Minggu, 03 November 2013

Di Bawah Sinar Rembulan

Adakah lagi yang lebih bermakna dari sebuah keheningan mendalam? Menyatu dengan alam tanpa butuh apapun juga, kau sudah merasa bahagia dalam damai yang sulit dijelaskan lewat kata. Sebab itu sudah melampaui segala dan alam manusia biasanya baru bermakna jika bahasa menjadi utama. Itu setidaknya hari-hari yang aku namakan sebagai mengutuhkan diri dengan diri sendiri. Tidak perlu siapa-siapa sudah cukup bagiku.

Tapi malam itu terasa berbeda. Mungkin karena hujan badai baru saja usai. Mungkin karena malam telah menghanyut sendu tanpa batas ruang. Mungkin pula karena bulan sedang membundar sempurna menawarkan langit kelam yang mencengangkan. Bulan terlalu indah bila disia-siakan. Terlebih lagi malam itu usiaku genap bertambah. Apalagi yang lebih menyenangkan jika ulang tahunmu dirayakan bersama semesta yang menggetarkan jiwa? Aku sudah punya rencana ketika waktu itu tiba, aku ingin kembali memaknai perjalanan kehidupanku melalui hening yang biasa aku jalani. Hening yang selalu menjadi obat paling mujarab mengatasi rasa kosong di antara dunia manusia dan dunia tempatku mengadu nasib. Hening yang selalu aku puja hingga rasanya aku seperti orang gila. Hening yang tanpa siapa-siapa selain diriku sendiri.
Namun, ternyata bukan lagi hening yang aku rencanakan datang. Ya, begitulah dunia adanya. Kau tidak selalu bisa mewujudkan yang kau rencanakan. Kau juga tidak bisa selalu berharap yang kau inginkan menjadi nyata senyata benak liarmu. Dunia selalu berjalan sesuai arahnya. Dan malam itu mungkin menjadi pertanda bahwa sudah saatnya aku harus menghentikan kebiasaanku dalam menentukan yang menurutku benar. Terkadang menyerah pada jalan kehidupan itu lebih bermakna dari apapun juga.
Di bawah sinar rembulan, aku bercengkrama. Bersama manusia sungguhan yang bukan lagi bentuk dari alam pikiranku. Si manusia nyata sedang bersamaku, disampingku. Entah apa yang menjadi alasan canda tawa, tapi segalanya mengalir senyata arus air menuju ke hilir. Seakan kita pernah jumpa pada satu masa yang sudah lama tak jumpa lalu ketika bertemu kembali ada rindu yang menyesakkan jiwa hingga rasanya terus ingin bersama, setidaknya itu yang aku rasa. Aku tidak terlalu peduli pada kehidupan kemudian. Aku juga tidak mau memusingkan kenyataan yang akan kembali menenggelamkanku pada pahit yang sering aku kecap lama-lama. Aku hanya sedang menikmati kenyataan bahwa tanpa hening dan diriku sendiri, aku merasa utuh. Aku kira itu hanya khayalan tapi kau orang yang paling nyata mengubah duniaku. Sekejap saja tanpa perlu berlama-lama, ternyata hidup terasa lebih manis jika bisa berbagi. Bukan hal yang rumit, hanya sebuah cerita-cerita lama yang kita barter secara cuma-cuma, tapi itu berarti segalanya, bagiku.
Kupandangi bentuk-bentuk yang menjadikanmu dikenal sebagai nama. Memang tidak sejelas jika mentari datang, sebab memang sudah terlalu malam, dan kita berdua duduk dalam nyamannya kendaraan yang kau gunakan untuk menjemput aku. Ah, seperti sang putri saja. Kau datang saat hujan masih deras, demi aku yang belum kau kenal terlalu lama. Sungguh bukan picisan tapi itu yang hingga sekarang membuatku jadi terkenang. Dengan segala kejujuranmu setidaknya itu yang mampu membuat suasana tampak ceria. Kau jadikan malam sehangat musim semi tiba. Tanpa harus bermimpi, kau jadikan aku tampak spesial.
Namun, dunia kembali mengingatkanku. Seperti halnya Cinderella yang harus pulang, janji yang pada akhirnya menyeretku pada sepi yang aku buat sendiri. Cerita kita usai digantikan oleh kebodohanku yang aku genggam. Aku lupa bagaimana harus menjadi yang sejati. Aku lupa bagaimana harus mengatur diri. Aku lupa diri. Aku sudah terlalu banyak mencari-cari, hingga yang berharga harus kulepas tanpa kompromi. Aku pergi menghibur diri, meninggalkan kau seorang diri. Ironi!
Kini, tidak perlu malam datang atau menunggu bulan mengutuhkan diri. Aku sudah mampu terus mengenang. Bukan karena aku tak santun tapi karena aku tahu rasanya menjadi utuh tanpa diriku sendiri.