Sabtu, 27 Juni 2015

Serendipity


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen "Awesome Journey" Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com



Tara melompat turun dari angkutan kota yang membawanya jauh ke dalam wilayah perkampungan. Setelah membayar satu lembar sepuluh ribu, ia segera melangkah dengan penuh semangat. Rintik hujan menyambutnya seakan menjadi penanda ucapan selamat datang untuknya yang sudah sejak lama ingin kembali ‘pulang’. 

Kompleks candi itu tidak besar. Sangat jauh bila dibandingkan dengan Borobudur atau Prambanan yang tetap terlihat megah meski sudah dimakan waktu. Candi Penataran yang berlokasi di wilayah Blitar berada di kompleks mungil ditengah-tengah perkampungan penuh pepohonan. Tara memandang candi yang sebagian besar berupa reruntuhan itu dengan perasaan penuh warna. Antara bahagia, terharu, dan sedih bercampur menjadi satu. 

Bahagia karena ia begitu jatuh cinta pada bangunan-bangunan kuno seperti candi misalnya. Meskipun ia bukan arkeolog atau ahli sejarah, Tara selalu menemukan kedamaian di dalam sanubarinya saat memandang saksi sejarah yang kini diam membisu. Terharu karena ia berhasil menguasai ketakutannya untuk memulai perjalanan pertamanya seorang diri sejauh ratusan kilometer dari rumahnya. Menggunakan kereta kelas ekonomi dan menginap di penginapan murah demi tekadnya untuk menjadi seorang backpacker sejati. Dan sedih karena semua ini ia lakukan hanya untuk melupakan Pasha.

Tara menghembuskan nafasnya, sepintas mengingat Pasha. Lima bulan yang lalu ia resmi berpisah dengan pria yang begitu dipujanya itu. Setelah melewati hubungan singkat yang penuh emosi dan derai air mata. Di satu sisi, Pasha yang begitu romantis dan mencintai Tara. Di sisi lain, Pasha yang tidak mampu jujur dan setia pada Tara yang selalu mengutamakan keduanya dalam sebuah hubungan. Tara yang terlalu percaya keluguan Pasha terhenyak saat didapatinya pemuda pujannnya itu ketahuan menggoda beberapa gadis di media sosial. Pasha meminta maaf dan menyesali perbuatannya, tapi itulah saat bencana lainnya datang. Tara yang sejak dulu sulit percaya telah percaya pada Pasha karena kenaifannya yang percaya bahwa Pasha adalah cinta sejatinya yang telah lama hilang. Kini kepercayaan itu terkoyak begitu dalam dan membuatnya berubah menjadi monster pemakan bahagia. 

Hari-hari mereka dilalui dengan pertengkaran demi pertengkaran. Tara yang kritis dan takut mengulang kejadian yang sama, selalu menginterograsi dan mengawasi segala aktivitas Pasha seperti seorang detektif yang senang mengumpulkan bukti-bukti untuk menyerang Pasha dengan tuduhan-tuduhan agresif. Sedangkan Pasha yang sudah diberi kesempatan oleh gadisnya dan sedang berusaha untuk menjadi yang terbaik, merasa jemu karena Tara selalu meragukan perubahannya. 

Pasha yang seorang anggota militer dan terbiasa hidup keras akhirnya memilih mundur dengan caranya yang mampu membuat Tara kelimpungan. Ia mengabaikan Tara, memblokir semua akun sosial medianya, menghapus nomor telepon Tara. Menyelesaikan hubungan mereka begitu saja. Meminta Tara melupakannya meski Pasha tetap meyakinkan Tara bahwa ia tetap sendiri dan tak mencintai siapapun juga. Mengatakan bahwa cintanya pada Tara sudah habis dan menganjurkan Tara untuk tidak lagi mencintainya. 

Tara yang terlalu memuja cinta, malah terpuruk tak sanggup menyudahi cintanya. Ia makan sangat sedikit selama berbulan-bulan, nyaris tidak pernah tidur malam, matanya bengkak oleh air mata, pikirannya liar bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan Pasha sekarang. Apakah benar ia sudah tidak mencintai Tara? Apakah benar ia masih sendiri? Apakah ia sudah mencintai gadis lain? Apa yang harus dilakukan oleh Tara? Haruskah ia yakin pada hatinya bahwa Pasha masih mencintainya lalu menunggu pemuda itu kembali padanya ataukah ia harus memulai cintanya yang baru meski ia sendiri tidak menginginkan cinta yang lain juga? 

Berbulan-bulan, Tara hidup dalam keraguan. Orang tuanya khawatir. Nilai-nilai kuliahnya turun drastis. Cinta yang dulu jadi penyebabnya tertawa malah menghancurkan senyum di wajahnya yang sudah sangat tirus. Hingga tiba waktunya, Tara yang merasa jengah. Ia tahu ia harus menyelesaikan semuanya. Pasha tidak mungkin kembali. Andaikata ia kembali, ia bukanlah Pasha yang lugu yang ia kenal pertama kali. Kenangan buruk diantara mereka tidak akan pernah terhapus begitu saja seperti halnya kenangan manis mereka. Tara akhirnya memutuskan untuk berhenti. Ia harus melangkah. Bukan untuk mencari cinta yang baru tetapi untuk merelakan bahwa memang cintanya pada Pasha sudah saatnya selesai. 

Untuk menandai hal itu, ia menginginkan perjalanan ini. Bukan hanya untuk meletakan pikirannya yang penuh dengan Pasha untuk sementara tetapi berharap pengalaman barunya mampu membuatnya berpikir dengan perspektif baru. Dipilihnya Blitar karena ia ingin mengunjungi makam Sang Proklamator sudah sejak lama. Ditambah lagi rasa hausnya akan mengeksplorasi bebatuan sisa sejarah. Perjalanan panjang dan seorang diri ini diharapkan mampu membuatnya kembali lahir menjadi Tara yang lebih baik. 

Hujan makin deras saat Tara sampai di dekat reruntuhan candi yang paling depan. Tara jadi kocar-kacir. Pasalnya ia tidak membawa payung ataupun topi sedangkan di kompleks candi sendiri tidak ada tempat berteduh selain di kantor pengawas candi dan di sekumpulan pepohonan disamping kantor itu. Namun, berteduh di dekat pohon tidak akan membuatnya tetap kering. Ia bimbang sejenak. Tara sedang malas berbicara dengan orang-orang. Menumpang teduh di dalam kantor pengawas sama saja akan bertemu dengan beberapa orang disana. Akhirnya Tara memilih duduk di bangku kayu dibawah pepohonan meskipun harus sedikit basah. Ia menunggu hujan sedikit reda. 

Tara memandang berkeliling. Kompleks candi ini sepinya bukan main. Mungkin karena Tara datang bukan disaat musim liburan. Setidaknya ia berharap ada selusin orang bersamanya, tetapi yang terjadi hanya ada sepasang kekasih yang baru saja meninggalkan candi karena hujan makin deras dan tiga orang anak sekolahan yang duduk bersama Tara menunggu hujan. Mereka lumayan berisik. Sesekali jepret-jepret selfie dengan kamera DSLR mereka. Tidak peduli pada hujan yang bisa saja membuat lensa kamera mereka berembun, mereka punya segudang gaya untuk berfoto narsis. Tara komat-kamit, berdoa, agar hujan cepat berhenti dan ia bisa segera kabur dari tempat itu. 

Dan benar saja, Tuhan mendengarkan doa Tara. Hujan kini mulai berupa rintik-rintik kecil walau masih cukup deras. Tapi, Tara memutuskan untuk bangkit dan melangkah menuju candi utama meninggalkan ketiga gadis sekolahan yang masih foto-foto bergantian memegang kamera. Ia tidak memulai mengamati dari bagian depan. Bale Agung yang letaknya di barat laut halaman depan tidak menarik perhatiannya karena banyak ditumbuhi tumbuhan. Mungkin ular naga yang mengelilingi Bale Agung cukup menarik perhatian Tara sehingga ia mengabadikannya lewat kamera pocket warna merah muda miliknya saja. Tara juga tidak terlalu perhatian dengan Candi Angka Tahun atau Candi Brawijaya yang mungil yang letaknya di tenggara bangunan pendopo teras. Meskipun di dalam candi itu terdapat patung Dewa Ganesha, Tara tetap saja melangkah menuju Halaman Tengah dimana terdapat dua arca Dwarapala. Ia juga menuju Candi Naga yang hanya tersisa bagian kaki. Ia memfoto semua kompleks candi. Baik relief maupun arcanya. Ia juga memfoto sebuah arca bersosokan dewi surgawi yang tercirikan dari pakaian dan mahkotanya yang tinggi. 

Setelah cukup puas loncat kesana kemari, akhirnya Tara sampai ke tempat tujuannya. Candi utama kompleks Candi Penataran ada di depan matanya. Bangunan setinggi kurang lebih tujuh meter dengan tiga teras dan terdapat dua arca Mahakala di masing sisi-sisi tangga. Tara memandangnya puas. Ia tidak terlalu paham soal relief tetapi dari keterangan di dinding informasi dekat kantor pengawas, pada teras pertama Candi Penataran dindingnya adalah relief cerita Ramayana. Untuk dapat membacanya harus mengikuti prasawiya, dimulai dari sudut barat laut. Lalu teras kedua dinding candi adalah kisah Krçnayana yang alur ceritanya dapat diikuti secara pradaksina (searah jarum jam). Sedangkan teras ketiga berupa relief naga dan singa bersayap, bentuknya hampir bujur sangkar. 

Tara tidak suka ketinggian bahkan bisa dibilang ia alergi pada ketinggian. Ia bisa langsung mendadak pusing ketika sampai ditempat tinggi. Tetapi, untuk kali ini, ia sekali lagi ingin menguasai ketakutannya dan memulai untuk menjadi Tara yang mempunyai nyali besar. Jadi, tanpa berpikir panjang ia mulai menaiki tangga batu candi utama dengan hati-hati sambil berpegangan pada sekitar dinding. Saat kakinya mulai melangkah naik, mendadak langit langsung cerah, angin sepoi-sepoi menggelitik telinga Tara membuatnya sedikit mengantuk. Namun, ini adalah tekadnya. Ia harus sampai di bagian tertinggi dari candi utama. 

Ketika sampai di teras pertama, Tara baru sadar bahwa sudah beberapa orang yang datang ke kompleks candi. Tiga orang pelajar yang tadi duduk dan gila selfie itu juga kini foto-foto di dekat Candi Ganesha. Ada sepasang kekasih pula yang sedang bersama Tara di teras utama. Tara tidak mau menghabiskan waktu untuk mengamati orang-orang, maka ia tetap sibuk memfoto relief candi dengan bersemangat. Lututnya agak lemas saat berusaha menaiki teras kedua seakan memperingatkan Tara untuk kembali saja. Keringat dingin membanjiri dahinya. Namun, mau sampai kapan Tara harus takut pada ketinggian? Ia harus belajar mengendalikan ketakutannya seperti ia harus mulai belajar mengendalikan pikirannya dari bayang-bayang Pasha. 

Tiba-tiba matanya basah oleh air mata. Sejauh ini dia pergi sendirian, menyendiri, semua dilakukannya demi membuatnya sadar bahwa Pasha tidak akan pernah kembali. Tara harus menganggapnya telah mati. Orang mati tidak kembali tetapi kenangannya yang abadi dalam ingatan. Ingatan itulah yang menggerogoti setiap detik kehidupannya. Jadi, yang terpenting bukan soal menganggap Pasha hidup atau mati, percuma saja ia mati kalau Tara masih hidup dalam kenangan. Justru ingatannya yang harus disudahi, pikir Tara sambil terus naik ke teras atas candi utama. 

Mata Tara langsung menangkap beberapa orang yang sedang bersenang-senang foto di teras atas candi utama. Mereka tidak tampak takut meskipun tidak berpegangan. Tara mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menyelesaikan tangga terakhirnya dan berdiri tegap melangkah ke teras utama candi yang merupakan bagian tertinggi. Tidak ada dinding disana, hanya teras kosong. Tara tidak bisa berpegangan apa-apa disana, jadi dia agak sedikit merayap sewaktu selesai naik dari tangga batu. Ia tidak peduli dengan pandangan beberapa orang disana yang terpenting ia mampu menyelesaikan misinya. 

Namun, semuanya terbayarkan dengan suguhan pemandangan dari tempatnya sekarang berdiri. Dari atas, segalanya tampak jelas. Perkampungan disekitarnya, pepohonan yang rimbun di beberapa sisi, Gunung Kelud yang perkasa, semuanya tampak jelas. Angin sepoi-sepoi dan cuaca hangat sedikit mendung membuat semuanya tampak sempurna. Tara membayangkan dirinya adalah seorang pemuda nakal yang hidup di masa lalu, yang tak peduli kesakralan candi ini sebagai tempat upacara menangkal marabahaya akibat letusan Gunung Kelud, tetapi bebas dan penuh rasa ingin tahu. Pemuda itu dengan sejuta angan-angannya, berdiri menantang langit, berpikir betapa hebatnya bila ia mampu menguasai seluruh dataran di dekatnya. 

Tara membuka kedua lengannya setelah selesai memfoto pemandangan dari atas. Ia merentangkan tangannya seolah-olah ingin membuktikan bahwa ia mampu terbang meski tak bersayap. Hatinya penuh rasa gembira, jantungnya berdegup keras, inilah Tara. Seorang gadis yang tak seperti pemuda dalam benaknya dengan mimpi begitu besar, mimpi dan harapannya sederhana saja. Ia hanya ingin memiliki kekuatan untuk melepas. Ia ingin memiliki kemampuan untuk merelakan. Bebas tanpa terikat pada apapun juga. Termasuk terikat pada ketakutannya dengan ketinggian, juga ketakutannya untuk melepaskan segala ingatan tentang Pasha. Air mata membasahi pelupuk matanya yang terpejam. Setiap sel dalam dirinya telah lahir kembali. Ia bukan lagi Tara yang kemarin atau bahkan yang sedetik lalu. Ia adalah Tara yang telah lahir kembali. 

Energi dalam dirinya meluap-luap, segala bentuk cinta kasih memancar dari dirinya. Tara belum pernah merasa sebahagia ini. Ia adalah angin yang menggelitik, juga rintik hujan yang menggenang di tanah, bahkan ia adalah semut yang berbaris tak terlihat hidup di rongga candi. Tara ada dimana-mana. Ia menyatu dan begitu bahagia tak terbatas. Namun, kebahagiaan yang meluap-luap itu tiba-tiba kandas saat sesuatu mengusiknya. Seseorang atau sesuatu telah menarik bagian belakang bajunya. 

“Hei, kau mau bunuh diri yah?” tanya seseorang samar-samar di belakang Tara. 

Dengan enggan Tara membuka matanya, segala isi pemandangan langsung masuk ke dalam pupilnya begitu cepat. Jika saja seseorang yang menarik bajunya itu tidak bergerak cepat, selangkah lagi Tara maju, ia sudah tinggal sejarah. Tara langsung terhuyung pusing dan melompat kebelakang, menabrak orang yang menolongnya. Namun, orang itu terlalu tangguh untuk tersungkur akibat tubrukan tubuh Tara. Malahan Tara yang meringis menahan sakit bahunya yang tulang belulang menabrak tubuh besar penolongnya. 

“Tidak, tentu tidak. Tadi saya hanya berdiri ditengah. Kenapa jadi sekarang dipinggir?” kata Tara kebingungan. 

“Entahnya, saya  juga tidak tahu. Saya hanya akan turun sehabis foto, melihat kamu kayak mau bunuh diri, jadi langsung saya tarik saja,” kata pemuda itu santai, “setidaknya jangan bunuh diri disini, ini tempat wisata, jangan biarkan nilai wisatanya hancur.” 

Tara langsung merengut, “saya enggak punya niat bunuh diri!” katanya ketus lalu melanjutkan, “terima kasih sudah menyelamatkan saya!” 

Tara pergi meninggalkan pemuda itu dan mulai menuruni tangga batu dengan berhati-hati. Dibelakangnya pemuda itu mengikuti Tara dengan sabar. Sedetik yang lalu ia merasa bersyukur karena sudah diselamatkan tetapi rasa syukur itu lenyap saat tahu yang menolongnya adalah pria bermulut nyinyir. 

“Kau ngapain ngikutin?” tanya Tara ketus. 

“Siapa yang ngikutin?” tanya pemuda itu bertanya. 

“Kau! Kau bisa saja turun duluan kan? Kenapa harus menunggu saya turun?” kata Tara memandang lelaki itu saat mereka berdua sudah sampai di bawah. 

“Oh, sori, saya hanya sambil berpikir. Kenapa orang yang mau bunuh diri sepertinya takut pada ketinggian?” kata pemuda itu santai. 

“Saya enggak berniat bunuh diri!” kata Tara kesal, “justru saya sedang bahagia. Saya memejamkan mata dan hati saya penuh kebahagiaan, tetapi kenapa jadi saya berjalan kepinggir, itu yang saya tidak mengerti.” 

Pemuda itu memandang Tara ingin tahu, “hmm apakah kau sedang bermeditasi?” 

“Meditasi?” tanya Tara langsung meledak diiringi tawa, “saya tidak tahu bagaimana caranya meditasi.” 

“Ya sudah lupakan saja. Sori sudah menuduh kau mau bunuh diri,” kata pemuda itu santai. 

Tara memandangnya dan mengangguk. Pemuda itu sepertinya seumuran dengan Tara. Tubuhnya lumayan menjulang tinggi dan kokoh. Tara mengukurnya sekilas, tingginya hanya sebahu pemuda itu. Kulitnya yang cokelat keemasan menandakan ia sering berpergian, matanya yang cokelat madu membesar antusias saat berbicara dengan tara, dan sikapnya yang penuh percaya diri, cukup membuat Tara yakin ia adalah jenis orang yang menikmati hidupnya dengan sangat baik. Pemuda itu terlihat sangat santai dengan celana bermuda warna khaki dan baju merah polos slim fit serta sepatu gunung untuk telapak kakinya yang besar. Ditangan kanannya ia memegang DSLR dan dibahu kirinya sebuah tas slempang menggantung.

"Kau fotografer yah?" tanya Tara penasaran.

Pemuda itu menatap Tara, “kenapa? Kau ingin difoto?” 

Tara mengernyit, “aku hanya bertanya kenapa kau malah balik bertanya? Kau ini memang begitu yah? Selalu menuduh orang?” 

Pemuda itu tertawa, memamerkan sederet gigi yang bergerigi, “kau ini juga begitu yah? Galak selalu marah-marah kalau ditanya balik?” 

Tara merengut, “kau menyebalkan.” 

“Hahaha, sori. Aku hanya menebak. Biasanya cewek begitu, suka sekali di foto. Jadi siapa tahu kau juga ingin di foto,” kata pemuda itu masih tertawa, “ayo cepat dimana kau mau di foto?” 

“Aku hanya bertanya, bukan ingin di foto,” sahut Tara benar-benar kesal, “kalau kau tidak mau menjawab ya sudah. Bye,” kata Tara lalu pergi meninggalkan pemuda itu. 

“Hei, mau kemana? Kok marah?” 

“Marah? Untuk apa? Aku hanya menghindari bicara dengan manusia,” kata Tara dingin. 

“Jadi kau berusaha bicara dengan hewan sekarang? Atau makhluk halus? Setan misalnya?” tanya pemuda itu sambil mengikuti Tara melangkah ke pintu gerbang, raut wajahnya sok berpikir. 

“Bukan. Maksudku menghindari bicara dengan jenis manusia menyebalkan seperti kau,” jawab Tara cuek yang disambut gelak tawa pemuda itu. 

“Ya ampun. Kau ini kenapa sih? Ada masalah apa di hidupmu sampai-sampai serius setengah mati? Coba cerita,” kata pemuda itu cuek. 

Tara memandangnya kali ini dia yang ingin tertawa, tetapi Tara menahannya, “cerita? Memang kau pikir kau siapa? Hanya karena kau menolong aku tadi, kita jadi teman curhat?” 

“Lho memang salah yah?” tanya pemuda itu malah kebingungan, “aku sering dapat teman baru karena hal-hal tak terduga.” 

Tara menggeleng, “tidak. Kau tetap orang asing bagiku. Sekarang aku mau pulang. Sampai jumpa.” 

“Tunggu,” kata pemuda itu cepat, “kau memang tinggal disini? Aku pikir kau traveler juga seperti aku.” 

“Yeah, memang,” jawab Tara singkat. 

“Kalau begitu kau naik apa kesini? Kau menginap di hotel mana? Kau datang sendirian, bukan?” tanya pemuda itu antusias. 

“Ngapain kau tanya-tanya begitu? Apa urusannya? Kau mau melakukan apa, hah? Sudah ku bilang kau orang asing, aku tidak akan menjawab,” kata Tara cuek. 

“Bukan begitu. Kau tahu ini sudah sore. Tidak ada angkutan kalau sudah sore. Aku tahu kau tidak sewa motor, kan? Lagipula aku yakin kau sendiran. Kau mau naik apa untuk kembali ke hotel? Lebih baik aku antar kau ke hotel. Aku sewa motor selama di Blitar,” kata pemuda itu, “aku hanya sedikit berbaik hati. Naik ojek malah boros, lebih baik kau hemat uang. Prinsip backpacker adalah kalau ada yang gratis kenapa enggak?” tambah pemuda itu sambil nyengir lebar. 

Tara terdiam. Lalu membuka mulutnya setelah cukup lama berpikir, “bagaimana kalau kau orang jahat? Bagaimana aku bisa percaya padamu? Bagaimana nanti kalau dijalan kau melakukan sesuatu hal?” 

Pemuda itu memberikan tas berisik kamera DSLR dan barang-barang pribadinya, “kau pegang semua barang-barangku. Didalam tas ini ada kamera, dompet, dan handphone. Kalau aku mulai jahat kau bisa lempari aku dengan kamera ini lalu kau bisa kabur dengan barang-barang pribadiku ini.” 
Tara terdiam. Berpikir lagi. Mempertimbangkan sebaik-baiknya.

“Kenapa kau bisa begitu percaya padaku? Bagaimana kalau aku yang orang jahat? Aku ambil motor sewaan kamu dan juga barang-barang pribadi kamu lalu aku tinggal kau di semak-semak belukar,” kata Tara asal.

Pemuda itu tertawa, “untuk apa aku takut pada gadis kurus kering seperti kau? Kau bisa apa untuk merampok aku?” katanya disambut cibiran Tara, “lagipula aku bisa menebak dari wajahmu, kau sedang menyepi jauh dari masalah hidupmu. Kau disini bukan untuk merampok. Jangan tanya kenapa aku bisa tahu, semua jelas terbaca diwajah kamu. Jadi sekarang katakan dimana hotel tempat kamu menginap?” 

Tara mati kutu. Pemuda ini meskipun tampak menyebalkan dan tak tahu sopan santun, ternyata punya kecerdasan yang luar biasa dalam soal menganalisa. Mau tidak mau, Tara menyerah saja dan mengatakan letak hotelnya.

 “Dekat makam Bung Karno? Astaga! Entah ini kebetulan atau jalan takdir, tapi aku juga menginap disana! Ayo cepat kita pulang sebelum kembali hujan,” kata pemuda itu bersemangat. 

Di jalan, Tara dan pemuda itu mengobrol seru. Seakan-akan mereka lupa kalau mereka baru saja saling mengenal. Tara akhirnya tahu kalau pemuda itu adalah seorang fotografer freelance, blogger, dan pemandu wisata freelance. Seperti dugaan Tara, ia adalah jenis orang yang selalu punya cara untuk menikmati hidupnya. Ia sebebas angin, seliar rumput, langkahnya selalu tanpa tujuan tetapi selalu punya cerita menarik untuk dikenang. Ia juga tidak pernah patah hati karena berdasarkan pengakuannya ia tidak pernah jatuh cinta. Ia terlalu sibuk dengan keindahan alam dan sekitarnya. Ia begitu menikmati setiap detik nafasnya dan menasehati Tara yang secara tersirat menceritakan keluh kesahnya yang menjadi alasannya datang jauh-jauh ke Blitar. 

Mereka sampai tepat satu jam sesuai waktu di arloji tangan kiri Tara. Obrolan yang begitu seru dan menyenangkan membuat mereka berdua lupa berkenalan. Saat pemuda itu memakirkan motornya di depan bungalow kamarnya, Tara yang hendak melangkah menuju bungalownya menoleh.

“Oh ya, ngomong-ngomong siapa namamu?”
“Aku Pasha,” sahut pemuda itu, “kau?”
“Aku Nusantara, tapi kau panggil aku Tara saja.”

Pasha. Tiba-tiba Tara tersenyum teringat nama itu. Mungkin inilah rencana Tuhan untuk membuat Tara lebih banyak ‘melihat’.

Tidak ada komentar: