Rabu, 06 Maret 2013

Penghormatan Terakhir

Seharusnya saya menulis blog ini beberapa hari yang lalu. Tapi, berhubung keadaan jaringan internet kantor saya yang kurang mendukung jadi sejujurnya saya agak malas untuk update postingan belakangan ini.

Jaringan internet di kantor saya di lock oleh kantor pusat entah karena alasan apa situs blogger juga ikut-ikut di lock padahal menurut saya situs ini baik untuk melatih dan merangsang otak kita ketika mengungkapkan sesuatu lewat tulisan. Namun sekarang situs ini jadi tampak gak cantik lagi setelah jadi korban list jejaring yang harus di lock. Tampilannya gambarnya jadi gak maksimal dan template saya gak kelihatan, saya yang memang masih terikat sama keindahan jadi males untuk posting.

Postingan terakhir saya adalah soal cerita saya tentang Mbah Lik-Tut dan soal penyakitnya. Tepat pukul 5 pagi keesokan harinya saat saya sedang bersiap-siap menembus kemacetan Ibukota, keluarga mengabarkan bahwa Mbah Lik-Tut akhirnya menyerah pada penyakit kanker dan meninggal dunia sekitar pukul 4 pagi.

Kami sekeluarga berserta keluarga besar saya yang lainnya otomatis harus pergi kerumahnya yang berada didaerah Tangerang. Saya menggambil cuti dadakan. Demi penghormatan terakhir keluarga saya, saya rela melakukan apa saja termasuk kalau seandainya kantor memberikan peringatan atau semacamnya karena perihal cuti yang seharusnya diajukan minimal 1 minggu sebelumnya.

Sehari sebelum Mbah Lik-Tut meninggal dunia, tadinya nenek saya yang merupakan kakak kandung Mbah Lik-Tut ingin datang menjenguk beliau. Selama Mbah Lik-Tut sudah drop akan penyakit kanker, nenek saya atau yang biasa panggil Mbah Ibu belum sama sekali menjenguk adiknya. Mbah Ibu juga menderita penyakit, sakit diabetes yang berakibat pada amputasi jari manis di kaki kanannya dua tahun silam. Setelah di rawat selama sebulan karena kondisi tubuhnya sudah drop, Mbah Ibu tidak dapat pergi kemana-mana. Beliau hanya bisa duduk dan tidur atau melakukan aktivitas lainnya di atas tempat tidur. Tulangnya sudah tidak dapat menopang tubuhnya karena menurut dokter penyakit gulanya sudah sampai ke tulang. Karena tubuhnya yang sudah tidak kuat melakukan perjalanan lagi, maka Mbah Ibu tidak dapat mengunjungi adiknya walau sebenarnya Mbah Ibu adalah tipikal orang yang sangat sayang kepada keluarga. Namun, tepat sehari sebelum Mbah Lik-Tut meninggal, Mbah Ibu meminta diantar ke tempat adiknya yang saat itu masih di rawat di RS Cengkareng. Adik Mbah Ibu yaitu Mbah Bar otomatis jadi bersemangat mengantar karena Mbah Ibu akhirnya mau pergi meskipun memang harus rela melakukan perjalanan jauh yang akan membuat tidak nyaman dirinya.

Lokasi rumah Mbah Ibu yang berada di Karawang ternyata memang tidak memungkinkan untuk sampai di Cengkareng. Baru sampai di daerha Cikarang, Mbah Ibu sudah menangis dan mengeluh, ia tidak sanggup melakukan perjalanan sejauh itu. Singkat cerita akhirnya Mbah Ibu dan Mbah Lik-Tut tidak dapat bertemu di hari yang kita semua tidak sangka adalah hari terakhir Mbah Lik-Tut di dunia. Kabar Mbah Ibu tidak dapat mengunjungi Mbah Lik-Tut disampaikan oleh kakak Mbah Lik-Tut yaitu Mbah Sudi dan keponakannya Bu-Lik Eni dan suaminya Mbah SIto yang memang mereka bertiga menunggu di rumah sakit. Kata mereka, setelah mendengar kabar tersebut, Mbah Lik-Tut berkata lewat bibir yang tanpa suara bahwa ia tidak apa-apa. Wajahnya sangat ikhlas dan entah mengapa menyiratkan aura yang berbeda.

Saat itu mama saya dan sepupunya yaitu Tante Een, sudah berada di RS Cengkareng lebih dulu. Ada rasa kecewa di hati mama saya karena ibunya tidak dapat menemui adiknya yang sudah tidak mampu melakukan kegiatan apapun itu. Namun, melihat kondisi Mbah Lik-Tut yang kelihatannya sudah lebih segar, maka dipikir mama saya semoga Mbah Lik-Tut cepat sehat.

Tapi, mungkin keinginan kami sekeluarga untuk kesehatan Mbah Lik-Tut kembali seperti sedia kala, nampaknya adalah harapan yang terlalu muluk-muluk. Penyakit kanker itu penyebabnya karena cacat sel di dalam tubuh kita. Perkembangannya menjadi tidak terkontrol dan lebih menakutkannya lagi karena sel-sel yang berubah menjadi monster itu memakan sel-sel yang masih berfungsi. Otomatis perkembangannya sulit dikendalikan dan kemungkinan sembuh sudah tidak mungkin lagi.

Tidak disangka kalau pada akhirnya kunjungan mama saya itu adalah kunjungan terakhir untuk Mbah Lik-Tut. Semua yang hidup pasti mati, kita semua tahu itu. Tinggal kematian dengan cara apa yang seringkali masih membuat kita semua jadi takut akan kematian. Ketiga orang yang menunggu di RS yaitu Mbah Sito, Mbah Sudi, dan Bu-Lik Eni mengatakan bahwa kematian Mbah Lik-Tut sangatlah damai. Pada pukul 12 malam, beliau meminta untuk dibacakan Paritta yaitu doa-doa dalam agama Buddha. Mbah Lik-Tut sekeluarga adalah penganut Buddhist Theravadha. Mbah Sito melafalkan Paritta secara perlahan sambil diikuti oleh Mbah Lik-Tut walau tanpa suara. Setelah selasai membaca Paritta, Mbah Lik-Tut meminta mereka bertiga untuk tetap terjaga dan jangan tidur. Mungkin tanda perpisahan Mbah Lik-Tut adalah ketika ia menyentuh tangan masing-masing Mbah Sito, Mbah Sudi, dan Bu-Lik Eni dengan erat.

Meskipun Mbah Lik-Tut beragama Buddhist dan dalam agamanya diperbolehkan untuk kremasi ketika sudah meninggal, suami serta anak-anaknya menyerahkan keputusan ditangan keluarga. Kemudian disepakati untuk menguburkan Mbah Lik-Tut di tempat kelahiran dan leluhurnya yaitu di Cilacap kecamatan Adipala di Desa Adirejawetan.


Selamat Jalan Mbah Lik-Tut.. Semoga terlahir ke alam bahagia.. We love you...