Senin, 18 Maret 2013

AKAR KUCING: SI TANAMAN YANG DI SUKAI KUCING




Pernah mendengar tanaman Akar Kucing? Jujur saya baru mendengar nama tersebut beberapa bulan lalu. Saudara saya menyarankan untuk mengkonsumsi tanaman tersebut karena katanya bagus untuk kesehatan. Kenapa namanya Akar Kucing? Cerita dari saudara saya, kucing sangat suka akar tanaman tersebut dan hanya memakan akarnya saja. Jadi disebutnya Akar Kucing. Setelah makan, kucing akan menggeliat-geliat seperti manusia yang lagi pakai narkoba hehe.. Nge-fly gitu katanya.

Antara percaya enggak percaya, saya menemani mama saya mencari Akar Kucing ke daerah-daerah kampung dekat perumahan saya. Tanaman liar ini tumbuh di pinggir-pinggir jalan dan cara nge-test tanaman ini benar Akar Kucing atau bukan cukup mudah. Tinggal kasih ke kucing aja. Kalau di makan sudah 1000% dipastikan ini Akar Kucing.

Ternyata benar lho saudara-saudara! Saya ingin membuktikan sendiri fenomena kucing doyan tanaman. Saya melakukan percobaan pada tiga kucing dan semuanya doyan plus kucing-kucing yang lain malah datang pengen ikutan makan haha..





Percobaan saya terhadap satu kucing pertama tidak membuat saya percaya begitu saja. Siapa tahu kucing pertama yang saya kasih Akar Kucing memang vegetarian. Akhirnya setelah Akar Kucing sudah di potong-potong oleh mama, saya kasih ke dua kucing yang berbeda. Dan hasilnya? Kucing tersebut juga suka!




Dan bahkan kucing yang ketiga sampai menghampiri tempat yang digunakan mama untuk memotong-motong Akar Kucing tersebut!



Berdasarkan penelitian yang terdapat pada Journal Agriculture Food Chemical, tumbuhan dengan nama latin Acalypha Indica merupakan tanaman perdu yang termasuk famili Euphorbiaceae, ditemukan senyawa fenol dan flavanoid. Daun, batang dan akar mengandung saponin dan tanin. Batangnya juga mengandung flavonoida dan daunnya mengandung minyak asiri. Senyawa fenol bersifat antibakteri, anti radang dan aktif dapat menghilangkan rasa sakit setempat, mencegah bahkan menyembuhkan rematik artritis. Senyawa flavanoid bersifat antioksidan, yang dipercaya dapat menghambat pembentukan asam urat.

Setiap bagian tanaman digunakan secara tradisional untuk pengobatan berbagai penyakit. Buahnya digunakan untuk asma, batuk, brokhitis, dan nyeri telinga. Seluruh bagian tanaman digunakan sebagai ekspektoran (pelega tenggorokan), laksatif (pencahar), peluruh kencing, radang paru, dan penyakit sendi. Daunnya bisa digunakan pada penyakit kulit seperti skabies. Berbagai penelitian juga menyebutkan adanya efek antimokroba (anti kuman) dan aktivitas penyembuhan luka dari ekstrak akar kucing. Umumnya orang menggunakan bagian akarnya untuk menangani penyakit asam urat.

Jadi, apakah kalian mau coba? Jangan lupa test ke kucing dahulu yaaaaa... hehe


alp
180313

Kamis, 14 Maret 2013

Apa itu Pikiranologi?

Mendengar sufiks -logi pada sebuah kata, menggiring saya pada pengertian mengenai Pengetahuan yang sudah dimodifikasi dengan berbagai Pengalaman dan juga Penelitian sehingga menghasilkan yang namanya Ilmu Pengetahuan. Contoh diantaranya yang begitu banyak misalnya adalah Biologi, Ilmu yang mempelajari tentang alam; Psikologi, Ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan; Kardiologi, Ilmu yang mempelajari tentang jantung, lalu ada Arkeologi, Ilmu tentang peninggalan material; Onkologi, Ilmu tentang penyakit kanker, dsb. Asal muasal sufiks -logi tersebut adalah dari bahasa Yunani -logia yang kemudian diserap kedalam bahasa Latin -logia lalu dipopulerkan oleh Perancis -logie dan terakhir bahasa Inggris -logy.

Pengetahuan-pengetahuan yang telah dijadikan Ilmu Pengetahuan tersebut bersifat kasat mata dan juga tampaknya jelas secara fisik, mungkin ada pengecualian seperti Eksatologi yang mendalami soal peristiwa masa depan sejarah manusia ataupun Teologi yang mendalami persoalan spiritualitas terhadap Tuhan. Walaupun kedua cabang Ilmu tersebut mempelajari aspek yang sifatnya tidak bisa dibuktikan secara empiris, namun hampir semua orang mengatakan bahwa keyakinan beragama adalah modal yang kuat sebagai hipotesa.

Berkaitan dengan cabang Ilmu tersebut, saya jadi penasaran darimana datangnya Pengetahuan mengenai Eksatologi ataupun Teologi. Apakah benar telah dibuktikan? Atau hanya sebatas pemikiran yang dimodifikasi sehingga menghasilkan sesuatu yang tampaknya seperti Pengalaman lalu diyakini? Setelah memikirkan hal tersebut saya kemudian menyadari bahwa pikiran saya berputar-putar dan berusaha mendefinisikan satu dan lain hal, akan tetapi hasil pikiran saya apakah benar sesuai apa yang saya pikirkan?

Akhirnya terbentuklah sebuah pemikiran karena sejak tadi saya berputar-putar dalam alam pikiran. Mengapa tidak ada cabang Ilmu lainnya yang disebut Pikiranologi? Sebuah Ilmu Pengetahuan yang tentunya akan mendalami dan membahas mengenai asal-usul Pikiran dan bagaimana Pikiran berkembang dan mengempis sehingga terciptalah ide-ide untuk membentuk suatu hal? Dan mungkin Pikiranologi akan menjadi sumber -logi -logi yang lainnya, sebab jika benar Pikiran adalah pembentuk ide-ide maka dari itu Pikiran adalah pelaku utama dari setiap cabang Ilmu.

Mungkin kalian akan mendebat bahwa sudah ada Filsafat yang berbicara tentang esensi segala sesuatu, ataupun Metafisika, yang merupakan cabang Ilmu Filsafat, yang membahas tentang asal dan hakikat sebuah objek (fisik) di dunia. Pikiranologi bukan tentang mencari-cari tahu soal keberadaan realitas, namun tampil sebagai gerbang antara pertanyaan mengenai realitas dengan realitas itu sendiri. Pikiranologi membedah lebih dalam mengenai Pikiran yang sering bertanya soal eksistensi manusia dan semesta, Pikiranologi mempelajari Pikiran itu sendiri yang senantiasa membentuk dan menghancurkan ide, lalu menyimpulkan realitas apakah benar adanya atau hanya rekaan semata.

Sebuah kalimat kuno berbunyi :
"Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya"

atau Henry Ford pernah mengatakan :
"If you think you can do a thing or think you can’t do a thing, you’re right."

Kalimat tersebut semakin membuat saya tertarik, jikalau pikiran demikian adanya dalam hal menciptakan kreasi atau bahkan pemahaman banyak hal. Benarkan segala hal benar adanya? Atau hanya bentukan pikiran saja? Kalau begitu apakah alam semesta senyata yang dipelajari melalui cabang-cabang Ilmu yang sudah ada atau sebenarnya alam semesta adalah bentukan pikiran kita sendiri? Kalau memang bentukan pikiran kita sendiri, apakah ada hal-hal yang benar nyata seperti pikiran kita yang terus berpikir?

Saya penasaran tapi rasa penasaran juga bagian dari pikiran yang mengarah pada hal penasaran. Benar atau tidaknya hal-hal yang membuat saya penasaran sama artinya bergantung dengan pikiran setiap masing-masing individu. Lantas hanya akan tersisa kebingungan mengenai sebuah hal-hal yang senyata apa yang kita lihat.

Ah, sudahlah. Ketimbang berpusing akan alam pikiran dan merasa bahwa apa yang dipikirkan itu paling benar sendiri sedangkan orang lain merasa pikirannya lah yang paling benar, saya suguhkan blog saya ini menjadi label PIKIRANOLOGI PRASASTI. Sebuah blog yang berisi berdasarkan pikiran saya sendiri sebagai Prasasti, yang menganut cabang Ilmu yang tidak masuk ke dalam klasifikasi manapun karena memang saya tidak membutuhkan observasi yang sesuai standar nalar dan akal. Pikiran itu sendiri adalah sesuatu yang senantiasa merasa paling mendekati akal. Jadi? Sudah siapkah Anda dengan kenyataan bahwa kebenaran yang Anda yakini paling benar hanyalah ciptaan pikiran Anda yang memang tidak mau bersalah?



-disudut kota-
140313

Senin, 11 Maret 2013

Perjalanan Menuju Tanah Leluhur

Pada posting-an saya yang terakhir, saya belum menulis tentang perjalanan saya menuju ke tanah leluhur saya. Adik nenek saya, disemayamkan di Cilacap. Saya dan mama saya sudah menyiapkan baju yang akan di bawa ke Cilacap. Kakak saya tidak dapat ikut sebab ia belum mendapatkan jatah cuti dari kantornya dan Ayah saya juga tidak dapat cuti karena bekerja. Sedangkan saya? Saya memang bekerja namun saya ingin sekali mengunjungi kampung halaman mama saya. Waktu Eyang Buyut saya meninggal, saya dan keluarga pernah mendatangi keluarga mama saya di Cilacap tepatnya di Desa Adiraja. Tapi, itu sudah lama sekali, saat saya masih duduk di bangku SD. Ingatan akan kampung halaman sudah tidak begitu jelas, maka dari itu saya merasa inilah kesempatan saya untuk mengenal garis keturunan keluarga saya.

Perjalanan menuju Cilacap berlangsung sekitar 10 jam. Kami sekeluarga dan juga mobil Ambulance konvoi, tetapi karena mobil Ambulance memiliki hak lebih di jalanan maka jenazah Mbah Lik-Tut sudah sampai duluan di Jawa. Mobil yang saya tumpangi sampai Desa Adirejawetan pukul 02 pagi. Kami tidak melewati jalur selatan yang berkelok-kelok, melainkan jalur pantura yang di dominasi sama truck-truck dan juga bus-bus besar.

Saya baru tahu kalau ternyata Mbah Bapak dan Mbah Ibu, orang tua mama saya, tinggal di desa yang berbeda. Tadinya saya pikir mereka sama-sama berasal dari Desa Adiraja tapi ternyata keluarga Mbah Bapak saja yang tinggal di Adiraja dan keluarga Mbah Ibu tinggal di Adirejawetan, namun kedua desa itu letaknya bersebelahan. Sebenarnya Mbah Ibu berasal dari Maos, masih di dalam wilayah Cilacap, namun ketika ia sudah besar seluruh keluarganya pindah ke Adirejawetan.

Setelah sampai Adirejawetan, saya tidak bisa tidur. Saya terlalu bersemangat meskipun dalam suasana berduka, saya sangat senang akhirnya bisa datang ke tempat itu setelah bertahun-tahun berharap bisa kembali kesana. Saya bertahan untuk tidak tidur dan memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati udara Subuh dengan mengelilingi sekitar kampung dengan berjalan kaki bersama tiga orang saudara saya. Begitu sepi dan hening, saya jadi merinding membayangkan kami bertemu dengan makhluk halus ketika sedang berjalan menuju tempat-tempat gelap yang hanya disinari lampu minyak saja. Untungnya tidak ada satupun dari kami yang bertemu makhluk halus, kalau seandainya bertemu mungkin saya akan mengajaknya foto bersama untuk di masukan ke dalam posting-an saya hehe.

Pukul 06 pagi, jalanan sudah ramai. Namun, jelas keadaan ramai yang berbeda dengan Jakarta atau tempat tinggal saya di Bekasi. Keramaiannya tidak di dominasi oleh kendaraan bermotor melainkan orang-orang yang sudah berlalu lalang menuju pasar. Sudah banyak yang menggunakan motor, tapi tidak sedikit yang mengayuh sepeda ontel atau naik becak. Aku, mama dan tante Ning (adik mama nomor dua), serta sepupuku, memutuskan untuk berjalan kaki saja. Padahal jaraknya cukup jauh tapi kami semua semangat karena selain ingin memburu jajanan enak yang murah meriah, kami ingin berolahraga sambil menikmati udara yang kaya akan oksigen.

Jarak dari rumah menuju pasar mungkin sekitar satu kilo meter, tetapi setelah sampai bukannya lelah, kami langsung bergerilya mencari-cari makanan yang mengundang selera. Ada lupis, klepon, nasi uduk berbentuk bola, dan berbagai macam makanan yang rasanya akan bikin ketagihan.




Selain variasi makanan tradisional yang bermacam-macam, apalagi yang membuat kami kegirangan selain harganya yang murah meriah. Seribu rupiah saja sudah dapat satu jenis makanan yang sangat banyak! Hanya menghabiskan 20ribu rupiah, kami sudah menenteng banyak sekali makanan! Di Bekasi atau Jakarta tidak mungkin bisa seperti ini!

Diseberang pasar, ada warung nasi yang katanya juga enak dan murah meriah. Saya yang sedang belajar jadi Vegetarian, harus bisa tahan godaan saat Goreng Udang Tepung sudah siap saji dan tampaknya sangat enak. Keluarga saya lahap makan sarapan disana sedangkan saya hanya makan Lupis dan Klepon dan juga Nasi Uduk bulat. Sayangnya, maag saya kambuh. Belum sampai habis, perut saya sudah tidak bisa diajak kompromi. Rasanya mengesalkan!

Pukul 10 pagi, Mbah Lik-Tut akan disemayamkan. Mungkin hampir seluruh penduduk desa datang melayat. Saya tidak mengenal semuanya. Bahkan yang masih ada hubungan saudara saja datang dan saya tidak mengenal mereka. Tapi, anehnya orang-orang itu saling mengenal satu sama lain dan mama saya cukup eksis di kenal di sana. Banyak yang menyapa beliau duluan, saya jadi terkagum-kagum, ternyata mama terkenal sampai ke desa tetangga.

Lokasi penguburan Mbah Lik-Tut tidak jauh dari tempat tinggal keluarga kami. Cukup dengan berjalan kaki, kami semua sampai. Setelah acara penguburan tersebut, sepupu mama dari Mbah Bapak mengajak mama untuk berjalan-jalan ke Adiraja dan sekitarnya. Saya sudah cuti dua hari dan agak tidak enak rasanya kalau harus cuti sehari lagi, namun rasa ingin mengenal tempat leluhur membuat saya nekat untuk nambah cuti sehari.

Perjalanan dimulai menuju Karang Benda. Sebuah desa tetangga Adiraja. Kalau ditelusuri lokasinya dari Adirejawetan-Adiraja-Karang Benda. Memasuki desa ini, daerahnya lebih terlihat lebih pedesaan ketimbang dua desa mama saya dibesarkan. Banyak sawah di kanan-kiri dan juga banyak penduduk yang menggunakan sepeda.


Mengapa kami datang kemari? Konon ada sebuah kuburan leluhur kami yang disemayamkan di desa tersebut. Kuburan tersebut terletak di sebuah tempat bernama Kahendran. Berupa jalan kecil menanjak dan terdapat mata air yang masih jernih.


Berada di lokasi makan leluhur, kita semua harus sopan dan tidak bertingkah laku aneh. Ada semacam tata cara yang harus di lakukan sebelum memasuki tempat pemakamannya. Tujuannya untuk penghormatan bukan sebagai media pemujaan. Sebagai anak cucu, kami harus menghormati leluhur dan orang-orang tua.




Mbah Peno, adik Mbah Bapak, merupakan salah seorang Bedogol di desa Adiraja. Sebenarnya yang seharusnya menjadi Bedogol adalah Mbah Bapak, namun karena beliau hidup di Karawang dan menjadi Bedogol mengharuskan tinggal di Adiraja, jabatan itu diserahkan kepada adiknya, Mbah Peno, yang memang hidup di Adiraja. Bedogol adalah semacam jabatan kekuasaan yang diberikan secara turun temurun. Menurut catatan sejarah, ada jejak keturunan Putri Pembayun anak dari Panembahan Senopati yang juga istri dari Ki Ageng Mangir dalam keluarga Mbah Bapak. Jadi kami masih saudara sangat jauh dari Sri Sultan Hamengkubuwono. Jumlah Bedogol ada 12 orang dan semuanya adalah keturunan darah biru.


Setelah berkeliling Kahendran untuk membasuh wajah, menghormat kepada leluhur, makan bunga melati dari sana, kami sekeluarga menuju sebuah Vihara diatas bukit bernama Jambe Lima. Perjalanan ini sekadar penasaran saja, sebab view dari Vihara ini katanya sangat indah, bisa sampai melihat laut pantai selatan. Letaknya tidak terlalu jauh dari Kahendran dan jalannya cukup berliku sebab kami memang menempuh jalanan berbukit.

(Kiri-Kanan) Mbah Sudi, Mbah Bapak, Saya, Mbah Peno



Saking nikmatnya angin semilir dan keindahan alam sekitar, saya sampai lupa mendokumentasikan pemandangan indah yang saya lihat. Saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menyaksikan kehebatan semesta memproses kehidupan.

Kami harus pulang. Itu yang harus kami lakukan meskipun ada rasa rindu yang belum terpuaskan pada tanah leluhur kami. Namun, sebelum kami pulang, kami mampir ke Welahan Wetan, sebuah desa yang cukup jauh tempat tinggal Mbah Sri, adik Mbak Bapak dan Mbah Peno. Disana kami makan pecel terenak sedunia dengan harga murah meriah, 3ribu sudah dapat pecel plus lontong dengan porsi sangat mengenyangkan. Sayangnya, saya lupa foto-foto makanan tersebut saking nikmatnya memanjakan lidah dan perut.

Pukul 04 sore kami pulang dari Adirejawetan menuju Karawang. Perjalanan menempuh jalur selatan yang berliku-liku. Selamat tinggal Cilacap. Suatu hari saya akan kembali lagi :)

Rabu, 06 Maret 2013

Penghormatan Terakhir

Seharusnya saya menulis blog ini beberapa hari yang lalu. Tapi, berhubung keadaan jaringan internet kantor saya yang kurang mendukung jadi sejujurnya saya agak malas untuk update postingan belakangan ini.

Jaringan internet di kantor saya di lock oleh kantor pusat entah karena alasan apa situs blogger juga ikut-ikut di lock padahal menurut saya situs ini baik untuk melatih dan merangsang otak kita ketika mengungkapkan sesuatu lewat tulisan. Namun sekarang situs ini jadi tampak gak cantik lagi setelah jadi korban list jejaring yang harus di lock. Tampilannya gambarnya jadi gak maksimal dan template saya gak kelihatan, saya yang memang masih terikat sama keindahan jadi males untuk posting.

Postingan terakhir saya adalah soal cerita saya tentang Mbah Lik-Tut dan soal penyakitnya. Tepat pukul 5 pagi keesokan harinya saat saya sedang bersiap-siap menembus kemacetan Ibukota, keluarga mengabarkan bahwa Mbah Lik-Tut akhirnya menyerah pada penyakit kanker dan meninggal dunia sekitar pukul 4 pagi.

Kami sekeluarga berserta keluarga besar saya yang lainnya otomatis harus pergi kerumahnya yang berada didaerah Tangerang. Saya menggambil cuti dadakan. Demi penghormatan terakhir keluarga saya, saya rela melakukan apa saja termasuk kalau seandainya kantor memberikan peringatan atau semacamnya karena perihal cuti yang seharusnya diajukan minimal 1 minggu sebelumnya.

Sehari sebelum Mbah Lik-Tut meninggal dunia, tadinya nenek saya yang merupakan kakak kandung Mbah Lik-Tut ingin datang menjenguk beliau. Selama Mbah Lik-Tut sudah drop akan penyakit kanker, nenek saya atau yang biasa panggil Mbah Ibu belum sama sekali menjenguk adiknya. Mbah Ibu juga menderita penyakit, sakit diabetes yang berakibat pada amputasi jari manis di kaki kanannya dua tahun silam. Setelah di rawat selama sebulan karena kondisi tubuhnya sudah drop, Mbah Ibu tidak dapat pergi kemana-mana. Beliau hanya bisa duduk dan tidur atau melakukan aktivitas lainnya di atas tempat tidur. Tulangnya sudah tidak dapat menopang tubuhnya karena menurut dokter penyakit gulanya sudah sampai ke tulang. Karena tubuhnya yang sudah tidak kuat melakukan perjalanan lagi, maka Mbah Ibu tidak dapat mengunjungi adiknya walau sebenarnya Mbah Ibu adalah tipikal orang yang sangat sayang kepada keluarga. Namun, tepat sehari sebelum Mbah Lik-Tut meninggal, Mbah Ibu meminta diantar ke tempat adiknya yang saat itu masih di rawat di RS Cengkareng. Adik Mbah Ibu yaitu Mbah Bar otomatis jadi bersemangat mengantar karena Mbah Ibu akhirnya mau pergi meskipun memang harus rela melakukan perjalanan jauh yang akan membuat tidak nyaman dirinya.

Lokasi rumah Mbah Ibu yang berada di Karawang ternyata memang tidak memungkinkan untuk sampai di Cengkareng. Baru sampai di daerha Cikarang, Mbah Ibu sudah menangis dan mengeluh, ia tidak sanggup melakukan perjalanan sejauh itu. Singkat cerita akhirnya Mbah Ibu dan Mbah Lik-Tut tidak dapat bertemu di hari yang kita semua tidak sangka adalah hari terakhir Mbah Lik-Tut di dunia. Kabar Mbah Ibu tidak dapat mengunjungi Mbah Lik-Tut disampaikan oleh kakak Mbah Lik-Tut yaitu Mbah Sudi dan keponakannya Bu-Lik Eni dan suaminya Mbah SIto yang memang mereka bertiga menunggu di rumah sakit. Kata mereka, setelah mendengar kabar tersebut, Mbah Lik-Tut berkata lewat bibir yang tanpa suara bahwa ia tidak apa-apa. Wajahnya sangat ikhlas dan entah mengapa menyiratkan aura yang berbeda.

Saat itu mama saya dan sepupunya yaitu Tante Een, sudah berada di RS Cengkareng lebih dulu. Ada rasa kecewa di hati mama saya karena ibunya tidak dapat menemui adiknya yang sudah tidak mampu melakukan kegiatan apapun itu. Namun, melihat kondisi Mbah Lik-Tut yang kelihatannya sudah lebih segar, maka dipikir mama saya semoga Mbah Lik-Tut cepat sehat.

Tapi, mungkin keinginan kami sekeluarga untuk kesehatan Mbah Lik-Tut kembali seperti sedia kala, nampaknya adalah harapan yang terlalu muluk-muluk. Penyakit kanker itu penyebabnya karena cacat sel di dalam tubuh kita. Perkembangannya menjadi tidak terkontrol dan lebih menakutkannya lagi karena sel-sel yang berubah menjadi monster itu memakan sel-sel yang masih berfungsi. Otomatis perkembangannya sulit dikendalikan dan kemungkinan sembuh sudah tidak mungkin lagi.

Tidak disangka kalau pada akhirnya kunjungan mama saya itu adalah kunjungan terakhir untuk Mbah Lik-Tut. Semua yang hidup pasti mati, kita semua tahu itu. Tinggal kematian dengan cara apa yang seringkali masih membuat kita semua jadi takut akan kematian. Ketiga orang yang menunggu di RS yaitu Mbah Sito, Mbah Sudi, dan Bu-Lik Eni mengatakan bahwa kematian Mbah Lik-Tut sangatlah damai. Pada pukul 12 malam, beliau meminta untuk dibacakan Paritta yaitu doa-doa dalam agama Buddha. Mbah Lik-Tut sekeluarga adalah penganut Buddhist Theravadha. Mbah Sito melafalkan Paritta secara perlahan sambil diikuti oleh Mbah Lik-Tut walau tanpa suara. Setelah selasai membaca Paritta, Mbah Lik-Tut meminta mereka bertiga untuk tetap terjaga dan jangan tidur. Mungkin tanda perpisahan Mbah Lik-Tut adalah ketika ia menyentuh tangan masing-masing Mbah Sito, Mbah Sudi, dan Bu-Lik Eni dengan erat.

Meskipun Mbah Lik-Tut beragama Buddhist dan dalam agamanya diperbolehkan untuk kremasi ketika sudah meninggal, suami serta anak-anaknya menyerahkan keputusan ditangan keluarga. Kemudian disepakati untuk menguburkan Mbah Lik-Tut di tempat kelahiran dan leluhurnya yaitu di Cilacap kecamatan Adipala di Desa Adirejawetan.


Selamat Jalan Mbah Lik-Tut.. Semoga terlahir ke alam bahagia.. We love you...