Kamis, 14 Maret 2013

Apa itu Pikiranologi?

Mendengar sufiks -logi pada sebuah kata, menggiring saya pada pengertian mengenai Pengetahuan yang sudah dimodifikasi dengan berbagai Pengalaman dan juga Penelitian sehingga menghasilkan yang namanya Ilmu Pengetahuan. Contoh diantaranya yang begitu banyak misalnya adalah Biologi, Ilmu yang mempelajari tentang alam; Psikologi, Ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan; Kardiologi, Ilmu yang mempelajari tentang jantung, lalu ada Arkeologi, Ilmu tentang peninggalan material; Onkologi, Ilmu tentang penyakit kanker, dsb. Asal muasal sufiks -logi tersebut adalah dari bahasa Yunani -logia yang kemudian diserap kedalam bahasa Latin -logia lalu dipopulerkan oleh Perancis -logie dan terakhir bahasa Inggris -logy.

Pengetahuan-pengetahuan yang telah dijadikan Ilmu Pengetahuan tersebut bersifat kasat mata dan juga tampaknya jelas secara fisik, mungkin ada pengecualian seperti Eksatologi yang mendalami soal peristiwa masa depan sejarah manusia ataupun Teologi yang mendalami persoalan spiritualitas terhadap Tuhan. Walaupun kedua cabang Ilmu tersebut mempelajari aspek yang sifatnya tidak bisa dibuktikan secara empiris, namun hampir semua orang mengatakan bahwa keyakinan beragama adalah modal yang kuat sebagai hipotesa.

Berkaitan dengan cabang Ilmu tersebut, saya jadi penasaran darimana datangnya Pengetahuan mengenai Eksatologi ataupun Teologi. Apakah benar telah dibuktikan? Atau hanya sebatas pemikiran yang dimodifikasi sehingga menghasilkan sesuatu yang tampaknya seperti Pengalaman lalu diyakini? Setelah memikirkan hal tersebut saya kemudian menyadari bahwa pikiran saya berputar-putar dan berusaha mendefinisikan satu dan lain hal, akan tetapi hasil pikiran saya apakah benar sesuai apa yang saya pikirkan?

Akhirnya terbentuklah sebuah pemikiran karena sejak tadi saya berputar-putar dalam alam pikiran. Mengapa tidak ada cabang Ilmu lainnya yang disebut Pikiranologi? Sebuah Ilmu Pengetahuan yang tentunya akan mendalami dan membahas mengenai asal-usul Pikiran dan bagaimana Pikiran berkembang dan mengempis sehingga terciptalah ide-ide untuk membentuk suatu hal? Dan mungkin Pikiranologi akan menjadi sumber -logi -logi yang lainnya, sebab jika benar Pikiran adalah pembentuk ide-ide maka dari itu Pikiran adalah pelaku utama dari setiap cabang Ilmu.

Mungkin kalian akan mendebat bahwa sudah ada Filsafat yang berbicara tentang esensi segala sesuatu, ataupun Metafisika, yang merupakan cabang Ilmu Filsafat, yang membahas tentang asal dan hakikat sebuah objek (fisik) di dunia. Pikiranologi bukan tentang mencari-cari tahu soal keberadaan realitas, namun tampil sebagai gerbang antara pertanyaan mengenai realitas dengan realitas itu sendiri. Pikiranologi membedah lebih dalam mengenai Pikiran yang sering bertanya soal eksistensi manusia dan semesta, Pikiranologi mempelajari Pikiran itu sendiri yang senantiasa membentuk dan menghancurkan ide, lalu menyimpulkan realitas apakah benar adanya atau hanya rekaan semata.

Sebuah kalimat kuno berbunyi :
"Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya"

atau Henry Ford pernah mengatakan :
"If you think you can do a thing or think you can’t do a thing, you’re right."

Kalimat tersebut semakin membuat saya tertarik, jikalau pikiran demikian adanya dalam hal menciptakan kreasi atau bahkan pemahaman banyak hal. Benarkan segala hal benar adanya? Atau hanya bentukan pikiran saja? Kalau begitu apakah alam semesta senyata yang dipelajari melalui cabang-cabang Ilmu yang sudah ada atau sebenarnya alam semesta adalah bentukan pikiran kita sendiri? Kalau memang bentukan pikiran kita sendiri, apakah ada hal-hal yang benar nyata seperti pikiran kita yang terus berpikir?

Saya penasaran tapi rasa penasaran juga bagian dari pikiran yang mengarah pada hal penasaran. Benar atau tidaknya hal-hal yang membuat saya penasaran sama artinya bergantung dengan pikiran setiap masing-masing individu. Lantas hanya akan tersisa kebingungan mengenai sebuah hal-hal yang senyata apa yang kita lihat.

Ah, sudahlah. Ketimbang berpusing akan alam pikiran dan merasa bahwa apa yang dipikirkan itu paling benar sendiri sedangkan orang lain merasa pikirannya lah yang paling benar, saya suguhkan blog saya ini menjadi label PIKIRANOLOGI PRASASTI. Sebuah blog yang berisi berdasarkan pikiran saya sendiri sebagai Prasasti, yang menganut cabang Ilmu yang tidak masuk ke dalam klasifikasi manapun karena memang saya tidak membutuhkan observasi yang sesuai standar nalar dan akal. Pikiran itu sendiri adalah sesuatu yang senantiasa merasa paling mendekati akal. Jadi? Sudah siapkah Anda dengan kenyataan bahwa kebenaran yang Anda yakini paling benar hanyalah ciptaan pikiran Anda yang memang tidak mau bersalah?



-disudut kota-
140313