Sabtu, 15 Agustus 2015

Punteun, Bandung!


Hello Readerrr,,,

Saya harus menulis di blog cepat-cepat karena kalau tunda waktu lagi malahan males posting kayak kejadian setahun lalu waktu jalan-jalan ke Blitar dan Malang hehe.

Hari kamis kemarin, saya dari Bandung euy.. Memang cuma Bandung, dari Bekasi kalau naik bus perjalanan hanya 2 jam. Lagian untuk apa di tulis di blog toh banyak juga blogger yang sudah tulis tentang Bandung dan sederet wisata alam dan kulinernya. Tapi, namanya juga kepengen jadi travel blogger jadi sah-sah donk tulisan saya hehe.

Biasanya kalian kalau ke Bandung naik apa? Kebanyakan orang pasti naik kendaran pribadi bisa mobil atau motor enggak mungkin juga helikopter. Seandainya naik transportasi umum juga pasti di Bandungnya sewa mobil atau motor. Ya enggak? Biar lebih gampang dan cepat kemana-kemana kan? Nah, kalau saya kemarin turun-naik angkot! Hehe. Maklumlah yang jalan-jalan hanya saya, mama, dan kakak saya. Salah satu dari kami enggak ada yang lancar nyetir mobil dan kami juga enggak kepikiran untuk sewa motor. Selain karena saya enggak punya SIM dan SIM kakak saya sudah kadaluarsa, kami pikir juga untuk apa sewa motor. Lebih enak naik angkot karena selain enggak beban jagain motor yang di sewa, kami juga jadi bisa sekalian hafal kota Bandung. Lagipula, asal tahu saja guys, selain Bandung itu punya banyak sekali tempat wisata yang kece dan kuliner yang enak-enak atau taman-taman tematik karya Kang Emil, Bandung juga (menurut kami) adalah kota angkot! Yap. Bandung punya banyak sekali angkot untuk berbagai jurusan dan tersedia dimana-mana. Belum lagi rata-rata tukang angkotnya ramah-ramah dan akan kasih tahu dengan jujur lokasi tujuan kita tanpa bikin kita kesasar atau muter-muterin biar tarifnya lebih mahal. Tarif angkot di Bandung itu mulai 2,000 rupiah kalau deket banget hingga 4,000 kalau jauh. Ada juga sih sopir angkot yang bandel dan ngotot minta 5,000 rupiah karena tahu kalau kita itu turis domestik. Tapi, dibandingkan dengan jumlah sopir yang nakal, kebanyakan yang baiknya. Okelah daripada cerita tentang sopir angkot mendingan langsung aja saya cerita panjang lebar perjalanan saya ke Bandung.


HARI PERTAMA

Menuju Bandung dengan Argo Parahiyangan
Naik kereta api tut-tut-tut. Siapa yang suka naik kereta? Hayo ngacung! Saya salah satunya. Transportasi publik yang satu ini memang yang paling seru menurut saya. Selain lebih cepat sampai, kereta kesannya lebih keren. Gimana enggak keren kalau semua kendaraan suruh berhenti kalau kereta lewat. Terhormat banget enggak sih? Hahaha. Tapi, bukan karena saya dan mama suka naik kereta makanya kita pilih berangkat naik kereta. Melainkan naik kereta menuju Bandung itu suasananya wow banget. Kalau kalian beruntung dapet tempat duduk di sebelah kanan dan dekat jendela kalian pasti akan melihat jurang-jurang tinggi yang menjalur jalur kereta. Wuiihhh cadas pokoknya.

Kami berangkat dari stasiun Bekasi pukul 05.26 WIB. Cukup heboh juga hehe. Soalnya kita bertiga enggak bisa tidur semalaman dan saya baru bisa benar-benar merem sekitar pukul 01 dini hari. Itupun berasa baru merem eh harus matiin alarm jam 04 pagi. Langsung ngebut mandi dan pakai baju. Lalu ayah anterin kami bertiga menuju stasiun pukul 04.45 WIB. Hanya 10 menit langsung sampai stasiun karena memang masih pagi dan belum macet walaupun sudah ramai (karena hari kamis, banyak pekerja kantoran yang sudah berangkat kerja. HUUUFFTT jadi inget masa lalu).

Kereta Argo Parahiyangan berangkat dari Stasiun Gambir pukul 05.00 WIB dan sampai di Stasiun Bekasi pukul 05.26 WIB lewat dikit. Yah, enggak apa-apa lah masih saya maklumin. Namanya Indonesia, telat dikit masih dianggap on-time hehe. Setelah kereta datang, kita langsung menuju gerbong 2. Berhubung kita pergi bertiga, satu orang harus duduk terpisah. Saya enggak tega kalau kakak atau mama yang duduk terpisah jadi lebih baik saya saja. Saya berharap dalam hati semoga bangku sebelah saya itu kosong. Atau kalaupun ada penghuninya semoga saja dia cowok ganteng, kece, masih muda, baik, pintar, lho? Mau cari pasangan hidup mbak? Hahahaha. Tapi, Tuhan berkendak lain. Sebelah saya itu Ahmad Albar! WOW keren donk! HAHAHA. Bukan Ahmad Albar beneran tauk. Tapi, opa-opa tuwir yang mukanya sekilas mirip Ahmad Albar. HHHUUUFFFTTTT. Kalau Ahmad Albar beneran sih enak bisa selfie sekalian. Lah ini... Enggak mungkin kan saya selfie sama opa-opa tua bukan artis atau politisi. Ntar malahan disangka doyan bandot. Udah gitu yang makin bete adalah si opa Ahmad Albar KW ini duduknya dekat jendela dan dia enggak menikmati jalanan. Boro-boro ngeliatin jendela, doi malah tidur sepanjang jalan. Harusnya dia bilang kek tukeran tempat duduk sama saya. Enggak lihat apa muka saya masih haus akan petualangan hidup. Ceelah *kibas ekor*.

Jadi, sepanjang jalan saya kurang nyaman banget, enggak bisa berkutik kemana-mana. Padahal pengen banget videoin pas kereta lewat jurang-jurang. Keren banget! Saya ngebayangin gimana buatnya jalur kereta melintasi jurang-jurang dari satu bukit ke bukit lainnya. Semua dibuat waktu penjajahan Belanda. Memang sih, kita harus terima kasih Belanda pernah menjajah kita karena banyak banget peninggalan Belanda yang masih dimanfaatkan kita sampai sekarang, tapi kalau ingat bagaimana rakyat Indonesia harus sengsara melakukan kerja Rodi. Huftttt rasanya pengen nangis. Jangankan diingat nama mereka dalam buku Sejarah, terkadang kita rakyat Indonesia suka lupa dan tidak merawat peninggalan hasil kerja para pekerja Rodi itu dengan baik. Generasi sekarang malah suka nyampah dan corat-coret tembok. Jadi, terima kasih untuk para pekerja Rodi yang berjasa membangun jalur kereta menuju Bandung ini. Semoga kalian mendapat tempat terbaik. AMIN. Saya kebagian lihat sebentar-sebentar tuh jurang lewat jendela karena si opa Ahmad Albar KW kayak kegeeran waktu saya lihat jendela. Dia pikir lagi ngeliatin dia kali. DIH!

Daripada bete terus mending kita tinjau si kereta Argo Parahiyangan. Untuk kebersihan dan kursi masih nyaman kereta menuju Bandung ketimbang kereta Gajayana waktu saya pulang dari Malang setahun lalu. Kursinya dari kulit sintesis jadinya dibersihinnya lebih gampang. Kalau Gajayana, buseeeeennggg. Bangkunya busa biasa dan kayaknya enggak dibersihin jadinya bau pesing. Ueekkk. Benar-benar enggak worth it dengan harga tiket hampir 500 ribu rupiah. Argo Parahiyangan harga tiketnya 100 ribu. Memang hanya duduk 3 jam saja di kereta, tapi 100 ribu itu worth it banget buat sampai tujuan tanpa pegel-pegel badan (karena kalau naik bus kelamaan atau naik mobil pribadi, saya sendiri suka pegel-pegel), apalagi kalau kalian beruntung dapat di bangku dekat jendela di sebelah kanan. Bakalan puas deh nikmatin pemandangan.


Kami sampai di Stasiun Bandung sekitar pukul 09.00 WIB. Bukannya senang akhirnya sampai tapi kita malah bingung hahaha. Kita sama sekali enggak siapin apa-apa. Bahkan kita enggak tahu mau nginep di hotel mana dan jalan-jalan kemana. Kalau biasanya ke Bandung tinggal duduk manis, sekarang kita harus ngubek-ngubek sendiri rute perjalanannya. Olala. Mau tanya-tanya takut kayak katro banget, masa Bandung doank enggak ngerti hahaha. Akhirnya kita memutuskan ke Paris Van Java. Kenapa? Karena itu mall dan kita perlu makan sebelum jalan-jalan seharian. Makan di mall lebih aman sebelum berburu kuliner di penjuru Bandung. Jadi cusss lah kita keluar stasiun. Tapi, lalu kita bingung lagi. PVJ itu di daerah Sukajadi dan kita enggak tahu harus naik apa hahaha. Kita mulai deh nanya-nanya. Mulai saat itu kita jadi seneng tanya-tanya selama di Bandung. Soalnya orang Bandung kalau di tanya jawabnya rinci dan jelas. Mereka juga enggak kepo kita berasal darimana, mereka hanya jawab sesuai pertanyaan kita.

 
Muter-Muter Bandung dengan Angkot
Dari Stasiun Bandung menuju PVJ kita naik angkot Kalapa-Sukajadi warna biru keunguan campur hijau. Nah, ini salah satu kelebihan dari Bandung yang lainnya. Angkot di Bandung gampang banget dihafalin. Enggak pakai nomor tapi pakai warna, minimal dua warna, ada juga beberapa yang tiga warna. Tulisan rutenya juga jelas terpampang di kaca depan. Jauh banget sama angkot di kota Malang. Maaf bukannya menjelek-jelekkan. Tapi, bener-bener naik angkot di Malang itu malang banget. Turis mesti kudu wajib hafalin kode Akronim tujuan kayak AMD, AG, GA, LDR, DL, LD, dan sederet akronim lainnya. Itu diperparah dengan akronim yang sama rutenya beda. Kayak contohnya yang saya ingat waktu kita nginep di Hotel Amaris menuju mall kita naik angkot AG. Ehhhh pas balik menuju hotel kita harusnya bukan naik angkot AG lagi tapi beberapa angkot beda dan malah berakhir nyasar hahaha. Parah pokoknya.

Setelah muter-muter PVJ, foto-foto (pastinya) dan makan siang di Tawan (as always) kita cus lagi mulai mencari hotel. Sebelum sampai PVJ kita sempat lihat-lihat hotel di daerah Sukajadi. Kalau budgetnya sekitar gope sih sudah pasti dapat hotel. Berhubung kita enggak niat ngabisin duit untuk nginep semalem doank di hotel keren, kita harus cari hotel murah meriah yang masih layak dihuni. Kisaran 300 ribu kebawah kalau bisa 100 ribu hahaha. Setelah jalan kaki ke atas, kita lihat ada hotel SUKAJADI. Hotelnya klasik, khas Indonesia jaman baheula. Kirain harganya jadul juga tapi taunya mehong. Yang standart aja 520 ribu semalam dan pakai acara ada undian bla-bla-bla. Pusing dah pala belbi. Kita keluar lagi dari hotel dan jalan kaki lagi. Panas, bawa-bawa tas ransel, rasanya pengen pingsan aja di jalan. Kita jalan terus sampai pertigaan dan tetap tidak menemukan hotel. Mama nyesel, harusnya nginep di Pasir Kaliki di dekat stasiun. Banyak terdapat hotel disana dan aksesnya juga mudah. Entah kenapa tadi enggak kepikiran. Pas naik angkot ke PVJ baru lihat kalau banyak hotel. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Kita fokusnya satu, cari hotel yang gampang kemana-mana terutama langsung ke Lewipanjang karena pulangnya kita mau naik bus Primajasa. Kakak saya sambil browsing dan lihat hotel murah di traveloka di daerah Cihampelas. Akhirnya daripada garing di jalan langsunglah kita memutuskan untuk pergi kesana. Naik angkot Sukajadi-Kalapa lagi. Angkot muter-muter dan sampailah kita di daerah Cihampelas. Disana banyak banget hotel. Kisaran harganya juga yang kita mau dibawah 300 ribu. Tapi, bentuk hotelnya alamaakkk. Ada yang kayak labirin muter-muter, ada yang engap kayak kos-kosan, pokoknya kita enggak sreg-lah. Bener-bener udah putus asa dan saya sempet ngusulin kita balik lagi aja ke Bekasi malam hari itu juga. Tapi, kakak saya enggak nyerah akhirnya memutuskan balik lagi ke jalan Sederhana rencana mau nginep di hotel Ardan berhubung lihat di traveloka harganya kamarnya cuma 270 ribu. Pas naik angkot menuju Cihampelas tadi kita lihat hotel Ardan tapi karena lokasinya dekat pasar jadinya males. Sekarang sudah enggak ada pilihan lagi, enggak apalah lokasi dekat pasar kalau memang harganya bersahabat. Akhirnya kita naik angkot lagi, lupa jurusannya apa. Tapi, ternyata enggak usah naik angkot kayaknya bisa. Wong ternyata di belakangnya rumah sakit Hasan Sadikin di deket Cihampelas juga. Deket sih tapi jalan kaki lumayan gempor apalagi siang-siang dan bawa barang. Soalnya kalau naik angkot muternya jauh karena Bandung itu kebanyakan satu jalur.

Hotel Ardan mirip Amaris. Minimalis desainnya, modern-lah. Tapi, toeeeeng pas tanya harganya hampir gope. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kalau nginep di hotel mahal paling tidurnya sebentar. Enggak bakalan puas di hotel. Sayanggggg hahaha. Otak kita yang sudah terbiasa kalkulasi untung-rugi memutuskan untuk batal milih hotel Ardan. BATAL sodara-sodara dan kita keluar dari hotel dengan lunglai, letih, lesu, kangen tempat tidur. Lagi bingung-bingung tiba-tiba kakak saya lihat di seberang ada hotel Arwiga. Sederhana depannya tapi siapa tahu harganya oke. Dan benar. Kamar standart, satu tempat tidur gede, tv, AC, air panas, wifi, dan dapat breakfast, harganya 350 ribu. Ketimbang hotel-hotel di Cihampelas yang kasih tarif 195 ribu tapi enggak pakai AC, gak ada air panas, tv cembung, enggak dapet makan pagi, Arwiga okelah. Daripada kita pingsan mending tambah 50 ribu hehehe.


Di kamar hotel langsung mandi tapi ternyata air panasnya kurang yahut. Kita juga cuma dapet air minum di teko. Dikit banget lagi airnya paling buat dua gelas doank. Parah. Bedalah yah sama Amaris yang galon minuman di lorong-lorong jadi bisa isi ulang. Koneksi wifi-nya juga payah. Saya tetap pakai kuota sendiri selama disana. Untungnya tvnya layar datar dan tadinya sempet panik enggak ada ANTV karena enggak mau ketinggalan nonton Shehrazat hahaha, tapi tahunya ada di channel 68.

Taman Pasupati dan Taman Film
Setelah leha-leha di kamar hotel, jam lima sore kita langsung keluar hotel. Jalanan Bandung masih ramai tapi udaranya adem dan anginnya sepoi-sepoi. Masih enggak tahu tujuannya kemana tapi yang jelas saya bilang saya pengen lihat taman tematik yang di buat Kang Emil. Konon taman-taman tematik itu menjadi gagasan Kang Emil untuk membangkitkan semangat warga Bandung bersantai-santai di luar ruangan. Area publik di Indonesia hal yang susah sekali di dapat. Padahal sebuah negara sehat harus memiliki banyak area publik. Jadi, mari kita buktikan sekeren apa taman tematik milik Kang Emil.


Dari depan hotel Arwiga kita naik angkot Sukajadi-Kalapa turun di pasar bunga Wastu Kencana. Di halte depan pasar bunga naik angkot Cisitu-Tegallega warna ungu garis hijau. Lalu turun di Batos (Bandung Town Square) dan nyebrang ke arah tulisan gede banget TAMAN PASUPATI. Taman pertama yang kita lihat dan sama sekali enggak kayak taman. Maaf, bukannya gimana tapi lokasinya di bawah fly-over dan kotor banget. Jauh dari kata bersih. Kebanyakan yang duduk disitu juga pedagang asongan. Ada beberapa anak skateboard yang main disana. Sama sekali enggak nyaman kalau duduk-duduk disini. Berhubung pas tadi di jalan dan tanya-tanya orang lokasi Taman Film dimana, mereka bilangnya disini, kita cari-cari deh tuh layar gede yang tayangin film. Anehnya sejauh mata memandang hanya ada sampah, sampah, dan sampah. Bener-bener kotor dan serem karena banyak orang-orang berwajah sangar yang nongkrong disana. Mereka sih enggak jahatin kita cuma sudah ke sugesti aja dengan penampilan mereka yang nakutin.



Setelah jalan terus, barulah kelihatan tuh TAMAN FILM yang selama ini dibicarakan di tv dan jadi gebrakan Kang Emil. Tamannya lumayan okelah walau ukurannya enggak gede kayak waktu saya lihat di tv. Layar tv disitu gedeeeee dengan audio sound-nya yang cukup keras. Rumput sintetisnya juga keren, tapi saya enggak jamin itu bersih atau enggak. Walaupun kalau mau duduk-duduk disitu mesti lepas alas kaki, tetap saja lokasinya yang dibawah fly-over dan keadaan sekitarnya kotor. Kami sebentar disana enggak nunggu film di putar karena sejujurnya kecewa dengan promosi yang gede-gedean soal Taman Film. Tapi, kami sempet foto-foto sebelum pergi. Lumayan buat kenang-kenangan.



Surabi Bandung Warung Setiabudi
Setelah meninggalkan taman-taman, kita menuju Batos lagi karena di Batos banyak sekali angkot yang berhenti disana. Bingung mau kemana tapi kakak saya kepengen makan Surabi di pernah dia makan waktu ke Bandung, tapi biasalah lupa namanya dan lokasinya dimana hahaha. Setelah bbman sama temennya, kakak saya bilang surabi yang super enak itu lokasinya di Ledeng. Seperti biasanya kita tanya ke seorang sekuriti mall Batos menuju Ledeng gimana caranya. Ternyata ada banyak sekali angkot menuju Ledeng yang lewat. Warnanya hijau. Saya lupa rutenya apa pokoknya ada tulisan Ledeng. Perjalanannya lumayan jauh. Melewati pohon-pohon gede kayak di Bogor. Setelah cukup lama dan enggak nyampe-nyampe akhirnya mama bilang mau turun di tempat Surabi ke abang angkotnya. Dia bilang masih jauh, warung surabinya di Setiabudi. OOOOHHHH SETIABUDI. Ngomong donk, kalau Setiabudi juga saya tahu hahaha.

Abang angkot berhenti pas banget di depan warung surabi. Hmmm nyam nyam nyam. Sudah ngiler banget pengen cepetan cobain. Para pekerja yang bikin surabi sibuk di bagian depan warung. Banyak batu bara dan cetakan surabi yang di bakar diatas batu bara. Kayaknya enak semua. Kita kayak orang kelaparan dan pesen 4 macam Surabi walaupun Cuma bertiga hahaha. Surabi Krabby Patty (isinya ayam filet, telor, kornet, keju, ini superrrr enaaakkkk), Surabi Keju Susu, Surabi Oncom Keju Mayonese, dan Surabi Buah (juice Nanas, Strawberry, dan Mangga disiramin ke Surabinya. Ini yang paling kurang enak. Nyesel pesen yang ini L). Alamaaaakkkkk ini surabi TOP deh!!! Sumpah enggak nyesel jauh-jauh ke Bandung kalau cobain surabi disini. Kalau perutnya muat kepengennya pesen lagi tapi apa daya, makan yang Krabby Patty aja udah pegah hahahaha. Pokoknya kalau ke Bandung mesti kudu wajib dateng kesini!

Jalan-Jalan di Sekitar Cihampelas
Selesai makan surabi, waktu menunjukkan pukul delapan malam. Masih terlalu sore untuk balik ke hotel tapi terlalu malam kalau naik-turun angkot. Kakak dan mama saya maunya langsung tidur ke hotel tapi saya bilang ngapain di Bandung kalau hanya balik ke hotel jam delapan malam. Lagipula jalan masih ramai, banyak orang wara-wiri. Sayang kalau kita cuma tidur di hotel. Kita nyebrang dari warung surabi dan nyetop angkot kijang jurusan Margahayu-Ledeng. Sekali naik langsung lewat depan hotel. Sempet ngobrol-ngobrol sama abangnya, abangnya baik juga. Dia orang Madiun merantau ke Bandung sempat jadi sopir angkot di Bekasi dan Jakarta. Dia juga sempat nawarin carteran dan mama minta nomer hapenya. Hahaha dasar mama kerjanya minta nomer hape orang tapi nanti PHP-in enggak jadi carter.

Perjalanan pulang lebih singkat dari berangkat. Tiba-tiba aja udah sampai di seberang hotel. Olala. Masih jam delapan lewat akhirnya mama setuju kita ke Cihampelas aja sekedar ngelemesin kaki (lemes apanya, seharian jalan kaki booo hahaha). Abang angkotnya langsung cusssss menuju Cihampelas. Munculnya di pertigaan sebelah kanannya hotel Aston dan Fave Hotel. Kita bertiga kaget. Ternyata lokasi hotel Aston dan Fave di sekitar Cihampelas. Perasaan pas siang lagi muter-muter pusing cari hotel di sekitar Cihampelas, enggak nemu dua hotel itu. Kenapa sekarang jadi mejeng gede banget. Jadi ngiler pindah hotel hahaha. Abang angkotnya bilang kalau baliknya mending jalan kaki aja ke hotel daripada naik angkot lagi malahan muter. Jalan kaki patokannya gang gede di deket hotel Fave. Okelah abang hehehe.

Di Cihampelas seperti kebanyakan wisatawan kita cuma muter-muter lihat-lihat hehehe. Lagian mau beli apaan. Kaos udah banyak, aksesoris sama aja kayak di pasar asemka, paling beli es duren tapi berhubung masih kenyang gara-gara makan surabi jadi males beli es duren. Akhirnya kita jalan ke Ciwalk atau Cihampelas Walk untuk membakar lemak hahaha. Enggak ketinggalan pastinya foto-foto (as always) hahaha. Mama udah kecapean berat akhirnya memutuskan untuk balik ke hotel. Dan karena saya bersikeras mau jalan kaki aja, mama dan kakak ngikutin aja hahaha. Kasihan padahal mereka kayaknya udah kecapean banget apalagi mama udah gontai. Tapi, berhubung tadi saya lihat kayaknya deket banget dari hotel ke Cihampelas jadi tancap brooo.

Dan benar aja kata mama, ternyata lumayan jauh euy hahaha. Pokoknya ke arah kanan terus dan belok kanan sampai ujung setelah lampu merah. Buat saya yang memang hobi jalan kaki sih segitu kecil. Apalagi kalau niat jadi backpacker sejati harus modal betis tales bogor alias betis gede akibat keseringan jalan kaki hahaha. Betis tales bogor biasanya kuat menghadapi marabahaya dan rintangan hahahaha.

Jalan kaki sekitar 30 menit dan sampai pukul 9 lewat sedikit. Huuufftt hari pertama di Bandung asyik dan melelahkan. Ditutup dengan nonton Shehrazat dan Abad Kejayaan hahaha (mama mah udah ngorok kayak apaan tau hahaha).






Bersambung ke posting selanjutnya....

Tidak ada komentar: