Jumat, 07 Agustus 2015

Whats Next?


Kayaknya baru kemarin saya masih merasa pusing ngejar-ngejar dosen pembimbing yang susah banget ditemuin untuk bimbingan skripsi. Yang pernah kuliah atau mahasiswa semester akhir pasti tahu banget rasanya urusan sama dosen pembimbing. Kalau kebetulan dapet dosen yang mau meluangkan banyak waktu sama mahasiswa sih enak-enak aja, tapi kalau yang nasibnya kayak saya? Jangankan untuk bimbingan, untuk ngelihat batang hidungnya saja ibarat ketemu kucing pake boots. Enggak mungkin. Cuma ada di film Shrek. Mustahil. Dosen pembimbing saya itu mungkin dulunya mantan selebriti jadinya masih ada sisa-sisanya paranoid dikejar-kejar paparazi hehe. Tapi, mungkin kalau beliau enggak susah ditemuin kayak kemarin, saya enggak akan merasakan susahnya jadi mahasiswa. Semua terbayarkan saat akhirnya tanggal 12 Juli saya sidang akhir meskipun dosen pembimbing saya tidak hadir. TIDAK HADIR sodara-sodara! Bayangkan! HAHAHAHA *saya tertawa tetapi hati menangis* waktu saya mau daftar sidang akhir saya sempat ketemu beliau untuk bimbingan (mungkin satu-satunya bimbingan yang pernah saya jalani secara serius), beliau bilang kalau di tanggal 12 Juli mungkin beliau akan jalan-jalan sekeluarga. OMG. Saya mau sidang akhir dan beliau bilang mau jalan-jalan sekeluarga dan saya yakin banget tanggal 12 Juli dia benar-benar jalan sekeluarga. Ya sudahlah, yang penting sidang saya lancar jaya. Untungnya dosen penguji saya tipikal manusia-manusia cerdas, kritis, tetapi mau mendengarkan argumen. Asiklah jadinya malahan kayak ngobrol-ngobrol seru hehehe. Apalagi pas ngobrolin soal Turki hahaha nyambung banget.

Setelah lega sidang ternyata harus revisi yang dikasih jatah sampai tanggal 25 Juli. Astaga! Kepotong libur panjang lebaran. Saya hanya punya 3 hari untuk ngejar tanda tangan dosen. Belum lagi ternyata tanggal 23 Juli saya ke kampus, semua dosen yang saya cari ternyata masih di kampung halaman. Alhasil saya minta dosen jurusan saya untuk di undur sampai akhir bulan. Untungnya dosen saya ngizinin haha. Dan dengan penuh perjuangan bolak-balik kampus, akhirnya selesailah sudah. Tanggal 29 Juli saya kumpulin segala rupa yang diperlukan. Rasanya legaaaaaaaa bangettttt! Perjuangan 4,5 tahun terbayarkan sudah dengan CD softcopy 3 biji dan E-Jurnal 1 CD. HAH!

Tapi, setelah lega sebentar, nyatanya saya harus kembali lagi ke dunia nyata manusia. Dunia yang penuh dengan konsep manusia. Selain mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, dunia manusia menghargai mereka yang aktif dan memiliki kemampuan mencari uang. Saya bukan tipe pembisinis yang ibaratnya jualan air bening bisa laku dijual. Saya seperti kebanyakan manusia lainnya yang langsung sebar seluruh CV ke banyak perusahaan demi beberapa lembar uang cepean sehabis lulus kuliah. Saya memang cukup terlambat mulai kuliah. 3 tahun setelah lulus SMA saya baru daftar kuliah. Itu karena setelah lulus SMA saya langsung kerja dan karena keasikan kerja saya lupa kalau saya harus kuliah. Maka itu di usia saya yang nyaris seperempat abad, saya baru lulus kuliah. Pengalaman kerja saya sebelumnya kebanyakan di bank dan saya kuliah di bidang broadcasting. Sejujurnya kerja di bank itu memang keren. Kalau saya mau, saya bisa bertahan kerja di bank terus. Tetapi, kalau memang hidup ini sekali, saya tidak mau mengabaikan passion saya. Yap, passion, yang pada akhirnya menuntun saya untuk kuliah di bidang broadcast karena saya pikir tadinya kalau orang yang kerja jadi newsanchor itu harus di jurusan broadcasting. Ternyata salah hahaha. Kalau memang mau kerja di tv tapi sebagai kameramen, editor, memang baiknya kuliah di jurusan broadcast. Tetapi, denger-denger sih, kalau jadi reporter enggak perlu kuliah di broadcast. Hmmm. Awalnya sih saya tertarik kuliah di bidang Hukum karena saya kan orangnya nyolot dan suka debat jadi kayaknya cocok jadi pengacara hahaha. Tapi, yasudahlah ya, sudah terlanjur.

Demi memenuhi passion saya, akhirnya saya melamar (ceelah melamar :p) di beberapa stasiun tv. Salah satunya Metro TV. Nah, sebenarnya sih saya sudah sering kirim email ke metro dari saya masih di kelas Riset Seminar tapi metro enggak pernah respon karena memang saya belum lulus dan program JDP itu harus minimal S1. Nah, berhubung saya udah lulus, meskipun ijazah belum keluar apalagi transkrip nilai, saya dengan pedenya ngelamar JDP Metro TV via Jobstreet. Tanggal 3 Agustus saya kirim eh tanggal 4 langsung di telepon hahaha. Mana lagi temenin mama belanja, mau kegirangan karena di panggil metro enggak bisa. Akhirnya cuma bisa ngelamun sambil senyum-senyum. Tanggal 6 Agustus saya diminta datang jam 8.30 WIB untuk psikotest di kantor Metro TV. Olalala Metro TV, I’m comiiiinnnggg..

Hari H yang ditunggu datang dan hebatnya saya bisa bangun jam 4 pagi demi test Metro hahaha. Berhubung rumah saya di planet lain (you know what I mean) saya harus berangkat pagi biar enggak kena macetos gilanos. Saya berangkat jam 6 dari rumah eh enggak tahunya sampai jam 7.30 WIB. Cepet juga... Disana setelah nunggu dan kenal-kenalan saya beberapa orang, akhirnya kita peserta yang jumlahnya sekitar 20an digiring sama mbak satpam ke lantai 6 lewat jalur gudang hahaha udah kayak tur keliling Metro TV. Dari lantai 6 kami naik lantai 8 via tangga biasa. Disana kami duduk di ruangan dan melakukan psikotest 5x. Pusing gile. Mungkin faktor U kali yah hahaha ngeliat test penuh gambar-gambar malah pusing. Apalagi test koran, saya enggak tahu istilahnya psikologinya apa, tapi yang jelas bikin mata saya yang silinder tambah kunang-kunang. Belum lagi test gambar manusia dan pohon. Perasaan dulu saya masih lumayan bisa gambar manusia tapi kenapa sekarang gambar saya hancur banget hahaha. Sebelum selesai psikotest, salah satu HRD sudah mengumumkan siapa saja yang lanjut test berikutnya. Dari 20an, ada beberapa yang disuruh pulang. Tapi, untungnya saya tetap mengikuti test selanjutnya bersama 4 orang lainnya yang mendaftar JDP, serta beberapa orang lain yang masuk seleksi ke bidang lainnya. Kami 5 orang JDP akan kembali setelah makan siang ke lantai 6 untuk on cam test. OMG on cam?

Metro TV itu keren banget gedungnya. Bukan jenis keren yang kayak gedung-gedung sudirman yang super wah. Keren maksud saya adalah Metro TV itu kantor yang memanusiakan manusia. Setidaknya itu yang saya lihat. Bentuk gedungnya mirip Hotel Sultan di Senayan, gedung horizontal dan kayak bungalow. Banyak terdapat taman dimana-mana. Lalu yang lebih keren lagi cafe untuk karyawannya cukup luas dan semua orang berseragam Metro wara-wiri kece banget. Seragam bawah mereka juga unik. Walau warnanya sama yaitu krem bentuknya beda-beda. Ada yang rok rampel, span, celana skinny, bahkan celana jogger. KEREN! Kelihatan dari orang luar seperti saya, kerja di Metro kayaknya seru banget. Sikap mereka enggak arogan. Beberapa dari mereka yang kami tanya-tanya soal lokasi juga menjawab dengan ramah. Duh, makin kepengen bergabung hahaha.

Setelah makan siang gratis dari Metro TV, saya dan teman-teman kembali ke lantai 6 dan mulai persiapan on cam test. Tadinya biasa aja tapi kenapa saya jadi deg-degan? Saya sudah sering syuting untuk tugas kampus. Saya juga sempat jadi presenter di program feature Bekasi Urban City TV Streaming. Untuk on cam test harusnya gampang aja tapi kenapa rasanya enggak karuan? Ini Metro TV, bro! Ekspektasi saya luar biasa tinggi untuk bisa lulus test. Metro lho Metro. Kantor impian saya sejak SMA. Kalau sampai masuk walllaaahhhhhh saya enggak tahu harus gimana lagi. Pingsan? Semoga enggak hehehe.

Kita berlima memutuskan untuk gambreng siapa yang kalah dan maju pertama on cam test. Mbak HRD-nya sih senyum-senyum aja ngeliat kelakuan kita. Eh, parahnya saya yang dapat giliran pertama hahaha. Olalala. Sebelumnya sih sudah dibilangin kalau kita harus cari materi tapi materi apa? Boro-boro mikir materi, wong udah deg-degan enggak karuan. Okelah singkat cerita akhirnya saya maju dan melakukan on cam test bersama beberapa penguji. Kamera betulan, mic berlogo Metro TV betulan. OMG. Gemetaran tangan sih enggak tapi rasanya deg-degan banget. Disuruh perkenalan pake bahasa inggris dan bahasa indonesia lalu mulai laporan berita. Perkenalan bahasa inggris saya cuma kenalan nama dan tinggal dimana. Udah blank mau ngomong apalagi. Saya melalukan laporan berita tentang situasi pendaftaran JDP. Udahlah enggak tahu mau gimana hasilnya hahahaha. Setelah semua peserta JDP selesai on cam test, kita semua diminta pulang sama HRD dan tunggu kabar dalam minggu-minggu ini. Sampaiiiiiiiii kapan kau gantttuuunnggg ceritaaaa cintaaaamuuuuu *teh melly goeslaw banget dahhhh*.


Huuuuffttt...

Artinya kita berlima harus menunggu. Menunggu untuk kabar selanjutnya. Menunggu kepastian. Masa depan memang enggak pasti. Mungkin besok kita masih bisa melihat matahari atau bahkan matahari hari ini adalah hari terakhir yang kita lihat. Karena ketidakpastian hidup itulah makanya kita harus selalu melihat jalan lain yang mungkin saja tersedia di depan mata kita tetapi kita enggak sadarin. Jadi, seandainya saya tidak mendapat kesempatan bergabung dengan JDP Metro TV? Nyesek sih tetapi hidup tetap berjalan kan? So, whats next? Sebar CV lagi pastinya hehehe.

Tidak ada komentar: