Selasa, 31 Maret 2015

Senyum Soraya

“Serius deh mas, kamu tuh aneh. Aku sedang mengurangi lobha, tapi kamu malah ngehasut aku buat melanggar komitmen aku sendiri,” kata Soraya tertawa sambil menjilati es krimnya.

“Yah, manusia itu kan perlu makan. Kecuali kalau kamu sudah hidup jadi pertapa. Kegiatan hidup kamu sedikit, enggak banyak energi yang keluar. Kamu bolehlah makan sehari sekali,” sahut aku tidak mau kalah.

“Itu namanya mencari pembenaran, mas. Memangnya mengurangi keserakahan hanya dimulai kalau aku jadi pertapa? Lagian apa kegiatan aku hari ini? Cuma nemenin kamu kerja lalu nonton bioskop. Bukan kegiatan yang mengeluarkan banyak energi,” jawab Soraya.

“Nyatanya kamu bisa dihasut kan? Berarti niat kamu yang enggak kuat juga,” sahut aku sambil tertawa.

Soraya nyengir lebar sambil terus menjilati es krim blueberry-nya. Disampingnya, aku berjalan ingin mengenggam tangannya. Namun, ku urungkan niatku.

Sudah beberapa bulan berlalu tapi aku merasa telah mengenalnya begitu lama. Sangat lama hingga aku tahu setiap detak nafasnya. Aku tahu setiap jengkal pandangan hidupnya. Aku merasa setiap bagian dari dirinya adalah diriku. Kami sama, sangat serupa. Dalam soal melihat dunia, juga cara menghadapinya. Aku merasa dia adalah bagian inti dunia yang selama ini aku ingin temui. Aku tahu dialah yang aku cari. Dia bagian kosmis alam semesta yang lahir karena kekuatan karma. Dia, Soraya, gadis tercantik yang merekah bagai kembang di musim semi.

Perjumpaan kami tidak disengaja. Mungkin itulah yang namanya takdir. Semuanya cepat dan tiba-tiba saja kami saling cocok. Dia banyak berceloteh tentang semua hal. Tidak pernah sedikitpun luput dari pengamatannya. Termasuk mengingatkan aku untuk berkata ‘terima kasih’ pada penjaga toll, mengkritik orang tua yang membiarkan anak mereka menyiksa binatang, atau bahkan selalu bersyukur meskipun habis kecopetan.

Soraya itu beda dalam menatap isi dunia. Ia tidak pernah takut dengan apapun. Ia selalu berkata bahwa kalau memang ia benar, ia tidak akan takut. Keberanian yang terkesan tidak santun itu yang membuatnya menjadi gadis yang menarik perhatian. Dimana ada Soraya, disitulah magnet Bumi berada. Bukan karena kecantikannya. Bukan. Banyak orang cantik di dunia ini. Baik berkah alami kelahiran, maupun buatan para ilmuan. Soraya cantik tapi bukan cantik dalam kelas duniawi. Kecantikannya terpancar dari auranya yang menawan. Hal itu karena diimbangi dengan kecerdasannya. Soraya punya kemampuan untuk mengkritisi semua hal, protes pada apapun yang tampak menyimpang dari kebenaran. Ia pandai menjawab juga pandai bertanya.

Pencarianku sudah lama. Hidupku terlalu berwarna. Bertemu dengan banyak wanita, mengenal mereka, dan berusaha mencari yang setara dalam menjalani hidup yang fana. Aku sempat putus asa. Bagaimana mungkin aku bisa menciptakan gadis sesuai keinginanku? Memangnya aku siapa? Aku hanya manusia biasa. Meski banyak yang mengatakan aku menuntut pasangan sempurna. Aku meyakinkan kepada mereka semua, yang aku mau hanya keseimbangan. Bukan mencari untuk melengkapi kekurangan, aku ingin pasangan hidup yang sejalan.

Itu semua terwujud dalam sosok Soraya. Aku yakin benar, bukan hanya dikehidupan ini kami berjumpa. Dia adalah teman seperjalananku dalam arus kelahiran yang berulang. Hanya saja yang tidak aku pahami, kenapa kelahiran kami terpisah dalam rentang waktu yang begitu jauh? Disaat aku sudah selesai mencicipi hingar bingar dunia, Soraya, gadisku yang mempesona baru menginjakkan kakinya. Ia memang bukan wanita hedonis, tetapi ambisinya dan semangatnya yang meledak-ledak akan dunianya membuat aku tahu diri.

Ia selalu mengatakan ia tidak mau menikah. Pernikahan bukan tujuan hidupnya. Pernikahan hanya akan menambah masalah baru dalam hidup yang sudah penuh derita. Pernikahan adalah belenggu yang menyeret dirinya untuk terlibat lebih jauh pada keterikatan tanpa akhir. Menikah, memiliki anak, menjalani hidup berumah tangga, memikirkannya saja sudah membuat ia sakit kepala. Bukan berarti Soraya penganut paham kebebasan. Moralnya tidak perlu diragukan. Ia memang bukan orang suci, tapi sebisa mungkin ia tidak lagi menambah dosa yang disengaja.

Pertentangannya pada pernikahan yang membuatku jadi ragu untuk mengatakan padanya. Aku sangat ingin meminangnya. Menjadikan ia wanita penting dalam hidupku. Akan tetapi, perbedaan usia, penolakannya pada pernikahan, dan sikap cueknya setiap kali aku menyentuh tangannya, membuatku jadi bingung sendiri. Soraya seakan tidak punya cinta semacam itu. Cintanya ia berikan untuk segala hal di dunia, tetapi bukan untuk seseorang saja, untuk aku misalnya.

Sambil menyusuri jalanan menuju tempat parkiran di seberang, kami melewati gang besar diantara dua gedung raksasa. Suasananya begitu mendukung. Cahaya remang-remang, angin sepoi-sepoi, dan kesunyian membuat semakin intim. Aku harus mengatakannya. Entah dimulai darimana. Aku menarik nafasku panjang-panjang. Lalu aku menghentikan langkahku dan menghadapinya.

“Soraya, aku mau tahu,” kataku nyaris tercekat, “selama ini kamu menganggap aku apa?”

Soraya memandangku, terkejut ditanyai pertanyaan bodoh macam begitu.

“Maksudnya?”

Aku menarik nafas lagi, “iya, kamu anggap hubungan kita itu apa? Kita sering pergi malam mingguan berdua aja. Kamu sering main ke kantor aku. Aku selalu gandeng kamu kemana-mana. Apa itu semua cukup untuk membuat kamu paham apa yang aku rasakan?”

Soraya mengernyit. Aku yakin benar ia setengah kesal di berondong pernyataan menggelikan seperti itu. Tapi, aku tidak mau tinggal diam lagi sekarang. Aku harus mengatakan padanya semua isi hatiku.

“Oh, soal itu. Aku anggap kamu masku,” sahut Soraya berusaha santai.

“Mas? Mas seperti apa? Hanya sebatas kakak laki-laki kamu?” kataku tak berdaya.

Soraya diam menatapku, setelah lama menatapku, ia hanya menjawab, “entahlah.”
Aku benar-benar sudah tidak sabar lagi. Sikap tak acuh yang selalu ia tunjukkan kala kami berbicara soal hubungan, kembali lagi. Soraya seakan ingin lari dari diriku sekarang.

“Soraya. Dengar. Kamu tahu usia aku sudah tidak muda lagi, bukan?” kataku berusaha menahan gemetar, “aku dekat dengan wanita dan itu artinya aku tidak ingin main-main. Aku ingin serius. Aku ingin serius sama kamu. Aku ingin menikahi kamu!”

Aku menahan jerit dalam suaraku. Astaga! Akhirnya aku mengatakannya?! Ya, Tuhan.

Soraya memandangku. Ia tidak menjawab, hanya terus menatap aku dengan mata bulat yang seperti bayi itu. Setelah lama menunggu untuk ditampar atau semacam itu, Soraya buka suara.

“Mas, kenapa kamu mau nikah sama aku?”

“Karena aku cinta sama kamu. Kamu gadis yang aku cari selama ini.”

Soraya tertawa geli, “kamu enggak pernah cinta sama aku, mas.”

Aku mengernyit, “kenapa kamu bilang begitu?”

“Kamu hanya merasa aku layak buat kamu mas. Kamu merasa aku cantik, aku pintar, aku gadis yang selama ini kamu cari. Selama ini kamu berkelana, mencari gadis yang tepat buat kamu tapi kamu enggak nemu-nemu. Kamu merasa enggak ada wanita yang setara sama kamu, enggak ada wanita yang sesuai sama yang kamu inginkan. Kemudian, datanglah aku di hidup kamu. Dalam sudut pandang kamu, aku sesuai buat kamu,” kata Soraya tajam.

“Tapi, kamu enggak pernah cinta sama aku mas. Ini bukan cinta tapi komitmen. Kamu mau menjadikan aku isteri kamu karena menurut kamu aku pantas untuk itu,” lanjut Soraya, “aku punya banyak kekurangan, mas. Banyak sekali. Tapi, apa kamu pernah lihat itu? Apa kamu tahu itu? Kamu tidak mau tahu mas. Karena kamu hanya fokus sama kelebihan aku. Kamu sibuk memuji-muji aku. Lupa bahwa aku punya kekurangan.”

Aku terperangah mendengar kata-kata Soraya.

“Bukan begitu. Sama sekali bukan begitu. Aku cinta sama kamu makanya aku tutup mata untuk segala hal yang kurang dari kamu. Bagi aku, hanya ada kelebihan dalam diri kamu. Aku enggak peduli kekurangan kamu karena buat aku itu semua enggak penting. Cintaku yang membuat aku selalu melihat kekurangan kamu jadi kelebihan.”

Soraya tertawa mencemooh.

“Kekuranganku enggak penting? Sayangnya itulah membuat diri aku nyata mas. Kekuranganku adalah bagian dari wanita yang kamu inginkan buat jadi isteri.”

“Tapi, aku enggak peduli kekurangan kamu Soraya. Aku cinta kamu dan itu cukup untuk aku,” sahutku meyakinkannya.

“Cinta?” sahut Soraya menunduk, “cinta macam apa mas? Cinta macam begitu hanya akan membuat derita.”

Aku menatapnya, mengernyit. Belum sampai aku bertanya lebih jauh, Soraya telah mengangkat wajahnya. Matanya. Matanya yang selalu hidup dan penuh dengan semangat membara, kini tampak sendu dan nyaris berurai air mata. Soraya, gadisku yang mempesona kini tampak layu menderita.

“Aku menyerah pada cinta, mas. Aku tidak mau lagi cinta semacam itu,” kata Soraya suaranya bergetar.

“Soraya ada apa?” tanyaku bingung.

Soraya kembali menunduk, kali ini dia memandang jemarinya.

“Aku sudah pernah jatuh cinta, mas. Cintaku begitu besar. Membuatku tak berdaya. Membuat aku tergila-gila. Rasanya sungguh luar biasa. Kemudian, cinta juga membuatku terhempas tak bersisa,” kata Soraya, “aku pernah mencintai seseorang, mas. Aku begitu mencintainya hingga aku merasa dialah hidupku, dialah sel dalam diriku, dia nafasku. Aku mencintainya hingga aku rela menghabiskan waktuku hanya untuk menanti saat itu datang. Aku begitu mencintainya hingga aku berani menantang Tuhan dengan menolak semua pria yang datang untuk menggantikan tempatnya di hatiku. Aku begitu mencintainya, mas, hingga rasanya aku tidak sanggup hidup lagi jika harus melepaskannya dalam diriku.”

Aku terkejut. Sungguh. Soraya yang selama ini aku kenal begitu mandiri dan mampu berdiri sendiri, ternyata menyimpan kenangan buruk. Ia belum melangkah pergi dari masa lalunya. Berkubangan pada cintanya yang sudah mati. Mempertahankan seperti memelihara zombie. Soraya, gadisku yang malang.

“Cinta, mas. Aku hanya akan mati kalau aku mengganti dia dengan pria lain,” kata Soraya mengigil, “maafkan aku, mas. Maafkan aku.”

Aku menatapnya iba. Ingin sekali aku merengkuhnya dalam pelukku. Menghapus air matanya dan mengembalikan senyumnya. Namun, kuhapus semua keinginan itu dengan mengenggam kedua tangannya.

“Cinta, Soraya,” kataku lembut, “adalah kesempatan. Itu bukan cinta jika ia tidak memberikan kamu kesempatan. Itu bukan cinta kalau dia membiarkan kamu sekarat. Itu jelas bukan cinta kalau dia membiarkan kamu menderita. Aku tahu, kamu sudah tahu ini semua. Aku tahu kalau kamu sudah paham kalau kamu hanya cinta sendiri. Kamu tidak berharap sama sekali dia membalas apa yang kamu berikan. Cintamu begitu naif sehingga begitu luka karena keluguan kamu.”

Soraya menatapku. Wajahnya basah oleh air mata.

“Kamu tahu rasanya tidak memiliki kesempatan mencintai bukan?” kataku tersenyum, “sekarang giliran aku yang minta kesempatan itu. Aku tidak memintamu melepaskannya. Biarkan kamu tetap mencintainya jika dengan begitu kamu bisa tetap hidup. Tapi, izinkan aku membuat hidupmu lebih bermakna. Hidup bukan sekedar hidup seperti zombie. Berikan aku kesempatan yang tidak pernah kamu dapatkan dari dia. Kamu jelas lebih baik dari dirinya sehingga kamu tidak akan sekejam dia, Soraya.”


Soraya mengerjap, terkejut dengan kata-kataku. Tanpa menjawab, ia memelukku begitu erat sambil terus menangis. Dalam hati, aku takut seperti Frankenstein. Takut aku akan hidup dalam ketakutan bersama zombie. Membiarkan mayat hidup menggerogoti jiwaku selamanya.

Jumat, 27 Maret 2015

27

Apa arti angka 27 untukmu?

Apakah hanya berupa bilangan yang mengapit antara 26 dan 28? Atau hanya sebuah bilangan yang bila dibagi tiga maka hasilnya sembilan? 27 merupakan pelengkap dari sederet angka yang diajarkan oleh guru disekolah agar kita lulus pelajaran menghitung saat di sekolah dasar. 27 hanyalah angka. Salah satu angka yang disuguhkan untuk mendeskripsikan jumlah. 27 hanyalah 27?

Atau apakah 27 memiliki makna yang lebih dari sekedar simbol dari sebuah angka? Karena senyatanya 27 terdiri dari dua bilangan dua puluh dan tujuh. Kemudian dipermudah oleh aku sebagai 2 dan 7. Dua bilangan tunggal yang mewakili segalanya.

2 adalah penggambaran yang paling layak sebagai sepasang. Yin dan Yang. Lingga dan Yoni. Laki-laki dan Perempuan. Hitam dan Putih. Jahat dan Baik. Bumi dan Langit. Surga dan Neraka. Dualisme. Segala hal yang berpasangan. Dua adalah representasi dari keutuhan. Jika salah satunya menghilang, bukan lagi menjadi dua. Jika salah satunya mengajak yang lain, sudah pasti bukanlah dua. Dua adalah simbol dari kesetiaan dan kepercayaan.

Sebab cinta romansa memang sejatinya demikian. Tidak bisa sempurna tanpa saling membalas. Hanya akan menjadi duka bila cinta sendirian. Hanya akan menjadi bencana bila cinta diselewengkan. Cinta adalah dua. Tidak bisa satu atau tiga.

Dalam pencarian, cinta seringkali berkelana. Kadang terjebak dalam kepalsuan atau suatu saat menjebak dirinya sendiri dalam keyakinan yang membuta. Cinta berusaha mengartikan getaran yang menggelora jiwa sebagai kenyataan. Sehingga seringkali dalam cinta romansa penuh pengharapan. Berharap cinta diberikan tempat layak. Berharap cinta dibalas dengan caranya yang setara dalam pemberian. Berharap cinta diperlakukan adil. Harapan itulah yang membumbung cinta setinggi-tingginya sekaligus mampu menghempaskannya tanpa sisa.

Sedangkan 7 adalah yang tertinggi. Dalam kitab suci Weda, 7 berkaitan dengan Dewa Agni yang memiliki tujuh istri, ibu, atau adik serta tujuh api, balok atau lidah, dan lagu-lagu yang diperuntukkan baginya juga berjumlah tujuh. Begitu juga dengan Dewa Matahari yang memiliki tujuh kuda penarik keretanya di langit. Dalam Buddhisme, pangeran Siddharta Gautama lahir ke dunia langsung menapakan tujuh langkah agungnya. Surat Al-Fatihah juga memiliki tujuh ayat serta kalimat syahadat terdiri dari tujuh kata. Dalam kitab-kitab suci 7 merupakan kelengkapan, totalitas. Suku Maya juga percaya dengan adanya tujuh lapis langit. Bahkan sains mengatakan angka 7 adalah dasar dari akumulasi angka yang tak terhitung jumlahnya. Mulai dari 7 atom, 7 partikel terkecil, dan seterusnya.

Jika 7 adalah totalitas, maka cinta diantara 2 yang disandingkan dalam 7 seharusnya menjadi kesempurnaan. Cinta itu seharusnya menjadi simbol dari kelengkapan, saling mengisi, diantara dua pribadi bertolak belakang tetapi mampu mengilhami sebagai pelopor sejatinya cinta itu sendiri. Cinta yang dipertemukan di dalam satu kesempatan pada 27 dalam almanak Masehi, yang seharusnya sempurna, tetap bisa bercacat.

Bukan melulu soal kesetiaan. Tetapi, kepercayaan adalah harga mahal yang tak bisa ditukar. Apalah arti 2 tanpa percaya? Apalah arti 2 jika sering curiga? Cinta memang menyesakkan dada, terlebih lagi bila 2 tidak berjalan bersama. Berawal dari 2 yang melupa pada percaya, tidak akan pernah totalitas 7 tercapai.



Untuk 27 yang telah berlalu...

Jumat, 20 Maret 2015

Bitanem



Rasanya semua seperti mimpi. Baru beberapa bulan yang lalu, aku masih saja sibuk mengkhayal tentang bagaimana jadinya kalau aku benar tiba di Istanbul. Dan sekarang aku sedang berdiri di salah satu distrik bernama Şişli. Langit sudah menggelap padahal hari masih sore. Seakan mendung telah datang menemani jiwaku yang merana. Aku memandang kosong kolam air mancur yang berada di tengah jalan pedestrian di Ferikőy. Air mancur itu sama sekali tidak mengeluarkan air. Untuk apa lagipula, air mancur dinyalakan? Musim salju hanya akan membekukan air kolamnya.

Aku merapatkan coat panjang berwarna biru dongker yang baru aku beli kemarin di pasar loak. Aneh rasanya. Di Indonesia, orang hanya akan tertawa melihat penampilan seperti ini. Coat, sepatu boots setinggi betis, celana panjang berlapis-lapis, dan syal tebal yang menumpuk di leher membuat penampilanku mirip boneka salju. Tapi, lain jika berada di sebuah negara empat musim. Penampilan seperti ini malah jadi tampak keren kalau aku posting di sosial media.

Angin berhembus lembut menggelitik telingaku yang sudah nyaris kebas. Aku tidak begitu suka udara dingin. Malah kalau aku pergi liburan ke Bogor, aku bakalan kena serangan alergi gatal-gatal akibat udara dingin. Tapi, lagi-lagi semua aku lakukan. Ini mungkin yang namanya pengorbanan.

Ku lirik arlojiku. Jam tangan kulit merek FCUK yang aku beli melalui gaji pertamaku saat dulu aku bekerja. Sudah delapan tahun yang lalu dan masih tampak bagus meski aku sudah mengganti tali kulitnya yang rusak akibat kena keringat. Beberapa temanku sudah mencirikan aku dengan jam tangan ini. Ibaratnya jam tangan ini sudah menjadi nyawaku, identitasku. Di setiap foto, setiap pertemuan, aku selalu menggunakannya. Sampai-sampai sebuah belang melingkar tampak permanen di bekas jam tangan itu aku kenakan di pergelangan tangan kiriku. Begitulah aku. Aku adalah tipe orang setia. Tidak akan pernah ganti barang baru kecuali kerusakannya sudah parah. Selama masih bisa diperbaiki, pasti aku lebih memilih memperbaikinya.

Dan kesetiaan itu tidak hanya berhenti soal penggunaan barang. Kesetiaan yang terkadang menjadi sebuah kebodohan itulah yang membawaku jauh ribuan kilometer melintasi samudera dan sampai di Turki. Semua temanku terkejut ketika mendengar kabar tahu-tahu aku sudah sampai di Istanbul. Sebab aku sama sekali tidak berkicau di sosial media mengenai rencanaku untuk mencari beasiswa sampai ke negeri Ottoman. Tiba-tiba saja mereka melihat aku sudah berfoto riang gembira saat tiba di bandara. Mengejutkan, sudah pasti. Terlebih akan niat sebenarnya aku untuk sampai kesini.

Satu tahun terakhir aku berjuang mati-matian. Mengasah bahasa Inggrisku lebih dalam, belajar tentang kebudayaan Turki, mengurus tetek bengek segala kerepotan di kantor Kedutaan demi sebuah Beasiswa. Satu-satunya tiket yang dapat membawaku bertemu dengannya. Satu-satunya cara yang dapat membuatku menemuinya. Satu-satunya jalan yang harus kutempuh karena aku ingin berlama-lama dengannya. Dua tahun waktu belajar untuk program magister ditambah satu tahun untuk belajar bahasa Turki, aku rasa cukup waktu untuk bersama dengannya.

Tiba-tiba air mataku mengambang. Teringat sebelum akhirnya kami berpisah. Perpisahan bertahun lalu yang menjadi cambuk akan perjuanganku untuk sampai kesini. Pembuktian cintaku sudah luar biasa. Aku rela melakukan apa saja demi membuat ia percaya bahwa aku mencintainya. Aku mencintainya. Tanpa syarat sama sekali. Tanpa kecewa padahal ia telah melupakan janjinya untuk tetap mencintaiku. Ia, bahkan memutuskan hubungan kami tanpa berpikir dua kali. Ia pergi begitu saja. Rasa kecewanya teramat besar. Kecewa pada keraguanku. Kecewa karena aku tidak pernah percaya pada cintanya. Kecewa meski aku sudah menjelaskan alasanku tidak bisa percaya pada cintanya karena aku seorang philophobia.

Aku sudah bilang padanya aku butuh waktu. Butuh waktu untuk membuat aku percaya pada seseorang. Aku pernah ditipu oleh cinta hingga membuatku trauma. Saat itu, dia seakan memahami perihal kegundahanku. Justru malah berusaha meyakinkan aku bahwa cinta itu luar biasa. Mengajarkan aku tentang cinta. Membuat aku membuka mata bahwa di dunia ini masih ada orang yang layak aku percaya. Tapi, kesulitanku untuk belajar membuatnya menyerah. Ia lelah dan ingin pergi begitu saja. Tanpa air mata, tanpa basa-basi, ia menyudahkan hubungan kami berdua. Meninggalkan aku dan kenangan kami.

Aku mengigil. Bukan karena udara dingin, aku tahu betul. Semua karena kerinduan yang tak bisa lagi dibendung. Aku ingin memeluknya, meninju dadanya, ingin berteriak di depan wajahnya. Semua aku lakukan demi cintaku. Demi pertemuan yang mungkin hanya dinantikan olehku. Aku disini, di tempat bernama Ferikőy hanya untuk menemuinya. Air mataku sudah tumpah ruah dan aku nyaris meraung saat tiba-tiba ku dengar seseorang melangkah mendekat.

Aku terdiam. Menunggu. Benarkah itu dia?

“Priyanka?” tiba-tiba terdengar suara parau dibalik punggungku.

Lututku rasanya langsung mau copot. Itukah dia?! Pria yang selama ini hanya aku lihat via Skype? Pria yang selama ini aku pandangi lewat foto-foto konyol yang ia sering kirimkan? Pria yang suara manjanya selalu aku rindukan saat ia memanggilku ‘honey’? Benarkah itu dia?

Rasanya aku ingin tenggelam ke dalam tumpukan salju yang aku injak dibawah. Pertemuan ini telah aku nanti-nantikan selama nyaris dua tahun dan kini aku seperti sudah mati kutu hanya karena suaranya memanggil namaku? Demi Tuhan, Priyanka, kau harus bisa menghadapinya!

Aku membalikan badan sepelan mungkin. Berusaha agar aku tidak terhuyung lalu tersungkur karena kesulitan menahan gembira. Berusaha tidak bertindak bodoh dengan melompat langsung kearahnya dan memeluknya. Aku berbalik. Menghadapi sosok si pemilik suara yang memanggilku.

Dan itu benar dia.

Pria yang selama ini hanya aku kenang lewat foto-foto yang aku simpan di folder khusus di ponselku. Pria yang selama ini hanya aku bisa bayangkan di benakku. Pria yang selama ini membuat aku rindu sampai aku nyaris gila. Pria yang telah lenyap tak tahu rimbanya, tahu-tahu berdiri tegap dihadapanku sambil memasukkan tangan ke dalam sakunya. Pria itu memang nyata!

“I.. Ibrahim?” kataku gagap.

Rasanya aku ingin meledak saat ini juga. Ledakan gembira bercampur marah tak terhingga. Aku ingin menubruknya dan memeluknya erat. Ibrahim disini. Datang sesuai permintaanku. Aku tahu selama ini dia marah padaku, tapi kini dia datang. Aku yakin benar dia memang masih mencintaiku.

Aku memandangnya. Menelanjangi dirinya lewat tatapanku yang terpesona padanya. Dia tidak jauh berbeda dengan foto-fotonya. Setidaknya kini rambutnya lebih panjang, tidak cepak seperti di foto. Wajahnya sebenarnya standar saja. Standar pria Turki. Alisnya tebal dan panjang. Kelopak matanya besar dengan bola mata berwarna hazel. Hidungnya mancung dan tajam. Bibirnya merah penuh. Kulitnya sewarna zaitun, memucat karena dingin. Tapi, dari semua yang aku teliti dengan seksama, ada satu yang membuatku begitu ingin menyentuhnya. Pipinya. Pipi yang agak gemuk itu. Pipi yang selalu aku olok-olok untuk menggodanya. Pipi yang membuatku memanggilnya chubby. Pipi gemuk menggemaskan seperti bayi yang kini agak memerah. Pipi yang selama ini aku tekadkan untuk dicubit ketika pertama kali aku bertemu dengannya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Ibrahim memandangku tanpa berkedip.

Seolah ia terkejut dengan kedatanganku. Seolah ia merasa bahwa ini semua hanya mimpi. Ia memandangku lekat-lekat seperti aku memandangnya tanpa jeda. Tapi, pertanyaannya itu. Pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja aku kesini untuknya! Untuk melihatnya! Untuk membuktikan padanya kalau aku benar mencintainya! Untuk membuat dia membuka mata kalau semua yang aku katakan adalah benar adanya! Aku jadi ingin menghampirinya, memaki-maki, dan menyemburkan berbagai kemarahan padanya. Tapi, aku tidak kuasa. Siapa yang bisa mencaci-maki cinta?

Jadi, aku hanya menghampirinya meskipun jantungku sudah nyaris lompat keluar. Mengeluarkan sebuah syal tebal dari dalam tas selempangku dan memberikan padanya.

“Apa ini?” tanya Ibrahim melihat syal ditanganku.

“Hadiah ulang tahun untuk kamu. Happy Birthday, Ibrahim. Maaf aku enggak bungkus,” kataku tersenyum melihat wajahnya yang terkejut.

“Priyanka. Tidak. Kenapa kau melakukan ini semua?” tanya Ibrahim menatap mataku. Di ujungnya aku melihat ada genangan air mata.

Aku tersenyum menunduk menatap syal tebal itu, “aku membuatnya sendiri. Syal pertama yang pernah aku buat. Mungkin satu-satunya kerajinan tangan yang pernah aku buat. Warna klub favorite kamu. Fenerbahçe.”

“Iya, tapi kenapa kamu melakukan ini semua, Priyanka?” tanya Ibrahim lagi, menuntut aku dengan kebodohannya.

Aku menarik nafas, berusaha tidak berteriak di depan wajahnya, “karena hari ini adalah ulang tahun kamu. Jadi, aku kasih kado buat kamu.”

“Tapi…”

“Tolong kamu terima saja. Aku membuat ini nyaris lima bulan. Aku enggak pernah pandai untuk urusan kerajinan tangan,” kataku menatap matanya.

Saat itulah, Ibrahim mengeluarkan tangan kanan dari saku celananya. Aku langsung melihat kilatan bercahaya yang melingkar di jari manisnya. Nafasku seakan langsung berhenti. Aku tidak lagi bisa melihat apapun lagi selain cincin itu. Cincin kawin itu. Cincin yang ia kenakan di jari manisnya. Rasanya aku ingin lenyap saat ini juga. Aku ingin mati tenggelam di badai salju. Aku ingin mati. Sungguh ingin mati.

Ibrahim mengambil syal Fenerbahçe dari tanganku sambil menunggu reaksiku. Tapi, aku diam saja. Aku tetap berdiri di posisiku. Aku berusaha kuat meski lututku gemetar hebat. Air mataku tidak bisa aku tahan lagi. Benar-benar pecah tapi tanpa sesengguk karena aku menahan suaraku. Ibrahimku. Ibrahim yang aku puja, telah menikah?

“Kenapa kau tidak menungguku, Ibrahim?” tanyaku gemetar sambil terus memandang cincin di jarinya, “kenapa?! Kenapa kau tidak menungguku?!”

“Priyanka…,” kata Ibrahim lirih.

“Kenapa kau tidak menungguku, Ibrahim? Kenapa kau tidak menungguku?!” tanyaku menuntut.

“Priyanka. Aku mohon. Kita sudah putus. Hubungan kita sudah selesai hampir dua tahun lalu,” kata Ibrahim menatap aku mengiba.

Tapi, aku menggeleng keras kepala. Air mataku sudah menyapu seluruh wajahku.

“Tidak.. Tidak! Aku tidak pernah ingin hubungan kita selesai! Aku tidak pernah ingin!!! Kau yang ingin!!! Kau yang ingin pergi!!! Aku selalu mempertahankan kamu, Ibrahim! Ini cinta!”

“Tapi, kamu juga sudah memulai hubungan dengan pria lain bukan saat kita putus?” kata Ibrahim memandangku datar.

Kemarahanku sudah tak dapat di tahan lagi. Aku benar-benar murka. Begitu sepele perasaanku dimatanya. Aku mendekatkan diriku padanya. Aku tarik kerah bajunya hingga wajahnya begitu dekat denganku. Aku pandang matanya tajam-tajam. Otot wajahnya mengeras.

“Dengar, idiot! Aku mencintai kamu. Hanya cinta padamu. Laki-laki itu? Thomas? Bertrand? Mereka hanya teman chatting biasa. Aku sudah bilang padamu. Aku frustrasi. Aku depresi. Nyaris gila karena kau memutuskan hubungan denganku. Kalau memang mereka begitu spesial buat aku, untuk apa aku bilang padamu soal mereka?! HAH! Katakan padaku, apa alasanku bilang tentang mereka selain karena aku ingin kamu cemburu! AKU HANYA INGIN KAU CEMBURU LALU KEMBALI PADAKU!!!!!”

Ibrahim tertawa kecut, “caramu itu, Priyanka justru membuat aku semakin yakin untuk menjauh dari kamu.”

Aku mendelik padanya. Wajahku sudah membara. Aku ingin menampar pipi gemuk itu. Ingin dia sadar bahwa betapa aku mencintainya. Alih-alih menamparnya, aku malah melepaskan kerah bajunya dan mendorongnya keras-keras. Aku masih menangis, mungkin tidak bisa berhenti sampai kapanpun juga. Aku begitu frustrasi. Kepalaku sakit. Aku menarik keras-keras rambutku dan mengacak-acaknya sendiri. Kenapa Ibrahim begitu bodoh?

“Dengar Ibrahim. DENGAR!” kataku marah. Air mata masuk ke dalam mulutku yang berteriak, “kalau memang aku tidak mencintai kamu, untuk apa aku datang kesini? Untuk apa aku berjuang mendapatkan beasiswa disini? UNTUK APA?!!!!! Jelaskan padaku!!! Untuk apa berjuang hanya untuk merealisasikan rencanaku!!! Ini janjiku padamu saat kita masih pacaran! Aku berjanji akan datang kesini, kuliah disini, agar aku punya waktu lama dengan kamu!!!!!”

Ibrahim memandangku. Matanya begitu merasa kasihan padaku. Tapi, aku tidak butuh belas kasihan darinya. Aku hanya perlu ia paham betapa aku mencintainya dan membalas cintaku padanya.

“Priyanka. Kau tidak pernah mencintaiku. Tidak. Kau hanya mencintai dirimu sendiri. Kau datang kesini karena kau ingin melihatku, ingin bertemu denganku. Bukan untuk aku. Bukan untuk diriku. Ini adalah ego-mu. Kau ingin membuktikan padaku tentang perasaanmu padaku,” kata Ibrahim tegas, “kalau kau memang mencintaiku, seharusnya kau percaya aku dulu mencintaimu. Bukan meragukanku dan sering memutuskan hubungan kita.”

Aku rasa telingaku bermasalah. Ibrahim bilang aku tidak mencintainya? Ibrahim yang sekarang meragukan cintaku. Ibrahim. Aku tidak tahu harus bicara apa lagi.

“Aku sudah pernah bilang padamu, Ibrahim. Aku ini tidak bisa percaya pada orang. Aku sering dikhianati. Aku tidak tahu bagaimana memperlakukan cinta. Aku hanya butuh waktu. Tetapi, setelah kau meninggalkan aku, akhirnya aku sadar. Aku berubah ketika aku kehilangan kamu,” kataku lemah sambil menunduk. Air mata jatuh ke dalam tumpukan salju.

Ibrahim tertawa mencemooh, “butuh waktu? Sampai akhirnya kau membunuh sendiri cintaku? Kau ini aneh, Priyanka. Kau yang telah membunuh cintaku dan kini kau sendiri yang meminta cinta hidup kembali.”

Aku menghembuskan nafas. Menyerah. Kebodohan macam apa yang hinggap di dalam kepala Ibrahim? Kenapa ia begitu bodoh?

“Aku hanya manusia Ibrahim. Manusia melakukan kesalahan tetapi kemudian mereka belajar. Aku mungkin salah pernah meragukan cintamu. Tapi, apa yang kau pernah berikan padaku? Apakah kau pernah menepati janjimu untuk selalu bersamaku? Tidak. Apakah kau menepati janjimu untuk datang ke Indonesia untuk menemuiku? Tidak. Kalau begitu cinta apa yang pernah ku bunuh?”

“Cinta yang membuat kamu jadi segalanya buat aku. Cinta yang membuat aku selalu mengirimkan puisi untuk kamu. Cinta yang membuat aku meluangkan diri ditengah tugas-tugas misi-ku. Cinta yang membuatku menuliskan kisah tentang kita dan harus aku hentikan kisah Obiron karena perpisahan kita. Cinta yang aku puja dan aku begitu memujamu hingga aku selalu memaafkanmu, Priyanka. Aku selalu mencintai kamu, tapi kau tidak pernah percaya padaku. Kau selalu meragukanku. Sekarang semuanya sudah cukup. Aku tidak mau lagi ambil resiko dalam hubungan kita,” kata Ibrahim parau. Matanya sudah basah oleh air mata. Ia menunduk sambil mengenggam erat syal buatanku.

Dengan sekuat tenaga, aku melangkahkan kakiku. Menghampirinya. Aku memandangnya. Aku mengangkat dagunya hingga mata berwarna hazel itu menatap mataku. Aku menyentuh pipinya. Kulitnya yang hangat mengelenyar ke setiap pembuluh di jemariku. Aku begitu ingin memeluknya, menyudahi kebodohan ini.

“Aku selalu percaya kau dulu mencintaiku, Ibrahim. Aku hanya takut. Takut kau seperti yang lain. Aku hanya ingin kau memaklumi ketakutan berlebihanku dan tetap bersamaku sampai aku benar-benar sembuh,” kataku menatap wajah bayi itu, mengusap pipinya, “maafkan aku kalau memang kesalahanku begitu fatal. Aku tidak pernah bermaksud membunuh cintamu. Aku hanya ingin kau memahamiku. Yeah, aku egois. Ingin kau memahami perasaanku tetapi tidak belajar memahami perasaanmu.”

Ibrahim menatapku. Tanpa diduga, ia langsung merengkuh aku ke dalam pelukannya. Ia tidak berkata apa-apa hanya terus menangis dan air matanya membasahi telingaku. Aku juga terus menangis. Memeluknya begitu erat seakan kami tidak punya lagi kesempatan untuk berjumpa lagi. Sampai-sampai akhirnya, kami berdua yang sama-sama menyelesaikan rindu yang tak pernah puas terbayarkan.

“Sekarang kau sudah menikah. Siapapun gadis itu, aku tidak mau tahu,” kataku lemah sambil menatap wajah Ibrahim, “aku hanya berharap semoga kalian berbahagia. Semoga gadis itu tidak seperti aku yang mengecewakanmu. Semoga kau bisa memaklumi segala kekurangan isteri-mu.”

Rasanya begitu berat. Bahkan sejujurnya aku masih ingin memeluknya dan membawa Ibrahim ke dalam duniaku. Tapi, aku harus sadar. Segalanya tak lagi sama. Ibrahim sudah punya hidupnya sendiri dan aku harus kuat melangkah pergi dari masa lalu. Untuk terakhir kalinya, aku menatap wajahnya dan tersenyum. Tanpa mengucapkan selamat tinggal, aku pergi meninggalkan Ibrahim yang masih berurai air mata sambil memeluk syal barunya. Dalam hati aku bersumpah. Kalau memang kelahiran kembali itu ada, semoga aku dan Ibrahim berjodoh di masa depan.

Minggu, 15 Maret 2015

Di Sepertiga Malam

Di sepertiga malam aku terbangun.
Lagi dan lagi. Seperti malam-malam kemarin. Jantungku berdetak keras. Nafasku liar memburu. Peluh membanjiriku. Pikiranku berlari. Lagi dan lagi aku melihat dirimu.
Kali ini aku melihatmu bersama yang lain. Bersama merajut bahagia. Tertawa seolah melupakan kenangan lalu. Melupa kalau kita pernah bersama. Seakan aku tak pernah menjadi sebab akan bahagiamu.

Aku tidak tahu.

Apakah mimpiku ini pertanda bahwa benar adanya aku harus melupakanmu? Atau hanya bagian dari ketakutanku akan kehilangan dirimu? Aku tak tahu. Tak akan mungkin tahu. Tak bisa tahu.
Sebab engkau telah lenyap. Bersama hembusan angin yang telah berlalu. Bersama nafas yang selalu berganti. Bersama malam yang berakhir. Bersama cinta yang telah kau tinggalkan dan kau anggap tak lagi berguna. Kau lenyap. Begitu saja dan tanpa sisa. Tidak meninggalkan sedikitpun bagian dari dirimu untuk aku yang masih mencinta. Lenyap karena inginmu. Lenyap selenyap-lenyapnya seolah kau tidak pernah terlahir ke dunia.

Bagimu cinta sudah tidak berbekas. Lelah menjadi sebab kepergianmu. Baiklah. Itu aku terima. Tapi, dimanakah letak janjimu yang sejati? Benarkah kau adalah jawaban dari doa, jika semudah itu kau menghilang tanpa jejak?

Aku termenung, masih saja berpikir. Terdiam setiap kali bayangmu datang seperti hantu. Terperdaya. Bahkan menyiksaku dengan kerinduan yang memuncah. Dimana kamu? Apa yang kamu lakukan? Siapa yang menjadi sebab kau tertawa?

Di sepertiga malam yang nyaris usai, aku masih membeku. Aku tidak terisak. Tidak. Air mataku memang sudah mengering. Tetapi, batinku masih menjerit.

Sebagian diriku ingin selesai. Mengakhiri segala cinta yang terlalu dini dimulai. Melupa segala kenangan yang pernah tercipta. Ingin menjalani hidup yang membosankan seperti semula. Seperti yang kau lakukan dengan sempurna sekarang.

Sebagian diriku ingin terus mengingat. Segala kenangan yang sudah dilewati. Memberi makan pada ingatan itu agar tetap hidup meski harus merenggut hidup nyataku yang masih ada harapan. Terus merindu walau tidak lagi bisa melampiaskannya. Ingin berteriak. Frustrasi. Marah. Kecewa. Kenapa cintaku belum juga berakhir?


Di Sepertiga Malam,
Untuk kamu yang hidup dalam ingatan....

Jumat, 13 Maret 2015

Curhat Colongan

Cinta...

Apa sih cinta? Sampai detik ini saya juga enggak paham-paham amat sama yang namanya CINTA. Yang saya tahu kalau misalkan saya selalu mikirin orang itu terus-terusan, seneng kalau ngeliat doi ketawa gara-gara saya ngelucu, itu namanya cinta. Bener enggak sih? Saya juga enggak tahu. Tapi, yang saya bukan tipikal orang yang peduli orang lain bahagia dengan guyonan saya. Saya juga bukan tipikal orang yang suka mikirin orang lama-lama. Nah, kalau dua hal itu udah terjadi di dalam hidup saya, mungkin yah memang benar itu namanya cinta.

Cinta itu selalu datang disaat yang tidak terduga, tempat tak disangka, dengan siapa, bahkan cerita akhirnya selalu enggak bisa ditebak. Ada orang yang udah pacaran berabad-abad tapi ujung-ujungnya putus. Banyak juga yang pacaran baru sebulan dua bulan, langsung mantab menuju jenjang pernikahan. Hubungan antar manusia itu memang aneh. Jarang banget yang 1000% mulus-mulus aja. Pasti akan selalu ada konflik, drama, segala macam tetek bengek yang bikin jadi beda pendapat dan malah jadi senjata perpisahan atau justru malah jadi alat saling menerima. Pokoknya intinya cuma satu, hubungan cinta antara dua orang manusia itu aneh!

Ngomong-ngomong soal cinta antara dua anak manusia, terutama yang lawan jenis bukan yang sesama jenis, kendalanya banyak banget. Bener kayaknya kalau perempuan itu berasal dari planet Venus, laki-laki dari Mars. Beda banget sudut pandang, harus disatukan ke dalam sebuah hubungan, emang butuh kebesaran hati untuk saling menerima. Kadang cewek itu suka ngambek gak jelas di mata cowok, kadang juga cowok bloon banget gak paham kenapa cewek ngambek karena ngerasa kurang diperhatiin. Kadang cewek suka cemburu berlebihan karena saking takutnya kehilangan, kadang cowok kebingungan kenapa cewek mesti cemburu padahal udah dikasih semua password sosial media.

Curcol yah? Hehehe.

Yah ceritanya begitu. Saya ini orangnya mungkin gampang suka sama orang. Apalagi kalau lihat cowok keren, rapi jali, bersih, wangi, kayak agent Kingsman. Tapi, untuk urusan jatuh cinta betulan, yang sampe sering mikirin berjam-jam seseorang, saya susah banget. Kebanyakan berakhir sampai level suka-sukaan habis itu selesai, sama sekali enggak berbekas. Sayangnya kalau udah ngerasain klik sama seseorang, malah susah banget move on. Bahkan selebai-lebainya nganggep enggak bakalan bisa jatuh cinta lagi. Huuuffttt...

Padahal sebelumnya saya udah ngalamin yang namanya patah hati sepatah-patahnya. Tapi, tetap aja rasanya sama yang terakhir ini beda. Yah, mungkin karena sama yang sebelumnya, doi yang jelas salah, tapi sama yang sekarang saya yang dosa hehehe. Jadi di dalam lubuk hati ada perasaan ingin memperbaiki seperti semula. Tapi, apa daya doi enggak mau huuffttt.

Saya mungkin memang ahli dalam mencintai. Istilah lebainya nih, saya tipikal orang yang bisa memberikan hidup saya buat orang yang saya cinta. Bahkan bisa setia sampai enggak masuk akal. Saking setianya sering dibodohin. Tapi, ternyata urusan cinta yang saya bisa berikan ke pacar saya yang terakhir ini enggak cukup. Buat dia ada yang lebih penting dari soal kasih-kasih cinta kayak begitu. Terlebih lagi dalam hubungan pacaran.

Menurut doi, hal terpenting dalam hubungan pacaran adalah saling percaya. Itu doank cukup. What?! Buat saya ini aneh. Saya bukannya enggak percayaan sama doi, tapi saya cuma selalu 'kritis' terhadap apapun yang doi bilang. Tapi, ternyata kekritisan saya malah jadi bermakna saya enggak pernah percaya sama doi. Entah bahasa Inggris saya yang kurang bagus atau dia yang kurang paham, yang jelas selalu aja malah akhirnya berantem gara-gara saya selalu bertanya. Akhirnya berujung pada perpisahan. Dia cape sama saya dan putus. Udah gitu. Cepet prosesnya. Simple. Buat saya ini aneh. Buat dia itu masuk akal.

Sebelum-sebelumnya saya sih emang yang salah. Selalu gampangin doi. Blagu gitu ngerasanya doi cinta mati. Jadinya dikit-dikit putusin. Waktu itu belum sadar kesalahan saya. Pas udah putus beneran baru melek hahaha. Memang dasar manusia. Selalu aja punya kesadaran di akhir. Tapi, yah mau gimana lagi. Mungkin kalau enggak ada kejadian ini, saya akan selalu jadi orang yang sama. Cewek egois yang enggak tahu caranya memperlakukan pacar dengan baik dan benar :P

Cuma kalau lagi sendirian, sering banget masih kepikiran doi. Apa yah. Doi beda dari yang lain. Entah karena doi itu orang asing, jadi memperlakukan seseorang juga mungkin menurut adat kebiasaannya. Atau emang doi yang spesial buat saya. Ibaratnya kayak menemukan tutup botol yang pas. Saya merasa bahwa doi itu yang paling pas buat saya. Doi emang ganteng dan orang asing. Biasanya cewek-cewek Indonesia kepengen banget dapet orang asing biar anaknya lucu-lucu. Tapi, bukan karena itu saya merasa doi itu jawaban atas doa-doa saya. Doi itu apa yah. Kalau disebutin satu kata doank, doi itu "Melengkapi". Ehem ehem...

Doi lucu. Humoris. Leluconnya cerdas, enggak norak. Romantis, suka bikin puisi. Walaupun doi enggak bisa sama sekali bahasa Indonesia dan mengandalkan google translate yang sering ngaco, tapi doi usaha banget bikinin puisi buat saya tiap hari! Bayangin aja. Beda disini sama di negara doi 5 jam. Jadi doi kirimin pas disini menjelang subuh. Doi bilang doi pengen saya bangun tidur dengan perasaan seneng, bahagia ngeliat puisi dari dia. Duh unyu kan. Belum lagi, saya sama doi sama-sama rada gila, enggak jaim, dan hobi kirim-kiriman foto muka jelek dan bikin ilfeel. Hampir tiap saat doi punya waktu bebas, pasti akan telepon via LINE. Kalau waktu lebihnya banyak pasti Skype. Pokoknya sebisa mungkin doi mau bikin saya tetap nyaman pacaran sama doi walaupun doi jauh dan sibuknya segambreng. Doi tentara. Yap. Sering misi-misi begitu. Tapi, doi selalu inget saya walaupun lagi pegang senjata. Aaaahhhh.

Mungkin bagi banyak orang baca blog saya ini nantinya akan anggep saya ini makhluk super lebay yang baru begitu aja udah seneng. Mungkin ya, tapi entahlah. Buat saya hubungan saya sama doi yang dipisahkan ruang dan waktu, perbedaan budaya dan kebiasaan, sama-sama jelek bahasa Inggrisnya, malah jadi sesuatu yang berharga banget. Sayangnya yah lagi-lagi kalau dipikirin nyeselnya sampai ke ubun-ubun. Cuma apa daya mungkin memang sudah jalannya takdir. Kalau doi enggak tegas mutusin saya, mungkin sampai kapanpun saya enggak akan pernah belajar. Thanks Bitanem. Huuuffttt....

Yaudahlah yah sekian dulu sampah curcolnya. Kayaknya saya malah jadi makin enggak bisa tidur karena mikirin doi. Bye!