Jumat, 20 Maret 2015

Bitanem



Rasanya semua seperti mimpi. Baru beberapa bulan yang lalu, aku masih saja sibuk mengkhayal tentang bagaimana jadinya kalau aku benar tiba di Istanbul. Dan sekarang aku sedang berdiri di salah satu distrik bernama Şişli. Langit sudah menggelap padahal hari masih sore. Seakan mendung telah datang menemani jiwaku yang merana. Aku memandang kosong kolam air mancur yang berada di tengah jalan pedestrian di Ferikőy. Air mancur itu sama sekali tidak mengeluarkan air. Untuk apa lagipula, air mancur dinyalakan? Musim salju hanya akan membekukan air kolamnya.

Aku merapatkan coat panjang berwarna biru dongker yang baru aku beli kemarin di pasar loak. Aneh rasanya. Di Indonesia, orang hanya akan tertawa melihat penampilan seperti ini. Coat, sepatu boots setinggi betis, celana panjang berlapis-lapis, dan syal tebal yang menumpuk di leher membuat penampilanku mirip boneka salju. Tapi, lain jika berada di sebuah negara empat musim. Penampilan seperti ini malah jadi tampak keren kalau aku posting di sosial media.

Angin berhembus lembut menggelitik telingaku yang sudah nyaris kebas. Aku tidak begitu suka udara dingin. Malah kalau aku pergi liburan ke Bogor, aku bakalan kena serangan alergi gatal-gatal akibat udara dingin. Tapi, lagi-lagi semua aku lakukan. Ini mungkin yang namanya pengorbanan.

Ku lirik arlojiku. Jam tangan kulit merek FCUK yang aku beli melalui gaji pertamaku saat dulu aku bekerja. Sudah delapan tahun yang lalu dan masih tampak bagus meski aku sudah mengganti tali kulitnya yang rusak akibat kena keringat. Beberapa temanku sudah mencirikan aku dengan jam tangan ini. Ibaratnya jam tangan ini sudah menjadi nyawaku, identitasku. Di setiap foto, setiap pertemuan, aku selalu menggunakannya. Sampai-sampai sebuah belang melingkar tampak permanen di bekas jam tangan itu aku kenakan di pergelangan tangan kiriku. Begitulah aku. Aku adalah tipe orang setia. Tidak akan pernah ganti barang baru kecuali kerusakannya sudah parah. Selama masih bisa diperbaiki, pasti aku lebih memilih memperbaikinya.

Dan kesetiaan itu tidak hanya berhenti soal penggunaan barang. Kesetiaan yang terkadang menjadi sebuah kebodohan itulah yang membawaku jauh ribuan kilometer melintasi samudera dan sampai di Turki. Semua temanku terkejut ketika mendengar kabar tahu-tahu aku sudah sampai di Istanbul. Sebab aku sama sekali tidak berkicau di sosial media mengenai rencanaku untuk mencari beasiswa sampai ke negeri Ottoman. Tiba-tiba saja mereka melihat aku sudah berfoto riang gembira saat tiba di bandara. Mengejutkan, sudah pasti. Terlebih akan niat sebenarnya aku untuk sampai kesini.

Satu tahun terakhir aku berjuang mati-matian. Mengasah bahasa Inggrisku lebih dalam, belajar tentang kebudayaan Turki, mengurus tetek bengek segala kerepotan di kantor Kedutaan demi sebuah Beasiswa. Satu-satunya tiket yang dapat membawaku bertemu dengannya. Satu-satunya cara yang dapat membuatku menemuinya. Satu-satunya jalan yang harus kutempuh karena aku ingin berlama-lama dengannya. Dua tahun waktu belajar untuk program magister ditambah satu tahun untuk belajar bahasa Turki, aku rasa cukup waktu untuk bersama dengannya.

Tiba-tiba air mataku mengambang. Teringat sebelum akhirnya kami berpisah. Perpisahan bertahun lalu yang menjadi cambuk akan perjuanganku untuk sampai kesini. Pembuktian cintaku sudah luar biasa. Aku rela melakukan apa saja demi membuat ia percaya bahwa aku mencintainya. Aku mencintainya. Tanpa syarat sama sekali. Tanpa kecewa padahal ia telah melupakan janjinya untuk tetap mencintaiku. Ia, bahkan memutuskan hubungan kami tanpa berpikir dua kali. Ia pergi begitu saja. Rasa kecewanya teramat besar. Kecewa pada keraguanku. Kecewa karena aku tidak pernah percaya pada cintanya. Kecewa meski aku sudah menjelaskan alasanku tidak bisa percaya pada cintanya karena aku seorang philophobia.

Aku sudah bilang padanya aku butuh waktu. Butuh waktu untuk membuat aku percaya pada seseorang. Aku pernah ditipu oleh cinta hingga membuatku trauma. Saat itu, dia seakan memahami perihal kegundahanku. Justru malah berusaha meyakinkan aku bahwa cinta itu luar biasa. Mengajarkan aku tentang cinta. Membuat aku membuka mata bahwa di dunia ini masih ada orang yang layak aku percaya. Tapi, kesulitanku untuk belajar membuatnya menyerah. Ia lelah dan ingin pergi begitu saja. Tanpa air mata, tanpa basa-basi, ia menyudahkan hubungan kami berdua. Meninggalkan aku dan kenangan kami.

Aku mengigil. Bukan karena udara dingin, aku tahu betul. Semua karena kerinduan yang tak bisa lagi dibendung. Aku ingin memeluknya, meninju dadanya, ingin berteriak di depan wajahnya. Semua aku lakukan demi cintaku. Demi pertemuan yang mungkin hanya dinantikan olehku. Aku disini, di tempat bernama Ferikőy hanya untuk menemuinya. Air mataku sudah tumpah ruah dan aku nyaris meraung saat tiba-tiba ku dengar seseorang melangkah mendekat.

Aku terdiam. Menunggu. Benarkah itu dia?

“Priyanka?” tiba-tiba terdengar suara parau dibalik punggungku.

Lututku rasanya langsung mau copot. Itukah dia?! Pria yang selama ini hanya aku lihat via Skype? Pria yang selama ini aku pandangi lewat foto-foto konyol yang ia sering kirimkan? Pria yang suara manjanya selalu aku rindukan saat ia memanggilku ‘honey’? Benarkah itu dia?

Rasanya aku ingin tenggelam ke dalam tumpukan salju yang aku injak dibawah. Pertemuan ini telah aku nanti-nantikan selama nyaris dua tahun dan kini aku seperti sudah mati kutu hanya karena suaranya memanggil namaku? Demi Tuhan, Priyanka, kau harus bisa menghadapinya!

Aku membalikan badan sepelan mungkin. Berusaha agar aku tidak terhuyung lalu tersungkur karena kesulitan menahan gembira. Berusaha tidak bertindak bodoh dengan melompat langsung kearahnya dan memeluknya. Aku berbalik. Menghadapi sosok si pemilik suara yang memanggilku.

Dan itu benar dia.

Pria yang selama ini hanya aku kenang lewat foto-foto yang aku simpan di folder khusus di ponselku. Pria yang selama ini hanya aku bisa bayangkan di benakku. Pria yang selama ini membuat aku rindu sampai aku nyaris gila. Pria yang telah lenyap tak tahu rimbanya, tahu-tahu berdiri tegap dihadapanku sambil memasukkan tangan ke dalam sakunya. Pria itu memang nyata!

“I.. Ibrahim?” kataku gagap.

Rasanya aku ingin meledak saat ini juga. Ledakan gembira bercampur marah tak terhingga. Aku ingin menubruknya dan memeluknya erat. Ibrahim disini. Datang sesuai permintaanku. Aku tahu selama ini dia marah padaku, tapi kini dia datang. Aku yakin benar dia memang masih mencintaiku.

Aku memandangnya. Menelanjangi dirinya lewat tatapanku yang terpesona padanya. Dia tidak jauh berbeda dengan foto-fotonya. Setidaknya kini rambutnya lebih panjang, tidak cepak seperti di foto. Wajahnya sebenarnya standar saja. Standar pria Turki. Alisnya tebal dan panjang. Kelopak matanya besar dengan bola mata berwarna hazel. Hidungnya mancung dan tajam. Bibirnya merah penuh. Kulitnya sewarna zaitun, memucat karena dingin. Tapi, dari semua yang aku teliti dengan seksama, ada satu yang membuatku begitu ingin menyentuhnya. Pipinya. Pipi yang agak gemuk itu. Pipi yang selalu aku olok-olok untuk menggodanya. Pipi yang membuatku memanggilnya chubby. Pipi gemuk menggemaskan seperti bayi yang kini agak memerah. Pipi yang selama ini aku tekadkan untuk dicubit ketika pertama kali aku bertemu dengannya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Ibrahim memandangku tanpa berkedip.

Seolah ia terkejut dengan kedatanganku. Seolah ia merasa bahwa ini semua hanya mimpi. Ia memandangku lekat-lekat seperti aku memandangnya tanpa jeda. Tapi, pertanyaannya itu. Pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja aku kesini untuknya! Untuk melihatnya! Untuk membuktikan padanya kalau aku benar mencintainya! Untuk membuat dia membuka mata kalau semua yang aku katakan adalah benar adanya! Aku jadi ingin menghampirinya, memaki-maki, dan menyemburkan berbagai kemarahan padanya. Tapi, aku tidak kuasa. Siapa yang bisa mencaci-maki cinta?

Jadi, aku hanya menghampirinya meskipun jantungku sudah nyaris lompat keluar. Mengeluarkan sebuah syal tebal dari dalam tas selempangku dan memberikan padanya.

“Apa ini?” tanya Ibrahim melihat syal ditanganku.

“Hadiah ulang tahun untuk kamu. Happy Birthday, Ibrahim. Maaf aku enggak bungkus,” kataku tersenyum melihat wajahnya yang terkejut.

“Priyanka. Tidak. Kenapa kau melakukan ini semua?” tanya Ibrahim menatap mataku. Di ujungnya aku melihat ada genangan air mata.

Aku tersenyum menunduk menatap syal tebal itu, “aku membuatnya sendiri. Syal pertama yang pernah aku buat. Mungkin satu-satunya kerajinan tangan yang pernah aku buat. Warna klub favorite kamu. Fenerbahçe.”

“Iya, tapi kenapa kamu melakukan ini semua, Priyanka?” tanya Ibrahim lagi, menuntut aku dengan kebodohannya.

Aku menarik nafas, berusaha tidak berteriak di depan wajahnya, “karena hari ini adalah ulang tahun kamu. Jadi, aku kasih kado buat kamu.”

“Tapi…”

“Tolong kamu terima saja. Aku membuat ini nyaris lima bulan. Aku enggak pernah pandai untuk urusan kerajinan tangan,” kataku menatap matanya.

Saat itulah, Ibrahim mengeluarkan tangan kanan dari saku celananya. Aku langsung melihat kilatan bercahaya yang melingkar di jari manisnya. Nafasku seakan langsung berhenti. Aku tidak lagi bisa melihat apapun lagi selain cincin itu. Cincin kawin itu. Cincin yang ia kenakan di jari manisnya. Rasanya aku ingin lenyap saat ini juga. Aku ingin mati tenggelam di badai salju. Aku ingin mati. Sungguh ingin mati.

Ibrahim mengambil syal Fenerbahçe dari tanganku sambil menunggu reaksiku. Tapi, aku diam saja. Aku tetap berdiri di posisiku. Aku berusaha kuat meski lututku gemetar hebat. Air mataku tidak bisa aku tahan lagi. Benar-benar pecah tapi tanpa sesengguk karena aku menahan suaraku. Ibrahimku. Ibrahim yang aku puja, telah menikah?

“Kenapa kau tidak menungguku, Ibrahim?” tanyaku gemetar sambil terus memandang cincin di jarinya, “kenapa?! Kenapa kau tidak menungguku?!”

“Priyanka…,” kata Ibrahim lirih.

“Kenapa kau tidak menungguku, Ibrahim? Kenapa kau tidak menungguku?!” tanyaku menuntut.

“Priyanka. Aku mohon. Kita sudah putus. Hubungan kita sudah selesai hampir dua tahun lalu,” kata Ibrahim menatap aku mengiba.

Tapi, aku menggeleng keras kepala. Air mataku sudah menyapu seluruh wajahku.

“Tidak.. Tidak! Aku tidak pernah ingin hubungan kita selesai! Aku tidak pernah ingin!!! Kau yang ingin!!! Kau yang ingin pergi!!! Aku selalu mempertahankan kamu, Ibrahim! Ini cinta!”

“Tapi, kamu juga sudah memulai hubungan dengan pria lain bukan saat kita putus?” kata Ibrahim memandangku datar.

Kemarahanku sudah tak dapat di tahan lagi. Aku benar-benar murka. Begitu sepele perasaanku dimatanya. Aku mendekatkan diriku padanya. Aku tarik kerah bajunya hingga wajahnya begitu dekat denganku. Aku pandang matanya tajam-tajam. Otot wajahnya mengeras.

“Dengar, idiot! Aku mencintai kamu. Hanya cinta padamu. Laki-laki itu? Thomas? Bertrand? Mereka hanya teman chatting biasa. Aku sudah bilang padamu. Aku frustrasi. Aku depresi. Nyaris gila karena kau memutuskan hubungan denganku. Kalau memang mereka begitu spesial buat aku, untuk apa aku bilang padamu soal mereka?! HAH! Katakan padaku, apa alasanku bilang tentang mereka selain karena aku ingin kamu cemburu! AKU HANYA INGIN KAU CEMBURU LALU KEMBALI PADAKU!!!!!”

Ibrahim tertawa kecut, “caramu itu, Priyanka justru membuat aku semakin yakin untuk menjauh dari kamu.”

Aku mendelik padanya. Wajahku sudah membara. Aku ingin menampar pipi gemuk itu. Ingin dia sadar bahwa betapa aku mencintainya. Alih-alih menamparnya, aku malah melepaskan kerah bajunya dan mendorongnya keras-keras. Aku masih menangis, mungkin tidak bisa berhenti sampai kapanpun juga. Aku begitu frustrasi. Kepalaku sakit. Aku menarik keras-keras rambutku dan mengacak-acaknya sendiri. Kenapa Ibrahim begitu bodoh?

“Dengar Ibrahim. DENGAR!” kataku marah. Air mata masuk ke dalam mulutku yang berteriak, “kalau memang aku tidak mencintai kamu, untuk apa aku datang kesini? Untuk apa aku berjuang mendapatkan beasiswa disini? UNTUK APA?!!!!! Jelaskan padaku!!! Untuk apa berjuang hanya untuk merealisasikan rencanaku!!! Ini janjiku padamu saat kita masih pacaran! Aku berjanji akan datang kesini, kuliah disini, agar aku punya waktu lama dengan kamu!!!!!”

Ibrahim memandangku. Matanya begitu merasa kasihan padaku. Tapi, aku tidak butuh belas kasihan darinya. Aku hanya perlu ia paham betapa aku mencintainya dan membalas cintaku padanya.

“Priyanka. Kau tidak pernah mencintaiku. Tidak. Kau hanya mencintai dirimu sendiri. Kau datang kesini karena kau ingin melihatku, ingin bertemu denganku. Bukan untuk aku. Bukan untuk diriku. Ini adalah ego-mu. Kau ingin membuktikan padaku tentang perasaanmu padaku,” kata Ibrahim tegas, “kalau kau memang mencintaiku, seharusnya kau percaya aku dulu mencintaimu. Bukan meragukanku dan sering memutuskan hubungan kita.”

Aku rasa telingaku bermasalah. Ibrahim bilang aku tidak mencintainya? Ibrahim yang sekarang meragukan cintaku. Ibrahim. Aku tidak tahu harus bicara apa lagi.

“Aku sudah pernah bilang padamu, Ibrahim. Aku ini tidak bisa percaya pada orang. Aku sering dikhianati. Aku tidak tahu bagaimana memperlakukan cinta. Aku hanya butuh waktu. Tetapi, setelah kau meninggalkan aku, akhirnya aku sadar. Aku berubah ketika aku kehilangan kamu,” kataku lemah sambil menunduk. Air mata jatuh ke dalam tumpukan salju.

Ibrahim tertawa mencemooh, “butuh waktu? Sampai akhirnya kau membunuh sendiri cintaku? Kau ini aneh, Priyanka. Kau yang telah membunuh cintaku dan kini kau sendiri yang meminta cinta hidup kembali.”

Aku menghembuskan nafas. Menyerah. Kebodohan macam apa yang hinggap di dalam kepala Ibrahim? Kenapa ia begitu bodoh?

“Aku hanya manusia Ibrahim. Manusia melakukan kesalahan tetapi kemudian mereka belajar. Aku mungkin salah pernah meragukan cintamu. Tapi, apa yang kau pernah berikan padaku? Apakah kau pernah menepati janjimu untuk selalu bersamaku? Tidak. Apakah kau menepati janjimu untuk datang ke Indonesia untuk menemuiku? Tidak. Kalau begitu cinta apa yang pernah ku bunuh?”

“Cinta yang membuat kamu jadi segalanya buat aku. Cinta yang membuat aku selalu mengirimkan puisi untuk kamu. Cinta yang membuat aku meluangkan diri ditengah tugas-tugas misi-ku. Cinta yang membuatku menuliskan kisah tentang kita dan harus aku hentikan kisah Obiron karena perpisahan kita. Cinta yang aku puja dan aku begitu memujamu hingga aku selalu memaafkanmu, Priyanka. Aku selalu mencintai kamu, tapi kau tidak pernah percaya padaku. Kau selalu meragukanku. Sekarang semuanya sudah cukup. Aku tidak mau lagi ambil resiko dalam hubungan kita,” kata Ibrahim parau. Matanya sudah basah oleh air mata. Ia menunduk sambil mengenggam erat syal buatanku.

Dengan sekuat tenaga, aku melangkahkan kakiku. Menghampirinya. Aku memandangnya. Aku mengangkat dagunya hingga mata berwarna hazel itu menatap mataku. Aku menyentuh pipinya. Kulitnya yang hangat mengelenyar ke setiap pembuluh di jemariku. Aku begitu ingin memeluknya, menyudahi kebodohan ini.

“Aku selalu percaya kau dulu mencintaiku, Ibrahim. Aku hanya takut. Takut kau seperti yang lain. Aku hanya ingin kau memaklumi ketakutan berlebihanku dan tetap bersamaku sampai aku benar-benar sembuh,” kataku menatap wajah bayi itu, mengusap pipinya, “maafkan aku kalau memang kesalahanku begitu fatal. Aku tidak pernah bermaksud membunuh cintamu. Aku hanya ingin kau memahamiku. Yeah, aku egois. Ingin kau memahami perasaanku tetapi tidak belajar memahami perasaanmu.”

Ibrahim menatapku. Tanpa diduga, ia langsung merengkuh aku ke dalam pelukannya. Ia tidak berkata apa-apa hanya terus menangis dan air matanya membasahi telingaku. Aku juga terus menangis. Memeluknya begitu erat seakan kami tidak punya lagi kesempatan untuk berjumpa lagi. Sampai-sampai akhirnya, kami berdua yang sama-sama menyelesaikan rindu yang tak pernah puas terbayarkan.

“Sekarang kau sudah menikah. Siapapun gadis itu, aku tidak mau tahu,” kataku lemah sambil menatap wajah Ibrahim, “aku hanya berharap semoga kalian berbahagia. Semoga gadis itu tidak seperti aku yang mengecewakanmu. Semoga kau bisa memaklumi segala kekurangan isteri-mu.”

Rasanya begitu berat. Bahkan sejujurnya aku masih ingin memeluknya dan membawa Ibrahim ke dalam duniaku. Tapi, aku harus sadar. Segalanya tak lagi sama. Ibrahim sudah punya hidupnya sendiri dan aku harus kuat melangkah pergi dari masa lalu. Untuk terakhir kalinya, aku menatap wajahnya dan tersenyum. Tanpa mengucapkan selamat tinggal, aku pergi meninggalkan Ibrahim yang masih berurai air mata sambil memeluk syal barunya. Dalam hati aku bersumpah. Kalau memang kelahiran kembali itu ada, semoga aku dan Ibrahim berjodoh di masa depan.

Tidak ada komentar: