Jumat, 27 Maret 2015

27

Apa arti angka 27 untukmu?

Apakah hanya berupa bilangan yang mengapit antara 26 dan 28? Atau hanya sebuah bilangan yang bila dibagi tiga maka hasilnya sembilan? 27 merupakan pelengkap dari sederet angka yang diajarkan oleh guru disekolah agar kita lulus pelajaran menghitung saat di sekolah dasar. 27 hanyalah angka. Salah satu angka yang disuguhkan untuk mendeskripsikan jumlah. 27 hanyalah 27?

Atau apakah 27 memiliki makna yang lebih dari sekedar simbol dari sebuah angka? Karena senyatanya 27 terdiri dari dua bilangan dua puluh dan tujuh. Kemudian dipermudah oleh aku sebagai 2 dan 7. Dua bilangan tunggal yang mewakili segalanya.

2 adalah penggambaran yang paling layak sebagai sepasang. Yin dan Yang. Lingga dan Yoni. Laki-laki dan Perempuan. Hitam dan Putih. Jahat dan Baik. Bumi dan Langit. Surga dan Neraka. Dualisme. Segala hal yang berpasangan. Dua adalah representasi dari keutuhan. Jika salah satunya menghilang, bukan lagi menjadi dua. Jika salah satunya mengajak yang lain, sudah pasti bukanlah dua. Dua adalah simbol dari kesetiaan dan kepercayaan.

Sebab cinta romansa memang sejatinya demikian. Tidak bisa sempurna tanpa saling membalas. Hanya akan menjadi duka bila cinta sendirian. Hanya akan menjadi bencana bila cinta diselewengkan. Cinta adalah dua. Tidak bisa satu atau tiga.

Dalam pencarian, cinta seringkali berkelana. Kadang terjebak dalam kepalsuan atau suatu saat menjebak dirinya sendiri dalam keyakinan yang membuta. Cinta berusaha mengartikan getaran yang menggelora jiwa sebagai kenyataan. Sehingga seringkali dalam cinta romansa penuh pengharapan. Berharap cinta diberikan tempat layak. Berharap cinta dibalas dengan caranya yang setara dalam pemberian. Berharap cinta diperlakukan adil. Harapan itulah yang membumbung cinta setinggi-tingginya sekaligus mampu menghempaskannya tanpa sisa.

Sedangkan 7 adalah yang tertinggi. Dalam kitab suci Weda, 7 berkaitan dengan Dewa Agni yang memiliki tujuh istri, ibu, atau adik serta tujuh api, balok atau lidah, dan lagu-lagu yang diperuntukkan baginya juga berjumlah tujuh. Begitu juga dengan Dewa Matahari yang memiliki tujuh kuda penarik keretanya di langit. Dalam Buddhisme, pangeran Siddharta Gautama lahir ke dunia langsung menapakan tujuh langkah agungnya. Surat Al-Fatihah juga memiliki tujuh ayat serta kalimat syahadat terdiri dari tujuh kata. Dalam kitab-kitab suci 7 merupakan kelengkapan, totalitas. Suku Maya juga percaya dengan adanya tujuh lapis langit. Bahkan sains mengatakan angka 7 adalah dasar dari akumulasi angka yang tak terhitung jumlahnya. Mulai dari 7 atom, 7 partikel terkecil, dan seterusnya.

Jika 7 adalah totalitas, maka cinta diantara 2 yang disandingkan dalam 7 seharusnya menjadi kesempurnaan. Cinta itu seharusnya menjadi simbol dari kelengkapan, saling mengisi, diantara dua pribadi bertolak belakang tetapi mampu mengilhami sebagai pelopor sejatinya cinta itu sendiri. Cinta yang dipertemukan di dalam satu kesempatan pada 27 dalam almanak Masehi, yang seharusnya sempurna, tetap bisa bercacat.

Bukan melulu soal kesetiaan. Tetapi, kepercayaan adalah harga mahal yang tak bisa ditukar. Apalah arti 2 tanpa percaya? Apalah arti 2 jika sering curiga? Cinta memang menyesakkan dada, terlebih lagi bila 2 tidak berjalan bersama. Berawal dari 2 yang melupa pada percaya, tidak akan pernah totalitas 7 tercapai.



Untuk 27 yang telah berlalu...

Tidak ada komentar: