatiku yang hancur berkeping – keping.
Bapak? Ia memanggilku bapak? Aku menangis, tangisan tak kasat mata sebab hatiku yang terluka. Siapa yang harus disalahkan? Aku sensitif dan sisi feminine-ku dilukai. Aku wanita. Benar – benar wanita. Hanya saja aku terpenjara dalam jeruji semu tubuh seorang pria.

Kamis, 17 Januari 2013

Hai, Hujan!

Hai, Hujan!
Bagaimana kamu sekarang?
Apakah sudah tenang?
Tidak mau tumpah ruah lagi seperti tadi?
Atau sekarang sedang mencari strategi hendak kemana?

Sejak kemarin orang-orang ribut karena kamu
Kamu nakutin
Hobi bikin orang pusing
Karena banjir yang dihasilkan kamu saking derasnya kamu turun
Banyak yang sengsara karena kamu
Orang-orang salahin kamu karena kamu gak bisa dikendalikan
Kamu bukan lagi jadi rintik hujan atau hujan deras
Tapi semua orang menjadikan kamu kambing hitam
Atas segala yang terjadi
Seperti macet, banjir, dan juga derita

Kasihan kamu
Padahal kamu kodrat alam
Padahal kamu diatur oleh semesta
Padahal kamu apa adanya
Tidak suka merekayasa gaya
Tidak suka pakai topeng biar dinilai sempurna
Kamu selalu menjadi dirimu sendiri
Apa dosamu?
Sehingga semua dilimpahkan kepada kamu?

Mereka lupa, itu bukan salahmu
Banjir bukan salahmu
Kau hanya menjadi kodrat Tuhan
Memberikan air alam agar semua makhluk menikmati
Kalau tak ada kamu, apa jadinya dunia manusia?
Hanya kemarau, pasti sengsara
Hanya panas, pasti semua orang mencaci
Pasti semua orang jadi mengumpat kamu
Kalau kamu tak kunjung menjamah dunia

Tapi, sekarang?
Bukan perbuatanmu banjir menggenang
Semua karena ulah mereka
Para manusia yang hobi menyalahkan
Membuang sampah sembarangan
Tidak peduli akan lingkungan sekitar
Bangga malahan kalau tidak menjaga kebersihan

Gedung-gedung pencakar langit
Mall-mall
Apartement mewah
Semua dibangun oleh manusia dan untuk manusia
Tidak memperdulikan kamu, hujan
Tidak mengkalkulasi kalau sewaktu-waktu kamu datang
Tidak  ingat bahwa kamu itu ramah
Suka datang tiba-tiba menyapa manusia
Memberikan sejuk dihati yang gerah

Hai, Hujan!
Malam telah datang
Semua orang masih waspada kalau kamu datang lagi
Namun, aku
Justru menunggu
Kamu hadir disini
Agar aku merasa ditemani




-dari penggemar beratmu-
Sang Penari Hujan

Rabu, 16 Januari 2013

Untuk Pria Diary


Dear Diary,



Aku senang memulai dua kata itu dalam sebuah curahan hati. Sebab memang aku gemar menulis pada buku yang mereka namakan sebagai Buku Diary. Tempat dimana aku bisa bercerita segalanya, panjang lebar hingga ke rahasia terburuk dalam sepanjang sejarah kehidupanku ketika pup di celana.

Tapi itu dulu. Dulu sekali. Aku terakhir mengeja kalimat terakhirku di Buku Diary saat aku duduk dikelas satu SMP. Setelah itu aku bosan menulis-nulis karena diluar sana banyak teman yang mampu membuat aku bahagia. Atau mungkin memang sedang usia saja. Ternyata masa-masa indah yang aku pikir bisa aku hasilkan bersama teman-temanku bisa berlangsung lama. Nyatanya tidak. Aku rindu berbicara pada diriku sendiri. Lewat Buku Diary.

Ku coba mulai dengan sapaan standar tapi mengena hingga ke dasar jiwa. Dear Diary. Tapi tidak berefek apa-apa. Semuanya jadi datar dan biasa saja. Beda saat dulu, ketika aku mampu menulis berlembar-lembar segala tetek bengek yang tidak penting sampai yang aku pikir paling penting yaitu menonton film Sailormoon. Apa yang salah? Apa aku yang sudah tak peka? Atau memang sebenarnya tidak ada efek magis didalam dua kata yang biasanya selalu mampu mengantarku pada alam milikku seorang diri. Aku pikir itu kuncinya. Kunci rahasia yang dapat menulikan aku pada kebisingan dunia. Membuat aku lupa diri dan lupa daratan karena keasikan mengawang dalam aksara bernada ceria. Aku rindu aku yang dulu.

Namun, tiba-tiba...

Kamu datang. Tanpa aku sebutkan kata kuncinya. Tanpa aku harus tulis Dear Diary didepan matamu yang sering melamun itu. Kau hadir tiba-tiba, sekejap angin barat membawa hujan, secepat anak rusa belajar jalan. Kau si Pria yang bernama Diary telah membangunkanku dari hidup nyataku yang penuh cerita pahit. Mengajakku kembali menjelajahi mimpi-mimpi yang kurindukan saat aku masih bisa berimajinasi normal selayaknya manusia.

Namamu itu Diary. Yah, itu memang nama tengahmu. Setidaknya tetap tersandang anggun dibarisan huruf kartu namamu kelak. Kenapa kamu malu pakai nama itu? Apa karena terdengar terlalu feminin? Atau terkesan kamu tidak tulen? Ah, jangan kau khawatirkan itu. Aku jamin seribu persen, semua orang menyukaimu. Kau tempat orang mengadu, semua orang percaya padamu. Harusnya kau bangga akan itu. Kalau tidak begitu, lantas apa alasan ayahmu memberikan nama Diary ditengah namamu? Beliau pasti yakin kaulah manusia yang dapat menghentikan segala duka. Kau bisa menenangkan jiwa-jiwa yang tersesat dan butuh bimbingan. Masih tidak percaya? Buktinya semua orang memulai cerita dengan Dear Diary.

Kamu itu baik, Diary. Terlalu baik untuk ukuran manusia. Terlalu baik untuk ukuran pria. Terlalu baik untuk ukuran pria-pria yang telah banyak kukenal. Aku masih ingat dan terus akan kuingat hingga ke liang lahat. Hujan tengah mengguyur bumi. Tanah basah betulan dan aku terlelap oleh kantuk luar biasa karena kelelahan. Padahal kita punya janji untuk nonton di malam minggu. Aku begitu semangat menanti hari itu, tapi karena kamu terlalu baik, kamu lebih peduli padaku ketimbang pada keinginanku untuk menonton. Berulang kali kamu yakinkan aku tidak kelelahan karena aktifitas yang padat menyergap. Aku bosan mengulang-ngulang jawaban yang sama. Jadi kuputuskan sepihak, batal. Dan aku pergi tidur karena hujan juga datang memelukku.

Malam sudah larut dan hujan menyisakan rintik kecil-kecil. Kamu datang. Si Pria Diary Baik Hati tetap datang. Kebasahan dan kemalaman. Kau menggunakan motor kesayanganmu, si macan. Berdua bertarung melawan hujan tapi tetap saja basah kuyub.

Aku terkesima, tak percaya akan mataku yang masih sembab baru bangun tidur. Layaknya ksatria cerita dongeng, kamu penuhi janjimu untuk datang bermalam minggu. Menemani aku yang sepi dan kamu juga yang kesepian. Dengan jaket yang telah basah lalu kering kembali. Kamu beneran datang.

Air mukamu menyiratkan kesedihanmu. Aku tahu itu. Tolong jangan sekarang, mungkinkah kau hendak menangis? Meski tidak keluar dari kedua kelopak matamu, aku yakin kamu telah menangis. Lewat diammu, bersama hatimu yang selalu bisu, aku tahu kamu meratapi nasibmu. Maaf, itu yang ku ucap dalam hati. Walaupun kelu yang keluar dibibirku. Aku tak mampu mengucap itu dengan serius. Tawa selalu jadi senjata disaat aku sudah tak tahu harus berkata apa-apa.

Kamu pria baik, Diary. Para orang tua selalu berkata, 'Pria baik hanyalah untuk wanita baik, dan sebaliknya'. Lantas sudah sepantasnya kamu mendapatkan wanita yang seperti kamu pula. Kudoakan kamu segera mendapatkannya. Itupun kalau kamu mau hidup normal, berumah tangga. Jika pilihan hidupmu seperti yang aku bayangkan hingga kini, yaitu gundul dan berjubah cokelat-orange, aku tetap selalu berdoa untukmu. Semoga kau selalu berbahagia, Diary. Menjadi apapun kamu, kamu tetaplah orang baik yang aku kenal :)



Peluk hangat,
Aku si penulis Diary
Pengagum kebaikan hatimu.

Selasa, 15 Januari 2013

Antara Saya, Aku, dan Gue

Sebenarnya ini sebuah pelanggaran. Jika sudah masuk hukum yang disepakati oleh orang banyak, ini namanya pelanggaran Kode Etik atau mungkin pelanggaran Undang-Undang. Lebih parahnya lagi kalau ini melanggar sebuah aturan peradaban manusia yang memungkinkan akan menghancurkan karakteristik manusia. Hingga kemudian ada satu manusia yang tak mau mengakui dirinya sebagai wanita-walau alat biologisnya menunjukkan itu-yang melakukan pendustaan publik. Apaan sih? -__-

Hehe enggak usah terlalu serius. Gue cuma lagi shock dengan fakta bahwa beberapa waktu yang lalu gue memberikan sebuah pernyataan resmi, gue akan off untuk beberapa saat di blog karena kesibukan gue menjelang UAS(bisa baca di Stress UAS ).

Tapi takdir berkata lain. Hujanpun sudah turun pada waktunya. Banjir menggenang di Ibukota. Burung Camar masih terbang pakai sayap. Dan tukang omprengan masih bikin macet. Gue pun melanggar satu janji sumpah serapah yang gue buat sendiri! Dengan tega menelanjangi diri sendiri! Oh, Gosh!

Semua gara-gara gue baca timeline akun Twitter-nya si @aditya_hs. Doi emang hobi ngegaul dimana-mana. Baik dunia maya atau dunia makhluk halus. Tiba-tiba satu hal yang membuat gue memicingkan mata, JENG!!! Sebuah hastag nangkring disana yang berbunyi #30harimenulissuratcinta. Samar-samar terdengar kayak sebuah film yang dibintangi Nirina Zubir. Yap! MENARIK!

Sebagai seorang Stalker di dunia maya, gue kurang jago stalking. Tapi, berhubung gue bukan orang yang pantang menyerah dan rasa penasaran gue lebih gede dari tompel di muka tetangga sebelah, maka malam itu juga gue langsung paham ada apa gerangan.

Ternyata ada sebuah akun Twitter bernama @PosCinta. Itu akun unyu-unyu yang punya banyak tukang pos. Singkat cerita #30harimenulissuratcinta adalah project non-commercial untuk membangkitkan gairah selain pakai Horm*vit*n para penikmat aksara. Akun unyu-unyu itu membuat keautisan gue meningkat secara signifikan hingga pada akhirnya sudah dua tulisan yang gue hasilkan sebelum postingan yang ini. NICE! GOOD JOB!

How about my exam?

Tenaaaannngggg...
Ada pepatah kuno yang mengatakan, "Belajarlah hingga ke negeri China." Dan untungnya dikelas gue banyak yang berwajah Oriental atau emang keturunan Tionghoa. Jadi mungkin akan lebih baik kalau gue mengambil kesempatan menjelajahi negeri China lewat garis wajah mereka. *Aiiiss*

Lalu apa kaitannya isi blog gue yang udah ngalor kidul dengan judulnya? Hmmm sebentar. Gue juga agak bingung kenapa gue buat judul begini, isinya begitu. Awalnya gue enggak mau nulis kayak gini tapi semua mengalir bagaikan perut mulas setelah minum teh daun jati Belanda.

Oke begini sebenarnya. Jujur gue agak bingung sewaktu gue nulis Blog. Padanan kata apa yang pas ketika gue mengungkapkan atau menyebutkan diri gue. 'Saya' terdengar terlalu ganjil dan baku, kurang cocok sama perawakan gue yang awut-awutan. 'Aku' terdengar kayak pujangga-pujangga yang melankolis dan butuh disayang. 'Gue' terlalu gaul dan kelihatannya terlalu anak muda untuk ukuran muka gue yang udah enggak muda lagi.

Antara Saya, Aku, dan Gue....

Semuanya memiliki makna dan penempatannya masing-masing. Dan baiklah, karena gue adalah orang Indonesia, sebuah Negara Pancasila dengan dasar Bhineka Tunggal Ika, terdiri dari beragam budaya dan suku bangsa. Tidak masalah kalau gue jadi tukang gado-gado sekarang. Saya, Aku, Gue, semuanya gue pakai sesuai isi Blog gue masing-masing. Semoga enggak kelihatan aneh dan tetap bisa dibaca oleh kalian semua :D





Peluk Hangat Cium Sampai Basah
Kudel

Kepada Tuan Komunikator

Dear,
Mr. @PonijanLiaw,

Saya menulis surat ini dengan malu-malu. Bagaimana tidak? Saat ini waktu telah dipasung kedalam pukul 12:24 AM, hujan sedang menggila diluar sana, sedangkan saya asik duduk didepan laptop menuliskan surat cinta pada anda.

Ini benar-benar membuat saya malu. Bagaimana bisa saya menulis surat cinta pada anda, pak? Singkat cerita, sebuah akun twitter bernama @PosCinta meminta kepada siapa saja yang sedang berlatih menulis untuk menuliskan surat cinta kepada seseorang yang membuat kita terinspirasi di akun twitter-nya, pak. Saya teringat anda pak. Seorang Komunikator No. 1 di Indonesia yang senantiasa mengisi kata-kata mutiara lewat dunia maya. Saya rasa, anda orang yang paling pas menginpirasi saya.

Sebenarnya kita saling mengenal, pak. Saya sering duduk ditempat tamu datang untuk mendengarkan seminar, sedangkan anda bercerita panjang lebar sebagai moderator di berbagai acara yang sering saya datangi. Cara anda menyampaikan buah pikiran begitu lugas dan sangat jelas. Sangat menginspirasi hingga memasuki alam mimpi yang saya miliki. Kapan saatnya tiba, ketika saya mampu duduk berdampingan bersama anda dalam sebuah diskusi seru yang disaksikan oleh ribuan penonton, seperti selalu ketika saya berjumpa dengan anda.

Dari begitu banyak ungkapan yang anda sampaikan lewat dunia maya, ada satu yang membekas dipikiran saya. "Memaafkan adalah kebajikan yang akan melancarkan kehidupan." Itu adalah kata-kata yang sederhana dan sering kali kita dengar dari banyak manusia. Namun, pada prakteknya sukar sekali bagi kita untuk memaafkan kesalahan baik orang lain atau bahkan diri kita sendiri. Kita sering tenggelam dalam bayang-bayang kesalahan dan justru semakin parah menghukum kesalahan itu tanpa pernah mencoba membuka hati untuk memaafkan.

Saya mengenal begitu baik sebuah ajaran mengenai cinta kasih dan disetiap kata-kata anda tersirat pula cinta kasih mendalam yang menyentuh hati. Saya mengagumi semua orang baik, salah satunya anda, pak. Sebagai mahasiswi fakultas komunikasi, saya ingin menyampaikan bahwa sejatinya "komunikasi yang baik adalah komunikasi yang mengandung cinta kasih dan tanpa permusuhan." Sebagai Komunikator No. 1 saya rasa anda sudah menjalankannya :)

Terima kasih pak, atas segala inspirasi. Semoga semua makhluk selalu berbahagia.


Salam Hangat,
@aryaliberty

Senin, 14 Januari 2013

Surat Dari Si Manusia Biasa, Bukan Siapa-Siapa


Kepada,
Kamu
Yang menawan sepi hingga aku menjadi lupa diri.



Aku ingin tertawa. Ditengah malam buta, aku ingin tertawa terbahak-bahak. Hingga rasanya aku ingin menangis. Entah apa yang kutangisi atau kutertawakan, tapi malam memang selalu setia menjadi teman saat dibutuhkan.

Kupandangi semua kertas surat dan juga amplop yang kubeli sampai berpak-pak. Kertas warna-warni yang sengaja kupilihkan untuk kamu. Kubeli beberapa minggu lalu ketika seorang pria mengajakku bermalam minggu. Tapi, miris semua yang kubeli ini hanya untuk kamu bukan untuk dia.

Ya, kamu. K-A-M-U. Tidakkah kamu sadar? Kamu itu manusia. Makhluk yang aku pikir tadinya dewa. Kamu yang menjelma tak biasa disini, didalam tempat aku biasa menyembunyikan jati diri. Dimana aku biasanya mampu memakai topeng untuk mendustai nyata akan dunia. Tapi, kamu mampu. Mampu membuat aku bertransformasi dan menyadari bahwa sejatinya aku juga makhluk duniawi yang mampu mencintai.

Ya, kamu. K-A-M-U. Beberapa waktu yang lalu pernah mengatakan padaku. Lewat caramu yang sendu dan juga sering melucu. Kau bilang bahwa kau hobi menulis surat. Kau si manusia yang membuat aku berpikir betapa uniknya kamu. Tak pernah sekalipun aku pernah menulis surat lewat tukang pos, tapi kamu mampu membuatku berpikir dua kali bahwa tidak ada salahnya aku mulai menyayangi pak pos. Katamu, cara sederhana dan tradisional lebih mengasikkan ketimbang cara-cara kemajuan teknologi seperti sekarang. Menulis surat lewat surat pos lebih menyenangkan daripada lewat e-mail.

Aku. Ya, A-K-U. Hanya bisa diam mendengarkan celotehmu yang selalu diselingi tawa renyah seperti kue jahe. Aku fokus mendengarkanmu atau sebenarnya hanya terbuai oleh khayalanku untuk menulis surat padamu? Padahal tak pernah sekalipun kau memintaku dengan keseriusanmu bahwa aku harus menulis surat untukmu. Tapi ide gila ini entah muncul dari mana. Aku tidak bisa menerka bahkan mampu menjelaskan. Semua mengalir begitu saja dan tentu saja aku tak tahu hendak menuliskan apa untukmu.

Malam semakin larut dan aku sama sekali tak mengantuk. Aku hanya ingin terus menulis untukmu. Mengungkap rasa lewat asa. Ingin berbagi cerita saat suka milik kita berdua. Tapi, benarkah aku mampu membuat jadi nyata? Jika saja, kau secepat itu meninggalkan aku tanpa sisa?

K-A-M-U. Ya. Kamu. Makhluk biasa sejatinya. Namun, sekejap saja dapat membuatku jatuh cinta. Tanpa pengorbanan, tanpa air mata, tanpa kata-kata cinta, kau renggut kesendirian yang telah aku cintai tanpa mau berbagi. Begitu saja, begitu mudah, hingga kemudian aku jadi sesak sendiri. Jika memang kamu masih ada, entah dimana, atau disuatu tempat yang membuatmu bahagia, aku hanya ingin menitipkan doa. Semoga kamu dapat menemukan cintamu, seperti aku telah menemukan cintaku. Yaitu, k-a-m-u.




Salam Hangat,
Aku
Si manusia biasa bukan siapa-siapa

Sabtu, 05 Januari 2013

Ucapan Tahun Baru

Hidup adalah proses. Bukan tujuan akhir yang dikejar tapi proses yang terjadi setiap harinya adalah kehidupan yang sebenarnya. Namun, manusia sering lupa dan hanya berfokus pada hasil akhir. Padahal jika kita menikmati prosesnya, kita akan menikmati hidup sebagaimana adanya. Tanpa kecewa atau terlalu bahagia, hidup itu indah sebagaimana adanya. Begitulah, kira-kira kata orang bijaksana.

Dan memang benar adanya. Jika kita lapar, maka kita makan. Ada proses disana yang kemudian membawa kita kepada keadaan selanjutnya, yaitu kenyang. Dan kenyangpun tidak juga berakhir abadi, kenyang akan membawa kita kepada keadaan lain lagi yaitu, lapar. Begitu seterusnya. Itu yang namanya proses dan semesta ini ada karena proses.

Beberapa hari yang lalu kita semua merayakan sebuah perayaan yang dirayakan oleh seluruh manusia diberbagai belahan dunia. Kembang api mendominasi langit gelap diatas, makanan berlimpah dihidangkan, bir-bir dan juga berbagai jenis minuman beralkohol ataupun tidak beralkohol tersedia, semua orang gembira dalam gegap gempita. Apalagi yang dirayakan dengan meriah kalau bukan pesta Tahun Baru?

Selamat Tahun Baru untuk kalian semua peselancar dunia maya! Pengguna blogger atau hanya pembaca saja, para stalker dan bahkan secret admirer yang senantiasa melihat isi blog ini tanpa meninggalkan komentar! Semoga tahun ini lebih baik ketimbang tahun lalu. Tentunya dengan kepastian kalian juga melakukan beberapa perubahan yang lebih baik dihidup kalian. Karena segala harapan dalam Tahun Baru untuk membuat rencana hidup kalian terwujud hanya bisa direalisasikan oleh apa yang kalian lakukan.

Tahun baru adalah salah satu wujud dari sebuah kenyataan proses yang tengah terjadi dikehidupan. Perayaan dan pesta hanyalah pelengkap cerita. Makna yang nyata adalah ketika kita mampu berlaku lebih baik dan bermanfaat bagi diri sendiri maupun kepentingan kolektif setiap harinya, setiap saat proses dalam kehidupan. Lantas, mengapa harus merayakan Tahun Baru dengan meriah?

Tapi adapula orang-orang yang merayakan Tahun Baru dengan cara mereka berdiam diri. Menyatu dengan semesta, duduk bersila, meditasi. Mengamati nafas dan menjernihkan pikiran tampaknya bukan pilihan bagi banyak orang. Sebab kebanyakan manusia memilih 'bersenang-senang' dengan hura-hura.

Apapun yang kalian telah lakukan, lakukanlah tanpa menyesal! Sebab menyesal hanya akan menghadirkan kebencian pada diri sendiri dan orang lain. Jadi nikmati saja semua yang telah terjadi, apapun itu. Termasuk untuk pesta semalam suntuk yang menyenangkan. Namun, setelah itu pikirkanlah resolusi panjang cerita kehidupan tahun ini. Yang kemarin galau karena cinta, semoga memiliki kekuatan menghadapi permasalahan cinta. Yang kemarin tidak punya pekerjaan, semoga tahun ini memiliki kesempatan untuk bekerja. Yang memiliki problematika di keluarga, semoga tahun ini bisa menapaki kehidupan rumah tangga yang lebih baik. Intinya cuma satu, nikmati prosesnya, apapun itu. Setelah itu cari jalan keluar dengan pikiran yang tenang. Lewat cara itu kita semua bisa bahagia apa adanya :)



-yang bercerita-
Selamat Tahun Baru
050113

Selasa, 01 Januari 2013

Aku Tak Bisa Tidur Malam Ini

Aku tak bisa tidur malam ini. Memang malam masih tak mau usai oleh petasan dan kembang api yang membentang membelah angkasa. Memang dingin tak juga pergi walau aku sudah memutuskan percaya pada nyala api dari kayu yang bersatu dengan bensin. Memang pula perutku penuh oleh makanan yang menjejal tak tahu aturan sejak jarum jam memutar ke kanan, saat orang-orang bersorai dalam kembang api dan jutaan harapan. Semua tampak bahagia dan bersinar akan harapan baru yang mereka teriakan dalam hati. Berharap akan membaik di tahun baru walau pergantiannya hanya ironi. Sebab setiap hari kita memang berpadu pada waktu yang tak pernah tetap. Perubahan sudahlah pasti tapi mengapa tahun baru kita anggap sesuatu yang baru? Malam masih tetap kelam dan siang masih benderang, tak ada yang bisa kita lihat segalanya berbeda kecuali yang kita perbuat sehari-hari.

Aku tak bisa tidur malam ini. Sebab ingatan masih berkelana tak mau kembali. Mengajak sesuatu agar datang bersama untuk menggenapi. Itukah kamu? Dalam bayangan yang ingin ku genggam bersama angin yang menelan kegelisahan. Aku ingin puitis menghadapi serdadu rindu yang membuatku setengah sakit setengah bahagia. Aku ingin merajai segala penjuru agar semua tahu aku sedang terlalu rindu pada sesuatu yang semu. Bolehkah aku tampil dan berceloteh tentangmu? Setiap desah dan peluh yang ku dengar lewat angin yang cemburu padamu sebab aku terlalu memujamu. Aku selalu tahu meski engkau tak pernah se-inchi didekatku. Hatimu ingin dihangatkan dan kamu terlalu sunyi. Aku selalu tahu itu. Yang aku tak tahu adalah siapa yang kau inginkan untuk bersatu padu dengamu.

Aku tak bisa tidur malam ini. Angin telah meninggalkanku karena jengah yang tak terkira. Sudah bosan bertanggung jawab akan rindu yang tak pernah terjawab. Bosan pula harus berpura-pura tahu jawabannya. Ia tak mau menitipkan doa yang kuleburkan bersama semesta untuk kamu seorang anak manusia yang ku puja. Doa yang menjadi harapan disegala jalan hidup yang telah kumulai sejak bertahun yang lalu. Wujud sempurna dari keinginan yang tampil menjadi makhluk alam bernama engkau. Hingga seringkali membuat aku sesak jika mengingat. Pada segala yang terlampau sedikit namun berdampak luar biasa untukku. Kau yang sebenarnya tak pernah mengungkap rasa, mampu membuatku tak kuasa. Pada sesuatu yang mereka sebut cinta namun kuartikan ini sengsara.

Aku tak bisa tidur malam ini. Atau sebenarnya aku telah terbangun. Oleh mimpi singkat karena merindukanmu. Aku terbangun karena telah menyadari segalanya hanyalah perasaan ragu. Walau pernah kau titipkan sebuah rindu, nyatanya hanya sebuah retorika semu. Meski kau yakinkan itu, alam nyata mengatakan kau hanya melucu. Tak ada yang mesti kuanggap realita. Di malam yang membuat aku terjaga antara susah tidur atau karena aku telah tersadar, semua haruslah dilapang dada. Jika benar ini cinta, haruskah aku memilikimu hingga senja? Ada kalanya mereka berkata harus tapi aku tak peduli kata-kata semua. Aku hanya tahu bahwa aku tak bisa tidur malam ini. Dan ini permulaanku untuk menikmati mencintai sendiri tanpa memiliki.





-di malam sunyi-
010113