Selasa, 27 Januari 2015

Seni Seviyorum

Selama 8 bulan…

Jika ada yang lebih sulit dari sebuah cinta, itu adalah jarak. Ribuan kilometer dan perbedaan waktu mampu membuat rindu semakin sesak tinggal di dalam dada. Tidak ada obat untuk kerinduan semacam itu, kecuali pertemuan. Seharusnya itu mudah jika memang keduanya saling jatuh cinta. Tidak ada orang ketiga yang dapat melukai salah satunya. Akan tetapi, ternyata sosok ketiga yang lebih ampuh membuat rindu semakin menyayat adalah jarak itu sendiri.
Aron menatap layar ponselnya berkali-kali, mungkin sudah jutaan kali semenjak ia mengenal Ibon. Tidak ada yang lebih menarik lagi bagi Aron selain kiriman WhatsApp dari Ibon. Ponsel pintar yang seharusnya menjadi multi-fungsi kini hanya berubah menjadi satu fungsi saja, yaitu sebagai alat stalking sosial media Ibon. Dulunya, Aron sendiri bukanlah penggila sosial media. Ia menggunakan sosial media hanya sebatas eksistensi, mengikuti perkembangan jaman. Namun, seiring perubahan hatinya yang semakin jauh ingin memiliki Ibon sepenuhnya, ia pun menganggap sosial media sebagai alat untuk menyampaikan rindunya. Sosial media bukan lagi sekedar dunia maya, tetapi bukti nyata bahwa Ibon benar ada dalam kehidupannya.
Semua berawal dari perkenalannya yang tidak terduga dengan Ibon. Aron yang memang selalu ingin up to date, tidak sengaja ‘menemukan’ Ibon di dunia maya. Mereka berkenalan. Tidak sampai seminggu, Aron sudah memutuskan bahwa ia telah jatuh cinta pada Ibon. Memang singkat, cepat, tanpa rencana, terdengar tidak masuk akal, tapi Aron yakin akan perasaannya itu. Ia telah banyak mengenal orang yang datang dan pergi dalam kehidupannya, namun tidak sekalipun ia membuka pintu hatinya. Aron memang sering jatuh cinta tapi cinta itu bisa dengan mudah berlalu saat orang yang ia cintai tak sesuai ekspektasinya. Aron bisa dengan mudah melangkah pergi pada saat ia tahu orang yang ia cintai bukanlah yang ia cari.
Aron yakin dan ia yakin bahwa keyakinannya itu adalah benar. Bahwa manusia hanya bisa jatuh cinta sekali. Jika mereka pernah berkali-kali merasakan cinta, itu bukanlah cinta romantis yang di puja oleh para pujangga melankolis. Cinta adalah kesetiaan. Setia pada perasaan dan mampu bertahan terhadap segala rintangan. Namun demikian, cinta juga seharusnya di apresiasi bukan dibiarkan sendiri. Dengan kata lain, Aron butuh cinta yang berbalas. Dan ia yakin benar, Ibon juga telah memberikan hatinya untuk Aron. Mereka adalah jiwa-jiwa yang telah lama terpisah selama ribuan bahkan jutaan masa waktu kehidupan. Terpisah dalam ikatan perbuatan dan kemudian dipertemukan kembali oleh jalan karma setelah sekian lama. Setidaknya begitulah yang Aron selalu katakan pada Ibon.
Sebenarnya sungguh mudah menerka alasan Aron jatuh cinta pada Ibon.
Ibon adalah seorang pemuda berdarah Turki. Lahir dan besar di negara Raja Sulaiman sampai detik dimana Aron mengenalnya. Tampangnya standar saja, standar pria Turki. Alis tebal berwarna hitam. Mata besar dan berwarna hijau hazel. Hidung mancung dan tajam. Bibir merah penuh. Kulit sewarna zaitun dan pipi wajahnya tampak merona merah jambu saat mereka sedang bercanda via Skype. Sungguh menggemaskan. Berkali-kali Aron menyentuh pipi Ibon di layar laptop, berkali-kali itu pula ia membayangkan betapa pipi yang agak gembul itu menggelenyar saat kena kulitnya hingga ke pembuluh darahnya. Aron begitu memuja Ibon. Memuja fisik pemuda Turki itu yang bagi Aron adalah gabungan kesempurnaan dewata. Dan ia makin yakin bahwa dirinya telah jatuh cinta pada Ibon, saat ia tahu betapa manis sikap pujaan hatinya itu.
Meski belum sekalipun mereka jumpa dalam dunia nyata, hubungan mereka senyata sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara. Dan Ibon selalu menunjukkan dengan romantisme yang berlebihan tapi membuat Aron ketagihan. Setiap saat, saat mereka berkomunikasi baik lewat chatting, free call, atau video call, Ibon selalu mengatakan “I Love You”. Tidak pernah terlewatkan sekalipun baik itu saat mereka baru mulai berkomunikasi, saat berkomunikasi, dan diakhir mereka berkomunikasi. Ibon menunjukkan betapa ia memuja Aron. Setiap pagi, saat Aron membuka mata dari tidurnya dan kegiatan pertamanya adalah mengecek ponselnya, ia mendapati berbagai puisi, kata-kata manis dan sanjungan, yang begitu membuai gadis manapun juga. Ibon juga selalu menuntut Aron untuk selalu mengirimkan foto-foto selfie agar Ibon tahu dimana dan apa yang sedang Aron lakukan. Meski perhatian Ibon seringkali berubah menjadi berlebihan dan cenderung posesif, Aron merasa ia telah dicintai begitu sempurna oleh Ibon.
Cinta sempurna diberikan oleh lelaki sempurna mungkin seharusnya begitu membahagiakan, tapi tidak untuk Aron. Meski ia begitu gembira dan bahagia, ia juga seringkali dilanda kekhawatiran tak terhingga pada perasaannya itu. Hatinya begitu mendua. Antara kebahagiaan dan ketakutan kehilangan. Ia sadar betul, dirinya jauh dari sempurna. Setiap kali ia bercermin setelah usai mandi, selalu didapatinya pantulan wajah yang sama. Mata besar yang kini lelah karena terlalu banyak begadang, alis tebal dan berantakan, hidung besar, bibir tipis, dan kulit sewarna kentang busuk. Aron jauh dari kata cantik jika definisi cantik pada saat ini adalah gadis putih dan langsing ala bintang Korea. Tapi, jika arti cantik adalah apa adanya, Aron adalah wanita sempurna dan luar biasa cantik bagi Ibon. Pemuda itu tidak henti-hentinya memuji segala kecantikan Aron, yang malah seringkali membuatnya malu bukannya senang. Entah bola mata hitam Aron atau senyumnya yang selalu ia pamerkan bersama sederet gigi yang bergerigi, Ibon begitu menyukainya. Bahkan hidung besar yang Aron bersumpah membencinya sejak dahulu, sangat di puja oleh Ibon. Pemuda itu bersikukuh bahwa yang dikatakannya adalah jujur, tetapi Aron sendiri berasumsi bahwa itu hanya lelucon yang berusaha Ibon ciptakan.
Perasaan tidak percaya diri itulah yang seringkali membuat dua sejoli itu bertengkar hebat. Sepanjang perjalanan cinta keduanya berkali-kali saling membalas mengatakan putus dan pergi meninggalkan yang lain. Semua permasalahan dimulai akibat ketidakpercayaan Aron pada cinta Ibon dan Ibon merasa tersinggung karena cintanya tidak dipercaya. Bagi Aron, cinta Ibon di luar nalar. Sesuatu yang mustahil. Bagaimana mungkin Ibon bisa begitu mencintainya jika di Turki sana, banyak sekali wanita-wanita cantik yang wara-wiri? Mengapa Ibon harus memilih dirinya yang terpisah oleh jarak ribuan kilometer? Sedangkan bagi Ibon, cinta Aron tidak pasti, selalu berubah, tergantung mood gadis itu. Pikir Ibon, jika Aron memang jatuh cinta pada Ibon, Aron seharusnya percaya bahwa cinta Ibon benar adanya. Tidak ada rekayasa atau pura-pura. Dan lagi untuk apa Ibon memilihnya meski ia sadar betul cinta mereka nyaris mustahil. Ibon yang berprofesi sebagai militer, sangat tidak mungkin dapat menikahi wanita asing. Namun, Ibon selalu mencari cara, begitu yang dikatakannya pada Aron. Entah cara apapun yang dimaksud Ibon itu, Aron tidak tahu. Yang ia tahu hanyalah, ia tetap merasa dirinya tidak layak mendapatkan cinta Ibon.
Ibon selalu berkata pada Aron bahwa mulai detik hatinya jatuh cinta pada Aron, ia tidak akan lagi mencintai wanita lain. Terlalu picisan kedengarannya, tapi itulah yang berkali-kali diyakinkan Ibon kepada Aron. Entah karena rasa cinta Aron yang begitu besar pada Ibon sehingga Ibon membalas cinta Aron dengan begitu besar pula, atau memang Ibon memiliki perasaan itu secara bebas dalam artian tidak terikat pada keharusan membalas cinta Aron. Aron tidak mau lagi bertanya-tanya. Sebab jika ia mempertanyakan itu lagi dan lagi, hanya akan ada pertengkaran karena tidak adanya kepercayaan lagi dan lagi. Aron lelah pada situasi pertengkaran yang itu-itu saja dan ia takut Ibon malah akan benar-benar meninggalkannya karena muak pada dirinya yang senang menuntut tapi tidak mudah percaya.
Terlepas dari segala pertengkaran sepele yang sering menjadi rumit, sebenarnya ada hal lainnya yang tak kalah rumit. Malah seharusnya lebih penting untuk dibicarakan tapi selalu dihindari jika keduanya sama-sama sudah saling menyatakan keunggulan masing-masing keyakinannya. Ibon dan Aron adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Tidak hanya berbeda budaya, kebiasaan hidup, pekerjaan, pengalaman, usia, tapi mereka juga berbeda agama. Perbedaan itulah yang seharusnya lebih pelik dan sulit untuk dipecahkan bersama. Dalam hal ini keduanya tidak berbeda. Mereka tidak mungkin menggadaikan keyakinan mereka demi apapun juga, termasuk cinta.
Ibon merasa keyakinannya adalah satu-satunya yang paling benar di dunia ini. Keyakinannya itu adalah penyelamat bagi siapapun juga. Dan ia sungguh berharap Aron dapat mengikuti jalannya. Sebab cintanya yang begitu besar bagi wanita itu, membuatnya ingin menyelamatkan hidup Aron dari kesalahan jalan hidup yang ditempuhnya. Sedangkan bagi Aron, keyakinannya adalah kebenaran absolut. Ia telah melewati begitu panjang perjalanan kehidupan untuk sampai pada jalan yang ia temukan sekarang. Setelah melalui berbagai rintangan termasuk menentang orang tua sekalipun, Aron tidak mungkin kembali melepaskan kebenaran yang telah ia temukan itu. Sejujurnya iapun tidak pernah mempermasalahkan soal status agama atau apapun keyakinan Ibon. Baginya perbuatan baik adalah yang terpenting dan ia menerima segala perbedaan diantara mereka. Namun, Aron sadar betul. Ibon tidak mungkin membiarkan itu terjadi. Jika memang mereka akan menikah, harus ada salah satu yang mengalah untuk hal ini dan kemungkinan besarnya Aron-lah yang harus mengalah.


Setelah 8 bulan…
Janji adalah sesuatu yang harusnya ditepati. Sebab kata pepatah lama, janji adalah hutang. Dan jika hutang itu bisa dilunasi dengan uang, Ibon pastilah tidak akan pernah membayar sepeserpun. Selama perjalanan cintanya yang hampir satu tahun, Aron melihat bahwa Ibon tidak pernah membuat hutang janji sekalipun. Segala hal ia penuhi. Mulai dari hal kecil tentang janji akan telepon, sampai janji yang cukup rumit yaitu memilih Aron ketimbang sahabat perempuannya, Fatimah dan Ismi. Tidak sekalipun Ibon mengingkari janjinya.
Kekasihnya pernah berjanji bahwa ia akan menemui Aron saat musim panas tiba. Janji yang setiap saat ia ucapkan kala mereka berusaha untuk mewajarkan rindu yang menggebu. Rindu yang tumpah ruah hanya bisa ditampung lewat pertemuan maksimal dua jam via Skype karena kesibukan Ibon akan berbagai tugas militernya. Rindu yang menanti saat pertemuan tiba dalam dekap pelukan penuh kebahagiaan. Rindu yang dinanti-nantikan, setidaknya oleh Aron.
Namun, saat musim panas tiba, saat seharusnya janji itu terealisasi, tak ada kabar dari Ibon sama sekali. Aron sadar betul akan pertengkaran mereka dua minggu lalu yang menciptakan perang dingin diantara mereka. Tidak saling meninggalkan seperti sebelumnya tetapi memilih bungkam. Keputusan akan diam ini justru lebih menyiksa ketimbang tahu akan kepastian Ibon benar-benar meninggalkannya.
Pertengkaran mereka tercipta akan permasalahan yang memang sudah ada diantara keduanya. Perbedaan prinsip dan ideologi dalam keyakinan mereka menyulut ego masing-masing. Lagi-lagi tak ada yang mau mengalah jika agama sudah menjadi benteng pertahanan logika. Tak ada lagi romansa apapun yang mampu meluluh-lantakkan hati mereka. Keyakinan diatas segalanya, tidak bisa ditawar dengan cinta anak manusia.
Setelah pertengkaran yang maha dahsyat itu, keduanya memilih diam tak berkomunikasi. Bahkan Aron memilih untuk tidak membuka-buka berbagai akun sosial media miliknya, takut-takut ia malah hanya akan stalking segala kegiatan Ibon. Aron memilih diam dalam penantian. Menanti Ibon menghubunginya terlebih dahulu. Menanti Ibon mencintainya apa adanya tanpa alasan apapun. Menanti Ibon menerima perbedaan diantara mereka dan mempertahankan cinta mereka. Tapi, hingga saat penantian itu hanya serupa harapan palsu, Ibon tidak juga menghubunginya. Rindunya pada kekasihnya itu sudah tak mampu lagi dibendung. Aron pasti akan meledak.
Suatu malam saat langit begitu cerah hingga mampu menampakkan bulan Purnama yang membulat, Aron duduk sendiri di beranda kamarnya. Angin tidak bertiup tetapi udara begitu segar seakan memperingatkannya agar tidak tenggelam pada kemuraman. Tiba-tiba hapenya bergetar. Dilihatnya layar WhatsAppnya. Ibon.

“Ben bu benim hatam biliyorum. Ben bu aşk çok uzak olduğunu izin vermemeliyiz. Nitekim, biz aynı asla aynı değildir. Bizim inanç farklılıkları varsa, sonsuza kadar birlikte nasıl olabilir? Belki birlikte olamaz, ama biz birbirimizi seviyoruz. Aron, sizin için doğru değilim, beni affet.”

Aron menatap lama layar ponselnya. Ibon menulis dalam bahasa Turki dalam kalimat panjang setelah dua minggu lamanya mereka tidak berkomunikasi. Ini pasti sesuatu yang tidak ingin Aron baca. Namun, dengan memberanikan diri Aron membalasnya.

“What is this? I don’t understand Tűrkçe..”
“Translate, Aron :)”

Aron terdiam lalu menarik nafas panjang. Ia mengopi semua tulisan itu dan menerjemahkannya di kamus digitalnya. Kemudian ia menunggu terjemahan itu sambil menahan nafas. Setelah artinya keluar, Aron ingin rasanya tenggelam ke dasar bumi.

“Aku tahu ini salahku. Aku seharusnya tidak membiarkan cinta ini terlalu jauh. Memang kita tidak pernah sama. Jika kita memiliki perbedaan keyakinan saat ini, bagaimana bisa kita bersama-sama selamanya? Meski kita tidak bersama, tetapi kita saling mencintai satu sama lain. Aron, aku bukanlah pria yang tepat untukmu, maafkan aku.”

Tanpa Aron sadari, matanya basah oleh air mata. Ibon memilih meninggalkannya daripada bertahan. Malam semakin larut dan semakin gelap karena mendung di hati Aron. Ia tidak mampu membalas pesan Ibon. Ia tidak tahu harus melakukan apapun. Ibon jelas tidak salah, Aron sendiri juga tidak salah. Tidak ada yang pernah salah dalam persoalan perbedaan keyakinan.
Dengan berat hati dan jemari bergetar, Aron membalas pesan Ibon. Pesan terakhirnya sekaligus pesan perpisahannya. Kalimat yang mewakili perasaannya sekaligus pembuktian akan penyerahannya pada takdir yang terbentang diantara mereka berdua.

“Seni seviyorum. Seni çok seviyorum, bitanem :)”
“Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, sayang :)”




Için Bitanem, Ibon :)
27/01/2015


note: Kisah ini salah satu finalis dari proyek menulis "Kasih Tak Sampai" Nulis Buku.

Tidak ada komentar: