Selasa, 20 Oktober 2015

Apakah Cinta Harus Berkorban?

Cinta.

Berapa banyak puisi dibuat atas nama cinta? Berapa banyak lirik lagu dipersembahkan untuk cinta? Berapa banyak lembaran pena yang habis hanya untuk memuja cinta? Cinta yang selalu dijadikan materi utama dalam ruang sastra selalu mampu membius dan membuat orang-orang tak berdaya. Cinta yang begitu sakral hingga akhirnya membuat begitu banyak orang terkenal karenanya. Sebut saja Shakespeare yang karena pemujaannya atas cinta menjadi abadi lewat teater Romeo and Juliet. Gibran sang pujangga melankolis mampu menyentuh tanpa harus picisan. Atau mungkin cinta mampu menjadikan J.K.Rowling kaya raya lewat buku fenomenalnya, Harry Potter, sebenarnya bertemakan cinta sejati seorang ibu kepada anaknya. Cinta selalu punya cerita dan tidak pernah selesai begitu saja.

Tapi, benarkah cinta hanya terbatas pada ruang sastra?

Mungkin iya, mungkin juga tidak. Karena sejatinya kehidupan terkadang sering diragukan kebenarannya. Ilusi, drama, dan realitas bertemu dalam spektrum waktu yang sama. Kehidupan yang fana membuat seringkali bertanya-tanya. Benarkah hidup hanyalah seonggok peranan drama? Atau apakah drama hanya bagian kecil dari kehidupan? Tidak ada yang tahu. Bahkan Dewa Krishna pun yakin betul hidup dan drama-nya adalah dua sisi koin yang sama.

Terlepas dari benarkah kehidupan ini atau semua hanya fatamorgana, cinta yang begitu membius itu selalu bercerita tentang hal yang sama. Cinta bukan hanya dibicarakan tetapi juga dibuktikan lewat pengorbanan. Romeo berkorban atas nama cinta untuk Juliet saat ia tahu cinta mereka tidak akan pernah bersatu. Lily Potter mengorbankan nyawa atas nama cinta untuk anak semata wayangnya, Harry. Odin sang Dewa Skandinavian harus mengorbankan sebelah matanya demi kecintaannya pada ilmu pengetahuan. Drupadi mengorbankan dirinya dinikahi dengan lima pandawa atas nama cintanya pada Arjuna. Bahkan Bella Swan rela menjadi vampire dan meninggalkan ayahnya demi cintanya pada Edward Cullen. Sungguh cinta begitu luar biasa!

Cinta agaknya begitu menakutkan bagi sebagian orang atau mungkin bagi segelintir orang yang benar-benar merenung tentang sulitnya mencintai. Cinta yang kelihatannya indah, justru sebenarnya adalah pembuktian seberapa kita mampu mengorbankan diri. Cinta yang terkesan naif, nyatanya adalah kerumitan yang penuh trik tipu muslihat. Cinta seakan-akan bermuka dua. Ia akan tampil bak bidadari sebelum menerkam dirimu bahkan jiwamu dalam kesengsaraan neraka. Terlebih jika itu adalah cinta sendiri, cinta tak berbalas, yang mereka sering sebut cinta bertepuk sebelah tangan. Jenis cinta yang begitu menyakitkan dan tentu saja membuat para pecinta tak berdaya. Bahkan banyak kisah tragis berakhir akibat cinta sendiri.

Lalu bagaimanakah cinta seharusnya bekerja? Tak perlukah berkorban untuk pembuktiannya? Mungkin ada baiknya sejenak kita merenung. Kembali pada mereka sang pengayom sejati. Kita bisa belajar dari Nabi Muhammad yang dengan rela dicaci demi keyakinannya atas jalan kebenaran Allah SWT. Kita bisa belajar dari Yesus Kristus yang tanpa pamrih rela disalib demi penebusan dosa seluruh umatnya. Atau contoh lainnya yang tak kalah menyentuh, pada 2500 tahun lalu saat seorang pangeran dari suku Sakya lahir ke dunia, memiliki tiga istana, memiliki semua kemewahan dunia, pewaris utama tahta kerajaan, justru lebih memilih hidup menyendiri di hutan, melepas seluruh kemelekatannya pada dunia, hanya untuk mencari obat 'mengalahkan' kematian demi seluruh makhluk yang terlahir. Dialah Pangeran Siddhartha yang kelak menjadi Buddha Gotama.

Mungkin dengan kita melihat mereka yang punya pengaruh atas pola pikir manusia, kita jadi memahami dengan jelas. Bahwa sejatinya cinta, mau mengakui atau tidak, memang harus dibuktikan dengan pengorbanan. Ketika ia rela mendahulukan kesukaan atau kepentingan orang yang dicinta tanpa menimbang untung rugi yang akan ia terima. Cinta tanpa berkorban bukanlah cinta, tetapi guyonan tak bermakna.

3 komentar:

Fadhli Saputra mengatakan...

cinta ga akan pernah ada habisnya...buat para pencari cinta :)

Fadhli Saputra mengatakan...

cinta ga akan pernah ada habisnya...buat para pencari cinta :)

joe cua mengatakan...

seberapa jauh sang penulis mengenal cinta itu sendiri???

jika bukan atas dasar cinta apa sanggup menjelaskan???

atau hny sebuah cerita tnp makna didalamnya???