Selasa, 31 Maret 2015

Senyum Soraya

“Serius deh mas, kamu tuh aneh. Aku sedang mengurangi lobha, tapi kamu malah ngehasut aku buat melanggar komitmen aku sendiri,” kata Soraya tertawa sambil menjilati es krimnya.

“Yah, manusia itu kan perlu makan. Kecuali kalau kamu sudah hidup jadi pertapa. Kegiatan hidup kamu sedikit, enggak banyak energi yang keluar. Kamu bolehlah makan sehari sekali,” sahut aku tidak mau kalah.

“Itu namanya mencari pembenaran, mas. Memangnya mengurangi keserakahan hanya dimulai kalau aku jadi pertapa? Lagian apa kegiatan aku hari ini? Cuma nemenin kamu kerja lalu nonton bioskop. Bukan kegiatan yang mengeluarkan banyak energi,” jawab Soraya.

“Nyatanya kamu bisa dihasut kan? Berarti niat kamu yang enggak kuat juga,” sahut aku sambil tertawa.

Soraya nyengir lebar sambil terus menjilati es krim blueberry-nya. Disampingnya, aku berjalan ingin mengenggam tangannya. Namun, ku urungkan niatku.

Sudah beberapa bulan berlalu tapi aku merasa telah mengenalnya begitu lama. Sangat lama hingga aku tahu setiap detak nafasnya. Aku tahu setiap jengkal pandangan hidupnya. Aku merasa setiap bagian dari dirinya adalah diriku. Kami sama, sangat serupa. Dalam soal melihat dunia, juga cara menghadapinya. Aku merasa dia adalah bagian inti dunia yang selama ini aku ingin temui. Aku tahu dialah yang aku cari. Dia bagian kosmis alam semesta yang lahir karena kekuatan karma. Dia, Soraya, gadis tercantik yang merekah bagai kembang di musim semi.

Perjumpaan kami tidak disengaja. Mungkin itulah yang namanya takdir. Semuanya cepat dan tiba-tiba saja kami saling cocok. Dia banyak berceloteh tentang semua hal. Tidak pernah sedikitpun luput dari pengamatannya. Termasuk mengingatkan aku untuk berkata ‘terima kasih’ pada penjaga toll, mengkritik orang tua yang membiarkan anak mereka menyiksa binatang, atau bahkan selalu bersyukur meskipun habis kecopetan.

Soraya itu beda dalam menatap isi dunia. Ia tidak pernah takut dengan apapun. Ia selalu berkata bahwa kalau memang ia benar, ia tidak akan takut. Keberanian yang terkesan tidak santun itu yang membuatnya menjadi gadis yang menarik perhatian. Dimana ada Soraya, disitulah magnet Bumi berada. Bukan karena kecantikannya. Bukan. Banyak orang cantik di dunia ini. Baik berkah alami kelahiran, maupun buatan para ilmuan. Soraya cantik tapi bukan cantik dalam kelas duniawi. Kecantikannya terpancar dari auranya yang menawan. Hal itu karena diimbangi dengan kecerdasannya. Soraya punya kemampuan untuk mengkritisi semua hal, protes pada apapun yang tampak menyimpang dari kebenaran. Ia pandai menjawab juga pandai bertanya.

Pencarianku sudah lama. Hidupku terlalu berwarna. Bertemu dengan banyak wanita, mengenal mereka, dan berusaha mencari yang setara dalam menjalani hidup yang fana. Aku sempat putus asa. Bagaimana mungkin aku bisa menciptakan gadis sesuai keinginanku? Memangnya aku siapa? Aku hanya manusia biasa. Meski banyak yang mengatakan aku menuntut pasangan sempurna. Aku meyakinkan kepada mereka semua, yang aku mau hanya keseimbangan. Bukan mencari untuk melengkapi kekurangan, aku ingin pasangan hidup yang sejalan.

Itu semua terwujud dalam sosok Soraya. Aku yakin benar, bukan hanya dikehidupan ini kami berjumpa. Dia adalah teman seperjalananku dalam arus kelahiran yang berulang. Hanya saja yang tidak aku pahami, kenapa kelahiran kami terpisah dalam rentang waktu yang begitu jauh? Disaat aku sudah selesai mencicipi hingar bingar dunia, Soraya, gadisku yang mempesona baru menginjakkan kakinya. Ia memang bukan wanita hedonis, tetapi ambisinya dan semangatnya yang meledak-ledak akan dunianya membuat aku tahu diri.

Ia selalu mengatakan ia tidak mau menikah. Pernikahan bukan tujuan hidupnya. Pernikahan hanya akan menambah masalah baru dalam hidup yang sudah penuh derita. Pernikahan adalah belenggu yang menyeret dirinya untuk terlibat lebih jauh pada keterikatan tanpa akhir. Menikah, memiliki anak, menjalani hidup berumah tangga, memikirkannya saja sudah membuat ia sakit kepala. Bukan berarti Soraya penganut paham kebebasan. Moralnya tidak perlu diragukan. Ia memang bukan orang suci, tapi sebisa mungkin ia tidak lagi menambah dosa yang disengaja.

Pertentangannya pada pernikahan yang membuatku jadi ragu untuk mengatakan padanya. Aku sangat ingin meminangnya. Menjadikan ia wanita penting dalam hidupku. Akan tetapi, perbedaan usia, penolakannya pada pernikahan, dan sikap cueknya setiap kali aku menyentuh tangannya, membuatku jadi bingung sendiri. Soraya seakan tidak punya cinta semacam itu. Cintanya ia berikan untuk segala hal di dunia, tetapi bukan untuk seseorang saja, untuk aku misalnya.

Sambil menyusuri jalanan menuju tempat parkiran di seberang, kami melewati gang besar diantara dua gedung raksasa. Suasananya begitu mendukung. Cahaya remang-remang, angin sepoi-sepoi, dan kesunyian membuat semakin intim. Aku harus mengatakannya. Entah dimulai darimana. Aku menarik nafasku panjang-panjang. Lalu aku menghentikan langkahku dan menghadapinya.

“Soraya, aku mau tahu,” kataku nyaris tercekat, “selama ini kamu menganggap aku apa?”

Soraya memandangku, terkejut ditanyai pertanyaan bodoh macam begitu.

“Maksudnya?”

Aku menarik nafas lagi, “iya, kamu anggap hubungan kita itu apa? Kita sering pergi malam mingguan berdua aja. Kamu sering main ke kantor aku. Aku selalu gandeng kamu kemana-mana. Apa itu semua cukup untuk membuat kamu paham apa yang aku rasakan?”

Soraya mengernyit. Aku yakin benar ia setengah kesal di berondong pernyataan menggelikan seperti itu. Tapi, aku tidak mau tinggal diam lagi sekarang. Aku harus mengatakan padanya semua isi hatiku.

“Oh, soal itu. Aku anggap kamu masku,” sahut Soraya berusaha santai.

“Mas? Mas seperti apa? Hanya sebatas kakak laki-laki kamu?” kataku tak berdaya.

Soraya diam menatapku, setelah lama menatapku, ia hanya menjawab, “entahlah.”
Aku benar-benar sudah tidak sabar lagi. Sikap tak acuh yang selalu ia tunjukkan kala kami berbicara soal hubungan, kembali lagi. Soraya seakan ingin lari dari diriku sekarang.

“Soraya. Dengar. Kamu tahu usia aku sudah tidak muda lagi, bukan?” kataku berusaha menahan gemetar, “aku dekat dengan wanita dan itu artinya aku tidak ingin main-main. Aku ingin serius. Aku ingin serius sama kamu. Aku ingin menikahi kamu!”

Aku menahan jerit dalam suaraku. Astaga! Akhirnya aku mengatakannya?! Ya, Tuhan.

Soraya memandangku. Ia tidak menjawab, hanya terus menatap aku dengan mata bulat yang seperti bayi itu. Setelah lama menunggu untuk ditampar atau semacam itu, Soraya buka suara.

“Mas, kenapa kamu mau nikah sama aku?”

“Karena aku cinta sama kamu. Kamu gadis yang aku cari selama ini.”

Soraya tertawa geli, “kamu enggak pernah cinta sama aku, mas.”

Aku mengernyit, “kenapa kamu bilang begitu?”

“Kamu hanya merasa aku layak buat kamu mas. Kamu merasa aku cantik, aku pintar, aku gadis yang selama ini kamu cari. Selama ini kamu berkelana, mencari gadis yang tepat buat kamu tapi kamu enggak nemu-nemu. Kamu merasa enggak ada wanita yang setara sama kamu, enggak ada wanita yang sesuai sama yang kamu inginkan. Kemudian, datanglah aku di hidup kamu. Dalam sudut pandang kamu, aku sesuai buat kamu,” kata Soraya tajam.

“Tapi, kamu enggak pernah cinta sama aku mas. Ini bukan cinta tapi komitmen. Kamu mau menjadikan aku isteri kamu karena menurut kamu aku pantas untuk itu,” lanjut Soraya, “aku punya banyak kekurangan, mas. Banyak sekali. Tapi, apa kamu pernah lihat itu? Apa kamu tahu itu? Kamu tidak mau tahu mas. Karena kamu hanya fokus sama kelebihan aku. Kamu sibuk memuji-muji aku. Lupa bahwa aku punya kekurangan.”

Aku terperangah mendengar kata-kata Soraya.

“Bukan begitu. Sama sekali bukan begitu. Aku cinta sama kamu makanya aku tutup mata untuk segala hal yang kurang dari kamu. Bagi aku, hanya ada kelebihan dalam diri kamu. Aku enggak peduli kekurangan kamu karena buat aku itu semua enggak penting. Cintaku yang membuat aku selalu melihat kekurangan kamu jadi kelebihan.”

Soraya tertawa mencemooh.

“Kekuranganku enggak penting? Sayangnya itulah membuat diri aku nyata mas. Kekuranganku adalah bagian dari wanita yang kamu inginkan buat jadi isteri.”

“Tapi, aku enggak peduli kekurangan kamu Soraya. Aku cinta kamu dan itu cukup untuk aku,” sahutku meyakinkannya.

“Cinta?” sahut Soraya menunduk, “cinta macam apa mas? Cinta macam begitu hanya akan membuat derita.”

Aku menatapnya, mengernyit. Belum sampai aku bertanya lebih jauh, Soraya telah mengangkat wajahnya. Matanya. Matanya yang selalu hidup dan penuh dengan semangat membara, kini tampak sendu dan nyaris berurai air mata. Soraya, gadisku yang mempesona kini tampak layu menderita.

“Aku menyerah pada cinta, mas. Aku tidak mau lagi cinta semacam itu,” kata Soraya suaranya bergetar.

“Soraya ada apa?” tanyaku bingung.

Soraya kembali menunduk, kali ini dia memandang jemarinya.

“Aku sudah pernah jatuh cinta, mas. Cintaku begitu besar. Membuatku tak berdaya. Membuat aku tergila-gila. Rasanya sungguh luar biasa. Kemudian, cinta juga membuatku terhempas tak bersisa,” kata Soraya, “aku pernah mencintai seseorang, mas. Aku begitu mencintainya hingga aku merasa dialah hidupku, dialah sel dalam diriku, dia nafasku. Aku mencintainya hingga aku rela menghabiskan waktuku hanya untuk menanti saat itu datang. Aku begitu mencintainya hingga aku berani menantang Tuhan dengan menolak semua pria yang datang untuk menggantikan tempatnya di hatiku. Aku begitu mencintainya, mas, hingga rasanya aku tidak sanggup hidup lagi jika harus melepaskannya dalam diriku.”

Aku terkejut. Sungguh. Soraya yang selama ini aku kenal begitu mandiri dan mampu berdiri sendiri, ternyata menyimpan kenangan buruk. Ia belum melangkah pergi dari masa lalunya. Berkubangan pada cintanya yang sudah mati. Mempertahankan seperti memelihara zombie. Soraya, gadisku yang malang.

“Cinta, mas. Aku hanya akan mati kalau aku mengganti dia dengan pria lain,” kata Soraya mengigil, “maafkan aku, mas. Maafkan aku.”

Aku menatapnya iba. Ingin sekali aku merengkuhnya dalam pelukku. Menghapus air matanya dan mengembalikan senyumnya. Namun, kuhapus semua keinginan itu dengan mengenggam kedua tangannya.

“Cinta, Soraya,” kataku lembut, “adalah kesempatan. Itu bukan cinta jika ia tidak memberikan kamu kesempatan. Itu bukan cinta kalau dia membiarkan kamu sekarat. Itu jelas bukan cinta kalau dia membiarkan kamu menderita. Aku tahu, kamu sudah tahu ini semua. Aku tahu kalau kamu sudah paham kalau kamu hanya cinta sendiri. Kamu tidak berharap sama sekali dia membalas apa yang kamu berikan. Cintamu begitu naif sehingga begitu luka karena keluguan kamu.”

Soraya menatapku. Wajahnya basah oleh air mata.

“Kamu tahu rasanya tidak memiliki kesempatan mencintai bukan?” kataku tersenyum, “sekarang giliran aku yang minta kesempatan itu. Aku tidak memintamu melepaskannya. Biarkan kamu tetap mencintainya jika dengan begitu kamu bisa tetap hidup. Tapi, izinkan aku membuat hidupmu lebih bermakna. Hidup bukan sekedar hidup seperti zombie. Berikan aku kesempatan yang tidak pernah kamu dapatkan dari dia. Kamu jelas lebih baik dari dirinya sehingga kamu tidak akan sekejam dia, Soraya.”


Soraya mengerjap, terkejut dengan kata-kataku. Tanpa menjawab, ia memelukku begitu erat sambil terus menangis. Dalam hati, aku takut seperti Frankenstein. Takut aku akan hidup dalam ketakutan bersama zombie. Membiarkan mayat hidup menggerogoti jiwaku selamanya.

Tidak ada komentar: