Minggu, 27 November 2011

Ibu, Musuh Tersayangku



“IBU”.

3 huruf, tak terhingga maknanya.

Apa yang terlintas dari benakmu jika kata “IBU” disuguhkan didepan mata? Tentu beribu alasan ingin kau ungkapkan untuk memuja Ibumu. Bisa juga kau utarakan dengan segenap jiwa raga melalui rangkaian kata – kata indah agar tercipta tulisan berirama. Atau mungkin kau akan berjuang merenung siang malam suntuk berusaha mendeskripsikan “IBU” dan saat pagi hari tiba akhirnya kau menemukan sebuah arti yang paling mendekati. Serumit itukah benakmu?

Sejak kecil kita selalu diajarkan bahwa kehidupan ideal seorang anak ialah memiliki sepasang orang tua lengkap yang disebut Ibu dan Ayah. Kedua orang tua yang masing – masing memiliki kewajiban yang berlainan, Ayah bertugas mencari nafkah dan Ibu bertanggung jawab urusan rumah tangga. Namun, kenyataannya standar ideal yang diajarkan orang – orang dewasa di kala kita masih kanak – kanak, bisa berbeda 180 derajat saat kita sudah beranjak memahami dunia nyata.

Sudah hal wajar jika Ayah bertugas mencari nafkah, akan tetapi berapa banyak jumlah Ayah yang mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Di jaman sekarang, banyak sosok Ibu yang selain mengurus rumah tangga juga berperan menghidupi keluarga dengan bekerja keras. Memenuhi kebutuhan keluarga serta harus bertanggung jawab memastikan semua terkendali. Itukah Ibumu? Atau Ibu orang lain yang pernah kau perhatikan?

Banyak orang mengatakan bahwa menjadi “IBU” adalah sebuah pekerjaan mulia. Yang menjadi pertanyaan, sejak kapan tugas mulia itu dikategorikan menjadi ‘pekerjaan’? Jika hal tersebut benar adanya maka menjadi “IBU” tak bedanya dengan seorang Guru. Dimana seorang Guru yang berarti di “GUgu dan ditiRU” oleh banyak orang disebut – sebut sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Walau disebut demikian, seorang pahlawan seperti Guru tetap di gaji sesuai standar masing – masing masa pengabdiannya, yang artinya Pahlawan Tanpa Tanda Jasa pun tetap diberi penghargaan atas jasanya mengajar, mendidik, dan menuntun. Lantas bagaimana dengan seorang “IBU”?

Ketika masih anak – anak, seorang Ibu bagiku adalah sosok malaikat. Apapun yang aku butuhkan bisa dipenuhi. Meski, Ibu bukanlah Ibu Peri dalam dongeng Cinderela toh nyatanya hampir sebagian besar keinginanku berusaha diwujudkannya. Saat aku ingin sepeda bermerek Piyo – Piyo, sepatu roda, dan beberapa hal lainnya yang pada akhirnya terbengkalai begitu saja hanya aku sentuh sekali dua kali sehabis dibeli, Ibu selalu berusaha menyanggupi keinginanku. Jika aku ingat – ingat kembali masa itu, aku yakin aku bukanlah anak manis seperti yang selalu Ibu ceritakan dikala kita sedang bercengkrama. Ibu selalu mengatakan bahwa aku adalah anak baik yang selalu bersikap manis. Mungkinkah aku demikian? Atau apakah itu sebenarnya sejenis doa yang Ibu panjatkan setiap harinya tanpa mesti melakukan ritual siang malam?

Aku sama seperti kalian yang menyenangi kesunyian ketika ditanya ‘Apa itu Ibu?’, ‘Siapa itu Ibu?’. Sel – sel otakku saling sambung menyambung jika aku berusaha mengingat tentangnya, membentuk ingatan akan Ibuku dimasa aku kecil hingga aku sebesar ini. Sedihnya, sedikit yang kuingat dalam memori kepalaku mengenai segala kejadiannya yang aku alami dengannya. Seakan sirna begitu saja seperti ditiup angin, Wuuussshhh, hilang tanpa bekas. Kurebahkan tubuhku dan menutup mata.

Baru saja Ibu mengupas buah mangga untukku. Bagiku perbuatan Ibu tadi tidaklah istimewa. Dimataku itu hanyalah sebuah kewajiban yang tak perlu dijunjung tinggi lagi nilainya. Namun, benarkah asumsiku ini realita yang sesungguhnya? Mungkinkah ini bentuk ketidak-pedulianku pada sosok Ibu yang oleh banyak orang selalu ditinggikan? Aku tidak yakin betul yang mana yang benar. Seringnya aku tidak memutuskan agar aku tak salah mendefinisikan.

Aku memang tidak begitu ingat semua kejadian bersama Ibu secara mendetail. Ingatanku hanya sepotong – sepotong bagian yang kemudian aku rangkai hati – hati, lalu aku menyimpulkan bahwa Ibuku sangat luar biasa dan merupakan teman terbaikku yang aku punyai satu – satunya sejak dulu. Ia selalu memahami aku seperti aku sangat memahami dirinya. Kita berdua bagaikan dua jiwa yang saling melengkapi bukannya jiwa – jiwa yang telah dibelah lalu bertemu padu. Aku sulit mencari teman sejiwa dan baru kutemukan satu orang saja yaitu dalam sosok Ibuku. Ia begitu sempurna dimataku. Setidaknya itu penilaianku tentang Ibu sampai beberapa waktu lalu.

Semakin banyak hal yang kau lihat, maka akan semakin luas pengalaman yang ada dalam hidupmu. Semakin kau tumbuh dewasa, maka akan semakin banyak hal yang kau pikir tidak sesuai dengan standar penilaianmu. Ibu yang tadinya kau puja sebagai manusia dewa bisa mudah kau putuskan sebagai manusia biasa. Seakan tidak pernah ingat bahwa aku sangat mencintai Ibuku, kebencian bisa menggerogotiku kala sosok Ibu tak sesuai lagi dengan ekspektasiku.

Ibu tak ubahnya manusia biasa yang sering kali melakukan kesalahan. Ia semakin tua dan aku semakin bertambah usia. Keduanya seharusnya bisa saling bertoleransi jika tak sepaham tapi aku seakan tidak bisa terima kekurangannya akan ingatan memorinya yang telah banyak berkurang. Ibu tak bisa lagi aku harapkan menjadi sosok sempurna seperti dahulu. Ibu terlalu mengesalkanku. Ia selalu merasa dirinya paling benar disetiap keputusannya. Ia merasa bahwa tak sekalipun pernah tidak mendengarkan aku dikala kita bertengkar, padahal jelas – jelas kata maaf tak pernah keluar dari mulutnya jika ia berbuat salah. Ibu terlalu banyak berubah atau memang sejak dulu sudah begitu namun aku seperti buta akan kenyataan?

Tidak ada lagi teman sejalan yang aku punya. Aku sendiri, sebatang kara. Bukan aku tidak punya keluarga, namun ketika kau hidup ditengah – tengah orang yang tak bisa memahamimu, itu sama saja artinya kau hidup sebatang kara. Terombang – ambing berharap aku ditemukan orang yang tepat. Orang yang mengerti aku seutuhnya. Tak perlu ada seratus jika satu saja sudah mampu memahamiku. Aku sendirian dan tak berarti.

Dalam ketidak-berartian diriku ini, aku merenung. Aku sungguh tahu bahwa benar dan salah adalah dua hal yang relatif. Kau tidak mungkin 100% benar dan juga tidak mungkin 100% salah sebab benar salah merupakan hasil persepsi seseorang terhadap sesuatu hal. Itu artinya kesalahan Ibu bagiku bisa jadi bukan kesalahannya bagi Ibuku. Sangat jarang ada orang salah yang mau mengakui kesalahannya apalagi orang benar yang mau mengaku salah, kalaupun ada berarti orang tersebut memiliki sifat rendah hati yang sangat besar. Namun, inilah realita dunia manusia. Sesalah apapun manusia, terlebih lagi orang tua, pastinya tidak akan merasa bersalah. Tidak akan mungkin ada perdamaian jika mengalah tidak dijadikan solusi. Kebencian hendaknya dibalas dengan cinta kasih. Memaafkan itu perbuatan yang mulia, setidaknya begitu teorinya walau sangat sulit dipraktekkan.

Lahir menjadi seorang anak pastinya memiliki sebuah makna tersendiri. Dilahirkan dengan susah payah oleh Ibu, dirawat, dibesarkan hingga sebesar ini merupakan sebuah perjalanan panjang membesarkan anak. Belum lagi pemahaman dan pengertian tentang hal baik dan hal buruk yang diberikan oleh Ibu sejak anaknya belum bisa bicara hingga sekarang, terima kasih saja aku rasa tidak akan cukup untuk melunasi ‘hutang’ seorang anak kepada Ibunya.

Lantas, mengapa aku masih bersikeras kesal terhadap kesalahannya jika Ibu sendiri tidak menyadari kesalahannya? Megapa aku harus menyimpan benci kepada wanita yang dengan rela mengorbankan nyawanya untuk melahirkan ku (walau aku juga tahu Ibu tidak punya pilihan selain harus mengeluarkan bayi didalam perutnya setelah sembilan bulan)? Tidak bisakah aku sedikit belajar tentang kerendahan hati? Tidak bisakah aku sedikit mengalah? Aku yang katanya telah dewasa ini mengapa tak bisa bersikap dewasa?

Ibu

Keheninganku ini melahirkan sebuah keyakinan tentang dirimu. Kita mungkin seringkali tak sejalan saat ini, tapi bukan berarti aku menghilangkan sepenuhnya ingatan akan Ibu yang senantiasa mendampingiku di kala sedih dan susah. Ibu masih satu – satunya sahabat yang paling mengerti aku. Siapa lagi yang akan menampung beban yang sulit kau topang sendiri selain keluarga, terutama Ibumu? Ya, Ibuku. Dialah orang yang dengan rela menemani hari – hariku. Kepada dialah aku mampu kesal sekaligus sayang. Kepada dialah aku mau membagi suka bersama.

Ibu

“3 huruf, tak terhingga maknanya”
Selain mengartikanmu sebagai orang tuaku, sebagai sahabat setiaku, sebagai tukang masak favoriteku, sebagai teman hang-out, sebagai teman berbagi, kau kini juga sebagai musuh tersayangku.
Terima kasih Ibu karena telah mewarnai hidupku.


Untuk Ibuku, Mama Tersayang

Selasa, 22 November 2011

Kau vs Dia

Hatimu dingin seolah beku
Memandang tajam menganggap mereka kutu
Berkata merasa benar
Menutup telinga tak mau mendengar
Bagai perkasa menyerukan kejayaan
Percaya diri menganggap dihadapan hanya lawan
Tidak berkasih sayang
Satu ingin diganyang
Gadis berambut cokelat pantas ditendang
Merasa diri bahwa mereka bersaing

Kau berkata keras menyerukan contoh soal
Yang sebenarnya menyudutkan dia tak masuk akal
Awalnya kau bicara keras, ia menyumbat telinga lekas
Namun, makin lama ego itu terlihat jelas
Tak kuat dicaci, ia bangkit melindungi diri
Agar jiwanya tak pecah, tak ingin hancur si harga diri
Ia berkobar menunjukkan gigi
Sangat berharap kau cepat pergi

Mula - mula hanya sedikit
semakin lama menggerogoti jiwa hingga kandas tak bersisa.
Kemarahan oh kemarahan
entah sesuatu macam apa
Tak bisa diraba tapi bisa membuat gila.

Merenung

"Seseorang yang mencurahkan diri untuk merenung, dapat mengetahui segalanya sebagaimana adanya."



Merenung adalah sebuah kegiatan manusia. Walau kegiatan tersebut terlihat tidak penting dan memang tidak dijadikan sebagai hobi oleh sebagian besar manusia di muka bumi ini, toh nyatanya merenung adalah kegiatan manusia yang sangat manusiawi.

Sepintas Merenung memang seperti Melamun. Seseorang yang melakukannya tampak secara kasat mata, hanya seperti diam dan seolah tak peduli dengan kegiatan sekitar. Tapi tidak akan sama ketika kita 'melihat' jauh ke dalam alam pikir kegiatan tersebut. Keduanya sangat bertolak belakang.

Melamun adalah kegiatan yang membuang - buang waktu. Diam secara inderawi namun pikiran kita tetap berkelana mencari - cari kesenangan. Seringnya dalam lamunan yang terlintas dibenak adalah sesuatu yang kita sukai saja hingga seolah kenyataan dan khayalan merupakan dua momen yang sama sulit dibedakan. Berapa banyak dari manusia di bumi yang hidupnya terus berkhayal hingga usia mereka mencapai dewasa. Sudah bertambahnya usia seharusnya semakin menambah kedewasaan tapi ini justru malah seringkali orang 'dewasa' bertingkah kekanak-kanakan. Orang - orang yang punya hobi melamun inilah yang pada akhirnya akan selalu terkaget - kaget dengan kenyataan dunia. Mereka seakan tidak peduli mengenai hidup nyata sebab khayalan memberikan kenikmatan yang lebih menyenangkan daripada kehidupan yang sering kali tidak adil.

Lain hal dengan Merenung. Secara raga memang sama - sama diam seperti Melamun, tapi coba pahami apa yang ada di alam pikir para perenung ini. Mereka bukan hanya diam semata - mata sedang mengingat momen yang menyenangkan itu. Mereka juga bukan sedang membuat fenomena di dalam alam pikir mereka. Mereka sudah jelas bukan sedang tenggelam akan kejadian yang mereka inginkan. Para perenung ini merenung tentang sesuatu hal yang mereka pikir mereka harus pahami. Mereka tidak pernah meninggalkan fenomena begitu saja tanpa perlu dimasukan ke alam pikir mereka yang peka akan sekitar. Sensitifitas mereka terhadap suatu hal begitu tinggi sehingga bagi sebagian besar manusia mungkin kepekaan para perenung adalah sesuatu hal yang lucu. Lucu bagi mereka yang tidak memahami pola pikir sang perenung, tapi bagi yang dianggap lucu itu justru merupakan sesuatu hal yang harus dilakukan.

Fungsi otak ialah untuk berpikir. Ada begitu banyak juta dendrit yang siap mengantarkan informasi untuk sang peminjam raga. Peminjam raga bukan pemilik raga. Begitulah kenyataannya. Sebab tubuh ini yang bervariasi bentuknya mulai dari cantik jelita hingga buruk rupa, besar sedang kecil, berkulit putih kuning cokelat kehitaman, berkelebihan hingga berkekurangan, segalanya hanyalah 'pinjaman' cuma - cuma yang diberikan oleh alam semesta. Raga ini tidak seperti kita meminjam buku diperpustakan, yang kalau cacat sedikit bisa kita tukar, maka jangan dipikir bisa menggantikan raga dengan cara terdaftar banyak asuransi jiwa. Raga ini tidak seperti kita membeli baju, yang bisa kita pilih - pilih sesuka kita, lalu kita miliki untuk beberapa lama dan akan kita sumbangkan kepada orang lain yang membutuhkan. Kalau begitu jadinya maka benar jika raga ini telah usang di makan waktu kita bisa membuangnya dan menggantinya yang baru.

Tubuh hadir sebagaimana adanya. Sampai kapanpun kita tidak akan bisa meminta yang kita inginkan sebab sudah menjadi sifatnya tubuh lahir, sakit, tua, kemudian mati. Kalau tubuh bisa menuruti kemauan kita maka kita akan bisa menyuruh tubuh ini melakukan hal yang kita sukai. Ketika lapar kita akan meminta tubuh ini berhenti lapar tanpa harus makan. Jika sedang sakit kita akan meminta tubuh kembali sehat tanpa perlu diagnosa penyakit. Dan lebih menyenangkannya lagi, jika kita sudah tua dan digerogoti ketakutan akan kematian, kita bisa meminta tubuh kembali muda sedia kala lalu kita bisa mengulang hidup ini lagi. Bagaikan seorang pemilik sejati terhadap benda kesayangannya, pasti akan mengharapkan bendanya itu tetap mengikuti kemauannya. Tapi bisakah demikan kita memperlakukan hal itu pada ragawi ini? Lantas kalau begitu percuma saja suntik botox guna mengelabui usia yang telah senja. Tidak ada gunanya sama sekali. Tubuh tetap hanya patuh pada pemilik sejatinya yaitu semesta.

Antara Logika dan Perasaan sering kali diartikan tidak sejalan. Banyak orang yang berkata demikian. Contoh nyatanya ketika kita jatuh cinta. Tanpa memandang status sosial dan mengingat sederet syarat mencari pasangan hidup, kita bisa saja terpleset jatuh ke dalam gelora asmara dengan siapa saja. Motivator selevel Mario Teguh pun selalu mengatakan bahwa "Cinta itu tidak buta, hanya saja Cinta MAMPU MELUMPUHKAN Logika." Ya, meskipun Logika dan Perasaan tidak sejalan, dalam urusan cinta keduanya seperti tampak satu harmoni. Begitu pula manusia atau makhluk - makhluk lainnya. Pada saat lahir ke dunia, bukan hanya tubuh yang hadir. Di kedalaman diri terdapat sesuatu yang abstrak dan sulit dijelaskan disebut pikiran. Pikiran ini tak kasat mata namun bisa dilihat jelas melalui ucapan dan tindakan individu. Pikiran ini menyangkut banyak aspek seperti sifat - sifat dasar makhluk berupa keinginan, keserakahan, emosi, dsb. Selain itu, Logika dan Perasaan sendiri merupakan bagian dari Pikiran.

Secara umum, Pikiran dimaksudkan adalah jiwa. Namun, jiwa sendiri seperti sebuah bagian abstrak dari diri yang tak bisa dibagi. Jiwa hanya Jiwa. Pikiran bukan begitu. Pikiran jauh lebih luas dan menyangkut individu itu sendiri yang sulit dijelaskan secara kasat mata sehingga seolah - olah yang saya bicarakan ini lebih menyerupai omongan kosong. Sayangnya saya bukan sedang beromong kosong ria karena sejatinya manusia hanya mampu melihat apa yang ingin dilihat bukan melihat apa yang sebenarnya ada, sehingga sering kali yang dikatakan omong kosong itu adalah kenyataan yang sesungguhnya ada. Tapi, karena kita belum sampai ke tahap 'melihat' kita jadi menyimpulkan bahwa segalanya itu adalah omong kosong.

Tubuh dan Pikiran adalah dua hal yang berbeda namun hadir utuh di dalam diri individu. Hukum pasti Tubuh ialah Lahir, Sakit, Tua, Mati. Pernyataan itu sudah pasti disetujui semua orang dan bagaimana dengan Pikiran? Sudah adakah kajian yang membahas hakikat Pikiran? Sudah pasti banyak yang merenungi mengenai hakikat pikiran, hanya saja terlampau rumit jika dijelaskan ke dalam bahasa manusia. Kebanyakan kosakata manusia ditujukan untuk hal yang kelihatan di mata dan hal yang tidak terlihat mata dianggap tidak masuk akal atau sulit untuk dibicarakan sehingga lebih asik jika direnungi dalam diam. Namun satu hal yang mampu dijelaskan oleh bahasa umum, Pikiran tidak mengenal hukum ketidak-abadian seperti Tubuh. Pikiran tidak Lahir, Sakit, Tua, ataupun Mati. Pikiran hanya bisa dua hal, berkembang atau menyusut. Semakin banyaknya informasi yang ditangkap oleh inderawi, semakin berkembang pula alam pikiran kita. Fenomena - fenoma tersebut kita artikan sebagai pengalaman dan pemahaman. Berkembangnya pikiran tidak akan membuat pikiran menjadi sakit ataupun mereka bilang overload. Pikiran demikian elastis sehingga dengan mudah pikiran dapat kita bentuk sesuai kemauan kita. Sesuai kemauan kita. Artinya kitalah yang membentuk Pikiran diri kita sendiri. Kitalah yang mengembangkan atau menyusutkan sesuai kehendak kita. Atau bahkan hingga ke tahap kitalah yang menciptakan Pikiran kita sendiri.

Kalau mengkaji Tubuh dalam ilmu anatomi saja sudah sangat rumit, Pikiran jauh lebih rumit lagi. Karena tidak bisa kita lihat lewat mata inderawi, maka pikiran hanya bisa kita amati melalui metode merenung. Lagi - lagi merenung yang dibicarakan. Ya bukan mengada - ada, merenung memang cara yang menurut saya sampai saat ini paling pas dilakukan ketika kita berusaha mendefinisikan Pikiran. Saat kita melakukan kajian tak kasat mata, mungkinkah kita bisa melakukan diskusi panjang lebar dengan orang disebelah kita? Tentu tidak. Kita tidak akan mungkin bisa berbincang panjang mengenai hal yang sulit kita cerna pakai inderawi. Kita hanya bisa merenung, merenung, dan terus merenung mengenai eksistensi pikiran.

Terakhir, tanpa bermaksud membuat bingung, semoga merenung bisa disepakati menjadi sebuah kegiatan manusiawi. Sebab tanpa merenung, kita akan terus mencari jawaban yang tidak akan bisa dijelaskan secara kasat mata.





Untuk semua para perenung,
baik pemula, pelaku lama, ataupun yang sudah ke tahap lebih dalam.

Jumat, 18 November 2011

The Adventures of Tintin







Siapa yang tak kenal Tintin?


Well, kalau tidak tahu berarti kalian harus lebih banyak baca, memperluas networking dan juga bertanya kepada para orang tua mengenai tokoh yang mendunia tersebut.

Tintin adalah tokoh karya seorang seniman dan penulis komik bernama Georges Prosper Remi atau yang lebih dikenal dengan pseudonim Hergé. Ia lahir di Etterbeek, 22 Mei 1907 dan meninggal di Woluwe-Saint-Lambert, Belgia, 3 Maret 1983 pada umur 75 tahun. Hergé merupakan seorang berkebangsaan Belgia yang kemudian mengambil nama samarannya menjadi R.G yang merupakan kebalikan nama aslinya (Georges Remi) yang jika dilafalkan menjadi Hergé. Karyanya yang paling terkenal dan penting adalah Petualangan Tintin, yang ia tulis dan lukis dari tahun 1929 hingga kematiannya pada 1983, yang menyisakan album ke-24. Menurut beberapa sumber, Hergé membuat tokoh Tintin karena terinspirasi oleh tokoh komik Tintin Lutin yang dibuat oleh Benjamien Rabier (1897).

Dalam kacamata persepsi saya, Tintin merupakan tokoh inspiratif. Ia memiliki wajah bundar dengan rona pipi kemerahan. Air mukanya seperti anak - anak walaupun dari berbagai sumber yang saya baca, tidak menjelaskan usia pasti Tintin, namun tampaknya Tintin adalah seorang remaja yang baru menginjak dewasa. Postur tubuhnya tidak terlalu tinggi dan walaupun kurus ia tidak tampak kurang gizi. Ia kelihatan sehat terlebih lagi ia tampak cukup kuat. Otaknya sudah tidak diragukan lagi bahwa ia cerdas sehingga dengan cepat ia dapat menyelesaikan berbagai masalah dalam waktu singkat. Masalah yang ia hadapi bukanlah masalah sepele namun sering kali membahayakan nyawanya. Ia selalu terlibat dalam intrik-intrik internasional yang membahayakan dirinya, namun dengan kecepatannya dalam berpikir dan bertindak, keberaniannya dan tak lupa keberuntungannya, dia selalu dapat menyelematkannya dari situasi tersebut.

Tintin selalu ditemani oleh seekor anjing putih (benar - benar putih tanpa ada warna lain di bulunya) bernama Milo atau Milou sesuai ejaan perancis. Namun, pada saat komiknya di terjemahkan kedalam bahasa inggris, nama Milo berubah menjadi Snowy. Anjing putih ini berjenis Fox Terrier. Nama Milou sendiri diambil dari nama panggilan pacar Hergé di masa muda bernama Marie-Louise Van Custem. Snowy tidak bisa berbicara bahasa manusia karena memang dia seekor anjing, akan tetapi Tintin dan dia bersahabat baik hingga seakan Snowy mengerti semua kata - kata dan pikiran Tintin. Tidak heran jika mereka berdua selalu saling menyelamatkan satu sama lain.

Karakter Tintin sangatlah kuat. Ia tidak hanya cerdas namun ia juga imajinatif dan serba bisa. Ia pandai berbicara dalam banyak bahasa, ia mampu mengendari alat - alat transportasi sulit seperti tank, pesawat, helikopter dan juga naik kuda. Perawakannya yang kecil tidak menghalanginya untuk berkelahi jika ia bertemu lawan yang jauh lebih besar. Tintin juga perenang handal dan mempelajari yoga. Bisa disimpulkan Tintin adalah sosok yang mengagumkan. Cerdas, selalu ingin belajar, dan ia selalu selamat dalam insiden berbahaya.

Sejujurnya, saya bukanlah penggemar atau bahkan penggemar fanatik Tintin. Akan tetapi, setelah saya menonton film : The Adventures of Tintin : The Secrets of The Unicorn, saya justru merasa 'Ketagihan' dengan komik karya Hergé ini. Bagi saya, Hergé tidak hanya pandai membuat ide cerita, tapi ia juga mampu menyemangati stimulus saya didalam berpetualang. Walau sempat saya merenung, mungkinkah saya hanyalah korban film amerika yang selalu diracik secara brilian terlebih lagi film ini disutradarai oleh Peter Jackson berkolaborasi dengan master kawakan Steven Spielberg. Tapi, untunglah saya bukanlah tipe orang yang benar - benar bisa menjadi 'korban film', setelah menonton film tersebut di Blitz Megaplex saya langsung 'googling' mengenai semua tentang Tintin. Saya langsung jatuh cinta padanya.

Hergé seolah memberikan inspirasi bagi saya. Ia tidak menekankan keindahan fisik pada tokoh Tintin, tetapi lebih menekan nilai keindahan karakter dan kepribadian seorang remaja dewasa yang matang di usia muda. Tintin menuntun orang - orang yang haus petualangan untuk tetap selalu 'penasaran' terhadap segala hal sebab rasa ingin tahu yang besar akan menuntun kearah 'petualangan' yang mungkin sudah didepan mata. Tintin juga menekankan pentingnya keberanian didalam setiap tindakan yang dilakukannya disertai dengan kepekaannya didalam memahami berbagai hal.

Meskipun tokoh Tintin bisa hidup sepanjang masa karena sudah menjadi bagian sejarah mendunia, ia tidak mungkin bisa selalu bekerja sendirian. Hergé juga menciptakan tokoh - tokoh lainnya yang tidak kalah unik. Berikut beberapa tokoh dalam Petualangan Tintin :

Tintin
adalah seorang Wartawan asal Belgia (seperti Hergé) yang walau demikian jarang disebut - sebut di beberapa komiknya. Sekjen Yayasan Hergé menjelaskan bahwa sangat memungkinkan jika Hergé terinspirasi Robert Sexé (yang dikenali memiliki perawakan sebagaimana layaknya tokoh Tintin, dan Yayasan Hergé yang berpusat di Belgia pun mengakui bahwa tidak sulit dibayangkan bagaimana seorang Hergé mendapatkan pengaruh yang cukup kuat dari seorang Sexé. Pada masa itu, Sexé telah
berkelana ke seluruh penjuru dunia dengan mengendarai sebuah sepeda motor yang dibuat oleh Gillet of Herstal. René Milhoux adalah juara dunia dan pemegang rekor untuk kejuaraan sepeda motor pada masa itu, dan pada tahun 1928, sedangkan pada saat yang bersamaan, Sexé sedang berada di Herstal dan sedang berdiskusi dengan Léon Gillet tentang rencana besarnya. Gillet pun mempertemukannya dengan sang juara dunia, Milhoux. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kedua orang ini menjadi teman baik, dan bisa menghabiskan waktu berjam - jam membicarakan tentang sepeda motor, dimana Sexé menjelaskan tentang kebutuhan - kebutuhannya dan Milhoux membagi pengetahuannya atas dunia mekanik serta bagaimana membuat sepeda motor - sepeda motor tersebut memberikan kemampuan maksimalnya dalam suatu lomba. Dengan menyatunya dua manusia ini, maka Robert Sexé dapat pergi berkelana ke seluruh penjuru dunia, dan menuliskannya sebagai suatu karya yang tidak ternilai harganya untuk dunia kewartawanan. Sekjen dari Yayasan Hergé di Belgia mengakui bahwasanya seorang Hergé, sangat terpengaruh oleh kedua manusia yang luar biasa ini sehingga terciptalah tokoh Tintin seorang wartawan muda yang suka berpetualang dan temannya yang setia Milo (Snowy). Hergé sendiripun mengakui bahwa sedikit banyak Tintin hidup dalam dirinya, dan walaupun dalam suatu rekaman wawancara yang dilakukan pada tahun 1947 bahwa "Tintin itu bukan aku, dan jika dia harus hidup dalam dunia ini, maka ia adalah suatu mahakarya sempurna dari-Nya dan membuatku tak habis-habisnya menggali karaternya", namun di lain waktu dia menyatakan bahwa"Tintin, c'est moi!" ("Tintin itu ya aku!").

Milo (Snowy)
Hergé memilih jenis ras fox terrier putih total sebagai representasi Milo, teman setia Tintin. Anjing jenis ini dipilih karena pada tahun 1929 hingga tahun 1930an, adalah jenis yang sedang naik daun, bersaing dengan Bedlington untuk status anjing kelas atas. Jenis ini dipilih karena populer akan keberanian, karakter, dan kepandaiannya yang jelas terlihat pada Milo. Walaupun terinspirasi dari jenis ini, warna putih total merupakan warna yang tidak biasa pada jenis itu. Dalam keluarga Hergé, tak ada yang mempunyai anjing jenis ini , namun pemilik restoran-kafe yang sering didatangi wartawan Le Petit Vingtième Siècle memilikinya. Dan anjing itulah yang dipinjam dalam acara pesta penyambutan besar-besaran yang diadakan di stasiun Gare du Nord, Brussel, sekembalinya si tokoh baru dari Uni Sovyet. Dengan beberapa perkecualian, Milo tidak pernah berbicara (walaupun ia secara tetap diperlihatkan sedang berpikir dengan memakai bahasa manusia), semenjak ia hanyalah "seekor anjing". Namun demikian, ia selalu dapat berkomunikasi dengan tuannya secara baik. Ia juga seringkali menambah hal-hal yang menarik dalam alur cerita Petualangan Tintin. Contohnya, ia adalah satu-satunya tokoh dalam "Penerbangan 714 ke Sydney" yang ingat mengenai peristiwa penculikan oleh makhluk luar angkasa. Seperti juga Kapten Haddock, Milo sangat suka minum, minuman keras Whisky bermerk Loch Lomond. Beberapa kali ia minum minuman beralkohol tinggi tersebut dan seringkali membuatnya terlibat dalam masalah, sama seperti rasa takutnya yang sangat besar terhadap laba-laba atau yang lebih dikenal dengan arachnophobia. Karakter Milo tumbuh dan berkembang sepanjang serial Petualangan Tintin, dan paling terpengaruh perkembangan karakternya oleh kehadiran Kapten Haddock dalam "Kepiting Bercapit Emas". Sebelum Haddock hadir, Milo adalah sumber dari komentar sampingan yang sinis dan pesimis untuk mengimbangi cara pandang tuannya yang selalu positif dan optimis. Ketika Haddock mulai muncul dalam serial ini, Sang Kapten mengambil alih peran sebagai suara yang sinis dan Milo secara bertahap memperoleh peran yang lucu-lucu saja, seperti mengejar-kejar kucing Marlinspike Hall dan meminum whisky-nya Kapten Haddock. Dalam edisi aslinya, Milo diberi nama Milou. Nama ini diambil dari nama pacar pertama Hergé (sang penulis), Marie-Louise yang disingkat menjadi "Malou", walaupun Milo selalu dianggap sebagai seekor anjing jantan di seluruh seri. Dalam edisi yang berbahasa Portugis dari episode Tintin di Congo, yang diterjemahkan menjadi judul Tintin em Angola, dapat ditemukan bahwa Milo berbulu kuning. Dalam terjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia, pertama kali dia diberi nama "Snowy" sebagaimana yang terlihat pada komik terbitan dari Tiga Lima dan Indira. Hal ini dikarenakan pada penerbitan awalnya, mereka mengacu pada karya ini yang sudah dialih bahasakan ke Bahasa Inggris, dimana dalam edisi itu dia bernama Snowy. Namun ketika diterbitkan ulang oleh Gramedia di tahun 2008, maka namanya diubah menjadi lebih mirip ke nama aslinya dalam Bahasa Perancis yaitu, Milou, yaitu Milo. Hal ini dilakukan sesuai dengan arahan dari penerbit dimana dia pertama kali diterbitkan, yaitu di Belgia oleh penerbit Casterman. Perubahan nama ini tidak cukup mengganggu bagi para pencinta komik ini yang baru saja mengenalnya, namun akan sedikit diperlukan penyesuaian bagi para penggemar lama komik ini.

Kapten Haddock
Kapten Archibald Haddock atau yang lebih dikenal sebagai Kapten Haddock dalam serial Tintin berbahasa Indonesia, adalah seorang pelaut kawakan yang memiliki garis keturunan tidak begitu jelas (Ia bisa memiliki darah orang Inggris, Perancis ataupun Belgia), adalah teman baik dari Tintin, dan karakter ini baru diperkenalkan dalam episode Kepiting Bercapit Emas. Pada awalnya ia memiliki jiwa yang sangat lemah dan memiliki ketergantungan yang teramat tinggi akan minuman keras beralkohol, namun lambat laun dia menjadi pribadi yang cukup disegani. Perubahan yang terjadi pada dirinya menjadi seorang yang berjiwa pahlawan dan setia kawan, dipicu oleh penemuannya atas harta karun dari leluhurnya, Sir Francis Haddock (François de Hadoque dalam bahasa Perancis) yang bisa dibaca dalam episode Harta Karun Rackham Merah. Rasa kemanusian si Kapten dan kata-katanya yang cenderung kasar merupakan pelengkap dari karakter Tintin yang terlalu sempurna untuk seorang manusia biasa, dimana si Kapten lebih terasa "manusiawi" dibandingkan Tintin. Kapten Haddock tinggal di suatu rumah yang sangat besar dan indah yang dikenal dengan nama "Marlinspike Hall" ("Moulinsart" dalam bahasa Perancisnya). Kapten Haddock mempergunakan berbagai bentuk rangkaian kata-kata umpatan untuk menyampaikan perasaannya yang sedang gundah ataupun marah, seperti "Kepiting Busuk!" (dalam bahasa Inggris: "Billions of bilious blue blistering barnacles!"), "Sejuta Topan Badai!" (dalam bahasa Inggris: "Ten thousand thundering typhoons"), "Buaya Darat!" ("troglodytes"), "bashi-bazouk", "kleptomaniak", "Cacing Kremi!" ("ectoplasm"), "sea gherkin", "anacoluthon", dan "Cacar Air!" ("pockmark"). Tidak semua ungkapan tersebut dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, dikarenakan perlu dicari padanan kata yang dapat mewakili ungkapan yang sama namun dengan tidak membuatnya menjadi kata makian yang kasar. Dalam artian ungkapan tersebut masih harus memiliki unsur artistik sehingga menjadikan tantangan tersendiri untuk menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kapten Haddock adalah golongan peminum berat, dimana seringkali dia amat menyukai minuman keras beralkohol dengan merek Loch Lomond whisky, dan kondisinya ketika mabuk seringkali dijadikan sebagai bumbu pelengkap dari serial ini. Hergé menyatakan bahwa nama depan dari Haddock diambil dari ungkapan dalam bahasa Inggris "a sad English fish that drinks a lot" yang secara harfiah dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi "Orang Inggris yang seringkali terlalu banyak minum minuman yang memabukkan". Haddock baru memiliki nama depan pada serial ini yang berhasil diselesaikan oleh Hergé berjudul Tintin dan Picaros (1976), dinama dalam cerita tersebut nama depannya adalah Archibald.

Thomson and Thompson
atau Dupont dan Dupond atau dalam bahasa Perancisnya bernama Dupont et Dupond, adalah dua orang detektif kembar yang seringkali berbicara tidak jelas satu sama lainnya dan suka memakai topi bundar yang dikenal dengan sebutan bowlers, serta yang sebenarnya tidak memiliki hubungan kekerabatan, namun seringkali kelihatan seperti orang kembar dimana perbedaan antara keduanya hanya terletak pada kumisnya. Detektif yang bernama Dupont, memiliki kumis berbentuk menyebar/membuka atau dalam bahasa Perancisnya adalah troussée. Sedangkan lainnya yang memiliki kumis berbentuk lurus atau dalam bahasa Perancisnya droite, adalah Dupond. Dalam edisi terbitan Indira nama mereka ialah Thomson dan Thompson. Mereka menghasilkan suatu "comic relief" sepanjang serial ini dan memiliki kebiasaan "spoonerism" dan secara keseluruhan menunjukkan ketidak mampuan mereka sebagai detektif. Karakter mereka didasarkan pada karakter dari ayah dan paman dari Hergé, dua kembar identik. Mereka diperkenalkan untuk pertama kalinya dalam seri Cerutu Sang Firaun, dimana dalam pertemuan awal dengan tokoh utamanya, Tintin, mereka mendapatkan tugas untuk menangkapnya untuk suatu tuduhan yang tidak benar.

Profesor Lakmus
atau aslinya dalam bahasa Perancis bernama Professeur Tryphon Tournesol (yang bisa diartikan secara bebas dalam bahasa Indonesia sebagai Profesor Bunga Matahari), adalah seorang absent-minded dan ahli fisika yang memiliki kekurangan pada pendengarannya, adalah karakter minor namun hampir selalu muncul bersama dengan Tintin, Milo dan Kapten Haddock. Dia pertama kali diperkenalkan pada seri Harta Karun Rackham Merah, dan karakternya sebagian didasarkan pada seseorang di dunia nyata dengan nama Auguste Piccard,[22] di mana keberadaannya kurang disukai oleh para karakter utama, namun karena keluruhan budi dan penguasaannya atas ilmu dan teknologi menciptakan hubungan yang langgeng dengan mereka. Dalam edisi bahasa Indonesia terbitan penerbit Indira, tokoh ini diberi nama Profesor Cuthbert Calculus. Nama Profesor Lionel Lakmus baru dilekatkan padanya pada penerbitan ulang serial ini oleh penerbit Gramedia. Penamaan dirinya dalam bahasa Indonesia ini selalu mengacu pada format aslinya yang berbahasa Perancis yaitu: jika namanya disingkat merupakan dua huruf yang sama. Sebagai contoh, dalam edisi bahasa Perancis namanya bisa disingkat menjadi Profesor TT (Professeur Tryphon Tournesol), dalam edisi bahasa Indonesia, Profesor CC (Cuthbert Calculus) (edisi terbitan Indira) ataupun Profesor LL (Lionel Lakmus). Dalam kisah ini, digambarkan bahwa ia tidak memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis, terkecuali pada Bianca Castafiore, sampai-sampai ia menciptakan bunga mawar khusus untuk sang diva yang terlihat dalam kisah Permata Castafiore. Beberapa penemuannya yang cukup spektakuler adalah:
* Membuat roket nuklir untuk pendaratan di bulan, 16 tahun sebelum pendaratan sebenarnya oleh Neil Amstrong.
* Menciptakan pesawat televisi berwarna
* Menciptakan kapal selam berbentuk ikan hiu yang akhirnya menjadi inspirasi dari kapal sejenis yang dibuat oleh Jacques Custeau, peneliti ikan hiu.

Bianca Castafiore
Dia adalah seorang penyanyi opera yang selalu dipandang rendah oleh Kapten Haddock. Walaupun begitu, dia hampir selalu muncul kemanapun para karakter utama pergi, dimana dia selalu ditemani oleh pembantunya yang setia Irma, seorang pianis, Igor Wagner. Pada dasarnya arti daripada namanya adalah "bunga putih yang suci, murni", sebagaimana yang dipahami oleh Profesor Lakmus ketika dia memberikan mawar putih kepadanya sebagai tanda ungkapan cinta rahasianya pada sang penyanyi dalam episode Permata Castafiore. Karakternya didasarkan pada diva dari pertunjukan opera secara umum (berdasarkan pada catatan Hergé), Bibi Hergé Ninie, dan juga post-war komik Maria Callas.

Tokoh - Tokoh Lainnya
Beberapa tokoh lainnya yang sering muncul adalah Nestor si kepala pelayan di Marlinspike Hall, Jendral Alcazar si Diktator dari Amerika Selatan, Jolyon Wagg seorang agen asuransi, Ben Kalish Ezab si Emir, Abdullah putra si Emir, Chang si bocah Cina, Müller si dokter berkebangsaan Jerman yang maniak dan Rastapopoulos si dalang kejahatan. Tidak ada pemain wanita yang muncul baik sebagai pemain utama maupun pemain pendamping, namun mereka muncul sebagai pemain pada latar belakang dari cerita.

Karakter kuat para tokoh tersebut diimbangi dengan lokasi yang membuat komik Tintin semakin seru karena seakan kita diajak untuk berkeliling dunia oleh Hergé. Dia berhasil menggabungkan dengan apik dunia nyata dan dunia khayal kedalam serial ini, dimana Belgia dijadikan sebagai negara dimana tokoh utama kita, Tintin, tinggal.

Dia tinggal di 26 Labrador Road, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Puri Moulinsart. Kemampuan Hergé dalam menggabungkan kedua dunia ini dapat diliat secara detail pada episode Tongkat Ottokar, dimana dia berhasil membuat dua negara khayalan(Syldavia dan Borduria) dan mengundang pembaca untuk mengikuti tour atas kedua negara tersebut melalui bacaan dalam bentuk brosur perjalanan yang dimasukkan dalam kisah ini. Beberapa negara khayal lainnya adalah San Theodoros, San Paolo dan Nuevo Rico di Amerika Selatan, Kerajaan atau daerah administratif Gaipajama di India dan Khemed di Timur Tengah. Selain itu dia juga menampilkan beberapa negara nyata seperti Belgia, Jerman, Swiss, Skotlandia, Inggris, Uni Sovyet (Rusia, sekarang), Amerika Serikat, Kongo, Peru, Mesir, Gurun Sahara, Indonesia, Tibet, Cina dan Jepang. Adapun lokasi lainnya yang diciptakannya adalah Bulan, dan dalam edisi awal dari episode Negeri Emas Hitam dia menampilkan negara Palestina, namun dalam edisi selanjutnya digantikan dengan negara khayalan dengan nama Khemed.

Nah, sampai sini masih ingin tahu lebih lanjut tentang Tintin dan Petualangannya yang seru? Kalau tidak, berarti memang cukup sampai sini tulisan ini saya tulis. Kalau iya, hehe tentu kalian sama seperti saya. Dibawah ini adalah ke-24 judul karya Hergé yang bisa kalian dapatkan hasil kerja sama Gramedia dengan Casterman ,induk penerbit di Belgia :

1. Tintin di Tanah Sovyet (April 2008 - hitam putih)
2. Tintin di Congo (April 2008 - Berwarna)
3. Tintin di Amerika (April 2008 - Berwarna)
4. Cerutu Sang Firaun (April 2008 - Berwarna)
5. Lotus Biru (April 2008 - Berwarna)
6. Si Kuping Belah (April 2008 - Berwarna)
7. Pulau Hitam (Mei 2008 - Berwarna)
8. Tongkat Ottokar (Mei 2008 - Berwarna)
9. Kepiting Bercapit Emas (Juni 2008 - Berwarna)
10. Bintang Misterius (Juni 2008 - Berwarna)
11. Rahasia Unicorn (Juli 2008 - Berwarna)
12. Harta Karun Rackham Merah (Juli 2008 - Berwarna)
13. 7 Bola Kristal (Agustus 2008 - Berwarna)
14. Di Kuil Matahari (Agustus 2008 - Berwarna)
15. Di Negeri Emas Hitam (September 2008 - Berwarna)
16. Perjalanan ke Bulan (September 2008 - Berwarna)
17. Petualangan di Bulan (Oktober 2008 - Berwarna)
18. Penculikan Lakmus (Oktober 2008 - Berwarna)
19. Laut Merah (November 2008 - Berwarna)
20. Tintin di Tibet (November 2008 - Berwarna)
21. Permata Castafiore (Desember 2008 - Berwarna)
22. Penerbangan 714 ke Sydney (Desember 2008 - Berwarna)
23. Tintin dan Picaros (Januari 2009 - Berwarna)
24. Tintin dan Alpha-Art (Januari 2009 - Berwarna)



Oke demikian review ini saya postingkan. Semoga bisa bermanfaat bagi kalian yang baru menjadi penggemar Tintin seperti halnya saya hhehehe.


*Mohon maaf jika ada kesalahan.

Senin, 01 Agustus 2011

Kasih Ibu


Ada sebuah lagu yang sering gue nyanyikan di kala masih kecil. Begini syairnya,

'Kasih Ibu, kepada beta.
Tak terhingga sepanjang jalan.
Hanya memberi tak harap kembali.
Bagi sang surya menyinari dunia.'

Itu lirik lagu yang gue maksud. Judulnya agak lupa tapi intinya tentang kasih seorang ibu. Sampai ada iklan yang menayangkan lagu ini dinyanyikan oleh seorang anak kecil berambut panjang berponi sambil digandeng ibunya. Si anak ragu - ragu sama lagu itu tapi kemudian ibunya meyakinkan dan ngajak si anak ke warung beli kecap seharga seribu! SERIBU mamen! Hanya dengan seribu rupiah si Ibu bisa menunjukkan kebaikan hatinya yang tak harap kembali kepada si anak. Sekarang kalau si Ibu bayar pakai duit gocengan terus beli kecap cuma satu bungkus, masa iya kembaliaannya gak diminta? Kadang iklan emang kacau dan seenaknya dalam menganalogikan sesuatu. Jujur gue suka bete kalau lihat iklan di TV.

Bicara soal kasih ibu memang gak ada habisnya. Bahkan ada istilah orang jaman dulu, kalau surga itu ditelapak kaki ibu. Kalau kaki ibunya jamuran, kudisan, kurapan, kasian banget deh surga si anak pasti jelek banget isinya.

Oke lanjut mengenai cinta seorang ibu ke anak. Gue agak gak begitu percaya dengan syair lagu yang gue suka nyanyiin itu di masa kecil. Karena makin gue pikirin dengan kenyataan yang ada di sekitar gue makin gak sinkron kadang - kadang. Contoh kasus yang bikin gue malah jadi merinding kalau inget lagu ini adalah ketika banyak kejadian di TV seorang ibu yang tega membunuh anak kandungnya sendiri dengan berbagai alasan. Ada yang karena alasan ekonomi yang carut marut, karena ditinggal suami, bahkan ada yang beralasan karena memang benci sama anaknya sendiri. Olala, dunia ini sudah edan atau lagunya aja yang salah? Gue bener - bener gak ngerti. Kenapa bisa diciptain lagu kayak begitu kalau gak semua Ibu bisa mengasihi anaknya tanpa pamrih? Gue inget kata - kata dosen Pengantar Ilmu Komunikasi gue, Pak Riswandi. Beliau bilang "Teori muncul karena ada fenomena, maka teori bisa salah tapi fenomena tidak." Nah lho? Berarti artinya lagu "Kasih Ibu" bisa aja jadi salah seiring dengan berjalannya waktu? Nah lho? Gue jadi pinter kan, bahaya.

Ibu gue yang biasa gue panggil mama, adalah salah satunya. Dulu gue bisa dibilang penggemar fanatik beliau yang terus - terusan muji betapa mulianya hati mama. Dia begitu baik dan penyabar, tapi tentu sama anaknya. Anehnya, ketika gue semakin besar dan makin banyak fenomena di kepala gue soal perilaku mama, gue jadi curiga. Mama beneran sayang tanpa pamrih gak sih sama gue?

Gue mulai berteori dan mencari - cari semua hal yang ada kaitannya antara gue dan mama. Sampai akhirnya gue mulai berteori dan teori gue begini: Mama bisa sayang tanpa pamrih ke anaknya kalau anaknya bisa menjadi anak yang baik dan bermoral. Hmmm justru tampak pamrih yah? Ya begitulah kesimpulan awal gue soal kasih sayang mama gue sendiri yang gue coba definisikan. Gue mulai membayangkan, apa jadinya cinta yang mama berikan kalau seandainya gue adalah anak berandalan. Gue anak pembangkang yang gak pernah mikirin masa depan, gue anak yang gak kritis dan menerima semua ajaran tanpa mau membedah lebih dahulu, gue anak yang gak tahu diri yang bisa ngambur - ngamburin duit orang tua tanpa jelas dikemanain duitnya, gue jadi anak yang hobi dugem dan merokok kayak cewek - cewek jaman sekarang. Hmmmm, gue makin mikirin ini dan gue jadi ragu. Kayaknya mama gak mungkin bisa sayang sama gue seperti sekarang ini. Jadi kesimpulan gue adalah, mama bisa menyayangi gue tanpa pamrih lebih kepada alasan karena gue bisa jadi anak manis yang kritis dan bermoral selama 20 tahun kehidupan gue.

Kalau begitu dimana sebuah cinta yang real, hakiki, tanpa syarat apapun kalau ternyata seorang ibu aja gak bisa berikan. Bagaimana dengan teman? Banyak yang bilang teman sejati ada di dalam suka maupun duka. Tapi benarkah demikian? Apa mungkin seorang teman bisa berlaku tanpa pamrih sedikitpun dengan kita? Jawabannya pasti tidak. Taruhan sama gue kalau kalian bisa menemukan seorang saja teman yang bisa menyayangi kita tanpa pamrih sedikitpun.

Bagaimana dengan seorang ayah? Hmmm. Memang banyak sih cerita yang menggambarkan kemuliaan hati seorang ayah dalam melindungi anaknya. Bisa kita lihat di film - film barat deh, bisa disimpulkan sosok seorang bapak begitu mulia. Tapiyy, benar begitu gak sih? Didunia nyata banyak sekali seorang bapak tega meninggalkan anak istrinya karena sudah mendapatkan wanita lain yang 'dicintainya'. Walau 'dicintainya' ini sebenarnya dalam konteks yang ambigu. Antara benar cinta atau nafsu? Karena kalau memang berdasarkan cinta, seorang bapak dan suami tidak mungkin tega meninggalkan keluarga demi orang lain.

Kasih sayang tanpa pamrih itu sulit didapat. Mungkin bisa dilihat dan dirasakan ketika seorang ibu melahirkan buah hatinya dengan penuh perjuangan. Tanpa minta apapun seorang ibu bertarung bersama maut untuk mengeluarkan bayi mungil. Namun, kalau dipikir sebenarnya mungkin bukan karena si Ibu mau melahirkan bayinya dan tidak minta balasan apapun, tapi lebih kepada si ibu tidak punya pilihan sama sekali. Perutnya sudah semakin besar dan membawa si bayi dalam kandungannya seringkali membuat punggungnya sakit dan pegal. Tidak mungkin Ibu mempertahankan bayi didalam perutnya yang begitu membuatnya menderita. Maka mau tidak mau, sang bayi yang keriput itu harus dikeluarkan Ibu dengan sekuat tenaga meski meregang nyawa.

Lantas dimana bisa kita temukan kasih sayang tanpa pamrih hingga seseorang mampu mengorbankan hidupnya demi orang yang dikatakan sebagai, dicintainya? Sulit sudah pasti. Namun, tidak menutup kemungkinan bila memang salah satu dari kita bisa menemukan orang yang memiliki hati mulia seperti itu. Tanpa pandang bulu dan pilih - pilih, orang tersebut berusaha agar setiap orang yang dicintainya bisa hidup bahagia dan bebas dari penderitaan. Kasih sayang tanpa syarat? Cukup sekian dan terima kasih.

Rabu, 27 Juli 2011

Aku Ingin Belajar


Aku ingin belajar santun dari rumput liar.
Meski dunia begitu luas terhampar dihadapannya,
ia tetap setia pada tanah tempatnya tumbuh.
Walau akar masuk hingga ke perut bumi,
ia tetap bertahan ditempatnya hidup.

Aku ingin belajar bahagia dari anak - anak.
Kesedihan tak pernah ada dalam pemahamannya.
Tawa dan senda gurau berjaya dalam bawah sadarnya.
Mereka hanya mengerti kegembiraan, tak ada yang lain.
Seringkali bertengkar dalam permainan melingkar,
tak sedikitpun kebahagiaan buyar.

Aku ingin belajar bersyukur dari si miskin.
Baju kumal, muka tercoreng lumpur,
bahkan harus makan dari pembuangan sampah.
Ia tetap mampu tersenyum.
Tersenyum pada seonggok nasi bungkus yang ditemukan dipinggir jalan.
Tersenyum pada dunia dan berharap esok masih ada hari untuk menemukan makanan sisa.

Aku ingin belajar cinta kasih tanpa syarat dari Sang Guru.
Yang walau dicaci, dicerca, bahkan dipandang sebelah mata, tetap mampu bertahan dalam diam.
Menulusup ke untaian kelahiran dan mengerti konsep sebab - akibat.
Mengajarkan kebencian hanya akan sirna jika dibalas dengan kebaikan hati dan keikhlasan.

Kini aku berdiri disini dalam sebuah renungan dan pengamatan.
Mencoba mengerti walau sulit diteliti oleh akal.
Memilih apa yang pantas dipilih.
Melihat apa yang dilihat.
Mendengar apa yang didengar.
Aku tetap tak bergeming.

24 Jam


Banyak manusia telah menyakinkan bahwa 24 Jam dalam sehari tak lagi cukup menemani hidup.
Dulu aku sempat geli dengan pernyataan tersebut dan mulai berteori bahwa hanya orang - orang bodoh saja yang hidupnya bisa disetir oleh waktu.
Namun, kini aku sama bodohnya dengan orang - orang yang kuanggap bodoh dikala itu.
24 Jam ternyata tak cukup untuk dilalui.

Bangun tidur dipagi hari, pergi bekerja hingga petang hari lalu kembali pulang kerumah. Di malam hari hanya bersantai atau mungkin bercengkrama dengan orang tua kemudian tidur kembali untuk istirahat memulai aktifitas yang sama lagi dihari esok.

Aku sudah terkukung dan terpasung oleh persepsi masyarakat mengenai 'keharusan' menjadi orang dewasa. Siapa yang mengharuskan? Tak ada yang tahu namun ironisnya semua orang menjalani rutinitas yang bahkan pencetusnya saja tidak ada yang ingat.

Apa yang sebenarnya dicari oleh orang - orang super sibuk itu? Apa pula yang dicari oleh gembala - gembala dan pedagang itu? Apa yang dicari oleh para pejabat itu? Apa yang dicari oleh para karyawan swasta itu? Apa yang dicari oleh semua orang? Apa? Apa yang dicari oleh ku dari 24 Jam itu?

Waktu seakan sesuatu yang ditakuti oleh banyak orang. Mereka tak menyembah sang waktu akan tetapi sudah jelas hidup mereka penuh dengan 'deadline'. Artinya semua sudah ada jadwalnya. Waktu yang telah menjadi penentu kehidupan mereka.

24 Jam telah membius aku, kamu, kita, mereka, kalian pula. Menganggap bahwa dunia hanya bisa dijelajahi oleh waktu. Memakai batasan waktu sebagai tolak ukur ternyata hal paling naif yang pernah terlintas dalam alam pikiran ku ini.

Lantas apa itu waktu? Mengapa 24 Jam dalam sehari terasa begitu mengikat alam pikiran hingga nyaris membuat gila? Bagaimana bisa segala hal menjadi tampak tergesa - gesa dan tak biasa? Waktu itu apa? Waktu itu siapa? Efeknya mampu membuat sengsara.

Disini aku duduk termenung. Ditemani setumpuk pekerjaan yang menggangap bahuku tempat yang pantas untuk menopang beban. Hidupku tak lagi sama dengan kemarin kemarinnya lagi dan kemarin kemarin. Ahh semua masih saja terhubung 'waktu' dan akan selalu dihubungkan dengan 'waktu'. Sampai kapan aku bisa terdiam hanya mengamati tanpa mencari tahu apa itu waktu? siapa itu waktu?

Kamis, 21 Juli 2011

Kenapa harus punya pacar?



Banyak orang bertanya sama gue.

"Ya lo kenapa gak punya pacar?"

"Ya cowo lo anak mana?"

"Ya malem mingguan sama siapa?"

atau bahkan ada yang bilang

"Ya, kenapa sih gak terima aja cowo yang suka sama lo. Lo mau apa jadi perawan tua lantaran pilih - pilih sampe seumur sekarang?"

What the hell yeah!!!! I'm 20 years old right now and I'm still young!!

Kenapa sih orang - orang itu? Jujur gue gak ngerti dengan pandangan masyarakat pada umumnya yang terikat sama suatu "KEHARUSAN" yang sebenarnya gak "HARUS" dilaksanakan. Gue tau, punya pacar itu sah. Tapi, sejak kapan punya pacar menjadi semacam KEWAJIBAN diantara masyarakat kita yang demokratis ini? Apa menurut mereka, punya pacar itu wajib di usia - usia seperti gue ini?

Jawabannya absolutly NO!

Punya pacar itu pilihan bro. Setiap orang berhak memilih apa yang menjadi keputusan terbaik didalam hidupnya. Dan dalam sudut pandang gue, sungguh lucu ketika dengan gamblang gue bilang keseluruh dunia kalau gue Single dan gue gak suka pacaran tapi orang malah terheran - heran sama keputusan gue ini.

Yaiiikksss, apa yang salah????!!

Sekarang gini coba kalian pikirkan secara matang. Pemikiran yang berdasarkan pandangan luas mengenai kehidupan, bukan pemikiran dangkal yang dipasung sama hasil konvensi masyarakat.

Lo masih muda, masa depan lo masih terbentang luas diantara banyaknya pilihan yang bisa dengan mudah lo pilih. Lo punya banyak angan - angan dan ekspektasi didalam kehidupan lo. Lo punya target - target yang harus lo capai demi meningkatkan kualitas kehidupan lo. Dari sini kemudian lo berpikir bahwa, kenyataannya punya pacar tak seindah dibayangannya. Kenapa? Ketika lo punya pacar lo berarti memiliki lagi satu beban moril didalam hidup lo. Kenapa beban?

Banyak orang naif didunia dengan bilang bahwa dengan berpacaran lo bisa berbagi suka duka dan beban. Jawaban yang salah total! Sejak kapan, segala masalah dalam hidup lo bisa dilimpahkan begitu aja ke orang lain yang dikatakan sebagai 'Pacar'? Sejak kapan sebuah beban dalam hidup lo bisa dibagi dua dengan orang lain padahal sudah jelas segala hal hanya akan terselesaikan oleh diri kita sendiri. Inilah yang salah dari pemahaman orang. Orang terlalu terkungkung kuat oleh keinginan - keinginan hingga akhirnya merasa bahwa itu sebuah kebutuhan lalu bertransformasi menjadi kewajiban. Sungguh lucu.

Keputusan untuk menjadi "SINGLE" merupakan keputusan mudah, namun bukan keputusan main-main. Berdasarkan hasil pengamatan gue yang lalu gue cerna dalam sel - sel otak gue, bisa dikatakan hampir 80% orang yang punya pacar itu hidupnya gak bahagia? Hmmm, gak percaya? Lets think about this..

Ketika seseorang memutuskan pacaran, mereka pasti berharap sebuah kebahagiaan bisa hadir dan bertambah lengkap. Ketika seseorang diterima cintanya oleh orang lain betapa bahagianya dan dunia serasa luar biasa indah. Padahal coba pikirkan lagi.

Saat lo berpacaran, sesungguhnya perasaan gembira dan menggebu-gebu yang lo rasakan hanyalah sebuah kebahagiaan semu. Maksudnya? Ya, kebahagiaan yang bukan rasa bahagia sesungguhnya, bukan yang sejati. Semua rasa itu merupakan sebenarnya adalah (tarik nafas dalam - dalam) PENDERITAAN yang diperhalus! Wait, gue yakin banyak yang gak setuju. Tapi inilah kenyataannya.

Mungkin lo bisa tertawa gembira dengan pasangan lo dan merasa bahwa hidup lo lengkap. Tapi pernah bayangkan kalau tiba - tiba hal yang menyedihkan menimpa kebahagiaan kalian? Secara tiba - tiba dia yang lo cintai pergi meninggalkan lo demi kekasih yang lain. Dia yang lo sayangi seketika saja berubah dan bersikap acuh. Dia yang lo kasihi tiba - tiba pergi meninggalkan lo selamanya dan tak pernah kembali. Apa yang akan lo rasakan? Hancur.

Itukah kebahagiaan yang sejati? Gue rasa lo sendiri tau jawabannya. Semua penderitaan, hanya saja derita yang berbaju indah atas nama bahagia. Membuat siapa saja lupa daratan, lupa akan esensi kehidupan yang sebenarnya, lupa semuanya. Dan itulah yang membuat gue sampai pada titik dimana pertanyaan ini selalu muncul dalam benak gue,"kenapa harus punya pacar?"

Semua manusia bahkan makhluk apapun juga, selalu melangkah dalam rangka mencari kebahagiaan. Entah dengan cara apapun dan mungkin merugikan makhluk lain tapi sebenarnya semua bertujuan mencari kebahagiaan. Begitu juga dengan keputusan yang diambil oleh lo semua yang punya pacar. Pasti pacaran ditujukan demi mencari kebahagiaan, mencari pelengkap kehidupan. Gue gak melarang orang - orang untuk pacaran, sebab itu adalah hak dan tentu sebuah keputusan yang gue hormati untuk siapapun juga. Tapi, mulai saat ini mulailah berpikir bahwa berpacaran bukanlah bertujuan melengkapi kehidupan lo. Bukan sebagai tujuan prioritas dalam hidup lo. Justru jadikan pacaran sebagai modal lo didalam menjalani kehidupan yang penuh derita ini. Dengan pacaran lo akan belajar bagaimana caranya memberi tanpa harap meminta. Dengan pacaran lo bisa banyak belajar bagaimana rasanya disakiti hingga lo gak mampu lagi untuk tersenyum namun dengan ikhlas lo maafkan mereka yang menyakiti lo. Itulah tujuan pacaran yang sebenarnya.

Gue disini, masih mengetik blog gue ini dan sambil terus berpikir tidak enaknya memiliki ikatan dengan orang lain. Bukan berarti gue bukan makhluk sosial, hanya saja gue belajar banyak dari banyak orang mengenai sebuah keterikatan itu haruslah dikikis demi menuju kebahagiaan yang sejati. Begitu pula dalam hubungan pacaran. Bukan agar hidup lo menjadi lengkap dengan memiliki kekasih tapi lihatlah dunia secara sadar! Rasa ingin memiliki pacar karena kesunyian hati hanyalah manipulasi dari hasrat keinginan dan terus akan menjadi belenggu ketika kita tidak mau 'melihat' sebuah keindahan kesendirian didalam kehidupan ini.

Selasa, 19 Juli 2011

Jamur Vs Cicak

Halooooo
Haiiii
Selamat siang...

Sejujurnya gue masih gak tau harus memulai menulis Blog itu gimana. Sapaan apa yang cocok dan gak norak norak amat, tapi berhubung dari sananya gue udah norak jadinya yah maaf kalo tiap gue baru posting, sapaan gue rada norak.

Sorry, gue mau minta maaf kalo kemaren gue nulis Blog-nya cuma setengah gitu. Awalnya niat gue mau lanjutin lagi dibawah *Bersambung. Tapi berhubung kerjaan gue kayak kuli beras jadinya gue gak bisa lanjutin Blog-nya dan gue ngelanjutin gawean gue kemaren.

Hari selasa ini gak jauh beda sama hari senin kemaren. Ngebetein dengan kerjaan banyak kayak tukang gali kuburan. Gue gak tau hubungannya apa jadi gak usah nanya lebih lanjut. Sisa perjuangan gue kemarin belom tuntas lantaran jam kerja gue udah mengharuskan gue pulang tapi kuota kerjaan masih banyak. Jadi hari ini masih lanjutin yang kemarin.

Berhubung gue tadi udah kelaperan kayak bayi kucing minta berak, makanya gue langsung bernafsu berhasrat untuk buka bekel gue hari ini. Maklum aja, walaupun udah berbulu hidung, berbulu ketek, dan bulu - bulu lain yang gak bisa gue sebutkan satu persatu, bagi gue masakan nyokap itu nomer satu enaknya. Gak ada tandingannya!!!!!!

Bau aroma acar dan nasi goreng nampol nampol hidung gue yang kata temen gue kayak pare. Gue udah gak sabar dan rada bengis kalo nyium yang enak enak. Ternyata nyokap gue bawain gue makanan lain. Gue buka bungkusnya pas gue perhatiin ada yang salah dari makanan ini.

Makanan yang gue maksud adalah Jamur. Sejenis jamur apa gue gak tau yang jelas yang warnanya putih dan bukan jamur panu pastinya. Jamurnya di goreng dan endingnya berbentuk crispy dan rasanya enak. Gue doyan banget makanan ini dan selalu minta tambah klo nyokap gue bikin dirumah. Tapi gak tau kenapa siang ini gue merasa ada yang aneh dari jamur crispy ini. Setelah gue amatin, ternyata benar! Gue langsung merinding disko. Bentuknya kayak CICAK!!!!!

Ya CICAK!!!!!!! CICAK!!!!!!!! CICAKKKKKKKKKKKKKKK!!!!

Binatang reptile musuh bebuyutan gue dari jaman perang lawan belanda!!!!! Gue benci banget sama hewan yang satu ini.. Kalo boleh gue pengen ngelarang Tuhan nyiptain tuh makhluk tapi gue yakin gak bisa, malah nanti gue yang dikutuk jadi CICAK!!!!

Jamur crispy nyokap gue mirip banget rupa bentuk dan suaranya mungkin klo bersuara, sama CICAKKKKK!!! Gue geli. Klo gue gak makan gue durhaka dan nanti masuk neraka gara - gara gak makan masakan mama gue. Tapi klo gue makan, gue bimbang nanti ternyata gue emang salah gigit taunya itu cicak beneran.

Dilema sungguh dilema..

Gue bagaikan tanpa daya ditengah ombak raksasa..
Gue bagaikan tertiup angin puyuh dari Ethiopia...
Gue bagaikan kesamber halilintar di Dufan..

45 Menit kemudian..


Nasi goreng acar --- Habis
Jamur Cicak ---- Gak bersisa..

Udah kebukti, segeli apapun gue sama makanan, gue tetep rakus.

Hikkkkssss

Senin, 18 Juli 2011

I HATE MONDAY

Hari ini hari senin. Entah mengapa pengaruh "I HATE MONDAY" selalu menyerang gue dari jaman gue kerja di Bank sampai jaman gue kerja di tempat ini (tempat yang lama - lama bikin gue jamuran). Senin selalu sukses bikin gue bete, gundah gulana, ingin berlari, depresi, dan segala macem ke-LEBAY-an yang ada di muka bumi ini. Gue merasa hari ini gue bagaikan setumpuk sampah gak berguna yang hidup di tengah - tengah lumpur isap. Gue sebenarnya gak tau gimana rasanya hidup di lumpur hisap tapi pokoknya gue merasa hidup gue bener - bener gak enak banget! (gak usah bilang tambah garem biar enak!).

Pagi hari gue udah nyampe kantor karena beruntungnya gue bisa nebeng sama seorang cowok (yang gue gak perlu gue sebut identitasnya karena nanti malah bakal nyeritain doi). Dengan perasaan bahagia, gue melangkah masuk ke kantor gue yang letaknya di daerah super-gersang yang pernah gue singgahi selama hidup didunia ini. Gue berharap akibat penyakit flu gue ini dan gue udah gak masuk di hari jumat kemarin, setengah pekerjaan gue udah beres total dan gak ada lagi yang menumpuk di laci. Tapi inilah yang akhirnya gue jadi bawahan terus. Dengan tampang bego gue masuk ruangan kerja gue n mandangin meja gue yang SUPER BERANTAKAN!! BENER - BENER BERANTAKAN!!!!

Gue gak abis pikir dan gue shock serta nyaris pingsan! Gue yang abis sakit dan terkapar dihari jumat kemarin harus menghadapi cobaan hidup yang begitu berat dan menyedihkan ini *backsound mellow.

Gue pengen ngamuk rasanya dan gue pengen obrak abrik seluruh isi meja itu sampe meja meja yang lain biar begitu bos gue dateng, beliau bisa lihat betapa 'SAKIT'-nya gue. Kepala gue masih kleyengan dan seluruh kertas di meja makin bikin gue tambah kleyengan. Gue sukses benci hari ini lagi. "I HATE MONDAY" yaiikkss..

Alhasil saat ini gue masih mengerjakan segala tetek bengek (gue gak paham sama kata - kata "tetek bengek", udah jelas - jelas itu dua kata yang menunjukkan benda yang berbeda tapi kenapa disatuin dan bisa punya arti? tetek lu tau sendiri gak perlu gue jelasin artinya apa, pokoknya menunjukkan sebuah benda yang sangat disukai oleh anak - anak balita dan pria dewasa (mungkin pria dewasa ini gak ngalamin masa - masa anak - anak kali yah). Lalu bengek menunjuk arti kalo lo lagi ingusan parah banget sampe gak bisa napas dan setiap saat dari hidup lo keluar semacam lendir menjijikan yang warnanya bervariasi bisa kuning kental, hijau tosca, putih, bening, kecokelatan, dan mungkin merah kalau sampe parah (sumpah gue enek bayangin ini semua). lihat kan? betapa anehnya bahasa kita ini.

Gue beneran udah mulai merasakan gejala mual kayak ibu - ibu yang lagi hamil 3 bulan. Kerjaan ini, mulai dari bikin print budget, bikin memo, bikin PO, bikin surat surat, sampai harus tau jadwal bos gue pergi kemana - mana.. Puuiihh... Pekerjaan yang campur aduk... Antara Sekretaris dan Admin, gue gak tau pasti tapi yang jelas gaji gue cuma buat gaji satu orang doank.. Hiikkkksssssss..

Sekarang jam 12, saatnya makan siang.. Gue out dulu, nanti gue lanjut lagi.. Okee...

Selasa, 28 Juni 2011

Dalam Tidurmu

Kau terlelap di kegelapan malam. Separuh bagian dari rambut indahmu itu berpindah ke satu sisi saat kau tidur miring. Tanganmu ingin menggenggam sesuatu namun tak dapat mencapainya. Nafasmu berat seperti habis terisak. Aku tahu, kau sama sekali tidak terlelap sejak daritadi. Kau terjaga, selalu terjaga disetiap waktu istirahatmu. Ragamu memang dalam posisi terbaik untuk tidur, tetapi pikiranmu berlari, terus menjauh dari kenyataan yang kau jalani.

Atau sebenarnya inilah hidup nyatamu? Waktu 8 jam untuk tidurmu kau habiskan untuk dunia yang kau anggap mencintaimu seutuhnya. Dunia yang kau pikir hidupmu yang sejati. Hapus air matamu. Aku ingin memeluk batinmu yang sunyi itu. Aku ingin kau tahu aku selalu memperhatikanmu. Kemarilah, mari kita telaah sejauh apa kau berlari masuk ke mimpimu.

Pundakmu indah tak pantas menopang berat beban batinmu. Aku tidak menyalahkanmu yang terlalu menginginkannya. Namun, kau harus ingat. Kamulah keindahan nyata yang tak pantas dibagi. Kau adalah hidup bagi yang lain. Bukankah pikiran akan bahagia jikalau mampu melepas? Aku yakin kamu sedang merana.

Kamu bergerak sedikit. Hatimu miris seperti diiris pisau yang sangat kecil dan sangat tajam. Harus kepada siapa kamu membagi gundahmu. Kau sembunyikan semua dengan sangat rapi sehingga mungkin rayap akan berhenti makan kayu saking terkejutnya tahu isi hatimu. Dia yang tak layak untuk dicintai telah menjadi bagian dari hidupmu.

Kamu berusaha mengingat segalanya. Kamu berjumpa dengannya pertama kali saat kalian masih duduk dibangku sekolah. Saat itu kalian dipertemukan dalam satu kegiatan diluar jam sekolah. Kalian tidak saling kenal bahkan tahu nama saja tidak. Waktu terus berjalan tanpa ekspektasi dalam dirimu untuk mencoba mencari jiwa yang searah. Sebab kau angkuh. Kau terlalu tidak butuh siapapun. Kau mampu berdiri sendiri walau seandainya kakimu hanya satu. Sampai akhirnya D-I-A menitipkan salam padamu.

Teman-temanmu bilang dia terus memperhatikanmu dan bahkan ingin menjadi bagian dari hidupmu. Kau tertawa. Tawa geli dan lebar seperti biasanya yang kau lakukan jikalau ada yang menyukaimu. Kau tak percaya dengan hal-hal yang berhubungan dengan diluar pemahaman logika. Bagimu, jiwamu utuh, bebas, tak akan mungkin terikat oleh hal cengeng soal ingin memiliki. Namun, dia terus memperhatikanmu. Segala gerak gerik diawasi, hingga siap untuk mengetuk hati kecilmu dengan usahanya yang terakhir. Dia berhasil, kau kalah. Kau membuka pintu itu. Pintu yang kau tutup rapat sejak kau lahir ke dunia. Pintu yang kau persiapkan hanya untuk tamu istimewamu suatu hari nanti. Dia yang kau pikir hanya manusia biasa tanpa sedikitpun keistimewaan telah berubah jadi tamu yang kau nanti.

Itu adalah hari-hari terindahmu. Hari yang sangat baru untukmu. Tidak pernah kau merasakan gejolak seperti saat itu. Kau muda, pintar, sangat disayang oleh kekasihmu, disayang oleh teman-temannya, dan kau merasa hidupmu lebih berwarna. Kau menjadi bagian dari hidup nyatanya. Kau dibutuhkan dan selalu dirindukan. Kau seperti seorang yang haus akan kenikmatan kasih sayang yang sebenarnya telah kau dapat dari keluargamu yang tulus tanpa minta balasan. Tapi, kamu buta akan cinta yang kau definisikan menjadi sempit dan dangkal. Kamu hanya tahu, Kamu ingin dia selalu didekatmu begitu pula sebaliknya. Tak ada lagi keindahan dimatamu selain didalam dirinya.

Begitu kuatnya rasa gejolakmu hingga membutakan batinmu. Kau telah banyak berubah. Kau telah menjadi monster bagi hidupmu sendiri. Berubah menjadi makhluk arogan penguasa yang terus haus akan keterikatan. Kau merasa Superior, dipuja, sangat disayangi oleh dia. Kau tidak menyadari kau salah langkah. Sering kali kau berucap kasar padanya, sering kali kau meninggalkan dirinya dengan caramu yang paling tidak elegan. Kesombonganmu telah berlipat ganda. Kau bukan lagi dirimu yang berbelas kasih.

Malam semakin larut. Kau masih belum mengantuk. Kau masih melihat dengan jelas ingatan-ingatanmu itu. Begitu sunyi sampai kamu bisa mendengar hati kecilmu menjerit. Kamu tetap tidak mau kembali ke alam nyata tempat kamu melanjutkan hidupmu. Kamu terlalu berat melepas semua.

Ketika kamu diliputi oleh perasaan bersalah, sudah tahu kamu tidak berada dijalan yang diajarkan oleh keyakinanmu, dia telah menyusun rencana. Dia yang kau pikir selalu menerima tulus sikap burukmu, mampu menyakitimu. Sakit hati dan kenangan buruknya tentangmu membuatnya jadi manusia paling keji yang kau kenal. Dia berusaha membunuh batinmu pelan-pelan. Berkali-kali dia khianati dirimu. Dia mencari kekasih yang mampu memuaskannya. Berganti pasangan layaknya mengganti pakaian.

Kau menangis dan berkali-kali memaafkannya. Bagimu, cinta adalah memaafkan walaupun banyak yang bilang kau buta, dalam sanubarimu kau merasa sangat bersalah dan ingin berubah. Kau menghukum dirimu sendiri. Kau terima segala kejahatannya untukmu. Kau terima segala perubahan drastisnya. Dia sudah tidak ada untukmu. Dia sudah jauh meninggalkanmu. Dia pergi begitu saja dan lebih memilih hidup yang lebih kelam. Dia memilih dunia yang berbeda dengan kamu. Dia menjadi sosok yang pantas menjadi hinaanmu dulu ketika kalian masih bersama. Dia bukannya merubah diri menjadi lebih baik, tapi justru seperti mengabulkan segala kata-kata kasarmu layaknya perwujudan dari sebuah doa.

Kamu terhenyak dalam lamunanmu. Semua telah terlanjur dan hidup harus dilanjutkan. Air mata terus menemani hari-harimu meski tak terlihat. Hanya kamu yang tahu rasa perihnya. Kamu ingin lepas tapi disisi lain kamu menikmatinya. Ini satu-satunya cara kamu berjumpa dengannya. Bagian jiwamu yang liar dan tak mau diatur sering kali menguasaimu. Kau terus menerus menghubunginya dan bagi dia kau layaknya gumpalan hama yang tak bisa diam selalu menganggu. Kau selalu ingin tahu kekasih-kekasihnya dan selalu berhasil membuat dia kehilangan kekasih-kekasihnya. Sedikit rasa puas menggerogoti alam pikiranmu. Kau jadi pecandu untuk menghancurkan hubungan yang tak kau restui.

Dia kehilangan akal sehatnya. Kata-kata cintanya yang dulu sudah tidak berlaku lagi. Dia masih jelas mengingat kata-kata kasarmu dulu dan menjadikan alasan bagi tindakan kejinya sekarang. Dia benci kau selalu mencampuri hidupnya yang dia banggakan itu. Dia mengatakan kepada separuh dunianya bahwa perpisahan kalian dikarenakan perbedaan keyakinan yang kalian pilih. Yah keyakinan. Dia mengatakan kepada dunianya, bahwa dia telah kau bohongi. Kau jujur soal perbedaan keyakinan kalian ketika dia terlalu jauh bersamamu. Lucu. Sungguh ironis.

Kamu berusaha mengingat kata-katanya. Tak pernah sekalipun ia keberatan dengan perbedaan keyakinan kalian. Dia selalu memastikan dia mencintaimu apa adanya tanpa melihat perbedaan itu. Baginya, berbeda membuat kamu dan dia solid, tercampur utuh dalam perbedaan. Dia bohong. Ternyata selama ini dia berbohong. Keyakinan yang tak sama ini terlalu berat untuknya. Kamu baru sadar dia tidaklah berbeda dari kebanyakan orang di dunia ini. Hatimu mencelos.

Apalagi yang kau harapkan dari duka dan perih lukamu? Kamu terlalu naïf. Dunia nyatamu sudah didepan mata! Kau malah menutup mata dan menyumbat telingamu dengan angan-angan yang kau lukiskan sendiri. Kau merasa dia juga merasakan rasa yang sama sepertimu. Aku iba padamu. Aku ingin menolongmu jikalau aku mampu. Tidakkah kau sadar bahwa sudah jelas tak ada konsepsi mencintai dalam dirinya?! Jika dia mencintaimu, C-I-N-T-A padamu, dia tak mungkin membalas tindakan salahmu yang dulu, dengan caranya yang terus menyakitimu! Dia tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja demi dunia kelam yang dia pilih sekarang! Dia akan menerimamu meski kalian berbeda! Dia pasti hari ini akan ada disampingmu. Menemani hari-harimu, tertawa bersamamu, dan memaafkanmu sepenuh hatinya.

Tidakkah kau juga sadar bahwa kau telah masuk kedalam permainannya? Dia telah berhasil membuatmu merasa sangat berdosa dan menikmati kau menghukum dirimu sendiri! Dia jelas tidak pernah mencintaimu. Dia hanya terobsesi padamu. Obsesi yang tak sesuai harapannya. Dia kecewa kau terus menyakitinya. Dia tidak belajar mencintaimu maka dari itu dia pergi dan tidak berusaha kembali. Terlalu banyak alasan untuknya ketika kau memintanya kembali. Jangan kau sakiti hatimu dua kali. Terima saja kenyataannya.

Mentari mulai merayap masuk. Mengganti kegelapan dengan cahayanya. Kamu masih belum juga tertidur. Kamu masih menikmati hidup dalam alam pikirmu sendiri. Aku sudah lelah meyakinkanmu. Mungkin ini pilihan yang kau ingin jalani. Tak pernahkah sedikitpun kau beri kesempatan pada yang lain yang ingin mengetuk hatimu? Aku tahu. Kunci mungil itu tidak kau berikan padanya. Hanya saja kau belum sadar kalau kau yang masih menggenggamnya. Aku akan menunggumu sampai kau menyadarinya.

Tiba-tiba kau tersenyum. Secerah cahaya pagi yang menerobos masuk lewat jendela kamarmu. Senyum indahmu jangan kau ganti lagi dengan air mata. Sudah cukup, aku tak sanggup melihatmu hidup dalam genangan penyesalan. Kau terus tersenyum dan akhirnya tawamu meledak dan tak berhenti hingga air mata mengalir dari bola mata yang ku puja itu. Aku penasaran dengan pikiranmu. Kucoba masuki lagi dimensi dalam jiwamu.

Aku lega. Nampaknya, kamu sudah mulai mengerti. Aku tahu jiwamu besar dan kuat. Aku tahu kamu sanggup hadapi ini semua. Walaupun aku masih cemburu kamu tetap mencintai dia. Mungkin akan selalu menyimpan dia dalam bilik kamar hatimu yang tak dapat dibagi untuk siapapun lagi. Setidaknya kamu mulai paham bahwa kamu orang yang beruntung bahwa sosok yang tidak setia kepadamu telah meninggalkanmu. Bahwa sebenarnya dia akan merana karena sosok melankolis yang mencintainya tanpa kenal lelah, telah ditinggalkannya demi mencari keserakahan dari keinginan batin yang tak pernah terpuaskan.

Mata besarmu semakin melebar dan aku yakin tidak sedang menatap aku. Kamu tertawa penuh kemenangan karena telah berhasil mencinta tanpa pernah lagi minta dibalas. Kamu telah lulus menjadi manusia yang mengasihi dengan hati yang tulus meski dilukai. Aku semakin mencintaimu dalam keterbatasanku. Aku, makhluk yang sedari dulu mengawasimu, telah lama mencintaimu walau kau tak akan pernah tahu. Sebab aku makhluk yang tak akan bisa kau lihat dan hanya bisa kau rasakan.

Selasa, 21 Juni 2011

IBEL

Ibel namanya. Dia tidak langsing seperti gadis – gadis lainnya tapi dia juga tidak gemuk. Tubuhnya berisi dan energic dengan kulit sewarna madu yang sangat manis dipadukan dengan gaya luwesnya. Dia tidak tinggi semampai ataupun terlalu pendek. Rambutnya ikal sepunggung dan berwarna cokelat tua. Bola matanya hitam pekat dan akan membulat besar jika ia sedang bicara. Bibirnya tipis dan dia gadis ceria yang sedikit cerewet. Dialah kakak kelasku di Sekolah. Dialah pujaan hatiku.

Dia salah satu gadis terpopuler di Sekolahku. Meski para lelaki tak memasukan namanya kedalam jajaran ‘perempuan cantik’, tapi toh nyatanya ia begitu memikat hati bagi teman – temanku dan juga aku tentunya. Dari kakak kelas hingga adik kelasnya menyukainya. Senyum lebar selalu menghiasi wajah manis bak bidadari itu. Ia bersikap ramah kepada siapapun juga tanpa memandang status sosial mereka. Dari mulai satpam hingga tukang becak yang mangkal di Sekolah kami, ia tegur sapa. Namun, terlepas dari sikap ramahnya itu ia bisa juga menjadi jutek dan tegas ketika sedang rapat OSIS. Ya, pujaan hatiku adalah Ketua OSIS di Sekolah kami.

Awal aku mengenal Ibel adalah saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Sekolah kami adalah sekolah swasta, fasilitas pendidikan di sekolah ini dari TK hingga Akademi, tidak heran kalau jumlah siswa – siswi disini mencapai ribuan. Namun, diantara ribuan di Sekolah kami, Ibel seperti punya daya tarik tersendiri. Ia selalu tampil beda dari kebanyakan gadis – gadis lainnya. Saat para gadis lainnya berlomba – lomba meluruskan rambut mereka dengan re-bonding ataupun smoothing, Ibel tampil apa adanya dengan rambut ikalnya yang mengembang seperti singa. Saat para gadis diusianya mulai memakai rok diatas lutut dan baju seragam yang ketat, Ibel tampil mempesona dengan baju seragam biasa saja. Singkat kata, Ibel beda dari gadis lainnya.

Saat itu Ibel sedang ditugaskan sebagai MC di acara ulang tahun disekolah kami. Dengan gaya luwesnya, aku benar- benar kepincut oleh dirinya. Suaranya, lambaian tangannya, ah segala – galanya tentang Ibel. Perasaan ini terbawa sampai aku pulang kerumah dan membuat aku berpikir untuk membatalkan niatku mengikuti test di SMA Negeri favorit di kota kami. Semua karena Ibel dan aku sangat ingin mengenalnya lebih jauh.

Resmilah sudah aku menjadi bagian Sekolah ini sampai tamat SMA. Sebelum melihat Ibel, aku muak kalau harus melanjutkan SMA disini. Sejak Tk sampai SMP aku harus mengikuti kemauan orang tuaku menyekolahkanku disini. Sampai aku harus merengek pada orang tuaku untuk mengizinkan aku daftar di Sekolah Negeri, tapi begitu melihat Ibel di acara ulang tahun Sekolah kami, bayangan Sekolah Negeri pupuslah sudah. Hanya ada Ibel di setiap sel – sel otakku.

Saat aku masuk SMA, Ibel hanya menjabat anggota OSIS bidang Humas di Sekolah kami. Ia terlihat garang dan menakutkan. Sebentar- bentar marah lalu melototi kami satu persatu saat Masa Orientasi Siswa berlangsung. Entah karena aku kebal dengan hal – hal menakutkan atau karena terlalu menyukai Ibel, aku sama sekali tidak takut dengannya. Bahkan sesering mungkin aku berbuat salah dihadapannya, agar Ibel sedikit memperhatikanku.

Namun, itulah Ibel. Dia memang lebih menyukai berteman dengan laki – laki, tapi tak satupun pria bisa membuka hatinya. Banyak lelaki harus mampu menahan sakit hati karena penolakan tegas dari Ibel, termasuk aku pastinya. Aku tahu sangat kecil kemungkinan aku untuk memenangkan hati Ibel. Aku bukan siapa – siapa di mata Ibel yang sudah melihat dunia lebih luas daripada aku. Tapi aku tetap tak mau kalah. Biar saja Ibel tahu betapa aku menginginkan dia.

Kami mulai akrab saat Ibel dan aku sekelas sewaktu ujian kenaikan kelas. Saat itu aku yang kesulitan mengerjakan soal kimia, dibantu Ibel yang memang siswi kelas IPA. Saat itu kami tidak duduk bersebelahan namun sebisa mungkin aku mengajaknya bicara saat baru masuk kelas dan disela – sela istirahat. Bahkan Ibel berbaik hati membantuku menuliskan rumus – rumus menyebalkan di secarik kertas bekas coret – coretan miliknya. Kertas itu aku simpan hingga sekarang.

Hubungan aku dan Ibel berjalan baik. Hanya saja tidak sepenuhnya hubungan yang aku inginkan. Ibel masih terus saja menganggapku anak kecil dan tak henti – hentinya meledekku dengan sebutan ’de’ setiap kali kami berbincang. Ingin rasanya aku berteriak dihadapannya kalau aku sangat menyukainya, menginginkan dia jadi pacarku. Tapi tak berani aku ungkapkan. Bibirku kelu kalau harus melancarkan kata – kata puitis untuknya. Ia terlalu realistis, tak menyukai jenis kegombalan apapun. Tidak tersentuh oleh kegilaan anganku untuk memilikinya, merengkuhnya hingga aku mampu meledak karena gembira. Ibel tak percaya pada cinta bahkan dengan jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia tak suka bermanja – manja dengan apapun, mungkin kisah hidupnya yang membentuk kemandirian yang tak akan tersentuh oleh siapapun. Aku hanya bisa terus memandangnya dari jauh. Jauh dalam lubuk hatiku berharap padanya.

Ibel menjabat sebagai Ketua OSIS dengan menang telak. Hampir 80% siswa –siswi di SMA memilih Ibel. Ia berpidato di mimbar upacara dengan suara riang dan tawa lebar. Pidato santai namun berbobot. Ia mendukung segala bentuk diskusi santai. Tak perlu kaku dan monoton untuk program apapun dalam Organisasi Siswa di Sekolah kami. Guru – guru lega ia menjadi Ketua OSIS terpilih, para Ketua Ekskul (Ekstra Kurikuler) gembira dengan program – program Ibel yang nampak luar biasa, teman – teman senang Ibel menghilangkan budaya senioritas di lingkungan Sekolah kami, semua bahagia semua merayakan kemenangan Ibel, hanya aku seorang yang masih merana.

Kesuksesan Ibel merebut hati penghuni Sekolah kami membuat aku semakin terpojokkan. Aku semakin tahu ketidak-berartiaan diriku dalam hidup Ibel. Kehidupan Ibel akan lebih sibuk dan ia akan lebih famous dari sebelum menjadi Ketua OSIS. Sedangkan aku tetap menjadi siswa Sekolah biasa dengan nilai pas – pasan. Akan semakin sulit aku menginginkan Ibel jadi pacarku. Aku bukanlah siapa – siapa dibanding Ibel.

Basket satu – satunya jalan membuat Ibel terpesona padaku. Kalau teman – teman satu club Basket berlatih dua kali seminggu, aku berlatih setiap hari. Berlatih bergaya sekeren mungkin sambil nge-shoot, tujuanku agar Ibel menyadari kehadiranku. Dan sebentar lagi Turnamen antar SMA di kotaku tiba, Ibel berhasil meloloskan sekolah kami sebagai tuan rumah. Ibel oh ibel, aku buktikan kehebatanku.

Sekolah kami mencapai masa kejayaannya ditangan Ibel. Ia berhasil mengembangkan Ekskul Sains, Taekwondo, Street Art & Design, Instrumen, dan Filsafat yang sempat ’mati suri’ sampai tahun kemarin. Termasuk memajukan Ekskul Basket di Sekolah ini dan menjadi Ekskul favorit tahun ini. Banyak sekali siswa yang bergabung dengan club Basket tahun ini dan artinya peluangku untuk membuktikan diri di arena lapangan basket semakin kecil. Permainan mereka luar biasa dan aku akui mereka jauh lebih hebat daripada aku.

Dan jadilah aku sebagai si pungguk yang merindukan sang rembulan. Aku terlalu biasa dan akan tetap begitu ,mungkin, jika aku terus berharap pada Ibel. Aku anak semata wayang jadi dengan mudah aku meminta apapun pada orang tuaku. Tapi, bagaimana jadinya jika aku meminta Ibel menyukaiku pada orang tuaku? Apakah mereka bisa mewujudkannya? Sebelum mengenal Ibel, aku merasa orang tuaku layaknya Tuhan yang senantiasa mengabulkan permohonan umatnya. Apapun yang aku mau selalu tersedia dengan mudah tapi kini aku sadar, cinta memang tidak bisa dibeli. Ayahku tertawa begitu aku mengungkapkan isi hatiku betapa aku menginginkan Ibel.

”Nak, kamu harus belajar. Cinta itu datangnya dari hati. Kalau kamu memang begitu menginginkan Ibel, kamu harus tahu apa yang menjadi kesukaannya dan buat ia terpesona padamu,”kata ayah di suatu sore.

Justru itulah yang membingungkanku. Ibel punya banyak kegemaran. Aku sulit menentukan kegemaran apa yang akan membuat ia terpesona padaku jika aku melakukan kegemarannya. Aku tidak mungkin beralih profesi menjadi seorang ahli kimia sedangkan aku benci sekali pelajaran kimia. Aku tidak mungkin menjadi pemain biola sedangkan aku tak tahu bagaimana menggunakan biola. Aku tidak mungkin bisa menyukai menulis novel sedangkan untuk merangkai kata menyatakan cinta pada Ibel saja aku tak mampu. Aku tidak punya kegemaran apapun kecuali bermain Basket. Dan Turnamen adalah saatnya! Walaupun aku tidak sehebat Yao-Ming tapi aku akan berusaha tampil membanggakan untuk Sekolah dan untuk Ibel.

Tibalah saat yang ditunggu. Turnamen Basket antar SMA se-kota ku. Acara pembukaan Turnamen diisi oleh gadis – gadis cantik yang menari – nari di lapangan basket. Mereka mampu memikat ratusan pasang mata lelaki tapi tidak memikat hatiku sedikitpun. Aku hanya memperhatikan seorang gadis dikuncir kuda berdiri disebrangku. Ia berjalan hilir mudik dan sesekali menyapa para wakil dari SMA – SMA lainnya. Ia tidak seperti gadis – gadis di lapangan yang bergerak centil menggoda kaum Adam. Ibel bergerak gesit dan tampak cerdas. Ingin aku berteriak dari sebrang dan mengatakan ”HEI IBEL I LOVE YOU!!!”. Namun, jangankan untuk berteriak mengungkapkan cinta, untuk menatap matanya saja aku tak sanggup.

Aku dan tim basket Sekolahku sedang duduk dipinggir lapangan basket. Menunggu tim – tim dancer dari berbagai sekolah menyelesaikan tugas mereka menghibur kami. Tiba – tiba Reno, teman tim basketku dan juga teman sekelasku menepuk pahaku. Ia tahu betul soal perasaanku pada Ibel.

”Dan, mungkin sebaiknya elo ungkapin semuanya. Semua yang ada disini,”kata Reno mengelus jantungnya lalu melanjutkan,”mau sampai kapan elo simpan dalam hati saja? Gak ada gunanya jadi pengecut. Diterima atau ditolak cinta elo itu bukan tujuannya tapi yang terpenting Ibel tahu elo benar – benar menginginkan dia.”

Aku memandang Ibel dalam lamunanku, berharap Ibel mendampingi aku disini. Menyemangatiku bertanding di hari Pembukaan Turnamen. Mengatakan padaku bahwa aku mampu mengalahkan tim lawan. Memberitahukanku bahwa aku penting untuk hidupnya. Bukan hanya bersemangat melihat kesukesan jalannya Turnamen ini tapi bersemangat melihatku bergerak gesit di lapangan.

”Ibel gak mungkin mau jadi cewek gue, no. Dia famous dan cerdas, sedangkan gue bukan siapa – siapa, gak bisa apa – apa, gak pinter apa – apa. Gue dan Ibel gak serasi, no.” kataku lirih.

Reno meremas bahuku,”HEI BRO! Sejak kapan elo berubah mellow gini? Bahasa elo kayak anak perempuan! Mungkin lebih manja dari perempuan! Lo liat Ibel. Dia perempuan dan dia tegas! Masa elo yang seorang pria tulen harus kalah soal perasaan? Masalah diterima atau ditolak itu bukan masalah, ya walaupun gue ngerti banget elo berharap diterima sama dia. Tapi setidaknya elo harus berani ungkapin tentang perasaan elo itu. Hari ini hari spesial buat elo. Elo bisa buktiin ke dia kalau elo juga jago main basket! Ya walaupun masih lebih jago gue sih tapi setidaknya elo buktiin kalau elo ada di sekolah ini, di dunia ini, di hidup Ibel,”kata Reno panjang lebar.

Aku diam saja. Memikirkan kata – kata Reno dan berusaha mencari cara biar segalanya bisa berjalan baik. Lalu Reno melanjutkan ceramahnya, ”gue punya ide nih, gimana kalau elo kasih three point buat sekolah kita sebanyak lima kali setelah itu elo samperin Ibel dan bilang kalau point itu buat doi. Nanti gue yang bilang sama MC-nya kalau elo sumbangin three point buat seseorang yang elo suka, gimana?”

Aku memandang Reno takjub. Antara kagum dengan ide briliantnya dan tak percaya kalau temanku ini cukup sinting. “Elo gila no? Mending gue diterima. Kalau Ibel nolak gue? Kalau dia marah sama gue gara – gara bikin malu dihadapan orang banyak? Elo gak tahu apa Ibel banyak nolak cowok? Gue gak berani no. Gue ngeri.”

“Kalau gitu biar gue aja yang nembak Ibel yah,”jawab Reno santai.

Aku memandang Reno tajam,”elo suka sama Ibel? Dari kapan?”

“Dari semenjak elo berubah jadi pecundang,”jawab Reno santai lalu berlari kearah MC di meja sebrang.

Aku memandang punggung lebar Reno dan tak percaya dengan kenyataan ini. Matilah aku.

Pertandingan berlangsung lima belas menit yang lalu dan aku belum menyumbangkan satu point-pun. Lawan kami dari SMA Negeri yang cukup tangguh. Badan mereka besar dan berotot. Pertahanan mereka maksimal. Aku tak bisa melihat celah apapun untuk bisa mencetak angka. Tapi Reno memang temanku yang baik hati. Ia tidak egois dan tidak mau show-off kali ini. Bola – bola yang seharusnya bisa ia lakukan langsung three-point, ia berikan kepadaku. Alhasil pelatih kami, coach Lessy mengumpat – umpat. Pasalnya, coach Lessy adalah orang yang temperamental dan ia juga perfeksionis. Ia tidak mau kalah dimanapun timnya bertanding. Melihat anak didiknya, Reno, yang melepas kesempatan begitu saja, membuatnya naik pitam. Reno hanya mengeluarkan cengiran khasnya dan terus menyemangatiku. Kulirik Ibel tampak khawatir menonton pertandingan ini, lalu ku ingat kalau pengorbanan Reno hari ini demi agar aku memenangkan hati Ibel. Dengan sekuat tenaga aku shoot bola dan tak tahu hasilnya.

Dalam sekejap pendukung Sekolahku bersorak ramai. Ternyata aku berhasil memasukan bola dan benar saja itu three-point. Aku mencari – cari Ibel dalam keramaian siswa – siswi, Ibel tersenyum padaku. Semangatku seolah terbakar lagi dan kali ini aku seperti kesetanan. Aku tak peduli badan – badan besar lawan, aku juga tak mendengarkan teriakan coach Lessy memperingatkanku agar tak egois mempertahankan bola tak membagi pada rekanku, yang kuinginkan hanya three-point terus dan terus.

Peluit wasit berkumandang, permainan usai. Hasilnya tak disangka, tim kami menang telak dengan aku menyumbang three-point sebanyak tujuh kali. Semua temanku menepuk bahuku. Mereka tak menyangka aku bisa melakukan itu. Aku mencari Ibel diantara teman – temanku dan kulihat ia tersenyum sambil menepuk tangan dikejauhan. Aku tersenyum padanya juga. Lalu Reno membisikkanku dan aku tahu inilah saatnya.

MC yang bertugas adalah si bawel Hans. Ia termasuk pria doyan gosip dan ketika Reno memberitahukannya soal akan ada pernyataan cinta dariku kepada seorang gadis, Hans langsung riang gembira. Dan kini suara Hans sudah berkumandang di speaker – speaker sekolah.

”Hai guys!!! Ternyata si jagoan lapangan ini akan menyatakan cinta kepada seorang wanita disini. Kira – kira siapa yang beruntung mendapatkan hatinya, uuuhhhhh Hans gak sabar deh. Ayo Dance eh sorry Dany ayo cari wanitamu dan nyatakan perasaanmu di hari yang spesial ini,”seru Hans riang.

Berbagai ekspresi muncul di wajah – wajah ratusan orang itu. Ada yang celingak – celinguk, ada yang senyum – senyum, ada yang bersorak ’ciiiieee ciiieeee’, bahkan ada yang tanpa ekspresi. Ku mantapkan langkahku berjalan menuju Ibel. Ibel yang sedang berbincang dengan coach Lessy langsung kaget ketika aku berdiri dihadapannya dengan muka konyol dan peluh keringat.

Semua mata tertuju pada kami berdua dan seketika saja dunia tampak berhenti berputar dan jarum jam tak lagi bergerak, aku menggenggam jemarinya dan menggiringnya menuju tengah lapangan. Ibel masih menatapku tak menyangka. Ia seakan tak bisa menolak genggaman tanganku. Semua yang menonton bersorak ramai. Mereka tahu betul Ibel tak bisa ditaklukan oleh lelaki manapun dan mungkinkah aku yang akan bisa membuka hatinya.

Kubuka mulut tapi yang keluar hanya suara parau, Hans menghampiri kami dan memberikan microphone-nya padaku. Kubuka mulut lagi dan suaraku membahana, semua terdiam mendengarkan.

”Ibel, gue minta maaf sebelumnya kalau cara gue gak sopan. Tapi, gue gak tahu harus bagaimana menghadapi perasaan gue ini. Sejak gue kenal elo sewaktu elo jadi MC di acara ulang tahun sekolah kita, gue udah suka sama elo. Gue pengen kenal elo lebih jauh dan akhirnya SMA negeri yang gue cita – citakan pun harus gue lupain karena gue yakin gue akan bisa deket sama elo kalau kita satu sekolah. Dan akhirnya gue resmi jadi ade kelas elo. Walaupun elo anggap gue hanya ade kelas elo dan selalu elo gak pernah anggap gue dihidup elo, gue hanya mau elo tahu betapa pentingnya elo dihidup gue. Gue mau elo sadar gue ingin elo jadi pacar gue. Sekarang keputusan ditangan elo. Gue tahu sulit membuat elo terkesan sama gue tapi gue harap three-point yang gue kasih untuk elo mampu membuka hati elo buat gue.”

Aku menahan nafas. Menanti Ibel menamparku dihadapan banyak orang yang menanti jawaban Ibel. Aku memandang matanya dalam – dalam. Ibel balas memandangku dengan mata bundar hitamnya. Ia tak berekspresi dan genggaman tangannya lepas dari tanganku. Lalu kedua tangannya menepuk – nepuk pipiku dan Ibel tersenyum tanpa berkata satu patah katapun! Ia justru pergi berlalu meninggalkan ratusan pasang mata yang menanti sebuah jawaban meninggalkan aku dan bayanganku yang ingin lenyap dari muka bumi.

Itulah saat terakhir aku berbicara dengan Ibel. Semenjak insiden memalukan hidupku, Ibel selalu menghindariku dan teman – temanku. Sikap Ibel kuartikan sebagai penolakan tegasnya, sedangkan bagi teman – temanku Ibel tidak sosok yang payah. Ia tidak menjawab iya atau tidak dan sikapnya sungguh tidak elegan bagi mereka. Aku diam saja tak mampu berkata apa – apa lagi. Bahkan ketika Ibel lulus sekolah, aku tak bisa lagi memberinya selamat atas prestasinya masuk lima besar di sekolah.

Tinggalah aku melanjutkan setahun terakhir disekolahku tanpa harapan hidup. Bayang – bayang Ibel selalu masuk dalam setiap kehidupanku. Rasa sukaku mungkin telah berubah menjadi sebuah obsesi tak tertahankan. Aku ingin memilikinya dan sungguh bukan wanita lain yang kuinginkan. Teman – temanku berbaik hati mengenalkanku pada gadis – gadis cantik dan meskipun aku akhirnya berpacaran dengan salah satu dari yang dikenalkan Reno, aku tetap saja memikirkan Ibel. Aku ingin tahu dimana ia sekarang, karena setelah lulus Ibel putus komunikasi dengan teman – teman seangkatannya, maka aku tak bisa mengorek informasi apapun tentang dia. Ibel pujaan hatiku, ia lenyap ditelan waktu.

Sudah lima tahun sejak aku kehilangan Ibel. Kini sedikit demi sedikit aku mampu melepaskan kenyataan pahit ini. Aku kini berpacaran dengan gadis yang empat tahun lebih muda dariku, namun aku seringkali membandingkan dia dengan Ibel. Jelas tak akan mungkin sama. Bagiku, Ibel tak akan mungkin bisa disandingkan dengan siapapun yang ada didunia ini.

Tugas kuliahku menjelang skripsi menumpuk. Aku tidak punya banyak waktu untuk Azla, pacarku sekarang dan ia merengek seperti balita kalau ingin bertemu denganku. Aku benci jika Azla harus begini. Sikapnya membuat aku semakin merindukan Ibel yang dewasa dan berpendirian teguh. Ketika Azla semakin menjadi maka kuputuskan memberikannya pelajaran. Aku memutuskannya agar ia belajar dewasa. Azla menangis dan menghubungiku tapi tak aku hiraukan. Aku harus fokus dengan kuliah akhir ini. Sebagai anak tunggal aku harus membahagiakan orang tuaku dengan nilai memuaskan.

Disuatu sore yang cerah, ketika aku sedang mengerjakan makalah untuk kuliah di Kedai Kopi langgananku. Tiba – tiba handphoneku berbunyi, sms masuk. Ku lihat dengan malas karena paling – paling Azla yang masih memohon minta belas kasihan, tapi ternyata itu nomor yang tidak ku kenal dan isi pesannya membuatku nyaris pingsan.

Hai Dany, apa kabar? Ini Ibel.

Aku terperangah menatap layar handphone tak tahu harus menjawab apa. Ingin menangis tapi ingin berteriak di mukanya sekarang juga. Ibel yang kucinta kini menghubungiku. Tanpa melewatkan kesempatan ini, aku segera menghubunginya. Dan berakhirlah sore ini dengan sangat indah.

Kami jadi semakin sering berkomunikasi. Aku sering menelponnya dan telepon dari Azla tak pernah aku angkat lagi. Ibel banyak bercerita tentang hidupnya. Ia bekerja disebuah Bank swasta terkenal sambil menyelesaikan S1-nya. Ia juga begitu terbuka dengan kisah hidupnya yang selama ini ditutupinya rapat – rapat. Orang tuanya bercerai, ayahnya tak mampu memberi nafkah kepada keluarganya sehingga Ibunya harus berhutang menutupi kehidupan keluarganya dan pada saat Ibel lulus SMA orang tuanya bercerai, Ibel harus mencari nafkah membantu Ibunya yang berjualan makanan dirumah. Ibel harus membagi waktunya antara membantu Ibunya dan bekerja di kantornya. Uangnya selalu kekurangan karena ia punya adik yang belum tamat SMA. Ibel menumpahkan keluh kesahnya dan beban hidupnya. Aku mendengarkan dan ia bercerita. Aku sangat iba padanya. Malangnya pujaan hatiku.

Hari minggu yang cerah menyambut hariku hari ini. Entah kenapa aku begitu merasa bersemangat. Aku cek handphoneku dan benar saja ada sms dari Ibel, ia bilang ia mau berjumpa denganku hari ini! Segera aku bangkit dari kemalasanku dan lari menuju kamar mandi lalu bersiap – siap berjumpa Ibelku. Kami janjian di Kedai Kopi langgananku di jam makan siang. Tapi aku tidak akan membiarkan Ibel menungguku maka aku harus lebih dahulu sampai tempat janjian.

Aku sampai di Kedai Kopi dan memesan secangkir cokelat dingin. Udara terasa panas padahal diruang ber-AC. Mungkin gejolak hormon adrenalinku tak tertahankan, jantung juga rasanya ingin loncat keluar. Aku memikirkan harus berkata apa dan berdoa semoga saja aku tidak kelepasan memeluknya. Satu jam kemudian ku lihat dikejauhan ada seorang gadis cantik bertubuh langsing. Ia menggunakan hak tinggi dan membuatnya tidak terlalu mungil. Rambutnya terurai cokelat dan kulitnya kuning langsat. Senyum merekah dari bibirnya dan ia melambaikan tangan padaku. Itu Ibel.

Jantungku rasanya sudah loncat keluar dan kini entah kemana, sekujur tubuhku berubah dingin dan gemetar hebat. Ibel mendekat, bisa kuhirup aroma harum dari tubuhnya. Aroma parfum yang begitu memikat hati. Ibel menjabat tanganku.

“Hai apa kabar adik kecil?” seru Ibel riang.

Aku mencibir. Ternyata sikapnya tak jauh berbeda. “Lihat Ibel, aku sudah dewasa,”kataku meledek.

Ibel tertawa lalu duduk dihadapanku. Ia mengenakan celana selutut dan kaos berkerah berwarna putih. Hanya memakai itu dan ia tampak keren. Kami berbincang seru dan aku tidak ingin hari ini berakhir begitu saja, maka aku coba tanyakan pertanyaan masa lalu yang selalu membayangiku, pertanyaan yang ingin kutanyakan sejak dia meninggalkanku, mengapa dia pergi begitu saja tanpa menjawab pernyataan cintaku?

Ibel berdeham dan matanya membulat besar, “Dan, harus kamu tahu, tidak semua orang beruntung dilahirkan dalam keluarga sepertimu. Kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu inginkan, sedangkan ada sebagian orang yang harus berjuang mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Aku salah satunya. Aku bukan gadis yang beruntung dan hidupku terlalu berat jika aku memutuskan untuk berpacaran saat itu.”

“Tapi bukan berarti kau pergi tak sopan meninggalkan aku sendirian di tengah ratusan mata yang memandang kita,bel. Setidaknya kamu bilang ‘enggak’ kalau memang kamu tolak aku. Kamu tega ninggalin aku begitu aja,”kataku ketus.

Ibel tertawa,”kita lihat anak manja ini. Lihat dia selalu mendapatkan apa yang diinginkan dan tak pernah mau berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan. Sekarang pertanyaanku, apa pernah kamu mencoba memperjuangkan keinginanmu? Pernah kamu berusaha mendapatkan keinginanmu?”

”Jelas Ibel! Semua three-point hanya untuk kamu! Aku berjuang mendapatkan itu agar kamu tahu aku punya kemampuan dibandingkan kamu yang luar biasa!”seru aku.

Ibel menggeleng,”aha, tidak adik kecilku. Kamu melakukan itu untuk dirimu sendiri. Lihat kamu mendapat medali pemain terbaik usai Turnamen, kamu makin famous dan banyak gadis cantik yang menyukaimu. Mana yang untuk aku? Tidak ada adik kecilku. Yang kau lakukan itu untuk dirimu sendiri. Kamu bilang menginginkan aku tapi kamu tak berjuang mendapatkanku. Itu sifat manjamu, kamu mau segalanya cepat dan langsung. Kamu mau segala yang kamu inginkan tersedia begitu saja. Hidup tidak begitu adikku. Kamu harus paham, diluar hidupmu itu, banyak orang harus mengorbankan kehidupannya demi mendapatkan apa yang diinginkannya.”

Jawaban Ibel membuatku terperangah. Benar sekali dia. Selama ini aku bilang aku menginginkan dan mencintainya tapi tak ada sikapku yang benar – benar menunjukkan ’pengorbananku’ untuk dirinya. Aku merasa muka ku memerah karena malu. Kini mataku terbuka lebar dan aku justru menyesali mengapa aku tak berusaha mencari tahu kemana Ibel pergi.

Ibel memainkan cangkir kopinya lalu meminum isinya. Ia menatapku,”tapi Dany, aku ingin meminta maaf padamu karena telah mempermalukanmu dihadapan orang banyak. Aku pikir kamu akan paham soal perasaanku dan aku pikir kamu akan mencari aku ketika aku lulus sekolah.”

”Maksudmu? Perasaanmu yang bagaimana?”seketika aku merasa hatiku merekah dan aku tahu dia juga menyukaiku.

Ibel memandangku,”tidakkah kamu sadar Dany, kalau aku juga menyukaimu. Aku tidak menjawab pernyataan cintamu karena aku tahu kamu masih terlalu childish memandang persoalan hati. Aku yakin kamu tidak sepenuhnya menyukaiku dan benar kan aku, kamu tidak mencariku kemana aku pergi. Kamu ikut pergi dan tidak berusaha mencari tahu tentangku. Bukannya aku perhitungan tapi sadarkah kamu siapa yang menjalin komunikasi lebih dahulu sekarang? Aku sms kamu duluan, Dan. Aku menunggu kamu lima tahun lamanya dan kamu tidak berusaha mencariku. Sungguh menyedihkan mengharapkan hal itu. Sampai akhirnya aku yang mencari tahu dan aku tahu nomor handphone mu dari Reno. Aku tanya tentang kamu ke Reno.”

Bibirku kelu. Aku tidak sanggup menahan kebodohan aku ini. Ingin aku memeluk Ibel dan meminta maaf padanya. ”Kenapa Reno tak bicara padaku soal kamu?” hanya itu yang mampu aku tanyakan.

Ibel menggeleng,”aku yang melarangnya. Aku hanya ingin kamu mendatangiku karena kamu mengikuti hatimu bukan suruhan orang lain.”

Air mataku mengambang dan tangiskupun akhirnya pecah. Aku memeluk Ibel seerat mungkin. Aku tidak ingin kehilangan dia lagi. Siapakah aku? Hanya seorang Looser. Aku pecundang dalam banyak hal. Ibel bisa segalanya sedangkan aku tak mampu melakukan apapun, bahkan untuk merangkai kata dan mendapatkan wanita yang aku suka saja aku tak mampu. Aku benci diriku sendiri. Aku malu padanya. Selama ini aku berceloteh ke semua orang untuk mendengar kisah sedihku dicampakkan Ibel begitu saja diwaktu lalu tanpa mengerti arti dari setiap sikapnya. Ibel lah yang paling merana pastinya. Ia hanya ingin dicintai sepenuh hati tapi aku yang dengan bangga bilang pada dunia bahwa aku mencintainya aku tak mampu merealisasikannya. Aku malu, sungguh malu.

Ibel mengelus kepalaku, usapan lembut yang menenangkan hatiku. ”Sudah jangan menangis lagi yah. Semua sudah berlalu, jangan kamu sesali yah. Lagipula aku tidak bisa menjadi pacarmu saat itu, Dany. Aku hanya memikirkan nasib Ibuku dan adikku. Maafkan aku, Dan.”

Aku memeluknya makin erat. Wanita ini sungguh baik hatinya dan aku tidak pernah berusaha memahami hatinya. Aku hanya memikirkan keegoisanku sendiri. Justru akulah sang pendosa. Lelaki pembual yang bicara soal hati dan selalu menuntut. Ibel melepaskan pelukannya, mata hitamnya memandangku.

”Hapus air matamu, Dan. Main yuk kerumahku. Aku kenalkan kamu dengan Ibu dan adikku.”

Aku menatapnya bingung. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Tentu aku sangat ingin tapi aku begitu malu dan aku tidak sanggup kalau aku harus berkenalan dengan Ibunya. Ibunya akan bertanya siapa ini? Ibel mungkin akan menjawab, oh hanya lelaki pengecut bu.

Namun aku tidak ingin mengecewakan Ibel lagi, maka aku segera mengangguk dan Ibel tertawa girang. Ia memelukku dan kami lewatkan hari itu dengan perasaan penuh kasih. Diantara masa kehidupanku, aku pikir inilah momen yang paling membahagiakanku. Kami layaknya sepasang kekasih tanpa harus ada pernyataan cinta seperti anak SMA atau ada jawaban iya ketika membuka hati. Segalanya mengalir begitu saja. Coba sejak dulu aku bisa begini mungkin sekarang aku akan langsung melamar Ibel setelah aku lulus kuliah.

Malam pukul 19.00, Ibel memintaku untuk ikut pulang kerumahnya. Dia tidak sabar untuk mengenalkan aku dengan keluarganya. Aku tidak tahu harus berbincang apa dengan Ibunya dan adiknya. Ibel berjalan riang sambil tertawa – tawa dan sesekali mencubitku.

”Ibel, kita ini sudah resmi pacaran yah?”tanyaku malu.

Ibel menatapku,”heh emangnya kamu pikir lagi peresmian gedung yah? Hehehe.. Bagiku, kamu itu sudah jadi pacarku sejak dulu meski kamu tidak pernah menghubungiku.”

”Sudah donk. Aku tahu aku salah. Aku minta maaf dan aku akan menebus semua kesalahanku. Aku akan selalu bersamamu mulai saat ini. Aku janji,” kataku seraya menggengam tangannya.

Ibel tersenyum cantik,”kamu perlu tahu satu hal lagi,Dany. Aku tidak pernah pacaran sejak dulu hingga tadi sebelum kita jumpa. Dan kini dihadapanku berdiri pria yang aku inginkan selama ini. Aku hanya menyukaimu dan itu cukup bagiku. Aku tidak ingin lagi mencari pria lain lagi, Dany.”

Senyum merekah di wajahku, Ibelku sayang memang pandai menggombal. Kini aku hanyut kedalam hidupnya. Kubukakan pintu mobil agar Ibel masuk lebih dahulu. Mobil Mazda6 hadiah ulang tahun dari orang tuaku.

”Pasti ini pemberian orang tuamu yah,” tanya Ibel. Aku mengangguk bangga.

”Dasar anak manja. Jangan bangga begitu. Ini bukan milikmu. Ini milik orang tuamu. Ingat itu. Dan kamu harus membalas budi kebaikan orang tuamu kalau begitu. Andai aku punya kehidupan sepertimu,” kata Ibel tak sanggup melanjutkan.

Aku menggengam tangannya menenangkan. Sepanjang jalan menuju rumah Ibel, aku dan dia tidak banyak bicara. Kami mendengarkan musik – musik sendu dan beberapa musik hip – hop. Sebab Ibel ternyata suka sekali dengan Pitbull. Kami tak banyak berbincang soal kehidupan kami lagi. Kami tampak sepakat akan menjalin hubungan yang benar – benar baru.

Jalan menuju rumah Ibel cukup lumayan menyulitkan. Jarang kendaraan umum melewatinya. Sepanjang jalan cukup gelap dan banyak ilalang disebelah kirinya. Akhirnya sampai juga rumah Ibel. Letaknya di sebelah kananku. Rumahnya nampak sepi dan juga gelap seperti tidak berpenghuni. Halamannya kotor seperti tidak diurus dengan baik. Aku memarkirkannya didepan rumahnya. Ibel langsung membuka pintu dan menghambur keluar. Ia seperti tidak sabar akan pertemuan keluarga ini.

Lepas dari perasaan cintaku pada Ibel, harus kuakui, rumah Ibel sangat menakutkan. Aku tidak menyangka anak selincah dan penuh tawa seperti dia tinggal dirumah seperti itu. Penuh misteri dan seperti rumah hantu dalam tayangan televisi. Ia tidak memiliki tetangga di kanan – kirinya, sebab rumahnya berdiri rapuh di lapangan luas.

Ibel membuka pintu pagar rumahnya yang dihiasi tanaman liar merambat. Rumahnya benar – benar tidak terawat dan menakutkan. Pintu rumahnya berderit menakutkan ketika dibuka dan bulu kudukku berdiri semua. Ibel memang penuh kejutan, tadi soal perasaannya padaku kini soal rumah horor tempat tinggalnya. Bau busuk menyambut kami ketika pintu dibuka. Aku segera menutup hidungku tanpa bermaksud menyinggung Ibel. Ia menatapku dan tersenyum malu,”sorry tapi banyak bangkai tikus disini. Belum sempat aku bereskan.”

”Kamu mau minum apa?”tanya Ibel. Melihat kondisi rumahnya yang berantakan tak terurus, rasa haus tiba – tiba hilang begitu saja, maka aku menggeleng.

Ibel menatapku dan mengenggam tanganku,”Dany kamu siap ketemu Ibu dan adikku?”

Aku mengangguk.

”Kamu gak akan meninggalkanku kalau kamu tahu tentang mereka?”

Aku menatapnya, ”memangnya ada apa dengan mereka?”. Ibel jadi tampak misterius.

Ibel menggeleng. Ia menggandengku dan membawaku lebih masuk kedalam rumahnya. Rumahnya cukup besar dan tidak terlalu banyak barang. Hanya ada sofa merah dan meja bundar. Lalu ada meja makan disudut ruangan, ada ruang televisi di ruangan yang lain. Ibel membawaku melewati ruangan – ruangan tak berpenghuni itu menuju sebuah ruangan yang tampaknya sebuah kamar. Bau busuk disini makin terasa. Aku tidak sanggup lagi, aku ingin keluar dari situ dengan segera. Entah mengapa perasaanku tidak enak, ada sesuatu yang tidak beres. Tapi Ibel menggenggam tanganku sangat erat. Ia membuka pintu kamarnya.

Bau busuk menyerebak keluar. Aku tidak sanggup lagi, saat itu juga aku muntah dilantai. Ibel tidak mempedulikan aku. Ia mengajakku kedalam ruangan menakutkan itu sambil menarikku kuat. Aku berusaha melepas genggaman Ibel tapi ia tetap mempertahankan genggaman itu.

Ruangan itu kira – kira seluas kamarku. Cahayanya temaram dan ada tempat tidur berkelambu didalamnya. Bau busuk itu seperti bersumber dari dalam tempat tidur itu. Aku tidak ingin mencari apa penyebab baunya, aku hanya ingin keluar.

”Ibu, kenalkan ini Dany, yang sering aku ceritakan sejak dulu,”Ibel berbicara gugup pada seseorang yang tampaknya sedang berbaring didalam tempat tidur kelambu bau busuk itu.

Aku mencoba mengintip kedalam selimut kumal itu dan betapa terkejutnya aku. Alih – alih tubuh manusia normal pada umumnya yang walaupun dalam keadaan sakit masih tampak akan normal, makhluk didalam selimut itu sangat mengerikan. Tubuhnya tak lagi padat seperti manusia normal. Ia tampak seperti kerangka dan disebelahnya juga ada kerangka seusia anak remaja. Aku menatap Ibel.

”Ibel kamu gila?!!! Itu Ibumu telah meninggal dunia!! Bagaimana bisa kamu menyimpannya dirumah!!! Ibel aku tidak mengerti kenapa kamu begini Ibel,”kataku panik. Peluh keringat membasahi tubuhku.

Mata Ibel berkilat menatapku, ”Ibu tidak meninggal dan adikku pun tidak. Mereka hanya sedang pergi ke tempat yang aman. Tempat yang pantas untuk mereka daripada harus tinggal di dunia yang kejam ini. Aku rasa mereka bahagia sekarang.”

Aku menatapnya tak percaya, ”Ibel kamu psycho!!! Aku gak nyangka kamu segila ini. Apa yang kau lakukan pada mereka??” kataku tajam. Aku berusaha melepaskan genggaman tangan Ibel tapi Ibel terlalu kuat.

Ibel tersenyum tipis, ”ayahku suka menyiksa kami. Suatu hari aku berencana kabur dari rumah biadab itu. Ibu dan adikku terlalu lemah. Mereka tidak mau keluar dari rumah si bangsat itu. Mereka tidak tahu bagaimana caranya mencari uang dan hidup tanpa ayah. Aku sudah bilang aku yang akan menanggung nafkah keluarga, tapi Ibuku orang lemah, ia hanya bisa menangis dan lebih memilih disiksa setiap hari. Akhirnya kuputuskan memberinya obat penenang. Obat yang membuatnya pergi ketempat yang lebih baik sambil aku membawanya pergi dari rumah. Adikku tidak mau ikut dengan kami dan mengatakan aku gila. Aku jelas tidak gila, aku tahu mana yang terbaik untuk mereka, jadi kuputuskan saja memberi obat penenang untuk adikku agar ia ketempat yang aman. Biar aku bisa membawa mereka dengan tenang,” kata Ibel tenang.

Aku menatapnya tajam. Aku tidak bisa berkata apa – apa lagi. Gadis dihadapanku bukanlah gadis yang aku pikir aku kenal selama ini. Dia tidak lebih dari seorang monster berdarah dingin. Ibel seorang psikopat. Ia tidak menyesalinya sedikitpun. Ia berkata seolah – olah dia itu benar. Aku tahu kini aku dalam bahaya. Ku putar otakku untuk melarikan diri sedangkan tangan Ibel mencengkram pergelangan tanganku sekarang.

”Ayahku masih mencariku, Dany. Ayahku mengatakan aku gila. Ayahku merasa dirinya benar dan aku yang salah. Lima tahun sejak aku lulus SMA, aku tinggal disini, Dany. Aku mencarimu Dan. Aku mencarimu agar kita berdua bisa menyusul Ibu dan adikku ketempat mereka. Mereka sudah aman dan kita pasti akan tentram juga hidup disana. Ayahku tidak akan datang lagi mencariku dan mencari kita,Dan”

Aku meronta sekuat tenaga dan berusaha melepaskan diri dari tangannya. Tapi Ibel tampak bengis dan ia tidak mau melepaskanku. Ia terus menatapku liar. Tidak ada keceriaan lagi dalam sorot matanya.

”Kamu udah berjanji Dan mau menebus semua kesalahanmu di masa lalu kan? Kamu mau kita selalu bersama kan? Aku akan membawa kamu bersamaku, Dan. Ini tidak menyakitkan. Kamu cukup menegak sedikit saja,”kata Ibel sembari mencari – cari sesuatu di dalam tas selempangnya.

Sebotol kecil berisi cairan berwarna biru mengisi pupil mataku. Itu racun. Mungkin racun yang sama yang akhirnya menewaskan Ibu dan adiknya. Aku mulai berteriak minta tolong. Percuma saja, gubuk ini jauh dari hiruk pikuk keramaian penduduk. Tamatlah riwayatku. Dengan sekuat tenaga aku melepaskan diri dari Ibel. Ibel sudah menggila dan ia menjerit histeris. Aku kabur dan mendobrak pintu kamar menakutkan itu. Dibelakangku Ibel ikut berlari. Entah apa yang terjadi dibelakang, aku hanya ingin pergi dari rumah biadab itu.

Tiba – tiba cairan merah keluar dari betis kiriku. Seketika itu pula aku mati rasa. Ibel telah melempar pisau lipat kearah kakiku. Aku terhuyung dan mencari pegangan untuk berdiri. Ibel berjalan santai kearahku. Ia memandangku lemah seakan tak berdaya.

”Kamu kenapa mau meninggalkan aku Dany? Kamu berjanji akan selalu bersamaku kan? Kenapa kamu ingkar janji? Lihat sekarang kamu berdarah. Padahal aku ingin mengajakmu tanpa luka rasa sakit seperti itu. Aku cukup memberimu seteguk dan untukku juga seteguk. Kamu nakal, Dany. Kamu mau mengkhianati aku setelah kamu tahu tentang hidupku. Kamu jahat Dany! Aku tidak menyangka kamu setega ini Dany!”

”KAMU GILA IBEL!!!! TIDAKKAH KAMU SADAR KAMU TELAH MEMBUNUH IBU DAN ADIKMU!!! PANTAS AYAHMU MENCARIMU! KAMU GILA IBEL! KAMU GILA!”raungku. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa dan berbuat apa. Aku pasrah tapi aku tidak mau mati sia – sia seperti ini didalam gubuk tak bermatabat. Aku ingat akan orang tuaku. Aku tidak mungkin tega meninggalkan mereka, aku anak tunggal. Mereka tidak punya siapa – siapa lagi jika aku harus mati tak berguna seperti ini. Dengan tekadku aku terus menyeret kaki kiriku yang berdarah makin parah. Tubuhku dingin dan gemetar. Tinggal selangkah lagi aku membuka pintu, Ibel mengancamku.

”Dany, aku ingin kamu menemaniku menemui Ibu dan adikku. Aku ingin kamu ikut. Kalau sampai kamu membuka pintu, aku tidak jamin keselamatan kaki kirimu.”

Aku tidak mendengarkan ocehan gadis monster dibelakangku. Ia menggenggam sebuah parang panjang yang entah didapatkan darimana. Aku mengusap keringat dikeningku,”Ibel kamu sayang pada Ibumu?”

Ibel mengangguk mantap.

”Akupun demikian Ibel. Aku sayang pada Ibuku dan tidak mungkin meninggalkan Ibuku sekarang juga. Aku tidak mungkin tega melihatnya menangis Ibel,”kataku lirih.

”Tapi, Dany. Ibumu juga punya ayahmu. Aku rasa Ibumu tidak keberatan jika kamu ikut bersamaku. Kamu lihat betapa malang Ibuku disiksa setiap hari oleh ayahku, Dany. Kamu tega? Sekarang mana yang lebih kamu cintai, aku atau Ibumu?”

Aku bimbang. Dalam sekejap perasaan cintaku pada Ibel kini sirna sudah. Perasaanku berubah menjadi takut luar biasa. Melihat betisku berdarah hebat karena pisau lipat menancap disana, dan kini Ibel berjalan mendekatiku membawa parang ditangannya. Aku seakan tidak punya pilihan. Aku berdoa tapi aku tak tahu apakah Tuhan akan menyelamatkanku.

Kuingat awal aku jumpa dengannya, tak ada tanda – tanda ia seorang psikopat. Ibel yang kukagumi menyimpan sejuta misteri, kini tabir kebenaran terbuka dihadapanku. Tak mungkin aku harus mengakui aku masih mencintainya. Kuingat wajah orang tuaku yang pasti akan sangat bahagia melihat kelulusanku, kuingat wajah Azla yang menuntut aku untuk menghubunginya, kuingat wajah Ibel tadi sore di Kedai Kopi, dan kini aku berdiri dihadapannya. Entah kekasihnya atau binatang buruannya. Aku berteriak.

Ibel tepat dihadapanku. Aku melorot bersandar pada pintu. Kakiku tak mampu lagi untuk berdiri. Darahku mungkin sudah habis. Kulihat kuku – kuku ku sudah membiru. Ibel menatapku, diletakannya parang besar itu. Ia mengelus pipiku dan mengecup keningku dan memelukku. Lalu ia membuka tutup botol berisi cairan biru itu.

”Tenang Danyku sayang. Rasanya tidak akan sakit. Kamu cukup sedikit saja dan aku juga akan meminumnya,”kata Ibel sambil memaksa aku membuka mulutku.

Aku meronta tak berdaya. Aku mati rasa dan pasrah pada nasibku pada simpanan kebaikan yang pernah aku buat selama hidupku. Ibel mencengkram rahangku memasukan cairan pahit itu kedalam mulutku. Lidahku menahan cairan itu agar tak masuk kedalam kerongkonganku. Ibel mengamatiku dengan puas. Kujatuhkan diriku ke lantai. Menahan rasa pahit didalam mulutku. Aku menahan napas dan aku tidak mau meludahkan dihadapan Ibel.

”Nah, sayangku. Tidak sakitkan? Aku mau membereskan darahmu itu dulu lalu aku akan meneguk setengah ini lagi,”kata Ibel riang sambil pergi berlari.

Aku menatapnya berlalu. Pengelihatanku kabur, nafasku cepat, racun itu aku muntahkan tapi mungkin sebagian telah aku telan bersama air liur. Berbagai fenomena masa – masa kehidupanku kembali hadir dalam ingatanku. Sejak aku kecil, berkumpul bersama keluargaku, masa – masa sekolah bersama Ibel, hingga ditempatku yang terakhir ini. Aku mendesah pelan. Ibel pujaan hatiku sekaligus pembunuh diriku dan kini nyawaku di ujung tanduk.


Bekasi, 21 Juni 2011