Kamis, 22 Juni 2017

Sagadhos

Tepat tanggal 19 Juni silam, saya resmi 8 bulan tinggal di Turki. Setelah lama vakum tidak menulis apa-apa di blog akhirnya saya kembali menulis. Sayangnya bukan tentang suka duka selama tinggal di Turki melainkan apa yang saya lihat dalam mimpi. Bukan mimpi biasa, saya tahu itu. Beberapa kali saya bermimpi yang tidak biasa. Mimpi-mimpi yang tidak biasa tidak mudah dilupakan begitu saja. Bahkan setelah beberapa tahun tetap membekas dalam ingatan. Saya tahu betul bedanya saat saya mengalami mimpi normal dengan mimpi yang selayaknya di sebut sebagai pertanda. Seperti misalnya saat saya bermimpi gigi saya copot, beberapa hari setelahnya sanak keluarga saya meninggal. Namun, tidak semua mimpi bermakna untuk masa depan. Banyak dari mimpi-mimpi yang tidak biasa itu, saya yakin betul saya alami di kehidupan lalu. Yah, percaya enggak percaya tentang kehidupan masa lalu dan kelahiran kembali, saya kira konsep itu masuk akal. Hal paling sederhana mengenai kehidupan masa lalu adalah fakta bahwa kita bisa langsung menyukai atau membenci seseorang teramat sangat meski hanya baru sekali berjumpa. Atau fakta bahwa banyak orang terlahir berbeda-beda dengan bentuk biologis berbeda dan karakter DNA yang tidak mungkin sama meskipun anak kembar identik. Akan tetapi, tulisan ini tidak akan membahas mengenai konsep reinkarnasi yang bisa kalian telusuri sendiri via google.

Tanggal 20 Juni 2017 pukul 09.00 pagi waktu Turki, saya tersentak bangun tidur setelah mendengar suara petugas kebersihan kamar datang. Kepala saya pening tapi masih ingat jelas apa yang saya lihat dalam mimpi. Satu buah kata yang masih kental dalam ingatan saya adalah 'Sagadhos'. Buru-buru saya langsung mencatat kata ini dalam buku memo harian saya dan detailnya. Malam hari sebelum saya bermimpi saya, mendapatkan kabar buruk kalau sepupu saya sakit sampai masuk ICU. Jantungnya berdebar keras dan kondisinya mengkhawatirkan. Karena memikirkan kondisi sepupu saya sebelum tidur dan kemudian bermimpi soal 'Sagadhos' saya pikir tadinya itu nama penyakit. Tetapi setelah saya telusuri di google hasilnya mengejutkan.

Saya berada di sebuah lapangan yang dipenuhi orang. Hari itu seperti sedang diadakan pameran di lapangan. Saya berjalan berkeliling melihat-lihat berbagai warna tetapi yang mendominasi adalah warna merah dan kuning pada dekorasi pameran setiap kios, serta warna hijau rerumputan liar. Saya tahu saya pergi ke tempat itu sendirian tetapi saya merasa ada seorang wanita kurus yang tingginya sama seperti saya mengenakan kaus garis-garis warna biru-putih dan celana jins sepanjang betis, mengikuti saya dibelakang. Bersama wanita itu ada seorang pria berusia sekitar 20-30an mengikuti dibelakangnya. Untuk meyakinkan diri kalau saya diikuti, saya berhenti di salah satu kios terbuka. Terdapat sebuah meja dengan 4 bangku. Sebuah bangku ditempatkan di satu sisi yang merupakan sisi penjual, dan 3 buah bangku sejajar di sisi lain meja yang merupakan sisi pembeli. Diatas meja banyak terdapat beraneka ragam bunga. Selain bunga ada beraneka macam benda seperti dalam upacara tradisi agama Buddha. Namun, entah kenapa dalam pikiran saya itu adalah tradisi agama Buddha Tibetan.

2 orang pria berdiri di depan meja. Pemimpinnya (entah kenapa saya yakin dia pemimpinnya karena ia yang paling banyak bicara dan menebar dupa ke sekeliling) memberikan perintah kepada seorang pria lain yang jauh lebih kurus dari dirinya. Pemimpin itu berkepala pelontos seperti seorang Bhikku. Ia memakai jubah merah dan kuning yang membalut tubuh gemuknya. Ia mengenakan kaca mata. Ia terus saja berbicara dengan 3 orang yang duduk di bangku tamu. Saya ikut mendengarkan sambil berdiri walaupun saya tidak paham bahasa yang digunakan tetapi saya yakin betul mereka sedang membicarakan soal hidup. Lalu setelah pria yang duduk di bangku sebelah kiri dan tengah pergi, pria yang duduk di bangku kanan berpindah ke bangku paling kiri dan saya duduk di bangku tengah. Wanita berbaju garis-garis yang sejak tadi mengikuti saya juga duduk disebelah kanan saya. Pria yang duduk di sebelah kiri saya bertanya apakah bahasa yang saya gunakan dengan si pria botak sama atau tidak. Saya hanya menjawab dengan tersenyum.

Pria gemuk botak itu menyambut saya dengan ramah dan kemudian memberikan sebuah tempat berbentuk silinder yang berisi banyak lidi panjang dan berdiameter cukup besar berwarna cokelat muda. Lalu saya mengambil sebuah lidi dari dalam silinder itu dan setelah saya buka ternyata berisi tulisan 'Sagadhos'. Sebelum pria botak itu sempat menafasirkan arti 'Sagadhos' saya terbangun dari tidur. Karena luar biasa penasaran saya telusuri di google ternyata bukan 'Sagadhos' melainkan 'Salgados'. Sebuah kata dalam bahasa Portugal yang berarti salty atau asin. Salgados merujuk kepada 2 hal yaitu yang pertama nama sebuah cemilan khas bangsa Portugis dan yang lain merupakan nama pantai di Portugal. Praia dos Salgados yang artinya Salty Beach. Tempat ini berlokasi di Portugal tepatnya di Tanjung Verde yang memiliki ibukota Praia. Praia sendiri terletak di sebuah kota di Portugal bagian selatan bernama Albufeira. Selain menjadi nama tempat dan nama makanan, 'Salgados' juga merupakan nama sebuah keluarga asal Spanyol berdasarkan telusuran saya di website House of Names. Nama keluarga ini pertama kali ditemukan di Asturias, Spanyol.

Entah ini sebuah kebetulan atau bukan, yang jelas saya sama sekali tidak pernah mendengar kata 'Salgados' dalam kehidupan saya. Mimpi kemarin merupakan pertama kalinya saya mendengar nama itu dan begitu berkesan untuk saya seperti beberapa mimpi lainnya yang pernah saya alami. Mimpi ini bisa saja merupakan pertanda atau mungkin hanyalah bunga tidur biasa. Apapun itu saya berterima kasih kepada mimpi sebab karena mimpi, pengetahuan saya bertambah soal sebuah kata bernama 'Salgados'.

Tidak ada komentar: