Jumat, 11 Januari 2019

Turki tak se-Ateis yang kalian kira


Sejujurnya saya sedang terganggu oleh sebuah artikel yang di share ke salah satu grup Whatsapp dimana saya tergabung di dalamnya. Artikel itu di muat di berita online Tempo berjudul Survei: Semakin Banyak Warga Turki yang Atheis yang telah benar-benar membuat saya ingin mengkritisi karena judulnya yang sepertinya sengaja dibuat provokatif untuk meningkatkan viewers. Padahal kalau kita cermati lebih jauh isinya, pernyataan dari ahli Teologi (yang tertera di artikel tersebut) tidak sejalan dengan judul artikel yang ada. Cemil Kilic berpandangan keyakinan Diyanet dan hasil jajak pendapat Konda tak ada yang salah. Sebab kendati 99 persen warga negara Turki mengidentifikasikan diri sebagai pemeluk Islam, banyak dari mereka hanya melakukan ibadah sebagai bagian dari budaya dan makna secara sosiologi, bukan semangat spiritual.

Tidak ada pernyataan secara tersirat dan tersurat menyebutkan kalau orang-orang Turki memilih menjadi Ateis. Terlepas dari tujuan judul artikel ini dibuat untuk mendongkrak pembaca, artikel ini malah jadi seperti propaganda untuk menghakimi negara Turki tanpa benar-benar mengenalnya lebih jauh. Apalagi media sekelas Tempo yang memuat berita ini. Jika memang Tempo sudah mulai kocar-kacir karena menjamurnya situs berita dan mulai ikut-ikutan memakai cara dengan menjual judul murahan demi viewers, menurut saya Tempo sudah tak mampu memainkan temponya seperti dulu.

Sebelum menghakimi warga Turki yang menjadi Ateis, sebaiknya kita cermati dulu pengertian apa itu Ateis. Ada banyak informasi mengenai Ateis, saya enggak perlu kasih refrensinya karena bisa kalian dapat secara mudah dari Mbah Google atau buku-buku yang di jual di pasaran. Intinya secara garis besar, Ateis adalah sebuah pandangan yang menolak keberadaan Tuhan atau Dewa Dewi. Ateis merupakan sebuah ideologi skeptis yang menolak agama. Apapun agamanya itu bukan hanya agama Samawi seperti Yahudi, Kristen dan Islam tetapi bahkan agama-agama pagan sekalipun. Ateis mengklaim diri mereka sebagai pemikir ilmiah yang hanya percaya dan beriman pada penelitian ilmiah. Singkat kata, jika memang orang Turki disebut sebagai Ateis, jelas saya dengan tegas menolaknya dan yakin bahwa warga Turki bukanlah Ateis seperti dalam terminologi tersebut.

Kenapa saya bisa seyakin itu kalau orang Turki bukan Ateis? Atau seperti yang dinyatakan dalam artikel tersebut bahwa warga Turki banyak yang Ateis? Karena selama saya tinggal di negara ini, seburuk-buruknya perilaku orang Tu─▒rki, enggak ada yang pernah menyatakan bahwa ia tidak percaya Allah. Banyak dari mereka yang minum alkohol, banyak dari mereka yang menerapkan gaya hidup sex bebas, banyak dari mereka yang ciuman di jalan-jalan besar, atau para perempuan berjilbabnya bebas merokok di jalanan. Tapi, perilaku itu bukan berdasarkan ke-ateis-an mereka. Melainkan kebebasan berpikir mereka yang masih terikat pada pandangan sekularisme. Dan perlu diingat sekularisme tidak ada hubungannya dengan ateisme. Sekularisme adalah sebuah ideologi yang menganggap kebebasan beragama bukanlah urusan dari negara. "Sekularisme dapat menunjang kebebasan beragama dan kebebasan dari pemaksaan kepercayaan dengan menyediakan sebuah rangka yang netral dalam masalah kepercayaan serta tidak menganakemaskan sebuah agama tertentu."

Jadi kalau disebut semakin banyak orang Turki yang ateis, dasarnya apa? Jika memang mereka tidak mencerminkan perilaku Islam seperti menjalankan sholat 5 waktu atau tidak berpuasa, apa bisa langsung dihakimi jika mereka ateis? Saya punya beberapa teman yang tidak pernah sholat dan puasa, minum alkohol, dan gaya hidupnya bebas. Pernah saya tanya, kamu itu Islam bukan sih? Dia malah marah dan bilang kalau sampai mati dia itu beragama Islam dan hanya yakin sama Allah. Pernah juga saya tanya ke teman-teman yang gaya hidupnya serupa begitu dan mereka dengan penuh keyakinan kalau menjadi Islam bukan hanya soal beribadah tetapi juga mengamalkan perilaku baik kepada sesama.

Bingung? Enggak usah bingung karena begitulah cara berpikir mereka. Banyak dari orang-orang Turki yang saya jumpai yakin kepada Islam dan Allah meskipun mereka tidak menjalankan ibadah sesuai agama yang mereka yakini. Apakah mereka ateis? Menurut saya sungguh terlalu jauh jika menyebut mereka ateis hanya karena mereka punya gaya sendiri dalam menjalankan agamanya. Jika mau menyebut mereka sebagai agnostik mungkin masih bisa diterima, karena pada dasarnya orang Turki walaupun percaya pada Allah, mereka tidak mau merasa paling tahu tentang agama mereka.

Penggiringan opini yang dilakukan oleh artikel tersebut menurut saya benar-benar menyesatkan, terlepas dari gaya tulisan dan sudut pandang yang diambil. Karena antara judul dan isi memiliki pengertian yang tidak sejalan. Jadi, sekali lagi bisa saya koreksi bahwa Turki tak se-ateis yang kalian kira. Kalau enggak percaya coba tanya-tanya teman Turki kalian. Kalau emang bertanya membuat rikuh, ada baiknya belajar mengamati gaya hidup mereka dan mencoba menerima tanpa melabelkan kata ateis dalam cara pandang mereka yang sekuler.