Senin, 31 Desember 2012

Malam Tahun Baru

Bir, Barbeque, Marshmallow, Kembang Api, Lampu-Lampu
Telah siap mengundang tamu
Memainkan peran mereka dalam kegilaan semu
Menyambut yang mereka sebut Tahun Baru

Tanpa harus diberitahu
Kita semua setuju
Bahwa menjelang semua yang baru
Doa sudah pasti diburu

Apakah kamu juga begitu?
Disuatu tempat yang aku tidak tahu
Sedang apa atau melakukan sesuatu
Berdiam diri ditengah ramai yang ambigu
Sudahkah kau berdoa dan mengharap sesuatu?

Tanpa mesti kau kuberitahu
Atau semua orang menjadi tahu
Kupanjatkan satu doa hanya untuk kamu
Jika memang saatnya tiba, benarkah kita bisa menjalin tanpa ragu
Berjanji tanpa sendu
Mencinta selalu

Apakah aku sedang melucu?
Ditengah keramaian aku membisu
Apa yang sedang aku pikirkan tentangmu
Bagaimana aku tahu
Kita pasti akan bersatu
Jika saja kau tak pernah beritahu
Tentang hatimu
Padaku






-dimalam menjelang hari baru-
311212

Rabu, 26 Desember 2012

Aku Sedang Membayangkan

Aku sedang membayangkan saat tubuh manusia yang kupuja terbaring tak berguna lalu peti matinya menutup untuk selamanya.
Aku sedang membayangkan bahwa bayang-bayang yang menghantuiku sepanjang perjalanan mencinta, akhirnya pergi tak bersisa.
Aku sedang membayangkan saat sisa terakhir dari nafas yang kuberikan untuk kita bagi dua, kurampas kembali agar utuh kini kugenggam sempurna.
Aku sedang membayangkan sesak yang kurasa setiap kali menyadari dia yang kupercaya telah mengkhianati keluguan sejati, meninggalkan cacat tak kuasa untuk kembali seperti semula.
Aku sedang membayangkan segalanya bisa kutanggalkan tanpa harus melihat kebelakang.
Aku sedang membayangkan aku mampu berdiri tegar, menatap dingin masa lalu dan berjuang akan masa depan.
Aku sedang membayangkan kalau aku bisa mengurangi kecanduanku akan rindu yang tak mampu ku sudahi.
Aku sedang membayangkan sakit pengkhianatan ini kulalui dengan bijaksana tanpa harus berurai air mata.
Aku sedang membayangkan jikalau nanti petang tiba, aku masih mengingatnya dalam ingatan maka kuputuskan untuk bercengkarama dengan semesta.
Aku sedang membayangkan keindahan kekuatanku beranjak pulih saat dia berpaling dariku.
Aku sedang membayangkan wajah lugu seakan suci tak pernah terlintas dalam sejarah kehidupan.
Aku sedang membayangkan gemetar yang kurasakan saat mengingat kenangan yang tampak abadi ternyata semu dan menyakitkan.
Aku sedang membayangkan detak jantungku memompa tak lazim ketika harus mengenggam kenyataan kepergiannya karena alasan tak relevan.
Aku sedang membayangkan kakiku mati rasa saat melangkah meninggalkan angan-angan.
Aku sedang membayangkan walau mataku berurai air mata, aku mampu menanggalkan sakit tak terkira tanpa berharap balasan setimpal.
Aku sedang membayangkan tumpukan kekesalan akan penderitaan karena pengkhiatan segera lenyap tanpa meninggalkan sedikit bayang-bayang.
Aku sedang membayangkan dan terus membayangkan hingga aku tak bisa membedakan eksistensi bayangan dan kenyataan.



-saat sisa-sisa tak pernah hilang-
26122012

Minggu, 09 Desember 2012

Malam Murka

Sini kemari, datanglah padaku
Mari kita bercengkrama
Dalam kelam yang tak malu pada malam
Aku ingin mengajakmu terhanyut dalam lamunan
Sudah kukatakan berkali-kali padamu
Pada dunia yang tak pernah berpihak kepadaku
Aku benci sungguh benci
Hingga rasanya aku ingin bunuh saja
Biar semua usai saat ini juga
Agar tak ada lagi getir yang kurasa sampai datang petir
Air mata temanku selalu
Cacian ingin kurangkai di hati
Aku ingin mengumpat, membenci semua
Mereka hanya bisa mencemooh
Memandang sebelah mata kepada aku dan yang lain tanpa belas kasihan
Malam menghembuskan misterinya
Selalu begitu
Seperti halnya hidup yang tak pernah sekalipun mampu menjawab
Atas segala tanya
Serta kebencian yang ingin kupasung
Aku selalu menangis
Ketika kemiskinan kuceritakan kepada semua
Kapan aku bisa berceloteh tentang kemiskinan dalam tawa?
Beranggapan kemiskinan bukan sebuah permen pahit yang kukecap lama-lama
Itu hanyalah berupa lelucon bukan kenyataan sakit hati
Kemiskinan..
Kalau saja kau manusia
Sudah kukirim kau ke neraka
Agar tak satupun manusia terjerat dalam angkara murka




-kepada yang bercerita di malam hari saat kopi menyisakan ampas-
091212

Senin, 03 Desember 2012

Pasal 156

Pasal 156
Pernyataan Perasaan Permusuhan, Kebencian dan Penghinaan Golongan
'Barangsiapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.'

Lantas mengapa masih banyak kasus kejahatan mengenai diskriminasi antar golongan masih terjadi di negeri ini, di tempat di mana aku dilahirkan. Indonesia yang lahir berdasarkan azas Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Jika diartikan maka kita bisa ketahui artinya dalam bahasa Indonesia ialah "Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran".

Bukan hanya moto bangsa ini yang seharusnya mampu menaklukan kebencian antar golongan. Tapi hukum yang ditegakan dilapisan masyarakat seharusnya mengilhami siapa saja untuk taat akan peraturan. Kebencian hati tidak dapat digurui oleh sistem apapun, tapi kita hidup bukan hanya sendiri. Kita dikelilingi oleh orang-orang dari berbagai persepsi. Sehingga bukankah lebih indah jika kita saling mengasihi dalam segala perbedaan duniawi?

Atau mungkin hukum yang terlalu mudah dibeli? Yang pada akhirnya siapa saja bisa menjual diri tak berpikir dua kali. Demi keuntungan semata dan masing-masing pribadi, mereka yang berkuasa mampu mengadili. Miris benar bangsa ini! Bung Karno pasti akan menangis saat mereka yang katanya mengusung Demokrasi malah kembali memasung kemerdekaan berpikir atas nama kebenaran prinsip bagi mereka sendiri.  Pastilah sedih semua orang tua yang telah mati. Anak cucu harus bertengkar disana-sini, menganggap paling benar sendiri.

Dimanakah hati nurani? Saat sesama manusia saling membantai terlebih yang dibantai adalah sesama bangsa kita, bangsa Indonesia.

kenangan'98 - JL


Kupandangi sekali lagi hasil tulisanku. Berkali-kali. Walaupun sejujurnya aku hanya membacanya sekali. Kepala redaksi majalah "Waktu" memintaku menulis lagi sejak tulisanku yang pertama berjudul 'Mahasiswa dan Mabuk-mabukan' dimuat minggu lalu. Hanya dikolom kecil sebenarnya. Kolom yang disisakan untuk penulis pemula yang haus akan pengalaman jurnalistik. Boleh berupa memoar atau deskripsi mengenai suatu hal. Tulisanku kemarin panjang lebar dan penuh celoteh soal mahasiswa dan partisipasi mereka didalam perkembangan negara yang nyatanya mereka terlalu sibuk 'mabuk-mabukan' akan segala kemajuan dunia. Dan entah mengapa, aku agak kurang puas melihat tulisanku saat ini.

Mungkin karena faktor terlalu singkat dan terbawa perasaan sensitif mengenai hati nurani, aku jadi merasa geli sendiri. Jude Liam, pria tangguh yang bisa Taekwondo menulis di artikel sisa yang hanya menekankan pada persoalan hati nurani. Tanpa bukti otentik atau membahas mengenai kejadiannya secara mendetail, aku hanya mampu menulis sampai itu saja. Bagian yang akhirnya menunjukkan bahwa aku adalah manusia sensitif. Sungguh sangat tidak jurnalistik sekali, pikirku.

Sebenarnya aku ingin menulis detail kejadian tahun 1998. Saat Reformasi terjadi menggantikan panggung Orde Baru. Saat mahasiswa mampu mengkudeta pemerintah walau aku tahu ada 'mereka' dibalik kerusuhan tersebut. Dan meskipun mahasiswa jadi boneka, tetap saja membuat kita merdeka. Lepas dari sebuah pemerintahan diktator dan mampu beraspirasi disetiap forum umum. Kita merasakan aura yang lebih manusia.

Sepuluh tahun kemudian dari gebrakan Reformasi itu, aku terlahir ke dunia. Menjalani kehidupan hingga akhirnya kini usiaku menginjak 25 tahun. Informasi mengenai kenangan 1998, hanya kudapatkan dari tempatku mengeyam pendidikan kuliah. Tak ada lagi yang membicarakan. Padahal kejadian itu merupakan sejarah berdarah. Dimana, fokus yang membuat aku tertarik, bukanlah saat mahasiswa ditembaki. Tapi lebih kepada penganiayaan terhadap golongan tertentu. Etnis tionghoa menjadi korban dan seolah-olah pribumi yang menjatuhkan.

Direntang waktu yang belum mencapai 100 tahun, sudah banyak yang berubah dari dunia. Pelajaran sejarah yang jadi favorite sejak aku bisa baca, nyatanya tidak pernah menjadi pelajaran favorite dibandingkan dengan pelajaran Teknologi dan aku harus mengais-ngais informasi demi idealismeku sebagai jurnalis sejarah dan humanis dibandingkan jurnalis yang melulu menggembar-gemborkan berita teknologi dan politik. Mereka para pembuat kurikulum itu menekankan pentingnya kemajuan berpikir dan perkembangan teknologi, namun berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa jiwa mereka tak bernurani, ibarat robot.

Di jaman aku hidup sekarang, berbagai percobaan biologi diterapkan kepada manusia secara langsung. Bukan lagi kepada hewan dan itu dilakukan secara terang-terangan tanpa ditutupi sama sekali! Lebih gilanya lagi, mungkin hanya aku dan segelintir orang yang menganggap percobaan terhadap manusia itu hal yang kejam. Sisanya yang lebih banyak merasa apa yang mereka lakukan adalah benar dan sudah selayaknya terjadi. Mereka menggunakan para gembel jalanan yang tidak punya perlindungan itu sebagai bahan percobaan obat-obatan. Ada yang bilang organ tubuh merekapun dicuri tanpa dibeli. Seolah gembel saja tidak punya hak untuk hidup! Kembali ke pasal 156, dimanakah keadilan terjadi?

Maka dari itulah, aku mengangkat pasal 156 sebagai tema tulisanku. Pasal Pidana 156 yang belum di amandemen hingga aku seusia sekarang. Kemajuan Teknologi tidak menarik minatku, aku lebih bahagia jika aku menulis tentang manusia dari sisi analisis. Tapi aku tidak tahu kenapa tulisanku yang ini lebih terkesan sensitif, yah aku mengingatkan diriku lagi. Semua ini karena minimnya informasi yang kudapatkan.

Kupandangi arlojiku. Sudah pukul dua malam tapi diluar masih terang benderang. Jakarta telah berubah drastis seperti yang ada digambar tiga puluh tahun lalu. Kota ini tak pernah tidur dan disetiap sudut kota dipasangi lampu-lampu warna-warni yang terang benderang. Manusia pun lebih sibuk. Mereka bekerja mulai pukul delapan pagi hingga delapan malam, lalu berjalan-jalan dan menikmati midnight sale dimana-mana yang terjadi setiap hari. Entah apa yang mereka cari tapi manusia seolah tak pernah lelah akan dunia.

Ibuku pernah bilang, bahwa suatu hari bangsa manusia akan lenyap dari dunia. Suatu hari nanti yang entah kapan. Tapi melihat kenyataan betapa eksisnya manusia saat ini aku jadi ragu apakah kata-kata ibuku bisa dipercaya. Ibuku asli orang Jawa. Entah benar-benar asli atau tidak tapi setidaknya ia diberitahu begitu. Sebab imigrasi manusia mampu menciptakan percampuran suku dan bangsa yang baru, itu yang kutahu. Namun, karena ibuku sejak lahir sudah di Jawa, maka ia mengaku orang Jawa. Ayahku percampuran orang Tionghoa dan Jerman. Ibunya adalah keturunan orang Tionghoa yang sudah sejak lama di Indonesia, sedangkan Ayahnya ayahku adalah seorang militer Jerman yang kala itu datang ke Indonesia karena pelarian. Ia bercampur baur dengan keluarga nenekku hingga akhirnya lahirlah ayahku. Ayahku sendiri juga masuk militer waktu muda dulu. Kakek bangga sekali padanya. Aku aneh jika mendengar ceritanya. Bagaimana kakek bisa bangga akan ayah jikalau ia saja lari dari militer?

Tapi, tak pernah sekalipun kakek menjawab jika aku bertanya demikian. Ia hanya akan menyunggingkan senyum misterius dan berkata  Homo Homini Lupus, sebuah ungkapan Latin yang berarti 'Manusia adalah Serigala bagi sesama Manusia'. Hingga kini aku tak benar-benar mengerti kenapa kakek menjawab demikian dan apa kaitannya dengan ayah yang masuk militer?

Tiba-tiba alarm kota berbunyi. Alarm yang sudah ada sejak sepuluh tahun lalu. Tanda yang dibuat atas perintah pemerintah pusat disetiap daerah ibukota untuk memperingatkan masyarakat dan tak pernah sekalipun alarm kota berbunyi sejak berdiri. Hanya beberapa kali saat kita melakukan latihan evakuasi. Entah evakuasi untuk apa, aku sering bertanya tapi tak ada yang menjawab.

"PERSIAPAN KEPADA WARGA IBUKOTA. SEKALI LAGI PERSIAPAN KEPADA WARGA IBUKOTA. KOTA INI AKAN DIJADIKAN SEBAGAI PERCOBAAN SENJATA. DIHARAPKAN WARGA MENJERIT KERAS JIKA MEMANG KALIAN TERLUKA. PINTU KOTA TELAH DITUTUP. TAK ADA SATUPUN YANG BERHAK KELUAR", raung sebuah suara membelah malam sambil setengah tertawa.

Aku terdiam mengingat kata-kata kakek. Homo Homini Lupus. Baiklah kalau begitu, ucapku dalam hati sambil menangis.



tahun 2033 -di suatu zaman- 

Minggu, 02 Desember 2012

Eksistensi Tuhan

Aku sering merenungi tentang eksistensi Tuhan. Bagi sebagian besar agama, mempertanyakan Tuhan adalah tabu. Tapi aku tak peduli kata mereka soal larangan. Jika Tuhan memang ada dan ia menganugerahkan manusia sebagai makhluk berakal maka artinya aku diizinkan menggunakan akal ku untuk berpikir tentang dia. Itu pemikiranku yang pertama tentang Tuhan dan aku rasa Tuhan tidak akan membenciku mempertanyakan keberadaannya. Sebab jika orang tua yang penuh kasih saja tidak akan tega berlama-lama pergi dari anak yang dikasihinya, aku rasa Tuhan akan lebih mengasihi dengan caranya yang luar biasa.

Setiap waktu dalam nafas aku habiskan untuk mempertanyakan tentang jati diri. Hingga akhirnya suatu hari aku kemudian sadar bahwa aku salah. Selama ini aku tidak bertanya kepada Tuhan. Aku hanya bertanya kepada diriku sendiri Yah, memang begitulah aku yang senantiasa asik sendiri. Akhirnya aku mulai mencoba berdiam diri lalu mencari sesuatu yang membuat aku puas dan tergenapi. Aku harus memilih agama, setidaknya itu yang mereka bilang jika ingin bertemu Tuhan.

Dalam blog ini aku tidak akan menyinggung satu dua agama tertentu. Baik dari cara mereka beribadah maupun cara pandang mereka ketika mendefinisikan ajaran agama. Aku hanya sedang ingin berbagi kepada siapa saja yang sebenarnya jati dirinya tak kunjung ketemu saat usia menjelang senja. Aku bukan orang yang menyukai peperangan atau mudah dihasut untuk perang agama. Aku cinta kalian semua, duhai sahabat dunia maya. Maka ku tulis blog ini dengan maksud aku sedang bercerita kepada dunia, kepada siapapun yang mau membaca.

Aku pernah mengembara. Mencicipi berbagai agama. Bukan dari sisi dogma yang membuat buta namun dari keaslian ajaran agamanya. Satu yang ku percaya bahwa mereka para pembawa agama hanya ingin murid-muridnya dapat menjalankan aturan agama dengan baik dan benar. Meneruskan hingga ke anak cucu dan turunan mereka tanpa ada jeda atau binasa. Semua benar hanya saja banyak juga yang merasa paling benar hingga akhirnya harus melalui penyebaran agama yang penuh derai air mata dan tumpah darah. Miris! Saat kau terlahir ke dunia dengan bakat dan anugerah dari Tuhan lalu kemudian dipercaya oleh Tuhan untuk menyebarkan wahyu Tuhan, itu sama artinya kau dipercaya pula untuk menyebarkan cinta kasih universal bukan dengan pedang atau kuasa. Ada cara yang lebih bijaksana dan baik hati bukan? Yang bisa kau pakai untuk 'meluruskan' jalan orang lain jika yang kau pikir jalan yang mereka lalui adalah salah.

Tapi benarkah ada jalan Tuhan yang salah atau belum sempurna? Tuhan sendiri saja sudah sempurna. Tentu ajaran Tuhan pun sempurna juga pastinya. Dan apakah mungkin Tuhan akan memberikan jalan yang salah sehingga mereka yang menghakimi yang lain berhak untuk menyalahkan jalan Tuhan? Tidak tentu tidak sahabat ku yang baik. Kalian semua adalah makhluk Tuhan. Percikan Tuhan yang Maha Sempurna. Disisi yang kau anggap salah itu pastinya ada sisi baik yang seperti Tuhan. Bukan aku sedang menyamakan diri dengan Tuhan. Bukan, bukan begitu. Tapi coba sadari, jika kau makhluk Tuhan, kau pasti di ciptakan mengikuti beberapa sifat Tuhan. Seperti halnya manusia jaman sekarang yang tiada habisnya mengembangkan teknologi untuk menyamai pintarnya dengan manusia! Mengapa manusia? Sebab para ilmuan cerdas itu tahu betul potensi manusia yang merupakan makhluk Tuhan! Mereka tahu manusia mampu menampung berbagai informasi, maka kemudian ditemukanlah alat yang mampu menandingi kecerdasan manusia. Kalian makhluk Tuhan yang pastinya tidak jauh sifat baiknya dengan Tuhan.

Lantas mengapa begitu banyak tindak kejahatan di dunia? Itukah cara Tuhan menghakimi kita? Itu juga salah satu pertanyaan yang senantiasa menggelitik nalar. Mereka manusia yang katanya adalah ciptaan Tuhan, bertindak sesuka hati mereka seolah-olah mereka mencerminkan Tuhan. Mereka merencanakan perang, membunuh jenis mereka sendiri, mereka tidak berbagi, mereka memfitnah, mencaci, dan melakukan apapun perbuatan yang merugikan makhluk-makhluk Tuhan yang lainnya. Benarkah kalau begitu manusia ciptaan Tuhan? Atau benarkan Tuhan itu memiliki sifat baik jika saja manusia yang ia ciptakan mampu mencerminkan kejahatan terhadap dunia?

Melalui berbagai isu politik, SARA, atau isu-isu lainnya mereka merasa paling benar. Mereka menghakimi dan seolah palu hakim yang tak kasat mata itu mampu menyudutkan yang ini salah dan yang itu benar. Mereka menghilangkan kemanusiaan sehingga memperlakukan manusia lain dengan cara tak manusiawi. Bahkan bukan melalui cara hewan juga sebab banyak hewan diluar sana yang mendapatkan perlakukan lebih baik ketimbang manusia. Bukan sedang tidak adil dengan hewan-hewan. Mereka juga makhluk yang memiliki kepantasan untuk diberikan cinta kasih. Tapi yang dibicarakan saat ini adalah manusia yang berperilaku lebih rendah dari hewan ganas sekalipun. Dan blog ini tidak akan melebar kepada persoalan hewan, jadi kembali ke duduk perkara.

Dimanakah Tuhan saat manusia hidup dalam pertengkaran? Tidakkah Tuhan coba hentikan segala yang telah mereka mulai? Apakah ini bagian dari rencanamu untuk meniadakan manusia yang lainnya demi mempertahankan manusia yang lainnya? Mungkinkah Tuhan berencana digantikan oleh mereka manusia yang bertindak selayaknya Tuhan hingga tega memutuskan yang ini pantas hidup yang lainnya mati?

Aku sudah bosan merenung dan bosan pula mengembara. Jawaban lantas tak ditemukan seiring jaman manusia makin gila akan kuasa hingga mereka mampu menghilangkan nyawa. Aku bukan lagi merasa bijaksana tapi masih adakah manusia yang peka akan derita sesama? Manusia yang mampu mengilhami siapa saja hingga akhirnya kemudian semua menyadari. Oh ini yah sifat murni manusia. Sifat mengasihi yang sudah mengalir dalam diri manusia. Contoh kecilnya nafas manusia. Makhluk manusia tidak semata-mata menghirup oksigen dalam udara. Mereka juga harus mengeluarkannya bersama karbon dioksida yang dihasilkan oleh metabolisme tubuh. Kemudian karbon dioksida itu bercampur baur sebagai bahan bakar fotosintesis tumbuh-tumbuhan. Itulah manusia yang memiliki bakat mengasihi dan berbagi.

Seiring waktu aku menjamah cerita, pada akhirnya aku putus asa. Pada eksistensi Tuhan yang kucari. Pada sosok yang ingin kutanyai. Sosok? Jikalau Tuhan sosok, samakah artinya Tuhan hanyalah makhluk seperti halnya manusia. Kucermati bahasa Indonesia, lalu aku tersenyum simpul. Pantas saja Ir. Soekarno Bapak Presiden kita yang pertama merumuskan kata-kata dengan cara yang bijaksana luar biasa. Ia tidak hanya memikirkan tapi juga memahami sebuah kalimat yang dicantumkan dalam Pancasila.

Sila ke satu : "Ketuhanan yang Maha Esa"

Sudahkah kalian sadar akan maknanya? Ir. Soekarno tidak merumuskan menjadi "Tuhan yang Maha Esa". Aku tidak merasa paling benar mengartikan kalimatnya tapi 'Tuhan' berarti kata benda dan 'Ketuhanan' seperti halnya 'Kebijaksanaan' atau 'Kejahatan' adalah kata sifat. Yah, kata sifat! Pancasila kunci segalanya. Dan tak perlu aku mencari lagi aku tahu bahwa segalanya adalah menyangkut soal sifat. Sifat 'Ketuhanan' yang mendiami siapa saja. Bukan soal siapa Tuhan atau dimana Tuhan, kini aku mengerti. Tapi bagaimana menjadi manusia yang memiliki sifat Ketuhanan yaitu saat kau mampu mengasihi tanpa batas melalui cara baik dan benar.




-disudutkota-
kepada mereka yang mencari Tuhan
011212

Sabtu, 01 Desember 2012

Ada Pria yang Ku Kenal Lama

Ada pria yang ku kenal lama
Yang selalu hadir disetiap saat aku menjalani kehidupan
Yang selalu ikut andil dalam setiap acara
Ia disebut ayah atau setidaknya begitu dalam sapaan

Ada pria yang ku kenal lama
Senantiasa membuat aku menggerutu akan kehampaan dunia
Yang seharusnya bertanggung jawab atas benciku pada nasib karma
Manusia dewasa namun jauh dari bijaksana

Ada pria yang ku kenal lama
Penderitaan dan air mata haruslah aku sudahi
Perih rasanya jika harus berpura-pura
Seakan semua baik tapi nyata tak bisa dipungkiri

Ada pria yang ku kenal lama
Ia selalu berdalih akan kebiasaan lama
Seolah kita harus ingat ia begitu sudah lama
Sehingga tak ada kata kesal berlama-lama

Ada pria yang ku kenal lama
Yang seharusnya berwibawa saat bercengkrama
Bercerita tentang rasa dan petualangan saat masa muda
Namun, sudahlah putus asa ia tak mungkin bisa berubah dikala senja

Ada pria yang ku kenal lama
Manusia yang kukasihi segenap hati
Walau benci melingkupi jiwa
Hati nurani tetaplah menyayangi




-disudut kota-
011212

Kita

Namamu itu mudah diingat
Oleh serdadu rindu yang hadir saat aku kelabu
Matamu itu mudah diartikan
Sebab kau tatap aku dengan caramu yang sendu
Sederet gigi rapi mu indah jika tertawa
Saat itulah kau telah memasungku untuk tidak kemana-mana

Kau
Bagian dari dunia bersama jutaan anak manusia lainnya
Terdiri dari elemen yang nyaris sama dengan mereka semua
Namun, mengapa
Aku terperangkap dalam persatuan elemen dirimu

Aku
Seperti halnya manusia penyu
Yang selalu lambat meninggalkan duka
Tapi, mengapa
Segalanya telah cepat berlalu saat bertemu kamu

Kita
Manusia dari beda dunia
Yang tak sama mengartikan fana
Kau si realistis
Sedang aku si pujangga sensitif

Lantas kenapa harus jumpa?




-disudut kota hujan-
untuk kamu
011212

Pena dan Kertas

Itulah alasannya mengapa aku senang menyendiri. Baik di siang hari yang dimandikan cahaya mentari, maupun malam hari saat bulan mengintip dibalik awan kelabu. Aku tak butuh semua kata rayu yang disisipkan dalam lapisan merindu. Aku hanya perlu kepastian yang selalu didamba dedaunan saat hujan mulai turun. Aku tak perlu segala yang kau bisikan lewat sayatan rindu. Aku hanya butuh hadirmu yang sering kau satukan dalam gumpalan manis kata-kata cemburu.

Maka dari itu, kutuliskan sebuah surat untukmu. Surat yang terdiri dari huruf-huruf yang membentuk sebuah aksara nan jemu yang kupaksakan agar saling menyatu hanya untukmu. Mereka juga tak mau sebenarnya jika hadir hanya untuk mencacimu. Mereka hanya suka jika dituliskan untuk memujamu. Tapi pantaskah aku memujamu jika saja rindu yang kau picu ini harus mati sebelum jumpa?

Jemariku sudah tak sabar ingin mengartikan kamu, sebab sesak rasanya jika gemetar di dada sulit diungkap. Sakit rasanya kepala ini jika aku tak mampu memeluk raga. Jadi yang kubutuhkan saat ini hanya pena dan secarik kertas kosong yang nantinya akan penuh akan sumpah serapah.

Ku mulai menulis satu kata untuk mu. C-I-N-T-A. Lagi-lagi cinta dan lagi-lagi lantas kecewa. Aku seringkali tak memahami bagaimana perasaan berlawanan itu dapat hadir bersamaan, setiap kali. Inikah garis karma yang harus dijalani? Aku diam saat mencoba merenungi. Namun, semakin ku coba selami aku semakin ingin mati. Baiklah, kalau begitu. Mari lanjutkan menulis tanpa perlu harus memiliki asa.

Aku gemetar. Entah karena aku kecewa atau karena aku bahagia. Yang jelas aku ingin binasa. Dari segala yang ku cipta saat aku mulai percaya pada janji-janji yang tampak tulus saat kita baru jumpa. Kau yakin akan yang kau rasa. aku hanya diam tak percaya. Kau salami sepi yang menyatu dalam jiwaku, aku hanya diam membatu. Kau ulangi segalanya berkali-kali, aku akhirnya tak kuat lagi. Kujelajahi penasaran hingga sampailah aku terjebak diruang rasa.

Aku benci harus mengingat semua tapi apa daya kepalaku sudah penuh akan duka. Aku hanya ingin melepas cara aku menderita, perlahan. Lewat cerita yang kuhasilkan dari pena dan kertas yang bercengkrama. Tak perlu teh hangat atau cemilan sore santai, mereka berdua saja sudah cukup mengantarku kembali kepada nyata. Aku ingin menghasilkan sebuah cerita hingga akhirnya nanti banyak yang jengah. Akan sebuah rasa yang senantiasa mereka pasung dalam sastra.

C-I-N-T-A. Lagi-lagi hanya kata itu yang kutulis di kertas. Mungkin pena yang kupakai nyaris habis tintanya hingga aku tak mampu lagi menulis kata. Bukan. Bukan seperti itu. Otakmu yang telah buntu hingga kamu tak bisa menghasilkan lagi kata yang mampu kau analogikan untuk dia -kata diriku kepada aku. Lantas akhirnya aku diam membisu. Hanya inikah yang mampu aku hasilkan sedangkan seringkali aku mengamati dunia? C-I-N-T-A. Lagi-lagi kata itu yang kutulis hingga mungkin saja aku nyaris gila?

Inilah alasan aku senang menyendiri. Dari hingar bingar manusia yang senantiasa mencari. Aku tak mampu membagi. Sebab aku selalu meninggalkan diriku saat mulai mencintai.



-dikota hujan-
011212

Kamis, 29 November 2012

Langit Runtuh

Pada dasarnya, aku tahu. Langit itu hanyalah bagian fatamorgana hasil persepsi pikiran kita. Pernahkah ada manusia yang pernah menyentuh langit secara nyata? Langit yang sering disebut-sebutkan itu hanyalah sebuah perumpamaan cerdas mengenai apa arti sebuah kekosongan dan keheningan.

Langit bukanlah sesuatu yang nyata. Langit merupakan sesuatu yang abstrak yang sulit dijelaskan dalam bahasa manusia. Memahami eksistensi Langit seperti halnya mencoba menyelami Cinta yang sulit dijelaskan menggunakan beribu kata.

Cinta itu menyangkut rasa. Terdiri dari jutaan makna bahkan tak terhingga maknanya. Semua bisa dirasakan tanpa bisa disentuh atau digenggam nyata. Meski begitu semua orang menyukainya dan semua orang ingin merasakan jatuh cinta. Yang walaupun sakit dan perih, jika mengatas-namakan Cinta segalanya nampak baik-baik saja.

Dan mungkinkah itu yang terjadi saat aku menatap kedua bola matamu yang bulat itu? Mata bayi yang hingga kini membuat aku merindu. Mata yang tidak selalu menatap mataku, hanya saja aku sering kali mencuri pandang kearahmu. Mata yang dikelopak ujungnya mengerut jika kau tertawa. Tawa renyah yang kau suguhkan bersama sederet gigi rapi itu. Tawa yang benar-benar indah hingga aku rasanya ingin mati rasa.

Segala pesonamu tak ubahnya dapat menarik perhatianku, dulu. Kau hanyalah satu dari sekian banyak manusia yang telah kukenal dan tak ingin kukenal. Hanyalah bagian dari cerita pendek yang disuguhkan bersama kopi panas sambil duduk santai dihalaman belakang rumah. Bukan bagian cerita panjang yang akan aku ceritakan dikala malam telah tiba dan aku akan mendongeng pada anak cucuku. Kau hanyalah manusia biasa yang seperti biasanya aku temui. Tak ada yang spesial.

Banyak yang memujamu. Entah apa yang membuat mereka tergila-gila pada manusia biasa sepertimu. Kata mereka kau sempurna. Kata mereka pula kau cukup dikenal. Tapi siapa engkau? Tak pernah sekalipun aku tahu tentang kamu. Mungkin kamu yang terlalu sibuk berkelana atau mungkin aku yang terlalu tak punya rencana untuk mencari tahu sedikit saja tentang kamu.

Ocehan mereka soal nama besarmu itu tak pernah aku pikirkan. Aku hanya tahu kita punya sebuah hubungan. Ikatan yang cukup baik namun aku tahu tak akan terlalu jauh. Kau ibarat Raja sedangkan aku ibarat Dayang-Dayang dikala senja yang datang menyambut malam. Tugasku adalah 'melayanimu' dan tugasmu adalah mendapatkan 'pelayanan' terbaik yang dimiliki olehku. Ini bukan hal vulgar sebenarnya, hanya saja hubungan kita memang soal melayani dan dilayani.

Sampai tiba saatnya ikatan sederhana yang tanpa ekspektasi ini berlanjut. Entah apa yang merasuki alam pikirmu, semudah angin mencintai dedaunan, semudah itu pula kau mengetuk pintu hati yang telah kukunci karena trauma diri. Kau sentuh walau tak perlu kulit kita bersentuhan. Aku tahu aku menyambut hangat segala yang kau berikan. Berikan? Apa yang sejatinya berupa pemberian? Jika yang kau berikan hanyalah berupa kata-kata manis yang tak bisa kubuktikan?

Waktu memang misterius. Tanpa sekat tanpa dimensi, waktu bukanlah 'sesuatu' melainkan hanyalah berupa jeda diantara kehidupan yang berjalan. Meski bukan ruang hampa tapi waktu hanyalah waktu. Tak peduli seberapa rumit manusia membuatnya menjadi lebih mudah diingat melalui arloji atau jam dinding yang seolah dapat memasung waktu, waktu tetaplah waktu. Perkenalan singkat toh nyatanya bisa membuat siapa saja seolah De Javu. Perjumpaan dengan sekat dan kodrat pun harus lebur saat waktu tak bisa menjelaskan mengapa kedua manusia yang tak pernah saling jumpa itu seolah telah mengenal lama.

Melalui caramu yang mungkin terbiasa menyenangkan banyak orang, aku ikut terhanyut dalam lamunan. Emosi akan kesenangan menghantui aku disetiap malam ketika kau memuja disela-sela suara yang terkekang oleh jarak. Membuat kita seakan dekat, bukan hanya persoalan jarak tapi juga sepakat dekat dalam terikat.

Janji manis itu keluar dari tenggorokanmu yang bicara tanpa tercekat. Aku ingat. Mungkin kau sudah tak ingat. Kau pinang aku meski tak berjanji. Kau hanya ingin pinang aku. Hanya ingin sebenarnya. Tapi kata-kata yang keluar itu seolah aku memang sudah jadi kekasih hatimu. Tanpa Bismillah atau tanpa izin semesta, kata-kata itu keluar saja dari suara jauhmu ditelepon. Apa ini? Aku sungguh ingin tertawa. Tak pernah sekalipun kutemui orang gila macam kau yang mengatakan menikah dengan cara tak sakral.

Aku ingin menangis. Disela kegembiraanku pada sesuatu yang tak bisa kupahami, aku sedih. Gombalan macam apa yang mampu membuat aku begitu senang, hah?! Aku rasa otakku juga tak waras dan aku menikmati segala kegilaan fana dan kujawab iya! Tiga tahun aku diminta menunggu manusia yang sebenarnya hanya bicara saja soal keinginannya. Ia tidak sedang berjanji tapi mengapa aku merasa itu sebuah janji?!

Ingin tertawa terbahak hingga nyaris mati rasa. Karma apa yang harus mempertemukan pada manusia seperti dia? Segala yang kurasa, segala yang kuingin rasa, hanya ingin desir otot jantung yang berdetak dikala kita berjumpa. Tapi mungkinkah jumpa masih ada jikalau saja kau hanya berkata bukan sedang melaksana.

Hari terus berganti dan aku tetap masih merasa bodoh ditelanjangi. Semudah itu kau mencuri, aku meringis ngeri saat mengingat lagi. Berbagai alasan kau sepakati bahwa kesibukan tak memungkinkan bagi kita untuk saling menemui. Dan akupun hanya bisa  mengikuti. Yah, bodoh mungkin. Tapi itulah aku yang sejati.

Sampai tiba saatnya aku tak mampu menahan diri. Antara rasa percaya dan penasaran membaur menjadi satu. Aku merasa aku harus menemuimu. Kita harus berjumpa kalau memang kau telah meminang hatiku tanpa cincin nyata. Setidaknya aku bisa melihat elemen dirimu lebih jelas. Selama ini hanya sekilas, jika itu yang mesti kupertegas.

Malam itu kita bertemu. Disebuah pusat keramaian manusia ketika hari sudah malam. Ini kali pertamanya aku pergi tanpa kepastian. Tak pasti akan melakukan apa, tak pasti harus apa, semuanya tanpa rencana yang biasa kususun rapi sebelum jumpa dengan mereka. Kau hal baru dalam hidupku terutama dalam soal kepastian akhir dari cerita kita yang nampak seolah sudah direncanakan menjadi.

Bintang-bintang, tak satupun tampak menggantung di langit luas. Mereka seolah jemu akan kenyataan aku telah menikmati suasana. Mereka lebih memilih datang disaat aku sedang berduka saja. Yah, apa mau dikata. Sinar bintang disebelahku lebih nyata dibanding bintang-bintang yang ada di jagad raya. Aku hanya sedang terhibur akan pelipur yang kutunggu sejak aku hancur lebur.

Ia si manusia gila. Mewujud sempurna dalam setiap kata yang telah ia dendangkan bersama asmara. Apakah aku yang kini gila hingga aku merasa telah tergila-gila pada kenaifan dunia? Harus kuakui kau memang pandai. Sekejap rasa telah kau buat aku jatuh lagi kelubang yang kutakuti. Tapi tak mengapa jika aku si manusia yang mampu mencinta tanpa harus meminta seperti yang sedia kala telah berhasil aku lakukan dengan sempurna.

Sederet gigi yang menghiasi senyum sempurna itu menemaniku hingga aku kembali kerumah. Aku tak tahu harus berkata apa, aku hanya ingin duduk diam bersamamu menatap langit hitam kelam yang mungkin bisa dihias dengan cahaya kita berdua. Tapi aku sejujurnya takut membosankanmu. Aku si pujangga sensitif hanya akan melukai ekspektasimu, pastinya. Aku tak punya apa-apa yang bisa kutukar dengan keinginanku untuk menjalani waktu yang tak terbatas ini. Aku hanya punya ruang dan itu sudah untuk kamu.

Kututup jumpa dengan pamit formal seperti biasa. Cium tangan. Dan aku seringkali melakukannya jika memang bersama mereka yang lebih tua. Kugenggam tanganmu dan kucium tanganmu seolah kau ini benar calon suamiku. Namun, entah itu doa atau hanyalah nafsu manusia, kau daratkan kecupan itu dipipi kananku yang dingin akan udara malam. Sekejap saja kau hangatkan hatiku yang telah beku akan kebencian masa lalu. Dengan hitungan detik kau sudah mencuci persepsiku dan membuatku yakin akan diriku bahwa kau memang mencintaiku.

Kini, dimalam-malam setelah kejadian saat itu. Aku sering duduk terdiam melamun menatap langit fatamorgana. Benarkah ini cinta atau hanya rekayasa sentuhan indera? Aku tak tahu pasti tapi yang jelas kali ini kau telah berhasil lagi. Kau pergi tanpa komunikasi meninggalkan aku yang sunyi.

Saat pertemuan itu, kita menyaksikan film yang bercerita soal Langit Runtuh. Saat ini, ketika aku duduk termangu akan kenangan bersamamu, aku menyadari. Langit 'kesendirianku' telah Runtuh. Dan aku tahu, kamu manusia gila yang berani meruntuhkannya tanpa usaha keras.



-saat langit runtuh-
261112

Rabu, 21 November 2012

Kenangan Malam

Terkadang malam menyembunyikan artinya. Beranalogi mengenai suasana namun sesungguhnya berpura-pura. Memasang topeng kelabu agar malam terasa sunyi. Tapi, malam tetaplah malam. Fatamorgana alam yang mereka pikir segalanya.

Malam selalu bisa menjadi eksis saat engkau sedang duka. Disudut ruangan atau dihiruk-pikuk keramaian, malam menjadi alasan terkuat mengapa engkau sembab oleh air mata. Tawa yang tadi menghiasi wajah sendu mu lenyap begitu saja sekarang. Awan mendung menggantung dalam benakmu. Kamu ingin menangis meskipun sudah terlalu sering alasan yang serupa terjadi. Kamu butuh dekapan hangat yang akan mengatakan padamu, "tenang sayang, segalanya akan baik-baik saja dan aku selalu disini karena kamu."

Kau usap jendela dunia mu tanpa berkasih sayang. Mata besarmu terkena luntur garis hitam yang kau ukir tadi pagi. Hatimu yang pilu. Malam telah melengkapkan gundahmu sekarang. Pantulan wajahmu didepan sudah jelas terlihat tak elok lagi. Kau benar-benar sudah putus asa. Kau hanya ingin hilang dan tenggelam akan kenangan pahit yang selama ini telah kau jejali ke mulutmu sendiri.

Itulah sebabnya kau belajar Hukum Karma. Agar kau menyadari bahwa segalanya saling berkesinambungan. Hukum tabur-tuai atau dalam hukum ekonomi disebut utang-piutang. Kau hanya ingin selalu menyadari bahwa dukamu itu tidak untuk saling menyalahkan lagi. Duka ya duka sebagaimana adanya segala perbuatan lampau telah terjadi tak bisa diulang kembali. Sehebat apapun kau mengingatnya kembali, masa lalu tetaplah sudah berlalu dan tidak bijaksana jikalau kau mengungkit lagi.

Tapi itu yang kau lakukan lagi dan lagi. Dikesempatan malam yang terlahir kembali, kau mengulang lagi luka yang harusnya cepat kau obati. Kejadian yang telah berlalu saat manusia yang kau pikir belahan jiwamu, pergi meninggalkan kau dan kembali merajut kasih kepada mantan kekasih yang ia tinggalkan demi kau sang Dewi, kau ungkit luka lagi. Kau ungkapkan kemarahanmu tanpa basa basi setiap kali malam menyatukan kalian dalam jumpa yang sudah dapat dihitung dengan jari.

Barangkali kau yang menikmati proses sakit hati itu maka masih kau simpan tak pernah kau kau lepas pergi. Ia yang kau puja di setiap kesempatan berbagi cerita, nyatanya sumber utama kau terjatuh ke dalam lubang duka. Walau kau yakin kau tak mampu memaafkan cintanya yang mendua, tetap saja kau ikuti hatimu untuk menjaganya selalu agar ia tetap nyaman bersamamu.

Sejatinya, ia yang telah meninggalkan kamu telah lama juga meninggalkan hatimu yang kini sunyi. Ia tak pernah mau kembali, hanya saja kau mengundangnya datang lagi. Kau buka lebar-lebar hatimu untuk ia yang tak pernah ingin merajut benang-benang untuk menutup lara. Ia sudah yakin akan keputusannya bersama masa lalu yang pernah ia bangun bersama yang lain. Kau iri. Iri pada ia yang beruntung telah dicintai pujaan hatimu. Kau marah pada dunia tempatmu menyadari diri.

Kedua pelupukmu sudah menghitam. Air mata telah mengubah segalanya. Kau tersedu sedan dihadapan orang yang kau caci. Berharap ia mengerti hatimu yang tak kuasa menahan rindu. Rindu akan masa lalu saat kebersamaan menghasilkan kebahagiaan. Saat ia tak ubahnya makhluk Dewata yang rupawan sekaligus pengawal pribadimu yang bisa kau minta ini dan itu. Ada saat kau ingin memelukknya erat dan tak ingin kehilangannya. Namun, secepat kilat kau justru ingin membencinya selayak ia pantas mendapatkannya. Kau bimbang dan salah satu hal yang membuatmu tak berhenti menangis karena kau sudah bosan tidak bahagia. Kau hanya ingin utuh, kembali seperti dahulu ketika belum mengenalnya. Disaat kau tak perlu menghabiskan waktu untuk menggila akan kerinduan yang tak mungkin bersama.

Malam memang misterius. Senantiasa mengubah dunia lewat temaramnya. Tanpa banyak kata, kau meninggalkan segala. Melangkah walau kau tak tahu apakah kau bijaksana. Kau hanya ingin pergi dari situ. Dari tempat dimana kau bisa melihat pantulan wajahmu yang tersiksa akan luka lama. Kau hanya ingin jiwamu dihibur oleh dirimu sendiri.

Dibelakangmu telah kau tinggalkan semua. Ia dan kenangan kalian yang selalu kau agungkan dalam epik sastra. Kau kini pilih hidupmu sendiri. Meskipun kau melangkah dalam tangis, kau hanya tak ingin kembali mengemis.





kepada kenangan malam 20.11.2012
disudut kota

Selasa, 20 November 2012

Disudut Halte

Disudut halte aku berdiri diam. Mematung sekaligus merenung. Gurat-gurat ingatan itu hadir kembali. Datang bersama air hujan yang basah menyelimuti tanah. Hujan sudah mengamuk sejak tadi dan sempat terhenti sekejap saja hanya untuk memberi aku kesempatan berjalan kaki menuju halte. Namun, mungkin seharusnya hujan tak usah berhenti saja sekalian. Agar aku tetap berlindung dalam gedung biru tempatku bekerja. Agar aku bisa tetap utuh tak lagi harus menggila. Agar aku tak perlu berjalan menuju halte. Tempat ajal menyambutku hangat.

Ia menggunakan baju hangat berwarna cokelat kotak-kotak, celana hitam yang agak kendur dibagian pahanya. Syal rajut melingkar dilehernya dan kacamata bingkai persegi panjangnya basah terkena rintikan air hujan. Ia tahu sedang hujan tapi bahasa tubuhnya mengisyarakat bahwa hujanpun tak mampu menaklukannya -begitu mungkin kira-kira yang aku coba pahami. Dikedua tangannya tergenggam sekumpulan kartu remi dan ia asik mengotak atik kartu-kartunya sambil menyandar pada salah satu tiang di halte yang tak basah oleh air hujan.

Sepertinya ia tak berniat menaiki salah satu bus yang lewat didepan halte. Ia tetap cuek menatap benda yang ia pegang sejak tadi. Ia tak peduli sekitar bahkan tak juga peduli pada orang yang sejak tadi memperhatikannya, aku. Sudah beberapa bus lewat begitu saja didepan halte tapi aku juga tak berniat naik salah satunya. Tujuanku sudah jelas akan pulang kerumah, lantas tetap saja aku diam sambil mencuri pandang memandangi orang yang tujuannya di halte tak kuketahui. Ia semacam magnet yang mampu menghisap duniaku dengan cepat. Walau aku tak tahu siapa dirinya tetap saja kupandangi dia tanpa henti.

Tiba-tiba matanya beradu dengan mataku. Mataku yang sejak tadi memandanginya kini ditatap balik oleh mata tajam dibalik kacamata persegi panjang. Aku langsung panik dan menunduk. Jantungku berdegup cepat. Tak kusangka akan jadi begini. Aku sudah merasa cukup menatapnya saja tapi kenapa ia justru mengangkat kepalanya lalu mata kita bertemu?

Kualihkan pandanganku pada jalan raya disebrang sana. Berpura-pura menahan rasa yang berdesir sejak tadi. Tapi tak kusangka ia menghampiriku dan menyapaku! Sekejap saja hujan seakan berhenti digantikan sinar mentari hangat yang menyelesap ke sela-sela pembuluh darahku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Permintaanku hanya untuk menatapnya dalam kotak ingatan yang kurekam hingga aku tahu bahwa aku memang sedang jatuh cinta.

Key. Nama itu akan selalu kuingat. Key - kunci atau apapun ia, telah membuka ruang dalam hatiku yang tak pernah sekalipun aku izinkan ada orang lain disana. Key seperti pekerjaannya, telah memanipulasi perasaanku hingga aku tak mampu berkelakar akan cinta rasa tahi ayam. Ia pesulap yang telah membuat aku menyukai rasa tahi ayam. Key, dialah orangnya.

Hari-hariku telah bertransformasi menjadi tak biasa. Si kutu buku, si monoton, si pendiam, dan berjuta-juta sebutan 'si' yang dilabelkan mereka untuk satu sosok manusia ini telah disatukan menjadi sebuah panggilan baru yang walaupun janggal mampu membuat aku senyum-senyum sendiri. Si manusia tahi ayam.

Pria ini mampu menyenangkanku begitu saja. Segala tingkahnya dan kata-katanya membuat aku berpendar akan keindahan dunia. Ia adalah pangeran tampan yang selalu muncul dalam cerita di negeri dongeng. Hanya saja ia adalah bentuk nyata dari cerita manis yang disuguhkan oleh mereka pendongeng sejati. Ia adalah bentuk nyata dari itu semua. Dan beruntungnya aku yang berperan menjadi Cinderella.

Kami saling memiliki tak perlu diragukan lagi. Semua orang tahu dan semua orang yakin bahwa kita adalah abadi. Waktu memang bukanlah jaminan kualitas hubungan dan itu terbukti pada hubungan kami yang semakin kuat. Key dan ia memang kunci yang membuka hatiku. Kunci selalu berfungsi untuk mengamankan benda yang dijaganya. Ia adalah kunci milikku lantas apalagi yang harus dijaga jikalau Key-lah yang sudah menjagaku dengan baik. Aku aman bersamanya dan kuserahkan segala hal yang ku kunci sejak dulu. Ia, Key, yang dikirim Tuhan untuk menjagaku. Selalu.

Namun, ada sifat dunia yang tak kupahami sepenuhnya. Dunia selalu berlaku adil dan mengarah kepada hal yang bersifat seimbang. Tak akan ada manusia yang selalu menderita begitupula tak akan mungkin ada yang selalu bahagia. Inilah dunia manusia. Dimana kedua rasa yang bertolak belakang antara kesenangan dan kesedihan menyatu dan bercampur utuh. Manusia bukan makhluk neraka yang terus menderita, lantas juga bukan Dewata yang mampu bahagia selamanya. Kebahagiaan saling memiliki nyatanya akan pergi cepat atau lambat. Entah ditinggal mati atau rasa cintanya yang sudah mati.

Tanpa basa basi. Tanpa rasa tidak enak hati terlebih tanpa mengingat pujaan hati, Key pergi. Meninggalkan segalanya yang sudah tak sama. Melepas tanggung jawab akan bekas-bekas saling mencinta. Keberadaannya raib, hilang tak bersisa. Tak satupun eksistensinya mampu kejelajahi. Ia sudah tak mungkin kutemui. Ia meninggalkanku tanpa jeda air mata. Kekasih hatinya telah kembali. Menuju hatinya yang kala itu sedang sendiri. Ternyata tak pernah ada aku disisi. Key -kunci yang aku pikir adalah kunci yang Tuhan berikan untuk menjagaku, hanyalah sebuah kunci biasa yang teronggok diatas meja begitu saja. Ia tak lebih dari kunci lainnya yang selalu datang dan pergi mencoba mencari lubang yang pas.

Disudut halte yang sedang hujan, akupun akhirnya hujan pula. Mataku tak dapat dibendung lagi dan semoga ini hujan terakhir yang aku izinkan untuk kepergian Key.




untuk 'Key' yang selalu..
disudut kota 191112

Senin, 19 November 2012

Cara Menggunakan Payung yang Baik dan Benar

Musim penghujan telah tiba. Sudah dipastikan jalanan akan selalu basah baik pada pagi hari hingga malam hari. Apa lagi yang dibutuhkan oleh pengguna jalan kalau bukan : payung. Secara tidak mungkin juga jikalau kau menggunakan kendaraan umum tapi menggunakan jas hujan. Selain tidak efisien setelah penggunaanya harus dilipat kembali, jas hujan tidak terlalu mengalami perubahan yang besar dalam design jika meninjau kekerenan di jaman seperti sekarang ini. Meskipun tersedia jas hujan yang sekali pakai, tetap saja jas hujan tidak tampak bagus dipakai dalam kondisi berjalan kaki sambil mencari bus kota.

Lain halnya dengan payung. Meskipun tidak menutup seluruh anggota tubuh saat digunakan dan seringkali kita tetap basah kuyub saat menggunakannya, payung tetaplah jadi favorite kebanyakan masyarakat. Ditunjang dengan design yang semakin variatif, payung punya andil yang besar saat musim hujan.

Ya, walaupun kita tahu berdasarkan fungsinya, payung itu terbagi dua untuk musim panas dan musim hujan, akan tetapi kebanyakan masyarakat menggunakan satu jenis payung tertentu untuk berbagai musim yang sedang berlangsung. Sebenarnya kedua jenis payung tersebut memiliki beda untuk beberapa hal seperti bahan dasarnya dan designnya (payung untuk musim panas lebih ceria dan memiliki banyak hiasan biasanya dan lebih ke arah fashion), banyak orang yang menggunakan payung untuk cuaca panas digunakan saat musim hujan. Alhasil, payung yang memang di design untuk tidak menahan badai dan derasnya air hujan, bisa langsung porak poranda setelah digunakan beberapa jam.

Namun, terlepas dari kedua fungsinya sebagai payung panas atau payung hujan, sebagai manusia yang berakal dan berotak manusia hendaknya kita tahu bagaimana cara menggunakannya. Semua orang pasti akan mengatakan betapa mudahnya menggunakan payung hingga tidak perlu repot-repot orang harus mengentri didalam blog mereka. Tapi ini penting! Setidaknya untuk kalian yang ingin kepalanya tetap utuh dan selamat!

Tentu kita semua sudah tahu bagaimana cara membuka payung dengan Benar bukan? Cukup tekan bagian kecil digagangnya, wuush. Payung akan otomatis terbuka atau bisa saja jika payung kalian cukup klasik, tombol digagangnya tidak otomatis tapi diseret keatas agar payung bisa mekar. Bisakah kalian menggunakannya? Tentu saya yakin semua sudah pintar menggunakan payung dengan Benar. Tapi tunggu. Jika kalian Benar menggunakan payung, apakah kalian sudah menggunakannya dengan Baik?

Coba saja dilakukan survei dan kita pasti akan terkejut karena bukti lapangan yang sudah saya amati, rata-rata manusia tidak tahu bagaimana menggunakan payung dengan BAIK! Lihat saja mereka yang lalu lalang di trotoar saat berdesakan mencari bus yang menuju ke arah rumah mereka. Apakah mereka menggunakan payung mereka dengan BAIK? TIDAK! Mungkin hanya segelintir tapi kebanyakan dari mereka : p-a-y-a-h.

Yah, BAIK adalah sesuatu yang keliatan mudah tapi sebenarnya sulit. Baik itu merujuk kepada karakter positif. Lantas apa kaitannya payung dengan Baik? Tentu sangat erat kaitannya. Sebab banyak sekali mereka yang menggunakan payung tidak menggunakan payung mereka secara Baik. Mereka membiarkan saja kembang payung yang lebar itu mengenai kepala orang-orang yang berada didekat mereka! Tanpa permisi atau meminta maaf, mereka tabrak saja kepala-kepala tak bersalah itu dengan payung mereka yang lebar.

Oke, sudah pahamkan maksud Baik yang saya tulis di Blog ini? Sebagai manusia yang beradab ada baiknya kalau semua orang mengerti bahwa menggunakan payung juga memiliki Seni tersendiri seperti saat anda meminum teh di Jepang. Memakai payung secara Baik dan Benar adalah ketika anda menggunakannya demi kepentingan anda tanpa pernah merugikan kepala siapapun yang berada didekat anda. Hukum karma pasti berlaku, begitulah dunia berbicara. Siapa yang menanam itulah yang menuai. Jika anda tidak ingin kepala anda hilang, jangan hilangkan kepala orang lain. Mungkin begitulah peribahasa yang cocok untuk renungan ini.

note: habis jadi korban payung makanya langsung tulis disini :D ingat menggunakan payung dengan BAIK dan BENAR yah! Semoga bermanfaat!

Keris

Satu yang sampai saat ini aku tak mengerti ialah mengapa sebuah cerita horor hanya pantas diceritakan pada malam hari? Bukankah yang terpenting adalah ceritanya? Bukan persoalan kapan waktunya. Jadi, siang atau malam hari bagiku sama menakutkannya kalau diceritakan dengan penuh ekspresi.

Aku ingat benar sewaktu kecil aku sering minta diceritakan tentang makhluk - makhluk menakutkan. Sebut saja drakula, yeti si manusia salju, raksasa pemakan anak - anak, atau wanita berambut panjang yang akrab dipanggil kuntilanak. Semuanya mengesankanku dan walaupun membuat bulu kudukku susah turun kembali setelah selesai mendengar cerita tersebut, aku lantas tak juga mau berhenti bahkan selalu minta diceritakan ulang.

Eyang-kung atau Eyang Kakung adalah orang Jawa. Namun, bagiku ia termasuk tipikal orang Jawa kolot yang suka akan cerita kuno. Ia sangat mencintai budayanya sehingga cerita mengenai kejadian turun temurun masa lalu tetap ia jaga dengan cara diceritakan kembali kepada cucu-cucunya. Akan tetapi, dari delapan cucu yang ia miliki hanya aku yang paling antusias dengan cerita-cerita mistiknya. Dengan mata berbinar aku selalu siap mendengarkan walau hari sudah malam. Secara seksama aku mendengarkan penuturannya yang sudah tidak jelas lagi.

"Jadi keris ini adalah peninggalan Eyang Bondan Kajawan. Setiap orang Jowo jaman dahulu pasti punya aji - aji," kata Eyang-kung agak susah menggunakan bicara tanpa bahasa Jawa.

Aku menatapnya dan mengangguk - angguk seolah mengerti apa itu aji - aji. Saat itu usiaku baru tujuh tahun, kosakata yang aku miliki tidaklah banyak. Namun, pada saat itu aku layaknya anak kecil sok dewasa yang mengerti semua kata - kata kakek walaupun alisku sering mengernyit.

Aji - aji adalah semacam keahlian ilmu gaib yang diturunkan secara turun temurun atau dimiliki oleh seseorang setelah melewati beberapa tahap seperti semedi, puasa, atau semacamnya yang berguna untuk melatih kesabaran. Artinya baru aku tahu setelah aku bertanya pada Ibu.

"Karena Eyang-kung ini keturunan Eyang Bondan Kajawan lalu ke Eyang Panembahan Senopati, kemudian ke anak tertua yaitu Putri Sekar Pembayun, jadine kakekmu ini masih turunan ningrat. Masih darah biru! Sedulur sama Sri Sultan," kata Eyang-kung keras. Dari cara bicaranya jelas ia sangat bangga dengan silsilah turun temurun yang tidak aku mengerti ini. Bagiku tidak penting kakek keturunan siapapun juga, cuma cerita horor yang ingin aku dengarkan.

"Terus dimana seremnya?"tanyaku tak sabar.

Mata besarku mengerjap penuh harap. Eyang-kung menatapku penuh antusias.

"Sabar, Asmoro. Sebentar lagi ada yang seram," sahut Eyang-kung.

Saat itu waktu menunjukkan pukul dua siang. Aku memang sedang menginap dirumah Eyang karena Ibu sedang bertengkar dengan Ayah. Siang ini, Ibuku sedang berjalan - jalan ke pusat kota dengan Eyang Putri yang memang suka belanja. Lantas dengan gembira aku dirumah berdua saja bersama Eyang-kung.

Ibu sangat sebal kalau Eyang-kung menceritakan cerita horor padaku. Ia yang akan repot setelahnya. Aku pasti akan terjaga semalaman dan sebentar - bentar menjerit kalau ada sesuatu yang bergerak. Padahal ternyata cuma suara cicak atau suara ketukan tetangga sebelah. Ibu sudah punya firasat jelek kalau Eyang-kung akan menceritakan cerita horor lagi padaku, maka dari itu ia bersikeras ingin aku ikut pergi bersamanya. Tapi, aku merengek pada Ibu bahwa aku benci pergi menemani dua ibu - ibu yang asik belanja. Bisa - bisa aku malah diculik kolong wewe karena berjalan sendirian kehilangan dua wanita itu. Dengan berat hati, Ibu mengizinkan aku berdua saja dengan Eyang-kung dirumah dan berpesan tegas pada Eyang-kung agar tidak menceritakan cerita horor padaku. Tapi aku malah merengut kesal dan yakin bahwa siang hari tidak akan membuatku takut sama sekali.

Dan benar kan! Aku berani. Aku memang anak pemberani sebenarnya. Mana ada bocah lelaki yang penakut? Tidak ada. Ya, kalau memang ada bocah lelaki penakut, ya pastinya itu aku. Tapi tidak juga ah. Aku hanya takut sama kegelapan, setan - setan yang diceritakan Eyang-kung, selebihnya aku berani sama semua hal. Kecuali juga pada api, kolam renang, ketinggian, dan kalau dihitung - hitung banyak juga yang aku takuti. Begitulah nyatanya, aku mungkin memang bocah lelaki pengecut. Huft.

Eyang-kung melanjutkan ceritanya sambil duduk dikursi malas,"jadi karena Eyang ini keturunan dari Eyang Putri Sekar Pembayun, makanya Eyang dapet warisan keramat. Warisan yang diberikan pada anak lelaki pertama dikeluarga kita. Karena Eyang hanya punya tiga orang anak perempuan, maka warisan ini masih Eyang jaga sampai sekarang."

"Warisannya apa yang?"tanyaku penasaran.

"Keris, le. Keris. Keris peninggalan dari Eyang Putri Sekar Pembayun. Karena Eyang Putri ini perempuan jadine harus dijaga sama pengawal - pengawal laki - laki. Salah satunya itu dijadikan keris ini. Pengawal Eyang Putri yang paling setia," kata Eyang-kung bangga lalu melanjutkan sambil berbisik, "kamu bisa bayangken kalau roh manusia dimasuken ke dalem keris, le?"

Aku bergidik ngeri membayangkan bagaimana roh yang dimaksud Eyang-kung masuk ke dalam keris ini. Itu sama artinya dengan....????????

"Iya, le. Keris ini hidup! Jadi jangan macam-macam kamu kalau nda'k mau kena sial!" sahut Eyang-kung seraya menjawab pertanyaan yang kulontarkan lewat ekspresi wajah.

Aku menatap keris itu lekat-lekat. Tidak ada yang tampak berbeda dengan senjata keris pada umumnya. Berbentuk runcing dan bergelombang di kanan-kirinya. Benda itu dilapisi emas sehingga tampak berkilauan tertimpa sinar matahari. Dibagian pegangannya terdapat sebuah lapisan yang lebih tebal dan tampak ukiran indah.

Sejak dahulu kala, orang Jawa memang sudah dikenal memiliki kebudayaan yang tinggi. Hal itu terbukti jelas dari peninggalan candi yang tersebar di kepulauan Jawa beserta daerah luar Jawa yang pada dahulu kala juga merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Jawa. Kebudayaan itu juga menular hingga ke Kamboja, Thailand, Philipina, hingga China. Bisa disimpulkan kebudayaan Jawa juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan budaya lainnya. Wajar saja kalau begitu Eyang-kung bangga terhadap tanah leluhurnya. Ia bahkan sering marah-marah jikalau saat ini banyak orang Jawa yang tidak tahu sama sekali mengenai makna dari ritual yang dilakukan secara turun-temurun.

"Jadi yang-kung, keris ini betulan hidup?" tanyaku memecah keheningan yang mengganjal diantara kami. Eyang-kung yang sedang asik menggenggam keris sambil mengagumi warisan keluarganya itu kemudian menatapku.

"Iya, le. Pastinya!"

"Kalau begitu Eyang-kung tahu dan percaya darimana keris ini hidup? Eyang-kung pernah buktikan tidak?" tanyaku datar.

Namun ternyata pertanyaan 'datar' ku tadi bukanlah hal yang 'datar' pula bagi Eyang Kakung. Ia menatapku tajam seakan pertanyaanku ini konyol.

"Le, terkadang kita tidak harus melihat langsung terhadap sebuah kebenaran. Kita cukup percaya saja dan mengikuti pesan orang tua untuk menjaga benda pusaka. Nurut, le yang penting. Orang tua bilang jaga ya jaga. Bilang hancurken yah mau tidak mau hancurken. Kalau sudah jadi anak penurut, pastinya hidupnya nanti lancar dan murah rezeki," kata Eyang-kung tajam. Keliatan dari wajahnya ia tampak tersinggung.

Aku yakin 1000% sekarang. Segala keunggulan keris sakti yang ia sebut aji-aji belum terbukti. Walaupun aku anak kecil dan penakut bukan berarti semua orang bisa menjejaliku dengan cerita seram. Aku ini anak kecil kritis dan aku akan selalu bertanya jikalau ada hal-hal yang tidak masuk akal.

"Tapi, yang. Masa Eyang-kung masih percaya saja cerita orang tua kalau Eyang-kung sendiri enggak pernah melihat bukti keris ini sakti! Eyang-kung kan sekarang sudah tua. Berarti seharusnya kata-kata Eyang-kung yang didengarkan oleh aku dan cucu-cucu lainnya. Eyang-kung sendiri saja tidak bisa membuktikan kebenaran kesaktian keris itu! Bagaimana aku bisa percaya cerita Eyang-kung ini benar?" kataku setengah ngotot dan entah darimana aku dapatkan keberanian menentang Eyang sampe sejauh ini. Menyanggah pernyataan Eyang sama artinya kau akan mendapatkan musibah lebih jauh. Ia akan mengoceh hingga esok pagi atau bahkan berminggu-minggu kemudian mengungkit susahnya kau jadi cucu.

Anehnya Eyang-kung tidak berdebat lagi! Ia memilih menghela nafas panjang sambil melamun. Lama kutunggu jawaban darinya. Hingga akhirnya ia mengeluarkan suara, "yah, le. Kamu lihat saja nanti soal kebenarannya. Kamu memang bukan cucu laki-laki pertama Eyang-kung. Tapi kamu cucu Eyang yang paling pintar dan mencintai warisan leluhur. Suatu hari nanti kamu akan tahu. Keris ini pilih kamu buat jadi penjaga," katanya kemudian diakhiri senyum misterius.

Aku memutuskan diam kali ini. Ada baiknya aku tidak menjadi anak kecil sok tahu. Lagipula, mungkin ceritanya Eyang-kung simpan karena terlampau menakutkan. Tapi, apa maksudnya pilih aku jadi penjaga? Aku penasaran dan ingin kutanyakan lebih lanjut padanya. Namun tiba-tiba suara klakson mobil berbunyi. Ibu dan Eyang Putri telah kembali. Ia meminta aku membukakan pintu pagar pastinya. Aku pamit pada Eyang-kung dan kemudian berlari keluar. Rasa penasaranku belum terpecahkan.


                                                                                *

Malam harinya aku menginap dirumah Eyang. Ibu masih bertengkar dengan Ayah dan bersikeras tidak ingin kembali kerumah. Maka sudah dipastikan aku menjadi korban mengawal Ibu dan bertugas melaporkan keadaan Ibu secara diam-diam kepada Ayah. Sungguh menyulitkan menjadi seorang anak.

Aku tidak bisa tidur nyenyak. Bukan karena Ibu mendengkur dalam desisan seperti ular disebelahku. Tapi, seperti biasanya ketika cerita horror usai diceritakan. Aku takut! Aku mati kutu dan tidak berani membuka mataku sebentar saja walaupun aku sama sekali tidak mengantuk. Rumah Eyang adalah rumah orang Jawa yang penuh dengan ornamen-ornamen ke-Jawa-an. Sungguh menambah horror keadaan dalam benakku. Ingin rasanya aku membuka mata tapi aku terlalu takut.

Suara-suara tampak beradu pelan ditelingaku. Antara suara dengkur Ibuku dan juga suara angin yang mengenai dedauan diluar. Jendela dikamar ini sungguh besar dan menakutkan kalau malam hari. Gorden putihnya seakan bayangan seram bisa terpantul disana.

Suara bising itu makin keras dan aku tidak tahan. Kuputuskan aku untuk membuka mata. Kosong. Gelap. Ya, karena ini malam hari. Aku lega dan kuseka peluh keringat dari dahiku. Namun, tiba-tiba suara itu terdengar makin keras. Sungguh mengganggu telingaku! Kuputuskan untuk bangkit dari tempat tidur dan mencari tahu suara apa itu. Rasa takutku tergantikan oleh rasa kesalku.

Aku berjalan dalam kegelapan. Entah keberanian darimana aku bisa menaklukan rasa takutku. Tiba-tiba 'PRAAANNGGG" suara benda terjatuh begitu keras. Aku mencari-cari sakelar untuk menyalakan lampu namun tidak ketemu. Sebuah cahaya putih kebiruan tampak didepanku dan membuatku dapat melihat keris sakti Kakek jatuh dari tempatnya. Aku mengambilnya dari lantai dan mengelusnya seakan kucing peliharaan. Tapi, tunggu. Cahaya putih apa itu? Mataku mengikuti cahaya itu dan Ya, Tuhan.

Aku berteriak tapi suaraku tidak keluar. Cahaya itu, cahaya makhluk yang aku tidak tahu. Bentuknya serupa manusia dan ia mengenakan pakaian tradisional Jawa. Ia pria bertubuh besar dan menggunakan Blankon di kepalanya. Tubuhnya tembus pandang dan aku tahu benar kalau dia makhluk halus. Aku memandangnya tajam tapi makhluk itu tidak bersuara apa-apa. Ia tidak mengganggu sama sekali bahkan hanya memandangiku dalam tatapan sendu.

Terima kasih telah membebaskanku, le. Terima kasih telah menggantikan posisiku.

Sebuah suara nyaring terdengar. Bersamaan dengan itu tubuh makhluk halus itu berpendar terang lalu lenyap seperti asap yang terbang melayang. Aku masih menatap ruang kosong tempatnya makhluk tadi berdiri. Aku bangkit sambil mengangkat keris tersebut dan mengembalikannya ke tempat semula. Namun, sebuah sinar kini kembali muncul. Bukan dari arah depanku melainkan dari tubuhku! Kurasakan tubuhku seringan kapas dan aku tidak melangkah dengan kakiku melainkan lewat pikiranku.

Konon setelah kejadian itu, aku bisa mengawasi seluruh keluargaku. Aku bisa melihat Ibu dan Ayahku meninggal dunia dan saudara-saudaraku menikah dan memiliki keturunan. Aku tetap ditempat yang sama. Menggenggam keris warisan keluarga sambil terus berdoa kalau saja ada sanak keluargaku yang layak menggantikan posisiku.


                                                                              ***