Senin, 25 Februari 2013

Bersahabat Dengan Kanker

Ada sebuah kalimat bijak yang mengatakan : "Kesehatan itu mahal harganya". Saya baru melihat wujud nyata kalimat tersebut ketika benar-benar melihat sebuah kenyataan yang menyedihkan. Tentang kehidupan dan kesehatan yang saling menunjang namun tidak disadari oleh kebanyakan manusia.

Kemarin saya mengunjungi salah satu kerabat saya di rumah sakit. Beliau biasa dipanggil Mbah Lik-Tut oleh kami yang masih muda. Beliau adalah adik nenek saya dari mama saya. Karena adiknya nenek otomatis saya memanggil dengan sebutan Mbah, lalu Lik karena singkatan dari Bu-Lik kalau orang Jawa biasa memanggil tante dengan sebutan Bu-Lik, dan Tut karena panggilan nama kecilnya Tuti.

Mbah Lik-Tut berada di RS Cengkareng karena beliau menderita kanker payudara stadium 4. Sudah 10 tahun beliau menderita penyakit ganas itu namun baru 3 tahun belakangan, ia sudah tidak dapat melakukan kegiatan apapun. Tubuhnya digerogoti sel-sel jahat yang sudah menjalar di seluruh tubuhnya.

Awalnya penyakit Mbah Lik-Tut disadari berupa benjolan di payudara sebesar kelereng. Ia lalu memeriksakan ke dokter dan di vonis sebagai tumor tidak ganas. Waktu itu saya masih kecil dan tidak terlalu menyimak kisah penyakit Mbah Lik-Tut. Hingga beberapa tahun kemudian saya mendengar kabar bahwa payudara Mbah Lik-Tut harus diangkat sebelah karena tumor tersebut sudah mengakar dan menjadi sel kanker. Mbah Lik-Tut pasrah dan menjalani operasi tersebut, akan tetapi bukan kesembuhan total yang di dapat ia justru makin menderita hingga kini.


SUAMI KIRIMAN DEWA
Dalam salah satu kunjungan saya beberapa waktu lalu, Mbah Lik-Tut nampak masih bisa tersenyum dan bercanda meskipun beliau sering mengeluhkan rasa lelah dan cape yang dideritanya. Namun, pada hari minggu kemarin saat saya berkunjung bersama keluarga, Mbah Lik-Tut nampak begitu menderita. Ia menahan sakit dan hebatnya ia tidak mengeluh sama sekali. Ia tidak menjerit-jerit seperti pasien di sebelahnya yang menderita kanker kulit. Banyak orang yang berkata, penyakit kanker adalah penyakit mematikan yang sangat menyakitkan. Sakitnya luar biasa dan tidak tertahankan, akan tetapi saya begitu kagum melihat beliau yang hanya terus diam dan tidak mengeluh.

Melihat beliau yang luar biasa menghadapi penyakit mematikan seperti ini, saya menjadi terharu. Sering kali saya mengeluh dan tidak berterima kasih pada kesehatan yang masih menunjang kehidupan saya. Saya yang segar bugar dan masih muda malah sering mengeluh padahal rasa sakit karena kelamaan berdiri di bus pasti tidak ada apa-apanya dibanding penderitaan Mbah Lik-Tut. Saya menangis melihat perjuangan hidupnya yang luar biasa.

Ketika Mbah Lik-Tut masih bisa bercerita meskipun dengan suara pelan dan terbata-bata, beliau mengatakan betapa bersyukurnya memiliki seorang suami yang begitu baik dan mau merawatnya tanpa kenal lelah. Ia sangat bersyukur memiliki Suami Kiriman Dewa. Istilah guyonan yang ia gunakan karena sepenggal kisah cinta yang unik.

Kala itu Mbah Lik-Tut habis diomeli habis-habisan oleh kakak lelakinya yang saya panggil Mbah Sugi. Mbah Lik-Tut kedatangan tamu pria dan Mbah Sugi tidak suka kalau adik perempuannya dekat dengan laki-laki. Sebab dalam keluarga besar itu, yang tua selalu lebih dominan dan mengintervensi yang lebih muda. Mbah Lik-Tut disidang dan dilarang untuk didekati oleh pria-pria. Akhirnya ia menangis dan pergi ke laut.

Keluarga mama saya itu dulunya tinggal di sebuah desa kecil bernama Adiraja di daerah Cilacap. Pantainya yang sering dikunjungi bernama Srandil. Pantai yang sama yang di kunjungi oleh Mbah Lik-Tut saat ia menangis karena merasa kebebasannya dipasung. Akhirnya ia menuliskan sumpah serapah di atas pasir yang berbunyi : "Siapapun pria yang datang melamar saya dan kemudian pria itu disukai oleh keluarga saya, saya akan mengikuti karena itu berarti jodoh saya." Dan seperti sebuah cerita dongeng atau kisah tentang legenda kuno, tiba-tiba datang ombak besar dan ombak tersebut menyapu bersih tulisan di atas pasir tersebut. Seolah itu merupakan jawaban dari Dewa, tiba-tiba tetangganya memanggil namanya dan Mbah Lik-Tut kedatangan tamu dari jauh, seorang pria yang datang ingin melamarnya, ia masih saudara jauh kami, namanya Warsito.

Cerita ini dituturkan oleh Mbah Lik-Tut dengan mata berbinar-binar. Mama saya yang usianya sama dengan Mbah Lik-Tut, dulu sering bermain bersama-sama, justru sama sekali tidak mengetahui kisah ini. Kami yang mendengar sungguh tidak menyangka bahwa kisah ini benar-benar nyata. Terdengar seperti hanya sebuah dongeng saja, namun kisah percintaan ini benar-benar nyata. Buktinya hingga detik ini, Mbah Sito, suami Mbah Lik-Tut senantiasa merawat dan menjaga istrinya tanpa kenal lelah.

Semua dilakukan oleh suami Mbah Lik-Tut. Membersihkan kotoran, membuat makanan, membuatkan tempat duduk yang nyaman untuk istrinya karena Mbah Lik-Tut , dan segala hal urusan rumah tangga dan mengurusi Mbah Lik-Tut ditangani oleh Mbah Sito. Berapa banyak pria yang mau mengurusi istri mereka dikala istri mereka sudah tidak mampu lagi menjalankan tugasnya sebagai Ibu dan juga Istri? Nyaris jarang terdengar suami yang masih mampu setia. Kalau istri yang setia merawat suami mungkin banyak, tapi suami? Ya, saya kagum dengan Mbah Sito yang dengan cinta kasihnya tetap bertahan dan merawat istri yang sakit-sakitan.




UNTUNG ADA JOKOWI
Kita semua tahu pengobatan penyakit kanker membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, selalu ada jalan menuju Roma. Jalan yang awalnya tertutup oleh gorong-gorong yang digerogoti tikus, kini tikus-tikus korupnya telah digantikan oleh pemimpin sebaik Dewa, bapak Jokowi. Berkat program Jakarta Sehat, Mbah Lik-Tut masuk RS Cengkareng gratis tanpa biaya sepersenpun. Sungguh terima kasih kepada pemerintahan bapak Jokowi-Ahok, bukti programnya benar-benar terasa nyata bagi kami sekeluarga.


BERSAHABAT BERSAMA KANKER
Perjuangan Mbah Lik-Tut memang belum berakhir. Akhir hanya akan ditandai oleh selesainya penyakit kanker yang diderita atau akhir masa hidupnya karena kanker, sekali lagi, adalah memang penyakit ganas yang mematikan. Untuk akhir yang kedua, agaknya kami sekeluarga memang sudah rela kalau memang waktu telah tiba mencuri masa kehidupan Mbah Lik-Tut saat ini. Ajaran Buddha, ajaran yang diyakini oleh Mbah Lik-Tut sekeluarga, memang mengajarkan bahwa kehidupan ini tidak pernah berakhir selesai. Semuanya proses dan dimana ada kematian pasti ada kelahiran baru lagi. Mbah Lik-Tut pun meyakini bahwa sakit yang dideritanya merupakan buah karma buruk yang harus diterimanya akibat perbuatan masa lampau. Itu mungkin yang membuatnya kuat dan tidak mengeluh ataupun menyalahkan siapapun atas sakit yang dideritanya. Ia begitu menerima dan menyadari bahwa kematian bukan berarti mati karena selama masih ada nafsu, makhluk termasuk manusia akan terlahir kembali. Begitu yang diyakininya.




Bersahabat bersama sesuatu yang membunuh kita secara perlahan memang persahabatan yang menyakitkan. Hubungan semacam itu disebut Simbiosis Parasitisme didalam istilah Biologi. Sang 'sahabat' sama sekali tidak menguntungkan dan justru mengambil sari-sari kehidupan kita untuk membuatnya tetap hidup. Dan apabila 'sahabat' semacam itu sudah tinggal didalam diri kita, tidak ada jalan lain selain kita berdamai bersama penyakit tersebut.

Sebab sudah tidak ada gunanya lagi membenci penyakit yang tinggal didalam tubuh kita. Sebab tidak ada gunanya lagi menginginkan dia pergi. Sel kanker adalah sel-sel makhluk itu sendiri jadi bagaimana mungkin kita bisa menyingkirkannya? Dan pilihan Mbah Lik-Tut untuk bersahabat bersama kanker adalah luar biasa. Ia tidak membenci penyakit itu, ia hanya merasa tidak enak hati semua orang menjadi disusahkan olehnya.

Demikian tulisan ini saya akhiri. Meskipun hidup tidak berakhir hari ini tapi setidaknya semoga hal-hal buruk bisa dilewati dengan senyuman dan ketulusan hati. Semoga semua makhluk berbahagia.