Jumat, 04 Desember 2015

Hello December!

Kayaknya agak telat kalau saya masih bilang "HELLO" untuk Desember yang sudah memasuki hari keempat saat saya menulis postingan ini. Tak apalah telat yang penting update blog hehehe. Akhir tahun 2015 tinggal menghitung hari, tetapi sesuatu yang baru tidak harus selalu di awal tahun kan? Karena nyatanya, ada hal baru di dalam hidup saya menjelang penghunjung tahun. Yap, saya akhirnya kerja! Hahaha setelah cukup lama kebanyakan luntang-lantung gara-gara menyelesaikan skripsi yang tak kunjung usai dan sibuk interview kerja sana-sini, akhirnya saya mendapatkan pekerjaan. Ini yang saya inginkan selama ini. Bekerja di industri media dan menjadi seorang Presenter. Presenter lho presenter, yang selalu wara-wiri di layar kaca. Entah kenapa, menurut pandangan saya, menjadi seorang presenter itu merupakan pekerjaan yang lengkap. Selain harus selalu enak dipandang, presenter juga selalu tampak cerdas, dan percaya diri. Memang sih, urusan belakang layar itu pasti penuh dengan persiapan matang, makanya enggak heran kalau presenter selalu keliatan paling tahu karena memang kerja sama tim yang solid saling bantu cari bahan berita. Cuma yah sebagai penonton, kita hanya melihat hasil akhirnya saja tanpa melihat proses panjang di balik tayangan sebuah berita.Dan tetap pada pendirian saya, meskipun kerja sebagai presenter itu harus kerja tim, menjadi presenter bagi saya adalah sesuatu yang seru dan mengasyikan.

Sejak dulu impian saya bisa menjadi News Anchor kawakan seperti Najwa Sihab. Bukan saja kelihatan cantik terus, Najwa juga tampak sangat amat cerdas kalau bertanya. Apalagi sorotan matanya itu yang bikin orang merinding dan bingung mau lari dari pertanyaan dia yang tajam. Wah pokoknya jadi presenter politik dan berita itu kelihatan banget cerdasnya. Dituntut harus tahu semua informasi yang berat-berat. Tahulah sendiri pendapat umum bahwa obrolan berat dan cerdas pasti selalu dikaitkan dengan isu politik. Semua keseriusan tumpah ruah di dalam sajian berita politik dan enggak heran kalau News Anchor yang bicara soal politik, selalu dianggap paling cerdas.

Kembali soal pekerjaan baru saya. Bisa dibilang perjuangan saya untuk menjadi wartawan di media khusus berita sudah lumayan melelahkan. Beberapa kali bolak-balik interview yang pada akhirnya tidak membuahkan hasil saya diterima. Sedih, kecewa, dan sempet down karena saya pikir apa yang membuat saya jadi enggak diterima? Toh semua orang belajar dari awal kan? Apa saya sama sekali tidak punya potensi dibidang jurnalistik? Tetapi, jalan hidup saya berkata lain. Setelah mengalami fase-fase nge-down, sehari setelah saya ulang tahun mama saya mendapat kecelakaan berat dan mengharuskan beliau untuk di operasi. Selama sebulan saya fokus hanya menjaga mama. Saya sudah enggak mikir apa-apa lagi. Saya hanya ingin mama selamat dan sehat. Saya sudah enggak peduli saya dapat kerja atau enggak. Hidup saya untuk mama saya. Saya merawat mama semampu saya dan biarlah saya jadi pengangguran kalau memang bisa membuat mama saya cepat pulih sedia kala.

Namun, mungkin ini yang namanya jalan takdir, jalan Tuhan, jalan karma, apapun namanya, teman saya dulu di Bekasi Urban City menawari pekerjaan sebagai presenter. Saya langsung terima saja dan enggak pikir panjang. Saat itu mama saya sedang tahap penyembuhan dan ia berangsur-angsur lebih baik. Melihat kesempatan itu, saya langsung mengiyakan saja walaupun ternyata tawarannya menjadi seorang presenter bola. Apa bola? Iya bola. BOLA. B-O-L-A. Hahaha. Gila. Saya ngerti apa soal bola? Terakhir saya nonton bola waktu piala dunia. Itu juga sudah lupa pemain dan siapa yang menang. Saya memang suka nonton Piala Dunia atau Euro, tapi hanya sebatas nonton. Saya enggak ngerti kasus-kasus, pemain-pemain bola, atau berbagai isu mendetail tentang bola. Bukan hanya bola tetapi seluruh olahraga. Saya benar-benar orang awam di dunia olahraga. Tetapi, jangan sebut nama saya kalau saya enggak nekat. Hahaha.

Sejak dulu saya memang punya tingkat percaya diri yang kadang suka kelewatan. Kadang saya mikir apa urat malu saya sudah putus hehe. Kepercayaan diri itu sering jadi nekat. Dan saya memang nekat kalau akhirnya saya memutuskan untuk terjun ke dunia olahraga. Saya mau apa nanti di dalam sana? Tahu apa saya soal olahraga? Tapi, pede itulah yang akhirnya membawa saya sampai ke tahap ini. Yap, saya akhirnya dipercaya untuk membawa program informasi seputar dunia olahraga di kantor saya ini. Memang bukan stasiun televisi seperti yang saya idam-idamkan. Namun, ini adalah industri media. Tempat dimana impian saya telah dimulai. Meski bukan berkaitan dengan hobi saya menganalisis berita politik, tetap saja dunia olahraga adalah tantangan baru di hidup saya. Satu hal yang kemudian saya sadari bahwa dunia media, apapun bentuknya bukan hanya berita olahraga, tetapi semua aspek misalnya berita hiburan, tetap saja harus dipertanggung jawabkan kebenarannya. Jadi, bukan masalah ada di berita politik, ekonomi, atau jenis berita apa kita bekerja, tetapi bagaimana kita mengolah informasi itu. Karena ternyata semua jenis informasi itu sama sulitnya lho. So, semoga saja ini jalan terbaik saya untuk maju berkarir di industri media.

Jumat, 30 Oktober 2015

Jauh-Dekat Pakai Helm

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com.

Kejadiannya sekitar sebelas hari yang lalu, saat tepat tanggal 20 Oktober, sehari setelah saya berulang tahun. Saya pikir ulang tahun di usia perak saya akan menjadi kado terindah di dalam hidup, nyatanya bertolak belakang sama sekali. Itu adalah kado ulang tahun terburuk yang pernah saya terima selama saya hidup dan semoga hal terburuk itu adalah pertama dan terakhirnya di dalam hidup saya.

Semuanya seperti mimpi saat saya mendengar suara gaduh di depan rumah pada pukul setengah delapan pagi. Berhubung saya memang belum juga mendapatkan pekerjaan, alhasil saya masih punya banyak waktu santai di rumah. Kakak saya, Juno, yang sedang berpakaian karena akan berangkat kerja, langsung keluar rumah saat mendengar seseorang memanggil-manggil dari luar rumah. Namun, suara Juno-lah yang membuat saya langsung tersentak bangun ketika mendengar Juno mengulang kata-kata pria asing itu, “Mamanya mbak kecelakaan, sekarang motornya ada di mini market.”

Kami berdua rasanya langsung tersambar geledek. Bagaimana bisa mama kecelakaan? Terlebih lagi beliau hanya berkendara ke pasar kaget yang letaknya tak jauh dari rumah kami. Mama setiap hari melakukan hal itu dan rasanya mustahil kalau pada akhirnya dia menerima musibah ini. Saya langsung menjerit dan menangis. Kakak saya yang panik tidak mampu berkata-kata selain ikut pria asing itu ikut ke mini market tempat kejadian dimana mama saya ditabrak untuk mengambil motor mama yang diamankan disana.

Setelah kakak saya kembali dan benar bahwa mama saya mengalami kecelakaan, saya sudah lemas bukan main. Saya ingin cepat menemukan mama yang menurut informasi beberapa orang yang menolong beliau, langsung di bawa ke rumah sakit. Saya langsung menghubungi semua keluarga saya mengenai musibah itu. Saya, Juno, dan ayah segera menuju rumah sakit yang disebutkan oleh si penolong mama, tetapi ternyat tidak ada beliau disana. Kami panik. Kemana mama dibawa pergi oleh orang yang menyelamatkannya? Bagaimana kalau kami terlambat? 

Kami sama sekali tidak tahu siapa yang menolong mama, bahkan pegawai mini market yang menolong mama dan mengamankan kendaraan mama dan si penabrak juga tidak meminta nomor telepon orang yang menolong mama. Kami sungguh panik tetapi harus bertindak cepat kalau tidak mungkin nyawa mama tidak akan tertolong. Akhirnya kami inisiatif untuk mencari mama berkeliling rumah sakit terdekat dari rumah kami. Ada dua rumah sakit selain rumah sakit pertama yang kami tuju. Di rumah sakit kedua, kami juga tidak menemukan mama. Harapan kami ada di rumah sakit ketiga. Saya sungguh berharap mama ada disana. Apapun kondisinya semoga mama baik-baik saja.

Dan benar saja. Saat saya datang ke rumah sakit ketiga, seorang wanita berusia 49 tahun tergeletak disana. Kotor, penuh luka dan darah dimana-mana, empat kali muntah, dan yang lebih parah pihak rumah sakit sama sekali tidak bertindak apapun meski mereka tahu bahwa kepala mama terbentur. Bahkan mereka tidak membersihkan luka luar mama dan membiarkan mama tergeletak tak berdaya disana. Spontan saya langsung naik pitam. Bagaimana kepedulian rumah sakit di negeri kita ini jika menolong manusia hanya berdasarkan uang jaminan? Pihak rumah sakit tidak berani bertindak karena mama tidak bahwa identitas saat itu. Ini bukan hanya untuk mama tetapi untuk setiap manusia yang mendapatkan musibah di luar sana. Apakah mereka tidak layak diobati jika mereka tidak membawa identitas diri? 

Kelambanan pihak rumah sakit dalam menangani kondisi mama membuat saya semakin marah. Untungnya, tetangga kami berbaik hati langsung mengantar mama ke rumah sakit lain yang lebih besar. Ayah yang marah langsung menemui pria yang menabrak mama. Pria itu juga dilarikan ke rumah sakit bersama mama. Dia hanya mendapatkan luka memar di dadanya saja. Ayah sudah tidak dapat berpikir jernih dan tetangga kami langsung menenangkan ayah. Situasinya sungguh kacau balau. Saya menangis terus saat membawa mama dengan mobil tetangga saya itu. Mama sudah tidak sadarkan diri dan dia terus menerus akan muntah. Muntah karena benturan adalah pertanda buruk. Saya takut mama gegar otak dan tidak akan selamat. Saya menggenggam tangan mama dan terus berdoa agar semuanya baik-baik saja.

Kami langsung menuju UGD (Unit Gawat Darurat) rumah sakit di daerah Kalimalang. Pihak rumah sakit langsung cepat tanggap dan mama langsung diurus dengan baik. Perlu tiga hari kami menunggu kepastian dari dokter bedah syaraf yang memeriksa mama untuk berlanjut ke tahap operasi atau tidak. Dokter bilang mama mengalami benturan keras di kepala. Ada retakan di tengkorak otak sebelah kanan tetapi mengalami pendarahan di otak kiri. Hasil CT Scan memperlihatkan kalau mama mengalami pendarahan yang tidak terlalu besar namun beliau juga tidak berjanji kalau mama tidak akan di operasi karena pendarahan bisa akan membesar dan beliau mencoba mengurangi pendarahan dengan obat.

Sayangnya hasil CT Scan berikutnya menampilkan bahwa pendarahan mama membesar dan sudah menggeser posisi otaknya. Dokter khawatir akan menutup batang otak dan mama akan masuk ke fase koma. Setelah saya konsultasi dengan tante saya yang juga seorang dokter, kami memutuskan untuk menyembuhkan mama lewat operasi. Banyak kerabat, sahabat, dan orang-orang yang kami kenal mendukung dan menenangkan kami sekeluarga. Berdasarkan informasi, operasi yang berhubugan dengan kepala bisa sampai 5-6 jam. Namun, ternyata hanya perlu waktu 2 jam dan kami sekeluarga mendapatkan berita bahwa operasi mama berjalan lancar. Dokter menenangkan kami dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

Kami langsung menemui mama dan melihat kondisinya seusai operasi. Sungguh malang. Selang disana-sini, bahkan wajah dan tubuhnya jadi bengkak semua. Saya menangis lagi. Mama. Wanita yang melahirkan saya, sahabat dalam suka dan duka, koki terbaik, cinta pertama saya, segalanya untuk saya, harus mengalami hal ini. Perlu waktu dua hari untuk membuat mama betul-betul sadar. Dan dihari keempat mama baru keluar dari ICU pindah ke ruang perawatan untuk pemulihannya. 

Selama mama di ICU, kami hanya bisa menunggu di ruang tunggu. Meskipun salah satu pihak keluarga berada di rumah sakit, tetap saja pihak rumah sakit tidak mengijinkan saya berada di dekat mama. Saya menginap di ruang tunggu dan hanya menunggu panggilan dari ICU sewaktu-waktu diperlukan. Sedangkan jam besuk juga hanya satu jam dalam dua sesi sehari. Sungguh rasanya berat. Saya ingin memberikan semangat kepadanya untuk bertahan dan kembali sehat tetapi tidak berdaya dengan aturan rumah sakit. Yang terpenting mama sembuh, apapun akan kami lakukan. Banyak yang berdatangan untuk menjenguk mama dan semua yang ditanyakan orang-orang adalah sama pada akhirnya. “Coba lihat CCTV-nya.”

Ya, sungguh beruntung. Musibah yang menimpa mama terekam oleh CCTV di mini market yang sedang mama tuju. Pria yang menabrak mama pun tidak akan bisa mengelak dan lari dari tanggung jawab karena jelas terlihat bahwa mama sudah memberikan tanda hendak akan belok kanan namun, naas ada motor berkecepatan tinggi melintas dari belakang dan langsung menghantam motor mama. Mama dan motornya langsung terlempar bersama si penabrak sekitar 7-8 meter. Tabrakan keras dan telak membuat mama terbentur dan mendapatkan luka di sekujur tubuhnya. Yang membuat geram adalah kejadian itu terjadi di sekitar komplek perumahan kami. Dengan kecepatan tinggi, pria itu mengendarai motornya terburu-buru karena sudah terlambat masuk kerja. Sungguh menjengkelkan rasanya mendengar alasannya. Karena kesalahannya, mama harus menanggung derita seperti ini. Bukan hanya soal derita fisik tetapi penyembuhan mama akan melibatkan psikologis juga. Mama tidak akan mungkin menjadi mama yang sama.

Kalaupun memang salah, kesalahan mama hanya satu. Ia tidak menggunakan helm saat itu. Yah, siapa yang akan menduga datangnya bencana? Pergi ke pasar komplek rumah lalu ke mini market adalah rutinitas mama setiap pagi. Mama selalu kembali selamat tanpa helm. Lagipula mana pernah terpikir akan terjadi hal seperti ini di kompleks perumahan. Kami pikir aman-aman saja berkendara tanpa helm selama tidak jauh dari rumah. Tapi, kami salah total. Tidak ada yang tahu jenis-jenis manusia seperti apa saja yang lewat di jalan perumahan kami. Mama sedang sial karena bertemu dengan salah satu jenis manusia tidak tahu diri.

Helm yang selama ini menjadi alat yang digunakan hanya untuk taat pada polisi, nyatanya sangat berguna untuk keselamatan. Kalau saja mama menggunakan helm saat kejadian tersebut, mungkin ia tidak akan kena benturan dikepalanya dan hanya akan mengalami luka-luka saja di tubuh. Mama tidak akan mengalami pendarahan dan keretakan di tengkorak kepalanya. Mama tidak akan kehilangan memori dalam otaknya. Mama meskipun akan memiliki banyak luka-luka di tubuhnya, tetap akan menjadi mama yang sama seperti sebelum kejadiaan naas tersebut. Sekarang hanya karena helm, hidup mama berubah total. Helm yang tampaknya sepele, memiliki andil penuh kehidupan kita pengendara sepeda motor. 

Kadang kita lebih peduli pada jarak tempuh ketimbang keselamatan diri kita sendiri. Selalu beralasan ‘dekat kok’ saat dianjurkan menggunakan helm meskipun berkendara tidak jauh. Helm bukan hanya alat yang digunakan untuk jarak jauh, tetapi dengan kejadian ini saya melihat sungguh-sungguh fungsi helm untuk melindungi kepala dari benturan. Musibah memang tidak akan bisa diduga tetapi menggunakan helm adalah pilihan kita sendiri. Dulu saya melihat kejemuan dalam menggunakan helm namun semua pandangan saya berubah total saat saya melihat berkali-kali CCTV kejadian yang menimpa mama.

Sebelas hari sudah mama masuk rumah sakit. Ia memang sudah sadar dan berangsur-angsur pulih secara fisik. Akan tetapi, ia jelas bukan wanita yang dulu saya kenal. Beberapa memori jangka pendeknya hilang. Mama memang masih ingat dengan orang-orang tetapi ia lupa beberapa kejadian yang baru saja terjadi. Bahkan caranya bicara pun berubah total. Ia bukan lagi seperti seorang ibu yang menjadi tempat mengadu. Cara bicaranya seperti anak-anak dan sangat polos. Mama lahir kembali. Ia adalah manusia naif yang baru menghadapi dunia.

Rasanya sedih tetapi juga lucu mendengar mama berceloteh sekarang. Kami tidak tahu mama akan kembali lagi seperti dulu atau tidak. Kami hanya tahu kami harus selalu berada disampingnya mendukung mama dan terus mengajaknya bicara agar ingatannya benar-benar pulih. Kadang saya merasa sangat sedih karena saya merindukan sosok mama yang begitu pintar dan asik diajak bicara. Saya juga rindu saat mama mengeluarkan opini dari pemikiran kritisnya. Disisi lain, saya tetap sayang pada sosok mama yang sekarang lebih polos dari saya.

Di rumah sakit inilah saya menulis kisah ini. Duduk didepan laptop sambil menunggu Sanmol mama habis agar suster bisa menggantinya dengan obat mama yang lain. Saya nyaris tidak pernah tidur, tetapi saya tidak peduli. Selama saya masih disamping mama dan melihat mama sehat dan bahagia, hidup saya baik-baik saja.


30 Oktober 2015
RS. Awal Bros Bekasi.

Selasa, 20 Oktober 2015

Apakah Cinta Harus Berkorban?

Cinta.

Berapa banyak puisi dibuat atas nama cinta? Berapa banyak lirik lagu dipersembahkan untuk cinta? Berapa banyak lembaran pena yang habis hanya untuk memuja cinta? Cinta yang selalu dijadikan materi utama dalam ruang sastra selalu mampu membius dan membuat orang-orang tak berdaya. Cinta yang begitu sakral hingga akhirnya membuat begitu banyak orang terkenal karenanya. Sebut saja Shakespeare yang karena pemujaannya atas cinta menjadi abadi lewat teater Romeo and Juliet. Gibran sang pujangga melankolis mampu menyentuh tanpa harus picisan. Atau mungkin cinta mampu menjadikan J.K.Rowling kaya raya lewat buku fenomenalnya, Harry Potter, sebenarnya bertemakan cinta sejati seorang ibu kepada anaknya. Cinta selalu punya cerita dan tidak pernah selesai begitu saja.

Tapi, benarkah cinta hanya terbatas pada ruang sastra?

Mungkin iya, mungkin juga tidak. Karena sejatinya kehidupan terkadang sering diragukan kebenarannya. Ilusi, drama, dan realitas bertemu dalam spektrum waktu yang sama. Kehidupan yang fana membuat seringkali bertanya-tanya. Benarkah hidup hanyalah seonggok peranan drama? Atau apakah drama hanya bagian kecil dari kehidupan? Tidak ada yang tahu. Bahkan Dewa Krishna pun yakin betul hidup dan drama-nya adalah dua sisi koin yang sama.

Terlepas dari benarkah kehidupan ini atau semua hanya fatamorgana, cinta yang begitu membius itu selalu bercerita tentang hal yang sama. Cinta bukan hanya dibicarakan tetapi juga dibuktikan lewat pengorbanan. Romeo berkorban atas nama cinta untuk Juliet saat ia tahu cinta mereka tidak akan pernah bersatu. Lily Potter mengorbankan nyawa atas nama cinta untuk anak semata wayangnya, Harry. Odin sang Dewa Skandinavian harus mengorbankan sebelah matanya demi kecintaannya pada ilmu pengetahuan. Drupadi mengorbankan dirinya dinikahi dengan lima pandawa atas nama cintanya pada Arjuna. Bahkan Bella Swan rela menjadi vampire dan meninggalkan ayahnya demi cintanya pada Edward Cullen. Sungguh cinta begitu luar biasa!

Cinta agaknya begitu menakutkan bagi sebagian orang atau mungkin bagi segelintir orang yang benar-benar merenung tentang sulitnya mencintai. Cinta yang kelihatannya indah, justru sebenarnya adalah pembuktian seberapa kita mampu mengorbankan diri. Cinta yang terkesan naif, nyatanya adalah kerumitan yang penuh trik tipu muslihat. Cinta seakan-akan bermuka dua. Ia akan tampil bak bidadari sebelum menerkam dirimu bahkan jiwamu dalam kesengsaraan neraka. Terlebih jika itu adalah cinta sendiri, cinta tak berbalas, yang mereka sering sebut cinta bertepuk sebelah tangan. Jenis cinta yang begitu menyakitkan dan tentu saja membuat para pecinta tak berdaya. Bahkan banyak kisah tragis berakhir akibat cinta sendiri.

Lalu bagaimanakah cinta seharusnya bekerja? Tak perlukah berkorban untuk pembuktiannya? Mungkin ada baiknya sejenak kita merenung. Kembali pada mereka sang pengayom sejati. Kita bisa belajar dari Nabi Muhammad yang dengan rela dicaci demi keyakinannya atas jalan kebenaran Allah SWT. Kita bisa belajar dari Yesus Kristus yang tanpa pamrih rela disalib demi penebusan dosa seluruh umatnya. Atau contoh lainnya yang tak kalah menyentuh, pada 2500 tahun lalu saat seorang pangeran dari suku Sakya lahir ke dunia, memiliki tiga istana, memiliki semua kemewahan dunia, pewaris utama tahta kerajaan, justru lebih memilih hidup menyendiri di hutan, melepas seluruh kemelekatannya pada dunia, hanya untuk mencari obat 'mengalahkan' kematian demi seluruh makhluk yang terlahir. Dialah Pangeran Siddhartha yang kelak menjadi Buddha Gotama.

Mungkin dengan kita melihat mereka yang punya pengaruh atas pola pikir manusia, kita jadi memahami dengan jelas. Bahwa sejatinya cinta, mau mengakui atau tidak, memang harus dibuktikan dengan pengorbanan. Ketika ia rela mendahulukan kesukaan atau kepentingan orang yang dicinta tanpa menimbang untung rugi yang akan ia terima. Cinta tanpa berkorban bukanlah cinta, tetapi guyonan tak bermakna.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Imbuhan (Afiks)

Bahasa Indonesia sangat menyukai imbuhan. Mungkin kalau imbuhan itu berupa makanan sudah menjadi makanan pokok seperti nasi. Ada banyak jenis imbuhan yang diajarkan dalam pelajaran bahasa Indonesia sewaktu masih sekolah dasar. Imbuhan awalan, imbuhan akhiran, imbuhan awal dan akhir, imbuhan sisipan, bahkan mungkin ada imbuhan sambungan seperti misalnya kata ‘anak emas’ sering menjadi kata ‘menganak-emaskan’ dalam sebuah kalimat lisan yang diucapkan.

Imbuhan atau afiks biasanya digunakan untuk membentuk kata baru dari kata dasar menjadi kata sifat, kata kerja, atau bahkan kata keterangan. Jenisnya yang bervariasi membuat imbuhan kadang sulit dibedakan dengan kata yang memang sudah dasarnya begitu. Misalnya saja kata ‘Pengangguran’ – apakah berasal dari kata ‘Anggur’ lalu ditambahkan imbuhan awalan ‘Peng-’ dan akhiran ‘-An’ seperti kata ‘Pengandaian’ yang memang jelas berasal dari kata ‘Andai’ dan diimbuhkan kata ‘Peng- -An’. Lalu bagaimana dengan kata ‘Mengemas’ yang sama artinya dengan membungkus tetapi jelas bukan berasal dari kata ‘emas’ dan disisipkan ‘Meng-’ di awal kata. Dan sederet kata lain yang bisa kalian temukan dalam percakapan sehari-hari.

Penggunaan imbuhan terkadang suka seenaknya saja. Hanya mengandalkan kecocokan sebutan di telinga. Misalnya saja seperti kata ‘Tahu’, ‘Mengerti’, dan ‘Paham’ yang ketiganya memiliki pendekatan makna yang sama. Ketiganya memiliki gaya yang berbeda. Dimana ‘Tahu’ jika ditambah afiks ‘Ke- -An’ bisa menjadi ‘Ketahuan’ tetapi ‘Mengerti’ tidak bisa menjadi ‘Kemengertian’ dan ‘Paham’ tidak bisa menjadi ‘Kepahaman’. Lalu afiks ‘Pe- -An’ yang bisa dtambahkan menjadi ‘Pengertian’ dan ‘Pemahaman’ tetapi bertambah ‘-ng-’ untuk kata ‘Pengetahuan’. Sungguh luar biasa.

Belajar imbuhan mungkin lebih tepat menggunakan insting ketimbang menghapal setiap kata yang ada. Semua mengandalkan kecocokan semata seperti misalnya kita memiliki kata ‘Bermalam’ yang berasal dari kata ‘Malam’ tetapi tidak pernah menemukan kata ‘Bersiang’ meskipun ‘Malam’ dan ‘Siang’ sama-sama menunjukkan waktu. Di lain imbuhan kata ‘Siang’ dan ‘Malam’ sama-sama memiliki kesetaraan yang tercermin dalam kata ‘Kemalaman’ dan ‘Kesiangan’. Ironis.

Saya memang sudah terbiasa dengan imbuhan bahasa Indonesia yang semaunya saja karena memang saya lahir dan besar di Indonesia tetapi hal ini sangat disayangkan apabila ada orang asing yang memiliki keinginan untuk belajar bahasa Indonesia. Kalau kita ingin bahasa kita dikenal lebih mendunia mungkin ada baiknya bila memperbaiki (Memperbaiki berasal dari kata 'Baik'? atau memang kata itu adalah kata dasar yang bukan ditambahkan imbuhan? Silahkan gunakan insting kalian :P) sistem penggunaan bahasa kita terlebih dahulu baru setelah itu mewajibkan setiap turis untuk berbahasa Indonesia ketika berkunjung ke tanah air.

Selasa, 08 September 2015

Ketika Pikiran Melarikan Diri

Pada akhirnya semua orang butuh tempat melarikan diri.

Dunia ini, Bumi ini, tempat dimana milyaran manusia hidup dan berlindung, serta berbagai jenis makhluk hidup tinggal didalamnya, terasa sungguh menyesakkan. Bukan karena terlampau kecil untuk menjadi tempat hunian. Bukan pula karena tidak mau berbagi. Tetapi, segala hal yang dijejalkan dalam kehidupan terasa begitu memusingkan, memuakkan, bahkan terkadang rasanya ingin lari keluar dari Bumi. Namun, harus pergi kemana? Ke Bulan? Ke Mars? Ke Planet lain yang berusaha sedang ditemukan oleh para ilmuan jenius itu? Apakah pencarian mereka atas kehidupan lain di Bumi jauh lebih menarik ketimbang Bumi itu sendiri? Apakah Bumi memang menjadi tempat yang membosankan sehingga dibutuhkan kajian untuk tempat melarikan diri dari Bumi yang katanya semakin hari semakin menua saja?

Segala hal yang dijejalkan ke alam pikiran manusia itulah sebenarnya yang membuat ide melarikan diri terasa sangat mengasyikan. Ketika manusia dilatih dari segala hal mulai dari sekolah, pembicaraan sehari-hari, bahkan identitas 'kepintaran' disematkan bagi siapa saja yang terus menerus berpikir. Berpikir bahwa ada ini dan itu. Berpikir bahwa kehidupan disana lebih baik ketimbang disini. Berpikir bahwa tanpa berpikir kita (terutama manusia, karena memang manusialah yang merasa hanya ras mereka yang berpikir) tidak akan pernah ada. Seperti yang diungkapkan oleh Descrates lewat penggalan kalimatnya yang menawan, "Kita Berpikir Maka Kita Ada". Kalimat yang begitu mempesona sehingga membuat siapa saja berlomba-lomba menghasilkan buah pikir. Bahkan blog ini juga bernama Pikiranologi karena memang alam pikir yang mempesona itu belum pernah menjadi kajian sebuah ilmu pengetahuan sehingga rasanya seru dan keren saja kalau pikiran menjadi pikiranologi jika manusia ingin belajar terstruktur, sistematis, dan masif tentang alam pikir.

Tetapi, keruwetan itu dimulai ketika manusia sendiri yang menkonstruksikan alam pikir. Pikiran yang abstrak sampai kapanpun tetap abstrak. Pikiran yang kaya imajinasi dan mudah loncat kesana kemari itu sebenarnya terlampau dangkal jika hanya diwujudkan dalam bentuk benda nyata. Bukan bermaksud skpetis tetapi bukankah semua lahir dari pikiran sehingga pada akhirnya manusia membuat nuklir karena membayangkan bahwa betapa hebatnya jika suatu wilayah yang ingin ditaklukan bisa tunduk dengan satu ledakan maut? Bukankah hasil kerja pikiran jika pada akhirnya era manusia terus berubah dan tidak pernah lelah merubah zaman hingga kita sekarang dihadapkan pada isu-isu globalisasi yang padahal pemanasan global sendiri hasil ciptaan manusia? Bukankah hasil imajinasi pula jika mereka yang tidak puas pada bentuk rupa mereka tidak hanya memperindah wajah mereka di kanvas tetapi kini berhasil menciptakan inovasi operasi plastik? Bukankan hasil kerja pikiran pula jika banyak orang hidup dalam bayang-bayang kehidupan orang lain akibat penerapan kesepakatan umum bahwa kehidupan yang membahagiakan seperti ini dan yang menderita seperti itu?

Pikiran yang begitu membius dan punya daya magis, sungguh mempesona sehingga mampu memperdaya manusia. Pikiran selalu menginginkan manusia mewujudkan apa yang dipikirkan. Pikiran tidak lagi menjadi jembatan antara manusia dengan Tuhan, tetapi menjadi alat untuk melarikan diri. Melarikan diri dari apa? Dari fakta bahwa setiap jengkal kehidupan yang dipilih manusia tidak pernah mampu membuat manusia berhenti dan puas. Pikiran yang luas dan bebas selalu mampu melarikan diri dan mampu menemukan tempat baru untuk berdiam diri. Untuk sementara. Lalu kembali lari kala pelarian menjadi hal yang menyenangkan dan membuat gairah.

Mereka mengatakan itu adalah menciptakan imajinasi. Mereka bilang melahirkan inovasi. Tetapi, apakah semua itu jika tujuan sejati dari pikiran hanyalah sebagai alat pemuas untuk melarikan diri? Melarikan diri dari kehampaan. Sebab manusia terlalu takut untuk menjadi sunyi. Perubahan zaman, perkembangan teknologi, globalisasi, dsb, adalah fakta betapa takutnya manusia. Mereka selalu ingin melarikan diri.

Jumat, 21 Agustus 2015

Sayonara Bandung


Butuh waktu 6 hari euy untuk buat tulisan lanjutan haha. Maaf felas. Bukannya saya sengaja tapi memang waktunya yang padat banget. Seminggu ini saya pergi terus untuk casting dan interview. Maklumlah namanya juga pengangguran yang lagi berusaha cari kerja hihihi. Yaudah lanjut hari kedua di Bandung.

HARI KEDUA
Hmm, hari kedua di Bandung sebenernya sebentar banget! Karena dari pagi kita ngabisin waktu untuk leha-leha dan bersantai-santai di kamar hotel. Sayang bo kalau enggak dinikmati dulu hehehe. Kita leha-leha sampai jam 12 siang. Kegiatannya cuma nonton tv dan mandi. Nonton tv yang sebenernya bisa dilakukan di rumah entah kenapa kalau nontonnya di hotel jadi beda rasanya ahaha. Untuk sarapan, fasilitas hotelnya bener-bener enggak banget. Kalau biasanya makan di hotel kita datengin kafetarianya, ini pihak hotel yang anterin makanannya ke kamar tamu. Parah banget. Kayak hotel jaman baheula aja! Udah gitu sarapannya cuma nasi goreng kebanyakan kecap. Rasanya manis banget. Kata mama dan kakak saya sih enek, gak enak! Tapi, berhubung mah saya rakus, kata saya enak-enak aja hahaha.

Sambil makan kita juga nonton tv. Mama balik molor sampai jam 11 huaaahh. Kita check-out dari hotel jam setengah satu siang. Entah mau kemana, biarkan kaki melangkah aja hahaha. Tapi, kakak saya bilang pengen ke gedung sate. Katanya banyak banget makanan di daerah situ. Okelah menuju gedung sate. Kita nanya sama teteh resepsionis hotel angkotnya gimana. Teteh itu bilang naik angkot jurusan Ciroyom dari depan hotel. Yaudahlah itu kita nunggu depan hotel setengah jam. Seinget saya angkot Ciroyom itu enggak lewat depan hotel, tapi di deket jalur Cihampelas. Tapi, mama ngotot katanya lihat angkot Ciroyom disitu. Karena enggak kunjung datang juga, akhirnya kita jajan Cappuchino Cincau di warung sebelah kanan hotel. Saya tanya aja angkot Ciroyom lewat depan hotel gak. Ternyata enggak! Kita mesti jalan dulu sampai pertigaan. Kan! Mama enggak percaya sih!

Naik angkot kijang jurusan Ciroyom. Abangnya mukanya serem, saya tanya-tanya tentang Taman Jomblo dia jawab dengan jelas. Yah berarti doi enggak seserem tampangnya hahha. Tapi, betenya pas turun. Ongkos yang seharusnya 4 ribu, doi ngotot minta 5 ribu. Barulah ketahuan aslinya hiiiiihhh. Ternyata tuh abang memanfaatkan status kita sebagai turis domestik. Daripada ribut mama tambahin tuh 3 ribu perak. Huuuufftt.

Taman Lansia
Saya lupa turunnya dimana tapi yang jelas dekat pertigaan besar gitu. Kita jalan kaki menuju gedung sate dan olala langsung kelihatan Taman Lansia. Kita sendiri enggak berharap sampai ke taman ini hahaha.




Haha maaf felas. Kameranya enggak muat ambil satu gambar tulisan Taman Lansia. Harusnya ambil fotonya dari seberang. Berhubung jalanan ramai banget penuh pengendara motor dan mobil, mau nyebrang buat ambil foto doank kayaknya males banget. Jadilah gambar kepotong gini hahha. Gapapalah yah yang penting ada bukti kalau kita sampai kesini hihihi.



Kue Cubit dan Seblak Cisangkuy
Di sebelah Taman Lansia ada pasar Cisangkuy. Konon katanya banyak sekali jajanan khas Bandung disini. Ada kue cubit greentea dan seblak. Langsung aja deh kita beli semua hehee. Memang di Bekasi juga banyak yang jual kue cubit. Mama juga sering bikin seblak. Tapi, tetap aja beda rasanya kalau belinya di Bandung hehehe.


Ini dia kue cubitnya! Rasa Greentea dan Red Velvet setengah mateng yaiikkksss. Sebenernya saya sih enggak terlalu suka sama yang setengah mateng tapi berhubung bu bos (baca: kakak saya yang membiayai segala akomodasi dan jalan-jalan kita di Bandung) maunya yang setengah mateng yaudah diterima aja hahaha. Rasanya sih mirip yang original. Enggak ada rasa Greentea atau Red Velvetnya, cuma warnanya aja heboh hehe. Lagian kita juga enggak pakai topping apa-apa. Standart sih. Cuma pan ini kue cubit belinya di Bandung jadi bedalah teteup haha.






Nah di seberang tukang kue cubit ada yang jual Seblak. Ini tampang seblaknya. Rasanya? WOW enaaaakkk banget! Buatan mama emang enak tapi yang ini maknyuuusss boookk. Selain kerupuk dibasahin, seblaknya pakai variasi makaroni keriting. Jadinya tambah enak dan mengenyangkan. Cukup energi untuk jalan kaki keliling kota Bandung.

Kita makan sambil duduk-duduk di bangku dalam Taman Lansia. Disitu kita nanya-nanya soal Taman Jomblo sama tuh aa-aa. Tuh aa-aa ternyata asli Padang. Jadilah kita sebut dia Uda-Aa hahaha. Itu Uda-Aa bilang katanya Taman Jomblo dekat dari situ tapi yah jangan jalan kaki juga mesti naik angkot di dekat Gedung Sate. Terus dia juga bilang kalau mesti kudu wajib lihat Alun-Alun Kota Bandung.

Langsung kita jalan kaki menuju Gedung Sate. Disitu seperti biasa kita foto-foto dulu hehehe. Karena semuanya kepengen foto jadinya minta fotoin orang yang lagi foto-foto juga disitu hahaha.



Ini salah satu dari banyak foto kita di depan Gedung Sate. Tulisannya kepotong jadi EDUNG S/ ahahaha. Yaudah gapapalah ya yang penting bangunan gedungnya kelihatan hehehe.

Mencari Taman Jomblo
Ini adalah hal paling ngabisin waktu enggak penting! Bayangin aja kita bener-bener muterin Bandung dengan jalan kaki untuk cari taman ini! Nanya ke cewek yang lagi jalan dia bilang di bawah fly over. Kalau naik angkot putus-putus mendingan jalan kaki aja dan katanya deket tapi OMG fly overnya jauhhhhhhhhhhh bangetttttt dan kita enggak lihat tanda-tanda ada Taman Jomblo. Ini bener-bener perjuangan seorang jomblo menemukan taman tempat tinggalnya hhhuuuuaaahhh hiiikkksss. Sepanjang jalan kita tanya berbagai orang dan jawabannya sama di bawah fly over. Sampai akhirnya ketemu teteh muda dan dia bilang kalau Taman Jomblo di dekat Batos (Bandung Town Square). WHAAAATTTTSSS????!!!!! Itu sih Taman Pasupati yang kemarin kita datengin! Yang kotor banget tempatnya! HAHAHHAHAHAHA. Jadi itu Taman Jomblo? Pantes aja jomblo wong nongkrongnya disitu :P

Menuju Alun-Alun Kota Bandung
Perjuangan mencari Taman Jomblo yang ternyata Taman Pasupati benar-benar melelahkan. Kita jalan kaki berkilo-kilo demi taman yang kita udah lihat kemarin malam. Paraaahhh. Akhirnya kita langsung memutuskan naik angkot Kalapa-Ledeng diperempatan dan menuju Alun-Alun. Katanya Alun-Alun Bandung ini pusatnya Kota Bandung. Jantungnya Bandung. Kita buktikan sajalah.

Muter-muter akhrinya sampailah kita di terminal Kalapa. Ternyata mesti jalan kaki lagi dari terminal Kalapa menuju sebuah Masjid gede banget yang kelihatan dari terminal. Dibalik Masjid itulah Alun-Alun Kota Bandung menunggu kita. Gila bener ternyata jauh bangeeeettt jarak dari terminal ke Alun-Alun. Kita yang udah kecapean habis mesti beli air minum dulu dan beli cimol buat sekedar nyemil. Sayangnya cimolnya alot pisan. Bukan cimol itu sih tapi karet masuk frezeer hehehe.

Tapi, semua rasa lelah itu terbayarkan setelah melihat Alun-Alun Kota Bandung WOW banget!



Keren banget! Alun-Alunnya luas banget dan semua warga Bandung kayaknya tumpah ruah bersantai duduk-duduk di hamparan rumput sintetis. Seru banget! Nyesel kenapa kita enggak kesini dari kemaren. Dan di ruang bawah tanah terdapat kuliner kayak Batagor Kuah dan Mie Kocok. Rasanya hmmmm. Enggak enak hahaha.






Tempat Syuting Preman Pensiun
Kita baru tahu, alun-alun itu ternyata dekat Jl. Asia Afrika. Ih beneran deh nyesel banget enggak kesini duluan.


Kita di sini sebentar doank. Berhubung hari sudah sore banget dan kita mau beli oleh-oleh di Prima Rasa. Nunggu angkot disitu lama juga akhirnya memutuskan naik angkot sampai depan Prima Rasa. Sempet nyesek juga enggak coba bus tingkat. Konon bus tingkat di Bandung itu sering muncul di setiap episode Preman Pensiun dan kita enggak kepikiran untuk cari bus tingkat selama di Bandung. Jadi waktu bus tingkat lewat di jalan Asia Afrika waktu kita nunggu taksi mau ke Prima Rasa, kita cuma bisa dadahin doank bus tingkat itu, hiikkksss.

Dua hari di Bandung dengan segala rute tanpa rencana. Yah memang bukan pergi yang mendadak banget tapi memang kita enggak susun sama sekali rute mana aja yang akan kita datangi, atau tempat wisata apa aja di Bandung yang bakal kita lihat, bahkan kita enggak susun sama sekali jadwal kuliner, tapi semuanya terasa seru banget. Memang mungkin kalau sesuatu hal enggak di rencanakan terlalu muluk-muluk malah prosesnya lebih mengasyikan sebab semuanya tanpa ekspektasi. Kita hanya menjalani apa yang ada di depan mata kita. Atau mungkin bukan sekedar menikmati perjalanan tanpa rencana, tetapi karena daya tarik Bandung dengan segala pesonanya yang mampu membuat perjalanan tanpa arahpun terasa lebih bermakna. :) Sayonara Bandung.



Sabtu, 15 Agustus 2015

Punteun, Bandung!


Hello Readerrr,,,

Saya harus menulis di blog cepat-cepat karena kalau tunda waktu lagi malahan males posting kayak kejadian setahun lalu waktu jalan-jalan ke Blitar dan Malang hehe.

Hari kamis kemarin, saya dari Bandung euy.. Memang cuma Bandung, dari Bekasi kalau naik bus perjalanan hanya 2 jam. Lagian untuk apa di tulis di blog toh banyak juga blogger yang sudah tulis tentang Bandung dan sederet wisata alam dan kulinernya. Tapi, namanya juga kepengen jadi travel blogger jadi sah-sah donk tulisan saya hehe.

Biasanya kalian kalau ke Bandung naik apa? Kebanyakan orang pasti naik kendaran pribadi bisa mobil atau motor enggak mungkin juga helikopter. Seandainya naik transportasi umum juga pasti di Bandungnya sewa mobil atau motor. Ya enggak? Biar lebih gampang dan cepat kemana-kemana kan? Nah, kalau saya kemarin turun-naik angkot! Hehe. Maklumlah yang jalan-jalan hanya saya, mama, dan kakak saya. Salah satu dari kami enggak ada yang lancar nyetir mobil dan kami juga enggak kepikiran untuk sewa motor. Selain karena saya enggak punya SIM dan SIM kakak saya sudah kadaluarsa, kami pikir juga untuk apa sewa motor. Lebih enak naik angkot karena selain enggak beban jagain motor yang di sewa, kami juga jadi bisa sekalian hafal kota Bandung. Lagipula, asal tahu saja guys, selain Bandung itu punya banyak sekali tempat wisata yang kece dan kuliner yang enak-enak atau taman-taman tematik karya Kang Emil, Bandung juga (menurut kami) adalah kota angkot! Yap. Bandung punya banyak sekali angkot untuk berbagai jurusan dan tersedia dimana-mana. Belum lagi rata-rata tukang angkotnya ramah-ramah dan akan kasih tahu dengan jujur lokasi tujuan kita tanpa bikin kita kesasar atau muter-muterin biar tarifnya lebih mahal. Tarif angkot di Bandung itu mulai 2,000 rupiah kalau deket banget hingga 4,000 kalau jauh. Ada juga sih sopir angkot yang bandel dan ngotot minta 5,000 rupiah karena tahu kalau kita itu turis domestik. Tapi, dibandingkan dengan jumlah sopir yang nakal, kebanyakan yang baiknya. Okelah daripada cerita tentang sopir angkot mendingan langsung aja saya cerita panjang lebar perjalanan saya ke Bandung.


HARI PERTAMA

Menuju Bandung dengan Argo Parahiyangan
Naik kereta api tut-tut-tut. Siapa yang suka naik kereta? Hayo ngacung! Saya salah satunya. Transportasi publik yang satu ini memang yang paling seru menurut saya. Selain lebih cepat sampai, kereta kesannya lebih keren. Gimana enggak keren kalau semua kendaraan suruh berhenti kalau kereta lewat. Terhormat banget enggak sih? Hahaha. Tapi, bukan karena saya dan mama suka naik kereta makanya kita pilih berangkat naik kereta. Melainkan naik kereta menuju Bandung itu suasananya wow banget. Kalau kalian beruntung dapet tempat duduk di sebelah kanan dan dekat jendela kalian pasti akan melihat jurang-jurang tinggi yang menjalur jalur kereta. Wuiihhh cadas pokoknya.

Kami berangkat dari stasiun Bekasi pukul 05.26 WIB. Cukup heboh juga hehe. Soalnya kita bertiga enggak bisa tidur semalaman dan saya baru bisa benar-benar merem sekitar pukul 01 dini hari. Itupun berasa baru merem eh harus matiin alarm jam 04 pagi. Langsung ngebut mandi dan pakai baju. Lalu ayah anterin kami bertiga menuju stasiun pukul 04.45 WIB. Hanya 10 menit langsung sampai stasiun karena memang masih pagi dan belum macet walaupun sudah ramai (karena hari kamis, banyak pekerja kantoran yang sudah berangkat kerja. HUUUFFTT jadi inget masa lalu).

Kereta Argo Parahiyangan berangkat dari Stasiun Gambir pukul 05.00 WIB dan sampai di Stasiun Bekasi pukul 05.26 WIB lewat dikit. Yah, enggak apa-apa lah masih saya maklumin. Namanya Indonesia, telat dikit masih dianggap on-time hehe. Setelah kereta datang, kita langsung menuju gerbong 2. Berhubung kita pergi bertiga, satu orang harus duduk terpisah. Saya enggak tega kalau kakak atau mama yang duduk terpisah jadi lebih baik saya saja. Saya berharap dalam hati semoga bangku sebelah saya itu kosong. Atau kalaupun ada penghuninya semoga saja dia cowok ganteng, kece, masih muda, baik, pintar, lho? Mau cari pasangan hidup mbak? Hahahaha. Tapi, Tuhan berkendak lain. Sebelah saya itu Ahmad Albar! WOW keren donk! HAHAHA. Bukan Ahmad Albar beneran tauk. Tapi, opa-opa tuwir yang mukanya sekilas mirip Ahmad Albar. HHHUUUFFFTTTT. Kalau Ahmad Albar beneran sih enak bisa selfie sekalian. Lah ini... Enggak mungkin kan saya selfie sama opa-opa tua bukan artis atau politisi. Ntar malahan disangka doyan bandot. Udah gitu yang makin bete adalah si opa Ahmad Albar KW ini duduknya dekat jendela dan dia enggak menikmati jalanan. Boro-boro ngeliatin jendela, doi malah tidur sepanjang jalan. Harusnya dia bilang kek tukeran tempat duduk sama saya. Enggak lihat apa muka saya masih haus akan petualangan hidup. Ceelah *kibas ekor*.

Jadi, sepanjang jalan saya kurang nyaman banget, enggak bisa berkutik kemana-mana. Padahal pengen banget videoin pas kereta lewat jurang-jurang. Keren banget! Saya ngebayangin gimana buatnya jalur kereta melintasi jurang-jurang dari satu bukit ke bukit lainnya. Semua dibuat waktu penjajahan Belanda. Memang sih, kita harus terima kasih Belanda pernah menjajah kita karena banyak banget peninggalan Belanda yang masih dimanfaatkan kita sampai sekarang, tapi kalau ingat bagaimana rakyat Indonesia harus sengsara melakukan kerja Rodi. Huftttt rasanya pengen nangis. Jangankan diingat nama mereka dalam buku Sejarah, terkadang kita rakyat Indonesia suka lupa dan tidak merawat peninggalan hasil kerja para pekerja Rodi itu dengan baik. Generasi sekarang malah suka nyampah dan corat-coret tembok. Jadi, terima kasih untuk para pekerja Rodi yang berjasa membangun jalur kereta menuju Bandung ini. Semoga kalian mendapat tempat terbaik. AMIN. Saya kebagian lihat sebentar-sebentar tuh jurang lewat jendela karena si opa Ahmad Albar KW kayak kegeeran waktu saya lihat jendela. Dia pikir lagi ngeliatin dia kali. DIH!

Daripada bete terus mending kita tinjau si kereta Argo Parahiyangan. Untuk kebersihan dan kursi masih nyaman kereta menuju Bandung ketimbang kereta Gajayana waktu saya pulang dari Malang setahun lalu. Kursinya dari kulit sintesis jadinya dibersihinnya lebih gampang. Kalau Gajayana, buseeeeennggg. Bangkunya busa biasa dan kayaknya enggak dibersihin jadinya bau pesing. Ueekkk. Benar-benar enggak worth it dengan harga tiket hampir 500 ribu rupiah. Argo Parahiyangan harga tiketnya 100 ribu. Memang hanya duduk 3 jam saja di kereta, tapi 100 ribu itu worth it banget buat sampai tujuan tanpa pegel-pegel badan (karena kalau naik bus kelamaan atau naik mobil pribadi, saya sendiri suka pegel-pegel), apalagi kalau kalian beruntung dapat di bangku dekat jendela di sebelah kanan. Bakalan puas deh nikmatin pemandangan.


Kami sampai di Stasiun Bandung sekitar pukul 09.00 WIB. Bukannya senang akhirnya sampai tapi kita malah bingung hahaha. Kita sama sekali enggak siapin apa-apa. Bahkan kita enggak tahu mau nginep di hotel mana dan jalan-jalan kemana. Kalau biasanya ke Bandung tinggal duduk manis, sekarang kita harus ngubek-ngubek sendiri rute perjalanannya. Olala. Mau tanya-tanya takut kayak katro banget, masa Bandung doank enggak ngerti hahaha. Akhirnya kita memutuskan ke Paris Van Java. Kenapa? Karena itu mall dan kita perlu makan sebelum jalan-jalan seharian. Makan di mall lebih aman sebelum berburu kuliner di penjuru Bandung. Jadi cusss lah kita keluar stasiun. Tapi, lalu kita bingung lagi. PVJ itu di daerah Sukajadi dan kita enggak tahu harus naik apa hahaha. Kita mulai deh nanya-nanya. Mulai saat itu kita jadi seneng tanya-tanya selama di Bandung. Soalnya orang Bandung kalau di tanya jawabnya rinci dan jelas. Mereka juga enggak kepo kita berasal darimana, mereka hanya jawab sesuai pertanyaan kita.

 
Muter-Muter Bandung dengan Angkot
Dari Stasiun Bandung menuju PVJ kita naik angkot Kalapa-Sukajadi warna biru keunguan campur hijau. Nah, ini salah satu kelebihan dari Bandung yang lainnya. Angkot di Bandung gampang banget dihafalin. Enggak pakai nomor tapi pakai warna, minimal dua warna, ada juga beberapa yang tiga warna. Tulisan rutenya juga jelas terpampang di kaca depan. Jauh banget sama angkot di kota Malang. Maaf bukannya menjelek-jelekkan. Tapi, bener-bener naik angkot di Malang itu malang banget. Turis mesti kudu wajib hafalin kode Akronim tujuan kayak AMD, AG, GA, LDR, DL, LD, dan sederet akronim lainnya. Itu diperparah dengan akronim yang sama rutenya beda. Kayak contohnya yang saya ingat waktu kita nginep di Hotel Amaris menuju mall kita naik angkot AG. Ehhhh pas balik menuju hotel kita harusnya bukan naik angkot AG lagi tapi beberapa angkot beda dan malah berakhir nyasar hahaha. Parah pokoknya.

Setelah muter-muter PVJ, foto-foto (pastinya) dan makan siang di Tawan (as always) kita cus lagi mulai mencari hotel. Sebelum sampai PVJ kita sempat lihat-lihat hotel di daerah Sukajadi. Kalau budgetnya sekitar gope sih sudah pasti dapat hotel. Berhubung kita enggak niat ngabisin duit untuk nginep semalem doank di hotel keren, kita harus cari hotel murah meriah yang masih layak dihuni. Kisaran 300 ribu kebawah kalau bisa 100 ribu hahaha. Setelah jalan kaki ke atas, kita lihat ada hotel SUKAJADI. Hotelnya klasik, khas Indonesia jaman baheula. Kirain harganya jadul juga tapi taunya mehong. Yang standart aja 520 ribu semalam dan pakai acara ada undian bla-bla-bla. Pusing dah pala belbi. Kita keluar lagi dari hotel dan jalan kaki lagi. Panas, bawa-bawa tas ransel, rasanya pengen pingsan aja di jalan. Kita jalan terus sampai pertigaan dan tetap tidak menemukan hotel. Mama nyesel, harusnya nginep di Pasir Kaliki di dekat stasiun. Banyak terdapat hotel disana dan aksesnya juga mudah. Entah kenapa tadi enggak kepikiran. Pas naik angkot ke PVJ baru lihat kalau banyak hotel. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Kita fokusnya satu, cari hotel yang gampang kemana-mana terutama langsung ke Lewipanjang karena pulangnya kita mau naik bus Primajasa. Kakak saya sambil browsing dan lihat hotel murah di traveloka di daerah Cihampelas. Akhirnya daripada garing di jalan langsunglah kita memutuskan untuk pergi kesana. Naik angkot Sukajadi-Kalapa lagi. Angkot muter-muter dan sampailah kita di daerah Cihampelas. Disana banyak banget hotel. Kisaran harganya juga yang kita mau dibawah 300 ribu. Tapi, bentuk hotelnya alamaakkk. Ada yang kayak labirin muter-muter, ada yang engap kayak kos-kosan, pokoknya kita enggak sreg-lah. Bener-bener udah putus asa dan saya sempet ngusulin kita balik lagi aja ke Bekasi malam hari itu juga. Tapi, kakak saya enggak nyerah akhirnya memutuskan balik lagi ke jalan Sederhana rencana mau nginep di hotel Ardan berhubung lihat di traveloka harganya kamarnya cuma 270 ribu. Pas naik angkot menuju Cihampelas tadi kita lihat hotel Ardan tapi karena lokasinya dekat pasar jadinya males. Sekarang sudah enggak ada pilihan lagi, enggak apalah lokasi dekat pasar kalau memang harganya bersahabat. Akhirnya kita naik angkot lagi, lupa jurusannya apa. Tapi, ternyata enggak usah naik angkot kayaknya bisa. Wong ternyata di belakangnya rumah sakit Hasan Sadikin di deket Cihampelas juga. Deket sih tapi jalan kaki lumayan gempor apalagi siang-siang dan bawa barang. Soalnya kalau naik angkot muternya jauh karena Bandung itu kebanyakan satu jalur.

Hotel Ardan mirip Amaris. Minimalis desainnya, modern-lah. Tapi, toeeeeng pas tanya harganya hampir gope. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Kalau nginep di hotel mahal paling tidurnya sebentar. Enggak bakalan puas di hotel. Sayanggggg hahaha. Otak kita yang sudah terbiasa kalkulasi untung-rugi memutuskan untuk batal milih hotel Ardan. BATAL sodara-sodara dan kita keluar dari hotel dengan lunglai, letih, lesu, kangen tempat tidur. Lagi bingung-bingung tiba-tiba kakak saya lihat di seberang ada hotel Arwiga. Sederhana depannya tapi siapa tahu harganya oke. Dan benar. Kamar standart, satu tempat tidur gede, tv, AC, air panas, wifi, dan dapat breakfast, harganya 350 ribu. Ketimbang hotel-hotel di Cihampelas yang kasih tarif 195 ribu tapi enggak pakai AC, gak ada air panas, tv cembung, enggak dapet makan pagi, Arwiga okelah. Daripada kita pingsan mending tambah 50 ribu hehehe.


Di kamar hotel langsung mandi tapi ternyata air panasnya kurang yahut. Kita juga cuma dapet air minum di teko. Dikit banget lagi airnya paling buat dua gelas doank. Parah. Bedalah yah sama Amaris yang galon minuman di lorong-lorong jadi bisa isi ulang. Koneksi wifi-nya juga payah. Saya tetap pakai kuota sendiri selama disana. Untungnya tvnya layar datar dan tadinya sempet panik enggak ada ANTV karena enggak mau ketinggalan nonton Shehrazat hahaha, tapi tahunya ada di channel 68.

Taman Pasupati dan Taman Film
Setelah leha-leha di kamar hotel, jam lima sore kita langsung keluar hotel. Jalanan Bandung masih ramai tapi udaranya adem dan anginnya sepoi-sepoi. Masih enggak tahu tujuannya kemana tapi yang jelas saya bilang saya pengen lihat taman tematik yang di buat Kang Emil. Konon taman-taman tematik itu menjadi gagasan Kang Emil untuk membangkitkan semangat warga Bandung bersantai-santai di luar ruangan. Area publik di Indonesia hal yang susah sekali di dapat. Padahal sebuah negara sehat harus memiliki banyak area publik. Jadi, mari kita buktikan sekeren apa taman tematik milik Kang Emil.


Dari depan hotel Arwiga kita naik angkot Sukajadi-Kalapa turun di pasar bunga Wastu Kencana. Di halte depan pasar bunga naik angkot Cisitu-Tegallega warna ungu garis hijau. Lalu turun di Batos (Bandung Town Square) dan nyebrang ke arah tulisan gede banget TAMAN PASUPATI. Taman pertama yang kita lihat dan sama sekali enggak kayak taman. Maaf, bukannya gimana tapi lokasinya di bawah fly-over dan kotor banget. Jauh dari kata bersih. Kebanyakan yang duduk disitu juga pedagang asongan. Ada beberapa anak skateboard yang main disana. Sama sekali enggak nyaman kalau duduk-duduk disini. Berhubung pas tadi di jalan dan tanya-tanya orang lokasi Taman Film dimana, mereka bilangnya disini, kita cari-cari deh tuh layar gede yang tayangin film. Anehnya sejauh mata memandang hanya ada sampah, sampah, dan sampah. Bener-bener kotor dan serem karena banyak orang-orang berwajah sangar yang nongkrong disana. Mereka sih enggak jahatin kita cuma sudah ke sugesti aja dengan penampilan mereka yang nakutin.



Setelah jalan terus, barulah kelihatan tuh TAMAN FILM yang selama ini dibicarakan di tv dan jadi gebrakan Kang Emil. Tamannya lumayan okelah walau ukurannya enggak gede kayak waktu saya lihat di tv. Layar tv disitu gedeeeee dengan audio sound-nya yang cukup keras. Rumput sintetisnya juga keren, tapi saya enggak jamin itu bersih atau enggak. Walaupun kalau mau duduk-duduk disitu mesti lepas alas kaki, tetap saja lokasinya yang dibawah fly-over dan keadaan sekitarnya kotor. Kami sebentar disana enggak nunggu film di putar karena sejujurnya kecewa dengan promosi yang gede-gedean soal Taman Film. Tapi, kami sempet foto-foto sebelum pergi. Lumayan buat kenang-kenangan.



Surabi Bandung Warung Setiabudi
Setelah meninggalkan taman-taman, kita menuju Batos lagi karena di Batos banyak sekali angkot yang berhenti disana. Bingung mau kemana tapi kakak saya kepengen makan Surabi di pernah dia makan waktu ke Bandung, tapi biasalah lupa namanya dan lokasinya dimana hahaha. Setelah bbman sama temennya, kakak saya bilang surabi yang super enak itu lokasinya di Ledeng. Seperti biasanya kita tanya ke seorang sekuriti mall Batos menuju Ledeng gimana caranya. Ternyata ada banyak sekali angkot menuju Ledeng yang lewat. Warnanya hijau. Saya lupa rutenya apa pokoknya ada tulisan Ledeng. Perjalanannya lumayan jauh. Melewati pohon-pohon gede kayak di Bogor. Setelah cukup lama dan enggak nyampe-nyampe akhirnya mama bilang mau turun di tempat Surabi ke abang angkotnya. Dia bilang masih jauh, warung surabinya di Setiabudi. OOOOHHHH SETIABUDI. Ngomong donk, kalau Setiabudi juga saya tahu hahaha.

Abang angkot berhenti pas banget di depan warung surabi. Hmmm nyam nyam nyam. Sudah ngiler banget pengen cepetan cobain. Para pekerja yang bikin surabi sibuk di bagian depan warung. Banyak batu bara dan cetakan surabi yang di bakar diatas batu bara. Kayaknya enak semua. Kita kayak orang kelaparan dan pesen 4 macam Surabi walaupun Cuma bertiga hahaha. Surabi Krabby Patty (isinya ayam filet, telor, kornet, keju, ini superrrr enaaakkkk), Surabi Keju Susu, Surabi Oncom Keju Mayonese, dan Surabi Buah (juice Nanas, Strawberry, dan Mangga disiramin ke Surabinya. Ini yang paling kurang enak. Nyesel pesen yang ini L). Alamaaaakkkkk ini surabi TOP deh!!! Sumpah enggak nyesel jauh-jauh ke Bandung kalau cobain surabi disini. Kalau perutnya muat kepengennya pesen lagi tapi apa daya, makan yang Krabby Patty aja udah pegah hahahaha. Pokoknya kalau ke Bandung mesti kudu wajib dateng kesini!

Jalan-Jalan di Sekitar Cihampelas
Selesai makan surabi, waktu menunjukkan pukul delapan malam. Masih terlalu sore untuk balik ke hotel tapi terlalu malam kalau naik-turun angkot. Kakak dan mama saya maunya langsung tidur ke hotel tapi saya bilang ngapain di Bandung kalau hanya balik ke hotel jam delapan malam. Lagipula jalan masih ramai, banyak orang wara-wiri. Sayang kalau kita cuma tidur di hotel. Kita nyebrang dari warung surabi dan nyetop angkot kijang jurusan Margahayu-Ledeng. Sekali naik langsung lewat depan hotel. Sempet ngobrol-ngobrol sama abangnya, abangnya baik juga. Dia orang Madiun merantau ke Bandung sempat jadi sopir angkot di Bekasi dan Jakarta. Dia juga sempat nawarin carteran dan mama minta nomer hapenya. Hahaha dasar mama kerjanya minta nomer hape orang tapi nanti PHP-in enggak jadi carter.

Perjalanan pulang lebih singkat dari berangkat. Tiba-tiba aja udah sampai di seberang hotel. Olala. Masih jam delapan lewat akhirnya mama setuju kita ke Cihampelas aja sekedar ngelemesin kaki (lemes apanya, seharian jalan kaki booo hahaha). Abang angkotnya langsung cusssss menuju Cihampelas. Munculnya di pertigaan sebelah kanannya hotel Aston dan Fave Hotel. Kita bertiga kaget. Ternyata lokasi hotel Aston dan Fave di sekitar Cihampelas. Perasaan pas siang lagi muter-muter pusing cari hotel di sekitar Cihampelas, enggak nemu dua hotel itu. Kenapa sekarang jadi mejeng gede banget. Jadi ngiler pindah hotel hahaha. Abang angkotnya bilang kalau baliknya mending jalan kaki aja ke hotel daripada naik angkot lagi malahan muter. Jalan kaki patokannya gang gede di deket hotel Fave. Okelah abang hehehe.

Di Cihampelas seperti kebanyakan wisatawan kita cuma muter-muter lihat-lihat hehehe. Lagian mau beli apaan. Kaos udah banyak, aksesoris sama aja kayak di pasar asemka, paling beli es duren tapi berhubung masih kenyang gara-gara makan surabi jadi males beli es duren. Akhirnya kita jalan ke Ciwalk atau Cihampelas Walk untuk membakar lemak hahaha. Enggak ketinggalan pastinya foto-foto (as always) hahaha. Mama udah kecapean berat akhirnya memutuskan untuk balik ke hotel. Dan karena saya bersikeras mau jalan kaki aja, mama dan kakak ngikutin aja hahaha. Kasihan padahal mereka kayaknya udah kecapean banget apalagi mama udah gontai. Tapi, berhubung tadi saya lihat kayaknya deket banget dari hotel ke Cihampelas jadi tancap brooo.

Dan benar aja kata mama, ternyata lumayan jauh euy hahaha. Pokoknya ke arah kanan terus dan belok kanan sampai ujung setelah lampu merah. Buat saya yang memang hobi jalan kaki sih segitu kecil. Apalagi kalau niat jadi backpacker sejati harus modal betis tales bogor alias betis gede akibat keseringan jalan kaki hahaha. Betis tales bogor biasanya kuat menghadapi marabahaya dan rintangan hahahaha.

Jalan kaki sekitar 30 menit dan sampai pukul 9 lewat sedikit. Huuufftt hari pertama di Bandung asyik dan melelahkan. Ditutup dengan nonton Shehrazat dan Abad Kejayaan hahaha (mama mah udah ngorok kayak apaan tau hahaha).






Bersambung ke posting selanjutnya....