Rabu, 16 Januari 2013

Untuk Pria Diary


Dear Diary,



Aku senang memulai dua kata itu dalam sebuah curahan hati. Sebab memang aku gemar menulis pada buku yang mereka namakan sebagai Buku Diary. Tempat dimana aku bisa bercerita segalanya, panjang lebar hingga ke rahasia terburuk dalam sepanjang sejarah kehidupanku ketika pup di celana.

Tapi itu dulu. Dulu sekali. Aku terakhir mengeja kalimat terakhirku di Buku Diary saat aku duduk dikelas satu SMP. Setelah itu aku bosan menulis-nulis karena diluar sana banyak teman yang mampu membuat aku bahagia. Atau mungkin memang sedang usia saja. Ternyata masa-masa indah yang aku pikir bisa aku hasilkan bersama teman-temanku bisa berlangsung lama. Nyatanya tidak. Aku rindu berbicara pada diriku sendiri. Lewat Buku Diary.

Ku coba mulai dengan sapaan standar tapi mengena hingga ke dasar jiwa. Dear Diary. Tapi tidak berefek apa-apa. Semuanya jadi datar dan biasa saja. Beda saat dulu, ketika aku mampu menulis berlembar-lembar segala tetek bengek yang tidak penting sampai yang aku pikir paling penting yaitu menonton film Sailormoon. Apa yang salah? Apa aku yang sudah tak peka? Atau memang sebenarnya tidak ada efek magis didalam dua kata yang biasanya selalu mampu mengantarku pada alam milikku seorang diri. Aku pikir itu kuncinya. Kunci rahasia yang dapat menulikan aku pada kebisingan dunia. Membuat aku lupa diri dan lupa daratan karena keasikan mengawang dalam aksara bernada ceria. Aku rindu aku yang dulu.

Namun, tiba-tiba...

Kamu datang. Tanpa aku sebutkan kata kuncinya. Tanpa aku harus tulis Dear Diary didepan matamu yang sering melamun itu. Kau hadir tiba-tiba, sekejap angin barat membawa hujan, secepat anak rusa belajar jalan. Kau si Pria yang bernama Diary telah membangunkanku dari hidup nyataku yang penuh cerita pahit. Mengajakku kembali menjelajahi mimpi-mimpi yang kurindukan saat aku masih bisa berimajinasi normal selayaknya manusia.

Namamu itu Diary. Yah, itu memang nama tengahmu. Setidaknya tetap tersandang anggun dibarisan huruf kartu namamu kelak. Kenapa kamu malu pakai nama itu? Apa karena terdengar terlalu feminin? Atau terkesan kamu tidak tulen? Ah, jangan kau khawatirkan itu. Aku jamin seribu persen, semua orang menyukaimu. Kau tempat orang mengadu, semua orang percaya padamu. Harusnya kau bangga akan itu. Kalau tidak begitu, lantas apa alasan ayahmu memberikan nama Diary ditengah namamu? Beliau pasti yakin kaulah manusia yang dapat menghentikan segala duka. Kau bisa menenangkan jiwa-jiwa yang tersesat dan butuh bimbingan. Masih tidak percaya? Buktinya semua orang memulai cerita dengan Dear Diary.

Kamu itu baik, Diary. Terlalu baik untuk ukuran manusia. Terlalu baik untuk ukuran pria. Terlalu baik untuk ukuran pria-pria yang telah banyak kukenal. Aku masih ingat dan terus akan kuingat hingga ke liang lahat. Hujan tengah mengguyur bumi. Tanah basah betulan dan aku terlelap oleh kantuk luar biasa karena kelelahan. Padahal kita punya janji untuk nonton di malam minggu. Aku begitu semangat menanti hari itu, tapi karena kamu terlalu baik, kamu lebih peduli padaku ketimbang pada keinginanku untuk menonton. Berulang kali kamu yakinkan aku tidak kelelahan karena aktifitas yang padat menyergap. Aku bosan mengulang-ngulang jawaban yang sama. Jadi kuputuskan sepihak, batal. Dan aku pergi tidur karena hujan juga datang memelukku.

Malam sudah larut dan hujan menyisakan rintik kecil-kecil. Kamu datang. Si Pria Diary Baik Hati tetap datang. Kebasahan dan kemalaman. Kau menggunakan motor kesayanganmu, si macan. Berdua bertarung melawan hujan tapi tetap saja basah kuyub.

Aku terkesima, tak percaya akan mataku yang masih sembab baru bangun tidur. Layaknya ksatria cerita dongeng, kamu penuhi janjimu untuk datang bermalam minggu. Menemani aku yang sepi dan kamu juga yang kesepian. Dengan jaket yang telah basah lalu kering kembali. Kamu beneran datang.

Air mukamu menyiratkan kesedihanmu. Aku tahu itu. Tolong jangan sekarang, mungkinkah kau hendak menangis? Meski tidak keluar dari kedua kelopak matamu, aku yakin kamu telah menangis. Lewat diammu, bersama hatimu yang selalu bisu, aku tahu kamu meratapi nasibmu. Maaf, itu yang ku ucap dalam hati. Walaupun kelu yang keluar dibibirku. Aku tak mampu mengucap itu dengan serius. Tawa selalu jadi senjata disaat aku sudah tak tahu harus berkata apa-apa.

Kamu pria baik, Diary. Para orang tua selalu berkata, 'Pria baik hanyalah untuk wanita baik, dan sebaliknya'. Lantas sudah sepantasnya kamu mendapatkan wanita yang seperti kamu pula. Kudoakan kamu segera mendapatkannya. Itupun kalau kamu mau hidup normal, berumah tangga. Jika pilihan hidupmu seperti yang aku bayangkan hingga kini, yaitu gundul dan berjubah cokelat-orange, aku tetap selalu berdoa untukmu. Semoga kau selalu berbahagia, Diary. Menjadi apapun kamu, kamu tetaplah orang baik yang aku kenal :)



Peluk hangat,
Aku si penulis Diary
Pengagum kebaikan hatimu.

Tidak ada komentar: