Kamis, 17 April 2014

THE NEKAT TRAVELERS



Dari judulnya, sepintas mirip sama buku THE NAKED TRAVELERS karya Trinity. Sebenernya enggak ada maksud buat ngikutin atau plagiat atau bahkan sengaja bikin parodi dan plesetin kosakatanya, tapi memang judul postingan blog ini kayaknya pas banget buat pengalaman saya beberapa hari lalu.

Akhirnya saya resign dari perkerjaan! Thanks GOD buat keberanian memutuskan sesuatu yang menurut orang-orang sedikit gila. Kebanyakan orang pasti memutuskan keluar dari pekerjaan karena sudah mendapatkan pekerjaan baru yang lebih menjanjikan. Baik soal gaji, tunjangan, jenis pekerjaan, dan hal lain sebagainya yang di awal terlihat lebih menyenangkan. Tapi, semua hal-hal manis itu selalu hanya ada pada awalnya saja. Setelah tiga bulan menggerjakan rutinitas yang sama, dijamin pasti kebosanan akan menyergap kalian lagi, terlebih lagi jika ternyata perusahaan baru itu tidak merealisasikan janji-janji yang disebutkan di awal kontrak. Pada akhirnya kalian hanya akan keluar dari mulut singa dan masuk ke lubang buaya. HATI-HATI.

Itulah yang jadi alasan saya pada akhirnya memutuskan resign tanpa mempersiapkan pekerjaan yang baru. Prinsip soal Merencanakan Masa Depan yang selalu ditekankan oleh semua orang, tampaknya tidak pernah cocok untuk saya. Saya selalu melihat kenyataanya bahwa segala yang direncanakan belum tentu bisa terwujud. Katanya manusia hanya bisa berusaha dan Tuhan yang menentukan. Begitu banyak manusia yang telah menyusun apa yang mereka inginkan tetapi perjalanan kehidupan akan selalu menempatkan kita pada hal-hal di luar dugaan. Seperti misalnya, para politisi yang berlomba-lomba melakukan pencitraan politik dan strategi lainnya agar terpilih menjadi Presiden, pada akhirnya tetap akan kalah dengan mereka yang memang sudah ‘dikodratkan’ menjadi Presiden oleh alam semesta. Atau misalnya, banyak orang yang saya kenal waktu sekolah dulu menargetkan kehidupan mereka pada cita-cita mereka, pada kenyataannya jalan hidup memberi kesempatan untuk melakukan hal-hal lain sehingga tentu saja mereka jauh dari cita-cita mereka di awal. Jadi, kesimpulannya menurut saya mengenai masa depan adalah Masa Depan itu Tidak Pasti. Kau bisa saja berencana tentang banyak hal, tapi jangan berharap kalau semua pasti terwujud!

Begitu tidak pastinya masa depan, itu selalu saya rasakan setiap saat, begitu juga soal pekerjaan. Saya selalu berharap bisa mencintai pekerjaan saya, ternyata tidak bisa. Saya selalu berharap bisa memiliki pekerjaan yang menantang dan dinamis, ternyata tidak bisa. Saya selalu berharap punya atasan yang pintar dan bisa mengajarkan saya, ternyata tidak bisa. Saya selalu berharap kerja di dekat rumah agar terhindar dari macet, ternyata tidak bisa. Saya selalu berharap bisa naik gaji, ternyata tidak bisa. Saya selalu berharap tidak kena macet, sudah pasti tidak bisa. Saya selalu berharap memiliki rekan kerja yang asik, ternyata tidak bisa. Saya selalu berharap punya teman sepemikiran, ternyata tidak bisa. Saya selalu berharap segala yang saya inginkan terwujud, ternyata tidak bisa. Ketidak-bisaan segala hal menjadi nyata sesuai harapan saya yang pada akhirnya membuat saya muak pada segala hal yang terjadi di kehidupan saya. Saya merasa saya membutuhkan sebuah suntikan energi yang dapat menguatkan saya. Membuat saya bersemangat dalam menghadapi ketidak-pastian di dalam hidup ini. Beristirahat dari segala penat dan aktifitas, saya pikir adalah solusinya.

Saya memutuskan keluar kerja pada tanggal 5 Maret. Lucu sebenarnya. Sudah setahun belakangan saya mengajukan perpindahan atau mutasi ke lokasi kantor yang lebih dekat dengan saya. Selama setahun! Bisa banyangkan betapa lamanya saya menunggu keputusan dari HRD? Saya sudah tidak sanggup mengatasi kemacetan dengan bangun pagi dan kesabaran. Setiap hari saya nyaris telat dan telat banget masuk kantor. Saya sudah berusaha seperti yang atasan saya inginkan yaitu bangun lebih pagi untuk berangkat lebih pagi. Faktanya? Kalian tidak bisa memprediksi jalan toll dalam kota. Selalu ada kendala dan kemacetan adalah bagian dari perjalanan menuju kantor yang sangat lumrah. Melihat fakta itu harusnya menurut saya pihak perusahaan bisa mempertimbangkan lebih jauh mengenai untung-rugi bagi saya dan perusahaan kalau saya dimutasi ke kantor yang lebih dekat dengan rumah saya. Sayangya perusahaan tempat saya kerja itu tidak memikirkan sampai ke situ dan saya tidak pernah mengerti kalau mereka lebih memilih teman saya untuk di mutasi ke cabang yang dekat dengan rumah saya padahal sudah jelas saya yang mengajukkan lebih dulu. Dunia memang kejam bung!

Jadi, untuk apa mempertahankan perusahaan yang sudah jelas tidak memperhatikan saya? Lebih baik keluar dengan terhormat dan melepas rasa kecewa yang sudah saya pendam sejak lama. Bekerja itu ibadah, harus dijalani dengan bahagia. Kalau rasa itu sudah tidak ada, lebih baik dilepaskan saja. Akhirnya saya keluar dengan kelegaan luar biasa.

Saya langsung menyusun berbagai rencana untuk melakukan banyak hal selama menjadi pengangguran. Walaupun saya tidak punya pekerjaan kantoran, saya berharap saya tetap bisa produktif. Saya melanjutkan menulis novel, saya berolahraga, dan membaca buku. Semua bayangan itu sepertinya sungguh membuat saya bersemangat. Saya ingin menjadi sosok baru dengan menata kehidupan saya menjadi lebih baik, lebih sehat, dan tentu lebih pintar. Namun, lagi-lagi jangan pernah merencanakan masa depan. Semua rencana saya hanya ‘panas’ di awal. Semakin hari saya semakin malas dan bertambah malas. Novel saya juga stuck, saya tidak pernah bangun pagi dan parahnya saya hanya suka membeli buku tanpa membacanya satupun. Hampir setiap hari saya pergi ke Mall bersama mama. Beli ini itu tanpa pikir panjang karena banyak diskon yang menggoda saya. Semakin hari tabungan saya makin menipis.

Rencana saya untuk melakukan perjalanan ke Blitar, Malang, dan Surabaya sejak saya masih bekerja pun tampaknya tidak terealisasi. Mama yang saya ajak untuk teman seperjalanan, tidak memberi kepastian. Mama selalu beralasan tentang tanggung jawabnya di rumah yang membuat ia tidak mau pergi. Sedangkan saya terus memaksa untuk perjalanan ini karena saya begitu ingin melihat tiga kota itu.

Setelah cukup lama memaksa dan tepat satu bulan saya menjadi pengangguran, Mama akhirnya setuju akan rencana saya untuk melakukan perjalanan. Tepatnya setelah Pemilu tanggal 9 April, kami membeli tiket kereta ke Malang. Saya dengar dari teman-teman saya, kereta Matarmaja adalah yang paling murah harganya yaitu 65ribu. Tetapi, saya pergi dengan ibu-ibu bukan teman-teman saya yang masih muda. Mama tidak mau kereta murah karena alasan kenyamanan. Matarmaja memang murah, tapi sebagaimana kelas ekonomi meskipun AC tetap saja tidak nyaman menurut mama. Apalagi ini perjalanan panjang yaitu 15jam, mama tidak mau berlama-lama tersiksa di jalan.

Harga kereta Gajayana sangat jauh dari Matarmaja yaitu 405rb! Terlalu mahal bagi saya yang memang tidak terlalu punya banyak uang untuk perjalanan ini. Lagipula niat saya adalah backpackeran ala-ala anak-anak muda jaman sekarang, tapi bersama mama tampaknya rencana backpackeran saya gagal total. Mama akhirnya memilih kereta Majapahit untuk perjalanan pergi. 240rb tiket untuk satu orang dengan kelas Ekonomi AC kami berharap keretanya tidak jelek-jelek amat.

Tidak ada komentar: