Senin, 06 Mei 2013

Dukkha

Lagi-lagi, malam ini ia datang. Saat lampu ruangan dinyalakan, aku memandang seluruh peserta yang duduk dalam posisi bersila. Gadis itu duduk di barisan paling belakang, seperti biasa. Seperti saat tiga minggu yang lalu ketika ia pertama kali datang. Mungkin malam yang mengundangnya atau angin mengatakannya bahwa ia punya kesempatan hening, menyatu dengan alam. Entahlah. Aku belum pernah bicara dengannya. Ia juga tak pernah bicara dengan yang lainnya meski peserta banyak yang bertanya-tanya tentang kehadirannya. Tidak ada yang tahu siapa dia atau apa yang membawanya datang ke tempat terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dunia. Kedatangannya hanya menyisakan tanda tanya ketika kemudian saat pelajaran usai, ia berlalu pergi.

Saat pertama kali datang hingga kedatangan yang kesekian kalinya, gadis itu sendirian. Hanya saja ia bukanlah gadis yang sama saat ini dengan yang pertama kali datang kemari. Wajahnya letih dan penuh kerutan, sepertinya ia telah mengemban masalah yang terlampau berat hingga bahunya tak mampu lagi menopang. Namun, kini gadis itu telah menanggalkan deritanya. Tak ada lagi kesedihan dan kegelisahaan yang tersirat dari wajahnya. Hanya senyum yang ditarik di kedua sisi bibirnya. Bibir yang sangat tipis tapi sangat anggun membingkai wajahnya yang berbentuk oval. Kulitnya pucat, entah karena dinginnya malam yang selalu ia dapati kala datang kemari atau memang kulitnya sudah pucat begitu, aku tidak tahu. Rambutnya bergelombang dan tergerai indah bak mahkota bidadari khayangan. Dan matanya, mata yang besar seperti rusa selalu berkedip lambat-lambat diikuti bulu mata tebal. Ia tidak secantik gadis-gadis yang wara-wiri di televisi, tapi ia cukup cantik dan terlalu cantik menurut pandangan mataku. Dan semenjak menatap matanya, aku selalu merasa ia dapat membuat aku terjatuh dalam misterinya.

Mungkin inilah yang namanya ketertarikan fisik. Jatuh cinta. Atau apapun namanya. Aku sendiri lupa kapan terakhir aku pernah merasakan debaran tak menentu saat mataku bertemu matanya untuk beberapa saat saja. Aku juga lupa kapan terakhir kali aku menginginkan seseorang begitu besar sampai-sampai rasa pusing menghantuiku kala gadis itu pergi meninggalkanku saat sesi pelajaran hening usai. Aku pun lupa kapan terakhir kali aku memikirkan seseorang hingga aku mengorbankan seluruh waktu heningku begitu saja. Aku sedang terjangkit virus paling mematikan, benar membuatku mati rasa dan memang harus dimatikan.
                                                                          ***

Aku masih ingat waktu setahun lalu aku tinggal di tempat terpencil ini. Hidupku sebatang kara. Orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan beberapa minggu sebelum aku datang kesini. Aku anak tunggal dan aku tidak punya saudara sepupu, paman atau bibi bahkan kakek nenek. Ayahku juga anak tunggal seperti halnya aku, sedangkan Ibuku hanya dua bersaudara dan saudaranya telah meninggal karena penyakit kanker payudara. Kakek-nenek dari kedua orang tuaku sudah lama meninggal dunia. Jadilah aku si anak yang benar-benar hidup sebatang kara. Berhubung aku seorang penyendiri, aku juga tidak punya teman dekat. Seluruh hidupku aku baktikan kepada kedua orang tuaku. Sampai akhirnya jalan kehidupan membuat aku nyaris gila. Selama seperempat abad hidupku aku serahkan pada kedua orang tuaku, tak sekalipun aku mencoba menjajaki dunia percintaan atau hanya sekedar bersahabat dengan satu dua orang teman. Kini orang tuaku telah tiada, tempat dimana aku menggantungkan dan memberikan hidup telah pergi. Aku hilang arah. Aku tidak tahu harus bagaimana.

Aku marah pada Tuhan karena ia seenaknya saja mengambil kedua manusia yang aku kasihi. Tidakkah Tuhan Maha Mengetahui kalau aku hidup sebatang kara? Setiap malam aku meratap berharap kedua orang tuaku bisa kembali. Tapi itu mustahil. Tidak akan mungkin mereka kembali. Kematian telah menjemput mereka untuk meninggalkan aku tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Sampai akhirnya saat aku sedang hilang arah, aku mengayuh sepedaku, menjauh dari keramaian dan terus menjauhi tempat tinggalku. Aku tidak lelah dan aku tidak takut apapun lagi, terlebih pada kematian. Jalanan sudah sangat gelap karena saat itu memang sudah larut malam. Aku tidak peduli kalau aku bertemu perampok, aku tidak peduli akan bahaya yang mungkin saja menimpaku. Aku sudah mati rasa. Tidak ada lagi alasan untuk aku bertahan hidup. Tiba-tiba sepeda aku menabrak batu besar ditengah jalan. Aku terpelanting dari sepeda. Aku pikir aku bakal mati, ternyata malah seluruh badanku sakit semua karena jatuh. Aku masih sadar dan aku melihat keseliling jalanan gelap itu. Ternyata ada sebuah pemukiman di depanku. Tidak jauh dari pemukiman itu ada sebuah bangunan besar yang menjulang tinggi terbuat dari batu-batu alam. Sekeliling bangunan berbatu itu adalah sebuah tembok batu juga dan tanpa pagar. Aku begitu terkesima melihat keanggunannya yang berdiri di tengah kesunyian seperti itu. Dengan rasa ingin tahu luar biasa, aku bangkit menahan sakit dan melangkah pincang masuk ke dalam bangunan itu.

Aku meninggalkan rongsokan sepeda aku. Tanpa ekspektasi, semenjak itu pula aku meninggalkan segala hal yang telah aku miliki. Ternyata bangunan agung itu adalah sebuah biara para pertapa. Mereka adalah sekumpulan manusia yang telah meninggalkan hasrat duniawi. Tidak perlu ragu-ragu, aku meminta ditabhiskan menjadi salah satu dari mereka. Tidak ada lagi yang menunggu aku di luar sana, tidak perlu juga aku meminta izin kepada orang tua, dengan bahagia aku kemudian melangkah.

Setelah satu tahun aku disini, sebagian besar hidup aku habiskan untuk bermeditasi menembus ketidakterlibatan terhadap dunia. Aku juga belajar mengenai hukum sebab-akibat dan luka kepergian orang tuaku berangsur-angsur dapat aku terima, meskipun aku tahu kerinduan aku pada orang tuaku tetap disana menjadi bagian dari diriku. Aku juga belajar tidak memiliki apa-apa, sekecil apapun, termasuk kesedihan aku. Dan disini, aku belajar untuk berbagi, kepada mereka yang tidak menempuh kehidupan selibat tetapi mencintai keheningan. Setiap malam pukul delapan, kami mengadakan hening bersama.

Setahun belakangan aku menguatkan tekadku untuk melepas segala beban penat yang selama ini aku bawa. Meskipun aku belum menuntaskan seluruhnya, Guru bilang aku tetap dalam proses. Aku begitu mencintai keheningan, walau aku diingatkan untuk tidak melekat pada keheningan itu sendiri. Sampai akhirnya ketika gadis itu datang, duduk bersila bersama yang lain. Tidak pernah bicara dan hanya membawa sekumpulan derita dunia yang ingin ia lepaskan. Gadis itu membuat aku meninggalkan ketertarikan aku pada keheningan. Gadis menawan itu telah memenjara aku.

Walau aku tahu ini bukan kehendaknya, melainkan kesalahanku semata. Bukan salahnya apabila ia rupawan, tentu kesalahan aku bila aku jadi tertarik kepadanya. Aku sudah mengabdikan diri pada janji suci untuk hidup tanpa perkawinan dan meninggalkan kemelekatan, namun gadis ini telah membuat aku ingin kembali memeluk ikatan inderawi. Aku begitu menginginkannya, hingga rasanya konyol kalau aku senantiasa berharap ia bertanya sekali saja saat hening selesai, agar aku bisa mendengar suaranya yang sepertinya merdu. Aku tahu aku nyaris gila dan kesalahanku adalah menyenangi khayalan tentangnya. Tapi, aku tak berdaya atau memang tak mau berdaya, aku menikmati sensasi ketika sesuatu berdesir dalam ragaku.
                                                                            ***
Jadwal rutin kami saat hari telah berganti adalah bangun tidur sebelum matahari menunjukkan diri. Namun, jatuh cinta tampaknya telah memadamkan semangat aku untuk memulai hari dengan ceria karena aku lebih menyukai berlama-lama di matras tidur untuk bermimpi tentangnya. Sebagai pertapa junior dan yang paling muda disini, pekerjaan beratku otomatis lebih banyak. Aku yang menyapu seluruh halaman biara yang penuh dengan dedaunan kering, membersihkan ruangan-ruangan di dalam biara, dan menyiapkan keperluan Guru. Kantuk menjamahku ketika aku sedang menyapu halaman dengan sapu lidi. Aku masih ingin kembali tidur dan bertemu dengan gadis pujaan aku. Sebab sungguh tidak mungkin jika aku mewujudkan itu menjadi kenyataan.

Tiba-tiba Guru datang. Lelaki tua itu selalu saja datang tiba-tiba diberbagai sudut biara ini. Saat kau sedang tidak fokus, marah, kesal, ingin kembali ke rumah orang tua, Guru selalu tahu dan akan memberikan satu dua kalimat bijaksana. Nasehatnya ibarat jarum suntik yang diinjeksikan langsung ke pembuluh darah. Seketika itu pula siapapun yang mendapat wejangannya langsung kembali 'sadar' akan tujuan mereka datang kemari. Dan kini, Guru tiba-tiba berjalan ke arahku. Aku jadi salah tingkah sendiri, aku takut ia tahu perihal perasaanku.

Aku menghormat padanya dan Guru tersenyum padaku, senyum dalam yang penuh makna.

"Pertapa Nanda, apa yang hendak kau lakukan?" tanya Guru.

"Saya sedang membersihkan halaman, Guru," sahut aku.

"Alangkah bijaknya bila seseorang membersihkan pikiran dari kemelekatan terlebih dahulu. Sebab seperti yang sudah diajarkan oleh Sang Guru, pikiran adalah pelopor," sahut Guru sambil tersenyum.

Aku menunduk memandang setumpuk dedaunan kering yang telah rapi. Ingin rasanya aku tenggelam ke tumpukan itu dan berharap aku berubah menjadi salah satu hewan tanah saja, malu. Guru beranjak pergi namun tiba-tiba saja keberanian datang padaku.

"Guru saya ingin berkata jujur," kata aku tiba-tiba. Kerongkonanku serasa tercekat tapi aku tidak mungkin bisa berbohong pada Guru.

Guru menghentikan langkah lalu menoleh kepadaku sambil tersenyum, "kejujuran adalah hal yang sangat baik."

"Saya telah jatuh cinta, Guru," kataku menghempaskan diri dihadapan Guru sambil terus menunduk malu, "saya telah jatuh cinta pada seorang gadis yang selalu datang saat hening bersama. Saya belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Maafkan saya guru," lanjutku, tiba-tiba saja aku mengecap sesuatu yang asin, ternyata air mata mengalir dari kelopak mataku.

Guru tersenyum, "tidak apa-apa kalau kau jatuh cinta."

Aku menengadah menatapnya, "benarkah itu tidak apa-apa, Guru?"

Guru menggeleng, "tidak apa-apa selama cinta yang kau maksudkan itu benar-benar ada. Bukan kondisi yang timbul dan padam," kemudian Guru berjalan pergi meninggalkan aku yang penuh tanya.

Sebelum ia melangkah lebih jauh, tiba-tiba Guru menoleh, "gadis itu adalah Chandani. Kebetulan ia merupakan dewi penunggu pohon itu. Kalau kau ingin menemui wujud aslinya panggil saja namanya," kata Guru sambil menunjuk pohon angsana di dekat aku.