Senin, 11 Maret 2013

Perjalanan Menuju Tanah Leluhur

Pada posting-an saya yang terakhir, saya belum menulis tentang perjalanan saya menuju ke tanah leluhur saya. Adik nenek saya, disemayamkan di Cilacap. Saya dan mama saya sudah menyiapkan baju yang akan di bawa ke Cilacap. Kakak saya tidak dapat ikut sebab ia belum mendapatkan jatah cuti dari kantornya dan Ayah saya juga tidak dapat cuti karena bekerja. Sedangkan saya? Saya memang bekerja namun saya ingin sekali mengunjungi kampung halaman mama saya. Waktu Eyang Buyut saya meninggal, saya dan keluarga pernah mendatangi keluarga mama saya di Cilacap tepatnya di Desa Adiraja. Tapi, itu sudah lama sekali, saat saya masih duduk di bangku SD. Ingatan akan kampung halaman sudah tidak begitu jelas, maka dari itu saya merasa inilah kesempatan saya untuk mengenal garis keturunan keluarga saya.

Perjalanan menuju Cilacap berlangsung sekitar 10 jam. Kami sekeluarga dan juga mobil Ambulance konvoi, tetapi karena mobil Ambulance memiliki hak lebih di jalanan maka jenazah Mbah Lik-Tut sudah sampai duluan di Jawa. Mobil yang saya tumpangi sampai Desa Adirejawetan pukul 02 pagi. Kami tidak melewati jalur selatan yang berkelok-kelok, melainkan jalur pantura yang di dominasi sama truck-truck dan juga bus-bus besar.

Saya baru tahu kalau ternyata Mbah Bapak dan Mbah Ibu, orang tua mama saya, tinggal di desa yang berbeda. Tadinya saya pikir mereka sama-sama berasal dari Desa Adiraja tapi ternyata keluarga Mbah Bapak saja yang tinggal di Adiraja dan keluarga Mbah Ibu tinggal di Adirejawetan, namun kedua desa itu letaknya bersebelahan. Sebenarnya Mbah Ibu berasal dari Maos, masih di dalam wilayah Cilacap, namun ketika ia sudah besar seluruh keluarganya pindah ke Adirejawetan.

Setelah sampai Adirejawetan, saya tidak bisa tidur. Saya terlalu bersemangat meskipun dalam suasana berduka, saya sangat senang akhirnya bisa datang ke tempat itu setelah bertahun-tahun berharap bisa kembali kesana. Saya bertahan untuk tidak tidur dan memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati udara Subuh dengan mengelilingi sekitar kampung dengan berjalan kaki bersama tiga orang saudara saya. Begitu sepi dan hening, saya jadi merinding membayangkan kami bertemu dengan makhluk halus ketika sedang berjalan menuju tempat-tempat gelap yang hanya disinari lampu minyak saja. Untungnya tidak ada satupun dari kami yang bertemu makhluk halus, kalau seandainya bertemu mungkin saya akan mengajaknya foto bersama untuk di masukan ke dalam posting-an saya hehe.

Pukul 06 pagi, jalanan sudah ramai. Namun, jelas keadaan ramai yang berbeda dengan Jakarta atau tempat tinggal saya di Bekasi. Keramaiannya tidak di dominasi oleh kendaraan bermotor melainkan orang-orang yang sudah berlalu lalang menuju pasar. Sudah banyak yang menggunakan motor, tapi tidak sedikit yang mengayuh sepeda ontel atau naik becak. Aku, mama dan tante Ning (adik mama nomor dua), serta sepupuku, memutuskan untuk berjalan kaki saja. Padahal jaraknya cukup jauh tapi kami semua semangat karena selain ingin memburu jajanan enak yang murah meriah, kami ingin berolahraga sambil menikmati udara yang kaya akan oksigen.

Jarak dari rumah menuju pasar mungkin sekitar satu kilo meter, tetapi setelah sampai bukannya lelah, kami langsung bergerilya mencari-cari makanan yang mengundang selera. Ada lupis, klepon, nasi uduk berbentuk bola, dan berbagai macam makanan yang rasanya akan bikin ketagihan.




Selain variasi makanan tradisional yang bermacam-macam, apalagi yang membuat kami kegirangan selain harganya yang murah meriah. Seribu rupiah saja sudah dapat satu jenis makanan yang sangat banyak! Hanya menghabiskan 20ribu rupiah, kami sudah menenteng banyak sekali makanan! Di Bekasi atau Jakarta tidak mungkin bisa seperti ini!

Diseberang pasar, ada warung nasi yang katanya juga enak dan murah meriah. Saya yang sedang belajar jadi Vegetarian, harus bisa tahan godaan saat Goreng Udang Tepung sudah siap saji dan tampaknya sangat enak. Keluarga saya lahap makan sarapan disana sedangkan saya hanya makan Lupis dan Klepon dan juga Nasi Uduk bulat. Sayangnya, maag saya kambuh. Belum sampai habis, perut saya sudah tidak bisa diajak kompromi. Rasanya mengesalkan!

Pukul 10 pagi, Mbah Lik-Tut akan disemayamkan. Mungkin hampir seluruh penduduk desa datang melayat. Saya tidak mengenal semuanya. Bahkan yang masih ada hubungan saudara saja datang dan saya tidak mengenal mereka. Tapi, anehnya orang-orang itu saling mengenal satu sama lain dan mama saya cukup eksis di kenal di sana. Banyak yang menyapa beliau duluan, saya jadi terkagum-kagum, ternyata mama terkenal sampai ke desa tetangga.

Lokasi penguburan Mbah Lik-Tut tidak jauh dari tempat tinggal keluarga kami. Cukup dengan berjalan kaki, kami semua sampai. Setelah acara penguburan tersebut, sepupu mama dari Mbah Bapak mengajak mama untuk berjalan-jalan ke Adiraja dan sekitarnya. Saya sudah cuti dua hari dan agak tidak enak rasanya kalau harus cuti sehari lagi, namun rasa ingin mengenal tempat leluhur membuat saya nekat untuk nambah cuti sehari.

Perjalanan dimulai menuju Karang Benda. Sebuah desa tetangga Adiraja. Kalau ditelusuri lokasinya dari Adirejawetan-Adiraja-Karang Benda. Memasuki desa ini, daerahnya lebih terlihat lebih pedesaan ketimbang dua desa mama saya dibesarkan. Banyak sawah di kanan-kiri dan juga banyak penduduk yang menggunakan sepeda.


Mengapa kami datang kemari? Konon ada sebuah kuburan leluhur kami yang disemayamkan di desa tersebut. Kuburan tersebut terletak di sebuah tempat bernama Kahendran. Berupa jalan kecil menanjak dan terdapat mata air yang masih jernih.


Berada di lokasi makan leluhur, kita semua harus sopan dan tidak bertingkah laku aneh. Ada semacam tata cara yang harus di lakukan sebelum memasuki tempat pemakamannya. Tujuannya untuk penghormatan bukan sebagai media pemujaan. Sebagai anak cucu, kami harus menghormati leluhur dan orang-orang tua.




Mbah Peno, adik Mbah Bapak, merupakan salah seorang Bedogol di desa Adiraja. Sebenarnya yang seharusnya menjadi Bedogol adalah Mbah Bapak, namun karena beliau hidup di Karawang dan menjadi Bedogol mengharuskan tinggal di Adiraja, jabatan itu diserahkan kepada adiknya, Mbah Peno, yang memang hidup di Adiraja. Bedogol adalah semacam jabatan kekuasaan yang diberikan secara turun temurun. Menurut catatan sejarah, ada jejak keturunan Putri Pembayun anak dari Panembahan Senopati yang juga istri dari Ki Ageng Mangir dalam keluarga Mbah Bapak. Jadi kami masih saudara sangat jauh dari Sri Sultan Hamengkubuwono. Jumlah Bedogol ada 12 orang dan semuanya adalah keturunan darah biru.


Setelah berkeliling Kahendran untuk membasuh wajah, menghormat kepada leluhur, makan bunga melati dari sana, kami sekeluarga menuju sebuah Vihara diatas bukit bernama Jambe Lima. Perjalanan ini sekadar penasaran saja, sebab view dari Vihara ini katanya sangat indah, bisa sampai melihat laut pantai selatan. Letaknya tidak terlalu jauh dari Kahendran dan jalannya cukup berliku sebab kami memang menempuh jalanan berbukit.

(Kiri-Kanan) Mbah Sudi, Mbah Bapak, Saya, Mbah Peno



Saking nikmatnya angin semilir dan keindahan alam sekitar, saya sampai lupa mendokumentasikan pemandangan indah yang saya lihat. Saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menyaksikan kehebatan semesta memproses kehidupan.

Kami harus pulang. Itu yang harus kami lakukan meskipun ada rasa rindu yang belum terpuaskan pada tanah leluhur kami. Namun, sebelum kami pulang, kami mampir ke Welahan Wetan, sebuah desa yang cukup jauh tempat tinggal Mbah Sri, adik Mbak Bapak dan Mbah Peno. Disana kami makan pecel terenak sedunia dengan harga murah meriah, 3ribu sudah dapat pecel plus lontong dengan porsi sangat mengenyangkan. Sayangnya, saya lupa foto-foto makanan tersebut saking nikmatnya memanjakan lidah dan perut.

Pukul 04 sore kami pulang dari Adirejawetan menuju Karawang. Perjalanan menempuh jalur selatan yang berliku-liku. Selamat tinggal Cilacap. Suatu hari saya akan kembali lagi :)