Jumat, 03 Mei 2013

May Day

Tanggal 01 Mei yang lalu kita semua memperingati Hari Buruh Sedunia. Dulu saya pikir yang namanya Buruh hanyalah pekerja pabrik atau pekerja yang mengerjakan tugas kasar seperti kuli bangunan. Tetapi, ternyata (ehm saya mesti nelen ludah dulu) pekerja kantoran yang setiap senin-jumat selalu duduk cantik di ruangan ber-AC termasuk pekerja yang disebut Buruh. Klasifikasi Buruh sendiri ternyata meliputi semua pekerja dari berbagai aspek. Selama seseorang tidak memiliki lapangan kerja sendiri atau bahkan mempekerjakan orang lain tapi justru malah bekerja kepada sebuah perusahaan atau instansi, itu namanya Buruh. Hmmm, kalau begitu beruntunglah para pedagang yang meskipun mereka panas-panasan dengan gerobak dorong, status mereka bukan Buruh seperti saya yang padahal bekerja di sebuah daerah elit Ibukota. Ironis sekali.

Saat Hari Buruh berlangsung, sudah dipastikan jalanan dipadati buruh-buruh yang mogok kerja. Mereka menuntut hak-hak mereka seperti kenaikan gaji, penghapusan sistem outsource dsb. Well, sejujurnya saya juga ingin ikut turun ke jalan untuk menuntut hak saya setelah tidak puas akan adjustment bulan lalu hehehe. Tapi, berhubung saya masih perlu uang untuk biaya kuliah jadi apa mau di kata lebih baik menonton serunya para Buruh ketimbang dapat SP3.

Bicara soal hari May Day yang selalu jatuh pada tanggal 01 Mei, saya baru kalau ternyata perayaannya sudah lama terkenal. Namun, bukan Buruh yang berunjuk rasa, tetapi May Day merupakan salah satu perayaan paganisme sebelum agama-agama modern berkembang.

Tidak dipungkiri lagi kalau pengaruh paganisme masih sangat kental hingga saat ini. Lihat saja penamaan hari dalam seminggu menurut istilah bahasa inggris yang ternyata berkaitan erat dengan mitologi bangsa Nordik :
- Moonday berasal dari kata Moon dan Day yang berarti Hari Bulan tentu sangat berkaitan dengan penghormatan kaum pagan terhadap Dewi Bulan.
- Tuesday  berasal dari kata Tyr's Day atau Hari Tiw yang merupakan penghormatan untuk Dewa Tyr atau Tiw karena ia adalah Dewa pertempuran.
- Wednesday berasal dari kata Wodin's Day atau Odin's Day merupakan Hari Odin, sang Raja para Dewa.
- Thursday berasal dari kata Thor's Day atau Hari Thor, Dewa petir yang sangat dihormati.
- Friday berasal dari kata Freyja's Day atau Hari Freya, Dewi bangsa Nordik yang membawa kesuburan dan kelimpahan bangsa Skandinavian.
- Saturday berasal dari kata Saturn's Day yang tidak lain dan tidak bukan adalah hari perayaan untuk Dewa Saturnus.
- Sunday berasal dari kata Sun Day yang sudah pasti berarti hari penghormatan kepada Dewa Matahari. Tidak mengherankan kalau hari Minggu, kalender Gregorian berwarna merah. Hmm tentu karena bagi kaum paganisme Matahari adalah pusat energi dan mereka sangat menghormati Matahari sebagai pemberi kehidupan melalui energi.

Kalau begitu benarkah May Day juga dipengaruhi oleh paganisme? Buat yang suka browsing wikipedia silahkan cari saja atau bisa klik disini May Day. Secara garis besar, May Day sendiri adalah perayaan paganisme menyambut musim panas. Penyambutan tersebut tentu diikuti oleh perayaan festival-festival. Diantaranya bisa di check di alamat http://hobt.org/about/. Namun, seiring perkembangan manusia, festival ini ditinggalkan oleh manusia terlebih lagi setelah penyebaran agama Kristen di Eropa. Menyambut May Day dianggap sebagai penyembahan terhadap berhala dan hal-hal yang menyalahi Tuhan. Hmmm.

Well, mungkin perayaan May Day sendiri adalah hasil kesepakatan kaum pagan didalam mengartikan rasa hormat mereka terhadap alam. Walau banyak spekulasi mengenai paganisme, menurut saya pribadi, paganisme sepertinya bukanlah semacam agama yang seperti kita kenal saat ini. Paganisme lebih kepada sebuah ideologi yang berbicara tentang penghormatan terhadap alam semesta dan menuntun manusia untuk memahami arti energi kehidupan itu sendiri. Namun, memahami misteri alam seperti rasi bintang, pergerakan planet, fenomena gerhana, pasang-surut air laut, sangatlah sukar untuk dimengerti oleh manusia sehingga orang-orang zaman dahulu memilih 'mengemas' pengetahuan tersebut lewat cerita-cerita tentang Dewa Dewi agar lebih mudah dimengerti. Cerita-cerita yang diturunkan secara turun temurun inilah yang menghasilkan mitologi dan dongeng bahkan diartikan sebagai penyembahan terhadap berhala. Sungguh disayangkan apabila dewasa ini, kita malah membutakan diri akan kesempitan berpikir ketimbang membuka pengetahuan seluas-luasnya demi kekayaan pemikiran kita. Bagaimana dengan kalian?