Sabtu, 17 Oktober 2015

Imbuhan (Afiks)

Bahasa Indonesia sangat menyukai imbuhan. Mungkin kalau imbuhan itu berupa makanan sudah menjadi makanan pokok seperti nasi. Ada banyak jenis imbuhan yang diajarkan dalam pelajaran bahasa Indonesia sewaktu masih sekolah dasar. Imbuhan awalan, imbuhan akhiran, imbuhan awal dan akhir, imbuhan sisipan, bahkan mungkin ada imbuhan sambungan seperti misalnya kata ‘anak emas’ sering menjadi kata ‘menganak-emaskan’ dalam sebuah kalimat lisan yang diucapkan.

Imbuhan atau afiks biasanya digunakan untuk membentuk kata baru dari kata dasar menjadi kata sifat, kata kerja, atau bahkan kata keterangan. Jenisnya yang bervariasi membuat imbuhan kadang sulit dibedakan dengan kata yang memang sudah dasarnya begitu. Misalnya saja kata ‘Pengangguran’ – apakah berasal dari kata ‘Anggur’ lalu ditambahkan imbuhan awalan ‘Peng-’ dan akhiran ‘-An’ seperti kata ‘Pengandaian’ yang memang jelas berasal dari kata ‘Andai’ dan diimbuhkan kata ‘Peng- -An’. Lalu bagaimana dengan kata ‘Mengemas’ yang sama artinya dengan membungkus tetapi jelas bukan berasal dari kata ‘emas’ dan disisipkan ‘Meng-’ di awal kata. Dan sederet kata lain yang bisa kalian temukan dalam percakapan sehari-hari.

Penggunaan imbuhan terkadang suka seenaknya saja. Hanya mengandalkan kecocokan sebutan di telinga. Misalnya saja seperti kata ‘Tahu’, ‘Mengerti’, dan ‘Paham’ yang ketiganya memiliki pendekatan makna yang sama. Ketiganya memiliki gaya yang berbeda. Dimana ‘Tahu’ jika ditambah afiks ‘Ke- -An’ bisa menjadi ‘Ketahuan’ tetapi ‘Mengerti’ tidak bisa menjadi ‘Kemengertian’ dan ‘Paham’ tidak bisa menjadi ‘Kepahaman’. Lalu afiks ‘Pe- -An’ yang bisa dtambahkan menjadi ‘Pengertian’ dan ‘Pemahaman’ tetapi bertambah ‘-ng-’ untuk kata ‘Pengetahuan’. Sungguh luar biasa.

Belajar imbuhan mungkin lebih tepat menggunakan insting ketimbang menghapal setiap kata yang ada. Semua mengandalkan kecocokan semata seperti misalnya kita memiliki kata ‘Bermalam’ yang berasal dari kata ‘Malam’ tetapi tidak pernah menemukan kata ‘Bersiang’ meskipun ‘Malam’ dan ‘Siang’ sama-sama menunjukkan waktu. Di lain imbuhan kata ‘Siang’ dan ‘Malam’ sama-sama memiliki kesetaraan yang tercermin dalam kata ‘Kemalaman’ dan ‘Kesiangan’. Ironis.

Saya memang sudah terbiasa dengan imbuhan bahasa Indonesia yang semaunya saja karena memang saya lahir dan besar di Indonesia tetapi hal ini sangat disayangkan apabila ada orang asing yang memiliki keinginan untuk belajar bahasa Indonesia. Kalau kita ingin bahasa kita dikenal lebih mendunia mungkin ada baiknya bila memperbaiki (Memperbaiki berasal dari kata 'Baik'? atau memang kata itu adalah kata dasar yang bukan ditambahkan imbuhan? Silahkan gunakan insting kalian :P) sistem penggunaan bahasa kita terlebih dahulu baru setelah itu mewajibkan setiap turis untuk berbahasa Indonesia ketika berkunjung ke tanah air.

Tidak ada komentar: