Jumat, 24 Mei 2013

APTB (Bekasi-Tanah Abang) : Solusi Kemacetan?

Halo, apa kabar stalker? Sepertinya belakangan ini saya mulai terkena semacam sindrom malas yang luar biasa. Saya malas ngapa-ngapain, bahkan untuk melakukan kemalasan saya sendiri saja saya malas. Entah apa yang terjadi dengan saya, tapi saya mulai malas berpikir juga, jadi tidak mengherankan bila saya juga malas untuk bikin posting-an baru.

Namun, kali ini saya membuang jauh-jauh rasa malas saya sebab saya mau berbicara tentang sebuah inovasi yang sudah sering dibahas untuk mengatasi kemacetan Ibukota. Saya termasuk orang yang skeptis terhadap berbagai inovasi yang ditawarkan untuk perubahan Jakarta. Di mata saya, segala upaya yang dicari lalu diterapkan menjadi sebuah aturan, hanyalah berupa inovasi yang ketika berupa gagasan masih terasa bagus tetapi ketika sudah masuk ke dalam tahap realisasi hanya menjadi janji manis saja. Bahkan ketika Jasa Marga mengeluarkan Sayembara Solusi Kemacetan Ibukota saya juga menyumbangkan ide yang salah satunya memberlakukan sistem subsidi silang, dimana pengendara mobil pribadi dibebankan biaya toll yang lebih besar ketimbang bus dan angkutan umum yang melewati toll. Dengan tingginya harga toll, pengguna kendaraan bermobil akan pikir berkali-kali ketika menggunakan mobilnya dan saya yakin mereka akan beralih menggunakan angkutan umum. Akan tetapi, terlepas dari banyaknya ide yang disumbangkan, kalau manusia tetap egois dan mementingkan kenyamanan pribadi, saya rasa semua ide hanya akan berakhir menjadi sampah gagasan belaka.

Untungnya, sekarang Jakarta dipimpin oleh Duo Pria Tampan (hehe) yang meski bukan asli orang Jakarta, semoga saja Pak Jokowi dan Pak Ahok bisa menuntaskan permasalahan kemacetan di Ibukota. Saya memang bukan tim sukses mereka, saya juga bukan warga asli Jakarta yang pada saat pemilu memilih keduanya sebagai pemimpin Jakarta, saya juga tidak kenal siapa mereka berdua. Namun, terlepas dari ketidak-terkaitan saya terhadap mereka berdua, saya mendukung penuh segala inovasi yang dikampanyekan oleh keduanya. Mengapa demikian? Sebab mereka berdua tidak terlalu muluk-muluk dalam membuat agenda perubahan seperti yang dilakukan oleh kebanyakan calon gubernur pada saat itu. Juga salah satu inovasinya adalah mau memperbaiki kemacetan di Ibukota.

Pada awalnya saya memang skeptis tentang perubahan yang ditawarkan oleh Pak Jokowi dan Pak Ahok. Apakah mungkin memperbaiki kota semerawut Jakarta? Tetapi, rasa skeptis saya kini mulai tergantikan rasa optimis tentang perubahan yang diharapkan bisa berjalan kearah yang lebih baik ketika munculnya sebuah ide untuk membuat transportasi nyaman tidak hanya di dalam Ibukota tetapi di kota-kota yang aktivitasnya terhubung dengan Ibukota sendiri. Selain MRT yang disebut-sebut akan mewarnai kegiatan transportasi, adalah APTB sebuah gagasan yang menurut saya cukup menarik.

Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus Transjakarta atau yang dikenal APTB sudah beroperasi. Selama dua hari belakangan pun saya menggunakan kendaraan tersebut. Dari tempat tinggal saya, bus APTB yang beroperasi itu bekerja sama dengan salah satu perusahaan bus ternama, Mayasari Bakti. Berikut beberapa pantauan yang saya dapatkan selama menggunakan transpoertasi tersebut:

Biaya Rp. 8,000.-
Dari biaya bus pada umumnya yang beroperasi dari Bekasi menuju Ibukota atu rute sebaliknya, biasa dikenakan biaya sebesar Rp. 6,000.- s/d Rp. 7,000.- untuk sekali perjalanan bus AC dan Rp. 4,500.- untuk bus Non-AC. Namun, untuk APTB sendiri biaya tiketnya lebih mahal yaitu Rp. 8,000.- untuk perjalanan dari Bekasi-Tanah Abang. Hmmm, kalau dihitung-hitung sih memang agak lebih tekor jika setiap hari menggunakan APTB. Jadi untuk pengguna angkutan umum seperti saya sih APTB agak menguras kantong juga.

Tiket Terusan
Masih berkaitan dengan tiket APTB yang dirasa cukup mahal bagi pengguna kendaraan umum, ternyata tiket seharga  8 ribu rupiah cukup worth-it. Seperti informasi yang tertera di dalam APTB dan juga diberbagai pemberitaan, tiket APTB juga termasuk tiket terusan di dalam koridor busway! Jadi artinya kalau misalnya kalian mau naik busway untuk melanjutkan perjalanan setelah naik APTB, kalian tidak perlu lagi membeli tiket busway yang di bandrol seharga Rp. 3,500.- cukup dengan Rp. 8,000.- kalian sudah bisa menggunakan APTB dan juga busway! Keren kan? Misalnya begini, dari Bekasi kalian mau ke arah Blok M, otomatis kalian harus menggunakan APTB sampai Halte Bendungan Hilir saja, lalu bisa nyambung naik busway yang ke arah Blok M tanpa dikenakan biaya tiket busway. Hmm, saya rasa biaya tersebut cukup murah terutama untuk kalian yang letak kantornya dilewati oleh jalur busway.

Cukup Rp. 5,000.- dari Koridor Busway
Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya harga tentang harga APTB, untuk yang naik dari koridor busway apakah akan dikenakan biaya yang sama juga? Jawabannya tentu tidak. Apabila teman-teman ingin naik APTB menuju Bekasi, sudah pasti kalian harus menunggu di halte busway. Biaya yang dikenakan hanya 5rb rupiah saja! Tentu kalian juga harus membeli tiket APTB terlebih dahulu di dalam halte busway, jangan sampai membeli tiket busway.

Rute Perjalanan
Nah, untuk rute perjalanannya sendiri, APTB yang berangkat dari Bekasi tidak masuk ke dalam toll bayangan di Jatibening. Bus APTB dari Bekasi langsung menuju Halim dan keluar di toll Cawang dan langsung melakukan pemberhentian di halte-halte busway sampai ke arah Tanah Abang. Cukup efisien waktu yang dihabiskan untuk menuju Tanah Abang melalui jalur ini ketimbang melewati toll dalam kota. Tapi, bukan Jakarta namanya kalau bisa ditebak. Jalur APTB ini juga mengalami kemacetan parah terutama di daerah Pancoran sampai Gatot Soberoto. Hal itu dikarenakan pada jalur ini, pengguna motor sangatlah banyak dan tidak teratur. Kalau tidak ada penjaga disekitar jalur busway, para pengguna motor akan menggunakan jalur busway untuk alternatif mereka. Sungguh menyebalkan!

Kapasitas Tempat Duduk
APTB Mayasari Bakti dari Bekasi, memiliki kapasitas tempat duduk sebanyak 30 orang dan memiliki ruang yang cukup luas untuk orang-orang berdiri. Bentuknya memang menyerupai TransJakarta.

Fasilitas yang Cukup Oke
Bus APTB ini mungkin memang Bus baru dan bukan 'kanibal' yang artinya hanya body bus saja yang baru dan mesinnya mesin lama. Sebab suspensinya memang betulan enak dan apabila kita berdiri lama di dalam bus tidak terasa terlalu cape seperti kalau kita menggunakan bus-bus umum yang biasa. Belum lagi kebersihannya yang masih terawat dengan baik dan juga interior yang cukup bagus sehingga membuat pengguna bus tidak merasa kalah keren ketimbang naik mobil pribadi, Ditambah lagi AC yang sangat dingin, membuat saya beku saking dinginnya, jadi untuk kalian yang mau naik APTB jangan lupa pakai jaket yang tebal yaa! Brrrrrr.



KESIMPULAN!
Dari tulisan saya ini bisa ditarik kesimpulan bahwa, keberhasilan kinerja dan juga gagasan Duo Jokowi-Ahok sangat ditunjang dari masyarakat yang dipimpin mereka. Tanpa dukungan yang besar, kesuksesan untuk membaharui transportasi Ibukota hanyalah angan-angan semata. Jakarta akan tetap macet bahkan akan lebih parah lagi apabila setiap hari mobil pribadi terus bertambah jumlahnya. Jadi, beranikah Anda mengikis ego dan mulai menggunakan transportasi nyaman yang diidamkan sesuai gagasan Jokowi-Ahok?

Senin, 06 Mei 2013

Dukkha

Lagi-lagi, malam ini ia datang. Saat lampu ruangan dinyalakan, aku memandang seluruh peserta yang duduk dalam posisi bersila. Gadis itu duduk di barisan paling belakang, seperti biasa. Seperti saat tiga minggu yang lalu ketika ia pertama kali datang. Mungkin malam yang mengundangnya atau angin mengatakannya bahwa ia punya kesempatan hening, menyatu dengan alam. Entahlah. Aku belum pernah bicara dengannya. Ia juga tak pernah bicara dengan yang lainnya meski peserta banyak yang bertanya-tanya tentang kehadirannya. Tidak ada yang tahu siapa dia atau apa yang membawanya datang ke tempat terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dunia. Kedatangannya hanya menyisakan tanda tanya ketika kemudian saat pelajaran usai, ia berlalu pergi.

Saat pertama kali datang hingga kedatangan yang kesekian kalinya, gadis itu sendirian. Hanya saja ia bukanlah gadis yang sama saat ini dengan yang pertama kali datang kemari. Wajahnya letih dan penuh kerutan, sepertinya ia telah mengemban masalah yang terlampau berat hingga bahunya tak mampu lagi menopang. Namun, kini gadis itu telah menanggalkan deritanya. Tak ada lagi kesedihan dan kegelisahaan yang tersirat dari wajahnya. Hanya senyum yang ditarik di kedua sisi bibirnya. Bibir yang sangat tipis tapi sangat anggun membingkai wajahnya yang berbentuk oval. Kulitnya pucat, entah karena dinginnya malam yang selalu ia dapati kala datang kemari atau memang kulitnya sudah pucat begitu, aku tidak tahu. Rambutnya bergelombang dan tergerai indah bak mahkota bidadari khayangan. Dan matanya, mata yang besar seperti rusa selalu berkedip lambat-lambat diikuti bulu mata tebal. Ia tidak secantik gadis-gadis yang wara-wiri di televisi, tapi ia cukup cantik dan terlalu cantik menurut pandangan mataku. Dan semenjak menatap matanya, aku selalu merasa ia dapat membuat aku terjatuh dalam misterinya.

Mungkin inilah yang namanya ketertarikan fisik. Jatuh cinta. Atau apapun namanya. Aku sendiri lupa kapan terakhir aku pernah merasakan debaran tak menentu saat mataku bertemu matanya untuk beberapa saat saja. Aku juga lupa kapan terakhir kali aku menginginkan seseorang begitu besar sampai-sampai rasa pusing menghantuiku kala gadis itu pergi meninggalkanku saat sesi pelajaran hening usai. Aku pun lupa kapan terakhir kali aku memikirkan seseorang hingga aku mengorbankan seluruh waktu heningku begitu saja. Aku sedang terjangkit virus paling mematikan, benar membuatku mati rasa dan memang harus dimatikan.
                                                                          ***

Aku masih ingat waktu setahun lalu aku tinggal di tempat terpencil ini. Hidupku sebatang kara. Orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan beberapa minggu sebelum aku datang kesini. Aku anak tunggal dan aku tidak punya saudara sepupu, paman atau bibi bahkan kakek nenek. Ayahku juga anak tunggal seperti halnya aku, sedangkan Ibuku hanya dua bersaudara dan saudaranya telah meninggal karena penyakit kanker payudara. Kakek-nenek dari kedua orang tuaku sudah lama meninggal dunia. Jadilah aku si anak yang benar-benar hidup sebatang kara. Berhubung aku seorang penyendiri, aku juga tidak punya teman dekat. Seluruh hidupku aku baktikan kepada kedua orang tuaku. Sampai akhirnya jalan kehidupan membuat aku nyaris gila. Selama seperempat abad hidupku aku serahkan pada kedua orang tuaku, tak sekalipun aku mencoba menjajaki dunia percintaan atau hanya sekedar bersahabat dengan satu dua orang teman. Kini orang tuaku telah tiada, tempat dimana aku menggantungkan dan memberikan hidup telah pergi. Aku hilang arah. Aku tidak tahu harus bagaimana.

Aku marah pada Tuhan karena ia seenaknya saja mengambil kedua manusia yang aku kasihi. Tidakkah Tuhan Maha Mengetahui kalau aku hidup sebatang kara? Setiap malam aku meratap berharap kedua orang tuaku bisa kembali. Tapi itu mustahil. Tidak akan mungkin mereka kembali. Kematian telah menjemput mereka untuk meninggalkan aku tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Sampai akhirnya saat aku sedang hilang arah, aku mengayuh sepedaku, menjauh dari keramaian dan terus menjauhi tempat tinggalku. Aku tidak lelah dan aku tidak takut apapun lagi, terlebih pada kematian. Jalanan sudah sangat gelap karena saat itu memang sudah larut malam. Aku tidak peduli kalau aku bertemu perampok, aku tidak peduli akan bahaya yang mungkin saja menimpaku. Aku sudah mati rasa. Tidak ada lagi alasan untuk aku bertahan hidup. Tiba-tiba sepeda aku menabrak batu besar ditengah jalan. Aku terpelanting dari sepeda. Aku pikir aku bakal mati, ternyata malah seluruh badanku sakit semua karena jatuh. Aku masih sadar dan aku melihat keseliling jalanan gelap itu. Ternyata ada sebuah pemukiman di depanku. Tidak jauh dari pemukiman itu ada sebuah bangunan besar yang menjulang tinggi terbuat dari batu-batu alam. Sekeliling bangunan berbatu itu adalah sebuah tembok batu juga dan tanpa pagar. Aku begitu terkesima melihat keanggunannya yang berdiri di tengah kesunyian seperti itu. Dengan rasa ingin tahu luar biasa, aku bangkit menahan sakit dan melangkah pincang masuk ke dalam bangunan itu.

Aku meninggalkan rongsokan sepeda aku. Tanpa ekspektasi, semenjak itu pula aku meninggalkan segala hal yang telah aku miliki. Ternyata bangunan agung itu adalah sebuah biara para pertapa. Mereka adalah sekumpulan manusia yang telah meninggalkan hasrat duniawi. Tidak perlu ragu-ragu, aku meminta ditabhiskan menjadi salah satu dari mereka. Tidak ada lagi yang menunggu aku di luar sana, tidak perlu juga aku meminta izin kepada orang tua, dengan bahagia aku kemudian melangkah.

Setelah satu tahun aku disini, sebagian besar hidup aku habiskan untuk bermeditasi menembus ketidakterlibatan terhadap dunia. Aku juga belajar mengenai hukum sebab-akibat dan luka kepergian orang tuaku berangsur-angsur dapat aku terima, meskipun aku tahu kerinduan aku pada orang tuaku tetap disana menjadi bagian dari diriku. Aku juga belajar tidak memiliki apa-apa, sekecil apapun, termasuk kesedihan aku. Dan disini, aku belajar untuk berbagi, kepada mereka yang tidak menempuh kehidupan selibat tetapi mencintai keheningan. Setiap malam pukul delapan, kami mengadakan hening bersama.

Setahun belakangan aku menguatkan tekadku untuk melepas segala beban penat yang selama ini aku bawa. Meskipun aku belum menuntaskan seluruhnya, Guru bilang aku tetap dalam proses. Aku begitu mencintai keheningan, walau aku diingatkan untuk tidak melekat pada keheningan itu sendiri. Sampai akhirnya ketika gadis itu datang, duduk bersila bersama yang lain. Tidak pernah bicara dan hanya membawa sekumpulan derita dunia yang ingin ia lepaskan. Gadis itu membuat aku meninggalkan ketertarikan aku pada keheningan. Gadis menawan itu telah memenjara aku.

Walau aku tahu ini bukan kehendaknya, melainkan kesalahanku semata. Bukan salahnya apabila ia rupawan, tentu kesalahan aku bila aku jadi tertarik kepadanya. Aku sudah mengabdikan diri pada janji suci untuk hidup tanpa perkawinan dan meninggalkan kemelekatan, namun gadis ini telah membuat aku ingin kembali memeluk ikatan inderawi. Aku begitu menginginkannya, hingga rasanya konyol kalau aku senantiasa berharap ia bertanya sekali saja saat hening selesai, agar aku bisa mendengar suaranya yang sepertinya merdu. Aku tahu aku nyaris gila dan kesalahanku adalah menyenangi khayalan tentangnya. Tapi, aku tak berdaya atau memang tak mau berdaya, aku menikmati sensasi ketika sesuatu berdesir dalam ragaku.
                                                                            ***
Jadwal rutin kami saat hari telah berganti adalah bangun tidur sebelum matahari menunjukkan diri. Namun, jatuh cinta tampaknya telah memadamkan semangat aku untuk memulai hari dengan ceria karena aku lebih menyukai berlama-lama di matras tidur untuk bermimpi tentangnya. Sebagai pertapa junior dan yang paling muda disini, pekerjaan beratku otomatis lebih banyak. Aku yang menyapu seluruh halaman biara yang penuh dengan dedaunan kering, membersihkan ruangan-ruangan di dalam biara, dan menyiapkan keperluan Guru. Kantuk menjamahku ketika aku sedang menyapu halaman dengan sapu lidi. Aku masih ingin kembali tidur dan bertemu dengan gadis pujaan aku. Sebab sungguh tidak mungkin jika aku mewujudkan itu menjadi kenyataan.

Tiba-tiba Guru datang. Lelaki tua itu selalu saja datang tiba-tiba diberbagai sudut biara ini. Saat kau sedang tidak fokus, marah, kesal, ingin kembali ke rumah orang tua, Guru selalu tahu dan akan memberikan satu dua kalimat bijaksana. Nasehatnya ibarat jarum suntik yang diinjeksikan langsung ke pembuluh darah. Seketika itu pula siapapun yang mendapat wejangannya langsung kembali 'sadar' akan tujuan mereka datang kemari. Dan kini, Guru tiba-tiba berjalan ke arahku. Aku jadi salah tingkah sendiri, aku takut ia tahu perihal perasaanku.

Aku menghormat padanya dan Guru tersenyum padaku, senyum dalam yang penuh makna.

"Pertapa Nanda, apa yang hendak kau lakukan?" tanya Guru.

"Saya sedang membersihkan halaman, Guru," sahut aku.

"Alangkah bijaknya bila seseorang membersihkan pikiran dari kemelekatan terlebih dahulu. Sebab seperti yang sudah diajarkan oleh Sang Guru, pikiran adalah pelopor," sahut Guru sambil tersenyum.

Aku menunduk memandang setumpuk dedaunan kering yang telah rapi. Ingin rasanya aku tenggelam ke tumpukan itu dan berharap aku berubah menjadi salah satu hewan tanah saja, malu. Guru beranjak pergi namun tiba-tiba saja keberanian datang padaku.

"Guru saya ingin berkata jujur," kata aku tiba-tiba. Kerongkonanku serasa tercekat tapi aku tidak mungkin bisa berbohong pada Guru.

Guru menghentikan langkah lalu menoleh kepadaku sambil tersenyum, "kejujuran adalah hal yang sangat baik."

"Saya telah jatuh cinta, Guru," kataku menghempaskan diri dihadapan Guru sambil terus menunduk malu, "saya telah jatuh cinta pada seorang gadis yang selalu datang saat hening bersama. Saya belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Maafkan saya guru," lanjutku, tiba-tiba saja aku mengecap sesuatu yang asin, ternyata air mata mengalir dari kelopak mataku.

Guru tersenyum, "tidak apa-apa kalau kau jatuh cinta."

Aku menengadah menatapnya, "benarkah itu tidak apa-apa, Guru?"

Guru menggeleng, "tidak apa-apa selama cinta yang kau maksudkan itu benar-benar ada. Bukan kondisi yang timbul dan padam," kemudian Guru berjalan pergi meninggalkan aku yang penuh tanya.

Sebelum ia melangkah lebih jauh, tiba-tiba Guru menoleh, "gadis itu adalah Chandani. Kebetulan ia merupakan dewi penunggu pohon itu. Kalau kau ingin menemui wujud aslinya panggil saja namanya," kata Guru sambil menunjuk pohon angsana di dekat aku.

Jumat, 03 Mei 2013

May Day

Tanggal 01 Mei yang lalu kita semua memperingati Hari Buruh Sedunia. Dulu saya pikir yang namanya Buruh hanyalah pekerja pabrik atau pekerja yang mengerjakan tugas kasar seperti kuli bangunan. Tetapi, ternyata (ehm saya mesti nelen ludah dulu) pekerja kantoran yang setiap senin-jumat selalu duduk cantik di ruangan ber-AC termasuk pekerja yang disebut Buruh. Klasifikasi Buruh sendiri ternyata meliputi semua pekerja dari berbagai aspek. Selama seseorang tidak memiliki lapangan kerja sendiri atau bahkan mempekerjakan orang lain tapi justru malah bekerja kepada sebuah perusahaan atau instansi, itu namanya Buruh. Hmmm, kalau begitu beruntunglah para pedagang yang meskipun mereka panas-panasan dengan gerobak dorong, status mereka bukan Buruh seperti saya yang padahal bekerja di sebuah daerah elit Ibukota. Ironis sekali.

Saat Hari Buruh berlangsung, sudah dipastikan jalanan dipadati buruh-buruh yang mogok kerja. Mereka menuntut hak-hak mereka seperti kenaikan gaji, penghapusan sistem outsource dsb. Well, sejujurnya saya juga ingin ikut turun ke jalan untuk menuntut hak saya setelah tidak puas akan adjustment bulan lalu hehehe. Tapi, berhubung saya masih perlu uang untuk biaya kuliah jadi apa mau di kata lebih baik menonton serunya para Buruh ketimbang dapat SP3.

Bicara soal hari May Day yang selalu jatuh pada tanggal 01 Mei, saya baru kalau ternyata perayaannya sudah lama terkenal. Namun, bukan Buruh yang berunjuk rasa, tetapi May Day merupakan salah satu perayaan paganisme sebelum agama-agama modern berkembang.

Tidak dipungkiri lagi kalau pengaruh paganisme masih sangat kental hingga saat ini. Lihat saja penamaan hari dalam seminggu menurut istilah bahasa inggris yang ternyata berkaitan erat dengan mitologi bangsa Nordik :
- Moonday berasal dari kata Moon dan Day yang berarti Hari Bulan tentu sangat berkaitan dengan penghormatan kaum pagan terhadap Dewi Bulan.
- Tuesday  berasal dari kata Tyr's Day atau Hari Tiw yang merupakan penghormatan untuk Dewa Tyr atau Tiw karena ia adalah Dewa pertempuran.
- Wednesday berasal dari kata Wodin's Day atau Odin's Day merupakan Hari Odin, sang Raja para Dewa.
- Thursday berasal dari kata Thor's Day atau Hari Thor, Dewa petir yang sangat dihormati.
- Friday berasal dari kata Freyja's Day atau Hari Freya, Dewi bangsa Nordik yang membawa kesuburan dan kelimpahan bangsa Skandinavian.
- Saturday berasal dari kata Saturn's Day yang tidak lain dan tidak bukan adalah hari perayaan untuk Dewa Saturnus.
- Sunday berasal dari kata Sun Day yang sudah pasti berarti hari penghormatan kepada Dewa Matahari. Tidak mengherankan kalau hari Minggu, kalender Gregorian berwarna merah. Hmm tentu karena bagi kaum paganisme Matahari adalah pusat energi dan mereka sangat menghormati Matahari sebagai pemberi kehidupan melalui energi.

Kalau begitu benarkah May Day juga dipengaruhi oleh paganisme? Buat yang suka browsing wikipedia silahkan cari saja atau bisa klik disini May Day. Secara garis besar, May Day sendiri adalah perayaan paganisme menyambut musim panas. Penyambutan tersebut tentu diikuti oleh perayaan festival-festival. Diantaranya bisa di check di alamat http://hobt.org/about/. Namun, seiring perkembangan manusia, festival ini ditinggalkan oleh manusia terlebih lagi setelah penyebaran agama Kristen di Eropa. Menyambut May Day dianggap sebagai penyembahan terhadap berhala dan hal-hal yang menyalahi Tuhan. Hmmm.

Well, mungkin perayaan May Day sendiri adalah hasil kesepakatan kaum pagan didalam mengartikan rasa hormat mereka terhadap alam. Walau banyak spekulasi mengenai paganisme, menurut saya pribadi, paganisme sepertinya bukanlah semacam agama yang seperti kita kenal saat ini. Paganisme lebih kepada sebuah ideologi yang berbicara tentang penghormatan terhadap alam semesta dan menuntun manusia untuk memahami arti energi kehidupan itu sendiri. Namun, memahami misteri alam seperti rasi bintang, pergerakan planet, fenomena gerhana, pasang-surut air laut, sangatlah sukar untuk dimengerti oleh manusia sehingga orang-orang zaman dahulu memilih 'mengemas' pengetahuan tersebut lewat cerita-cerita tentang Dewa Dewi agar lebih mudah dimengerti. Cerita-cerita yang diturunkan secara turun temurun inilah yang menghasilkan mitologi dan dongeng bahkan diartikan sebagai penyembahan terhadap berhala. Sungguh disayangkan apabila dewasa ini, kita malah membutakan diri akan kesempitan berpikir ketimbang membuka pengetahuan seluas-luasnya demi kekayaan pemikiran kita. Bagaimana dengan kalian?