Minggu, 15 Maret 2015

Di Sepertiga Malam

Di sepertiga malam aku terbangun.
Lagi dan lagi. Seperti malam-malam kemarin. Jantungku berdetak keras. Nafasku liar memburu. Peluh membanjiriku. Pikiranku berlari. Lagi dan lagi aku melihat dirimu.
Kali ini aku melihatmu bersama yang lain. Bersama merajut bahagia. Tertawa seolah melupakan kenangan lalu. Melupa kalau kita pernah bersama. Seakan aku tak pernah menjadi sebab akan bahagiamu.

Aku tidak tahu.

Apakah mimpiku ini pertanda bahwa benar adanya aku harus melupakanmu? Atau hanya bagian dari ketakutanku akan kehilangan dirimu? Aku tak tahu. Tak akan mungkin tahu. Tak bisa tahu.
Sebab engkau telah lenyap. Bersama hembusan angin yang telah berlalu. Bersama nafas yang selalu berganti. Bersama malam yang berakhir. Bersama cinta yang telah kau tinggalkan dan kau anggap tak lagi berguna. Kau lenyap. Begitu saja dan tanpa sisa. Tidak meninggalkan sedikitpun bagian dari dirimu untuk aku yang masih mencinta. Lenyap karena inginmu. Lenyap selenyap-lenyapnya seolah kau tidak pernah terlahir ke dunia.

Bagimu cinta sudah tidak berbekas. Lelah menjadi sebab kepergianmu. Baiklah. Itu aku terima. Tapi, dimanakah letak janjimu yang sejati? Benarkah kau adalah jawaban dari doa, jika semudah itu kau menghilang tanpa jejak?

Aku termenung, masih saja berpikir. Terdiam setiap kali bayangmu datang seperti hantu. Terperdaya. Bahkan menyiksaku dengan kerinduan yang memuncah. Dimana kamu? Apa yang kamu lakukan? Siapa yang menjadi sebab kau tertawa?

Di sepertiga malam yang nyaris usai, aku masih membeku. Aku tidak terisak. Tidak. Air mataku memang sudah mengering. Tetapi, batinku masih menjerit.

Sebagian diriku ingin selesai. Mengakhiri segala cinta yang terlalu dini dimulai. Melupa segala kenangan yang pernah tercipta. Ingin menjalani hidup yang membosankan seperti semula. Seperti yang kau lakukan dengan sempurna sekarang.

Sebagian diriku ingin terus mengingat. Segala kenangan yang sudah dilewati. Memberi makan pada ingatan itu agar tetap hidup meski harus merenggut hidup nyataku yang masih ada harapan. Terus merindu walau tidak lagi bisa melampiaskannya. Ingin berteriak. Frustrasi. Marah. Kecewa. Kenapa cintaku belum juga berakhir?


Di Sepertiga Malam,
Untuk kamu yang hidup dalam ingatan....

Tidak ada komentar: