Minggu, 07 Juni 2015

Kisah Puan, Dengarlah Tuan



[Puan]
Lara ku. Ceria ku. Duka ku. Bahagia ku. Wajah yang merengut. Bibir yang tersenyum. Mata yang menatap. Oh, cinta aku terperangkap.

[Tuan]
Apa yang telah merasuki duniamu, puan. Kau telah dilepas. Kau telah bebas. Tidak lagi terpasung. Tidak lagi diikat oleh inginnya. Pergilah.

[Puan]
Aku telah jatuh, tuan. Aku telah terjebak. Mata itu perangkap. Senyum itu mengikat. Suara itu masih terngiang. Aku telah jatuh pada cinta.

Malam ku. Saat aku menutup mata. Mereka berkata bahwa itulah waktu tidur. Bagiku, ini adalah kematian. Dimana aku mati, esok lahir kembali.

Doa ku pada malam berselimut kelam. Bulan membulat. Aku termenung. Semoga esok ketika aku lahir kembali, mata itu yang pertama kali kulihat.

[Tuan]
Sebesar itukah kau menginginkan matanya? Mata yang memang indah saat masih terpasang di rongganya. Masihkah ingin jika sudah terlepas, puan?

[Puan]
Tidak. Kerinduanku masih memuncak saat aku mengingat senyumnya. Sederet gigi bergeligi yang manis dan membuat gemas, tuan.

[Tuan]
Jika itu yang membuatmu tak berdaya, coba tarik lepas barisan giginya. Biarkan terlepas dari gusinya. Apakah kau masih ingin giginya, puan?

[Puan]
Tidak berhenti sampai disitu, tuan. Jangan kau lupakan suaranya. Meski telah lama tak terdengar, masih jelas dalam ingatan. Membuatku jatuh.

[Tuan]
Kalau begitu, pita suara itu pasti telah lenyap. Ia sudah membisu terlalu lama. Tidak lagi memuja, tidak juga tertawa. Suara apa lagi, puan.

[Puan]
Biarkan, tuan. Meski matanya terlepas, senyumnya tak lagi bergigi, suaranya membisu, aku masih mampu jatuh padanya. Penguasa dunia ku.

[Tuan]
Baiklah. Wajarlah, puan. Dirimu yang fana memang melekat pada rupa. Kau anggap cintamu hanya soal fisik semata.

[Puan]
Kau salah besar, tuan. Lebih dari semua yang kau duga. Aku memang menyukai mata, senyum, dan suaranya tapi aku tidak takut kehilangan semua.

Aku mampu memberikan segala. Jika ia ingin jantungku, darahku, bahkan nafasku yang menjadi penghubung jiwaku pada dunia, akan kuberikan.

[Tuan]
Kebodohan macam apa, puan. Jangan kau sesumbar, berkata sesuka hati, menggombal tak punya arti. Kau terlalu berlebihan padahal belum berjumpa.

[Puan]
Hidupku tidak sekali, tuan. Aku sudah tahu. Dalam perjalanan panjangku melintas samudera air mata. Aku, dia, telah berjumpa berkali-kali.

[Tuan]
Sudahlah, puan. Jangan lagi berkhayal. Kau pergi tidur sajalah. Biarkan malam menuntunmu dalam mimpi indahmu. Biarkan hatimu damai tanpanya.

[Puan]
Baiklah, tuan. Aku ikuti kata-katamu. Mungkin kau benar. Aku ini hanyalah budakmu. Kebenaramu adalah milikku. Semoga esok kau pahami aku.




30 Mei 2015

Tidak ada komentar: