Jumat, 24 Mei 2013

APTB (Bekasi-Tanah Abang) : Solusi Kemacetan?

Halo, apa kabar stalker? Sepertinya belakangan ini saya mulai terkena semacam sindrom malas yang luar biasa. Saya malas ngapa-ngapain, bahkan untuk melakukan kemalasan saya sendiri saja saya malas. Entah apa yang terjadi dengan saya, tapi saya mulai malas berpikir juga, jadi tidak mengherankan bila saya juga malas untuk bikin posting-an baru.

Namun, kali ini saya membuang jauh-jauh rasa malas saya sebab saya mau berbicara tentang sebuah inovasi yang sudah sering dibahas untuk mengatasi kemacetan Ibukota. Saya termasuk orang yang skeptis terhadap berbagai inovasi yang ditawarkan untuk perubahan Jakarta. Di mata saya, segala upaya yang dicari lalu diterapkan menjadi sebuah aturan, hanyalah berupa inovasi yang ketika berupa gagasan masih terasa bagus tetapi ketika sudah masuk ke dalam tahap realisasi hanya menjadi janji manis saja. Bahkan ketika Jasa Marga mengeluarkan Sayembara Solusi Kemacetan Ibukota saya juga menyumbangkan ide yang salah satunya memberlakukan sistem subsidi silang, dimana pengendara mobil pribadi dibebankan biaya toll yang lebih besar ketimbang bus dan angkutan umum yang melewati toll. Dengan tingginya harga toll, pengguna kendaraan bermobil akan pikir berkali-kali ketika menggunakan mobilnya dan saya yakin mereka akan beralih menggunakan angkutan umum. Akan tetapi, terlepas dari banyaknya ide yang disumbangkan, kalau manusia tetap egois dan mementingkan kenyamanan pribadi, saya rasa semua ide hanya akan berakhir menjadi sampah gagasan belaka.

Untungnya, sekarang Jakarta dipimpin oleh Duo Pria Tampan (hehe) yang meski bukan asli orang Jakarta, semoga saja Pak Jokowi dan Pak Ahok bisa menuntaskan permasalahan kemacetan di Ibukota. Saya memang bukan tim sukses mereka, saya juga bukan warga asli Jakarta yang pada saat pemilu memilih keduanya sebagai pemimpin Jakarta, saya juga tidak kenal siapa mereka berdua. Namun, terlepas dari ketidak-terkaitan saya terhadap mereka berdua, saya mendukung penuh segala inovasi yang dikampanyekan oleh keduanya. Mengapa demikian? Sebab mereka berdua tidak terlalu muluk-muluk dalam membuat agenda perubahan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan calon gubernur pada saat itu. Juga salah satu inovasinya adalah mau memperbaiki kemacetan di Ibukota.

Pada awalnya saya memang skeptis tentang perubahan yang ditawarkan oleh Pak Jokowi dan Pak Ahok. Apakah mungkin memperbaiki kota semerawut Jakarta? Tetapi, rasa skeptis saya kini mulai tergantikan rasa optimis tentang perubahan yang diharapkan bisa berjalan kearah yang lebih baik ketika munculnya sebuah ide untuk membuat transportasi nyaman tidak hanya di dalam Ibukota tetapi di kota-kota yang aktivitasnya terhubung dengan Ibukota sendiri. Selain MRT yang disebut-sebut akan mewarnai kegiatan transportasi, adalah APTB sebuah gagasan yang menurut saya cukup menarik.

Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus Transjakarta atau yang dikenal APTB sudah beroperasi. Selama dua hari belakangan pun saya menggunakan kendaraan tersebut. Dari tempat tinggal saya, bus APTB yang beroperasi itu bekerja sama dengan salah satu perusahaan bus ternama, Mayasari Bakti. Berikut beberapa pantauan yang saya dapatkan selama menggunakan transpoertasi tersebut:

Biaya Rp. 8,000.-
Dari biaya bus pada umumnya yang beroperasi dari Bekasi menuju Ibukota atu rute sebaliknya, biasa dikenakan biaya sebesar Rp. 6,000.- s/d Rp. 7,000.- untuk sekali perjalanan bus AC dan Rp. 4,500.- untuk bus Non-AC. Namun, untuk APTB sendiri biaya tiketnya lebih mahal yaitu Rp. 8,000.- untuk perjalanan dari Bekasi-Tanah Abang. Hmmm, kalau dihitung-hitung sih memang agak lebih tekor jika setiap hari menggunakan APTB. Jadi untuk pengguna angkutan umum seperti saya sih APTB agak menguras kantong juga.

Tiket Terusan
Masih berkaitan dengan tiket APTB yang dirasa cukup mahal bagi pengguna kendaraan umum, ternyata tiket seharga  8 ribu rupiah cukup worth-it. Seperti informasi yang tertera di dalam APTB dan juga diberbagai pemberitaan, tiket APTB juga termasuk tiket terusan di dalam koridor busway! Jadi artinya kalau misalnya kalian mau naik busway untuk melanjutkan perjalanan setelah naik APTB, kalian tidak perlu lagi membeli tiket busway yang di bandrol seharga Rp. 3,500.- cukup dengan Rp. 8,000.- kalian sudah bisa menggunakan APTB dan juga busway! Keren kan? Misalnya begini, dari Bekasi kalian mau ke arah Blok M, otomatis kalian harus menggunakan APTB sampai Halte Bendungan Hilir saja, lalu bisa nyambung naik busway yang ke arah Blok M tanpa dikenakan biaya tiket busway. Hmm, saya rasa biaya tersebut cukup murah terutama untuk kalian yang letak kantornya dilewati oleh jalur busway.

Cukup Rp. 5,000.- dari Koridor Busway
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya harga tentang harga APTB, untuk yang naik dari koridor busway apakah akan dikenakan biaya yang sama juga? Jawabannya tentu tidak. Apabila teman-teman ingin naik APTB menuju Bekasi, sudah pasti kalian harus menunggu di halte busway. Biaya yang dikenakan hanya 5rb rupiah saja! Tentu kalian juga harus membeli tiket APTB terlebih dahulu di dalam halte busway, jangan sampai membeli tiket busway.

Rute Perjalanan
Nah, untuk rute perjalanannya sendiri, APTB yang berangkat dari Bekasi tidak masuk ke dalam toll bayangan di Jatibening. Bus APTB dari Bekasi langsung menuju Halim dan keluar di toll Cawang dan langsung melakukan pemberhentian di halte-halte busway sampai ke arah Tanah Abang. Cukup efisien waktu yang dihabiskan untuk menuju Tanah Abang melalui jalur ini ketimbang melewati toll dalam kota. Tapi, bukan Jakarta namanya kalau bisa ditebak. Jalur APTB ini juga mengalami kemacetan parah terutama di daerah Pancoran sampai Gatot Soberoto. Hal itu dikarenakan pada jalur ini, pengguna motor sangatlah banyak dan tidak teratur. Kalau tidak ada penjaga disekitar jalur busway, para pengguna motor akan menggunakan jalur busway untuk alternatif mereka. Sungguh menyebalkan!

Kapasitas Tempat Duduk
APTB Mayasari Bakti dari Bekasi, memiliki kapasitas tempat duduk sebanyak 30 orang dan memiliki ruang yang cukup luas untuk orang-orang berdiri. Bentuknya memang menyerupai TransJakarta.

Fasilitas yang Cukup Oke
Bus APTB ini mungkin memang Bus baru dan bukan 'kanibal' yang artinya hanya body bus saja yang baru dan mesinnya mesin lama. Sebab suspensinya memang betulan enak dan apabila kita berdiri lama di dalam bus tidak terasa terlalu cape seperti kalau kita menggunakan bus-bus umum yang biasa. Belum lagi kebersihannya yang masih terawat dengan baik dan juga interior yang cukup bagus sehingga membuat pengguna bus tidak merasa kalah keren ketimbang naik mobil pribadi, Ditambah lagi AC yang sangat dingin, membuat saya beku saking dinginnya, jadi untuk kalian yang mau naik APTB jangan lupa pakai jaket yang tebal yaa! Brrrrrr.



KESIMPULAN!
Dari tulisan saya ini bisa ditarik kesimpulan bahwa, keberhasilan kinerja dan juga gagasan Duo Jokowi-Ahok sangat ditunjang dari masyarakat yang dipimpin mereka. Tanpa dukungan yang besar, kesuksesan untuk membaharui transportasi Ibukota hanyalah angan-angan semata. Jakarta akan tetap macet bahkan akan lebih parah lagi apabila setiap hari mobil pribadi terus bertambah jumlahnya. Jadi, beranikah Anda mengikis ego dan mulai menggunakan transportasi nyaman yang diidamkan sesuai gagasan Jokowi-Ahok?