Sabtu, 02 Juli 2016

Bukan Siapa-Siapa. Bukan Apa-Apa.

Beberapa hari yang lalu, saya kembali membaca buku yang bagi saya luar biasa keren. Bukan buku traveling yang akan kasih saya tips keliling dunia dengan budget minim, bukan pula buku biografi tokoh dunia yang kemudian menginspirasi saya. Bukan. Jenis buku ini agak unik dan mungkin nyaris enggak ada di toko buku manapun. Judulnya Bukan Siapa-Siapa penulisnya Ajahn Brahm. Pernah dengar? Buku ini buku lama yang udah nangkring di rak buku saya. Dulu pernah saya baca tapi berhubung saya manusia biasa, terkadang baca buku sekedar paham saat itu. Beberapa hari bahkan jam kemudian pasti akan lupa isinya hehe. Tapi karena beberapa hari yang lalu saya lagi sewot banget, saya langsung ingat buku keren ini. Makanya saya langsung ambil dari rak buku dan mulai baca lagi.




Ajahn Brahm itu seorang Bhikkhu atau Pertapa Buddhis beraliran Theravadha. Beliau orang Inggris dan ditabiskan jadi Bhikkhu di Thailand. Saya enggak mau tulis biografi beliau tapi mau berbagai cerita soal buku beliau yang berjudul Bukan Siapa-Siapa ini. Beberapa tahun belakangan, Ajahn Brahm memang banyak menulis buku. Kebanyakan motivasi kehidupan tapi buku mengenai Bukan Siapa-Siapa ini beneran enggak ada tandingannya. Kenapa? Kebanyakan buku selalu bercerita tentang motivasi hidup, dukungan kepada pembaca agar pembaca mempunyai alasan untuk hidup dan berjuang mendapatkan kesuksesan. Tapi, buku Bukan Siapa-Siapa justru kebalikannya. Weitttss berarti nyuruh orang pesimis? Tunggu dulu.

Sebenarnya susah dijelasin pakai kata-kata. Buku ini seperti tujuannya jadi buku yaitu untuk dibaca, diresapi, hingga kemudian dipahami. Lebih asiknya sih kalian baca sendiri. Namun, berhubung buku ini 'kena' banget sama kejadian yang saya alami, saya jadi kepengen nulis di blog. Kali aja yang kepo blog saya kesentil setelah baca tulisan saya ini.

Lewat buku Bukan Siapa-Siapa, Ajahn Brahm mengingatkan kita sejatinya siapa diri kita. Dunia ini selalu menuntut kita untuk menjadi sosok yang benar dan sempurna. Benar dan sempurna versi siapa yang jadi pertanyaan? Tentu saja versi kesepakatan sosial. Seperti contoh sederhananya adalah media sosial menjadi alat kampanye bahwa cewek jaman sekarang bisa disebut ideal kalau sudah punya payudara segede tampah, perut super kecil, pantat segede gaban dan kalau perlu jago twerking. Jadi kalau dari jauh bentuknya jam pasir banget. Udah mulai lupa tuh orang-orang kalau beberapa tahun silam, cewek super skinny, rambut blonde, dan kulit putih cemerlang, yang jadi standar cantik. Yap, semua tergantung kesepakatan sosial. Masyarakat sekarang punya kacamata baru ketika menilai cantik seorang wanita. Mungkin dulu kalau yang bulu keteknya gondrong namanya cantik, sekarang yang alisnya kayak ulet bulu itu baru cantik.

Kesepakatan sosial itu kemudian jadi kebenaran sejati dan dikukuhkan dalam banyak cara. Misalnya jadi ajang pencarian bakat Miss Miss-an dimana semua cewek dipajang kayak mainan untuk ditonton, dipilih, dan dipuja oleh masyarakat dunia. Semua diatur sedemikian rupa agar yang dipilih jadi juara satu memang layak menjadi yang paling beauty, brain and behaviour. Memangnya ada manusia yang paling? Kalau begitu pepatah di atas langit ada langit, apa donk artinya?

Belum lagi urusan mencapai kesuksesan. Sebenarnya apa sih ukuran sukses itu? Ada yang bilang dari uang, ada yang bilang dari pencapaian jabatan pekerjaan, dari banyaknya investasi, atau segala macam tetek bengek yang ujungnya adalah nilai materi. Jadi sukses adalah materi. Sebanyak itu materi yang kamu dapatkan, sebanyak itu pula kesuksesan kamu. Kalau kamu udah usaha mati-matian sampe mati beneran dan saat mati kamu masih miskin materi, itu pasti gak akan disebut sukses. Bener gak? Capek yah.

Sebagian orang yang agak bijaksana, mengartikan sukses sebagai tujuan hidup yang tercapai. Karena tujuan hidup orang itu berbeda-beda maka ukuran kesuksesan setiap orang juga berbeda. Jadi ada orang yang memang tujuannya menikah sama orang kaya kemudian terlaksana itu namanya sukses. Ada yang tujuan hidupnya terkenal dan terlaksana itu namanya sukses. Dan sederet keinginan lainnya yang kemudian didapatkan, orang itu disebut sukses. Kelihatannya bijaksana yah? Padahal bagi saya tidak. Sifat 'mendapatkan keinginan' itu yang jauh dari bijaksana. Pertanyaannya kemudian, bagaimana kalau tidak mendapatkan yang menjadi tujuan hidupnya? Apakah ia disebut gagal?

Itulah yang kemudian membuat saya damai membaca buku Ajahn Brahm. Beliau tidak menuntut saya sebagai pembaca untuk meraih kesuksesan apapun. Beliau sudah lelah betul sama duniawi yang tidak pernah puas ini. Makanya beliau hanya minta kita duduk diam dan lepaskan segalanya. Lepaskan diri kita dari keterikatan apapun, jabatan, gender, keinginan, dan hanya duduk diam untuk menyadari setiap kehidupan ini. Jika semua orang menuntut kita menjadi Siapa-Siapa, beliau justru dengan berani mengajak kita menjadi Bukan Siapa-Siapa. Luar biasa.

Bukan Siapa-Siapa karena sejatinya kita bukan apa-apa. Bukan bermaksud pesimis atau merendahkan diri, tapi jika kita sadarin memang kita bukanlah apa-apa. Dosen saya pernah bilang, meja kalau diperetelin maka tidak akan ada meja lagi. Yang ada hanya kumpulan kayu. Yap. Seperti itulah manusia juga. Manusia kalau diperetelin apakah akan jadi manusia lagi? Enggak. Saya kalau semua anggota tubuh ini dilepas apakah akan jadi saya lagi? Enggak. Lalu apakah akan ada jabatan, pekerjaan, atau bahkan kenangan pencapaian? Semuanya akan pudar seiring berjalannya waktu. Jadi, daripada buang waktu dengan meratapi diri enggak kaya-kaya atau belom bisa beli lamborgini biar bisa selfie kayak syahrini, Ajahn Brahm menganjurkan kita untuk menyadari.

Dan ini jelas menohok kata-kata seseorang yang kemudian menjadi inspirasi saya untuk menulis di blog. Orang ini orang yang punya sedikit kekuasaan di suatu tempat. Suatu hari ego saya ditampar lewat kata-kata beliau bahwa, "sampai saat ini kamu sudah buat karya apa? Kamu sudah ditugasin pergi kemana? Kalau bisa jawab 2 pertanyaan itu kamu enggak usah tersinggung sama kata-kata saya." Kurang lebih begitulah kalimat yang beliau tulis. Dari sudut pandang saya, beliau ini memang punya hobi yang cukup unik, yaitu selalu mengkritik orang dengan caranya yang tidak bagus. Jenis kritik yang ditujukan bukan untuk membangun tapi menghina. Karena saya ini tipe orang yang suka keadilan, jadi kata-kata beliau yang berkali-kali dilontarkan ke saya dan tidak sesuai dengan fakta di lapangan tapi berdasarkan asumsi beliau, berkali-kali pula saya protes dan pertanyakan kembali.

Sebenarnya mudah saja saya jawab 2 pertanyaan beliau dari cara pandang saya terhadap dunia. Berhubung pandangan hidup beliau hanya menuhankan kesepakatan sosial seperti yang saya sebutkan diatas, maka saya urungkan niat saya untuk berdebat. Karena jenis debat itu bukanlah jenis debat yang akan membawa pencerahan tapi justru kebencian.

Soal yang pertama adalah karya apa yang sudah saya buat? Jelas kelahiran saya di dunia ini merupakan karya terbesar kedua orang tua saya. Menyadari bahwa saya adalah mahakarya orang tua saya, saya selalu berusaha menjadi anak yang baik tapi bukan yang terbaik. Kenapa? Karena saya punya saudari dan bagi orang tua, anak-anak mereka tidak ada yang paling baik atau terbaik. Jika disebut terbaik maka artinya ada pembanding. Dan saya sangat yakin, bagi orang tua tidak akan mungkin membandingkan anak-anak mereka. Cukup jadi anak baik dan orang tua saya bahagia memiliki saya. Karya lain yang saya bisa sebutkan adalah saya bisa memiliki pikiran bebas tanpa batas. Maksudnya? Ya saya ini orang Indonesia tapi gaya pikiran saya ini enggak seperti kebanyakan orang Indonesia. Misalnya? Misal dalam soal beragama. Sejak kecil saya selalu punya ribuan pertanyaan tentang agama-agama. Hal itulah yang pada akhirnya membuat saya belajar banyak ajaran agama. Apakah kemudian saya memilih satu agama? Tidak. Apakah ini hal wajar di Indonesia? Tidak pula. Apakah saya ateis? Tentu bukan. Saya terlalu vulgar mengatakan bahwa saya ini manusia ditengah-tengah. Saya bukan keduanya. Saya tidak memiliki agama tapi saya bukan ateis. Tanpa agama, saya tahu bahwa Tuhan itu sejati. Saya tidak perlu agama untuk kenal Tuhan. Saya pun tidak perlu apa-apa untuk memahami Ketuhanan. Dan pola pikir inilah yang kemudian saya sebut sebagai karya saya. Sebab saya telah mencapai pencarian saya. Sebuah karya yang tak ternilai untuk diri saya. Apakah saya peduli dengan kesepakatan sosial yang nantinya akan menyebut saya jahanam? Silahkan. Saya bukan si beliau yang menuhankan kesepakatan sosial dan Tuhan saya adalah abadi bersemayam dalam diri saya, bumi ini, tata surya, bahkan seluruh alam semesta.

Lalu pertanyaan kedua, sudah pernah ditugasin kemana? Apakah yang dimaksud negara di luar negeri atau pelosok dalam negeri? Kalau itu yang dimaksud, saya memang belum pernah dapat perjalanan dinas sampai sejauh itu tapi saya sudah menjejakan kaki saya diatas kehidupan saya sendiri. Saya telah melalui banyak hal dalam proses kehidupan saya. Saya pernah mengalami banyak hal, terpuruk, jatuh hingga mati kemudian bangkit lagi. Bangkit untuk bertahan hidup. Bukan demi sukses dalam cara pandang sosial tetapi karena saya tahu saya lahir ke dunia ini pasti ada maksud dan tujuannya. Hal itulah yang sudah saya sadari dan membuat saya berbahagia atas setiap tarikan dan hembusan nafas yang saya jalani. Saya tidak perlu pergi kemana-mana, jika duduk diam telah mendamaikan hati saya.

Bukan Siapa-Siapa? So why?