Senin, 22 Juli 2013

Senyam Senyum Senin

Hujan basah, becek, untungnya ada ojek. Jadi gak terlalu cinta laura banget lah. Senin pagi selalu datang cepat tapi pekerja kantoran terutama yang kerja di daerah Sudirman dan sekitarnya (curhat) pasti terlambat. Sekarang bukan hanya sholat yang berjama'ah tapi telat juga jadi rame-rame. Gimana enggak? Wong rakyatnya beramai-ramai mengeksplotasi alam demi gengsi dan harga diri. Beramai-ramai beli mobil baru, motor baru, sedangkan jalanannya segini-gini aja. Mereka gak mikirin dampak kedepannya dengan konsumsi BBM yang berlebihan biasa berakibat fatal sama alam.
Gak usah jauh-jauh prediksi alam 10 tahun ke depan. Sekarang aja udah kelihatan. Contoh kecilnya iklim yang gak pernah sesuai sama prediksi. Bulan Juli ini harusnya jadi musim kemarau. Tapi lihat hari ini. Hujan gak berhenti-henti begitu juga hari-hari kemarin. Alam udah bertindak semaunya kayak penghuninya yang paling seenak-enaknya, manusia.

Manusia ya manusia. Katanya makhluk mulia tapi coba saja lihat apa yang dilakukan oleh manusia? Mereka membakar hutan, menjarah batu bara dan minyak bumi, mereka menyingkirkan tanah tempat pohon-pohon tumbuh lau mengganti dengan mall dan gedung mewah. Apa itu yang dilakukan oleh makhluk mulia? Bukan menjustifikasi atau menyudutkan siapa-siapa tapi faktanya memang manusia lebih kejam dari binatang buas. Kalau binatang buas mencari mangsa karena memang insting mereka bagaimana dengan manusia? Apa karena insting juga manusia tidak mementingkan kepentingan bersama dan mengutamakan kepentingan pribadi? Kalau begitu apa bedanya dengan binatang yang memang hanya terus menuruti kemauan tanpa memikirkan dampak apapun.

Lihat Jakarta sekarang. Gak perlu bandingkan dengan Singapore atau negara-negera lain yang punya standart kerapihan dan kebersihan kota. Jakarta ya milik Indonesia harusnya tidak perlu membanding,-bandingkan  terus. Lebih baik fokus saja pada perbaikan diri. Dan perbaikan diri dimulai dari diri sendiri. Tapi lihat diri sendiri sekarang. Ada berapa banyak orang Indonesia yang memang fokus dengan perbaikan Jakarta atau wilayah lainnya dengan cara mengurangi polutan dan tidak mengeksplotasi alam? Minim. Mereka hanya kaum minoritas yang kalau bersuara justru ditertawakan. Padahal ide mereka cemerlang tapi sangat sulit orang lain diajak kerja sama. Malah pasrah sama kebijakan pemerintah. Kalau pemerintahnya sableng juga? Yaudah jadi lingkaran setan. Kalau udah masuk gak bisa keluar lagi tinggal deh bilangnya "yah mau gimana lagi". Lucu.

Hmmm jadi apa solusi untuk Mon(ster)Day kali ini? Saya sih cuma bisa seyam senyum aja menghadapi keruwetan masalah yang sudah seperti bukan masalah lagi karena memang gak ada penyelesaiannya....