Sabtu, 13 Februari 2016

Deadpool : Representasi Manusia Sesungguhnya

Sudah nonton Deadpool? Kalau belum, jangan harap isi tulisan ini seputar review atau resensi film yang baru rilis 2 hari lalu itu di Indonesia. Kalau sudah, yah bagus berarti kita bisa sama-sama ingat setiap detail kejadian film tersebut. Intinya, tulisan ini bukan tentang ulasan film Deadpool. Kalau kamu mau tahu bagaimana sinopsis, rating, atau hal-hal yang berhubungan kisah Deadpool bisa di cari via mbah google, karena saya yakin kalian akan menemukan banyak hal tentang Deadpool.

Deadpool

Saya cuma mau berterima kasih sama Deadpool. Terutama untuk Ryan Reynolds yang sukses membuat semua orang tertawa. Tapi, yang terpenting dari itu semua, Deadpool sukses membuat semangat saya menulis di blog bangkit lagi hehehehe.

Awal rencana, kakak saya mengajak saya menonton film ini sehabis pulang kerja. Berhubung sahabat saya dari kecil kantornya dekat dengan saya dan terkadang kita suka pulang bareng, di tambah kita sudah lama banget enggak nonton bareng, maka saya ajak jugalah si mas bro ini nonton bareng kakak saya. Begitulah hidup. Terkadang kita enggak usah butuh banyak rencana untuk melakukan sesuatu hal. Karena enggak semua yang direncanakan bisa terealisasi. Rencana nonton berdua malah bertiga.

Saya tadinya males banget nonton film ini. Secara saya sedang jenuh dengan segala macem film superhero yang isinya kebanyakan bohongnya. 'save the world' yang selalu diagung-agungkan para tokoh superhero membuat saya sering mencibir dengan fakta bahwa mana ada orang-orang yang ingin menolong seluruh dunia. Itu hanyalah guyonan klasik saja. Siapa sih yang mampu menolong seluruh manusia di dunia? Lagipula kalau diperhatikan seluruh superhero hanya mampu menolong manusia-manusia yang tinggal di Amerika Serikat saja. Jadi tagline 'save the world' buat saya itu basi banget. Tapi, berhubung ngikutin kakak tua yang kepengen nonton film ini, ya sudah saya ikutin. Hitung-hitung acara keluarga. Kita semua punya kesibukan masing-masing dan menyempatkan nonton fim bareng enggak ada salahnya juga.

Sebelum rencana nonton film ini, saya sudah mendengar sedikit tentang Deadpool. Katanya ini film komedi, film konyol, bahkan ada yang bilang kalau Deadpool itu film ngeledek superhero. Enggak penasaran sih tadinya, tapi pas lihat poster yang di pajang di bioskop, saya jadi yakin banget kalau film ini pasti film sampah ahahaha. Bahkan mbak penjual tiketnya bilang kalau film ini khusus dewasa dan jangan ada anak kecil yang nonton. Wah makin-makin deh yakin kalau film ini pasti isinya mesum, jorok, dan enggak jauh-jauh seputar selangkangan dan ciuman enggak habis-habis.

Namun, persepsi saya total langsung kebalik habis nonton film ini.

Sekali lagi, saya enggak akan menulis detail isi filmnya kayak apa. Karena itu hak-nya kalian untuk menyaksikan film dan hak-nya para pembuat film untuk dinikmati hasil karyanya. Tapi, sumpah deh enggak bohong Deadpool itu kerrreeennnn banget menurut saya! Terlepas dari banyak adegan bunuh-bunuhan yang super sadis tapi di kemas kayak lelucon, mirip-mirip film Kingsman, film Deadpool banyak banget nilai moralnya. Mungkin lebih banyak dari film superhero biasanya. Yah, karena memang si Deadpool enggak pernah mengklaim kalau dirinya adalah pahlawan. Jadi, memang film Deadpool sama sekali enggak menceritakan sisi heroik. Tapi, bukan juga pembunuhan tanpa arah kayak film-film sadis yang biasa. Pokoknya buat kalian yang belum nonton, silahkan nonton. Bukan promosi tapi film ini bagus untuk perenungan.

Oke, jadi kenapa saya tulis judul tulisannya begitu? Yah, karena saya melihat banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari tokoh Deadpool. Pria di balik kostum Deadpool yaitu Wade Wilson, punya segudang cerita kehidupan, sama seperti halnya kita semua. Ia punya masalah dan mengalami juga yang namanya putus asa. Ia juga salah jalan dan melakukan banyak kesalahan. Pokoknya Wade Wilson a.k.a Deadpool yang diperankan oleh Ryan Reynolds ini jauh dari kata sempurna. Yah, meskipun tadinya secara fisik dia ganteng dan super keren, tetap saja pekerjaan kotor dia sama sekali bukan sesuatu yang membanggakan. Di tambah lagi kisah asmaranya. Kekasihnya bukan wanita baik-baik, wanita terhormat, cantik jelita, baik hati dan lembut, atau bahkan berpendidikan tinggi. Pacar Wade Wilson, Vanessa, adalah PSK. Tetapi, mereka berdua so sweet setengah mati. Sumpah deh mereka serasi banget. Mulai dari selera humornya yang penuh kata-kata sampah, sampai visi dan misi kehidupan mereka. Mereka berdua juga saling mencintai. Benar-benar saling mencintai tanpa alasan karena masing-masing membanggakan. Justru cinta mereka terlihat jelas karena keduanya saling menerima kekurangan masing-masing. Pokoknya 100 jempol deh untuk pasangan ini.

Oh ya, bicara soal kata-kata sampah, film Deadpool 1000% isinya kata-kata sampah. Beneran! Segala macem yang jorok-jorok dibicarain. Bahkan kesannya kayak enggak ada isinya. Eitsss, tapi jangan nilai dari kelihatannya dulu. Coba cerna lebih jauh. Semua yang diomongin sama Wade Wilson memang humor kasar banget. Tapi, asli dia lucu banget! Tadinya sempet mikir film ini enggak jauh beda sama film The Interview hehehe. Tapi, The Interview sih memang sampah beneran karena isinya cuma ngebuli, penuh adegan mesum, bahkan enggak jelas arahnya mau kemana. Film Deadpool? Enggak kayak gitu. Meski si Wade Wilson ngomongnya jorok, dia dan Vanessa bahkan enggak pernah ada adegan buka baju di ranjang. Mereka berdua lebih banyak ngobrol dan ngomongin kehidupan. Lebih manusiawi enggak sih? Enggak semata-mata menonjolkan animal instinct yang bentar-bentar begituan. Jadi, bisa di bilang, film ini sama kayak peribahasa 'Mutiara Dalam Lumpur' mungkin sedikit diubah menjadi 'Mutiara Dikemas Sampah' hahhaha.

Kebanyakan film superhero itu mencontek kisah Cinderella. Upik abu yang pada akhirnya jadi Ratu istana. Lihat saja, si cupu Clark Kent yang menjadi Superman, terus cowok cupu lainnya Peter Parker yang bisa menjadi Spiderman gara-gara laba-laba, Captain America juga tadinya nothing, dan sederet superhero lainnya yang inti ceritanya adalah 'yang tadinya bukan siapa-siapa, bisa menjadi siapa-siapa'. Benar-benar menonjolkan American dreaming banget. Sedangkan Deadpool? Jelas dia manusia biasa meskipun dia sudah punya kekuatan super. Mimpinya juga sederhana, jauh dari menyelamatkan dunia. Deadpool cukup menyelamatkan dirinya dan kembali menjadi pria tampan.