Senin, 01 Agustus 2011

Kasih Ibu


Ada sebuah lagu yang sering gue nyanyikan di kala masih kecil. Begini syairnya,

'Kasih Ibu, kepada beta.
Tak terhingga sepanjang jalan.
Hanya memberi tak harap kembali.
Bagi sang surya menyinari dunia.'

Itu lirik lagu yang gue maksud. Judulnya agak lupa tapi intinya tentang kasih seorang ibu. Sampai ada iklan yang menayangkan lagu ini dinyanyikan oleh seorang anak kecil berambut panjang berponi sambil digandeng ibunya. Si anak ragu - ragu sama lagu itu tapi kemudian ibunya meyakinkan dan ngajak si anak ke warung beli kecap seharga seribu! SERIBU mamen! Hanya dengan seribu rupiah si Ibu bisa menunjukkan kebaikan hatinya yang tak harap kembali kepada si anak. Sekarang kalau si Ibu bayar pakai duit gocengan terus beli kecap cuma satu bungkus, masa iya kembaliaannya gak diminta? Kadang iklan emang kacau dan seenaknya dalam menganalogikan sesuatu. Jujur gue suka bete kalau lihat iklan di TV.

Bicara soal kasih ibu memang gak ada habisnya. Bahkan ada istilah orang jaman dulu, kalau surga itu ditelapak kaki ibu. Kalau kaki ibunya jamuran, kudisan, kurapan, kasian banget deh surga si anak pasti jelek banget isinya.

Oke lanjut mengenai cinta seorang ibu ke anak. Gue agak gak begitu percaya dengan syair lagu yang gue suka nyanyiin itu di masa kecil. Karena makin gue pikirin dengan kenyataan yang ada di sekitar gue makin gak sinkron kadang - kadang. Contoh kasus yang bikin gue malah jadi merinding kalau inget lagu ini adalah ketika banyak kejadian di TV seorang ibu yang tega membunuh anak kandungnya sendiri dengan berbagai alasan. Ada yang karena alasan ekonomi yang carut marut, karena ditinggal suami, bahkan ada yang beralasan karena memang benci sama anaknya sendiri. Olala, dunia ini sudah edan atau lagunya aja yang salah? Gue bener - bener gak ngerti. Kenapa bisa diciptain lagu kayak begitu kalau gak semua Ibu bisa mengasihi anaknya tanpa pamrih? Gue inget kata - kata dosen Pengantar Ilmu Komunikasi gue, Pak Riswandi. Beliau bilang "Teori muncul karena ada fenomena, maka teori bisa salah tapi fenomena tidak." Nah lho? Berarti artinya lagu "Kasih Ibu" bisa aja jadi salah seiring dengan berjalannya waktu? Nah lho? Gue jadi pinter kan, bahaya.

Ibu gue yang biasa gue panggil mama, adalah salah satunya. Dulu gue bisa dibilang penggemar fanatik beliau yang terus - terusan muji betapa mulianya hati mama. Dia begitu baik dan penyabar, tapi tentu sama anaknya. Anehnya, ketika gue semakin besar dan makin banyak fenomena di kepala gue soal perilaku mama, gue jadi curiga. Mama beneran sayang tanpa pamrih gak sih sama gue?

Gue mulai berteori dan mencari - cari semua hal yang ada kaitannya antara gue dan mama. Sampai akhirnya gue mulai berteori dan teori gue begini: Mama bisa sayang tanpa pamrih ke anaknya kalau anaknya bisa menjadi anak yang baik dan bermoral. Hmmm justru tampak pamrih yah? Ya begitulah kesimpulan awal gue soal kasih sayang mama gue sendiri yang gue coba definisikan. Gue mulai membayangkan, apa jadinya cinta yang mama berikan kalau seandainya gue adalah anak berandalan. Gue anak pembangkang yang gak pernah mikirin masa depan, gue anak yang gak kritis dan menerima semua ajaran tanpa mau membedah lebih dahulu, gue anak yang gak tahu diri yang bisa ngambur - ngamburin duit orang tua tanpa jelas dikemanain duitnya, gue jadi anak yang hobi dugem dan merokok kayak cewek - cewek jaman sekarang. Hmmmm, gue makin mikirin ini dan gue jadi ragu. Kayaknya mama gak mungkin bisa sayang sama gue seperti sekarang ini. Jadi kesimpulan gue adalah, mama bisa menyayangi gue tanpa pamrih lebih kepada alasan karena gue bisa jadi anak manis yang kritis dan bermoral selama 20 tahun kehidupan gue.

Kalau begitu dimana sebuah cinta yang real, hakiki, tanpa syarat apapun kalau ternyata seorang ibu aja gak bisa berikan. Bagaimana dengan teman? Banyak yang bilang teman sejati ada di dalam suka maupun duka. Tapi benarkah demikian? Apa mungkin seorang teman bisa berlaku tanpa pamrih sedikitpun dengan kita? Jawabannya pasti tidak. Taruhan sama gue kalau kalian bisa menemukan seorang saja teman yang bisa menyayangi kita tanpa pamrih sedikitpun.

Bagaimana dengan seorang ayah? Hmmm. Memang banyak sih cerita yang menggambarkan kemuliaan hati seorang ayah dalam melindungi anaknya. Bisa kita lihat di film - film barat deh, bisa disimpulkan sosok seorang bapak begitu mulia. Tapiyy, benar begitu gak sih? Didunia nyata banyak sekali seorang bapak tega meninggalkan anak istrinya karena sudah mendapatkan wanita lain yang 'dicintainya'. Walau 'dicintainya' ini sebenarnya dalam konteks yang ambigu. Antara benar cinta atau nafsu? Karena kalau memang berdasarkan cinta, seorang bapak dan suami tidak mungkin tega meninggalkan keluarga demi orang lain.

Kasih sayang tanpa pamrih itu sulit didapat. Mungkin bisa dilihat dan dirasakan ketika seorang ibu melahirkan buah hatinya dengan penuh perjuangan. Tanpa minta apapun seorang ibu bertarung bersama maut untuk mengeluarkan bayi mungil. Namun, kalau dipikir sebenarnya mungkin bukan karena si Ibu mau melahirkan bayinya dan tidak minta balasan apapun, tapi lebih kepada si ibu tidak punya pilihan sama sekali. Perutnya sudah semakin besar dan membawa si bayi dalam kandungannya seringkali membuat punggungnya sakit dan pegal. Tidak mungkin Ibu mempertahankan bayi didalam perutnya yang begitu membuatnya menderita. Maka mau tidak mau, sang bayi yang keriput itu harus dikeluarkan Ibu dengan sekuat tenaga meski meregang nyawa.

Lantas dimana bisa kita temukan kasih sayang tanpa pamrih hingga seseorang mampu mengorbankan hidupnya demi orang yang dikatakan sebagai, dicintainya? Sulit sudah pasti. Namun, tidak menutup kemungkinan bila memang salah satu dari kita bisa menemukan orang yang memiliki hati mulia seperti itu. Tanpa pandang bulu dan pilih - pilih, orang tersebut berusaha agar setiap orang yang dicintainya bisa hidup bahagia dan bebas dari penderitaan. Kasih sayang tanpa syarat? Cukup sekian dan terima kasih.