Jumat, 15 Mei 2015

Bukan Sekedar Bunga Tidur


Tanggal 14 Mei 2015 sekitar pukul 21.30 saya terbangun dari tidur. Sebelumnya memang saya sengaja tidur sore karena hari itu saya habis ikut kursus seharian dan kayaknya capek banget walaupun enggak gerak apa-apa kecuali mendengarkan narasumber. Padahal niat saya mau tidur lebih lama tapi berhubung lagi-lagi mimpi aneh, jadinya saya bangun.

Katanya, mimpi itu bunga tidur. Tapi, pernah enggak sih merasakan mimpi yang kayak nyata banget? Seolah-olah kita sudah tahu semua keadaan di dalam mimpi itu. Semua hal yang di mimpi, kita bisa kenal dengan jelas. Bahkan alur mimpi yang biasanya nggak jelas, ini jelas dan detail banget. Saya sering banget mimpi kayak begitu. Sebelumnya juga saya pernah tulis di blog tentang mimpi di tembak dan berhubungan dengan lenyapnya sakit migraine rutin di kepala saya. Dan kemarin malam, lagi-lagi saya mimpi sesuatu hal yang jelas banget dan saya tahu itu bukan sekedar bunga tidur biasa.

Dalam beberapa jam tidur, saya mimpi 2 kejadian dan keduanya sama-sama membuat saya terkesan sekaligus merinding. Bahkan sampai detik ini saya masih ingat jelas kedua mimpi saya, bukan sekedar ingat samar-samar. Berikut 2 kisah mimpi saya semalam.


Mimpi Pertama

Tiba-tiba saya berada di sebuah gedung. Bentuk gedungnya persis kayak gedung SMA saya dulu. Hanya saja, sebagian besar gedung ini terbuat dari batu bata merah dan sisanya batu putih yang saya nggak terlalu yakin itu putih cat atau batu kapur. Saya dalam keadaan ketakutan bukan main. Saya berada di lantai 2 gedung itu dan saya begitu ketakutan dengan sosok di lantai bawah yang terus menerus memanggil saya untuk segera turun. Sosok itu adalah seorang pria. Tinggi besar, mungkin tingginya hampir 2 meter, pakai baju putih semacam baju chef. Laki-laki seram itu bawa pisau besar banget di tangan kanannya dan garpu tala besar di tangan kiri. Sambil manggil-manggil saya, dia sibuk menggesekkan pisau dan garpu talanya sampai kedengaran bunyi ngilu di telinga. Sumpah, lelaki itu seramnya keterlaluan. Tapi, yang membuat saya makin seram adalah wajah laki-laki itu mirip banget sama sepupu saya. Bukan sekedar mirip tapi saya yakin laki-laki itu memang sepupu saya. Hanya saja laki-laki dalam mimpi saya badannya lebih berotot dan mukanya lebih sangar. Usianya juga mungkin sekitar 40an. Saya yakin, saat sepupu saya usinya sudah 40an pasti mirip banget sama lelaki di mimpi saya.

Laki-laki seram itu sibuk manggil-manggil saya. Saya bingung harus minta tolong sama siapa. Walaupun langit masih menunjukkan sore hari, gedung itu kosong melompong. Saya berduaan sama orang gila yang pegang pisau dan garpu tala. Bayangin aja. Saya juga tahu kalau pintu keluar harus melalui lorong panjang gelap yang dimana laki-laki seram itu berdiri di depan lorong itu. Saya harus keluar dari gedung itu tapi saya yakin kalau saya ke bawah pasti saya mati di cincang sama monster itu. Akhirnya saya memutuskan untuk ke dapur dan mengambil pisau besar dan pisau kecil. Untuk jaga-jaga, saya harus bisa melawan laki-laki seram itu.

Saya turun ke bawah dan semua kejadiannya begitu cepat. Laki-laki itu menyerang saya, sesuai perkiraan saya, saya langsung melawan. Tanpa melihat secara pasti saya merasa saya menusuk dia pakai pisau yang saya pegang. Saya nggak lihat laki-laki itu atau apakah dia berdarah atau nggak karena mata saya hanya menatap lorong gelap di belakang saya. Setelah tahu laki-laki itu jatuh tersungkur, saya langsung lari cepat menuju lorong panjang dan di ujung lorong, suasana di luar begitu ramai. Banyak pedagang kaki lima, kendaraan, orang-orang penuh sesak. Pokoknya ramai banget. Dan entah kenapa, saya sangat yakin kalau itu adalah daerah India.


Mimpi Kedua

Tiba-tiba saya berada di sebuah ruangan sangat besaaaarrrrr. Terbuat dari batu bata merah dan suasananya agak gelap. Satu-satunya sinar berasal dari sinar matahari yang masuk melalui teras. Ruangan itu letaknya sangat tinggi. Untuk menuju ke ruangan itu harus di lalui oleh banyak anak tangga yang bentuknya lebar-lebar. Yap, saya berada di sebuah rumah besar yang cukup terbuka karena banyak terdapat ventilasi di bagian atas rumah. Mungkin bukan sekedar rumah, tapi lebih mirip istana walau nggak terlalu besar untuk ukuran istana, yang jelas rumah itu megah dan luas. Lokasinya saya yakin betul di India. Dari lantai atas saya bisa melihat jalanan keluar yang penuh pedagang dan orang-orang. Ramai dan penuh sesak.

Di situ saya melihat pantulan diri saya. Benar-benar diri saya dengan wajah seperti saya sekarang ini. Rambut saya juga pendek kira-kira sebahu dan agak ikal seperti rambut saya sekarang. Saya pakai rok dan flat shoes. Saya lagi bercermin dan gaya-gaya. Sibuk memperhatikan pantulan diri saya. Saya tahu, saya adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak saya laki-laki. Ayah saya bernama Su… Depannya Su tapi ingatan saya langsung lenyap saat saya berusaha menghapal nama ayah saya. Dia memiliki saudara laki-laki dan tinggal di rumah besar itu juga. Akan tetapi, keluarga paman saya tinggal di sisi lain rumah itu. Sedangkan kami sekeluarga di sisi satunya.

Di ruangan tempat saya lagi bercermin, ada banyak sekali barang-barang. Seperti tas, baju-baju, dan berbagai barang-barang yang jumlahnya banyak banget yang di taruh di salah satu ruangan besar. Sepertinya ayah saya adalah seorang saudagar kaya raya. Saya tahu, saya anak manja. Keluarga saya begitu harmonis. Saya begitu memuja kakak saya, kakak saya begitu menyayangi saya. Saya punya banyak sekali pelayan yang hilir mudik melayani saya dan keluarga saya. Memang saya belum pernah melihat semua keadaan itu di dunia nyata sekarang, tapi saya tahu bahwa segala keadaan itu pernah ada. Bukan sekedar keadaan tapi perasaan yang saya rasakan. Begitu rindu rumah. Saya merasakan homesick teramat sangat.

Lalu yang membuat saya makin terharu adalah ketika ada seorang pemuda menghampiri saya. Dia cukup tinggi, hingga kepala saya hanya mencapai dadanya saja. Dia mengenakan sweater hitam lengan panjang dengan kerah yang di lipat. Sweater jaman tahun 80-90an yang ngetren banget. Perawakannya mirip Sharukh Khan waktu lagi muda. Saya nggak jelas lihat mukanya tapi sekilas memang mirip Sharukh Khan. Model rambutnya kayak Sharukh Khan muda, kulitnya yang cokelat madu, bibirnya agak tebal. Saya tahu, dia kakak saya. Usianya sekitar 20an. Dia berpamitan sama saya karena dia mau pergi ke ibukota untuk kuliah. Saya memeluk dia dan berpesan ‘disana jangan cari pacar yah, kakak sayang, gadis itu bisa kena masalah kalau pacaran dengan kamu. aku bakalan cemburu.’ Lalu kakak laki-laki saya itu jawab ‘tenang sayangku, hanya kamu putri di hati aku.


Setelah itu, saya langsung terbangun. Diantara sadar dan kantuk, saya menangis. Hati saya terenyuh. Pelukan itu. Pelukan kakak lelaki saya. Benar-benar terasa nyata. Seakan-akan dia baru saja peluk saya. Bukan sekedar pelukan biasa tapi pelukan kasih sayang yang begitu hangat menghubungkan dua saudara dengan ikatan yang begitu kuat. Di kehidupan nyata, saya punya kakak perempuan dan hubungan kami tidak begitu akur. Bahkan untuk berpelukan saja, nyaris tidak pernah. Berpelukan dengan kakak lelaki di mimpi saya itu terasa lebih nyata dan lebih bersaudara. Bahkan saya merasa lebih kenal kakak lelaki di mimpi ketimbang kakak perempuan di kehidupan nyata. Saya merasakan kerinduan yang amat sangat dengan kakak lelaki saya itu. Saya merasa bahwa ikatan antara saya dan dia sangat kuat. Bahkan sampai saat saya tulis di blog ini, saya masih merasakan hubungan hangat di antara kami. Saya masih bisa merasakan pinggang ramping kakak saya dan detak jantungnya waktu kepala saya bersandar di dadanya. Dia benar-benar hidup. Mungkin bukan di kehidupan nyata saat ini, tapi di dalam kenangan memori saya.

Kehidupan lampau. Percaya enggak percaya. Kelihatannya hanya sekedar mimpi. Tapi, berkali-kali saya selalu mimpi yang jelas dan detail saat saya sedang tidur penuh konsentrasi. Saya nyaris tidak pernah mimpi. Kalaupun mimpi, biasanya mimpi karena saya sering susah tidur, dan mimpi-mimpi kalau saya habis insomnia itu mimpi yang enggak jelas. Tapi, kalau saya sedang dalam keadaan tidur penuh damai, konsentrasi, dan langsung tertidur pasti hasilnya saya mimpi-mimpi yang seperti ini. Yah, percaya enggak percaya. Saya percaya ini bukan sekedar mimpi biasa, tapi sebuah jejak ingatan di kehidupan masa lalu saya. Sejujurnya saya ingin mencari semuanya. Apakah saya betul-betul melihat masa lalu saya atau sekedar khayalan? Saya tidak yakin saya mengkhayal. Saya tidak memikirkan apa-apa sebelum tidur. Dan untuk apa saya membentuk khayalan semacam itu? Saya benar-benar ingin tahu, terutama kakak lelaki saya. Saya begitu terkesan padanya dan sentuhannya meninggalkan bekas mendalam dalam pikiran saya. Semacam ikatan batin yang begitu kuat. Tapi, kemana saya harus mencari? Memulai darimana?

Tidak ada komentar: