Jumat, 25 Januari 2013

Setahun Lalu Saat Aku Masih Kekasihmu

Seharusnya aku menulis ini beberapa hari yang lalu. Saat tepat tanggal 23 Januari, saat dimana pada hari itu kita tepat satu tahun merayakan yang mereka sebut Anniversary atau Hari Jadi. Tapi sudahlah. Waktu sudah berlalu dan kisah kasih kita yang awalnya aku pikir sebuah anugerah dunia, nyatanya sudah berlalu pula.

Aku menulis ini bukan karena aku masih mencintai kamu. Bukan pula karena kamu begitu baik sehingga kamu layak diceritakan kepada semua. Aku juga bukan sedang terjebak dalam masa lalu dan terkenang semua ingatan yang melumpuhkan segala nalar. Aku menulis ini karena fakta bahwa aku masih tetap hidup. Kenyataan bahwa aku tetap bertahan terhadap segala kepahitan yang pernah aku telan bulat-bulat saat kamu menjadi realita cerita. Sekaligus, aku menulis ini karena aku harus membagimu kepada semua, agar aku akhirnya lega kamu sudah masa lalu.

Awal kita bertemu, tentu kamu ingat, atau mungkin kamu telah lupa, jelas aku tidak peduli sebenarnya, namun aku masih ingat. Kita itu teman kerja, singkat. Kamu hanya bertahan mungkin dua bulan di kantor itu. Entahlah. Aku tidak terlalu tahu dan tidak ingin tahu. Sebab aku juga tidak terlalu mencari tahu tentang kamu. Kamu siapa sih? Aku anggap kamu cuma manusia biasa. Seperti halnya kebanyakan manusia yang aku kenal sepintas saja. Tanpa rasa dan semua berjalan biasa saja.

Namun, entah bagaimana cerita kita akhirnya terjalin. Seperti jalinan benang-benang yang menutup lubang-lubang di baju yang berlubang, kamu telah sukses menutup lubang sepi dalam ruang hatiku. Mungkin terdengar berlebihan dan menggelikan jika dibaca sekali lagi, tapi itulah nyatanya, setidaknya sampai kemudian mataku terbuka lebar.

Jika dipikirkan lagi, lebih mendalam. Hidup yang aku jalani sebelum dekat dengan kamu itu tidaklah menyedihkan. Aku punya orang yang aku percaya dan mencintaiku sepenuh hidupnya, ia Ibuku. Cinta yang diberikan beliau jauh melampaui definisi cinta yang kamu jabarkan itu. Namun, bukan manusia namanya kalau tidak pernah terjebak dalam kesalahan. Dan aku anggap segala kebersamaan kita adalah perjalanan hidup yang harus dicermati mendalam agar aku tidak merasa rugi menghabiskan waktu bersama kamu.

Kamu itu hebat, bagiku, dalam hal bermain peran. Tanpa topeng dan tanpa skrip yang mesti dihafalkan, kau mampu memainkan peran. Seolah-olah aku ini malaikat yang turun bersama Freya dari Tanah Rawa menuju tempatmu yang, katamu, menyengsarakan. Kau buat seolah aku ini tokoh protagonis yang pantas dipuja. Karena rasa inginmu yang hebat itu, kau sudahi saja hubungan cintamu bersama wanita lain yang sudah sembilan tahun menjadi kekasihmu.

Yah, aku tahu memang. Sejak mengenalmu memang aku tahu kalau kamu sudah menjadi pacar wanita lain. Namun, kita dekat, entah karena apa aku tidak tahu. Katamu sih karena aku itu lucu dan suka heboh kalau update status di BBM. Katamu sih aku itu beda dari wanita lain karena kita suka chatting karena berdebat. Katamu sih aku itu menyenangkan karena suka berteman dengan siapa saja. Katamu ini dan katamu itu dan banyak lagi katamu tentang aku yang secara garis besar mengartikan satu hal. Bahwa kamu sebenarnya menyukaiku. Itu yang kamu akui setelah kita pergi menonton dua kali. Kamu sudah berani menganggap bahwa kamu jatuh cinta denganku. Bodohnya aku malah merasa berbunga dan dengan lantang memasuki jurang kesalahan yang dimulai hari itu.

Kamu itu hebat, seperti yang aku bilang tadi. Kamu sebenarnya pejuang yang berani mati sahid. Hubungan sembilan tahun bersama wanitamu kau anggap sia-sia. Dari ceritamu terdengar seakan wanitamu itu menyebalkan, hobi meminta-minta dan tanggungan, tidak pernah nyambung diajak bicara soal pemikiran dan hal-hal mendalam, selalu manja dan sebagainya. Sehingga pada akhirnya aku mulai menyadari bahwa sedang ada malaikat didepan mata yang aku butuhkan cintanya dan aku ingin mendapatkannya, yaitu kamu.

Pada akhirnya akulah pioneer di cerita kita ini. Aku yang rela mati dan kehilangan harga diri. Aku yang rela di caci maki. Oleh Ibumu, wanita yang usianya sudah tua namun mulut dan kelakuannya tak pantas ditiru. Entah kesombongan atau melindungi anaknya, Ibumu itu benar seperti bencana. Tak ada belas kasih atau memaklumi sebuah percintaan anak muda, Ibumu itu menghina aku. Segala jenis perkataan yang tak pantas diucapkan seorang Ibu dilontarkan begitu saja olehnya.

Aku memang salah. Salah telah menutup mata dan terjebak oleh gombalan seorang pria hingga akhirnya aku tidak menyadari aku sedang melakukan kesalahan. Ibuku sudah mengingatkanku tapi lagi-lagi aku membela diri sekarang, aku sedang mabuk. Namanya orang mabuk tentu tidak sadarkan diri. Aku berani menentang segala prinsip dan aturan Ibuku. Tapi, semua sudah berlalu dan aku saat ini hanya sedang bercerita bukan berkubangan air mata akan masa lalu.

Dibawah sinar lampion dan juga kembang api yang tidak henti mewarnai langit malam, aku anggap kita ini resmi jadian. Itu pula yang kamu pikirkan setelah kita bahas belakangan. Tanggal 23 Januari tepatnya saat malam Imlek tiba. Kamu itu luar biasa, padahal tidak pernah di tradisi mu ikut sembahyang, aku juga tidak pernah demikian. Sebab aku tidak ikut tradisi turun-temurun Tionghoa. Tapi, komunitasku yang membuat aku bertoleransi dan aku ikut saja demi menghormati sesama manusia. Kamu juga berpendapat demikian, itu yang membuat aku merasa cocok lagi denganmu :)

Selesailah sudah hubungan kamu dan wanitamu itu. Lalu kita mengambil peran Romeo dan Juliet. Semua orang-orang mungkin iri padamu, mungkin. Sebab tiba-tiba aku punya pacar, entah dimana pendekatannya tapi kamu hadir begitu saja membuat orang bertanya-tanya. Seakan kita pernah jumpa di masa lalu dan kembali bertemu lewat cerita yang sempat buntu. Kita berdua tidak peduli akan apapun juga. Sebab saling memiliki satu sama lain itu sudah lebih dari cukup.

Singkat cerita kisah romantis kita, aku tidak mau berlama-lama mengenang sebab aku sendiri sudah tidak lagi terkenang, kita putus. Yap, putus. Begitu saja, tanpa sebab, tanpa aba-aba, menyebabkan air mata, aku yang berurai air mata, kamu tidak. Alasannya sederhana. Kamu tidak lagi nyaman dengan aku. Segala hal kecil seperti aku minta tolong kamu pegang buku kuliahku yang berat di tas selempangku, membuat masalah bagimu. Segala pemikiranku soal bagaimana kesuksesan harus terwujud dari anak manusia yang memang masih muda, memusingkan buat kamu. Segala sikap aku yang memang sudah dari dulu berpegangan pada prinsip keteraturan pengeluaran dan pemasukan pundi-pundi penghasilan, itu sungguh menyebalkan. Dan segala tetek bengek kecil yang tidak penting menjadi masalah buat kamu. Semudah itu kamu memutuskan hubungan dengan wanita yang bersama kamu sembilan tahun, pasti hanyalah persoalan sepele jika kamu meninggalkan aku, kita yang baru berjalan lima bulan, tanpa mempertimbangkan dua kali.

Kamu pergi dan aku menangis-nangis. Menjijikan jika aku pikirkan sekarang. Tapi, saat itu aku gelap mata dan hanya ingin bersandar pada bahu lebar yang mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Bahu Ibuku kurang bidang hingga aku merasa kurang. Sampai kemudian seorang pria datang. Ia sudah sering menghubungiku. Atas dasar cinta dan penghormatan kepadamu, aku menutup segala kemungkinan pria-pria yang menyapaku hangat. Namun, akhirnya aku pergi jalan bersamanya. Hanya menonton untuk menyegarkan penat yang mecekat pikiranku sudah lama. Untuk menghilangkan kekesalan dan kesedihan. Kasihan dia, hanya untuk pelipur lara.

Dan kamu memang hebat, aku memang memujimu untuk urusan berlaga dalam sandiwara. Justru ketika aku menceritakan padamu betapa merananya aku dan memilih menghibur diri, bukannya kamu iba dan menatap penuh kasih sayang, kamu putar balikan fakta segalanya. Kamu buat menjadi bahwa keputusanmu telah benar meninggalkanku karena alasan aku tidak layak dicintai. Aku telah bermain api dan aku telah mengkhianati kamu sehingga aku pantas ditinggal pergi. Aku diam terpaku dan keras kepala.

Seminggu kemudian, aku melihat kamu dan wanita sembilan tahun kamu itu jalan berdua. Mengantri untuk nonton bioskop. Bukannya aku pergi dengan gagah, aku malah ingin menamparmu lewat kenyataan siapa yang pengkhianat. Aku menghampiri kalian yang seakan tidak pernah punya masalah.

Bodoh memang aku tidak langsung belajar. Bodoh memang aku masih bertahan kepada manusia seperti kamu yang omongan tak bisa dipercaya. Bodoh memang aku harus butuh lima bulan untuk benar-benar melepaskan kamu dari pikiranku. Perasaan yang aku artikan sebagai cinta dan kuberikan cuma-cuma untuk sahabat jiwa yang sudah lama berkelana, yaitu kamu anak manusia.

Setidaknya aku mengartikan itu benar cinta sampai kemudian waktu menyembuhkanku akan luka. Semua luka yang menganga dan kubiarkan begitu saja terbuka karena aku tidak tahan sakitnya. Semua luka yang aku pikir tidak akan pernah kembali seperti semula. Akhirnya waktu yang jadi peran utama. Memberikan aku ruang dimana aku dapat menjernihkan pikiranku. Memberikan aku jeda untuk menyadarkan aku bahwa kamu tidak lebih dari seonggok daging dilapisi oleh kulit yang rupawan. Waktu itu memang bijaksana.

Kuselesaikan tulisan ini tanpa berkasih sayang padamu, sebab aku dan kamu sama-sama tidak butuh itu lagi. Meskipun beberapa bulan, setelah aku mampu berkuasa atas perasaan benciku padamu, kamu menghubungi aku lagi. Dengan segenap kata-kata walau tanpa usaha, kamu ajak aku ini dan itu agar kita bersama, aku sudahi semuanya. Aku terlalu muak denganmu. Aku terlalu ingin menjauh darimu. Aku sekarang menyesal pernah menjalin kasih denganmu.

Ketika melupakan kesalahan itu namanya baik, tapi alangkah lebih baiknya jika tidak melupakan kesalahan-kesalahan itu namun menjadikan kesalahan tersebut sebagai objek terbaik untuk mengembalikan pada perenungan tentang kehidupan. Dan memang tidak baik apalagi bijaksana, jika aku bertengger tak bergerak akan penyesalan. Sebab, semua sudah terjadi dan berlalu. Hanya tinggal kenangan, tinggal bagaimana mendayagunakan ingatan tersebut untuk melakukan kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan.

Baiklah aku akhir tulisan ini. Semua curhatan yang tak sanggup lisan katakan. Bukan untuk mengenang seorang pria karena kasih sayang. Melainkan karena alasan pelajaran hidup yang tidak bisa dihargai berapapun nominalnya.



pembelajar luka hati