Selasa, 31 Juli 2012

Gadis Berbaju Biru

Bau menyeruak menusuk rongga hidung saat pintu kereta terbuka. Bau sampah yang sudah lama mengganggu udara tapi tak dapat perhatian lebih dari pemerintah setempat. Orang – orang berjejalan keluar menuju tempat tujuan mereka. Sudah menjadi sifat alami manusia, saat masuk tak sabaran, saat keluar juga tak mau mengalah. Aku diam ditempatku, menunggu orang – orang lain didekatku berhamburan tak tahu adat.

Setelah cukup lama berdiam diri, aku turun dari gerbong 7 tempatku tadi dibawa oleh kereta kelas ekonomi. Langkahku cukup ceria sebab istri dan seorang anakku sedang menunggu dirumah. Dua tahun yang lalu aku menikah dengan istriku, wanita yang telah aku kenal selama sepuluh tahun dan memulai hubungan pacaran sejak lima tahun yang lalu. Aku sungguh mencintainya hingga aku merasa pertumbuhan sel dalam tubuhku terkunci saat bersama dia. Tak sekalipun aku jenuh atau ingin pergi dari dirinya. Dia adalah aku, dan aku adalah dia. Kita berdua saja sudah lengkap.

Tapi ternyata kebahagiaanku harus bertambah lengkap, pasalnya setahun yang lalu, istriku melahirkan seorang bayi perempuan cantik. Kecantikannya mengingatkan ku pada seseorang yang pernah kukenal lama. Seseorang yang tampaknya pernah aku kenal tapi entah dimana. Ah, sudahlah. Semakin aku mencoba mengingat jadi sakit kepalaku.

Aku menyusuri stasiun, sampai disebuah sudut, dibagian yang jarang dilintasi oleh kebanyakan orang yang berlalu – lalang. Sudut terpencil dan terdapat bangku kayu panjang disana. Gadis berbaju biru itu sedang duduk lagi disana. Kehadirannya sudah menjadi pemandangan biasa di sana. Semua orang yang menggunakan stasiun ini tahu betul siapa dia. Dia si gadis penunggu, si gadis penanti, atau sapaan lainnya seperti gadis berbaju biru. Tak ada yang tahu namanya, tak ada yang tahu ia datang dan pulang, tak ada identitas yang ditemukan atas dirinya, tak ada pula yang mencari – carinya. Hanya baju biru yang sama setiap harinya dan sepenggal kisah miris.

Beberapa orang pernah bertanya, apa yang sedang ia lakukan duduk disana terus menerus? Ia akan menjawab bahwa ia sedang menunggu kekasihnya. Menunggu pria yang telah meninggalkannya untuk kembali ke wanita lain. Semua orang iba dan ingin dia lekas ‘sadar’ bahwa pria macam begitu tak pantas ditunggu. Pria yang mengkhianati kesetiaannya tak pantas mendapatkan kesetiaan yang luar biasa. Namun, mendengar jawaban itu, gadis itu hanya tersenyum dan berkata pelan, “aku mencintainya.” Kisah ini sungguh menjadi topik pembicaraan yang tak henti. Baik masinis, penumpang, hingga pedagang kaki lima pun tahu betul cerita ini. Mereka tak hentinya mendiskusikan ‘kebodohan’ gadis itu. Tak ada harapan untuk kembali bersama pria yang telah meninggalkan dirinya demi wanita lain, tapi gadis itu tetap saja bertahan tak peduli pendapat orang lain. Mereka yang suka berbincang ini jadi penasaran, seperti apa rupa si pria-yang-ditunggu.

Gadis itu selain selalu mengenakan baju biru yang sama setiap harinya, ia juga selalu mengenggam selembar foto. Kata orang – orang, foto itu adalah foto si gadis dengan seorang pria. Dan didalam foto itu keduanya mengenakan baju serupa berwarna biru, persis yang dipakai si gadis setiap harinya! Semua orang ber- ‘wah’ atau ‘ckck’ pelan ketika tahu cerita ini. Cinta macam apa yang diberikan untuk orang yang tak pernah ingin kembali padanya, tapi yang jelas kesetiannya pantas dikagumi. Aku sudah lama penasaran dengan gadis itu. Ingin aku hampiri dia dan menyapanya. Sekedar untuk mengasihinya sebentar saja. Mungkin kasih sayang yang tak ia dapatkan hingga ia rela menggunakan kebodohannya untuk menunggu orang yang tidak pernah mencintainya. Tapi, selalu disaat niat baikku tulus lahir dari hatiku, selalu saja keraguan yang menghadangnya. Entah karena apa, tapi langkahku berat untuk menghampirinya atau sekedar menyapanya. Kakiku serasa tertancap di jalan beraspal, tak sanggup melangkah ke arahnya.

Namun, untuk hari ini saja. Untuk hari ini aku coba beranikan diriku untuk menyapanya seperti yang dilakukan banyak orang setiap harinya. Selain memberikannya sedikit perhatian yang tak ia butuhkan, aku juga sungguh penasaran apakah yang orang – orang ceritakan itu benar adanya. Ataukah ada bumbu – bumbu dramatis lain yang dicampur biar terkesan lebih tragis. Dari kejauhan, gadis itu tampak tidak kotor seperti kebanyakan gelandangan. Rambut ikal sebahu dan kulitnya agak pucat. Wajahnya tak pernah kulihat jelas sebab ia selalu menunduk tak pernah menoleh ataupun mengangkat dagunya sedikit saja. ia tak bosan – bosannya menatap sesuatu ditangannya, mungkin foto yang orang – orang itu ceritakan. Aku tidak tahu pasti tapi aku akan menghampirinya hari ini.

Aku melangkah ragu – ragu menuju tempatnya duduk. Ia seperti biasa, sedang asik memandangi foto yang ia genggam erat. Aku menyapanya pelan, tapi ia tak menoleh sama sekali. Akhirnya setelah beberapa menit, aku putuskan untuk duduk disebelahnya. Ia sama sekali tak peduli dengan orang lain, ia tampak seperti tenggelam dalam dunianya sendiri. Kucoba menyapanya lagi, tapi ia tetap diam.

“Halo, gadis berbaju biru, bolehkah aku tahu namamu? Sebab kamu sungguh terkenal disini dan tak satupun yang tahu siapa kamu,”kataku agak keras.

Gadis itu tetap diam saja seakan suaraku ini tak didengarnya. Aku diam dan sedikit putus asa, bagaimana caranya orang – orang itu mengajaknya berkomunikasi? Aku bingung dan setelah berbicara dengan diri sendiri, kuputuskan untuk menyentuh bahunya, agar ia sadar ada orang disampingnya.

“Halo,”sapaku lagi tapi kali ini dengan sentuhan dibahu kurusnya dan benar saja, ia menoleh.

“Iya,”sahutnya pelan sambil tersenyum lebar.

Mata besar, pipi tirus, kulit pucat, wajah itu! Ah tidak! Aku tak mungkin salah orang! Bagaimana mungkin dia ?! Aku diam tak mampu bersuara. Kepalaku pusing luar biasa. Aku menatapnya lalu aku lihat lembaran foto digenggaman tangannya, itu foto kita berdua!

Gadis itu, gadis yang pernah mengetuk jiwaku. Kita pernah saling mencintai, saat istriku yang masih pacarku sedang bekerja diluar kota. Aku sungguh tertarik padanya tapi mungkin tak pernah aku mencintainya. Aku menatapnya membisu, hatiku serasa robek dan tak pernah kutahu bahwa ia harus hancur ketika aku kembali pada istriku.

“Ariana?”kataku pelan.

Sekejap aku lihat perbedaan itu. Mata besar yang tampak kosong itu langsung saja berpendar ceria, pipi tirusnya bersemu, dan senyum indah itu kembali lagi dalam hitungan detik. Ia menatapku seakan ia tahu yang ia tunggu telah kembali.

“Aku tahu, kamu pasti kembali,”katanya lalu menangis dan memelukku erat. semua orang distasiun menatap kami berdua dan berbisik – bisik.

Inilah pria jahat yang ia tunggu tanpa pernah lelah, inilah pria tak tahu diri yang mencampakannya, inilah pria brengsek yang tak pantas dicintai, atau ratusan umpatan lainnya yang aku tahu pasti diberikan mereka kepadaku. Mereka semua menatapku, tatapan kekesalan yang aku tahu karena si gadis begini semua karena aku.

Ariana membuka mulutnya lagi dalam sesengguk kecil, “kamu kemana aja Jo? Kamu kemana?”

Aku diam tak tahu harus menjawab apa. Padahal seingatku sudah jelas bahwa aku sudah memutuskan hubungannya dengannya dan kembali kepada istriku. Mengapa ia tak mengerti juga? Cintanya tak bisa dipaksakan untukku. Aku teringat istriku dan anakku dirumah. Wajah cantik anakku, yah wajahnya sungguh sama cantiknya dengan wajah Ariana dulu saat aku pertama kali mengenalnya. Aku hanya ingin pulang sekarang. Aku ingin kembali kepada keluarga kecilku. Tapi pelukan Ariana terlalu erat, ia tetap bertahan seakan ia memang merindukan aku teramat dalam. Aku sentuh kedua lengannya.

“Dengar, Ariana. Kita sudah putus, aku sudah menegaskan itu padamu sejak dulu. Aku punya hidup aku sendiri sekarang dan kamu seharusnya jalanin hidup kamu tanpa ingat aku lagi. Sekarang kita sudah bertemu, ada baiknya kamu pulang. Kasihan keluargamu,”kataku dingin.

Ariana memandangku dengan tatapan terkejut. Ia membuka mulut lalu menutupnya lagi. Bulir – bilir air matanya keluar dari kelopak matanya tanpa henti. Aku bangkit berdiri, memantabkan diriku untuk melangkah menuju kehidupanku, meninggalkan masa lalu yang pernah aku rajut bersamanya.

“Jo,”panggil Ariana dingin.

Langkahku terhenti tapi aku tak menoleh memandangnya lagi.

“Kamu mungkin tak membutuhkan aku lagi, tapi tidakkah kau tahu bahwa kepergianmu juga meninggalkan benih dalam tubuhku? Tidakkah kau sadar bahwa seharusnya kau bertanggung jawab atas perbuatamu! Aku mencarimu tapi kau menghilang, akhirnya aku putuskan untuk menunggumu disini! Ditempat yang pasti kau lewati. Kau harus tahu, anakmu membutuhkanmu! Dia butuh kasih sayang seorang ayah! Seorang ayah yang tak pantas disebut ayah! Sekarang usianya sudah dua tahun! Dua tahun yang lalu juga kau mencampakanku!”kata Ariana tajam.

Ia lalu bangkit dan melangkah pergi. Meninggalkan aku yang diam mematung, tak percaya kata – kata yang kudengar sendiri. Ariana? Anak? Apa yang telah aku perbuat? Aku sama sekali tak tahu ia hamil. Aku nyaris pingsan tahu kenyataan ini. Tak pernah sekalipun aku mempedulikannya. Ku putar badanku untuk mengejar ia. Tapi terlambat, Ariana telah pergi meninggalkanku. Ia yang mencampakkanku sekarang. Di bangku tempatnya biasa duduk telah ditinggalkannya foto kita berdua. Foto yang baru saja ia sobek hingga menjadi kecil – kecil. Ia juga meninggalkan hatiku yang hancur lebur.