Selasa, 31 Desember 2013

Celotehan Akhir Tahun 2013


Halo semuanya!!!

Kayaknya udah lama banget, gue enggak buka blog gue ini! Postingan terakhir gue beberapa bulan silam jelas penting enggak penting di sharing. Tapi, berhubung gue ngerasa bersalah enggak pernah nulis apa-apa, jadilah akhirnya gue memutuskan menulis tulisan yang enggak penting-penting amat itu.

Sebenernya, banyak kejadian menarik beberapa bulan belakangan. Meskipun hidup gue masih flat-flat aja enggak kayak Chitato, seenggaknya cukup banyak hal-hal yang bisa gue sharing. Kayak misalnya perjalanan gue ke beberapa tempat pas menjelang Lebaran, istilah kerennya traveling lah gitu. Gue dan keluarga gue melakukan perjalanan darat dengan bokap dan om gue sebagai sopir ke Pekalongan, Yogyakarta, Semarang, dan Cilacap. Mulai dari nyekar ke kuburan kakek nenek gue dari bokap, susahnya cari penginapan di Yogya sampai-sampai kita nemuin hotel berhantu (!), ketemu bule ganteng tapi ngegandeng mbok-mbok yang (maaf) enggak banget, dan lebih serunya lagi main di pantai Widarapayung dan pulangnya naik mobil buntung ke rumah saudara gue di Cilacap.

Pokoknya banyak banget hal seru yang gue alamin. Tapi ada juga hal-hal yang sedih yaitu pas nenek gue dari nyokap akhirnya meninggal setelah tiga tahun tergeletak di tempat tidur karena sakit diabetes dan stroke ringan. Kemudian beliau dikebumikan di Cilacap tepatnya di desa Adiraja di kecamatan Adipala. Tempat pemakaman itu adalah pemakaman keluarga gue dari nyokap, jadi udah pasti ada banyak banget leluhur gue disitu.

Kata sejarah yang ditulis di dalam buku silisilah keluarga, kakek gue dari nyokap masih keturunan dari Putri Pembayun anaknya Panembahan Senopati, jadi kakek gue harusnya menjadi pemimpin tradisi di Adiraja, sebutannya Bedogol. Tapi, karena kakek gue seorang Romo Buddhist dan banyak banget yang harus beliau kerjakan di tempat tinggalnya seperti mengawinkan orang-orang atau memimpin acara keagamaan, akhirnya beliau menyerahkan tampuk kekuasaannya ke adiknya. Nah adiknya kakek gue yang juga udah kakek-kakek juga pastinya, hobi banget cerita tentang sejarah dan hal-hal kuno yang berhubungan dengan ke-Jawa-an. Gue orangnya emang agak aneh. Gue lebih suka bergaul, ngobrol sama orang-orang tua ketimbang ngomongin hedonism sama anak-anak seumuran gue, jadi gue ngerasa cocok banget sama adiknya kakek gue ini. Beliau pinter banget kayak ensiklopedia Jawa. Dari soal tradisi sampai yang mistis dan klenik, beliau jago. Pokoknya top deh. Sayangnya tanggal 25 Desember kemarin, beliau meninggalkan kita sekeluarga. Kaget bin shock gue denger beliau meninggal, tapi mau gimana lagi kalau jalan hidup sudah berbicara. Gue hanya bisa mendoakan semoga Eyang Pada Suwangsa mendapatkan terbaik dan selalu berbahagia dimanapun beliau berada.

Oke balik lagi ke persoalan awal, kenapa gue enggak pernah buka-buka blog lagi adalah karena alasan klasik manusia. M-A-L-E-S! Haha.

Gue males banget nulis-nulis segala macem, karena gue jadi ngerasa lewat blog, orang jadi bisa nguntit gue. Ya, belakangan gue ngerasa dikuntit. Ada sesosok manusia yang bikin gue takut. Gue ngerasa gue dikuntit dan segala gerak-gerik gue diketahui oleh orang yang gue enggak kenal. Perilaku doi nakutin banget, mulai hubungin gue via YM, Whatsapp, Line, dan lain-lain mungkin. Soalnya doi tahu semua kegiatan gue, walaupun emang sih gue hobi ngetweet di twitter dan akun gue enggak gue lock jadi siapapun bisa tahu semua curhatan gue, tapi tetep aja gue ngerasa enggak nyaman. Sampai akhirnya gue lock semua id dia yang suka hubungin gue. Termasuk gue enggak sharing apa-apa lagi di blog gue karena seinget gue, dia suka komentarin tulisan di blog gue yang aneh-aneh. Hih.

Dan kenapa sekarang gue kembali nulis lagi?

Ya itu karna gue kangen banget sama blog gue! Gue ngerasa blog adalah satu-satunya sahabat setia lebih dari nyokap gue yang kapanpun, dimanapun, mau aja dengerin gue dan rela jadi ‘tong sampah’ kegalauan gue. Akhir-akhir ini gue ngerasa enggak bahagia, terutama ketika gue di kantor. Harusnya kantor adalah sebuah tempat yang bisa gue sebut Hommie. Tapi, apa daya kalau kenyataannya lingkungan kantor yang penuh dengan orang-orang enggak asik yang ada gue jadi Mummie. Mirip-mirip lah belakangnya.

Intinya daritadi gue nulis sampai capek sih cuma satu. Hari ini tanggal 31 Desember dan artinya tahun 2013 yang penuh dengan ketidaknyamanan, duka karena empat orang keluarga gue meninggal dunia, tahun yang secara keseluruhan enggak banyak berubah dari tahun-tahun sebelumnya, akan segera berakhir. Dan gue tahu tahun baru besok matahari juga akan terbit di timur dan tenggelam di barat, tapi satu hal yang pasti umur gue juga pasti bertambah. Gue semakin tua dan gue harus memantabkan resolusi gue di tahun 2014. Tahun besok sebenernya sih gue enggak mau bikin resolusi apa-apa soalnya dari yang udah-udah, semua resolusi gue berakhir gagal total. Jadi daripada bikin list resolusi, mending gue menata karakter pemalas gue jadi orang yang enggak menunda apapun lagi. Sekali lagi, matahari emang masih terbit di timur dan tenggelam di barat, hidup gue enggak akan berubah kalau bukan gue sendiri yang merubahnya. Semoga aja tahun besok gue bisa menjalani kehidupan gue dengan sebaik-baiknya.

Minggu, 03 November 2013

Di Bawah Sinar Rembulan

Adakah lagi yang lebih bermakna dari sebuah keheningan mendalam? Menyatu dengan alam tanpa butuh apapun juga, kau sudah merasa bahagia dalam damai yang sulit dijelaskan lewat kata. Sebab itu sudah melampaui segala dan alam manusia biasanya baru bermakna jika bahasa menjadi utama. Itu setidaknya hari-hari yang aku namakan sebagai mengutuhkan diri dengan diri sendiri. Tidak perlu siapa-siapa sudah cukup bagiku.

Tapi malam itu terasa berbeda. Mungkin karena hujan badai baru saja usai. Mungkin karena malam telah menghanyut sendu tanpa batas ruang. Mungkin pula karena bulan sedang membundar sempurna menawarkan langit kelam yang mencengangkan. Bulan terlalu indah bila disia-siakan. Terlebih lagi malam itu usiaku genap bertambah. Apalagi yang lebih menyenangkan jika ulang tahunmu dirayakan bersama semesta yang menggetarkan jiwa? Aku sudah punya rencana ketika waktu itu tiba, aku ingin kembali memaknai perjalanan kehidupanku melalui hening yang biasa aku jalani. Hening yang selalu menjadi obat paling mujarab mengatasi rasa kosong di antara dunia manusia dan dunia tempatku mengadu nasib. Hening yang selalu aku puja hingga rasanya aku seperti orang gila. Hening yang tanpa siapa-siapa selain diriku sendiri.
Namun, ternyata bukan lagi hening yang aku rencanakan datang. Ya, begitulah dunia adanya. Kau tidak selalu bisa mewujudkan yang kau rencanakan. Kau juga tidak bisa selalu berharap yang kau inginkan menjadi nyata senyata benak liarmu. Dunia selalu berjalan sesuai arahnya. Dan malam itu mungkin menjadi pertanda bahwa sudah saatnya aku harus menghentikan kebiasaanku dalam menentukan yang menurutku benar. Terkadang menyerah pada jalan kehidupan itu lebih bermakna dari apapun juga.
Di bawah sinar rembulan, aku bercengkrama. Bersama manusia sungguhan yang bukan lagi bentuk dari alam pikiranku. Si manusia nyata sedang bersamaku, disampingku. Entah apa yang menjadi alasan canda tawa, tapi segalanya mengalir senyata arus air menuju ke hilir. Seakan kita pernah jumpa pada satu masa yang sudah lama tak jumpa lalu ketika bertemu kembali ada rindu yang menyesakkan jiwa hingga rasanya terus ingin bersama, setidaknya itu yang aku rasa. Aku tidak terlalu peduli pada kehidupan kemudian. Aku juga tidak mau memusingkan kenyataan yang akan kembali menenggelamkanku pada pahit yang sering aku kecap lama-lama. Aku hanya sedang menikmati kenyataan bahwa tanpa hening dan diriku sendiri, aku merasa utuh. Aku kira itu hanya khayalan tapi kau orang yang paling nyata mengubah duniaku. Sekejap saja tanpa perlu berlama-lama, ternyata hidup terasa lebih manis jika bisa berbagi. Bukan hal yang rumit, hanya sebuah cerita-cerita lama yang kita barter secara cuma-cuma, tapi itu berarti segalanya, bagiku.
Kupandangi bentuk-bentuk yang menjadikanmu dikenal sebagai nama. Memang tidak sejelas jika mentari datang, sebab memang sudah terlalu malam, dan kita berdua duduk dalam nyamannya kendaraan yang kau gunakan untuk menjemput aku. Ah, seperti sang putri saja. Kau datang saat hujan masih deras, demi aku yang belum kau kenal terlalu lama. Sungguh bukan picisan tapi itu yang hingga sekarang membuatku jadi terkenang. Dengan segala kejujuranmu setidaknya itu yang mampu membuat suasana tampak ceria. Kau jadikan malam sehangat musim semi tiba. Tanpa harus bermimpi, kau jadikan aku tampak spesial.
Namun, dunia kembali mengingatkanku. Seperti halnya Cinderella yang harus pulang, janji yang pada akhirnya menyeretku pada sepi yang aku buat sendiri. Cerita kita usai digantikan oleh kebodohanku yang aku genggam. Aku lupa bagaimana harus menjadi yang sejati. Aku lupa bagaimana harus mengatur diri. Aku lupa diri. Aku sudah terlalu banyak mencari-cari, hingga yang berharga harus kulepas tanpa kompromi. Aku pergi menghibur diri, meninggalkan kau seorang diri. Ironi!
Kini, tidak perlu malam datang atau menunggu bulan mengutuhkan diri. Aku sudah mampu terus mengenang. Bukan karena aku tak santun tapi karena aku tahu rasanya menjadi utuh tanpa diriku sendiri.

Senin, 22 Juli 2013

Senyam Senyum Senin

Hujan basah, becek, untungnya ada ojek. Jadi gak terlalu cinta laura banget lah. Senin pagi selalu datang cepat tapi pekerja kantoran terutama yang kerja di daerah Sudirman dan sekitarnya (curhat) pasti terlambat. Sekarang bukan hanya sholat yang berjama'ah tapi telat juga jadi rame-rame. Gimana enggak? Wong rakyatnya beramai-ramai mengeksplotasi alam demi gengsi dan harga diri. Beramai-ramai beli mobil baru, motor baru, sedangkan jalanannya segini-gini aja. Mereka gak mikirin dampak kedepannya dengan konsumsi BBM yang berlebihan biasa berakibat fatal sama alam.
Gak usah jauh-jauh prediksi alam 10 tahun ke depan. Sekarang aja udah kelihatan. Contoh kecilnya iklim yang gak pernah sesuai sama prediksi. Bulan Juli ini harusnya jadi musim kemarau. Tapi lihat hari ini. Hujan gak berhenti-henti begitu juga hari-hari kemarin. Alam udah bertindak semaunya kayak penghuninya yang paling seenak-enaknya, manusia.

Manusia ya manusia. Katanya makhluk mulia tapi coba saja lihat apa yang dilakukan oleh manusia? Mereka membakar hutan, menjarah batu bara dan minyak bumi, mereka menyingkirkan tanah tempat pohon-pohon tumbuh lau mengganti dengan mall dan gedung mewah. Apa itu yang dilakukan oleh makhluk mulia? Bukan menjustifikasi atau menyudutkan siapa-siapa tapi faktanya memang manusia lebih kejam dari binatang buas. Kalau binatang buas mencari mangsa karena memang insting mereka bagaimana dengan manusia? Apa karena insting juga manusia tidak mementingkan kepentingan bersama dan mengutamakan kepentingan pribadi? Kalau begitu apa bedanya dengan binatang yang memang hanya terus menuruti kemauan tanpa memikirkan dampak apapun.

Lihat Jakarta sekarang. Gak perlu bandingkan dengan Singapore atau negara-negera lain yang punya standart kerapihan dan kebersihan kota. Jakarta ya milik Indonesia harusnya tidak perlu membanding,-bandingkan  terus. Lebih baik fokus saja pada perbaikan diri. Dan perbaikan diri dimulai dari diri sendiri. Tapi lihat diri sendiri sekarang. Ada berapa banyak orang Indonesia yang memang fokus dengan perbaikan Jakarta atau wilayah lainnya dengan cara mengurangi polutan dan tidak mengeksplotasi alam? Minim. Mereka hanya kaum minoritas yang kalau bersuara justru ditertawakan. Padahal ide mereka cemerlang tapi sangat sulit orang lain diajak kerja sama. Malah pasrah sama kebijakan pemerintah. Kalau pemerintahnya sableng juga? Yaudah jadi lingkaran setan. Kalau udah masuk gak bisa keluar lagi tinggal deh bilangnya "yah mau gimana lagi". Lucu.

Hmmm jadi apa solusi untuk Mon(ster)Day kali ini? Saya sih cuma bisa seyam senyum aja menghadapi keruwetan masalah yang sudah seperti bukan masalah lagi karena memang gak ada penyelesaiannya....

Jumat, 24 Mei 2013

APTB (Bekasi-Tanah Abang) : Solusi Kemacetan?

Halo, apa kabar stalker? Sepertinya belakangan ini saya mulai terkena semacam sindrom malas yang luar biasa. Saya malas ngapa-ngapain, bahkan untuk melakukan kemalasan saya sendiri saja saya malas. Entah apa yang terjadi dengan saya, tapi saya mulai malas berpikir juga, jadi tidak mengherankan bila saya juga malas untuk bikin posting-an baru.

Namun, kali ini saya membuang jauh-jauh rasa malas saya sebab saya mau berbicara tentang sebuah inovasi yang sudah sering dibahas untuk mengatasi kemacetan Ibukota. Saya termasuk orang yang skeptis terhadap berbagai inovasi yang ditawarkan untuk perubahan Jakarta. Di mata saya, segala upaya yang dicari lalu diterapkan menjadi sebuah aturan, hanyalah berupa inovasi yang ketika berupa gagasan masih terasa bagus tetapi ketika sudah masuk ke dalam tahap realisasi hanya menjadi janji manis saja. Bahkan ketika Jasa Marga mengeluarkan Sayembara Solusi Kemacetan Ibukota saya juga menyumbangkan ide yang salah satunya memberlakukan sistem subsidi silang, dimana pengendara mobil pribadi dibebankan biaya toll yang lebih besar ketimbang bus dan angkutan umum yang melewati toll. Dengan tingginya harga toll, pengguna kendaraan bermobil akan pikir berkali-kali ketika menggunakan mobilnya dan saya yakin mereka akan beralih menggunakan angkutan umum. Akan tetapi, terlepas dari banyaknya ide yang disumbangkan, kalau manusia tetap egois dan mementingkan kenyamanan pribadi, saya rasa semua ide hanya akan berakhir menjadi sampah gagasan belaka.

Untungnya, sekarang Jakarta dipimpin oleh Duo Pria Tampan (hehe) yang meski bukan asli orang Jakarta, semoga saja Pak Jokowi dan Pak Ahok bisa menuntaskan permasalahan kemacetan di Ibukota. Saya memang bukan tim sukses mereka, saya juga bukan warga asli Jakarta yang pada saat pemilu memilih keduanya sebagai pemimpin Jakarta, saya juga tidak kenal siapa mereka berdua. Namun, terlepas dari ketidak-terkaitan saya terhadap mereka berdua, saya mendukung penuh segala inovasi yang dikampanyekan oleh keduanya. Mengapa demikian? Sebab mereka berdua tidak terlalu muluk-muluk dalam membuat agenda perubahan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan calon gubernur pada saat itu. Juga salah satu inovasinya adalah mau memperbaiki kemacetan di Ibukota.

Pada awalnya saya memang skeptis tentang perubahan yang ditawarkan oleh Pak Jokowi dan Pak Ahok. Apakah mungkin memperbaiki kota semerawut Jakarta? Tetapi, rasa skeptis saya kini mulai tergantikan rasa optimis tentang perubahan yang diharapkan bisa berjalan kearah yang lebih baik ketika munculnya sebuah ide untuk membuat transportasi nyaman tidak hanya di dalam Ibukota tetapi di kota-kota yang aktivitasnya terhubung dengan Ibukota sendiri. Selain MRT yang disebut-sebut akan mewarnai kegiatan transportasi, adalah APTB sebuah gagasan yang menurut saya cukup menarik.

Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus Transjakarta atau yang dikenal APTB sudah beroperasi. Selama dua hari belakangan pun saya menggunakan kendaraan tersebut. Dari tempat tinggal saya, bus APTB yang beroperasi itu bekerja sama dengan salah satu perusahaan bus ternama, Mayasari Bakti. Berikut beberapa pantauan yang saya dapatkan selama menggunakan transpoertasi tersebut:

Biaya Rp. 8,000.-
Dari biaya bus pada umumnya yang beroperasi dari Bekasi menuju Ibukota atu rute sebaliknya, biasa dikenakan biaya sebesar Rp. 6,000.- s/d Rp. 7,000.- untuk sekali perjalanan bus AC dan Rp. 4,500.- untuk bus Non-AC. Namun, untuk APTB sendiri biaya tiketnya lebih mahal yaitu Rp. 8,000.- untuk perjalanan dari Bekasi-Tanah Abang. Hmmm, kalau dihitung-hitung sih memang agak lebih tekor jika setiap hari menggunakan APTB. Jadi untuk pengguna angkutan umum seperti saya sih APTB agak menguras kantong juga.

Tiket Terusan
Masih berkaitan dengan tiket APTB yang dirasa cukup mahal bagi pengguna kendaraan umum, ternyata tiket seharga  8 ribu rupiah cukup worth-it. Seperti informasi yang tertera di dalam APTB dan juga diberbagai pemberitaan, tiket APTB juga termasuk tiket terusan di dalam koridor busway! Jadi artinya kalau misalnya kalian mau naik busway untuk melanjutkan perjalanan setelah naik APTB, kalian tidak perlu lagi membeli tiket busway yang di bandrol seharga Rp. 3,500.- cukup dengan Rp. 8,000.- kalian sudah bisa menggunakan APTB dan juga busway! Keren kan? Misalnya begini, dari Bekasi kalian mau ke arah Blok M, otomatis kalian harus menggunakan APTB sampai Halte Bendungan Hilir saja, lalu bisa nyambung naik busway yang ke arah Blok M tanpa dikenakan biaya tiket busway. Hmm, saya rasa biaya tersebut cukup murah terutama untuk kalian yang letak kantornya dilewati oleh jalur busway.

Cukup Rp. 5,000.- dari Koridor Busway
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya harga tentang harga APTB, untuk yang naik dari koridor busway apakah akan dikenakan biaya yang sama juga? Jawabannya tentu tidak. Apabila teman-teman ingin naik APTB menuju Bekasi, sudah pasti kalian harus menunggu di halte busway. Biaya yang dikenakan hanya 5rb rupiah saja! Tentu kalian juga harus membeli tiket APTB terlebih dahulu di dalam halte busway, jangan sampai membeli tiket busway.

Rute Perjalanan
Nah, untuk rute perjalanannya sendiri, APTB yang berangkat dari Bekasi tidak masuk ke dalam toll bayangan di Jatibening. Bus APTB dari Bekasi langsung menuju Halim dan keluar di toll Cawang dan langsung melakukan pemberhentian di halte-halte busway sampai ke arah Tanah Abang. Cukup efisien waktu yang dihabiskan untuk menuju Tanah Abang melalui jalur ini ketimbang melewati toll dalam kota. Tapi, bukan Jakarta namanya kalau bisa ditebak. Jalur APTB ini juga mengalami kemacetan parah terutama di daerah Pancoran sampai Gatot Soberoto. Hal itu dikarenakan pada jalur ini, pengguna motor sangatlah banyak dan tidak teratur. Kalau tidak ada penjaga disekitar jalur busway, para pengguna motor akan menggunakan jalur busway untuk alternatif mereka. Sungguh menyebalkan!

Kapasitas Tempat Duduk
APTB Mayasari Bakti dari Bekasi, memiliki kapasitas tempat duduk sebanyak 30 orang dan memiliki ruang yang cukup luas untuk orang-orang berdiri. Bentuknya memang menyerupai TransJakarta.

Fasilitas yang Cukup Oke
Bus APTB ini mungkin memang Bus baru dan bukan 'kanibal' yang artinya hanya body bus saja yang baru dan mesinnya mesin lama. Sebab suspensinya memang betulan enak dan apabila kita berdiri lama di dalam bus tidak terasa terlalu cape seperti kalau kita menggunakan bus-bus umum yang biasa. Belum lagi kebersihannya yang masih terawat dengan baik dan juga interior yang cukup bagus sehingga membuat pengguna bus tidak merasa kalah keren ketimbang naik mobil pribadi, Ditambah lagi AC yang sangat dingin, membuat saya beku saking dinginnya, jadi untuk kalian yang mau naik APTB jangan lupa pakai jaket yang tebal yaa! Brrrrrr.



KESIMPULAN!
Dari tulisan saya ini bisa ditarik kesimpulan bahwa, keberhasilan kinerja dan juga gagasan Duo Jokowi-Ahok sangat ditunjang dari masyarakat yang dipimpin mereka. Tanpa dukungan yang besar, kesuksesan untuk membaharui transportasi Ibukota hanyalah angan-angan semata. Jakarta akan tetap macet bahkan akan lebih parah lagi apabila setiap hari mobil pribadi terus bertambah jumlahnya. Jadi, beranikah Anda mengikis ego dan mulai menggunakan transportasi nyaman yang diidamkan sesuai gagasan Jokowi-Ahok?

Senin, 06 Mei 2013

Dukkha

Lagi-lagi, malam ini ia datang. Saat lampu ruangan dinyalakan, aku memandang seluruh peserta yang duduk dalam posisi bersila. Gadis itu duduk di barisan paling belakang, seperti biasa. Seperti saat tiga minggu yang lalu ketika ia pertama kali datang. Mungkin malam yang mengundangnya atau angin mengatakannya bahwa ia punya kesempatan hening, menyatu dengan alam. Entahlah. Aku belum pernah bicara dengannya. Ia juga tak pernah bicara dengan yang lainnya meski peserta banyak yang bertanya-tanya tentang kehadirannya. Tidak ada yang tahu siapa dia atau apa yang membawanya datang ke tempat terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dunia. Kedatangannya hanya menyisakan tanda tanya ketika kemudian saat pelajaran usai, ia berlalu pergi.

Saat pertama kali datang hingga kedatangan yang kesekian kalinya, gadis itu sendirian. Hanya saja ia bukanlah gadis yang sama saat ini dengan yang pertama kali datang kemari. Wajahnya letih dan penuh kerutan, sepertinya ia telah mengemban masalah yang terlampau berat hingga bahunya tak mampu lagi menopang. Namun, kini gadis itu telah menanggalkan deritanya. Tak ada lagi kesedihan dan kegelisahaan yang tersirat dari wajahnya. Hanya senyum yang ditarik di kedua sisi bibirnya. Bibir yang sangat tipis tapi sangat anggun membingkai wajahnya yang berbentuk oval. Kulitnya pucat, entah karena dinginnya malam yang selalu ia dapati kala datang kemari atau memang kulitnya sudah pucat begitu, aku tidak tahu. Rambutnya bergelombang dan tergerai indah bak mahkota bidadari khayangan. Dan matanya, mata yang besar seperti rusa selalu berkedip lambat-lambat diikuti bulu mata tebal. Ia tidak secantik gadis-gadis yang wara-wiri di televisi, tapi ia cukup cantik dan terlalu cantik menurut pandangan mataku. Dan semenjak menatap matanya, aku selalu merasa ia dapat membuat aku terjatuh dalam misterinya.

Mungkin inilah yang namanya ketertarikan fisik. Jatuh cinta. Atau apapun namanya. Aku sendiri lupa kapan terakhir aku pernah merasakan debaran tak menentu saat mataku bertemu matanya untuk beberapa saat saja. Aku juga lupa kapan terakhir kali aku menginginkan seseorang begitu besar sampai-sampai rasa pusing menghantuiku kala gadis itu pergi meninggalkanku saat sesi pelajaran hening usai. Aku pun lupa kapan terakhir kali aku memikirkan seseorang hingga aku mengorbankan seluruh waktu heningku begitu saja. Aku sedang terjangkit virus paling mematikan, benar membuatku mati rasa dan memang harus dimatikan.
                                                                          ***

Aku masih ingat waktu setahun lalu aku tinggal di tempat terpencil ini. Hidupku sebatang kara. Orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan beberapa minggu sebelum aku datang kesini. Aku anak tunggal dan aku tidak punya saudara sepupu, paman atau bibi bahkan kakek nenek. Ayahku juga anak tunggal seperti halnya aku, sedangkan Ibuku hanya dua bersaudara dan saudaranya telah meninggal karena penyakit kanker payudara. Kakek-nenek dari kedua orang tuaku sudah lama meninggal dunia. Jadilah aku si anak yang benar-benar hidup sebatang kara. Berhubung aku seorang penyendiri, aku juga tidak punya teman dekat. Seluruh hidupku aku baktikan kepada kedua orang tuaku. Sampai akhirnya jalan kehidupan membuat aku nyaris gila. Selama seperempat abad hidupku aku serahkan pada kedua orang tuaku, tak sekalipun aku mencoba menjajaki dunia percintaan atau hanya sekedar bersahabat dengan satu dua orang teman. Kini orang tuaku telah tiada, tempat dimana aku menggantungkan dan memberikan hidup telah pergi. Aku hilang arah. Aku tidak tahu harus bagaimana.

Aku marah pada Tuhan karena ia seenaknya saja mengambil kedua manusia yang aku kasihi. Tidakkah Tuhan Maha Mengetahui kalau aku hidup sebatang kara? Setiap malam aku meratap berharap kedua orang tuaku bisa kembali. Tapi itu mustahil. Tidak akan mungkin mereka kembali. Kematian telah menjemput mereka untuk meninggalkan aku tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Sampai akhirnya saat aku sedang hilang arah, aku mengayuh sepedaku, menjauh dari keramaian dan terus menjauhi tempat tinggalku. Aku tidak lelah dan aku tidak takut apapun lagi, terlebih pada kematian. Jalanan sudah sangat gelap karena saat itu memang sudah larut malam. Aku tidak peduli kalau aku bertemu perampok, aku tidak peduli akan bahaya yang mungkin saja menimpaku. Aku sudah mati rasa. Tidak ada lagi alasan untuk aku bertahan hidup. Tiba-tiba sepeda aku menabrak batu besar ditengah jalan. Aku terpelanting dari sepeda. Aku pikir aku bakal mati, ternyata malah seluruh badanku sakit semua karena jatuh. Aku masih sadar dan aku melihat keseliling jalanan gelap itu. Ternyata ada sebuah pemukiman di depanku. Tidak jauh dari pemukiman itu ada sebuah bangunan besar yang menjulang tinggi terbuat dari batu-batu alam. Sekeliling bangunan berbatu itu adalah sebuah tembok batu juga dan tanpa pagar. Aku begitu terkesima melihat keanggunannya yang berdiri di tengah kesunyian seperti itu. Dengan rasa ingin tahu luar biasa, aku bangkit menahan sakit dan melangkah pincang masuk ke dalam bangunan itu.

Aku meninggalkan rongsokan sepeda aku. Tanpa ekspektasi, semenjak itu pula aku meninggalkan segala hal yang telah aku miliki. Ternyata bangunan agung itu adalah sebuah biara para pertapa. Mereka adalah sekumpulan manusia yang telah meninggalkan hasrat duniawi. Tidak perlu ragu-ragu, aku meminta ditabhiskan menjadi salah satu dari mereka. Tidak ada lagi yang menunggu aku di luar sana, tidak perlu juga aku meminta izin kepada orang tua, dengan bahagia aku kemudian melangkah.

Setelah satu tahun aku disini, sebagian besar hidup aku habiskan untuk bermeditasi menembus ketidakterlibatan terhadap dunia. Aku juga belajar mengenai hukum sebab-akibat dan luka kepergian orang tuaku berangsur-angsur dapat aku terima, meskipun aku tahu kerinduan aku pada orang tuaku tetap disana menjadi bagian dari diriku. Aku juga belajar tidak memiliki apa-apa, sekecil apapun, termasuk kesedihan aku. Dan disini, aku belajar untuk berbagi, kepada mereka yang tidak menempuh kehidupan selibat tetapi mencintai keheningan. Setiap malam pukul delapan, kami mengadakan hening bersama.

Setahun belakangan aku menguatkan tekadku untuk melepas segala beban penat yang selama ini aku bawa. Meskipun aku belum menuntaskan seluruhnya, Guru bilang aku tetap dalam proses. Aku begitu mencintai keheningan, walau aku diingatkan untuk tidak melekat pada keheningan itu sendiri. Sampai akhirnya ketika gadis itu datang, duduk bersila bersama yang lain. Tidak pernah bicara dan hanya membawa sekumpulan derita dunia yang ingin ia lepaskan. Gadis itu membuat aku meninggalkan ketertarikan aku pada keheningan. Gadis menawan itu telah memenjara aku.

Walau aku tahu ini bukan kehendaknya, melainkan kesalahanku semata. Bukan salahnya apabila ia rupawan, tentu kesalahan aku bila aku jadi tertarik kepadanya. Aku sudah mengabdikan diri pada janji suci untuk hidup tanpa perkawinan dan meninggalkan kemelekatan, namun gadis ini telah membuat aku ingin kembali memeluk ikatan inderawi. Aku begitu menginginkannya, hingga rasanya konyol kalau aku senantiasa berharap ia bertanya sekali saja saat hening selesai, agar aku bisa mendengar suaranya yang sepertinya merdu. Aku tahu aku nyaris gila dan kesalahanku adalah menyenangi khayalan tentangnya. Tapi, aku tak berdaya atau memang tak mau berdaya, aku menikmati sensasi ketika sesuatu berdesir dalam ragaku.
                                                                            ***
Jadwal rutin kami saat hari telah berganti adalah bangun tidur sebelum matahari menunjukkan diri. Namun, jatuh cinta tampaknya telah memadamkan semangat aku untuk memulai hari dengan ceria karena aku lebih menyukai berlama-lama di matras tidur untuk bermimpi tentangnya. Sebagai pertapa junior dan yang paling muda disini, pekerjaan beratku otomatis lebih banyak. Aku yang menyapu seluruh halaman biara yang penuh dengan dedaunan kering, membersihkan ruangan-ruangan di dalam biara, dan menyiapkan keperluan Guru. Kantuk menjamahku ketika aku sedang menyapu halaman dengan sapu lidi. Aku masih ingin kembali tidur dan bertemu dengan gadis pujaan aku. Sebab sungguh tidak mungkin jika aku mewujudkan itu menjadi kenyataan.

Tiba-tiba Guru datang. Lelaki tua itu selalu saja datang tiba-tiba diberbagai sudut biara ini. Saat kau sedang tidak fokus, marah, kesal, ingin kembali ke rumah orang tua, Guru selalu tahu dan akan memberikan satu dua kalimat bijaksana. Nasehatnya ibarat jarum suntik yang diinjeksikan langsung ke pembuluh darah. Seketika itu pula siapapun yang mendapat wejangannya langsung kembali 'sadar' akan tujuan mereka datang kemari. Dan kini, Guru tiba-tiba berjalan ke arahku. Aku jadi salah tingkah sendiri, aku takut ia tahu perihal perasaanku.

Aku menghormat padanya dan Guru tersenyum padaku, senyum dalam yang penuh makna.

"Pertapa Nanda, apa yang hendak kau lakukan?" tanya Guru.

"Saya sedang membersihkan halaman, Guru," sahut aku.

"Alangkah bijaknya bila seseorang membersihkan pikiran dari kemelekatan terlebih dahulu. Sebab seperti yang sudah diajarkan oleh Sang Guru, pikiran adalah pelopor," sahut Guru sambil tersenyum.

Aku menunduk memandang setumpuk dedaunan kering yang telah rapi. Ingin rasanya aku tenggelam ke tumpukan itu dan berharap aku berubah menjadi salah satu hewan tanah saja, malu. Guru beranjak pergi namun tiba-tiba saja keberanian datang padaku.

"Guru saya ingin berkata jujur," kata aku tiba-tiba. Kerongkonanku serasa tercekat tapi aku tidak mungkin bisa berbohong pada Guru.

Guru menghentikan langkah lalu menoleh kepadaku sambil tersenyum, "kejujuran adalah hal yang sangat baik."

"Saya telah jatuh cinta, Guru," kataku menghempaskan diri dihadapan Guru sambil terus menunduk malu, "saya telah jatuh cinta pada seorang gadis yang selalu datang saat hening bersama. Saya belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Maafkan saya guru," lanjutku, tiba-tiba saja aku mengecap sesuatu yang asin, ternyata air mata mengalir dari kelopak mataku.

Guru tersenyum, "tidak apa-apa kalau kau jatuh cinta."

Aku menengadah menatapnya, "benarkah itu tidak apa-apa, Guru?"

Guru menggeleng, "tidak apa-apa selama cinta yang kau maksudkan itu benar-benar ada. Bukan kondisi yang timbul dan padam," kemudian Guru berjalan pergi meninggalkan aku yang penuh tanya.

Sebelum ia melangkah lebih jauh, tiba-tiba Guru menoleh, "gadis itu adalah Chandani. Kebetulan ia merupakan dewi penunggu pohon itu. Kalau kau ingin menemui wujud aslinya panggil saja namanya," kata Guru sambil menunjuk pohon angsana di dekat aku.

Jumat, 03 Mei 2013

May Day

Tanggal 01 Mei yang lalu kita semua memperingati Hari Buruh Sedunia. Dulu saya pikir yang namanya Buruh hanyalah pekerja pabrik atau pekerja yang mengerjakan tugas kasar seperti kuli bangunan. Tetapi, ternyata (ehm saya mesti nelen ludah dulu) pekerja kantoran yang setiap senin-jumat selalu duduk cantik di ruangan ber-AC termasuk pekerja yang disebut Buruh. Klasifikasi Buruh sendiri ternyata meliputi semua pekerja dari berbagai aspek. Selama seseorang tidak memiliki lapangan kerja sendiri atau bahkan mempekerjakan orang lain tapi justru malah bekerja kepada sebuah perusahaan atau instansi, itu namanya Buruh. Hmmm, kalau begitu beruntunglah para pedagang yang meskipun mereka panas-panasan dengan gerobak dorong, status mereka bukan Buruh seperti saya yang padahal bekerja di sebuah daerah elit Ibukota. Ironis sekali.

Saat Hari Buruh berlangsung, sudah dipastikan jalanan dipadati buruh-buruh yang mogok kerja. Mereka menuntut hak-hak mereka seperti kenaikan gaji, penghapusan sistem outsource dsb. Well, sejujurnya saya juga ingin ikut turun ke jalan untuk menuntut hak saya setelah tidak puas akan adjustment bulan lalu hehehe. Tapi, berhubung saya masih perlu uang untuk biaya kuliah jadi apa mau di kata lebih baik menonton serunya para Buruh ketimbang dapat SP3.

Bicara soal hari May Day yang selalu jatuh pada tanggal 01 Mei, saya baru kalau ternyata perayaannya sudah lama terkenal. Namun, bukan Buruh yang berunjuk rasa, tetapi May Day merupakan salah satu perayaan paganisme sebelum agama-agama modern berkembang.

Tidak dipungkiri lagi kalau pengaruh paganisme masih sangat kental hingga saat ini. Lihat saja penamaan hari dalam seminggu menurut istilah bahasa inggris yang ternyata berkaitan erat dengan mitologi bangsa Nordik :
- Moonday berasal dari kata Moon dan Day yang berarti Hari Bulan tentu sangat berkaitan dengan penghormatan kaum pagan terhadap Dewi Bulan.
- Tuesday  berasal dari kata Tyr's Day atau Hari Tiw yang merupakan penghormatan untuk Dewa Tyr atau Tiw karena ia adalah Dewa pertempuran.
- Wednesday berasal dari kata Wodin's Day atau Odin's Day merupakan Hari Odin, sang Raja para Dewa.
- Thursday berasal dari kata Thor's Day atau Hari Thor, Dewa petir yang sangat dihormati.
- Friday berasal dari kata Freyja's Day atau Hari Freya, Dewi bangsa Nordik yang membawa kesuburan dan kelimpahan bangsa Skandinavian.
- Saturday berasal dari kata Saturn's Day yang tidak lain dan tidak bukan adalah hari perayaan untuk Dewa Saturnus.
- Sunday berasal dari kata Sun Day yang sudah pasti berarti hari penghormatan kepada Dewa Matahari. Tidak mengherankan kalau hari Minggu, kalender Gregorian berwarna merah. Hmm tentu karena bagi kaum paganisme Matahari adalah pusat energi dan mereka sangat menghormati Matahari sebagai pemberi kehidupan melalui energi.

Kalau begitu benarkah May Day juga dipengaruhi oleh paganisme? Buat yang suka browsing wikipedia silahkan cari saja atau bisa klik disini May Day. Secara garis besar, May Day sendiri adalah perayaan paganisme menyambut musim panas. Penyambutan tersebut tentu diikuti oleh perayaan festival-festival. Diantaranya bisa di check di alamat http://hobt.org/about/. Namun, seiring perkembangan manusia, festival ini ditinggalkan oleh manusia terlebih lagi setelah penyebaran agama Kristen di Eropa. Menyambut May Day dianggap sebagai penyembahan terhadap berhala dan hal-hal yang menyalahi Tuhan. Hmmm.

Well, mungkin perayaan May Day sendiri adalah hasil kesepakatan kaum pagan didalam mengartikan rasa hormat mereka terhadap alam. Walau banyak spekulasi mengenai paganisme, menurut saya pribadi, paganisme sepertinya bukanlah semacam agama yang seperti kita kenal saat ini. Paganisme lebih kepada sebuah ideologi yang berbicara tentang penghormatan terhadap alam semesta dan menuntun manusia untuk memahami arti energi kehidupan itu sendiri. Namun, memahami misteri alam seperti rasi bintang, pergerakan planet, fenomena gerhana, pasang-surut air laut, sangatlah sukar untuk dimengerti oleh manusia sehingga orang-orang zaman dahulu memilih 'mengemas' pengetahuan tersebut lewat cerita-cerita tentang Dewa Dewi agar lebih mudah dimengerti. Cerita-cerita yang diturunkan secara turun temurun inilah yang menghasilkan mitologi dan dongeng bahkan diartikan sebagai penyembahan terhadap berhala. Sungguh disayangkan apabila dewasa ini, kita malah membutakan diri akan kesempitan berpikir ketimbang membuka pengetahuan seluas-luasnya demi kekayaan pemikiran kita. Bagaimana dengan kalian?

Senin, 18 Maret 2013

AKAR KUCING: SI TANAMAN YANG DI SUKAI KUCING




Pernah mendengar tanaman Akar Kucing? Jujur saya baru mendengar nama tersebut beberapa bulan lalu. Saudara saya menyarankan untuk mengkonsumsi tanaman tersebut karena katanya bagus untuk kesehatan. Kenapa namanya Akar Kucing? Cerita dari saudara saya, kucing sangat suka akar tanaman tersebut dan hanya memakan akarnya saja. Jadi disebutnya Akar Kucing. Setelah makan, kucing akan menggeliat-geliat seperti manusia yang lagi pakai narkoba hehe.. Nge-fly gitu katanya.

Antara percaya enggak percaya, saya menemani mama saya mencari Akar Kucing ke daerah-daerah kampung dekat perumahan saya. Tanaman liar ini tumbuh di pinggir-pinggir jalan dan cara nge-test tanaman ini benar Akar Kucing atau bukan cukup mudah. Tinggal kasih ke kucing aja. Kalau di makan sudah 1000% dipastikan ini Akar Kucing.

Ternyata benar lho saudara-saudara! Saya ingin membuktikan sendiri fenomena kucing doyan tanaman. Saya melakukan percobaan pada tiga kucing dan semuanya doyan plus kucing-kucing yang lain malah datang pengen ikutan makan haha..





Percobaan saya terhadap satu kucing pertama tidak membuat saya percaya begitu saja. Siapa tahu kucing pertama yang saya kasih Akar Kucing memang vegetarian. Akhirnya setelah Akar Kucing sudah di potong-potong oleh mama, saya kasih ke dua kucing yang berbeda. Dan hasilnya? Kucing tersebut juga suka!




Dan bahkan kucing yang ketiga sampai menghampiri tempat yang digunakan mama untuk memotong-motong Akar Kucing tersebut!



Berdasarkan penelitian yang terdapat pada Journal Agriculture Food Chemical, tumbuhan dengan nama latin Acalypha Indica merupakan tanaman perdu yang termasuk famili Euphorbiaceae, ditemukan senyawa fenol dan flavanoid. Daun, batang dan akar mengandung saponin dan tanin. Batangnya juga mengandung flavonoida dan daunnya mengandung minyak asiri. Senyawa fenol bersifat antibakteri, anti radang dan aktif dapat menghilangkan rasa sakit setempat, mencegah bahkan menyembuhkan rematik artritis. Senyawa flavanoid bersifat antioksidan, yang dipercaya dapat menghambat pembentukan asam urat.

Setiap bagian tanaman digunakan secara tradisional untuk pengobatan berbagai penyakit. Buahnya digunakan untuk asma, batuk, brokhitis, dan nyeri telinga. Seluruh bagian tanaman digunakan sebagai ekspektoran (pelega tenggorokan), laksatif (pencahar), peluruh kencing, radang paru, dan penyakit sendi. Daunnya bisa digunakan pada penyakit kulit seperti skabies. Berbagai penelitian juga menyebutkan adanya efek antimokroba (anti kuman) dan aktivitas penyembuhan luka dari ekstrak akar kucing. Umumnya orang menggunakan bagian akarnya untuk menangani penyakit asam urat.

Jadi, apakah kalian mau coba? Jangan lupa test ke kucing dahulu yaaaaa... hehe


alp
180313

Kamis, 14 Maret 2013

Apa itu Pikiranologi?

Mendengar sufiks -logi pada sebuah kata, menggiring saya pada pengertian mengenai Pengetahuan yang sudah dimodifikasi dengan berbagai Pengalaman dan juga Penelitian sehingga menghasilkan yang namanya Ilmu Pengetahuan. Contoh diantaranya yang begitu banyak misalnya adalah Biologi, Ilmu yang mempelajari tentang alam; Psikologi, Ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan; Kardiologi, Ilmu yang mempelajari tentang jantung, lalu ada Arkeologi, Ilmu tentang peninggalan material; Onkologi, Ilmu tentang penyakit kanker, dsb. Asal muasal sufiks -logi tersebut adalah dari bahasa Yunani -logia yang kemudian diserap kedalam bahasa Latin -logia lalu dipopulerkan oleh Perancis -logie dan terakhir bahasa Inggris -logy.

Pengetahuan-pengetahuan yang telah dijadikan Ilmu Pengetahuan tersebut bersifat kasat mata dan juga tampaknya jelas secara fisik, mungkin ada pengecualian seperti Eksatologi yang mendalami soal peristiwa masa depan sejarah manusia ataupun Teologi yang mendalami persoalan spiritualitas terhadap Tuhan. Walaupun kedua cabang Ilmu tersebut mempelajari aspek yang sifatnya tidak bisa dibuktikan secara empiris, namun hampir semua orang mengatakan bahwa keyakinan beragama adalah modal yang kuat sebagai hipotesa.

Berkaitan dengan cabang Ilmu tersebut, saya jadi penasaran darimana datangnya Pengetahuan mengenai Eksatologi ataupun Teologi. Apakah benar telah dibuktikan? Atau hanya sebatas pemikiran yang dimodifikasi sehingga menghasilkan sesuatu yang tampaknya seperti Pengalaman lalu diyakini? Setelah memikirkan hal tersebut saya kemudian menyadari bahwa pikiran saya berputar-putar dan berusaha mendefinisikan satu dan lain hal, akan tetapi hasil pikiran saya apakah benar sesuai apa yang saya pikirkan?

Akhirnya terbentuklah sebuah pemikiran karena sejak tadi saya berputar-putar dalam alam pikiran. Mengapa tidak ada cabang Ilmu lainnya yang disebut Pikiranologi? Sebuah Ilmu Pengetahuan yang tentunya akan mendalami dan membahas mengenai asal-usul Pikiran dan bagaimana Pikiran berkembang dan mengempis sehingga terciptalah ide-ide untuk membentuk suatu hal? Dan mungkin Pikiranologi akan menjadi sumber -logi -logi yang lainnya, sebab jika benar Pikiran adalah pembentuk ide-ide maka dari itu Pikiran adalah pelaku utama dari setiap cabang Ilmu.

Mungkin kalian akan mendebat bahwa sudah ada Filsafat yang berbicara tentang esensi segala sesuatu, ataupun Metafisika, yang merupakan cabang Ilmu Filsafat, yang membahas tentang asal dan hakikat sebuah objek (fisik) di dunia. Pikiranologi bukan tentang mencari-cari tahu soal keberadaan realitas, namun tampil sebagai gerbang antara pertanyaan mengenai realitas dengan realitas itu sendiri. Pikiranologi membedah lebih dalam mengenai Pikiran yang sering bertanya soal eksistensi manusia dan semesta, Pikiranologi mempelajari Pikiran itu sendiri yang senantiasa membentuk dan menghancurkan ide, lalu menyimpulkan realitas apakah benar adanya atau hanya rekaan semata.

Sebuah kalimat kuno berbunyi :
"Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya"

atau Henry Ford pernah mengatakan :
"If you think you can do a thing or think you can’t do a thing, you’re right."

Kalimat tersebut semakin membuat saya tertarik, jikalau pikiran demikian adanya dalam hal menciptakan kreasi atau bahkan pemahaman banyak hal. Benarkan segala hal benar adanya? Atau hanya bentukan pikiran saja? Kalau begitu apakah alam semesta senyata yang dipelajari melalui cabang-cabang Ilmu yang sudah ada atau sebenarnya alam semesta adalah bentukan pikiran kita sendiri? Kalau memang bentukan pikiran kita sendiri, apakah ada hal-hal yang benar nyata seperti pikiran kita yang terus berpikir?

Saya penasaran tapi rasa penasaran juga bagian dari pikiran yang mengarah pada hal penasaran. Benar atau tidaknya hal-hal yang membuat saya penasaran sama artinya bergantung dengan pikiran setiap masing-masing individu. Lantas hanya akan tersisa kebingungan mengenai sebuah hal-hal yang senyata apa yang kita lihat.

Ah, sudahlah. Ketimbang berpusing akan alam pikiran dan merasa bahwa apa yang dipikirkan itu paling benar sendiri sedangkan orang lain merasa pikirannya lah yang paling benar, saya suguhkan blog saya ini menjadi label PIKIRANOLOGI PRASASTI. Sebuah blog yang berisi berdasarkan pikiran saya sendiri sebagai Prasasti, yang menganut cabang Ilmu yang tidak masuk ke dalam klasifikasi manapun karena memang saya tidak membutuhkan observasi yang sesuai standar nalar dan akal. Pikiran itu sendiri adalah sesuatu yang senantiasa merasa paling mendekati akal. Jadi? Sudah siapkah Anda dengan kenyataan bahwa kebenaran yang Anda yakini paling benar hanyalah ciptaan pikiran Anda yang memang tidak mau bersalah?



-disudut kota-
140313

Senin, 11 Maret 2013

Perjalanan Menuju Tanah Leluhur

Pada posting-an saya yang terakhir, saya belum menulis tentang perjalanan saya menuju ke tanah leluhur saya. Adik nenek saya, disemayamkan di Cilacap. Saya dan mama saya sudah menyiapkan baju yang akan di bawa ke Cilacap. Kakak saya tidak dapat ikut sebab ia belum mendapatkan jatah cuti dari kantornya dan Ayah saya juga tidak dapat cuti karena bekerja. Sedangkan saya? Saya memang bekerja namun saya ingin sekali mengunjungi kampung halaman mama saya. Waktu Eyang Buyut saya meninggal, saya dan keluarga pernah mendatangi keluarga mama saya di Cilacap tepatnya di Desa Adiraja. Tapi, itu sudah lama sekali, saat saya masih duduk di bangku SD. Ingatan akan kampung halaman sudah tidak begitu jelas, maka dari itu saya merasa inilah kesempatan saya untuk mengenal garis keturunan keluarga saya.

Perjalanan menuju Cilacap berlangsung sekitar 10 jam. Kami sekeluarga dan juga mobil Ambulance konvoi, tetapi karena mobil Ambulance memiliki hak lebih di jalanan maka jenazah Mbah Lik-Tut sudah sampai duluan di Jawa. Mobil yang saya tumpangi sampai Desa Adirejawetan pukul 02 pagi. Kami tidak melewati jalur selatan yang berkelok-kelok, melainkan jalur pantura yang di dominasi sama truck-truck dan juga bus-bus besar.

Saya baru tahu kalau ternyata Mbah Bapak dan Mbah Ibu, orang tua mama saya, tinggal di desa yang berbeda. Tadinya saya pikir mereka sama-sama berasal dari Desa Adiraja tapi ternyata keluarga Mbah Bapak saja yang tinggal di Adiraja dan keluarga Mbah Ibu tinggal di Adirejawetan, namun kedua desa itu letaknya bersebelahan. Sebenarnya Mbah Ibu berasal dari Maos, masih di dalam wilayah Cilacap, namun ketika ia sudah besar seluruh keluarganya pindah ke Adirejawetan.

Setelah sampai Adirejawetan, saya tidak bisa tidur. Saya terlalu bersemangat meskipun dalam suasana berduka, saya sangat senang akhirnya bisa datang ke tempat itu setelah bertahun-tahun berharap bisa kembali kesana. Saya bertahan untuk tidak tidur dan memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati udara Subuh dengan mengelilingi sekitar kampung dengan berjalan kaki bersama tiga orang saudara saya. Begitu sepi dan hening, saya jadi merinding membayangkan kami bertemu dengan makhluk halus ketika sedang berjalan menuju tempat-tempat gelap yang hanya disinari lampu minyak saja. Untungnya tidak ada satupun dari kami yang bertemu makhluk halus, kalau seandainya bertemu mungkin saya akan mengajaknya foto bersama untuk di masukan ke dalam posting-an saya hehe.

Pukul 06 pagi, jalanan sudah ramai. Namun, jelas keadaan ramai yang berbeda dengan Jakarta atau tempat tinggal saya di Bekasi. Keramaiannya tidak di dominasi oleh kendaraan bermotor melainkan orang-orang yang sudah berlalu lalang menuju pasar. Sudah banyak yang menggunakan motor, tapi tidak sedikit yang mengayuh sepeda ontel atau naik becak. Aku, mama dan tante Ning (adik mama nomor dua), serta sepupuku, memutuskan untuk berjalan kaki saja. Padahal jaraknya cukup jauh tapi kami semua semangat karena selain ingin memburu jajanan enak yang murah meriah, kami ingin berolahraga sambil menikmati udara yang kaya akan oksigen.

Jarak dari rumah menuju pasar mungkin sekitar satu kilo meter, tetapi setelah sampai bukannya lelah, kami langsung bergerilya mencari-cari makanan yang mengundang selera. Ada lupis, klepon, nasi uduk berbentuk bola, dan berbagai macam makanan yang rasanya akan bikin ketagihan.




Selain variasi makanan tradisional yang bermacam-macam, apalagi yang membuat kami kegirangan selain harganya yang murah meriah. Seribu rupiah saja sudah dapat satu jenis makanan yang sangat banyak! Hanya menghabiskan 20ribu rupiah, kami sudah menenteng banyak sekali makanan! Di Bekasi atau Jakarta tidak mungkin bisa seperti ini!

Diseberang pasar, ada warung nasi yang katanya juga enak dan murah meriah. Saya yang sedang belajar jadi Vegetarian, harus bisa tahan godaan saat Goreng Udang Tepung sudah siap saji dan tampaknya sangat enak. Keluarga saya lahap makan sarapan disana sedangkan saya hanya makan Lupis dan Klepon dan juga Nasi Uduk bulat. Sayangnya, maag saya kambuh. Belum sampai habis, perut saya sudah tidak bisa diajak kompromi. Rasanya mengesalkan!

Pukul 10 pagi, Mbah Lik-Tut akan disemayamkan. Mungkin hampir seluruh penduduk desa datang melayat. Saya tidak mengenal semuanya. Bahkan yang masih ada hubungan saudara saja datang dan saya tidak mengenal mereka. Tapi, anehnya orang-orang itu saling mengenal satu sama lain dan mama saya cukup eksis di kenal di sana. Banyak yang menyapa beliau duluan, saya jadi terkagum-kagum, ternyata mama terkenal sampai ke desa tetangga.

Lokasi penguburan Mbah Lik-Tut tidak jauh dari tempat tinggal keluarga kami. Cukup dengan berjalan kaki, kami semua sampai. Setelah acara penguburan tersebut, sepupu mama dari Mbah Bapak mengajak mama untuk berjalan-jalan ke Adiraja dan sekitarnya. Saya sudah cuti dua hari dan agak tidak enak rasanya kalau harus cuti sehari lagi, namun rasa ingin mengenal tempat leluhur membuat saya nekat untuk nambah cuti sehari.

Perjalanan dimulai menuju Karang Benda. Sebuah desa tetangga Adiraja. Kalau ditelusuri lokasinya dari Adirejawetan-Adiraja-Karang Benda. Memasuki desa ini, daerahnya lebih terlihat lebih pedesaan ketimbang dua desa mama saya dibesarkan. Banyak sawah di kanan-kiri dan juga banyak penduduk yang menggunakan sepeda.


Mengapa kami datang kemari? Konon ada sebuah kuburan leluhur kami yang disemayamkan di desa tersebut. Kuburan tersebut terletak di sebuah tempat bernama Kahendran. Berupa jalan kecil menanjak dan terdapat mata air yang masih jernih.


Berada di lokasi makan leluhur, kita semua harus sopan dan tidak bertingkah laku aneh. Ada semacam tata cara yang harus di lakukan sebelum memasuki tempat pemakamannya. Tujuannya untuk penghormatan bukan sebagai media pemujaan. Sebagai anak cucu, kami harus menghormati leluhur dan orang-orang tua.




Mbah Peno, adik Mbah Bapak, merupakan salah seorang Bedogol di desa Adiraja. Sebenarnya yang seharusnya menjadi Bedogol adalah Mbah Bapak, namun karena beliau hidup di Karawang dan menjadi Bedogol mengharuskan tinggal di Adiraja, jabatan itu diserahkan kepada adiknya, Mbah Peno, yang memang hidup di Adiraja. Bedogol adalah semacam jabatan kekuasaan yang diberikan secara turun temurun. Menurut catatan sejarah, ada jejak keturunan Putri Pembayun anak dari Panembahan Senopati yang juga istri dari Ki Ageng Mangir dalam keluarga Mbah Bapak. Jadi kami masih saudara sangat jauh dari Sri Sultan Hamengkubuwono. Jumlah Bedogol ada 12 orang dan semuanya adalah keturunan darah biru.


Setelah berkeliling Kahendran untuk membasuh wajah, menghormat kepada leluhur, makan bunga melati dari sana, kami sekeluarga menuju sebuah Vihara diatas bukit bernama Jambe Lima. Perjalanan ini sekadar penasaran saja, sebab view dari Vihara ini katanya sangat indah, bisa sampai melihat laut pantai selatan. Letaknya tidak terlalu jauh dari Kahendran dan jalannya cukup berliku sebab kami memang menempuh jalanan berbukit.

(Kiri-Kanan) Mbah Sudi, Mbah Bapak, Saya, Mbah Peno



Saking nikmatnya angin semilir dan keindahan alam sekitar, saya sampai lupa mendokumentasikan pemandangan indah yang saya lihat. Saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menyaksikan kehebatan semesta memproses kehidupan.

Kami harus pulang. Itu yang harus kami lakukan meskipun ada rasa rindu yang belum terpuaskan pada tanah leluhur kami. Namun, sebelum kami pulang, kami mampir ke Welahan Wetan, sebuah desa yang cukup jauh tempat tinggal Mbah Sri, adik Mbak Bapak dan Mbah Peno. Disana kami makan pecel terenak sedunia dengan harga murah meriah, 3ribu sudah dapat pecel plus lontong dengan porsi sangat mengenyangkan. Sayangnya, saya lupa foto-foto makanan tersebut saking nikmatnya memanjakan lidah dan perut.

Pukul 04 sore kami pulang dari Adirejawetan menuju Karawang. Perjalanan menempuh jalur selatan yang berliku-liku. Selamat tinggal Cilacap. Suatu hari saya akan kembali lagi :)

Rabu, 06 Maret 2013

Penghormatan Terakhir

Seharusnya saya menulis blog ini beberapa hari yang lalu. Tapi, berhubung keadaan jaringan internet kantor saya yang kurang mendukung jadi sejujurnya saya agak malas untuk update postingan belakangan ini.

Jaringan internet di kantor saya di lock oleh kantor pusat entah karena alasan apa situs blogger juga ikut-ikut di lock padahal menurut saya situs ini baik untuk melatih dan merangsang otak kita ketika mengungkapkan sesuatu lewat tulisan. Namun sekarang situs ini jadi tampak gak cantik lagi setelah jadi korban list jejaring yang harus di lock. Tampilannya gambarnya jadi gak maksimal dan template saya gak kelihatan, saya yang memang masih terikat sama keindahan jadi males untuk posting.

Postingan terakhir saya adalah soal cerita saya tentang Mbah Lik-Tut dan soal penyakitnya. Tepat pukul 5 pagi keesokan harinya saat saya sedang bersiap-siap menembus kemacetan Ibukota, keluarga mengabarkan bahwa Mbah Lik-Tut akhirnya menyerah pada penyakit kanker dan meninggal dunia sekitar pukul 4 pagi.

Kami sekeluarga berserta keluarga besar saya yang lainnya otomatis harus pergi kerumahnya yang berada didaerah Tangerang. Saya menggambil cuti dadakan. Demi penghormatan terakhir keluarga saya, saya rela melakukan apa saja termasuk kalau seandainya kantor memberikan peringatan atau semacamnya karena perihal cuti yang seharusnya diajukan minimal 1 minggu sebelumnya.

Sehari sebelum Mbah Lik-Tut meninggal dunia, tadinya nenek saya yang merupakan kakak kandung Mbah Lik-Tut ingin datang menjenguk beliau. Selama Mbah Lik-Tut sudah drop akan penyakit kanker, nenek saya atau yang biasa panggil Mbah Ibu belum sama sekali menjenguk adiknya. Mbah Ibu juga menderita penyakit, sakit diabetes yang berakibat pada amputasi jari manis di kaki kanannya dua tahun silam. Setelah di rawat selama sebulan karena kondisi tubuhnya sudah drop, Mbah Ibu tidak dapat pergi kemana-mana. Beliau hanya bisa duduk dan tidur atau melakukan aktivitas lainnya di atas tempat tidur. Tulangnya sudah tidak dapat menopang tubuhnya karena menurut dokter penyakit gulanya sudah sampai ke tulang. Karena tubuhnya yang sudah tidak kuat melakukan perjalanan lagi, maka Mbah Ibu tidak dapat mengunjungi adiknya walau sebenarnya Mbah Ibu adalah tipikal orang yang sangat sayang kepada keluarga. Namun, tepat sehari sebelum Mbah Lik-Tut meninggal, Mbah Ibu meminta diantar ke tempat adiknya yang saat itu masih di rawat di RS Cengkareng. Adik Mbah Ibu yaitu Mbah Bar otomatis jadi bersemangat mengantar karena Mbah Ibu akhirnya mau pergi meskipun memang harus rela melakukan perjalanan jauh yang akan membuat tidak nyaman dirinya.

Lokasi rumah Mbah Ibu yang berada di Karawang ternyata memang tidak memungkinkan untuk sampai di Cengkareng. Baru sampai di daerha Cikarang, Mbah Ibu sudah menangis dan mengeluh, ia tidak sanggup melakukan perjalanan sejauh itu. Singkat cerita akhirnya Mbah Ibu dan Mbah Lik-Tut tidak dapat bertemu di hari yang kita semua tidak sangka adalah hari terakhir Mbah Lik-Tut di dunia. Kabar Mbah Ibu tidak dapat mengunjungi Mbah Lik-Tut disampaikan oleh kakak Mbah Lik-Tut yaitu Mbah Sudi dan keponakannya Bu-Lik Eni dan suaminya Mbah SIto yang memang mereka bertiga menunggu di rumah sakit. Kata mereka, setelah mendengar kabar tersebut, Mbah Lik-Tut berkata lewat bibir yang tanpa suara bahwa ia tidak apa-apa. Wajahnya sangat ikhlas dan entah mengapa menyiratkan aura yang berbeda.

Saat itu mama saya dan sepupunya yaitu Tante Een, sudah berada di RS Cengkareng lebih dulu. Ada rasa kecewa di hati mama saya karena ibunya tidak dapat menemui adiknya yang sudah tidak mampu melakukan kegiatan apapun itu. Namun, melihat kondisi Mbah Lik-Tut yang kelihatannya sudah lebih segar, maka dipikir mama saya semoga Mbah Lik-Tut cepat sehat.

Tapi, mungkin keinginan kami sekeluarga untuk kesehatan Mbah Lik-Tut kembali seperti sedia kala, nampaknya adalah harapan yang terlalu muluk-muluk. Penyakit kanker itu penyebabnya karena cacat sel di dalam tubuh kita. Perkembangannya menjadi tidak terkontrol dan lebih menakutkannya lagi karena sel-sel yang berubah menjadi monster itu memakan sel-sel yang masih berfungsi. Otomatis perkembangannya sulit dikendalikan dan kemungkinan sembuh sudah tidak mungkin lagi.

Tidak disangka kalau pada akhirnya kunjungan mama saya itu adalah kunjungan terakhir untuk Mbah Lik-Tut. Semua yang hidup pasti mati, kita semua tahu itu. Tinggal kematian dengan cara apa yang seringkali masih membuat kita semua jadi takut akan kematian. Ketiga orang yang menunggu di RS yaitu Mbah Sito, Mbah Sudi, dan Bu-Lik Eni mengatakan bahwa kematian Mbah Lik-Tut sangatlah damai. Pada pukul 12 malam, beliau meminta untuk dibacakan Paritta yaitu doa-doa dalam agama Buddha. Mbah Lik-Tut sekeluarga adalah penganut Buddhist Theravadha. Mbah Sito melafalkan Paritta secara perlahan sambil diikuti oleh Mbah Lik-Tut walau tanpa suara. Setelah selasai membaca Paritta, Mbah Lik-Tut meminta mereka bertiga untuk tetap terjaga dan jangan tidur. Mungkin tanda perpisahan Mbah Lik-Tut adalah ketika ia menyentuh tangan masing-masing Mbah Sito, Mbah Sudi, dan Bu-Lik Eni dengan erat.

Meskipun Mbah Lik-Tut beragama Buddhist dan dalam agamanya diperbolehkan untuk kremasi ketika sudah meninggal, suami serta anak-anaknya menyerahkan keputusan ditangan keluarga. Kemudian disepakati untuk menguburkan Mbah Lik-Tut di tempat kelahiran dan leluhurnya yaitu di Cilacap kecamatan Adipala di Desa Adirejawetan.


Selamat Jalan Mbah Lik-Tut.. Semoga terlahir ke alam bahagia.. We love you...

Senin, 25 Februari 2013

Bersahabat Dengan Kanker

Ada sebuah kalimat bijak yang mengatakan : "Kesehatan itu mahal harganya". Saya baru melihat wujud nyata kalimat tersebut ketika benar-benar melihat sebuah kenyataan yang menyedihkan. Tentang kehidupan dan kesehatan yang saling menunjang namun tidak disadari oleh kebanyakan manusia.

Kemarin saya mengunjungi salah satu kerabat saya di rumah sakit. Beliau biasa dipanggil Mbah Lik-Tut oleh kami yang masih muda. Beliau adalah adik nenek saya dari mama saya. Karena adiknya nenek otomatis saya memanggil dengan sebutan Mbah, lalu Lik karena singkatan dari Bu-Lik kalau orang Jawa biasa memanggil tante dengan sebutan Bu-Lik, dan Tut karena panggilan nama kecilnya Tuti.

Mbah Lik-Tut berada di RS Cengkareng karena beliau menderita kanker payudara stadium 4. Sudah 10 tahun beliau menderita penyakit ganas itu namun baru 3 tahun belakangan, ia sudah tidak dapat melakukan kegiatan apapun. Tubuhnya digerogoti sel-sel jahat yang sudah menjalar di seluruh tubuhnya.

Awalnya penyakit Mbah Lik-Tut disadari berupa benjolan di payudara sebesar kelereng. Ia lalu memeriksakan ke dokter dan di vonis sebagai tumor tidak ganas. Waktu itu saya masih kecil dan tidak terlalu menyimak kisah penyakit Mbah Lik-Tut. Hingga beberapa tahun kemudian saya mendengar kabar bahwa payudara Mbah Lik-Tut harus diangkat sebelah karena tumor tersebut sudah mengakar dan menjadi sel kanker. Mbah Lik-Tut pasrah dan menjalani operasi tersebut, akan tetapi bukan kesembuhan total yang di dapat ia justru makin menderita hingga kini.


SUAMI KIRIMAN DEWA
Dalam salah satu kunjungan saya beberapa waktu lalu, Mbah Lik-Tut nampak masih bisa tersenyum dan bercanda meskipun beliau sering mengeluhkan rasa lelah dan cape yang dideritanya. Namun, pada hari minggu kemarin saat saya berkunjung bersama keluarga, Mbah Lik-Tut nampak begitu menderita. Ia menahan sakit dan hebatnya ia tidak mengeluh sama sekali. Ia tidak menjerit-jerit seperti pasien di sebelahnya yang menderita kanker kulit. Banyak orang yang berkata, penyakit kanker adalah penyakit mematikan yang sangat menyakitkan. Sakitnya luar biasa dan tidak tertahankan, akan tetapi saya begitu kagum melihat beliau yang hanya terus diam dan tidak mengeluh.

Melihat beliau yang luar biasa menghadapi penyakit mematikan seperti ini, saya menjadi terharu. Sering kali saya mengeluh dan tidak berterima kasih pada kesehatan yang masih menunjang kehidupan saya. Saya yang segar bugar dan masih muda malah sering mengeluh padahal rasa sakit karena kelamaan berdiri di bus pasti tidak ada apa-apanya dibanding penderitaan Mbah Lik-Tut. Saya menangis melihat perjuangan hidupnya yang luar biasa.

Ketika Mbah Lik-Tut masih bisa bercerita meskipun dengan suara pelan dan terbata-bata, beliau mengatakan betapa bersyukurnya memiliki seorang suami yang begitu baik dan mau merawatnya tanpa kenal lelah. Ia sangat bersyukur memiliki Suami Kiriman Dewa. Istilah guyonan yang ia gunakan karena sepenggal kisah cinta yang unik.

Kala itu Mbah Lik-Tut habis diomeli habis-habisan oleh kakak lelakinya yang saya panggil Mbah Sugi. Mbah Lik-Tut kedatangan tamu pria dan Mbah Sugi tidak suka kalau adik perempuannya dekat dengan laki-laki. Sebab dalam keluarga besar itu, yang tua selalu lebih dominan dan mengintervensi yang lebih muda. Mbah Lik-Tut disidang dan dilarang untuk didekati oleh pria-pria. Akhirnya ia menangis dan pergi ke laut.

Keluarga mama saya itu dulunya tinggal di sebuah desa kecil bernama Adiraja di daerah Cilacap. Pantainya yang sering dikunjungi bernama Srandil. Pantai yang sama yang di kunjungi oleh Mbah Lik-Tut saat ia menangis karena merasa kebebasannya dipasung. Akhirnya ia menuliskan sumpah serapah di atas pasir yang berbunyi : "Siapapun pria yang datang melamar saya dan kemudian pria itu disukai oleh keluarga saya, saya akan mengikuti karena itu berarti jodoh saya." Dan seperti sebuah cerita dongeng atau kisah tentang legenda kuno, tiba-tiba datang ombak besar dan ombak tersebut menyapu bersih tulisan di atas pasir tersebut. Seolah itu merupakan jawaban dari Dewa, tiba-tiba tetangganya memanggil namanya dan Mbah Lik-Tut kedatangan tamu dari jauh, seorang pria yang datang ingin melamarnya, ia masih saudara jauh kami, namanya Warsito.

Cerita ini dituturkan oleh Mbah Lik-Tut dengan mata berbinar-binar. Mama saya yang usianya sama dengan Mbah Lik-Tut, dulu sering bermain bersama-sama, justru sama sekali tidak mengetahui kisah ini. Kami yang mendengar sungguh tidak menyangka bahwa kisah ini benar-benar nyata. Terdengar seperti hanya sebuah dongeng saja, namun kisah percintaan ini benar-benar nyata. Buktinya hingga detik ini, Mbah Sito, suami Mbah Lik-Tut senantiasa merawat dan menjaga istrinya tanpa kenal lelah.

Semua dilakukan oleh suami Mbah Lik-Tut. Membersihkan kotoran, membuat makanan, membuatkan tempat duduk yang nyaman untuk istrinya karena Mbah Lik-Tut , dan segala hal urusan rumah tangga dan mengurusi Mbah Lik-Tut ditangani oleh Mbah Sito. Berapa banyak pria yang mau mengurusi istri mereka dikala istri mereka sudah tidak mampu lagi menjalankan tugasnya sebagai Ibu dan juga Istri? Nyaris jarang terdengar suami yang masih mampu setia. Kalau istri yang setia merawat suami mungkin banyak, tapi suami? Ya, saya kagum dengan Mbah Sito yang dengan cinta kasihnya tetap bertahan dan merawat istri yang sakit-sakitan.




UNTUNG ADA JOKOWI
Kita semua tahu pengobatan penyakit kanker membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, selalu ada jalan menuju Roma. Jalan yang awalnya tertutup oleh gorong-gorong yang digerogoti tikus, kini tikus-tikus korupnya telah digantikan oleh pemimpin sebaik Dewa, bapak Jokowi. Berkat program Jakarta Sehat, Mbah Lik-Tut masuk RS Cengkareng gratis tanpa biaya sepersenpun. Sungguh terima kasih kepada pemerintahan bapak Jokowi-Ahok, bukti programnya benar-benar terasa nyata bagi kami sekeluarga.


BERSAHABAT BERSAMA KANKER
Perjuangan Mbah Lik-Tut memang belum berakhir. Akhir hanya akan ditandai oleh selesainya penyakit kanker yang diderita atau akhir masa hidupnya karena kanker, sekali lagi, adalah memang penyakit ganas yang mematikan. Untuk akhir yang kedua, agaknya kami sekeluarga memang sudah rela kalau memang waktu telah tiba mencuri masa kehidupan Mbah Lik-Tut saat ini. Ajaran Buddha, ajaran yang diyakini oleh Mbah Lik-Tut sekeluarga, memang mengajarkan bahwa kehidupan ini tidak pernah berakhir selesai. Semuanya proses dan dimana ada kematian pasti ada kelahiran baru lagi. Mbah Lik-Tut pun meyakini bahwa sakit yang dideritanya merupakan buah karma buruk yang harus diterimanya akibat perbuatan masa lampau. Itu mungkin yang membuatnya kuat dan tidak mengeluh ataupun menyalahkan siapapun atas sakit yang dideritanya. Ia begitu menerima dan menyadari bahwa kematian bukan berarti mati karena selama masih ada nafsu, makhluk termasuk manusia akan terlahir kembali. Begitu yang diyakininya.




Bersahabat bersama sesuatu yang membunuh kita secara perlahan memang persahabatan yang menyakitkan. Hubungan semacam itu disebut Simbiosis Parasitisme didalam istilah Biologi. Sang 'sahabat' sama sekali tidak menguntungkan dan justru mengambil sari-sari kehidupan kita untuk membuatnya tetap hidup. Dan apabila 'sahabat' semacam itu sudah tinggal didalam diri kita, tidak ada jalan lain selain kita berdamai bersama penyakit tersebut.

Sebab sudah tidak ada gunanya lagi membenci penyakit yang tinggal didalam tubuh kita. Sebab tidak ada gunanya lagi menginginkan dia pergi. Sel kanker adalah sel-sel makhluk itu sendiri jadi bagaimana mungkin kita bisa menyingkirkannya? Dan pilihan Mbah Lik-Tut untuk bersahabat bersama kanker adalah luar biasa. Ia tidak membenci penyakit itu, ia hanya merasa tidak enak hati semua orang menjadi disusahkan olehnya.

Demikian tulisan ini saya akhiri. Meskipun hidup tidak berakhir hari ini tapi setidaknya semoga hal-hal buruk bisa dilewati dengan senyuman dan ketulusan hati. Semoga semua makhluk berbahagia.